cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
AḤWᾹL AL-QULŪB DALAM KITAB MINHᾹJ AL-ATQIYᾹ’ KARYA KIAI SALEH DARAT Inamuzzahidin, Moh
TEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): Etika Islam/Tasawuf
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate the book of Kiai Saleh Darat’s Minhāj al-Atqiyā, a book of mysticism that is still used intraditional Islamic boarding schools (pesantren) in Java. The focus of the study is aḥwāl al-qulūb (conditions of heart spiritual), which is part of ilm al-muāmalah, the second science after the ilmal-mukāsyafah, a device used for the science to the after life.  Aḥwāl al-qulūb can be devided two dimension: commendable and despicable. The commend able is like patience, gratitude, fear, hope,  willing, asceticism, piety, qanāah, sakhā (generous), Husnal-zan, Husnal-khulūq, Husnal-muāsyarah, sidq, and Ikhlas. Mean while, the despicable is as scared indigent, hate destiny, jealousy, envy, looking sublime, happy and eternal praise in the world, arrogant, riya, covetous, griping, and others. By knowing which ahwalal-Qulub which are commendable and despicable, will facilitate the followers of Sufismactors (Salik) to go to the presence of God. In addition, this paper also will discover what it is contribution and relevance of Kiai Saleh Darat’s thought in modern era. Abstrak: Artikel ini bertujuan mengelaborasi kitab Minhāj al-Atqiyā’ Kai Saleh Darat, sebuah kitab tasawuf yang masih digunakan di pesantren-pesantren tradisional di Jawa.Fokus kajian adalah aḥwāl al-qulūb (kondisi spiritual hati) yang merupakan bagian dari ‘ilm al-mu‘āmalah, ilmu kedua setelah ‘ilm al-mukāsyafah, sebuah piranti ilmu yang digunakan untuk menuju akhirat. Aḥwāl al-qulūb itu sendiri ada yang terpuji dan ada yang tercela. Adapun yang terpuji adalah seperti ṣabar, syukūr, khauf, rajā’, riḍā, zuhūd, taqwā, qanā‘ah, sakhā’ (dermawan), ḥusn al-ẓan, ḥusn al-khulūq, ḥusn al-mu‘āsyarah, ṣidq, dan ikhlāṣ. Sedangkan aḥwāl al-qulūb yang tercela adalah seperti takut fakir, benci takdir, dengki, iri, mencari keluhuran, senang pujian dan kekal di dunia, takabur, riya, tamak, bakhil, dan lain-lain. Dengan mengetahui aḥwāl al-qulūb mana yang terpuji dan mana yang tercela, akan memudahkan pelaku pengamal tasawuf (sālik) sampai menuju ke hadirat Allah. Di samping itu, tulisan ini juga akan mengungkapkan seberapa jauh kontribusi dan relevansi pemikiran Kiai Saleh Darat tersebut di era modern saat ini. Keywords: Qanā‘ah, Zuhud, Tawakkal, Ikhlas, Sabar, Sakhā’, Ḥusn al-Khulq, ḥubb al-dunyā, riyā’, ‘ujūb, ḥasad.
KONTRIBUSI SINTESIS TASAWUF-TEOSOFIS AL-GHAZĀLĪ TERHADAP KONSTRUKSI TASAWUF SUNNI Aswadi, Aswadi
TEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): Etika Islam/Tasawuf
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Sufism of al-Ghazālī patterned the osophist, an integration between the theological and philosophical Sufism. The dominance pattern of the osophical Sufism of al-Ghazālī emphasizes the mystical experience is spread through philosophical reasoning. The his study method departed from the truth of faith and test it through mystical experience method. The peak of his Sufism leads to various dimensions, and then described through the frame work of rational thinking. According to al-Ghazālī, the essential Marifat to be obtained through inspiration or nūr who Allah enter into the hearts of people to recognize the nature of God and all His creation. The knowledge is obtained from marifat more true than the knowledge is acquired by the reason. Abstrak: Tasawuf al-Ghazālī bercorak teosofis, merupakan integrasi antara tasawuf teologis dan filosofis. Dominasi corak tasawuf teosofisal-Ghazālī lebih mengedepankan pengalaman sufistik yang dibentangkan melalui penalaran filosofis. Metode kajiannya berangkat dari kebenaran iman dan mengujinya melalui metode pengalaman sufistik. Puncak tasawufnya bermuara pada tataran ma’rifat dengan berbagai dimensinya, kemudian diuraikan melalui kerangka berpikir rasional. Ma’rifat yang hakiki menurut al-Ghazālī diperoleh melalui ilham atau nūr yang dicampakkan Allah ke dalam qalb manusia untuk mengenali hakikat Allah dan segala ciptaan-Nya. Ilmu yang diperoleh dari ma’rifat lebih benar daripada ilmu yang diperoleh melalui akal. Keywords: ma’rifat, qalb, teosofis, filosofis, gnostik.
FUNGSI TASAWUF TERHADAP PEMBENTUKAN AKHLAK (ETIKA) KERJA: Studi pada Murid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Fatmawati, Fatmawati
TEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): Etika Islam/Tasawuf
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Every adult male who works with various types of background work is a form of responsibility to provide for his family members . Observing ones work activities , this study analyzed the work activities on college institutes followers of Qadiriyah Naqsyabandiyah (QN) in Pontianak city. The research analyzes using perspective of Sociology of Religion , how functions can Sufism moral formation (ethics ) working his followers . Furthermore, this study used a qualitative approach comes with a descriptive method. Networking research data using the snowball technique in college institutes informant followers of Qadiriyah Naqsyabandiyah As-Salam and An-Nuur in Pontianak city QN flow assuming a more dominant in Pontianak. The next stage of data were analyzed using qualitative analysis. The results of the research—stageportrait of detainees practice Sufism by iḥsān; students were guided by mursyid (teacher like procession allegiance) and remembrance procession done consistently implications for morality (ethics) work has a spiritual dimension and Islamic values​​. Morality (ethics) refers to the working properties such as the nature of the Prophet Muhammad,ṣiddiq (right ), amanah (trust), faṭanah (intelligence) and tablīgh (sermons/promotion) which is still relevant today. When performing work activities of Qadiriyah Naqsyabandiyah (QN)followersfeel have the power within themselves so that they always feel to be watched. They are careful in their work and always maintain appropriate behavior Islamic morality . Abstrak: Setiap laki-laki dewasa yang bekerja dengan berbagai latar belakang jenis pekerjaan  adalah sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk memberi nafkah anggota keluarga­nya. Mencermati aktivitas kerja seseorang, kajian ini meng­analisis aktivitas kerja pada pengikut perguruan tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (QN) di kota Pontianak.  Adapun pisau analisis  penelitian menggunakan persfektif  Sosiologi Agama, bagimana fungsi tasawuf dapat pembentukan akhlak (etika) kerja para pengikutnya. Selanjutnya penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dilengkapi dengan metode deskriptif. Penjaringan data penelitian ini meng­gunakan teknik snow ball yakni pada informan pengikut perguruan tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah As-Salam dan An-Nuur di kota Pontianak dengan asumsi aliran QN lebih dominan di Pontianak. Tahapan selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian mengambarkan tahapan-tahahan pengamalan tasawuf oleh ikhsan/murid  yang dibimbing oleh mursyid/guru seperti prosesi bai’at (ikrar) dan prosesi zikir  yang dilakukan secara konsisten berimplikasi pada akhlak (etika) kerja yang mempunyai dimensi spiritual dan nilai-nilai Islami. Akhlak (etika) kerja merujuk sifat-sifat Nabi Muhammad Saw seperti sifat ṣiddiq(benar), amanah (tangungjawab), faṭanah (kecerdasan) dan tablīgh (promosi) yang masih relevan hingga kini. Ketika melakukan aktivitas kerja para pengikut QN merasa mempunyai kekuatan spiritualdi dalam dirinya, yakni merasa selalu  ada yang mengawasi. Mereka berhati-hati dalam bekerja dan selalu menjaga perilakunya sesuai akhlak Islami. Keywords: tasawuf, tarekat, akhlak, etika.
MISTIK SUNAN BONANG Ulfah, Rokhmah
TEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): Etika Islam/Tasawuf
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article will explain the mystical teachings of Sunan Bonang. He is a member of the Board Walisongo, which has a major role in the process of Islamization in Java. In preaching Islam, he is not only a cultural approach, but by creating songs and gending; he is also very closely related to the mystical teachings. In a mystical concept, humans must do the cleaning him self well so that it can unite with God. Mystical of Sunan Bonang can not classified as pantheism, but rather based on the Sharia. He emphatically stated that there was separation between God and man, not fused together so that it difficult to separate between them. His teachings are very common among Walisogo which is to up hold the Sufism teachings of Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Abstrak: Artikel ini akan menguraikan ajaran mistik Sunan Bonang. Ia  adalah salah satu anggota Dewan Walisongo, yang memiliki peran besar dalam proses islamisasi di Jawa. Iatidak hanya melakukan pendekatan kultural, menciptakan tembang dan gending-gending, tetapi ia juga sangat lekat dengan ajaran mistiknya. Dalam konsep mistiknya, manusia harus melakukan pembersihan diri dengan baik sehingga bisa bersatu dengan Tuhan. Mistik Sunan Bonang bukan tergolong pantheisme, tetapi lebih berdasarkan pada syariat. Ia dengan tegas menyatakan adanya pemisah antara Tuhan dan manusia, bukan lebur menjadi satu sehingga sulit memisahkan antara keduanya.  Ajaran seperti ini sudah sangat umum di kalangan Walisogo yang memang memegang teguh ajaran tasawuf Ahlu al-Sunnah wa al-Jamā’ah. Keywords: Mistik, Pantheisme, Syariat, Tuhan, Walisongo.
KONSEP KEBAHAGIAAN DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI SUFISTIK Rofi’udin, Rofi’udin
TEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): Etika Islam/Tasawuf
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article aims to enalyze the concept of happiness which on the market by psychology of sophistic and any kind of differentiating it from contemporary psychology. The characteristic of concept of happiness in the sufistic psychology is ethic transcendental. The happiness is mean as giving of God and not results of human effort. In spite of that, the human must endeavour in order that God disposed to give the giving of happiness. Its implementation and implication, the happiness in psychology of sophistic is obtained from comprehension that pleasure, wealth, and achievement of life are goal, but only medium to reach spiritual happiness. With method of takhallī, taḥallī, tajallī, mujāhadah, riyāḍah, etc., the sufistic psychology offers real happiness. Abstrak:Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep kebahagiaan yang ditawarkan oleh psikologi sufistik dan apa saja yang membedakannya dari psikologi kontemporer. Konsep kebahagiaan dalam psikologi sufistik bersifat etis transendental. Kebahagiaan dimaknai sebagai anugerah Allah dan bukan berasal dari hasil usaha manusia. Meski demikian, manusia dituntut berusaha agar Allah berkenan memberi anugerah kebahagiaan itu dengan cara mengikuti tuntunan-Nya. Dalam implementasi dan implikasinya, kebahagiaan dalam psikologi sufistik didapatkan dari pemahaman bahwa bahwa kesenangan, kekayaan, dan pencapaian hidup lainnya bukanlah tujuan, tetapi sekadar sarana dalam meraih kebahagiaan spiritual. Dengan metode takhallī, taḥallī, tajallī,mujāhadah, riyāḍah, dan sebagainya, psikologi sufistik menawarkan kebahagiaan yang hakiki dalam ma’rifah dan riḍa Allah. Keywords: kebahagiaan, psikologi kontemporer, psiko­logi sufistik, kebahagiaan statistik vs sufistik
RELASI CINTA DALAM TASAWUF Suwito, Suwito
TEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): Etika Islam/Tasawuf
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article discusses the relationship of love in the Sufi perspective. Opositorum Coindencia theory is used to dissect this relationṢip , so that the devil Sufism is seen as a "sparring partner" in human spiritual quality improvement activities. This article shows that the Sufi tradition mainly in Waḥdah al-Wujūd, using imaginal thinking mindset see and understand the duality (bipolar), even though this diversity is unity of opposites. In the context of Sufi, masculinity—whichstated that the dominant sociological—declared substantially have "weaknesses."  Because masculinity will not appear if there is no femininity. While in the context of the birth of the universe and the form of anything that is in fact born out of the urge of love that goes on this feminine category. In other words, masculinity will not be born if it is not driven by the feminine aspect. This is the "mystery of immense power" aspect of femininity in Sufi discourse. Thus, there is nothing more superiority between these two aspects. Relation is equal based on and effect of love. Abstrak: Artikel ini membahas tentang relasi cinta dalam perspektif Sufi. Teori Coindencia Opositorum dipakai untuk membedah relasi ini, sehingga dalam Sufisme setan dipandang sebagai “sparing partner” manusia dalam melakukan kegiatan peningkatan kualitas ruhani. Artikel ini menunjukkan bahwa tradisi sufi terutama dalam tasawuf waḥdat al-wujūd, dengan menggunakan pola pikir imaginal thinking melihat dan memahami dualitas (bipolar), bahkan keragaman sekalipun ini adalah unity of opposites. Dalam konteks sufi, maskulinitas—yang dinyatakan yang secara sosiologis dinyatakan dominan itu— secara substansial memiliki “kelemahan”. Karena maskulinitas tidak akan muncul jika tidak ada femininitas. Sementara dalam konteks lahirnya wujud semesta dan apapun yang ada justru lahir karena dorongan cinta yang masuk pada kategori feminin ini. Dengan kata lain, maskulinitas tidak akan lahir jika tidak didorong oleh aspek feminin. Inilah “misteri kekuatan dahsyat” aspek femininitas dalam wacana sufi. Dengan demikian, tidak ada yang lebih superioritas antara dua aspek ini.Relasinya adalah setara berdasar dan akibat dari cinta. Keywords: Waḥdah al-Wujūd, sufi, feminitas, maskulini­tas, ḥubb.
KONSEP AL-NAFS DALAM KAJIAN TASAWUF AL-GHAZᾹLĪ Paisol Burlian, Paisol
TEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): Etika Islam/Tasawuf
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article will elaborate on al-nafs (soul) which is an essential part of human nature. The Sufis divide understanding al-nafs in three senses. First, al-nafs is a substance that distinguishes human qualities with other creatures. Second, al-nafs is the cause of man to be creative and dynamic, through the process of inspiration and contemplation. Therefore, the level of quality of the nafs is different. In the literature of Sufism, the nafs can be transformed from a trend that is closest to the bad action to the level of closeness to the divine tenderness. Third, the nafs is the impulse of anger and lust, and urge all reprehensible nature, and immoral in mind. Sufi Sunni, al-Ghazālī calls nafs as the center of the potential upset, and the base of the despicable nature. Therefore, al-nafs need to be purified so that the properties of self perverted man disappeared. Road purification al-nafs is riyāḍah and mujahadah who constantly so al-nafs is ultimately up to the level of the nafs al-muṭmainnah. Abstrak: Artikel ini akan mengelaborasi tentang al-nafs (jiwa) yang merupakan bagian yang penting dari hakikat manusia. Para sufi membagi pengertian al-nafs ini dalam tiga pengertian. Pertama, al-nafs merupakan substansi yang membedakan kualitas manusia dengan makhluk yang lain. Kedua, al-nafs merupakan penyebab manusia menjadi kreatif dan dinamik, melalui proses inspirasi dan tafakur. Karena itu, tingkatan kualitas nafs orang berbeda-beda. Dalam literatur tasawuf, nafs ini dapat ditransformasikan dari kecenderungan yang paling dekat pada tindakan buruk sampai ke tingkat kedekatan pada kelembutan ilahi. Ketiga, nafs ialah dorongan amarah dan  syahwat, serta dorongan segala sifat tercela, dan maksiat dalam batin. Seorang sufi Sunni, al-Ghazālī menyebut nafs sebagai pusat potensi marah, dan pangkal dari sifat tercela. Karena itu, al-nafs ini perlu disucikan agar sifat-sifat tercela itu lenyap dari diri manusia. Jalan penyucian al-nafs adalah riyāḍah dan mujāhadah yang terus-menerus sehingga al-nafs pada akhirnya sampai pada tingkat nafs al-muṭmainnah. Keywords: al Nafs, laṭīfah al-rabbāniyah, sufi, al-Quran, dan al-Sunnah.
GERAKAN PEMBARUAN TASAWUF DI INDONESIA Al-Kumayi, Sulaiman
TEOLOGIA Vol 24, No 2 (2013): Etika Islam/Tasawuf
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This article aims to elaborate on Sufism reform movement in Indonesia. There former of Islam in Indonesia realize that Sufism is an integral part of Islam, therefore they are not hostile to Sufism, but tends to purify the Sufism of deviant practices. Irregularities which they saw in the midst of the Muslim community but claimed as part of Sufism must be cleaned. Sufism must be free of elements of heresy or shirk that could tarnish the purity of Islam. In this article, the author presents the figure of Hamka as a representation of Sufism reform movement in Indonesia. Although Hamka very appreciative, even followers of Sufism, he was never affiliated to the sufi order schools anywhere in the world.He also never made a separate congregation flow, as was common in the realm of the sufi order. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengelaborasi gerakan pembaruan tasawuf di Indonesia. Para pembaru Islam di Indonesia menyadari bahwa tasawuf merupakan bagian integral dalam Islam, karena itu mereka tidak memusuhi tasawuf, tetapi cenderung untuk memurnikan tasawuf dari praktik-praktik yang menyimpang. Penyimpangan yang mereka lihat di tengah-tengah masyarakat Muslim tetapi diklaim sebagai bagian dari ajaran tasawuf haruslah dibersihkan. Tasawuf harus terbebas dari unsur-unsur bid’ah atau syirik yang dapat menodai kemurnian ajaran Islam.  Dalam artikel ini, penulis menyajikan sosok Hamka sebagai representasi dari gerakan pembaruan tasawuf di Indonesia. Sekalipun Hamka sangat apresiatif, bahkan pengamal tasawuf, ia tidak pernah berafiliasi ke aliran tarekat mana pun di dunia ini. Ia juga tidak pernah membuat aliran tarekat tersendiri, sebagaimana lazimnya dalam dunia tarekat. Keywords: neo-sufisme, bid’ah, al-Quran, al-Sunnah, tarekat.
PEMIKIRAN ISLAM PROGRESSIF: Dua Dekade Pemikiran dan Gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL) Ismail, A. Ilyas
TEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Theologically, Islam is one (single) and absolutely true. However, historically, after being understood, and translated into the reality of life in the dimensions of space and time, Islam is not a single, but wide in variety or has plural form and manifest in at least three schools of thought, the traditional Islamic revivalist Islam (fundamentalism), and Islam liberal (progressive). Group of the Liberal Islam Network (JIL) represents the latter mindset. Although it is relatively young, only 10 years old, JIL became popular because it brings new ideas that often arouse controversy in the community. The progressive thoughts carried out by JIL concerning the four areas. First, the reformation in politics, JIL forwards the idea of ​​secularism. Second, in the field of social reforms and civic religion, JIL brought the idea or concept of pluralism. Third, reforms in individual freedom, JIL put forward the idea of ​​liberalism both in thought and action. Fourth, reforms in the field of women, JIL brought the idea of gender equality. These thoughts get some pros and cons in the community. Some denounce and condemn it, but others appreciate and support it. In such an atmosphere, JIL continues to grow as a progressive Islamic thought and movements in Indonesia. Abstrak: Secara teologis, Islam adalah satu (tunggal) dan mutlak benar. Namun, secara historis, setelah dicoba dihayati, dipahami, dan diterjemahkan dalam realitas kehidupan dalam dimensi ruang dan waktu, Islam tidak tunggal, tetapi beragam alias plural yang mewujud dan mengejawantah setidak-tidaknya dalam tiga aliran pemikiran, yaitu Islam tradisional, Islam revivalis (fundmentalisme), dan Islam liberal (progresif). Kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL) mewakili pola pemikiran yang terakhir. Meski usianya relative muda, baru 10 tahun, JIL menjadi popular karena mengusung pemikiran-pemikiran baru yang sering memunculkan kontroversi dalam masyarakat. Pembaharus pemikiran yang diusung JIL menyangkut empat bidang. Pertama, pembaruan dalam bidang poiitik. Di sini, JIL mengedepankan gagasan sekularisme. Kedua, pembaruan dalam bidang social agama dan kemasyarakatan. Di sini, JIL mengusung ide atau konsep pluralisme. Ketiga, pembaruan dalam kebebasan individu. Dalam hal ini, JIL mengedepankan gagasan liberalism baik dalam berpikir maupun bertindak. Keempat, pembaruan dalam bidang perempuan. Di sini JIL mengusung ide kesetaraan gender. Pemikiran pembaharuan JIL ini mendapat pro dan kontra dalam masyarakat. Sebagian mencela dan mengecamnya, tetapi sebagian lagi memberi apresiasi dan mendukungnya.Dalam suasan semacam itu, JIL terus tumbuh sebagai pemikiran dan gerakan Islam progresif di Indonesia. Keywords: Pemikiran Islam, JIL, sekularisme, pluralisme, liberalism, dan kesetaraan gender.
PEMAHAMAN KEBERAGAMAAN DAN GERAKAN KELOMPOK FPI SURABAYA Ma’arif, Syamsul
TEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Attitudes of FPI (Islamic Defenders Front) in Indonesia so far  impressed frontal and against any form of indecent behavior. Their action, in fact it can be said as one of the deepest expression of a group of Muslims in articulating religious teachings are embraced, or as an attitude of "piety" in viewing of all the different faiths in the belief that he believes. Especially in view of problems that are clearly regarded as a form of disobedience, apostasy and blasphemy. The responses and reactions, as well as research that has been conducted by the author in Surabaya is in order to uphold the principles of faith are considered "correct" earlier. This paper aims to provide comprehensive information on what factors underlie the birth of contemporary religious groups-particularly FPI in Surabaya. And find the religious understanding, activity and movements FPI group in the area. Overview of the results of this study are expected to eventually be able to eliminate the possibility of misunderstanding information is the cause of the onset of prejudice and stereotypes is the first step in conflict or resolve conflicts between religious communities in a comprehensive manner. Therefore, the known diversity of religious groups with the dynamics of movements will make it easier for religious communities to learn from each other. Abstrak: Sikap-sikap FPI (Front Pembela Islam) di Indonesia selama ini terkesan ‘frontal’ dan melawan setiap bentuk kemunkaran. Aksi mereka, sebenarnya bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk ekspresi terdalam dari sekelompok orang muslim dalam mengartikulasikan ajaran-ajaran agama yang dipeluknya, atau sebagai bentuk sikap “kesalehan” dalam memandang setiap keyakinan yang berbeda dengan keyakinan yang diyakininya. Apalagi dalam memandang persoalan yang jelas-jelas dianggap sebagai bentuk kemaksiatan, kesesatan dan penodaan agama. Maka respons dan reaksi mereka, sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan penulis di Surabaya adalah dalam rangka menegakkan prinsip keimanan yang dianggap “benar” tadi. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang komprehensif tentang faktor apa saja yang melatari lahirnya kelompok-kelompok keagamaan kontemporer—terutama sekali FPI di Surabaya. Sekaligus mengetahui pemahaman keagamaan, aktifitas dan gerakan-gerakan kelompok FPI di daerah tersebut. Gambaran hasil penelitian ini pada akhirnya diharapkan mampu mengeliminasi kemungkinan kesalahpahaman informasi yang menjadi sebab timbulnya prejudice, dan stereotype yang merupakan langkah awal terjadinya konflik atau mengatasi konflik antar komunitas agama secara komprehensif. Sebab, dengan diketahui keanekaragaman kelompok-kelompok keagamaan dengan dinamika gerakannya  akan lebih memudahkan masyarakat agama untuk saling belajar satu sama lain. Keywords: Pemahaman Keberagamaan,  Gerakan, FPI Surabaya, liberalisme, NU, Muhammadiyah.

Page 5 of 49 | Total Record : 486