cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
CITRA ISLAM DALAM DEMOKRASI DAN TOLERANSI: POTRET SIKAP HIDUP WARISAN RASULULLAH DAN SAHABAT Jailani, Imam Amrusi
TEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Democratic life is a dream for every person, every family, all the people and the state. A democratic life will knit a harmonious and peaceful atmosphere. Touches of humanism   instinct will keenly felt when the democratic behavior deeply coloring this life. Touch of affection, love, respect, helpful, gentle, good manners, tolerance and all kinds of noble characters will always be enjoyed by all communities on earth. For a long time, we are always looks for a model of life which is considered to be appropriate and harmonious with human nature. All models of life that had been coloring the world is not spared from the coverage of the series of human lives and almost all the models had been tried to be applied in their life. However, all of them are just trying a model that will certainly not be able to give satisfaction to them. We almost forgot a near-perfect model of life for the prerequisites of democratic life. Thats the life model that was exhibited by the Prophet and his companions. Abstrak:Kehidupan demokratis merupakan dambaan bagi setiap insan, setiap keluarga,  segenap masyarakat dan negara. Dalam kehidupam yang demokratis akan terajut suatu suasana yang harmonis dan damai. Sentuhan-sentuhan naluri kemanusiaan akan amat terasa bila perilaku demokratis benar-benar mewarnai kehidupan ini. Sentuhan kasih sayang, sentuhan cinta, saling menghormati, saling menghargai, tolong-menolong, sikap lemah lembut, sopan santun, toleransi dan selaksa pernik-pernik dan aksessori akhlak mulia nan agung akan senantiasa bisa dinikmati oleh segenap komonitas yang mendiami planet Bumi ini. Selama ini, kita selalu mencari-cari dan mereka-reka model kehidupan yang dianggap cocok dan selaras dengan watak manusia. Semua model kehidupan yang pernah mewarnai dunia ini tidak luput dari liputan seri kehidupan anak manusia dan hampir keseluruhannya dicoba untuk diterapkan dalam kehidupan. Namun apa hendak dikata, kesemuanya hanyalah  model coba-coba yang sudah pasti tidak akan bisa memberikan kepuasan bagi si penikmatnya. Kita hampir saja melupakan suatu model kehidupan yang mendekati sempurna bagi prasyarat kehidupan demokratis. Itulah model kehidupan yang diperagakan oleh Rasulullah dan para sahabat. Keywords: Potret kehidupan, demokrasi, toleransi, Rasulullah dan sahabat.
EPISTEMOLOGI AL-QURAN DALAM MEMBANGUN SAINS ISLAM Misbahuddin, Iing
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate on the Quran as the basis of Islamic epistemology in building science. The concept of science in the Quran, from the point of view of philosophy. Framework used to analyze this theme is the philosophical framework. In the paradigm of philosophy, science concepts can be classified in three dimensions; the first, an epistemological dimension, namely the study of philosophy from the aspect of how to acquire knowledge. Part of this philosophy is called the theory of knowledge, namely methodology to gain knowledge or science, or how to obtain a true knowledge; second, the ontological dimension, namely the branch of philosophy that discusses the object of study of science, or the nature of the study of science; and the third, axiological dimension, namely the branch of philosophy that discusses the purpose and use value and the value of the benefits of science. Part of this philosophy better known as the theory of value. And what about his role in building the Islamic sciences in Islamic universities in particular and in the Islamic world in general. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi al-Quran sebagai landasan epistemologi dalam membangun sains Islam. Konsep ilmu dalam al-Quran, ditinjau dari sudut pandang filsafat. Kerangka yang dipakai untuk menganalisis tema ini adalah kerangka pemikiran filsafat. Dalam paradigma filsafat, konsep ilmu dapat diklasifikasi dalam tiga dimensi; pertama, dimensi epistemologis, yakni kajian filsafat dari aspek bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. Bagian filsafat ini disebut teori ilmu pengetahuan, yaitu metodologi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar; kedua, dimensi ontologis, yakni cabang filsafat yang membahas tentang objek kajian ilmu pengetahuan, atau hakikat segala yang menjadi kajian ilmu; dan ketiga, dimensi  aksiologis, yakni cabang filsafat yang mem-bahas tentang tujuan dan nilai guna serta nilai manfaat ilmu pengetahuan. Bagian filsafat ini lebih dikenal dengan teori nilai. Dan  bagaimana   peranannya dalam membangun  sains Islam di perguruan tinggi Islam   khususnya  dan di dunia Islam  pada umumnya. Keywords: al-Quran, ayat al-matluwah, ayat al-majluwah, al-‘ilm, al-ḥikmah, dan al-ma‘rifah.
ISLAM: MEMBENTUK SAINS DAN TEKNOLOGI Danusiri, Danusiri
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The establishment of science-technology Islam originated from the transcendental consciousness that God acts directly provide instruction to people in his capacity as al-Alim and al-Muallim al-Nās with inspiration pattern into intuition or follow the instructions of the Quran on the basis of faith in the verses relating to science-technology. God teaching techniques outlined by humans with the conceptualization, theorization, saintifikasi, and technologization the verses of Allah either paragraph quraniyyah and kauniyyah. Starting point is the establishment of science-technology read. Results of reading will get something, a concept, or a variable. Thus, the more the reading of a Muslim will increasingly have something, concepts or variables. If the reader can find the basic relationship of two or more things, concepts, variables, then he can find one unit theory. Segususan systematic theory will result in one branch of science. Human intellectual activity that knows no stopping, then starting from only one branch of science will continue to be found various kinds of science. The next route, childbirth science technology. And, science-technology school of Islam embraced the benefits of technology for the service in order to obtain marḍatillah. Abstrak: Rute pembentukan sains-teknologi Islam berawal dari kesadaran transendental bahwa Allah berperan langsung memberikan pengajaran kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai al-‘Alim dan al-Mu’allim al-nās dengan pola pengilhaman  ke dalam intuisi atau mengikuti  petunjuk  al-Quran  atas dasar iman dalam ayat-ayat  yang berkaitan dengan sains-teknologi. Teknik pengajaran Allah dijabarkan oleh manusia dengan jalan konseptualisasi, teorisasi, saintifikasi, dan teknologisasi terhadap ayat-ayat Allah baik ayat quraniyyah maupun kauniyyah. Dan, sains-teknologi Islam menganut mazhab manfaat  teknologi untuk ibadah dalam rangka memperoleh marḍatillah. Keywords: konsep, teori, sains, teknologi, marḍatillah.
PERJALANAN SINGKAT PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU Hermawan, Hermawan
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Philosophy of science is part of the philosophy that answers some questions about the nature of science. This field learn the basics of philosophy, assumptions and implications of science, which includes, among others, natural sciences and social sciences. Here, the philosophy of science is closely related to epistemology and ontology. The philosophy of science seeks to explain issues such as: what and how a concept and can be called as a scientific statement, how the concept was born, how science can explain, predict and utilize nature through technology; how to determine the validity of an information; formulation and use of the scientific method; kinds of reasoning that can be used to obtain a conclusion; and the implications of scientific methods and models to society and to science itself. In this regard, this article will present a brief history of the development of philosophy of science to how the contribution of Islam to establish the philosophy of science. Thus it would be seen clearly similarities and differences in the aspects of epistemological, ontological, and axiological of various schools of philosophy that has developed: rationalism, empiricism, and Islam.   Abstrak: Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Berkaitan dengan ini, artikel ini akan memaparkan sejarah singkat perkembangan filsafat ilmu hingga bagaimana kontribusi Islam dalam membangun filsafat ilmu tersebut. Dengan demikian akan terlihat dengan jelas kesamaan dan perbedaan aspek-aspek epistemologis, ontologis, dan aksiologis dari berbagai macam aliran filsafat yang sudah berkembang: rasionalisme, empirisme, dan Islam.     Keywords: filsafat ilmu, rasionalisme, empirisme,  al-Quran.
KERUSAKAN LINGKUNGAN: EPISTEMOLOGI SAINS ISLAM DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA Mangunjaya, Fachruddin
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article examines the challenges of environmental degradation and arguing to retun back to the Quran as a search of epistemological foundation of science and a necessary strong foundation in managing the balance of carrying for the earth and environmental crisis. This study also explores the principles of Islamic in view of the environmental approach such as the understanding keywords about the God creation (Ilm-al-Khalq), which can be laid as foundations such as tawḥīd, which encourage the belief that the only the Creator with all power single, the khalifah (caliph) that empasis on man responsibility, mīzān which refers to maintaining a balance and keeping the fitrah as ordered of (human) nature in order to maintain the patterns of life and the integrity of Gods creation.   Abstrak: Artikel ini menguji tantangan-tantangan degradasi lingkungan dan mengajukan pendapat untuk kembali kepada al-Quran sebagai sebuah cara mencari dasar epistemologi sains dan sebuah dasar yang kuat dalam mengelola keseimbangan bagi bumi dan krisis lingkungan. Studi ini mengeksplorasi prinsip-prinsip Islam dalam memandang terhadap pendekatan lingkungan seperti adanya pemahaman kata-kata kunci tentang ciptaan Tuhan (‘Ilm al-Khalq), yang bisa ditempatkan sebagai dasar-dasar, yang mendorong keimanan sehingga hanya ada Sang Pencipta dengan kekuatan yang tunggal, sang khalifah yang menekankan pada tanggung jawab manusia, mīzān yang merujuk pada mempertahankan keseimbangan pola-pola kehidupan dan integritas makhluk Tuhan.   Keywords: Islamic epistemology, science, lingkungan, khalīfah, mīzān.
MEMBACA AYAT-AYAT AL-QURAN DENGAN PERSPEKTIF IAN G. BARBOUR Bisri, Achmad
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asbtract: This aticle aims to understand the science verses of the Quran with Ian G. Barbour perspective.  To elaborate the problem, I used the qualitative research with hermeneutic analysis. There are three findings important in the research. Firstly, regarding the relation between religion and science Ian G. Barbour divided four typologies: conflict, independence, integration, and dialogue. Secondly, regarding to the Quran verses in the line with Barbour’s thought to be found that some possibilities the science explain the scientific verses of the Quran. Thirdly, with Barbour’s perspective it was found the fact that relation the Qur’an and the science were conflict, independence, and integration. Abstrak: Artikel ini bertujuan memahami ayat-ayat sains dengan perspektif Ian G. Barbour. Untuk menjelaskan masalah ini, saya menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan analisis hermeneutik. Adapun temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: Pertama, dalam mengemukan hubungan antara agama dan sains, Ian G. Barbour membagi ke dalam empat tipologi (konflik, independen, integrasi, dan dialog). Ia melihat bahwa keempat tipologi ini dijumpai di kalangan saintis dan agamawan. Kedua, Berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran yang senada dengan pemikiran Ian G. Barbour memang ditemukan adanya kemungkinan sains menjelaskan ayat-ayat ilmiah dalam al-Quran.  Ketiga, dengan perspektif Ian G. Barbour, ditemukan fakta bahwa relasi al-Quran dan sains berada pada tipologi konflik, independen, dan integratif. Konflik terjadi ketika sains berbicara tentang alam yang terbebas dari campur tangan Tuhan; independensi terjadi ketika berkaitan dengan teori evolusi Darwin. Namun, integrasi terjadi juga ketika sains mampu memecahkan informasi-informasi ilmiah yang disajikan al-Quran. Keywords: al-Quran, sains, dialog, integrasi, independen.
BENDA ASTRONOMI DALAM AL-QURAN DARI PERSPEKTIF SAINS Hasan, Muhammad
TEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The objects in the sky in an astronomical perspective is very much the type and amount, but in the perspective of The Quran consists only of the sun, moon, and stars. The Quran gives cues and clues about the movement of the heavenly bodies. Sky objects in the perspective of the Koran already set his destiny, and had been subdued, so consistently and definitely outstanding. According to The Quran cue each celestial bodies, circulation and no silent, including the sun are also outstanding. In the circulation of the month, has its own characteristics, because only months in circulation set manzilah-manzilah, so the moon when seen from Earth show different form, sometimes the perfect (full moon), and sometimes show an imperfect form. Thus, it can be well known, when the month of the date of 1,2,3, and so on, so that people can practice their religion is based on the moon trip. Abstrak: Benda-benda di langit dalam perspektif astronomi sangat banyak jenis dan jumlahnya, namun dalam perspektif al-Quran hanya terdiri dari matahari, bulan, dan bintang. Al-Quran  memberikan  isyarat  dan  petunjuk  mengenai  pergerakan benda-benda  langit tersebut. Benda-benda langit  dalam  perspektif  al-Quran  sudah  ditetapkan  takdir-Nya,  dan telah  ditundukkan, sehingga beredar  secara  konsisten  dan  pasti. Menurut isyarat al-Quran masing-masing  benda  langit,  beredar  dan  tidak  ada  yang  diam, termasuk matahari juga beredar. Dalam peredaran bulan, memiliki ciri tersendiri, karena  hanya bulan  yang dalam  peredarannya  ditetapkan  manzilah-manzilah,  sehingga  bulan  ketika  dilihat  dari  bumi  menunjukkan  wujud yang berbeda-beda, kadang  sempurna (bulan  purnama),   dan terkadang menunjuk-kan  wujud yang    tidak  sempurna. Dengan  demikian, dapat  dikenal  dengan  baik,  kapan bulan  tanggal  1,2,3, dan  seterusnya,  sehingga  manusia dapat  melaksanakan  ibadah berdasarkan  perjalanan  bulan  tersebut. Keywords:  matahari, bulan, bintang, al-Quran, astronomi
KEHIDUPAN SUFISTIK PADA PONDOK PESANTREN BIBAḤRI ‘ASFARAḤ SANANREJO, TUREN, MALANG Musthofa, Musthofa
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The article will explore the sufi’s life at the Islamic boarding school (pesantren) Bibaḥri ‘Asfarah Sanarejo, Turen, Malang. The focus of study is the practies and how they practice to become a sufi, how their circumstance of mind when practicing, and how their circumstance of mind after practicing. The santri who never studying at the Pesantren can be divided three categories: al-Fussāq, al-Fusyl, and al-Abriyā’. The method used to a sufi’s life are mapped in two kinds of practices namely inward (bāṭiniya) and outward (lahiriya) practices. The inward practices include ṣalawat (prayer for the Prophet Muhammad pbuh), istighāṡah (mass prayer), asmā’ al-ḥusnā (reciting name of God), Yāsīn recital. The outward practices include spiritual traveling, cleaning the pesantren environment, installing paving and ornaments, making bricks, taking care of animal, becoming a sectary and treasures of the pesantren. Those inward practices are called riyāḍah (the spiritual excercise). The soul circumstances (aḥwāl) while performing those practices could be described that they feel muḥāsabah (introspective), wuṣūl (pure), happy, excited, khauf (fearful), and rajā’ (hopeful). Asbtrak: Artikel ini akan memaparkan kehidupan sufistik di Pondok Pesantren Bibaḥri ‘Asfarah Sanarejo, Turen, Malang. Fokus bahasan adalah amalan-amalan dan tata cara para santri dalam mengamalkan ajaran tasawuf sehingga mereka layak disebut sufi, keadaan jiwa selama dan setelah mereka mengamal ajaran tasawuf. Santri yang belum mondok dibagi dalam tiga kelompok: al-Fussāq, al-Fusyl, dan al-Abriyā’. Jalan yang santri tempuh menuju kehidupan sebagai sufi, antara lain, melalui pengamalan-pengamalan yang dipetakan menjadi dua jenis: pengamalan bersifat lahiriah dan batiniah. Yang termasuk pengamalan batiniah adalah pengamalan ṣalawat, istighāṡah, asmā’ al-ḥusnā, membaca surat Yāsīn; sedangkan pengamalan lahiriahnya adalah musafir, membersihkan lingkungan pondok, memasang paving dan ornament, mencetak bata, memelihara binatang, sekretaris, dan bendahara pondok. Pengamalan lahiriah ini disebut riyāḍah. Keadaan-keadaan jiwa mereka (aḥwāl) mengamalkan ajaran tasawuf akan merasakan pengalaman-pengalaman spiritual (spiritual experience) seperti muḥāsabah, wuṣūl, senang, gembira, khauf, dan rajā’. Di lain pihak, para santri yang telah mengamalkan ajaran tasawuf tersebut akan mengalami perubahan yang baru seperti merasa senang, gembira, beriman, ṣaddiq, tenteram, wuṣūl, yakin, tawaḍu’, zuhud, dan ikhlas. Keywords: al-Fussāq, al-Fusyl, al-Abriyā’, tasawuf, dan sufi.
PERGUMULAN ISLAM DENGAN BUDAYA LOKAL: Studi Kasus Masyarakat Samin di Dusun Jepang Bojonegoro Widiana, Nurhuda
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article will explain the process of acculturation which is a concept to describe the long process of convergence of two or more values ​​between Islam and local values ​​in which individuals, groups and communities living with the culture he had. The emergence of resistance to the new school, to be understood as part of the communitys love for the old values ​​(local). On the one hand, it is a learning process to understand the new values ​​(Islam). In these conditions, it is not appropriate to use claims of winning or losing, between Islam vis a vis local culture. Samin community understanding of the teachings of Islam, with the advantages and disadvantages of a form the beginnings of the community openness to cultures from the outside including the values ​​of Islam. Samin society no longer close themselves from the outside community, slowly began to mingle with other people and being able to adapt to the changes that reaches it. Their understanding of the religion of Islam with regard to faith (theology), worship (ritual), muamalah (social), was inherited by the teachings Saminisme. Islam understood the teachings of Samin frame, so that the integrated nature ajaranlah, but the practice of worship (ritual) Islam has not been implemented. Tempers syncretic practice (Islam typical Samin), because Islam diakomodisasi in accordance with the teachings of Samin. Abstrak: Artikel ini akan menjelaskan tentang proses akulturasi yang  merupakan konsep untuk menggambarkan proses panjang bertemunya dua atau lebih tata nilai antara Islam dengan nilai-nilai lokal di mana individu, kelompok dan masyarakat bertempat tinggal dengan budaya yang telah dimilikinya. Munculnya penolakan terhadap ajaran baru, harus dipahami sebagai bagian kecintaan masyarakat terhadap nilai-nilai lama (lokal).  Pada  satu sisi, ia adalah proses belajar untuk memahami nilai-nilai baru (Islam).  Pada kondisi seperti ini, tidak tepat digunakan klaim menang atau kalah, antara Islam vis a vis budaya lokal. Pemahaman masyarakat Samin tentang ajaran Islam, dengan kelebihan dan kekurangannya merupakan wujud dimulainya era keterbukaan komunitas tersebut terhadap budaya-budaya dari luar termasuk di dalamnya nilai-nilai ajaran Islam. Masyarakat Samin tidak lagi menutup diri dari masyarakat luar, secara perlahan mulai berbaur dengan masyarakat lain dan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang menerpanya. Pemahaman mereka terhadap agama Islam yang berkaitan dengan akidah (teologi), ibadah (ritual), muamalah (sosial kemasyarakatan), masih terwarisi oleh ajaran Saminisme. Islam dipahami dengan bingkai ajaran Samin, sehingga hakekat ajaranlah yang terintegrasi, namun praktek ibadah (ritual) Islam belum dilaksanakan. Terjadilah praktek sinkretis (Islam khas Samin), karena ajaran Islam diakomodisasi sesuai dengan ajaran Samin.   Keywords : Islam, budaya lokal, ajaran Samin.
PROFESI SEBAGAI TAREKAT Munji, Ahmad
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Generally in the teachings of any religion, both divine religions such as Islam, Christianity and Judaism, or earth religions such as Hinduism, Buddhism there is a polarization between religion and economic activity. So that all activities which seeking riches is viewed negatively and not in accordance with the lofty ideals of spirituality. In the teachings of Islamic religion there is also tendency that sees economic activity as an activity that is in appropriate for a religious. By using content analysis, the studies illustrate that everyone can make his profession as a path to God. Provided that each profession held by Islamic guidance, according to the Quran and the Hadith. Abstrak: Dalam ajaran keagamaan secara umum, baik agama-agama samawi seperti Islam, Kristen dan Yahudi, maupun agama bumi seperti Hindu, Buddha dan lain sebagainya terdapat anti-nomi antara agama dan kegiatan ekonomi. Sehingga seluruh kegiatan yang mencari kekayaan dipandang negatif dan tidak sesuai dengan cita-cita luhur spiritualitas. Dalam ajaran Agama Islam juga terdapat tendensi yang cukup kuat yang memandang kegiatan ekonomi sebagai aktifitas yang tidak pantas bagi manusia yang taat beragama. Dengan menggunakan analisis isi (content analysis), setudi ini menggambarkan bahwa, setiap orang bisa menjadikan profesinya sebagi jalan menuju kepada Allah. Asalkan setiap apa yang menjadi aktifitas keseharianya dilaksanakan berdasarkan tuntunan Islam, sesuai dengan al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad. Keywords: profesi, wirid, al-Quran, hadis, tarekat.

Page 6 of 49 | Total Record : 486