cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
STRATEGI REGULASI EMOSI DAN PERILAKU KOPING RELIGIUS NARAPIDANA WANITA DALAM MASA PEMBINAAN Studi Kasus: Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas II A Bulu Semarang Anggraini, Erlina
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate emotion regulation strategies and religious coping of inmates in Clas II A women’s prison of Bulu Semarang. Staying  at detention center or prison definitely makes someone stress and automatically influences to their social life, health-physics, and psychic. Moreover for new inmates (unrecidivist), the  effect can be worse. The new athmosphere of the jail can make them feel meaningless, useless, bore, and give up. It means they get both of physics and psychology punishment. Therefore the inmates should be able to control their emotion and be adaptive in their ‘new live’. This ability is called emotion regulation. Surely, the good ability will help them to face many kinds of stressors in their life. This study describes emotion regulation strategies and religious coping of women inmates. because as known in most of the society, the women are more sensitive than the men. The method of this research is qualitative. The  Informants of this study are inmates of Clas II A women’s prison of Bulu Semarang which taken by random system. The researcher finds that  the inmates will be easier   to face stressors if they have good-emotion regulation. such as having positive thinking and controlling  their attitude and feeling. But if they con not regulate their emotion well, they will be easy to feel anxiety, depression and distress. They are also will be more more aggresive. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborai strategi regulasi emosi dan koping religius narapidana wanita dalam masa pembinaan. Hidup dalam rutan, penjara atau lembaga pemasyarakatan (Lapas) pasti menimbulkan berbagai tekanan yang akan berdampak pada kehidupan sosial, keadaan fisik dan juga psikis narapidana, apalagi bagi narapidana baru (bukan residivis). Dampak fisik dan psikologis yang dialami oleh narapidana dapat membuat mereka merasa tidak bermakna (meaningless) yang ditandai dengan perasaan hampa, gersang, bosan, dan putus asa. Konflik batin seperti perasaan sedih, menyesal, khawatir, tertekan, merasa terbatasi, rindu keluarga, jenuh dan perasaan tidak mengenakkan lainnya muncul dalam diri mereka. Ini artinya bagi sebagian besar narapidana, penjara bukan saja hukuman fisik (serba terbatas) melainkan juga hukuman psikologis. Untuk itu narapidana harus memiliki kemampuan untuk bisa mengontrol emosi mereka agar tetap efektif dan adaptif dalam tekanan, kemampuan ini disebut regulasi emosi. Kemampuan regulasi emosi yang baik tentu akan sangat membantu narapidana dalam menghadapi masa-masa yang sulit dan penuh tekanan dalam masa pembinaan. Keywords: coping religious, narapidana, stressor, hukuman psikologis, hukuman fisik.
TUAN GURU, POLITIK DAN KEKERASAN-RITUAL DALAM KONFLIK NAHDLATUL WATHAN DI LOMBOK NUSA TENGGARA BARAT Hamdi, Saipul
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article examines the role of tuan guru in the prolonged internal conflict in the Nahdlatul Wathan (NW) organization in Lombok. The meaning of the term ‘tuan guru’ is similar to that of a ‘kiai’ in Java, which refers to the highest title given to Muslim male experts in the field of Islamic theology and syari’ah. Tuan guru play an important role as central figures in the community. In the NW organization their importance extends into both structural and cultural aspects of society. Their involvement in the NW conflict raises many questions about their dynamic role in society because they stepped out of their normative role as religious teachers, protectors, guardians and social advisors, and into roles as actors in conflict. Specifically, this article explores the process of their involvement in the conflict; how they use their charisma and authority to legitimize their political power and interests; how they produce knowledge and ritual for violent practices; how society responds to and views tuan guru in the post-conflict setting; and patterns of social critique about tuan guru. This article is based on ethnographic research from 2008 to 2009 in East Lombok. It is based on qualitative data collection and analysis, namely participant-observation, in-depth interviews, and focus group discussions. Artikel ini menguji peran tuan guru di dalam organisasi Nahdlatul Wathan (NW), khususnya peran mereka di dalam konflik internal NW yang berkepanjangan di Lombok Nusa Tenggara Barat. Tuan guru atau kiai dalam istilah jawa adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada orang yang ahli di bidang ilmu agama. Tuan guru memainkan peran penting sebagai tokoh sentral di masyarakat. Di NW mereka juga memiliki peran yang signifikan baik di tingkat struktural maupun kultural. Keterlibatan mereka di dalam konflik NW banyak menimbulkan pertanyaan karena mereka telah keluar dari tugas normatifnya sebagai pelindung, pengayom dan pembimbing jamaah, bukan sebaliknya sebagai aktor konflik. Maka secara khusus artikel ini bertanya, bagaimana proses keterlibatan mereka di dalam konflik NW, bagaimana mereka menggunakan otoroitas dan kharisma mereka untuk melegitimasi kekuasaan dan kepentingan politik mereka, bagaimana mereka memproduksi ilmu dan ritual untuk praktik kekerasan dan bagaimana pandangan masyarakat terhadap tuan guru pasca konflik dan apa bentuk gugatan dan kritik mereka terhadap tuan guru? Artikel ini berdasarkan hasil penelitian etnografi di tahun 2008-2010 di Lombok dengan menggunakan pendekatan kualitatif di dalam pengumpulan dan analisa data. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi-partisipasi, wawancara mendalam, dan fokus diskusi kelompok.   Keywords: Tuan Guru, Nahdlatul Wathan, konflik, kekerasan dan ritual
PEMIKIRAN ANNEMARIE SCHIMMEL TENTANG SIFAT FEMININ DALAM TASAWUF Purwanto, Ahmad
TEOLOGIA Vol 26, No 2 (2015)
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The article explores the ideas of Annemarie Schimmel relating to aspects of feminism in Sufism. According to Schimmel, that Sufism, or mystical Islam is the awareness of a single reality and love of the Absolute, because the forces that separate the true mystic by asceticism   is love. Even true love can make enjoyment of all painful. Mystical considered a mysterious thing that can not be achieved by ordinary means or by intellectual effort. While the literature and difficult spiritual life depicted as blind men touching an elephant, in pengambaraannya will say according to the elephant body parts are touched. While the nature of feminine in Sufism has been revealed as to uncover the elements of womanhood is in Sufism itself, like having love, affection, obedient, patient, prejudiced either (ḥusnu ẓan), and willing to sacrifice. From here it turns keperempuan nature not only possessed by women alone, but is owned by the Sufis men.   Abstrak: Artikel ini akan mengeksplorasi pemikiran Annemarie Schimmel yang berkaitan dengan aspek feminisme (keperempuan)  dalam tasawuf.  Dalam pandangan Schimmel, bahwa tasawuf atau mistik Islam merupakan kesadaran terhadap kenyataan tunggal dan cinta  Yang Mutlak, sebab kekuatan yang memisahkan antara mistik sejati dengan hanya sekedar tapa brata (asceticism) adalah cinta. Bahkan cinta sejati dapat menjadikan kenikmatan terhadap segala yang menyakitkan. Mistik dianggap sebagai hal yang misterius yang tidak dapat dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual. Sedangkan literature dan kehidupan rohaninya sulit digambarkan sebagaimana orang buta yang menyentuh gajah, dalam pengambaraannya akan mengatakan sesuai dengan bagian tubuh gajah yang disentuhnya. Sedangkan sifat keperempuan (feminin) dalam tasawuf telah terungkap sebagaimana mengungkap unsur-unsur kewanitaan yang ada dalam tasawuf itu sendiri, seperti memiliki cinta, kasih sayang, taat, sabar, berprasangka baik (ḥusnu ẓan), dan rela berkorban. Dari sini ternyata sifat keperempuan tidak hanya dimiliki oleh perempuan saja, tetapi dimiliki oleh para sufi laki-laki.
AL-QUR’AN DALAM PANDANGAN SYI’AH HM. Attamimy, HM
Jurnal THEOLOGIA Vol 22, No 2 (2011): ILMU-ILMU USHULUDDIN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2011.22.2.607

Abstract

However Sunni-Shia dichotomy is still felt in most Indonesian Muslims. In fact, not infer¬quently, allegations that the Shiites are in the Islamic cult. However, the deve¬lopment of Shi'ites in the country growing, triggered by the Islamic Revo¬lution in Iran under Ayatollah Khumaini, has eroded little by little these base¬less accusations, so in some places, Muslims, whether Sunni sect embraced, or Shi'ites can live side by side in peace. Misunder-standing that occurred between the two mazhab were one by one can be explained so as can to re¬move the mutual distrust between the two. One described here is the accusation that the Shiites have their own Qur'an different from Muslims in general. This accusation was unfounded because the Qur'an is used in the schools of Shi'a is exactly the same as those used by other Muslims. That they have Muṣḥaf ‘Alī and Fāṭima, it's true but the second position Muṣḥaf was nothing more than commentaries on the Qur'an is not the same as al-Quran. Kata Kunci: Syi’ah, al-Qur’ān, kesalahpahaman, Muṣḥaf ‘Alī, revolusi iran.
KRITIK AL-GHAZĀLĪ TERHADAP PARA FILOSOF Munir, Ghazali
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.341

Abstract

Abstract: al-Ghazālīcalled Bahrul Mughriq (an ocean away) because he mastered various sciences: Fiqh , Uṣūl , Mantiq and Theology. The number of contradictory religious beliefs, and the influence of Greek philosophy, arose doubt about what is right and what is wrong . Then he learned all the knowledge to get ‘Ilm Yaqin can clearly reveal the knowledge of the mutakallimun, Shiite Baatinites ( Isma'ilism ), philosopher and sufism, so he left his carrier. He did not accept simply of religious truth, without knowing the reason. He divided the philosopher into three: ad- Dahriyyun (materialists),ath-Thabi'iyyun (naturalists), Ilahiyyun (Theists). In philosophy, there are 20 issues , 3 of those mark philosophers as unbelievers, and other is bid’ah. Three of those are: the world eternity, unknowable particulars of God, and no physical resurrection. Abstrak: al-Ghazālī, seorang ulama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan: Fiqh, Ushul, Mantiq (Logika) dan Ilmu Kalam, sehingga ia memperoleh sebutan Bahrul Mughriq (lautan yang menenggelamkan). Banyaknya aliran keagamaan yang sering bertentangan dan pengaruh filsafat Yunani ke dalam pemikiran umat Islam, sehingga menimbulkan syak (kebimbangan, keraguan) tentang mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian ia mempelajari seluruh ilmu untuk mendapatkan ‘Ilmu Yaqin yang dapat mengungkap secara jelas yaitu ilmunya para mutakallimun, Syi’ah Batiniyah (Isma’iliyah), filosof dan sufi, sehingga ia meninggalkan jabatan dan kedudukannya. Ia tidak bertaklid tanpa mengetahui alasannya. Filosof ada tiga macam: ad-Dahriyyun (materialis), ath-Thabi’iyyun (naturalis) dan Ilahiyyun (theis). Dalam filsafat terdapat 20 persoalan, 3 diantaranya menjadikan filosof kafir, dan lainnya bid’ah. Tiga (3) itu adalah: Pendapat tentang keazalian alam, pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz’iyyat (rinci), dan kebangkitan jasmani tidak ada. Keywords: syak, ‘ilm al-yaqīn, al-Dahriyūn, al-Ṭabi'iyūn, Ilāhiyūn
BENDA ASTRONOMI DALAM AL-QURAN DARI PERSPEKTIF SAINS Hasan, Muhammad
Jurnal THEOLOGIA Vol 26, No 1 (2015): ISLAM DAN SAINS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2015.26.1.409

Abstract

Abstract: The objects in the sky in an astronomical perspective is very much the type and amount, but in the perspective of The Quran consists only of the sun, moon, and stars. The Quran gives cues and clues about the movement of the heavenly bodies. Sky objects in the perspective of the Koran already set his destiny, and had been subdued, so consistently and definitely outstanding. According to The Quran cue each celestial bodies, circulation and no silent, including the sun are also outstanding. In the circulation of the month, has its own characteristics, because only months in circulation set manzilah-manzilah, so the moon when seen from Earth show different form, sometimes the perfect (full moon), and sometimes show an imperfect form. Thus, it can be well known, when the month of the date of 1,2,3, and so on, so that people can practice their religion is based on the moon trip. Abstrak: Benda-benda di langit dalam perspektif astronomi sangat banyak jenis dan jumlahnya, namun dalam perspektif al-Quran hanya terdiri dari matahari, bulan, dan bintang. Al-Quran memberikan isyarat dan petunjuk mengenai pergerakan benda-benda langit tersebut. Benda-benda langit dalam perspektif al-Quran sudah ditetapkan takdir-Nya, dan telah ditundukkan, sehingga beredar secara konsisten dan pasti. Menurut isyarat al-Quran masing-masing benda langit, beredar dan tidak ada yang diam, termasuk matahari juga beredar. Dalam peredaran bulan, memiliki ciri tersendiri, karena hanya bulan yang dalam peredarannya ditetapkan manzilah-manzilah, sehingga bulan ketika dilihat dari bumi menunjukkan wujud yang berbeda-beda, kadang sempurna (bulan purnama), dan terkadang menunjuk-kan wujud yang tidak sempurna. Dengan demikian, dapat dikenal dengan baik, kapan bulan tanggal 1,2,3, dan seterusnya, sehingga manusia dapat melaksanakan ibadah berdasarkan perjalanan bulan tersebut. Keywords: matahari, bulan, bintang, al-Quran, astronomi
KONSEP KEBAHAGIAAN DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI SUFISTIK Rofi’udin, Rofi’udin
Jurnal THEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): TASAWUF
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2013.24.2.332

Abstract

Abstract: This article aims to enalyze the concept of happiness which on the market by psychology of sophistic and any kind of differentiating it from contemporary psychology. The characteristic of concept of happiness in the sufistic psychology is ethic transcendental. The happiness is mean as giving of God and not results of human effort. In spite of that, the human must endeavour in order that God disposed to give the giving of happiness. Its implementation and implication, the happiness in psychology of sophistic is obtained from comprehension that pleasure, wealth, and achievement of life are goal, but only medium to reach spiritual happiness. With method of takhallī, taḥallī, tajallī, mujāhadah, riyāḍah, etc., the sufistic psychology offers real happiness. Abstrak:Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep kebahagiaan yang ditawarkan oleh psikologi sufistik dan apa saja yang membedakannya dari psikologi kontemporer. Konsep kebahagiaan dalam psikologi sufistik bersifat etis transendental. Kebahagiaan dimaknai sebagai anugerah Allah dan bukan berasal dari hasil usaha manusia. Meski demikian, manusia dituntut berusaha agar Allah berkenan memberi anugerah kebahagiaan itu dengan cara mengikuti tuntunan-Nya. Dalam implementasi dan implikasinya, kebahagiaan dalam psikologi sufistik didapatkan dari pemahaman bahwa bahwa kesenangan, kekayaan, dan pencapaian hidup lainnya bukanlah tujuan, tetapi sekadar sarana dalam meraih kebahagiaan spiritual. Dengan metode takhallī, taḥallī, tajallī,mujāhadah, riyāḍah, dan sebagainya, psikologi sufistik menawarkan kebahagiaan yang hakiki dalam ma’rifah dan riḍa Allah. Keywords: kebahagiaan, psikologi kontemporer, psiko¬logi sufistik, kebahagiaan statistik vs sufistik
SIKAP DAN PANDANGAN ORANG-ORANG YAHUDI TERHADAP ISLAM Saidurrahman, Saidurrahman
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 2 (2014): ILMU KALAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.2.393

Abstract

Abstract: This article discusses on the attitude of the Jews who claim to be the chosen people sourced from theological doctrine handed down from one generation to the next. Although existentially Jews acknowledge other nations, but it was limited to the recognition of their existence, not on fundamental rights possessed. With that understanding, attitude and outlook superior to the other nations causing them easily perform a variety of cruel acts beyond the limits of humanity. History has recorded that the relationship between Muslims with Jews always tinged tensions for the sake of suspense. Of course, the tensions arising from unfair attitude that made the Jews in many aspects. Al-Quran and Hadith following historical facts, as the main source of this article, informing us that the attitudes of the Jews against Muslims tend pejorative other than brutal. Criticism for the sake of criticism and even physical violence often they are addressed to Muslims. It happens in every time and opportunity, not only at the time of the apostles before the Prophet Muhammad, on his future until the time we were the attitude of the Jewish people never change. Abstrak: Artikel membahas tentang sikap orang-orang Yahudi yang mengklaim sebagai bangsa pilihan bersumber dari doktrin teologis yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meskipun secara eksis¬tensial orang-orang Yahudi mengakui bangsa-bangsa lain, namun pengakuan itu hanya sebatas pada keberadaan mereka, bukan pada hak-hak dasar yang dimiliki. Dengan pemahaman itu, sikap dan pandangan lebih superior dibanding dengan bangsa-bangsa lain menyebabkan mereka mudah melakukan berbagai tindakan kejam di luar batas peri kemanusiaan. Sejarah telah merekam bahwa hubungan antara kaum Muslimin dengan orang-orang Yahudi selalu diwarnai ketegangan demi ketegangan. Tentu saja, ke¬tegangan itu muncul akibat sikap tidak fair yang dilakukan orang-orang Yahudi dalam banyak aspek. Al-Quran dan hadis berikut fakta sejarah, sebagai sumber utama dalam tulisan ini, menginformasikan kepada kita bahwa sikap dan pandangan orang-orang Yahudi terhadap umat Islam cenderung peyoratif selain brutal.Kecaman demi kecaman bahkan kekerasan fisik kerap mereka tujukan kepada umat Islam. Hal itu terjadi dalam setiap waktu dan kesempatan, tidak hanya pada masa rasul-rasul sebelum Rasulullah Muhammad saw, pada masa beliau hingga masa kita pun sikap orang-orang Yahudi tidak pernah berubah. Keywords: Yahudi, Taurat, al-Quran, Zionisme, Nabi Muhammad.
ETIKA KEILMUAN: Sebuah Kajian Filsafat Ilmu Sya'roni, Mokh
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.346

Abstract

Abstract:Scientific knowledge is knowledge which it self has acritical characteristic, rational, logical, objective and open. This is a must for a scientist to do so. But it is also a fundamental problem faced by scientist safter he built a strongsturdy building is theusability of sciences for human life. It cannot bedenied that science has brought people to wards a big change, but can science which is solid, strong, and fundamental to save human, or vice versa. Here is lies there sponsibility of a scientist. The development of science as science axiology embodiment requires properethicalvision to be applied. Man with science will be able to do anything they want, but consideration not only on what can bed one by humans. Which is more important in this context is the need for ethical consideration of what to do with the purpose of human kindness. Abstrak: Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang di dalam dirinya memiliki karakteristik kritis, rasional, logis, objektif dan terbuka. Hal ini merupakan suatu keharusan bagi seorang ilmuwan untuk melakukannya. Namun selain itu juga masalah yang mendasar yang dihadapi ilmuwan setelah ia membangun suatu bangunan yang kokoh kuat adalah masalah kegunaan ilmu bagi kehidupan manusia. Memang tak dapat disangkal bahwa ilmu telah membawa manusia ke arah perubahan yang cukup besar, tetapi dapatkah ilmu yang kokoh, kuat, dan mendasar itu menjadi penyelamat manusia bukan sebaliknya.Di sinilah letak tanggung jawab seorang ilmuwan. Pengembangan ilmu pengetahuan sebagai perwujudan aksiologi ilmu mengharuskan visi etik yang tepat untuk diaplikasikan. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu berbuat apa saja yang diinginkan, namun pertimbangannya tidak hanya pada apa yang dapat diperbuat oleh manusia. Yang lebih penting pada konteks ini adalah perlunya pertimbangan etik apa yang harus dilakukan dengan tujuan kebaikan manusia. Keywords: al-Quran, etika Islam, estetika, metaetika, ilmu.
LOGIKA WUJUD SADRA MERETAS NALAR RADIKALISME BERAGAMA Ulya, Ulya
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 1 (2016): FILSAFAT ISLAM & ISU-ISU KONTEMPORER
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.1.934

Abstract

Abstract: Ṣadra was a philosopher whose thought remains unique. Its uniqueness lies in his ability to articulate the various traditions of thoughts that grew and developed rapidly in Persia, the land of his birth. The traditions were peripatetic, illuminative, gnostic, and theological tradition of Islam. It has necessitated Persia as a heterogeneous region. This heterogeneity, to some extent, can susceptibly bring conflict i.e., physical violence from hurting to even casting innocent human life.  Indeed, the thought of Ṣadra was born within the era of a deep reflection process responding to the socio-cultural sphere. Also, it answered the issues that emerged at that time i.e., how the heterogeneous condition did not lead to intolerance, violence, and even acts of terror, instead created a safe, peace, and harmonious atmosphere. By his thought, Ṣadra did something very valuable to solve the problems in the country. Sadra’s thought is built up by and inherent with his basic idea, fundamental and logical structure of transcendence which are relevant to be socialized in a plural and heterogeneous society in which  conflict and violence are vulnerable. Socialization of logica structure is relevant for attitudes and behaviors of people since they  do not appear suddenly, yet are formed due to reason or logic or way of thinking. Thus, the study of the classical intellectual treasures potentially provides a meaningful contribution to be a basic solution for similar problems existing in nowadays.Abstrak: Sadra adalah seorang filosof yang produk pemikirannya tergolong unik. Keunikannya terletak pada kepiawaiannya mendialogkan antar berbagai tradisi pemikiran yang tumbuh dan berkembang pesat di Persia, tanah kelahirannya. Tradisi pemikiran dimaksud adalah tradisi paripatetik, tradisi illuminatif, tradisi gnosis, dan tradisi teologi Islam. Hal ini telah meniscayakan Persia menjadi sebuah wilayah yang heterogen. Heterogenitas rentan memunculkan konflik sampai aksi kekerasan fisik yang seringkali melukai, bahkan melayangkan jiwa manusia tak berdosa.   Sesungguhnya pemikiran Sadra lahir sebagai anak zaman dari sebuah proses refleksi mendalam, merespon kondisi sosial-kultural, menjawab persoalan yang berkembang saat itu: bagaimana agar sebuah kondisi yang heterogen tidak melahirkan intoleransi, kekerasan, bahkan aksi-aksi teror, tetapi justru tercipta suasana aman, damai, dan harmonis. Dari pemikiran wujudnya, Sadra melakukan sesuatu yang sangat berharga di negerinya dalam rangka memecahkan persoalan tersebut. Dalam pemikiran wujudnya ini terbangun dan inheren di dalamnya ide dasar, struktur fundamental, struktur logika transendensi yang relevan untuk disosialisasikan dalam masyarakat berbasis plural dan heterogen yang rentan konflik dan kekerasan tersebut. Sosialisasi struktur logika tersebut relevan karena sikap dan perilaku seseorang tidaklah muncul secara tiba-tiba tetapi terbentuk berkat nalar atau logika atau cara berpikir yang dimilikinya. Dari sini maka kajian terhadap khasanah intelektual masa lalu berpeluang bermakna dan bisa memberikan kontribusinya bagi dasar solusi permasalahan senada yang ada pada saat sekarang ini.

Page 7 of 49 | Total Record : 486