cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 421 Documents
KAJIAN EKSISTENSI WANITA TANI DI DAERAH PERKOTAAN STUDI KASUS PENGARUH ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN PERAN WANITA TANI DI KOTA YOGYAKARTA Luthfl Muta'ali
Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.692 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13263

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh alih fungsi lahan pertanian terhadap perubahan kondisi sosial ekonomi dan peran wanita tani di daerah perkotaan. Penelitian ini bersifat deskriptifeksploratif, dengan menggunakan metode survai. Responden yang menjadi obyek kajian adalah wanita yang memiliki pekerjaan sebagai petani (wanita tani), balk sebagai pekerjaan pokok maupun sampingan. Penelitian dilakukan di Kota Yogyakarta dengan mengambil 2 sampel desa pertanian berdasarkan intensitas konversi, yaitu Desa Pandeyan dan Giwangan, Kecamatan Umbulharjo.Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian cenderung semakin meningkat. Secara keruangan, semakin mendekati pusat kora semakin tinggi intensitas konversi lahan pertanian. Menurunnya luas lahan pertanian diikuti oleh menurunnya produksi sektor pertanian dan konlribusinya terhadap ekonomi wilayah. Penguasaan lahan semakin menyempit, lebih dari 87% rumah tangga petani tergolong petani gurem, dengan luas penguasaan lahan kurang dari 0,5 ha. Akibatnya kondisi kesejahteraan petani umumnya dan wanita tani khususnya di perkotaan semakin menurun. Marginalisasi wanita tani terutama dirasakan oleh golongan rumahtangga wanita tani non pemilik yaitu wanita buruh tani. Golongan wanita tani pemilik maupun sebagian petani penyewa, memperoleh keuntungan dari penjualan dan alih fungsi lahan. Transformasi rnata pencaharian terjadi dalam jumlah relatifkecil. Sebagian besar masih menganggap petani sebagai pekerjaan pokok Perkembangan sektor non pertanian di perkotaan kurang dapat diakses oleh wanita Ian! kola. Seiring dengan perkembangan waktu, eksistensi wanita tani semakin menurun, baik dalam jumlah maupun perannya.Hasil studi merekomendasikan perlunya disusun arahan kebyaksanaan yang bertujuan untuk melindungi existensi petani dan wanita tani khususnya non pemilik dan menjamin keberlangsungan pekerjaan dan penghasilan mereka. Kebijaksanan tersebut antara lain : (I) pemberdayaan petani dan wanita tani, khususnya peningkatan ketrampilan non pertanian (2) pemanfaatan lahan dan kegiatan pertanian yang masih ada secara optimal (menggarap lahan tidur), dan (3) pengendalian luas dan arah konversi lahan pertanian.
Kesempatan Kerja Sektor Informal Di Daerah Perkotaan, Indonesia (Analisis Pertumbuhan dan Peranannya) = Employment Opportunity in Informal Sector in the Urban Areas, Indonesia (The growth and role analysis) Tadjuddin Noer Effendi
Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.327 KB) | DOI: 10.22146/mgi.5267

Abstract

This paper deals with employment opportunities in the urban areas of Indonesia. The informal sector is present in almost every city in this country. The existence of the informal sector is usually associated with the lack of labour absorption capacity of the formal (modern) sector. The informal sector serves as a buffer against the lack of formal employment opportunities and the consequent unemployment. Nearly one third of the working force in Indonesia cities work in the informal sector Those active in this sector usually are in the fully economically productive age brackets. The Informal sector can serve as a buffer power against the employment opportunity and unemployment. This can be seen from the fact that nearly one third of the working labour in cities work at the informal sector. Whereas, those who are engaged in the informal sector are at the fully productive age.
ANALISIS POTENSI CALON TRANSMIGRAN SASARAN PENGARAHAN DAN PERPINDAHAN Sudrajat Sudrajat
Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.558 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13320

Abstract

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi calon transmigran briefing dan pergerakan target di daerah asal; dan untuk menilai prosedur dan memberikan informasi bimbingan teknis kepada calon transmigran. Untuk mencapai tujuan ini calon transmigran sampel dari beberapa lokasi di wilayah Kabupaten Bantul. Metode pengumpulan data melalui wawancara langsung dengan calon transmigrasi dan Focus Group Discussion (FGD) dengan beberapa tokoh masyarakat, pejabat pemerintah desa, desa, pilar lingkungan, pilar warga dan beberapa masyarakat umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penilai transmigran kandidat untuk mengikuti program transmigrasi masih sangat tinggi, namun fakta menunjukkan bahwa calon transmigran potensial masih belum seperti yang diharapkan, terutama yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan, keterampilan akuisisi, kepemilikan dan keluarga aset perilaku bergerak. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa prosedur dan penjangkauan informasi masih ada beberapa kelemahan, terutama terkait dengan sosialisasi program transmigrasi melalui berbagai media komunikasi masih kurang sehingga informasi yang tidak dapat diterima oleh masyarakat. ABSTRACT The goal of this research are to analyze the potential transmigrant candidates briefing and movement of the target in the area of origin; and to assess procedures and providing technical guidance information to candidates transmigrant. To achieve this objective sampling transmigrate candidates from several locations in the area of the Bantul District. Method of collecting data through direct interviews with transmigration candidates and Focus Group Discussion (FGD) with several community leaders, village government officials, village, neighborhood pillars, pillars of residents and some of the general public. The results showed that appraises transmigrates candidate to follow the transmigration program still very high, but the facts show that the transmigrate candidates potential still not as expected, primarily related to educational background, skill acquisition, ownership and family assets are immobile behavior. The results also indicate that the procedures and outreach information there are still some weaknesses, particularly related to the socialization of the transmigration program through various media rmation can not be accepted by the public.
Aplikasi SIG Untuk Pemetaan Tingkat Ancaman Longsor Di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara Riki Rahmad; Suib Suib; Ali Nurman
Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1971.095 KB) | DOI: 10.22146/mgi.31882

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pemanfaatan SIG dalam pemetaan tingkat kerawanan terjadinya bencana longsor di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Model yang digunakan mengacu pada pendugaan Puslittanak 2004, parameter-parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerawanan adalah penutupan lahan (landcover), jenis tanah, kemiringan lahan, curah hujan dan formasi geologi (batuan induk). Pada proses pemetaan setiap parameter memiliki klasifikasi skor yang dikalikan dengan bobot masing-masing parameter, kemudian hasil perkalian skor dan bobot tersebut dijumlahkan berdasarkan kesesuaian lokasi geografisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Kecamatan Sibolangit memiliki potensi terjadinya tanah longsor dari tingkat rendah sampai dengan tinggi. Berdasarkan model pendugaan bencana tanah longsor tersebut didaerah penelitian dominan memiliki tingkat ancaman longsor dengan kelas kerawanan sedang meliputi 14 desa. Selain itu tingkat kerawanan longsor kelas kerawanan rendah meliputi 10 desa, tingkat kerawanan tinggi 3 desa dan tingkat kerawanan sangat tinggi 1 desa. The purpose of this research is to describe the utilization of GIS in mapping of vulnerability of landslide disaster in Sibolangit Subdistrict, Deli Serdang Regency, North Sumatera. The model used refers to the estimation of Puslittanak 2004, the parameters used to determine the level of vulnerability are the land cover, soil type, land slope, rainfall and geological formation (rocks). In the process of mapping each parameter has a classification score multiplied by the weight of each parameter, then the results of the multiplication of the score and weight are summed based on the suitability of geographical location. The results showed that the District of Sibolangit has the potential for landslides from low to high levels. Based on the prediction model of landslide disaster in the dominant research area has a landslide threat level with vulnerability class covering 14 villages. In addition, the low vulnerability of low vulnerability landslide includes 10 villages, high level of vulnerability of 3 villages and very high level of vulnerability 1 villages.  
Penentuan Tingkat Kekeringan Lahan Berbasis Analisa Citra Aster Dan Sistem Informasi Geografi Alfian Pujian Hadi; Projo Danoedoro; Sudaryatno Sudaryatno
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1513.47 KB) | DOI: 10.22146/mgi.12763

Abstract

Kekeringan lahan yang melanda suatu daerah menimbulkan dampak yang besar terhadap produktivitas lahan pertanian. Terjadinya kekeringan ini disebabkan oleh defisit air akibat kurangnya hujan yang jatuh, laju infiltrasi air yang tinggi serta jenis tanaman yang tidak sesuai dengan ketersediaan air. Untuk meminimalkan dampak yang terjadi akibat kekeringan lahan maka perlu dilakukan antisipasi dengan mengetahui defisit dan surflus air lahan melalui data curah hujan serta kemampuan tanah menahan air (water holding capasity). Untuk keperluan analisis kekeringan lahan dapat menggunakan citra penginderaan jauh dan neraca air lahan sebagai pengetahuan awal guna perencanaan antisipasi kekeringan lahan sehingga kebutuhan air bagi tanaman dapat terpenuhi setiap saat. Penelitian ini dilakukan di sebagian wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengkaji akurasi berbagai saluran TIR Citra Aster untuk mendapatkan informasi sebaran suhu permukaan, (2) Mengkaji sebaran kekeringan melalui indeks TVDI (Temperature Vegetation Dryness Indeks) yang diekstrak dari suhu permukaan (Land Surface Temperature) dan indeks NDVI. (3) Mengkaji tingkat kekeringan lahan dengan menggunakan metode Thornthwaite-Mather, (4) Mengkaji pola tanam yang sesuai diterapkan di wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran 13 Citra Aster memiliki akurasi paling tinggi jika dibandingkan dengan saluran 10,11,12, serta 14 Citra Aster karena memiliki selisih paling kecil dengan suhu permukaan lapangan. Berdasarkan analisis RMS difference diperoleh nilai 1,140. Luas sebaran kekeringan berdasarkan indeks TVDI pada seluruh penggunaan lahan dengan tingkat kekeringan tinggi, sedang dan rendah masingmasing melanda daerah seluas 2.922,8 Ha (4,6%), 20.286,16 Ha (32,11%) serta 39.962,72 Ha (63,26%). Dari total luas 2.922,8 Ha lahan yang dilanda kekeringan dengan tingkat kekeringan tinggi (kering/kurang air) seluas 2.069,47 Ha merupakan sawah tadah hujan. Analisis hubungan indeks TVDI dengan kadar lengas tanah menunjukkan hubungan yang tidak terlalu kuat sebesar 53,7%. Tingkat kekeringan lahan dengan analisis neraca air Thornthwaite-Mather menunjukkan indeks kekeringan (aridity index) berada dalam tingkat kekeringan sedang dan berat. Kekeringan sedang terjadi pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Giriwungu (Panggang), Kedung Keris, Gedangan serta sebagian Playen. Kekeringan berat terjadi pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Wonosari, Tepus dan sebagian Playen. Pola tanam berdasarkan agroklimat Oldeman dikelompokkan ke dalam pola tanam Padi Gogo (Palawija) -Palawija - Bero, Padi sawah - Palawija - Bero, Palawija – Palawija - Bero. Pola tanam Padi Gogo (Palawija)-Palawija-Bero diterapkan di sawah tadah hujan dan tegalan pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Tepus dan Panggang dengan musim tanam 1 terjadi bulan Oktober–Januari dan musim tanam 2 terjadi pada bulan Februari-Mei, pola tanam Padi Sawah-Palawija-Bero diterapkan di sawah dan sawah tadah hujan pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Wanagama (Playen), Kedung Keris dan Gedangan dengan musim tanam 1 terjadi pada bulan November-Februari dan musim tanam 2 terjadi pada bulan Maret-Juni sedangkan pola tanam Palawija-Palawija-Bero diterapkan di kebun campuran pada satuan lahan yang terpengaruh stasiun hujan Kedung Keris, Panggang, Playen, Gedangan, serta Wonosari untuk sawah tadah hujan dimana musim tanam 1 terjadi pada bulan November-Februari dan musim tanam 2 terjadi pada bulan Maret-Juni.
Bioremediasi sebagai Usaha Konservasi Lingkungan pada Pencemaran Limbah Pemboran Minyak di Job Pertamina – Petrochina East Java Tuban Ai Siti Fatimah; Edia Rahayuningsih; Tjahyo Nugroho Adji
Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.836 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13368

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dalam skala ex-situ, data yang diperoleh dari setiap perlakuan berupa data deskriptif komparatif. Tujuan penelitian adalah : 1) Mengkaji efektifitas indigeneous sebagai pendegradasi penurunan TPH(Total Petroleum Hydrokarbon), pada sumur Sukowati#4, Sukowati #6, dan Sukowati #7. 2) Mengetahui penyebab penurunan laju degradasi TPH Sukowati#4, lebih cepat dibanding Sukowati #6 dan Sukowati #7. 3) Pemanfaatan hasil bioremediasi untuk masyarakat sekitar lokasi dan rekomendasi saran strategis pengelolaan limbah hasil olahan bioremediasi. Teknik remediasi yang dilakukan secara land farming, dengan menambahkan end-product pada treatment bioremediasi. Variable perlakuan tanah 3:1, pengamatan yang dilakukan selama 20 minggu Indigeneous dan end-product mampu mendegradasi mikroorganisme sumur pemboran Sukowati #4 dengan penurunan TPH yang signifikan sedangkan pada Sukowati #6 mengalami penurunan TPH 25% dan Sukowati #7 penurunan TPH mencapai 20%. Pada minggu ke-8 penurunan TPH mencapai 90 %. Tanah hasil olahan bioremediasi dengan teknik land farming banyak mengandung komponen kimia (N, P, K), memungkinkan untuk digunakan lahan tanaman jarah sebagai rekomendasi saran strategi pengelolaan lingkungan. Pada umumnya masyarakat sekitar lokasi memanfaatkan tanah hasil olahan bioremediasi sebagai tanah urug dan pembuatan batako. ABSTRACT This research was conducted in the scale of ex-situ, the data obtained from each treatment in the form of comparative descriptive data. Research objectives are: 1) Assess the effectiveness of indigeneous as degrading reduction in TPH (Total Petroleum hydrocarbon), on wells Sukowati # 4, Sragen # 6, and # 7 Sragen. 2) Determine the cause of a decrease in the degradation rate of TPH Sragen # 4, faster than Sragen Sragen # 6 and # 7. 3) Using the findings of bioremediation for the community around the location and strategic advice on the management of waste processed bioremediation. Remediation techniques are done farming land, by adding end-product in bioremediation treatment. Variable soil treatment 3: 1, observations made during the 20 weeks of indigeneous and end-product capable of degrading microorganisms drilling wells Sragen # 4 with a reduction in TPH significantly while in Sragen # 6 decreased TPH 25% and Sragen # 7 reduction in TPH reaches 20% , At week 8 TPH decline reached 90%. The processed soil bioremediation techniques farming land contains many chemical components (N, P, K), allowing for the use of cropland history as recommendation suggestion environmental management strategies. In general, people around the site use the land as a soil bioremediation processed urug and brick-making.
KONTRIBUSI FOTO UDARA DALAM IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK HIDROLOGI DI DAERAH PARANGTRITIS DAN SEKITARNYA KABUPATEN BANTUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Totok Gunawan
Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1683.184 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13200

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di daerah Parangtritis dan sekitarnya, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kontribusi foto udara dalam identifikasi karakteristik hidrologi. Permasalahan yang dihadapi di daerah Parangtritis adalah masalah ketersediaan sumberdaya air akibat semakin meningkatnya kebutuhan air domestik. Pertanyaan yang timbul adalah berapa besar ketersediaan sumberdaya air melalui identifikasi karakteristik hidrologi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode interpretasi citra penginderaan jauh, foto udara yang digunakan adalah foto udara pankromatik hitam putih berskala 1:25.000 dan 1:10.000, sedang data bantu yang digunakan meliputi peta geologi, peta kontur muka airtanah, dan data pengukuran geolistrik dari data sekunder. Prinsip dasar yang digunakan dalam interpretasi foto udara untuk kajian hidrologi didasarkan pada hubungan antara kenampakan-kenampakan bentanglahan dan proses hidrologi. Pendekatan-pendekatan hidromorfometri, hidrogeomorfologi, dan hidrogeologi digunakan untuk menjelaskan hubungan tersebut. Hasil identifikasi kenampakan-kenampakan bentanglahan dapat disajikan dalam bentuk peta meliputi : peta ekosistem bentanglahan (hasil tumpangtindih peta bentuklahan dan penggunaan lahan), peta daerah aliran sungai (DAS), dan peta hidrogeomorfologi. Karakteristik hidrologi yang dapat diidentifikasi meliputi : (1) tiga jenis pemunculan air : mataair Bito pada ujung pemunculan aliran sungai, mataair Parangtritis dan Parangwedang pada zone atau jalur patahan, mataair beji pada perubahan lereng antara perbukitan batuan gamping dan breksi vulkanik, (2) sepuluh sub DAS yang dapat dipetakan berada di atas perbukitan batuan gamping dan kipas alluvial mampu berfungsi sebagai daerah umpan air (recharge area), (3) tiga lokasi cadangan airtanah potensial yang dapat diidentifikasi : daerah Tirtoharjo, Kretek, dan Parangtritis. Evaluasi kontribusi foto udara dalam identifikasi karakteristik hidrologi menunjukkan bahwa foto udara berskala 1:25.000 lebih menonjolkan kenampakan fisik bentanglahan, sedang skala 1:10.000 lebih menonjolkan detil kenampakan bentuk penutup lahan/penggunaan lahan. 
PENGUKURAN LAJU PENGENDAPAN DALAM PENENTUAN TOLERANSI PENAMBANGAN PASIR DAN BATU (sirtu) (Studi Kasus di DAS Lukulo Hulu Jawa Tengah) Saifudin Saifudin; Puguh Dwi Raharjo
Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.42 KB) | DOI: 10.22146/mgi.15458

Abstract

Kajian Ekologi Bentanglahan dan Persepsi Masyarakat terhadap Rencana Eksplorasi Panas Bumi Agie S. Gizawi; Su Ritohardoyo; Eko Haryono Haryono
Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.237 KB) | DOI: 10.22146/mgi.24223

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengkaji perubahan ekologi bentanglahan dan kondisi sosial masyarakat (pengetahuan, persepsi, tingkat penerimaan) serta merumuskan strategi pengelolaan lingkungan mengenai rencana dan dampak lingkungan dari eksplorasi panas bumi WKP Gunung Ciremai. Kajian perubahan ekologi bentanglahan dianalisis dengan metode Spatial Landscape Impact Assesment (SLIA) dan kajian kondisi sosial masyarakat dilakukan dengan pengambilan data kuisioner serta depth interview. Strategi pengelolaan lingkungan dirumuskan dengan pendekatan Pressure-State-Response (PSR). Hasil penelitian biofisik merujuk pada tiga aspek bentanglahan yakni area permukaan, reduksi kawasan lingkungan penting dan fragmentasi. Area permukaan yang diprediksi akan berubah seluas 42.060 m2 dan 0,05549 km2 kawasan lingkungan penting yang didominasi oleh kebun campur akan tereduksi. Sedangkan fragmentasi yang akan terjadi mengakibatkan perubahan struktur bentanglahan karena terjadinya penambahan jumlah patch dan koridor. Kondisi sosial masyarakat menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang rencana dan dampak eksplorasi panas bumi terhadap lingkungan. Masyarakat memiliki persepsi yang negatif terhadap rencana eksplorasi panas bumi sehingga 74% responden menyatakan menolak rencana eksplorasi panas bumi. Strategi pengelolaan lingkungan dianjurkan untuk dititikberatkan pada upaya subsitusi jasa ekosistem yang hilang akibat eksplorasi dan sosialisasi rencana intensif pada masyarakat. ABSTRACTThe main purpose of this study is to assess the ecological landscape change in Mount Ciremai geothermal powerplant site and to examine public’s knowledge, perception and social acceptance about geothermal powerplant exploration and its environmental impact. Also this study aims to  formulate environmental management strategies based on the study of the landscape ecology and public perception about plan for geothermal exploration. This research was conducted in the Pajambon Village and Cisantana Village, Kuningan Regency. Ecological landscape change is analyzed by Spatial Landscape Impact Assesment (SLIA) and the social study was conducted using questionnaire approach and depth interview. Environmental management strategy was formulated using Pressure-State-Response (PSR) method. The results of ecological landscape change observed in three aspects: surface areas, reduction of environmentally important areas and landscape fragmentation. Geothermal exploration will transform the surface areas about 42,060 m2 and Mixed garden as environmentally important areas will be reducted by geothermal exploration about 0,05549 km2. While fragmentation will occur resulting in changes in the structure of the landscape due to the additional number of patches and corridors. Social conditions indicate that the majority of people lack of knowlodge of the geothermal exploration plans and the impact on environment. Public also have a negative perception of the geothermal exploration plan and that the public has a very low acceptance rate. It is shown from more than 74% respondent’s stated that they refuse the plan of the geothermal exploration in this area. To that end, responses reflect a considerable lack of public information on the subject. Environmental management strategy will be focused on the substitution of ecological/ ecosystem services loss because of the exploration and intensify of plan’s infomation to public.
MENAKSIR PRODUKSI GETAH PINUS MERKUSII MENGGUNAKAN FOTO UDARA Sahid Sahid
Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.354 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13300

Abstract

ABSTRAK Penelitian penaksiran produksi getah pinus ini merupakan penggabungan metode pengukuran pada foto udara 1:20.000 dan pengukuran lapangan. Parameter tegakan yang diukur adalah tinggi pohon (H), diameter tajuk (D) dan jumlah pohon per hektar (7V). Banyaknya produksi getah (G) ditentukan berdasarkan pengukuran lapangan. Model persamaan yang dihasilkan adalah:GMajenang -77,959+11,512H + 16,311D+ 0, 420N (R2=0, 692);GLoano - 10,393 +13, 388H+ 20, 404D+0, 480N-0, 094H2-36, 240D2 (R2- 0,624); Gsignur =- -58,507 + 0,541N + 14,535H+ 22,271D – 55,611D2 (R2-0,713). Perbedaan .produksi getah hash perhitungan adalah 0,803% bila dibandingkan dengan basil pengukuran lapangan.

Filter by Year

1988 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989) Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue