cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 493 Documents
PAHAM INGKAR SUNAH DI INDONESIA (STUDI TENTANG PEMIKIRANNYA) Khon, Abdul Majid
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1759

Abstract

Paham Ingkar Sunah Indonesia timbul dari ketidak tahuannya tentang status Sunah dalam beragama dan tentang fungsi Sunah  terhadap al-Qur’an. Semangat belajar mereka hanya pada  al-Qur’an. Tetapi  sayangnya mereka sangat minim penguasaan ilmu-ilmu dasar untuk memahami al-Qur’an seperti bahasa Arab,  tata bahasa dan  sastranya, ilmu-ilmu Tafsir dan lain-lain. Mayoritas  ide-ide penolakan  Sunah ditransfer dari orientalis yang sengaja meng­hembuskan di dunia Islam untuk menyesatkan umat. Inti  pandangan mereka  bahwa dalam beragama  hanyalah al-Qur’an karena kesem­pur­­naannya sedangkan Sunah atau hadis dipan­dang sebagai dongeng yang diciptakan oleh se­bagian umat Islam belakangan. Mengikuti Hadis mimicu perpecahan umat yang  meneybabkan kelemahan dan kehancuran umat
ULAMA IN INDONESIAN URBAN SOCIETY: A View of Their Role and Position in the Change of Age Abidin, Muhammad Zainal
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 2 (2017): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.2.1863

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to know how the changes of the social impact the role and the position of the ulama. Urban society is the real phenomena that happen for the coming of the industrialization era, or in another word that the urban society is the manifest of the industrial society. The writer sees the urban society phenomena as similar as the industrial society. This is a library research, which takes the source of study from the books and other literature related to the topic. The source of data is classified into two parts, the primary source, and the secondary one. As analysis technique, the writer uses the content analysis with the classification of sign-vehicles; which relies solely upon the judgments which theoretically, may range from perceptual discrimination to sheer guesses of analyst or group of analyst’s judgment are regarded as the report of the scientific observer. Finally, it is found that in urban society after coming of the industrialization era. The role and the position of ulama have changed. The ulama in urban society is not the social category again, but the parameter of ulama in urban society is the intellectual one. The position of ulama is not like a kyai or a teacher anymore such as what happened in pre-industrial or semi-industrial, but the ulama become the partner of people. Abstrak: Paper ini bermaksud untuk mengetahui perubahan pada masyarakat terkait dengan peran dan posisi ulama pada masyarakat urban. Masyarakat urban merupakan fenomena nyata pada era industrialisasi. Dengakn kata lain, masyarakat urban merupakan manifestasi dari masyarakat industrial. Penulis melihat fenomena yang serupa antara masyarakat urban dengan masyarakat industri. Tulisan ini merupakan riset kepustakaan yang mengambil sumber data dari buku dan literatur lain yang relevan. Sumber data diklasifikasi menjadi dua bagian, sumber data primer dan sumber data sekunder. Untuk analisis digunakan analisis isi yang mengklasifikasi tanda baca, yang didasarkan pada penilaian secara teoritis, berkisar dari diskriminasi persepsi sampai dugaan analisis atau kelompok penilaian analisis yang dipandang sebagai laporan ilmiah. Temuan dari penelitian ini bahwa masyarakat urban muncul sesudah era industrialisasi. Peran dan posisi ulama telah berubah. Ulama pada masyarakat urban bukan lagi semata pada kategori sosial, tetapi parameter ulama pada masyarakat urban ada pada aspek intelektualitasnya. Posisi ulama bukan lagi Kyai atau guru sebagaimana fenomena pada masyarakat pra industri atau semi industri, tetapi ulama menjadi patner masyarakat.
REAKTUALISASI JIHAD DALAM PERSPEKTIF PERDAMAIAN DAN TOLERANSI Indriati, Anisah
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1675

Abstract

This article discusses the issue of jihad in Islamic sources. This effort is important because of the negative image of the Islamic Jihad command. Presented in this article about the meaning of jihad in Islamic sources and how to interpret contextually jihad with jihad fi sabilillah in accordance with the interests and capacities of each. Jihad does not only means qital or war. Jihad in the Qur'an is also found in other, more beneficial to the institution of humanity. In the contemporary era of jihad environmental, health and scientific innovation become necessary to save a human life.Artikel ini membahas persoalan jihad dalam sumber ajaran Islam. Upaya ini penting dilakukan karena adanya Image Islam yang negatif dari adanya perintah jihad. Dalam artikel ini dikemukakan tentang pemaknaan jihad yang ada dalam sumber ajaran Islam dan bagaimana memaknai jihad secara kontekstual dengan melaksakan jihad fi sabilillah yang sesuai dengan kepentingan dan kapasitasnya masing-masing. Jihad tidak hanya bermkna qital atau berperang. Jihad dalam al-Quran juga ditemukan dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat bagi intitusi kemanusiaan. Di era kekinian jihad lingkungan, kesehatan dan inovasi keilmuan menjadi suatu yang penting untuk menyelamatkan kehidupan manusia.
AL-QUR’AN DALAM RUANG KEAGAMAAN ISLAM JAWA: Respons Pemikiran Keagamaan Misbah Mustafa dalam Tafsir al-Iklīl fī Ma’āni al-Tanzīl Supriyanto, Supriyanto
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 1 (2017): TAFSIR DAN HADIS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1294

Abstract

Abstract: This study aims to describe the religious thought of an ulama in the face of the diverse social dynamics in the Javanese Islamic are reflected at an interpretation of the Quran. The tradition that developed in Javanese Islamic is one fairly complex dialectic space. This is because the existing of religious traditions in the midst of the Javanese Islamic has various expressions of rituals in religiosity, for example, tahlilan, haul, a pilgrimage to the tomb of trustees and others. The results showed that religious thought of Misbah Mustafa in Tafsir al-Iklil fi Ma'ani al-Tanzil typically displays a distinctive pattern. In this case, the Misbah’s thought not exactly congruent with the construction of traditional Javanese ulama were generally patterned Asy’ariyah (Sunnism), though in many ways still reflects a general pattern of Sunnism. In this case, although much influenced by medieval scholars and Java pesantren, it does not mean Misbah’s thought is replicative. Misbah managed to reconstruct their thinking and consider its relevance to the context of the existing religious social. This is certainly different to most scholars of his day. Thus, the construction of Misbah’s thought in Tafsir al-Iklil is either directly or indirectly has given a new color in the clerical Javanese Islam. In addition, the results of this study also provide the realization that the tradition that developed in Javanese Islamic has a fairly significant influence on the writing of the tafsir of the Quran.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan respon pemikiran ke­agama­an seorang ulama dalam menghadapi dinamika keberagamaan masyarakat islam jawa yang tercermin dalam penafsiran al-Qur’an. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hermeneutika al-Qur’an Farid Esack. Dalam hal ini, terdapat proses eisegesis (memasukkan wacana asing ke dalam al-Qur’an) sebelum exegesis (mengeluarkan wacana dari al-Qur’an). Dengan de­mikian, tafsir al-Qur’an ditempatkan dalam ruang sosial di mana penafsir berada, dengan segala problematika kehidupannya. Sehingga sifatnya tidak lagi ke­araban, tetapi spesifik konteks sosial di mana tafsir ditulis. Hasil penelitian me­nunjukkan bahwa pemikiran keagamaan Misbah dalam Tafsīr al-Iklīl secara tipikal menampilkan corak yang khas. Dalam hal ini, pemikiran Misbah tidak sebangun persis dengan konstruksi pemikiran ulama tradisonal Jawa yang umumnya bercorak As’ariyah (Sunnism), meskipun dalam banyak hal tetap men­cerminkan pola umum Sunnisme. Dalam hal ini, meskipun banyak di­pengaruhi oleh ulama-ulama abad pertengahan dan pesantren Jawa, bukan berarti pemikiran Misbah bersifat replikatif. Misbah berhasil merekonstruksi pemikiran mereka dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap konteks sosiol keagamaan yang ada. Hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan ulama pada zamannya. Dengan demikian, konstruksi pemikiran Misbah dalam tafsir al-Iklīl ini baik secara langsung maupun tidak, telah memberikan warna baru di kalangan msyarakat Islam jawa. Selain itu, hasil studi ini juga memberikan bukti bahwa tradisi yang berkembang pada masyarakat Islam Jawa memiliki pengaruh yang cukup siknifikan dalam penulisan tafsir al-Qur’an. 
PARADIGMA PEMIKIRAN TAWASSUL DAN TABARRUK SAYYID AHMAD BIN ZAINI DAHLAN DITENGAH MAYORITAS TEOLOGI MADZHAB WAHABY Farih, Amin
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 2 (2016): TEOLOGI ISLAM DAN ISU-ISU KEBANGSAAN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1069

Abstract

According to Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan that the essence of Tawassul is part of the method of praying, and part of the methodology turn towards Allah swt, tawassul no meaning to humans or creatures ask when praying. But the essence of tawassul goal is to ask Allah swt. Tawassul not act or something ḍarūri/must be implemented so that no tawassul then his prayers are not accepted, but tawassul is as a medium, the method pray to Allah SWT. No one was Muslims who reject the validity tawassul with deeds. Whoever fasts, prayer, reading the Qur'an or charity means he has tawassul with fasting, prayers, readings, and donations. While the Tabarruk is part of the model tawassul to Allah SWT through atsar of mutabarrak (people taken his blessing) is considered to have the blessing because the mutabarrak to Allah SWT and because mutabarrak loved by Allah SWT like the prophets and servants who are pious. So the essence of tabarruk goal is to ask Allah SWT through his beloved servant. As tabarruk with shaleh people so because they believe in the primacy and closeness to Allah SWT to continue to believe their inability to give the goodness or badness refused except by permission of Allah SWT.Menurut Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan bahwa hakekat tawassul adalah bagian dari metode berdoa, dan bagian dari metodologi menghadap kepada Allah swt, tawassul tidak mempunyai arti meminta kepada manusia atau makhluk ketika berdoa. Namun hakekat tujuan dari tawassul adalah memohon kepada Allah swt. Tawassul tidaklah perbuatan atau sesuatu yang  ḍarūri/wajib dilaksanakan sehingga kalau tidak tawassul maka doanya tidak diterima, namun tawassul adalah sebagai media, metode berdoa kepada Allah SWT. Tidak ada seorang pun kaum muslimin yang menolak keabsahan tawassul dengan amal shalih. Barangsiapa yang berpuasa, sholat, membaca Al-Qur'an atau bersedekah berarti ia telah bertawassul dengan puasa, sholat, bacaan, dan sedekahnya. Sedang Tabarruk adalah bagian dari model tawassul kepada Allah SWT melalui atsar dari mutabarrak (orang yang dialap berkahnya) dianggap memiliki keberkahan karena ke­dekatan mutabarrak kepada Allah SWT dan karena mutabarrak  dicintai oleh Allah SWT seperti para Nabi dan Hamba-hamba yang sholeh. Maka hakekat tujuan dari tabarruk adalah memohon kepada Allah SWT lewat hamba yang dicintaiNYA. Adapun tabarruk dengan orang-orang maka karena meyakini keutamaan dan kedekatan mereka kepada Allah dengan tetap meyakini ketidakmampuan mereka memberi kebaikan atau menolak keburukan kecuali atas izin Allah SWT.
RELASI MISTICAL EXPERIENCE DAN RIYADLAH AN-NAFS Arikhah, Arikhah
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1764

Abstract

Pengalaman beragama merupakan sebuah pencapaian seseorangkondisi yang menggambarkan hubungan antara sang Khaliq danmakhluknya. Kadang kondisi ini dipahami sebagai pencapaian yangsupranatural dan tidak dapat diperoleh secara tiba-tiba. Seseorangyang mengalami kondisi ini biasanya sedang melaksanakan sebuahritaul yang keagaman keagamaan yang sunguh-sungguh dan sangatserius (muja>hadah) yang memfasilitasi pengalaman terebut.Bahkan, banyak ahli tasawuf menyebutkan bahwa muja>hadahatau sering disebut pula dengan riyadah an-nafs adalah jalan satusatunya mendapatkan pengalaman keagamaan dan pencerahan yangsesungguhnya. Oleh karena itu, riyadah tidak lain merupakanmemperoleh pengalaman keberagamaan dengan melalui upayapembenahan, pembinaan dan peningkatan pribadi seseorang menujukehidupan yang baik.
RELASI-KONFLIK SUKU QURAISH DAN BANI MUSTALIQ DI ERA NABI MUHAMMAD Sulthon, Muhammad
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1680

Abstract

This paper examines the role of the prophet Muhammad's preaching in resolving internal conflicts of Quraysh tribe and conflicts between the Quraysh tribe with a descendant of Mustaliq. The goal is to reconstruct their conflicts and Muhammad's position in the middle of the conflict. For that purpose, the data collected from the books of Sirah Nabawiyah as the main source and analyzed so that it can be drawn the conflict relationship between the two tribes and the resolution. The results of the study found the conflict between the Quraysh tribe of the descendant of Mustaliq can be tracked since their ancestors, respectively, before the advent of Muhammad. Fundamental issues regarding with conflicts dealing with political power, self-esteem and group identity. The triggers of conflict that almost rising the violent conflicts between the other were a misunderstanding. In resolving the conflict, the prophet prefers peaceful means despite ever using violence in the form of war.Tulisan ini mengkaji peran dakwah nabi Muhammad dalam menyelesaikan konflik intern suku Quraish maupun konflik antara suku Quraish dengan bani Mustaliq. Tujuannya, merekonstruksi relasi konflik antara mereka dan posisi Muhammad di tengah tengah konflik tersebut. Untuk tujuan itu, data dihimpun dari kitab-kitab Sirah Nabawiyah sebagai sumber utama dan dianalisis sehingga tergambar relasi-konflik tokoh-tokoh dari kedua suku tersebut dan penyelesaiannya. Hasil kajian menemukan, konflik antara suku Quraish dengan bani Mustaliq dapat dilacak sejak nenek moyang mereka masing-masing, sebelum kenabian Muhammad. Issu pokok terjadinya konflik berkenaan dengan persoalan politik kekuasaan, harga diri dan identitas kelompok. Pemicu konflik yang nyaris menimbulkan kekerasan antara lain adalah kesalahpahaman. Dalam menyelesaikan konflik, nabi lebih mengutamakan jalan damai meski pernah menggunakan kekerasan dalam bentuk peperangan
MEKANISME PENYELESAIAN AYAT KONTRADIKTIF BERBASIS MAQĀṢID AL-SHARĪ’AH: Studi terhadap Ayat Perkawinan Beda Agama Hasan, Mufti
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 1 (2017): TAFSIR DAN HADIS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1413

Abstract

Abstract: The paper demonstrated approaches of maqāṣid al-sharī’ah in understanding contradictory verses. Methods available during this time, have been reflecting the firm dominance of languages in describing those verses. In sequence, the completion mechanisms of contradictory verses known are: 1) al-jam’ wa al-taufīq (combining and compromising the verses); 2) al-tarjīḥ (strengthening one of the verses); 3) an-naskh (amending the stipulation in one of the verses); and 4) al-tasāquṭ (restoring the stipulation in the general rule). The reading with linguistics-based, frequently makes the verse apart from its context. In contrast to the completion of this study, the reading of maqasid ash-shari’ah based on system approach as the method of analysis. The Quran is positioned as a system that has six features, namely the nature of cognition, holistic, inclusive, interconnect hierarchy, multidimensional, and purposiveness. These features will be applied to describe the contradictions of the verses. To be operational, it is arranged into four steps: 1) identifications of verses; 2) identifications of meanings; 3) explorations of maqāṣid al-sharī’ah; and 4) conclusion. The author found that this method can provide an applicative and unambiguous conclusion because it is consistent with the maqasid ash-shari’ah. The author takes the example verses of interfaith marriage. The Quran explicitly mentioned the stipulations of interfaith marriage in three verses. Two verses of them allow while the other verses forbid. In literbike, these verses seem contradictory.Abstrak: Tulisan ini akan mendemonstrasikan pendekatan maqāṣid al-sharī’ah dalam memahami ayat-ayat kontradiktif. Metode yang tersedia selama ini, mencerminkan kokohnya dominasi kebahasaan dalam menguraikan ayat-ayat tersebut. Secara berurutan, mekanisme penyelesaian ayat kontradiktif yang dikenal adalah: 1) al-jam’ wa al-taufīq (menggabungkan dan mengkompromikan ayat); 2) at-tarjīḥ (menguatkan salah satu ayat); 3) al-naskh (mengamandemen ketentuan salah satu ayat); dan 4) at-tasāquṭ (mengembalikan ketentuan pada kaidah umum). Pembacaan tersebut, tidak jarang menjadikan ayat terlepas dari konteksnya. Ini berbeda dengan model penyelesaian yang ditawarkan dalam penelitian ini, yakni pembacaan berbasis maqasid asy-syari’ah dengan pen­dekatan sistem (system aproach) sebagai metode analisisnya. al-Qur’an diposisikan sebagai sebuah sistem yang memiliki enam fitur, yaitu sifat kognisi, holistik, inklusif, interkoneksi hierarki, multidimensi, dan kebermaksudan. Fitur- fitur tersebut akan diterapkan untuk menguraikan kontradiksi ayat. Adapun operasioanlisasinya tersusun menjadi empat langkah, yaitu: 1) identifikasi ayat; 2) identifikasi makna; 3) eksplorasi maqāṣid al-sharī’ah; dan 4) penarikan kesimpulan. Penulis mendapati bahwa metode ini dapat memberikan kesimpulan yang aplikatif dan tidak ambigu, karena sejurus dengan tujuan syariat. Penulis mengambil contoh ayat tentang perkawinan beda agama. al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan ketentuan perkawinan beda agama dalam tiga ayat. Dua ayat diantaranya membolehkan, sedangkan satu ayat lainnya melarang. Secara tekstual, ayat-ayat tersebut nampak bertentangan. 
PEMAHAMAN KEBERAGAMAAN DAN GERAKAN KELOMPOK FPI SURABAYA Ma’arif, Syamsul
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1671

Abstract

Attitudes of FPI (Islamic Defenders Front) in Indonesia so far  impressed 'frontal' and against any form of indecent behavior. Their action, in fact it can be said as one of the deepest expression of a group of Muslims in articulating religious teachings are embraced, or as an attitude of "piety" in viewing of all the different faiths in the belief that he believes. Especially in view of problems that are clearly regarded as a form of disobedience, apostasy and blasphemy. The responses and reactions, as well as research that has been conducted by the author in Surabaya is in order to uphold the principles of faith are considered "correct" earlier. This paper aims to provide comprehensive information on what factors underlie the birth of contemporary religious groups-particularly FPI in Surabaya. And find the religious understanding, activity and movements FPI group in the area. Overview of the results of this study are expected to eventually be able to eliminate the possibility of misunderstanding information is the cause of the onset of prejudice and stereotypes is the first step in conflict or resolve conflicts between religious communities in a comprehensive manner. Therefore, the known diversity of religious groups with the dynamics of movements will make it easier for religious communities to learn from each other. Sikap-sikap FPI (Front Pembela Islam) di Indonesia selama ini terkesan ‘frontal’ dan melawan setiap bentuk kemunkaran. Aksi mereka, sebenarnya bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi terdalam dari sekelompok orang muslim dalam mengartikulasikan ajaran-ajaran agama yang dipeluknya, atau sebagai bentuk sikap “kesalehan” dalam memandang setiap keyakinan yang berbeda dengan keyakinan yang diyakininya. Apalagi dalam memandang persoalan yang jelas-jelas dianggap sebagai bentuk kemaksiatan, kesesatan dan penodaan agama. Maka respons dan reaksi mereka, sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan penulis di Surabaya adalah dalam rangka menegakkan prinsip keimanan yang dianggap “benar” tadi. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang komprehensif tentang faktor apa saja yang melatari lahirnya kelompok-kelompok keagamaan kontemporer—terutama sekali FPI di Surabaya. Sekaligus mengetahui pemahaman keagamaan, aktifitas dan gerakan-gerakan kelompok FPI di daerah tersebut. Gambaran hasil penelitian ini pada akhirnya diharapkan mampu mengeliminasi kemungkinan kesalahpahaman informasi yang menjadi sebab timbulnya prejudice, dan stereotype yang merupakan langkah awal terjadinya konflik atau mengatasi konflik antar komunitas agama secara komprehensif. Sebab, dengan diketahui keanekaragaman kelompok-kelompok keagamaan dengan dinamika gerakannya  akan lebih memudahkan masyarakat agama untuk saling belajar satu sama lain.
REFLEKSI HISTORIS PENDIDIKAN RASULULLAH Potret Untuk Pendidikan Karakter Anak Bangsa AHMAD, ASKAR
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1804

Abstract

Pendidikan karakter adalah kata kunci untuk membentuk dan memperkuat kepribadian anak bangsa. Kartakter yang kuat merupakan modal utama dalam mengembangkan bangsa yang berperadaban untuk memasuki percaturan dan persaingan yang semakin mengglobal. Bangsa yang berkarakter kuat sangat ditentukan oleh proses pendidikan. Proses pendidikan dan pembelajaran yang berkarakter merupakan kunci utama bagi terbentuknya kepribadian yang berkarakter, hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh proses pendidikan dan pembelajaran yang dilalui dan dikembangkan oleh Rasulullah saw.