cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
BEDIUZZAMAN SAID NURSI’S METHODOLOGY IN THEDISCOURSE OF MORAL EDUCATION IN HIS THEMATIC EXEGESIS, RASĀ’IL AL-NŪR Muflih, Betania Kartika
TEOLOGIA Vol 24, No 1 (2013): Kajian al-Quran dan Hadis
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This work investigates the approach used by Imam Bediuzzaman Said Nursi in the discourse on Islamic morality, and to understand his lively scriptural approach to the moral values in which it makes one’s life meaningful and purposeful. This work is aimed to highlight distinctive aspects and features of his approach and methodology used in his Qur’anic exegesis, Rasail al-Nur, which relate to the moral education. It discusses the background, the reason and the purpose behind Imam Bediuzzaman’s approach to the issue at hand. It is also important to note down that  his writing is not the result of a merely intellectual enterprise, but also the living answers to problems he has personally experienced. The thesis follows library and textual analysis to address the main problematic. Hence, it concludes that it is necessary to situate  Imam Bediuzzaman’s work with in the context of Tauhid (Divine Unity) framework, which constitutes the background of his entire system of thought. Indeed, Imam Bediuzzaman’s approach provides a scaffold for a profound understanding and inter­pretation of the concept of morality and its impact on one’s life and social fabric. Abstrak: Karya ini menginvestigasi pendekatan yang digunakan oleh Imam Bediuzzaman Said Nursi dalam wacana moralitas Islam, dan untuk memahami pendekatan kitab sucinya yang cemerlang terhadap nilai-nilai moral yang membuat kehidupan seseorang bermakna dan bermanfaat. Karya ini juga dimaksudkan untuk menyoroti aspek yang khas dan berbeda dari pendekatan dan metodologi yang diguna­kannya dalam penafsiran al-Quran, Rasā’il al-Nūr, yang dikaitkan dengan pendidikan moral. Di sini akan dibahas tentang latar belakang, alasan dan tujuan di balik pendekatan Imam Bediuzzaman terhadap isu tersebut. Juga, penting dicatat bahwa tulisannya bukanlah hasil dari keberanian intelektual semata-mata, melainkan juga jawaban-jawaban langsung terhadap persoalan-persoalan yang dialaminya secara pribadi. Tesis ini mengikuti analisis pustaka dan tekstual yang difokuskan pada problematika utama. Karena itu, penting untuk menempatkan karya Imam Bediuzzaman dalam konteks kerangka Tauhid, yang merupakan latar belakang dari seluruh sistem pemikirannya. Memang, pen­dekatan Imam Bediuzzaman menyediakan sebuah penopang untuk sebuah pemahaman dan interpretasi yang mendalam terhadap konsep moralitas dan pengaruhnya bagi kehidupan dan sistem sosial. Keywords: the Qur’an, Rasā’il al-Nūr, New Said, moral education, and jihād.
INTEGRASI HERMENEUTIKA DAN TAFSIR Pembaharuan Metodologi Tafsir Hamdani, Muhammad Faisal
TEOLOGIA Vol 24, No 1 (2013): Kajian al-Quran dan Hadis
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Renewal of interpretation method require to continue remember to the number of novelty which emerge and not yet been met in a period of the Messenger of God (Rasūl Allāh), friend of ṡe Messenger, and the next generation. Beside,  growth of science obliging ṡe understanding of al-Quran also use the sciences utilize to open contents exist in depth so that problems which not yet been “read” in that Holy Book texts can comprehend by people in this time. One other require to be considered is to take things which either from method of hermeneutic to be integrated with interpretation method, though part of it refuse with reason of feebler visible. This  article will elaborate integration of hermeneutic with interpretation and some assumed the example more relevant for context nowadays and can be made by alternative interpret choice. Abstrak: Pembaharuan metode tafsir perlu terus dilakukan mengingat banyaknya hal-hal baru yang muncul dan belum ditemui di masa Rasul, sahabat dan generasi berikutnya. Di samping itu, perkembangan ilmu pengetahuan yang meng­haruskan pemahaman al-Quran juga menggunakan ilmu-ilmu tersebut guna menguak kandungan-kandungan yang ada di dalamnya sehingga persoalan-persoalan yang belum “terbaca” dalam teks-teks Kitab Suci itu bisa dipahami oleh umat saat ini. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah mengambil hal-hal yang baik dari metode hermeneutika untuk diintegrasikan pada metode tafsir, meskipun sebagiannya menolak dengan alasan yang tampak lebih lemah. Tulisan ini akan menguraikan integrasi hermeneutika dengan tafsir dan beberapa contohnya yang dianggap lebih relevan untuk kontek kekinian dan dapat dijadikan alternatif tafsir pilihan. Keywords: Integrasi, Tajdīd, Hermeneutik, Tafsir, al-Żikr, dan ta’wīl.
FUNGSIONALISASI TEORI PENGANULIRAN (NASKH) DALAM TAFSIR AL-QURAN DAN HUKUM ISLAM: Sebuah Catatan Kritis Wardani, Wardani
TEOLOGIA Vol 24, No 1 (2013): Kajian al-Quran dan Hadis
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The commonly accepted assumption among Muslim scholars is that the abrogation (naskh) theory is regarded as method necessary for interpreting the Qur’ān and for law-making. This article is aimed to explore how it has been used to support ideological interest. At the beginning, some traditions, which are contradictory to each other, ascribed to ‘Alī bin Abī Ṭālib, for instance, which supports the importance of knowledge on naskh should be categorized as unreliable ones. The traditions have been distorted and interpreted in different context to argue for the importance. In wide range of the abuse, the naskh has been used to interpret some ambiguous  verses, such as what Aḥmad Al-Baḥrānī, a Shiite scholar, done to set up his own theological belief. Meanwhile, the Muslim jurists have applied it as a method of making of law decision. ‘Abdullah al-Karkhi (w. 340 H), a Hanafite scholar, for instance, used it to attack against legal opinions of non-Hanafite scholars. Since al-Shafi‘is era till contemporary time, the naskh has been regarded as a method of developing Islamic law, of course, in different contexts and trends. Abstrak: Asumsi umum yang sudah diterima di kalangan sarjana Muslim adalah bahwa teori naskh dianggap sebagai perlu yang perlu untuk menafsirkan al-Quran dan untuk penentuan hukum. Artikel ini dimaksudkan untu meng­ekplorasi bagaimana ia digunakan untuk mendukung ke­penting­an ideologis. Pada mulanya, beberapa hadis, yang saling bertentangan satu sama lain, yang dianggap bersumber dari ‘Al ī bin Abī Ṭālib, misalnya, yang mendukung pentingnya ilmu pengetahuan tentang naskh harus dikategorikan sebagai yang tidak dapat dipercaya. Hadis-hadis yang terdistorsi dan ditafsirkan dalam konteks yang berbeda untuk membuktikan kepentingan tersebut. Dalam deretan penyalahgunaan, naskh digunakan untuk menafsirkan beberapa ayat yang ambigu, seperti yang dilakukan oleh Aḥmadal-Baḥrānī , seorang ulama Syi‘ah, dalam seperangkat kepercayaan teologis. Sementara itu, para ahli hukum telah menerapkan ini sebagai sebuah metode dalam menentukan hukum.‘Abdullah  al-Karkhi (w. 340 H), seorang bermazhab Ḥanafī, misalnya, menggunakannya untuk menyerang pendapat-pendapat hukum dari mazhab-mazhab non- Ḥanaf ī. Sejak era Syāfi’ī hingga masa kontemporer, naskh telah dianggap sebagai sebuah metode membangun hukum Islam, tentu saja, dalam trend dan konteks yang berbeda. Keywords: abrogation(naskh), abrogating verse (nāsikh), abrogated verse  (mansūkh)
LEGALITAS RIWAYAT ASBĀB AL-NUZŪL Telaah historis konteks turunnya ayat al-Quran Kholid, Abd
TEOLOGIA Vol 24, No 1 (2013): Kajian al-Quran dan Hadis
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Asbāb al-Nuzūl (occasions of revelation) is event becoming background send down the verse of  the Quran. Scope solution of Asbāb al-Nuzūl only relating to event degrading of the verse of  the Quran especially in event relation and word expression, that include texts or materials. This science is very importance in order to interpret the verses of the Quran. This is not mean that it is to generalize interpretation entire verses of the Quran with Asbāb al-Nuzūl, because there is not all verses of the Quran send down with Asbāb al-Nuzūl. But, for the verses of the Quran have Asbāb al-Nuzūl, that its interpretation is more authentic. Abstrak: Asbāb al-Nuzūl  adalah peristiwa yang menjadi latar belakang turunnya ayat al-Quran. Ruang lingkup pembahasan Asbāb al-Nuzūl hanya berkaitan dengan peristiwa diturun­kannya ayat al-Quran terutama dalam hubungan peristiwa dan ungkapan kata, baik teks ayat, maupun redaksi ayat.Ilmu ini sangat penting dalam rangka menafsirkan ayat-ayat al-Quran.Hal ini bukan berarti menggeneralisasi keharusan menafsirkan seluruh ayat al-Quran dengan Asbāb al-Nuzūl, karena tidak semua ayat al-Quran turun disertai dengan Asbāb al-Nuzūl. Akan tetapi bagi ayat-ayat al-Quran yang memiliki Asbāb al-Nuzūl, maka penafsirannya akan lebih otentik. Keywords: asbāb al-nuzūl, ‘ulūm al-Qur’ān, ilmu Ma‘ānī dan Ilmu Bayān, Nabi Muḥammad, dan sahabat.
PENERAPAN METODE TRADITION-HISTORICAL DALAM MUṢANNAF‘ABD AL-RAZZĀQAL-ṢAN‘ĀNĪ DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERSOALAN DATING HADIS DAN PERKEMBANGAN FIKIH MEKKAH Masrur, Ali
TEOLOGIA Vol 24, No 1 (2013): Kajian al-Quran dan Hadis
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research studies in the application of the method of tradition-historical in the Muṣannaf of ‘Abd al-Razzāq al-Ṣan‘ānī and its implication to the problem of dating ḥadīṡ and the development of Meccan fiqh. By using the method of tradition-historical, Motzki proved that Muṣannaf  of ‘Abd al-Razzāq al-Ṣan‘ānī (d. 221 H.) can be trusted as a source of authentic aḥādīṡ of the first century of hijrah. The implications of applicating this method of tradition-historical to the develop­ment of the Meccan fiqh are: first, it is proved that in the first century of hijrah, the people of Mecca had referred to the Quran and the prophetic rules as a source of Islamic Law. Second, the development of ḥadīṡ from Successor’s ḥadīṡ to be Companion’s ḥadīṡ and then to be Prophetic ḥadīṡ is a construct that is not tenable based on this research. Third, regional schools of legal and religious schoolarship can already be discerned in the last three dacade of the first/sevent century. Therefore, the statement of Schacht that Islamic law did not existed yet in the first century of hijrah must be revised. Fourth, the development from a jurisprudence primarily articulated through ra’y to one based on Tradition was a process that began already at the end of the first/seventh century within the schools and which–at least in the Hijaz–is to be understood as the result of the collection, not merely of forging of traditions. The Collection and transmission of texts was carried out not only with the intention of supporting particular opinions of the schools, but also independently of this. Abstrak: Riset ini mengkaji aplikasi metode tradition-historical dalam Muṣannaf karya ‘Abd al-Razzāq al-Ṣan‘ānī dan implikasinya terhadap persoalan penanggalan (dating) hadis dan perkembangan fikih Mekkah. Dengan menggunakan metode tradition-historical, Motzki membuktikan bahwa Muṣannaf  karya ‘Abd al-Razzāq al-Ṣan‘ānī (w. 221 H) bisa dipercaya sebagai sumber hadis-hadis otentik dari abad I H. Implikasi-implikasi dari menerapkan metode tradition-historical ke perkembangan fikih Mekkah adalah: pertama, terbukti bahwa pada abad I H, penduduk Mekkah yang me­rujuk kepada al-Quran dan peraturan-peraturan kenabian sebagai sebuah sumber Hukum Islam. Kedua, perkembangan hadis dari hadis Pewaris menjadi hadis Sahabat serta kemudian hadis Nabi adalah sebuah kontruk yang tidak dapat dipercaya berdasarkan riseti ini. Ketiga, mazhab-mazhab hukum regional dan ilmu pengetahuan agama sudah sangat dikenal pada akhir tiga dekade pada abad I H/VII M. Oleh karena itu, pernyataan Schach bahwa hukum Islam tidak eksis sampai abad I H harus direvisi. Keempat, perkembangan dari yurisprudensi khususnya artikulasi melalui ra’y hingga berdasarkan pada Hadis (Tradition) adalah sebuah proses yang sudah dimulai pada akhir abad I H/VII M dalam mazhab-mazhab itu dan yang—setidak-tidaknya di Hijaz—dipahami sebagai hasil dari koleksi, bukan semata-mata membatalkan hadis-hadis. Koleksi dan transmisi teks-teks yang dibawa tidak hanya dengan maksud mendukung pendapat-pendapat tertentu dari mazhab-mazhab, tetapi juga bebas darinya. Keywords: Dating hadits, metode tradition-historical, Muṣannaf‘Abd al-Razzāq, fikih Mekkah.
PEMIKIRAN DAN KONTRIBUSI MUḤAMMAD MUṢṬAFĀ AL-A‘ẒAMĪ DALAM STUDI HADIS Farida, Umma
TEOLOGIA Vol 24, No 1 (2013): Kajian al-Quran dan Hadis
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: It is interesting to study al-A‘ẓamī’s effort in proving the authenticity of hadiths scientifically through the thoughts in his works and his contribution in the study of hadith. Therefore, this study aimed to examine further al-A‘ẓamī’s thought sand contributions given in the study of hadith, as well as the defense of the critique of the islamic is tand muslim thinkers. This study was a research library with a qualitative approach, where as the method of data collection used was the method of documenta­tion, then the data was analyzed descriptively and critically. The results of this study found that the contributions made by al-A‘ẓamī in the study of hadith are: (1) to show the evidence that the writing of hadith had been made since the time of the Prophet. It was proven by the existence of at least 52 friends who had the documentation of the hadith texts, as well as to clarify and add at least 21 names of friends who had been the secretaries of the Prophet of Allah and had never been revealed by the previous hadith scholar. (2) to describe the 20 arguments showing that the term samā‘ and taḥdīṡ that were not only used for verbal delivery but also for dictating, receiving, and teaching the hadith in written medium. (3) toproove the validity of the is nād through his study of three hadith narrated by hundreds of people in many different areas, (4) to strengthen and develop the ideas of the muḥaddiṡīn through systematic steps to test the hadith critique, including research on the character of the narrators, cross comparison or mu‘āraḍah, and critique of reason. Abstrak: Studi ini bertujuan untuk membuktikan pemikiran dan kontribusi al-A‘ẓamī dalam studi hadis, serta pertahanan dari kritik yang berasal dari Islamis dan pemikir Muslim. Studi juga merupakan riset kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, sedangkan metode koleksi data yang digunakan adalah metode dokumentasi, selanjutnya data tersebut dianalisis secara deskriptip dan kritis. Hasil dari studi ini menemukan bahwa kontribusi yang dilakukan oleh al-A‘ẓami dalam studi hadis adalah: (1) untuk menunjukkan bukti bahwa penulisan hadis dilakukan sejak masa Nabi. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan sedikitnya 52 sahabat yang mempunyai dokumentasi teks-teks hadis, dan juga untuk mengklarifikasi dan menambahkan sedikitnya 21 nama yang menjadi sekretaris Nabi Allah dan tidak pernah dimunculkan oleh para ulama hadis sebelumnya. (2) untuk menggambarkan 20 argumen yang menunjukkan bahwa istilah samā‘ dan taḥdīṡ tidak hanya digunakan untuk penyampaian verbal tetapi juga untuk mendiktekan, menerima, dan mengajarkan hadis dalam medium tertulis.(3) untuk membuktikan validitas  isnād melalui studinya dari tiga hadis yang dinarasikan oleh ratusan orang dalam banyak wilayah yang berbeda. (4) untuk memperkuat dan mengembangkan ide-ide muḥaddiṡīn melalui langkah-langkah sistematis untuk menguji kritik hadis, mencakup penelitian tentang karakter para perawi, per­bandingan silang atau mu‘āraḍah, dan kritik nalar. Keywords: Contributions, al-A‘ẓamī, ḥadīṡ, Islamicist, dan samā‘.
TRADISI PENULISAN DALAM PROSES TRANSFORMASI HADIS ‘Umar, Mustofa
TEOLOGIA Vol 24, No 1 (2013): Kajian al-Quran dan Hadis
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:The Orientation of present paper to be researching and discussing on hadith transformation through writing tradition. In the early of this process,dominant paradigm in classical hadith scholars in hadith transformation based on oral tradition without writing tradition until second half century. This not without strong argument, there is hadith statement on prohibiting of  hadith writing. This phenomena has impact on authenticity the materials of hadith after their codification. In historically context, writing of hadith happened in middle  of conflict moslem in political and school of thought.The alleged whole sale fabrication of hadith in seen as result of the activities of group of scholars and foremost as result of interpretation from point of view of praxis. Abstrak: Orientasi dari paper sekarang ini untuk meneliti dan mendiskusikan tentang transformasi hadis sepanjang tradisi penulisan. Dalam proses awal dari proses ini, paradigma yang dominan di kalangan ulama hadis dalam transformasi hadis berdasarkan pada tradisi lisan tanpa tradisi tulis hingga paroh abad kedua. Ini bukanlah tanpa argumen yang kuat, ada pernyataan hadis mengenai larangan penulisan hadis. Fenomena berpengaruh pada otensitas material-material hadis setelah kodifikasi mereka. Dalam konteks sejarah, penulisan hadis terjadi di tengah konflik kaum Muslim di bidang politik dan mazhab pemikiran. Terjadi pemalsuan hadis besar-besaran yang dilihat sebagai hasil dari aktivitas-aktivitas kelompok ulama dan terkemuka sebagai hasil dari interpretasi berdasarkan sudutpandang praksis. Keywords: hadis, sunnah,al-Quran, Kutubi, ahl al-ra’y, ahl al-ḥadīṡ.
HERMENEUTIKA HADIS: Upaya Memecah Kebekuan Teks Hauqola, N Kholis
TEOLOGIA Vol 24, No 1 (2013): Kajian al-Quran dan Hadis
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: “Standardization” of hadith’ interpretation is a religious understanding manifestTop of Form “Establishment” in hadith interpretation is a manifesto carries religious understanding entity; not only in the form of interpretation entity, understanding entity, truth entity, Islam entity, but also the other entity in religion. In contemporary lives of people the Prophet hadith presents in a “stagnant” and poor application consequently. It ignites a breakthrough to break up the stagnant sphere for shake “indigenization” of the hadith in order to correspond with reality epoch. In hadith interpretation, one of them is hermeneutic approaches. This hermeneutic approach could be achieved using 3 compositions; (1) meaning within the text (internal interpretation of the hadith text, (2) meaning behind the hadith text (things around interpretation of the hadith), (3) meaning in front of the text (“the opposite” interpretation of the hadith text). These three compositions of the interpretation have focus, target, and method in which are completed one another. They examine not only the horizon of the text (matan), the originator of the horizon (the Prophet), the reader (rijal al-hadith, mukharrij al-hadith, also mufassir), but also its contextuality. Nevertheless, for “established” hadith diciplines, hermeneutic is a “supporting instrument” (not replacing instrument), however, it is perceived able to create interpretation by combining textuality element and hadith contextuality through this hermeneutic approach at once, since a text could only come together in a context. Abstrak: “Pembakuan” pemaknaan hadis merupakan manifesto pemahaman agama yang mengusung ketunggalan; baik dalam bentuk penafsiran tunggal, pemahaman tunggal, kebenaran tunggal, Islam tunggal, dan ketungalan-ketunggalan lain dalam beragama. Akibatnya, hadis-hadis Nabi hadir di tengah kehidupan umat kekinian dalam bentuknya yang “beku” dan miskin aplikasi. Perihal tersebut memantik terobosan untuk memecah kebekuan demi “pribumisasi” hadis agar sesuai dengan realitas zaman. Salah satunya adalah pendekatan hermeneutik dalam penafsiran hadis. Pendekatan hermeneutik dalam penafsiran hadis dapat dilakukan melalui 3 (tiga) lapis penafsiran, yaitu: (1) penafsiran “dari dalam” teks hadis (meaning within the text); (2) penafsiran “terhadap hal-hal di sekitar” teks hadis (meaning behind the text);  dan, (3) penafsiran “yang melawan” teks hadis (meaning in front of the text). Ketiga lapis penafsiran ini memiliki fokus, sasaran, serta metode yang antara satu dengan lainnya saling melengkapi. Ia mengkaji bukan hanya horison teks (matan), tetapi juga horison penggagas (Nabi), pembaca (rijal al-hadis, mukharrij al-hadis, serta mufassir), dan kontekstualitasnya.Meskipun hermeneutik merupakan “alat bantu” (bukan pengganti) bagi ilmu-ilmu hadis yang telah “mapan”, namun melalui pen­dekatan hermeneutik dirasakan mampu melahirkan pemakna­an yang menggabungkan unsur tekstualitas dan konteks­tualitas hadis sekaligus, mengingat sebuah teks hanya bisa menemukan maknanya dalam konteks. Keywords: ḥadīṡ, hermeneutic, textuality, contextuali­za­tion, interpretation
Hadis Prediktif Dalam Kitab Al-Bukhari Idris, Abdul Fatah
TEOLOGIA Vol 24, No 1 (2013): Kajian al-Quran dan Hadis
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study  of predictive hadith in the book al-Bukhārī give results; first, that all the predictive sanad are sīngle transmission (aḥad). The predictive hadith through sīngle transmission cannot  be credible when it occurs tadlīs, suspicion and ghairaittiṣāl (not continued). Second, the predictive of matan hadith is a tradition which should not be leaned by the Prophet. However, it is learned by the companions of the Prophet. Is name is mauquf hadith, If is leaned by tabiin or itba tabiin generation, it is called a maqtu’. The state of validity in matan predictive Hadith, depends on the state of the validity in sanad of Hadith. The state of avoiding disability (‘illat) of hadith sanad, is very decisive against the state on the validity of hadith matan, However,  the state of  validity on the hadith sanad is not necessarily a validity on the hadith matan.Therefore, some of predictive of hadith in book of Sahih al-Bukhari found disability in sanad of Hadith and in matan of hadith. In short, the direct or in direct predictive hadith in the the book of al-Bukhārī has disability (illat), because it contains the contrary to the Quran, apolitical nature, and theological and dogmatic feud. Abstrak:  Studi terhadap hadis prediktif dalam kitab al-Bukhārī ini memberi tiga hasil; pertama bahwa semua sanad predikif itu merupakan transmisi tunggal (aḥad). Hadis prediktif melalu transmisi tunggal tidak kredibel ketika terjadi tadlīs, kecurigaan, dan ghairaittiṣāl (tidak bersambung). Kedua, bahwa matan hadis prediksi sebuah hadis yang seharusnya tidak di-marfu‘-kan kepada Nabi, tetapi merupakan hadis mauquf yang disandarkan kepada sahabat, dan maqtu‘ yang disandarkan kepada tābi‘īn atau itba‘tābi‘īn. keadaan kredi­bi­litas matan hadis prediksi, tergantung pada keadaan kriteria sanad hadis. Kriteria terhindar dari ‘illat (cacat) pada sanad hadis adalah sangat menentukan terhadap keadaan kredibi­litas matan hadis, tetapi keadaan kredibilitas pada sanad hadis tidak serta merta menjadi kredibilitas pada matan hadis. Sebagian matan hadis prediktif dalam kitab Ṣaḥīḥ al-Bukhārī mempunyai ‘illat dalam sanad hadis dan ‘illat dalam matan hadis. Matan hadis-hadis prediksi yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung adalah mengandung ‘illat karena bertentangan dengan al-Quran, mengandung hal-hal yang bersifat politis, serta mengandung pertentangan teologis dan dogmatis. Keywords: Hadis, Sunnah, Kriteria,  Sanad, Matan, dan Prediktif
TASAWUF SEBAGAI SOLUSI BAGI PROBLEMATIKA KEMODERNAN: Studi Pemikiran Tasawuf M. Amin Syukur Thohir, Umar Faruq
TEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): Etika Islam/Tasawuf
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate Sufism thought of Amin Syukur. Hepositioned Sufismas one of the solutions to the problems of modernity who have lost the vision of divinity that result in psychological symptoms, namely spiritual emptiness. Then, the people would become stress and worry wart because of their hopless feeling. For this reason, M. Amin Syukur endorsed the problems of modernity with always optimistic, positive thinking, resting every intention and good deeds only to worship God and sharing (solidarity) for fellow creatures of God. In addition, he recommends to remember (al-żikr) to Godhowever, whenever, and wherever. Remembering God can calm the soul (sakīna) and mind that will affect the nerve, the nerve will affect the glands, the glands will produce healthy liquid. Healthy liquid which is a calm soul effect which will make man have the "immune power" against all diseases. In medical the termis called psycho-neuroen docrine immunology. Furthermore, according to Amin Syukur, problems of modernity can besolved by Sufism through methods like marifa Allāh obtained via stairs of marifa al-nafs, marifa al-nās, and marifa al-kawn. Abstrak: Artikel bertujuan untuk mengelaborasi pemikiran tasawuf Amin Syukur. Ia memposisikan tasawuf sebagai salah satu solusi terhadap problematika kemodernan ini yang sudah kehilangan visi keilahian yang mengakibatkan timbulnya gejala psikologis, yaitu adanya kehampaan spiritual. Akibatnya, orang akan menjadi stres dan gelisah karena merasa tidak mempunyai pegangan hidup. Untuk alasan ini, Untuk alasan ini, M. Amin Syukur mengarahkan penyelesaian problematika kemodernan ini dengan selalu optimis, berpikir positif, menyandarkan setiap niat dan perbuatan baik hanya untuk ibadah kepada Allah dan berbagi (solidaritas) untuk sesama makhluk ciptaan Allah. Selain itu, ia juga menganjurkan untuk selalu ingat (al-dzikr) kepada Allah bagaimana pun, kapan pun, dan dimana pun. Mengingat Allah dapat menenangkan (sakīnah) jiwa dan pikiran yang akan berpengaruh pada syaraf, syaraf akan memengaruhi kelenjar, kelenjar akan mengeluarkan cairan yang sehat. Cairan sehat yang merupakan efek jiwa tenang ini akan menjadikan orang memiliki "daya kebal" terhadap segala penyakit, yang dalam istilah medis disebut psycho neuroen dokrin immunology. Lebih jauh lagi, menurut M. Amin Syukur, problematika kemodernan ini dapat diselesaikan dengan tasawuf melalui metode marifah Allāh yang diperoleh melalui tangga marifah al-nafs, marifah al-nās, dan marifa al-kawn. Keyword: Sufism, marifah al-nafs, marifah al-nās, marifa al-kawn, and immune power.

Page 4 of 49 | Total Record : 486