cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 421 Documents
Studi Bahaya Erosi Tanah Dengan Metode Pemetaan Cepat (Rapid Mapping) di Sub DAS Cimanuk Hulu Rahmat Razali
Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3758.686 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13428

Abstract

ABSTRAK Erosi tanah merupakan salah satu isu ekosistem lingkungan yang banyak menjadi perhatian, dimana manusia berperan merubah lingkungan yang ada di pegunungan seperti kondisi saat ini Sub DAS Cimanuk Hulu cukup memprihatinkan apabila tidak dilakukan penanganan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya. Kaitannya dalam memperoleh informasi pendugaan erosi, metode kualitatif dimana dalam analisisanya dibantu menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) lebih fleksibel dibandingkan model erosi lainnya dan penerapannya dapat disesuaikan dengan karakteristik daerah kajian dan ketersediaan data. Penelitian ini menggunakan Metode Pemetaan Cepat (Rapid Mapping) untuk mengidentifikasi persebaran bahaya erosi berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi erosi seperti penutupan lahan, prosentase tanah terbuka dan kemiringan lereng diturunkan dari analisis Citra dan DEM. Hasil menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan analisis Citra dan DEM cukup efektif untuk mengetahui persebaran bahaya erosi dan dapat digunakan untuk menentukan arahan teknik konservasi tanah. ABSTRACT Soil erosion is one of the issues that many ecosystems of concern, where people act to change the environment in the mountains as the current conditions sub watershed Cimanuk Hulu quite alarming if not the handling and control of the use of space. Relation to erosion prediction information, qualitative methods which aided in analyze using Geographic Information System (GIS) is more flexible than other erosion models and their application can be tailored to the characteristics of the study area and data availability. This study used the Fast Mapping (Rapid Mapping) to identify the distribution of erosion based on factors that affect erosion as land cover, percentage of bareland and slope derived from the analysis of the image and DEM.Results show that by using image analysis and DEM effectively enough to know of erosion hazard and the distribution can be used to determine the soil conservation directive. 
ANALISIS CURAH HUJAN UNTUK ANTISIPASI KEKERINGAN DAN MITIGASINYA DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PROGO Sudibyakto Sudibyakto; Suyono Suyono; Dewi Galuh Kirono
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.98 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13249

Abstract

ABSTRAK Daerah Aliran Sungai (DAS) Progo dapat Magi ke dalam beberapa Sub DAS yaitu Sub DAS Progo Hulu, Sub DAS Tangsi, Sub DAS Elo, Sub DAS Blongkeng, dan Sub DAS Progo Hilir. Wilayah DAS Progo cukup bervariasi dalam hal topografi, unit geologi dan geomorfologi, hidrologi, jenis tanah, tipe vegetasi, dan tipe curah hujan (iklim), sehingga karakteristik fisik tersebut diharapkan berpengaruh terhadap keragaman nilai indeks kekeringan (drought index). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik hujan, khususnya curah hujan rata-rata bulanan, sebagai dasar untuk menganalisis keadaan neraca air. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan analisis terhadap nilai evapotranspirasi, dan perkiraan nilai kapasitas tanah menahan air (water holding capasity). Hasil dari analisis neraca air dapat diperoleh nilai kekurangan lengas (moisture deficit) dalam tanah, sehingga dapat ditentukan nilai indeks kekeringan dengan cara Thornthwaite, dan dirumuskan pula berbagal upaya mitigasinya. Hasil pernelitian menunjukkan bahwa secara umum makin tinggi elevasi suatu tempest, hujan yang jatuh di wilayah tersebut semakin tinggi dengan intensitas hujan yang tinggi pula. Hubungan tersebut selanjutnya menentukan tipe iklim di daerah penelitian. Tipe iklim A menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson meliputi sebagian besar wilayah pegunungan dengan ketinggian di atas 500 meter, tipe B umumnya antara 250-500 meter, dan tipe C umumnya kurang dari 250 meter. Hasil analisis neraca air bulanan dengan metode Thornthwaite-Mather menunjukkan bahwa defisit air mulai terjadi bulan Mei hingga Oktober dengan puncak defisit air antara Agustus dan September. Perkembangan spasial tingkat kekeringan terutama dimulai dari bagian hilir meliputi daerah Kenteng, Sentolo dan rneluas ke bagian tengah meliputi daerah Mendut dan Salaman dengan defisit air mencapai antara 50-70 mm per bulan. Kecenderungan perubahan indeks kekeringan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menentukan kapasitas tanah menahan air, yailu faktor tekstur tanah, kedalaman zone pekarangan, dan nilai evapotranspirasi. Faktor iklim tidak selalu berpengaruh nyata terhadap perubahan nilai (indeks) kekeringan, sehingga diduga faktor jenis tanah dan tipe penggunaan lahan yang lebih berpengaruh terhadap indeks kekeringan. Upaya mitigasi yang perlu dilakukan untuk mengatasi kekeringan antara lain penghijauan, konservasi tanah dan air antara lain berupa teras pada lereng yang terjal, pembuatan sumur resapan, dan pembuatan waduk-waduk kecil, bagi tempat-tempat yang memungkinkan.
ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DALAM PENYERAPAN TENAGA KERJA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Rika Harini; Sri Rum Giyarsih; Sri Rahayu Budiani
Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.117 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13285

Abstract

ABSTRAK Tantangan pembangunan dimasa depan adalah terwujudnya ntasyarakat yang adil termasuk keadilan dan pemerataan antar daerah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui perbaikan pembangunan sektoral yang bertumpu pada pembangunan pusat-pusat pertumbuhan, sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan utama yang perlu adalah mengusahakan semaksimal mungkin agar prioritas daerah sesuai dengan potensi ekonomi dan sektor-sektor unggulan wilayah dikembangkan. Selain itu program-program pembangunan ditekankan pada penciptaan kerja baik pada sektor pertanian maupun non pertanian.Penelitian ini berusaha untuk mengetahui sektor unggulan dan pertumbuhannya serta bagaimana penyerapan tenaga kerja dari masing-masing sektor perekonomian. Lokasi penelilian Daerah Istimewa Yogyakarta. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data runtun waktu (times series) antara tahun 1993-2001 berupa data PDRB dan data ketenagakerjaan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa an tar kabupaten/kota memiliki sektor unggulan yang berbeda-beda. Sektor pertanian (sektor primer) menjadi sektor unggulan pada Kabupaten Kulon Progo, Bantul dan Gunung KiduL Sedangkan di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta yang menjadi sektor unggulan hanya pada sektor sekunder dan tersier. Sektor industri pengolahan; bangunan; perdagangan, hotel dan restoran; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan menjadi sektor unggulan di Kabupaten Sleman. Sedangkan di Kota Yogyakarta sektor listrik, gas dan air bersih; perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa.Pada Kabupaten Bantu' dan Kabupaten Kulon Progo memiliki nilai pertumbuhan ekonomi yang lambat jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki penyerapan tenaga kerja paling tinggi pada sektor pertanian, sedangkan untuk Kota Yogyakarta yang paling tinggi penyerapan tenaga kerjanya adalah sektor jasa.
Memantau Toponimi Dan Permasalahannya Di Indonesia Yusron Halim
Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.251 KB) | DOI: 10.22146/mgi.5279

Abstract

Publications on toponimy in Indonesia are still small in number. The term toponimy has not been widely known by the .society, although the problems that can be observed are among others: inaccuracy in providing geographical names, change in spelling, a great number of local languages, change in names in foreign languages into Indonesian, all of which have given rise to various difficulties, obstacles or confusion in identifying geographical features. In this paper stress is placed on the basic concept of toponimy and the problems of geographical names in Indonesia in the framework of national standardization.
Klasifikasi Pohon Keputusan untuk Kajian Perubahan Penggunaan Lahan Kota Semarang Menggunakan Citra Landsat TM/ETM+ Like Indrawati; Hartono Hartono; Sunarto Sunarto
Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1274.449 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13330

Abstract

ABSTRAK Kota Semarang masih berkembang pesat. Dengan jumlah penduduk sekitar 1.434.025 jiwa (BPS, 2006) yang tinggal di kota, kota ini bisa disebut kota metropolitan. Pertumbuhan penduduk Kota Semarang sejak tahun 1994 ketika ekspansi ke 16 daerah kabupaten menunjukkan perbaikan. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan lahan yang lebih tinggi, sehingga konversi lahan pertanian menjadi nonpertanian akan meningkat. Untuk yang terakhir, data dari jarak jauh-merasakan memainkan peran penting yang memberikan informasi terbaru untuk penggunaan lahan. Hal ini harus didukung oleh canggih metodologi pengolahan gambar seperti otomatis klasifikasi spektral. Penelitian ini mencoba untuk membandingkan dua algoritma klasifikasi Landsat TM digital / ETM + adalah classifier kemungkinan dan keputusan pohon maksimum, akurasi tertinggi berikutnya digunakan untuk studi perubahan penggunaan lahan di Kota Semarang. Penggunaan lahan klasifikasi yang diterapkan memiliki berbeda dua-tahap detail untuk skala 1: 250.000 (tingkat I) dan 1: 100.000 (level II). Hasil ini pada penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan peta klasifikasi pohon keputusan pada akurasi keseluruhan dan Kappa Indeks lebih tinggi dari penggunaan lahan peta hasil maximun klasifikasi kemungkinan dan penggunaan lahan klasifikasi tingkat I memiliki akurasi yang lebih baik daripada penggunaan lahan klasifikasi tingkat II. Akurasi tingkat I klasifikasi di peta tahun 1994, untuk klasifikasi kemungkinan maksimum yang diperoleh adalah 54,14% yang memiliki indeks Kappa adalah 0,4822, dan akurasi untuk klasifikasi pohon keputusan adalah 66,34% dengan indeks Kappa 0,6256. Akurasi peta tahun 2002 untuk klasifikasi kemungkinan maksimum yang diperoleh adalah 75,12% yang memiliki indeks Kappa 0713, dan keputusan klasifikasi pohon akurasi 81,46% yang memiliki indeks Kappa 0787. Pada peta tahun 2006 untuk klasifikasi kemungkinan maksimum yang diperoleh adalah akurasi keseluruhan 78,05% yang memiliki indeks Kappa 0,7641 dan keputusan klasifikasi pohon akurasi 82,45% yang memiliki indeks Kappa 0805. Perubahan penggunaan lahan di Kota Semarang menginstruksikan turunnya perkebunan dan lahan pertanian dan meningkatnya penyelesaian dan industri. ABSTRACT The  Semarang  City  is  still  growing  rapidly.   With  total  population  of approximately 1,434,025 people (BPS, 2006) who lived in the city, this city can be called a metropolitan city. Growth of Semarang City population since 1994  when expansion into 16 district areas showed improvement. This condition caused the need of  land higher, so that the conversion of agricultural into nonagricultural land will increased. For the latter, remotely-sensed data plays an important role which provide updated information for land use. This is must be supported by the advanced of image processing methodology such as automated   spectral  classification. This study attempted to compare two classification algorithm of digital Landsat TM/ETM+ is the maximum likelihood and decision tree classifier, the next highest accuracy used for the study of land use change in the Semarang City. Land use classification which was applied has different two-stage of the detail for scale of 1 : 250.000 (level I)  and 1 : 100.000 (level II). This  result  on  this  study indicate  that  the  landuse  map  of  decision  tree classification  on overall accuracy and Kappa Index was higher than landuse map of result maximun likelihood classification and land use classification of level I   have accuration which better than land use classification of level II. The accuracy of level  I classification at map year 1994, for maximum likelihood classification obtained is 54,14%  that  have  Kappa  index  is  0,4822,  and  the  accuracy  for  decision  tree classification is 66,34% with Kappa index 0,6256. The accuracy of map year 2002 for maximum likelihood classification obtained is 75,12% that have Kappa index 0,713, and for decision tree classification accuration of 81,46% that have Kappa index 0,787. At map year 2006 for maximum likelihood classification obtained  is overall accuration of 78,05% that have Kappa index 0,7641 and for decision tree classification accuration of 82,45% that have Kappa index 0,805. Change of land use in Semarang City instruct the  descent  of  plantation  and  agricultural  land and increasing  of  settlement  and industrial.
Analisis Strategi Pemasaran Industri Tenun di Desa Wisata Gamplong Kabupaten Sleman Ratih Indah Sari; Sri Rahayu Budiani
Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3323.894 KB) | DOI: 10.22146/mgi.30063

Abstract

Strategi pemasaran sangat diperlukan dalam menghadapi kegiatan perdagangan yang semakin maju. Untuk itu IKM dituntut lebih inovatif agar produk yang dipasarkan tidak kalah saing dengan produk daerah lain. Penelitian ini bertujuan 1) Mengetahui faktor lingkungan internal yang berpengaruh terhadap strategi pemasaran industri tenun Gamplong, 2) Mengetahui  faktor lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap strategi pemasaran industri tenun Gamplong, dan 3) Mengetahui sistem pemasaran yang sesuai untuk industri tenun Gamplong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dimana data diperoleh dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan di Desa Wisata Gamplong yang merupakan sentra industri tenun di Kecamatan Moyudan. Hasil lapangan digunakan untuk analisis SWOT yang terdiri dari tabel IFAS, tabel EFAS, matriks IE, dan matriks SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor internal yang berpengaruh berupa: kepemilikan alat secara pribadi, inovasi produk dan bahan baku, harga terjangkau, kurangnya promosi, keterbatasan modal usaha, kendala komunikasi, dan kurangnya link pemasaran. Faktor eksternal yang berpengaruh berupa: pasar luas dengan posisinya sebagai desa wisata, adanya pelatihan industri, kurangnya pengetahuan tentang inovasi, konflik internal, adanya pasar global, dan regenerasi pengrajin tenun. Strategi pemasaran yang sesuai untuk industri tenun Gamplong adalah strategi menjaga dan mempertahankan.
Kajian Peran Lembaga dan Kearifan Masyarakat dalam Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove secara Terpadu di Delta Mahakam Lenny Dianawati; Suratman Suratman; Su Rito Hardoyo
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5365.474 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13068

Abstract

ABSTRAK Pada saat ini hutan mangrove di wilayah Delta Mahakam yang mengalami rusak berat seluas 24.035 hektar atau 49,44% dari luasan mangrove di Delta Mahakam, rusak ringan seluas 41.608 hektar atau 27,78% dari luas mangrove di Delta Mahakam, dan yang masih dalam kondisi baik hanya seluas 34.089 hektar atau 22,7% dari luasan mangrove di Delta Mahakam. Sebagian besar kerusakan diakibatkan oleh pembukaan hutan mangrove untuk usaha pertambakan oleh masyarakat yang berasal dari luar wilayah Kalimantan Timur. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 mengamanatkan bahwa Dinas Kehutanan memiliki kewenangan untuk menjaga kelestarian hutan mangrove di perairan termasuk kawasan perairan di Delta Mahakam. Di sisi lain, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan mengatur bahwa wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia untuk penangkapan ikan atau pembudiyaan ikan meliputi sungai, danau, waduk, rawa dan genangan air lainnya yang dapat diusahakan serta lahan pembudidayaan ikan yang potensial di wilayah Republik Indonesia. Dari permasalahan tumpang tindih kewenangan dan peraturan perundangan tersebut, masing-masing sektoral memiliki aturan hukum sendiri-sendiri, sehingga setiap sektor juga memiliki kewenangan sendiri-sendiri. Pengelolaan hutan mangrove tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah saja akan tetapi diperlukan peran serta masyarakat di Kawasan Delta Mahakam untuk mencapai kelestarian hutan mangrove yang terpadu. Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menyajikan masalah yang ada sekarang berdasarkan data yang di lapangan mengenai pengelolaan hutan mangrove di wilayah Delta Mahakam. Penelitian ini dilaksanakan di Delta Mahakam, Provinsi Kalimantan Timur. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, pedoman observasi, dokumentasi, kamera, dan alat perekam. Cara analisis data meliputi tahapan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa: (1) Pengelolaan hutan mangrove di Delta Mahakam sendiri melibatkan peran dari masyarakat, swasta, dan pemerintah. Pihak pemerintah yang terkait adalah Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan Timur. Pihak masyarakat dibedakan menjadi masyarakat asli dan pendatang. Masyarakat asli yang bermukim di sekitar hutan mangrove Delta Mahakam melakukan kegiatan perawatan, penanaman, dan pembersihan lingkungan hutan bakau. Sementara masyarakat pendatang yang merupakan pengusaha tambak memberikan sejumlah dana untuk dikelola pemerintah guna memperbaiki kondisi hutan mangrove Delta Mahakam yang rusak akibat kegiatan usaha tambak. (2) Integrasi antara pemerintah dengan masyarakat asli maupun masyarakat pendatang sebagi pengusaha tambak diperlukan guna menjamin terselenggaranya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan ekosistem mangrove sebagai sumberdaya di wilayah pesisir, system penyangga kehidupan, dan kekayaan alam yang bernilai tinggi. ABSTRACT At this time the mangrove forest in Delta Mahakam region heavily damaged area of 24 035 hectares (49.44%) of the mangrove area in the Delta Mahakam, covering an area of 41 608 hectares lightly damaged (27.78%), and is still in a state of an area of 34 089 hectares only good (22.7%).Such damage ismostlycaused bythe opening of mangrove forests for aquaculture enterprises bypeople from outside the region of East Kalimantan. Law No.41 of 1999 mandates that the Forest Service has the authority to preserve the mangrove forests in the waters include waters n the Delta Mahakam. On the other hand, the Law Number31of 2004 on Fisheries requires that fishery management area ofthe Republic of Indonesia for fishing or aquaculture, include rivers, lakes, reservoirs, marshes and other stagnant water that can be cultivated and land fish farming potential in the territory of the Republic of Indonesia of the problems of overlapping authority and these regulations, each sector has its ownlaws, so that each sector also has its own authority. Mangrove forestis not entirely the responsibility of the government alone but required the participation ofthe community in the Delta  Mahakam Region to achieve sustainability of integrated mangrove forests. Researchers used a qualitative descriptive approach to present the existing problems based on field data on the management of mangrove forests in the area of the Delta Mahakam. Based on the research and discussion that has been done, it was concluded that: (1) The management of mangrove forest in Delta Mahakam itself involves the role of public, private, and government. Relevant authorities are the Environment Agency East Kalimantan, East Kalimantan Provincial Forestry Office, and the Department of Fisheries and Marine Resources in East Kalimantan province. Parties divided into indigenous communities and migrants. The indigenous people living around the Delta Mahakam mangroves perform maintenance activities, planting, mangrove forests and environmental cleanup. While the immigrant communities who are entrepreneurs add provide some funds for the government managed to improve the condition of the Mahakam Delta mangrove forests damaged by farming activities.(2) Integration between the government and indigenous communities and migrant communities as a farm employer is required to ensure the implementation of the protection, preservation, and utilization of mangrove ecosystems as resources in coastal areas, life support systems, and high-value natural resources. 
STUDI OPTIMALISASI SEQUESTRASI KARBON DIOKSIDA (CO2) BERBASIS RUMAH TANGGA Laily Agustina Rahmawati; Eko Haryono; Chafidz Fandeli
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.856 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13405

Abstract

ABSTRAK Rumah tangga dengan segala aktifitasnya turut menyumbang emisi CO2 yang memicu pemanasan global. Oleh karena itu, berdasarkan prinsip pencemar membayar (pollutant pay principle), rumah tangga dapat dikenai tanggung jawab atas emisi yang dihasilkan dalam bentuk konservasi lahan. Penelitian bertujuan menganalisis rata-rata emisi dan rata-rata sequestrasi, untuk menetukan luas minimum lahan yang harus dikonservasi masing-masing kelompok rumah tangga Kelas Ekonomi Atas (KEA- Daya ≥ 1300 VA), Kelas Ekonomi Menengah (KEM- Daya 900 VA), Kelas Ekonomi Bawah (KEA- Daya 450 VA) di Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, D. I. Yogyakarta. Emisi CO2 dihitung berdasarkan aktifitas rumah tangga terkait konsumsi listrik, konsumsi bahan bakar untuk transportasi, konsumsi bahan bakar untuk memasak, produksi sampah, serta konsumsi air PDAM, didapat dari hasil questioner yang selanjutnya dikalikan dengan nilai konversi emisi CO2 yang tersesedia. Sequestrasi CO2 dihitung berdasarkan biomassa yang dipertahankan oleh rumah tangga pada lahan bervegetasi mereka (pekarangan, sawah, kebun). Pendugaan biomassa diperoleh melalui metode Brown (1997) dan Hairiah (2007), dengan melakukan nested qudrat sampling pada masing-masing jenis lahan bervegetasi yang dimiliki rumah tangga. Luas minimum dan optimalisasi lahan, dihitung berdasarkan jumlah emisi CO2 rumah tangga dan biomassa per m2 lahan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui, rumah tangga Sinduadi memiliki rata-rata emisi dan sequestrasi, serta luas minimum lahan secara berturut-turut sebesar: 7098,98 kgCO2/th, 267,34 kgCO2/th, dan 178,11 m2 dengan tingkat optimalisasi lahan sangat optimal (tutupan vegetasi 90%) pada lahan pekarangan untuk rumah tangga KEA; 3785,9 kgCO2/th, 632,61 kgCO2/th, dan 1551,37 m2 lahan pekarangan dengan dengan tingkat optimalisasi lahan sangat optimal (tutupan vegetasi 90%) pada lahan pekarangan untuk rumah tangga KEM; 1973,3 kgCO2/th, 780,21 kgCO2/th, dan 898,91 m2 dengan tingkat optimalisasi lahan sangat optimal (tutupan vegetasi 90%) pada lahan pekarangan untuk rumah tangga KEB. ABSTRACT Households with all its activities contributed to CO2 emissions that lead to global warming. Therefore, based on the polluter pays principle (pollutant pay principle), households may be held responsible for the emissions produced in the form of land conservation. The study aims to analyze the average emissions and the average sequestration, to determine the minimum area of land to be conserved each household group Economy Class Upper (Power KEA- ≥ 1300 VA), Economy Class Intermediate (back Power 900 VA), Down Economy Class (KEA- Power 450 VA) in the village of Sinduadi, Mlati subdistrict, Sleman, Yogyakarta. CO2 emissions are calculated based on household activities related to electricity consumption, fuel consumption for transportation, fuel consumption for cooking, waste production and water consumption taps, obtained from the questionnaire were subsequently multiplied by the conversion of CO2 emissions tersesedia. CO2 sequestration is calculated based biomass is retained by households on their vegetated land (yards, fields, gardens). Biomass estimation obtained through the method of Brown (1997) and Hairiah (2007), by nested qudrat sampling on each type of vegetated land owned by households. And the minimum area of land optimization, CO2 emissions are calculated based on the number of households and biomass per m2 of land. Based on the survey results revealed, households had an average Sinduadi emissions and sequestration, and the minimum area of land consecutively for: 7098.98 kgCO2 / th, 267.34 kgCO2 / th, and 178.11 m2 with a very level land optimization optimal (vegetation cover 90%) in their yards for household KEA; 3785.9 kgCO2 / th, 632.61 kgCO2 / th, and 1551.37 m2 yard area with the optimization level is optimal land (vegetation cover 90%) in their yards for household KEM; 1973.3 kgCO2 / th, 780.21 kgCO2 / th, and 898.91 m2 with very optimal level of optimization of land (vegetation cover 90%) in their yards for household KEB.
PERAN SERTA MASYARAKAT KOTA YOGYAKARTA DALAM MENANGANI MASALAH SAMPAH Ischak Ischak
Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.026 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13225

Abstract

ABSTRAK Penelitian dengan judul Peran serta Masyarakat Kota Yogyakarta dalam Menangani Masalah Sampah bertujuan untuk mengetahui jenis sampah paling utama yang menyebabkan terjadinya penimbunan sampah pada TPS (tempat penampungan sementara), mengetahui cara-cara yang dilakukan dalam menangani timbunan sampah pada TPS dan mengetahui peran serta masyarakat dalam menangani masalah sampah. Populasi penelitian ini adalah para keluarga di Kota Yogyakarta. Pemilihan sampel menggunakan purposive sampling, dengan mengambil sampel para keluarga di Kecamata Mergangsan Gondomanan, Ngampilan, dan Gondokusuman. Jumlah responden ditentukan 120 keluarga, berasal dari Kelurahan Wirogunan (Kec. Mergangsan), Kelurahan Prawirodirjan (Kec. Gondomanan), Kelurahan Notoprajan dan Ngampilan (Kec. Ngampilan), dan Kelurahan Klitren (Kec. Gondokusuman). Data disajikan dalam bentuk frekuensi tunggal maupun ganda. Analisis data digunakan analisis deskripsi dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis sampah utama yang dibuang adalah daun, plastik, dan kertas. Tempat penampungan sementara (TPS) sebagian besar pada bak sampah yang diusahakan sendiri dan bak sampah Dinas Pekerjaan Umum. Pembersihan sampah di TPS sebagian besar dilakukan oleh warga yang ditunjuk dengan memberi imbalan jasa. Peran serta masyarakat dalam menangani masalah sampah masih kurang, khususnya keterlibatan mereka secara fisik. Sedang keterlibatan mereka secara mental sudah cukup baik.
Dinamika Kesejahteraan Penduduk di Banjarnegara Wiwik Puji Mulyani
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3275.102 KB) | DOI: 10.22146/mgi.15628

Abstract


Filter by Year

1988 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989) Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue