cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 421 Documents
Kajian Potensi Air Rawa Dan Kearifan Lokal Sebagai Dasar Pengelolaan Air Rawa Yomoth Sebagai Sumber Air Bersih Di Distrik Agats Kabupaten Asmat Provinsi Papua Sri Sapti Hamdaningsih; Chafid Fandeli; Muhammad Baiquni
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.832 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13336

Abstract

ABSTRAK Ruang  terbuka  hijau  di  sekitar  kawasan  perkotaan  yang  semakin berkurang  akan menyebabkan meningkatkan konsentrasi karbondioksida dan menurunnya konsentrasi oksigen di udara. Agar kondisi tersebut tidak terjadi atau setidaknya dapat terimbangi maka diperlukan luasan ruang terbuka hijau yang cukup agar jum­lah vegetasi penyerap karbon sebanding dengan jumlah zat- zat pencemar udara sehingga kualitas lingkungan tetap terjaga dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah  (1) menganalisis kebutuhan hutan kota di Kota Mataram un­tuk  menjaga  kualitas  lingkungan  sekarang  dan  lima  tahun  mendatang, (2) menganalisis  besarnya  kemampuan  berbagai  jenis  vegetasi  hutan  kota  dalam mengurangi akumulasi karbon di udara dan (3) menyajikan sebaran hutan kota yang dibutuhkan yang disesuaikan dengan konsep tata ruang. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Hutan Kota/Ruang Terbuka Hijau Kota Mataram yang berupa taman kota dan median jalan. Metode penelitian yang  digunakan  adalah  deskriptif  kuantitatif,  sampel  diambil  secara  purposif (purposive sampling) dimana data diambil pada titik -titik tertentu yang dianggap menarik. Pengamatan dilakukan pada petak ukur berukuran 10 x 10 m. Semua jenis  pohon  yang  ma­suk dalam  petak  ukur  dicatat  jenis,  diameter,  tinggi  dan dipangkas salah satu ran­tingnya untuk kemudian dianalisis berat keringnya dalam rangka menghitung biomassa agar diketahui tingkat penyerapan karbonnya. Hasil penelitian ini adalah (1) berdasarkan pertimbangan kebutuhan oksigen pada manusia, ternak dan ken­daraan bermotor,  maka kebutuhan luasan Hutan  Kota/Ruang  Terbuka  Hijau  di  kota  Mataram  pada  tahun  2008  sebesar 3.996,76  Ha,  sedangkan  untuk  li­ma  tahun  mendatang  yaitu  pada  tahun  2013 meningkat  menjadi  4.981,18  Ha,  (2)  luasan  Ruang  Terbuka  Hijau  di  Kota Mataram  saat  ini  ±  61.839,93 m2atau sekitar6,18 Ha sangatlah kurang bila dibandingkan dengan kebutuhan luasan Hutan Kota/Ruang Terbuka Hijau yang didasarkan pada kebutuhan oksigen tersebut dan (3) banyaknya karbon dioksida (CO2)  yang diserap dalam per­satuan luas ton/Ha pada penelitian ini terbesar terdapat pada plot V yaitu se­besar 14,895 ton/Ha dan terendah pada plot VI sebesar 3,771 ton/Ha. Me­ngingat kurangnya luasan Hutan Kota/Ruang Terbuka Hijau yang tersedia, maka diperlukan penambahan luasan dengan pendistribusian lokasi yang disesuaikan dengan pola tata ruang yang ada. ABSTRACT A  decreasing open  green  space  in  urban  areas  will  stimulate  Carbon dioxide’s concentration and on the other hand it will reduce the concentration  of Oxygen in the atmosphere. To prevent this condition or to maintain stability of air quality,  the  total  of  open  green  space  in  urban  areas  should  meet  minimum requirement, thus vegetation will be able to absorb Oxygen in equal amount of pollutants in the air to maintain the environmental quality. Research objectives are (1) to analyze the optimal requirement of urban forest in Mataram city in order to maintain the current and the next five years of environmental quality  (2). to analyze  the  capacity of  varied  urban  forest’s  vegetations in reducing  the accumulation of CO2  in the air. (3) to present   the proportion of urban forest in line with the spatial planning concept. Research was conducted around open green space in Mataram city which include city park  and  road median. Research method used is descriptive qualitative. Sample is determined  purposively  in  which  data collected  from interested and selected points. Observation was conducted on plot 10 x 10 m. All vegetation within plot areas was identified in terms of species, diameter, height and then cut of the branch to analyze the dry matter (biomass) and to identify the degree of the carbon sequestration. The research presents (1).based on minimum need of human, cattle and vehicles on the availability of Oxygen in the air, the requirement of open green space in Mataram for 2008 is about 3.996, 76 ha, while for the next five years (2013) increase about 4.981,16 ha. (2) the total of open green space in Mataram is 61.839,93 ha or about 6,18 ha in which  this figure is under minimum requirement compared  to the need of open green space based on the need of oxygen  (3) plot V shows the highest absortion of Carbon dioxide per ton/ ha (14,895 ton.ha) while plot VI presents the lowest (3,772 ton.ha). Considering the total of open green space is still under minimum requirement, it is recommended to increase the areas of urban green forest which incorporated city spatial planning.
Tim Editor Tim Editor
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.865 KB) | DOI: 10.22146/mgi.34840

Abstract

Karakteristik Permukiman pada Wilayah Rawan Tanah Longsor di Desa Cibanteng, Cianjur, Jawa Barat Desy Puspita; M.H. Dewi Susilowati; Eko Kusratmoko
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3779.949 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13073

Abstract

ABSTRAK Tanah longsor sering terjadi di Desa Cibanteng yang dapat memperhatikan bukan hanya desa tetapi manusianya. Sebagai desa yang rawan longsor, Desa Cibanteng dicirikan oleh wilayah padat penduduk yang tersebar pada lereng-lereng yang berpotensi mengalami longsor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ruang wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, sedang, dan rendah sehingga dapat diketahui sebaran permukiman yang berada di masing-masing tingkat kerawanan. Penelitian ini dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan pengumpulan data dari beberapa instansi. Data yang terkumpul diolah menggunakan Ms. Excel dan ArcGIS 10.1 dengan metode pengharkatan, pembobotan, dan overlay untuk menghasilkan peta wilayah rawan tanah longsor. Parameter yang digunakan antara lain lereng, penggunaan lahan, dan riwayat longsor, serta peta karakteristik permukiman. Hasil yang diperoleh yaitu masih adanya permukiman yang dapat membahayakan keselamatan hidup penduduk di Desa Cibanteng, khususnya pada wilayah rawan longsor tingkat tinggi, dengan karakteristik berupa kerapatan rumah tinggi, serta jumlah rumah non panggung dan berdinding tembok yang relatif besar. Kondisi yang demikian menunjukkan mitigasi tingkat 1 dan 2, yang berarti bahwa daerah tersebut prioritas utama dalam proses mitigasi sebagai upaya pengurangan risiko bencana. Daerah yang termasuk dalam kategori tersebut adalah Kampung Gulingmunding dan Kampung Sukamulya. ABSTRACT Landslides often occur in the village Cibanteng which to be attention not only the village but humans. As  the village has prone of the landslide, Cibanteng village was characterized by densely populated areas spread on slopes that have potential to come through landslides. The aim of this study determine characteristics of region has impact in high, medium, and low so that it can be seen distribution of settlements in each level of vulnerability. This research method is field observations, interviews, and collect data from several agencies. Data has collected then processing use Ms. Excel and ArcGIS 10.1 with scoring, weighting, and overlay to produce a map of landslide vulnerability. Parameters used include slope, land use, history of landslides, and characteristic settlements map. The results are the settlements could endanger safety of life in Cibanteng village, especially in area has high vulnerability with the characteristics of high density populated, and the amount of non-stage houses and a relatively large wall. This conditions indicate mitigation levels 1 and 2, which means the area is a priority in process of mitigation as disaster risk reduction. Areas  which include that are Gulingmunding and Kampung Kampung Sukamulya. 
Perkawinan Anak di Kabupaten Grobogan Norma Yuni Kartika; Djarot Sadharta; Tukiran Tukiran
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.537 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13423

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor predisposisi (status ekonomi rumah tangga, pendidikan anak, persepsi dan pengetahuan anak tentang perkawinan, budaya dan karakteristik orang tua), faktor pendukung (pekerjaan orang tua) dan faktor penguat (sikap tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemangku kebijakan) yang menjadi penyebab tingginya perkawinan anak di Kabupaten Grobogan. Metode dalam penelitian ini adalah metode kombinasi dengan pendekatan dua tahap, tahap awal adalah analisis data sekunder hasil Survei Pernikahan Dini yang dilakukan oleh Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan Universitas Gadjah Mada berkerjasama dengan PLAN Indonesia tahun 2011, dilanjutkan dengan metode kualitatif. Metode kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap orang tua, anak dan pemangku kebijakan guna memperoleh data akurat terutama mengenai hal-hal yang belum tercakup dalam data sekunder. Analisis diskriptif dilakukan dengan distribusi frekuensi, analisis Khai-Kuadrat (X2) untuk melihat perbedaan variabel dependen dan independen, variabel yang mempunyai perbedaan yang diikutsertakan dalam analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status ekonomi rumah tangga, persepsi dan pengetahuan anak tentang perkawinan, serta persepsi dan pengetahuan orang tua tentang perkawinan mempunyai hubungan bermakna dengan perkawinan anak. Variabel pendidikan anak, pendidikan orang tua dan pekerjaan orang tua tidak mempunyai hubungan bermakna dengan perkawinan anak. Hasil dari analisis kualitatif menunjukkan budaya menjadi faktor penyebab utama terjadinya perkawinan anak di Kabupaten Grobogan. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah setempat untuk mengatasi permasalahan perkawinan anak antara lain adalah peningkatan pendapatan ekonomi rumah tangga untuk keluarga miskin. Budaya pada masyarakat yang harus di rubah dari budaya malu kalau tidak melakukan perkawinan anak, menjadi malu kalau melakukan perkawinan anak. Mengikis persepsi masyarakat tentang perkawinan anak yang tinggi dengan cara, antara lain dengan sosialisasi dari para pemangku kebijakan dari unsur pemerintah, termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama dapat memberikan pembinaan dan pemahaman tentang dampak dan bahaya perkawinan anak.  ABSTRACT The purpose of this study to determine predisposing factors (economic status of the household, children's education, perception and knowledge of children about marriage, culture and characteristics of the parents), supporting factor (the work of parents) and reinforcing factors (attitude of community leaders, religious leaders and policy makers ), which became the cause of high child marriage in Grobogan. The method in this research is method in combination with a two-stage approach, the initial stage is a secondary data analysis Early Marriage Survey conducted by the Center for Population and Policy Studies, Gadjah Mada University in collaboration with Plan Indonesia in 2011, followed by a qualitative method. Qualitative methods in-depth interviews conducted with parents, children and policy makers in order to obtain accurate data, especially regarding matters that are not covered in the secondary data. Descriptive analysis performed by the frequency distribution, Khai analysis-Square (X2) to see the difference dependent and independent variables, variables that have differences that were included in the multivariate analysis with logistic regression. The results showed that the economic status of the household, children's perceptions and knowledge about marriage, as well as the perceptions and knowledge of parents about the marriage had a significant relationship with the child marriage. Variable children's education, parents' education and occupation of parents do not have a meaningful relationship with the child marriage. Results of the qualitative analysis showed culture constitutes the main factor in the occurrence of child marriages Grobogan. The efforts made by local authorities to overcome the problems of child marriage among others, is the increase in household economic income for poor families. Culture in society that should be changed from a culture of shame if you do not perform marriages of children, be a shame if the mating child. Eroding public perception of high child marriage by way of, among others, with the socialization of the stakeholders from government, including community leaders, religious leaders can provide guidance and understanding of the impact and dangers of child marriage.
KAJIAN GEOEKOLOGI DAERAH KEPESISIRAN LOMBOK BARAT UNTUK PENGEMBANGAN WISATA PANTAI Djati Mardiatno
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13230

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi dan mengklasifikasi satuan geoekologi daerah kepesisiran dan memetakan satuan-satuan geoekologi daerah kepesisiran di daerah Lombok Barat; (2) mengetahui karakteristik satuan geoekologi daerah kepesisiran Lombok Barat; dan (3) mengetahui tipe geoekologi dan fungsi masing-masing tipe geoekologi daerah kepesisiran di daerah Lombok Barat untuk menentukan altenatif pengembangan dan pengelolaan kawasan kepesisiran. Metode penelitian menggunakan metode survey dengan penentuan sampel secara purposif. Satuan analisis yang digunakan adalah satuan geoekologi yang dinilai potensi dan kendala masing-masing untuk dikembangkan kegiatan wisata tertentu. Penilaian potensi menggunanakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Oppurtunity, dan Threat) untuk menentukan klasifikasi tipe geoekologi tiap lokasi. Klasifikasi tipe geoekologi untuk satuan geoekologi A memiliki peluang jenis kegiatan wisata 6 macam, tipe B jenis kegiatan 4 s.d 5 macam, dan tipe C jenis kegiatan wisata 3 macam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kawasan kepesisiran Lombok Barat terdiri atas 7 satuan geoekologi yaitu satuan geoekologi lepas pantai, gisik, dataran alluvial pantai, dataran alluvial, lembah antar bukit, lereng kaki perbukitan, dan perbukitan denudasional. Berdasarkan identifikasi terhadap 18 titik pengamatan, tipe geoekologi A merupakan tipe geoekologi yang dominan (10 lokasi), diikuti oleh tipe C (6 lokasi), dan tipe B (2 lokasi). Kondisi fisik di kawasan kepesisiran di Lombok Barat sangat menunjang untuk pengembangan wisata. Upaya pemantauan dan pengendalian perlu dilakukan pada lokasi dengan tipe geoekologi A. Lokasi yang potensial tetapi belum berkembang perlu dikembangkan dengan meningkatkan sarana pendukung yang memadai.
KAJIAN DAYA TAMPUNG SUNGAI GAJAHWONG TERHADAP BEBAN PENCEMARAN Margaretha Widyastuti; Muhammad Aris Marfa'i
Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13269

Abstract

ABSTRAK Sungai seringkali dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan akhir dari limbah hasil kegiatan manusia, yang dapat menambah beban pencemaran. Oleh karena itu perlu diketahui seberapa jauh daya tampung sungai terhadap beban pencemaran. Pengertian daya tampung sungai terhadap beban pencemaran menurut Kepmen Lingkungan Hidup Nomor 110 Tahun 2003 adalah kemampuan air pada suatu sumber air, untuk menerima masukan beban pencemar tanpa mengakibatkan air tersebut cemar. Beban pencemaran itu sendiri merupakanjumlah suatu unsur pencemar yang terkandung dalam air atau air limbah. Penelitian ini bertujuan untuk : I) mengelahui kualitas air sungai, 2) mengidentifikasi sumber pencemaran potensial, dan 3) mengevaluasi daya tampung air sungai terhadap beban pencemaran. Untuk mencapai tujuan tersebut, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, pengukuran lapangan, pengambilan sampel air dan uji laboratorium terhadap sampel air sungai. Penentuan daya tampung beban pencemaran dilakukan dengan metode neraca massa. Daerah Aliran Sungai Gajahwong yang merupakan sub DAS Opak, yang memiliki luas 46,082 km2. Daerah penelitian terletak antara UTM 49 M9129375 sampai dengan 9160375 mU dan 0432375 sampai dengan 0437125 mT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Gajahwong baik secara fisik, kimia, maupun biologi pada masing-masing ilia pengamatan terdapat fluktuasi nilai. Ada kecenderungan konsentrasi meningkat ke arah huh; kecuali logam berat (Cr, Cu, Cd) tidak terdeteksi. Pemanfaatan lahan pada DAS Gajahwong mempengaruhi kualitas air sungai dan diidetifikasi sebagai sumber pencemar. Bagian hulu sungai, sumber pencemar utama adalah dari rumah tangga, pertanian dan jasa; bagian tengah : adalah dari pertanian dan permukiman; sedangkan bagian hair adalah permukiman, jasa dan industri. Daya tampung Sungai Gajagwong terhadap beban pencemaran, di bagian hulu dan bagian tengah sangat baik; sedangkan pada bagian hair, semakin ke arah hilir kurang baik.
Penggunaan "USEMAP" Untuk Analisis Perubahan Bentuk Penggunaan Lahan = The Use of USEMAP for Landuse Change Analysis Prabowo Adi Nugroho
Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.289 KB) | DOI: 10.22146/mgi.5273

Abstract

Current information of landuse and landuse type change within a certain period of time is chiefly needed in a landuse planning. The information of landuse type change is obtainable through overlapping landuse maps of one period. However, the common problem is inavailability of the latest maps, especially those of the areas where the landuse change is rapid. The aerial photographs and remote sensing image can be used to solve the problem. Nevertheless, another problem which is not less important is the need for rapid analysis with high accuracy. For this purpose, computer well-known as Geographical Information System (GIS) is used . One of the GIS components is software, while USEMAP is one of the various hinds of software. The use of USEMAP for landuse change analysis is very effective, especially for the quantitative one. However, USEMAP has some shortcoming, namely this can only be used to analyze seven landuse types.
PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK MONITORING PERKEMBANGAN MORFOLOGI DELTA SUNGAI JENEBERANG MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT MULTI TEMPORAL Nursyamsi Junus; Hartono Hartono; Sukwardjono Sukwardjono
Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.836 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13326

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan citra Landsat TM dan ETM+ untuk memantau perkembangan morfologi dan perubahan bentuk lahan kepesisiran yang terjadi pada delta Sungai Jeneberang selama rentang waktu 1989-2006 serta mengkaji kemampuan citra penginderaan jauh terutama citra Landsat dalam mendeteksi perubahan geomorfologi yang terjadi pada daerah delta Sungai Jeneberang. Daerah penelitian meliputi kawasan delta Sungai Jeneberang Kota Makassar Propinsi Sulawesi Selatan. Metode perolehan data primer adalah dengan menggunakan citra penginderaan jauh time series dan diolah dengan Sistem Informasi Geografis (SIG), pengukuran di lapangan (gelombang, arus, pasang surut) dan analisis sampel sedimen tersuspensi di laboratorium.  Data sekunder dikumpulkan dari Badan Meteorologi dan Geofisika berupa peta, gambar, data statistik, data meteorologi serta laporan tertulis. Analisis data dilakukan dengan integrasi antara analisis kuantitatif dan analisis deskriptif dimana data-data hasil pengukuran lapangan digunakan untuk mendukung analisis deskriptif yang didapatkan melalui interpretasi citra penginderan jauh. Pengolahan SIG akan menghasilkan peta-peta perubahan garis pantai yang terjadi pada delta Sungai Jeneberang selama rentang waktu 1989-2006. Hasil penelitian diperoleh adanya fluktuasi panjang garis pantai dan luasan delta, bentuk daratan delta secara umum tidak mengalami perubahan yakni dari tahun 1989 ke tahun 2006 yakni berbentuk multi lobate kemudian berbentuk lobate. Delta mengalami perluasan rata-rata sebesar 8,84 ha/tahun namun pada tahun 2001-2005 mengalami pengurangan luas sebesar 2,38 ha/tahun. Panjang garis pantai bertambah rata-rata 23,10 km/tahun, namun pada tahun 1999-2001 garis pantai berkurang karena abrasi sebesar 37,02 km/tahun. Pengaruh fluvial dan pengaruh marin memainkan peranan yang hampir sama pada muara sungai Jeneberang sehingga proses abrasi dan sedimentasi terjadi bergantian pada beberapa bagian delta. Perubahan musim juga sangat dominan dalam pembentukan delta Sungai Jeneberang dimana pada musim barat debit sungai yang tinggi membawa sejumah sedimen dan diendapkan pada bagian muara. Luas areal permukiman di kawasan delta dari tahun 1989-2006 bertambah sebesar 1392 ha.  ABSTRACT Objective of this research was exploit the image of Landsat TM and ETM+ to monitor geomorphology of Jeneberang river delta, change of coastline during 1989-2006 and also to study the ability of satellite image especially Landsat image for detecting geomorphology changes on Jeneberang River delta. Research area covers the area of Jeneberang River delta, Makassar Regency, South Sulawesi Province. Primary data obtained by using time series satellite images afterwards it processed with the Geographical Information System (GIS);. field surveys to measure wave, tide, current, suspended sediment.  Secondary data collected from Chamber of Meteorology and Geophysics and also another source such as topographic maps, pictures, statistic data, from research reports. Data analysis conducted with the integration of quantitative analysis and descriptive analysis where data from field measurement used to support the descriptive analysis by interpretation satellite image. Processing data using GIS obtain geomorphology change map at the Jeneberang River delta during 1989-2006. The result of research is obtained fluctuation of coastline and area of delta. Landform of delta continent have changed from multi lobate shape become lobate shape. Area of delta increasing about 8.84 ha/year but in 2001 to 2005, area of delta experiencing of reduction about 2,38 ha/year. Length of coastline increasingabout 23.10 km/year, but in 1999 to 2001 coastline decrease about 37.02 km/year because abrasion. Fluvial and marine influence play important role on the landform of Jeneberang River delta. Abrasion and sedimentation process happened at some part of delta. Season change also very dominant in forming of Jeneberang River delta where in the rainy season it charge sediment load to the current river and accumulated on the river mouth.  Settlement area of delta from 1989 to 2006 increasing about 1392 ha.
Strategi Penghidupan Masyarakat Pasca Erupsi 2010 Kaitannya Dengan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Berikutnya Nurhadi Nurhadi; Suparmini Suparmini; Arif Ashari
Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.716 KB) | DOI: 10.22146/mgi.29129

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis: (1) strategi penghidupan masyarakat pasca erupsi, (2) karakteristik lingkungan fisik dan potensi sumberdaya pendukung penghidupan, (3) tingkat kesiapsiagaan masyarakat berdasarkan strategi penghidupan dan karakteristik lingkungan fisik serta potensi sumberdaya pendukung; pada kawasan rawan bencana III Kecamatan Srumbung. Metode yang digunakan adalah deskriptif-eksplanatif dengan pendekatan ekologi. Data dikumpulkan dengan wawancara, FGD, dan observasi. Hasil penelitian: (1) Kerusakan lahan dan tanaman pasca erupsi menyebabkan petani tidak dapat memperoleh penghidupan dari usaha tani. Dalam situasi darurat, upaya memperoleh penghidupan terutama dengan bekerja di bidang lain sebagai pedagang, buruh, pertambangan tradisional, dan karyawan swasta. Berdasarkan tipologi strategi penghidupan rumahtangga, sebagian besar termasuk dalam strategi konsolidasi dan paling sedikit strategi akumulasi. (2) Potensi sumberdaya alam cukup banyak berupa sumberdaya lahan, air, hayati, dan mineral. (3) Kesiapsiagaan menghadapi bencana berikutnya masih perlu ditingkatkan, didasari oleh masih sedikit masyarakat yang mengalokasikan tabungan untuk situasi darurat dan cara bertani masih sama dengan sebelum bencana. This Research aims to analyze: (1) community livelihood strategies after eruption, (2) characteristics of physical environment and potential resources to support livelihood, (3) level of preparedness community based livelihood strategies and characteristics of physical environment and resources; at disaster-prone areas III Srumbung Subdistrict. The method used is descriptive-explanative with ecological approach. Data were collected through interviews, FGD, and observations. The result: (1) Land and crop damage after the eruption caused farmers cannot earn living from farming. In emergency situation, efforts to obtain a living mainly by working in other fields as merchants, laborers, traditional mining, and private sector employees. Based on the typology of livelihood strategies of households, mostly included in consolidation strategy and and the least is accumulation strategy. (2) There are quite a lot of natural resources such as land, water, biological, and mineral resources. (3) Preparedness in the face of the next disaster still needs to be improved.  
Karakter Geoarkeologis dan Proses Budaya Prasejarah Zona Poros Ponjong – Rongkop di Blok Tengah Jarwo Susetyo Edy Yuwono; Suprapto Dibyosaputro; Tjahyo Nugroho Adji
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2437.229 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13064

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Zona Poros Ponjong - Rongkop, yaitu bagian dari Blok Tengah Gunungsewu di Pegunungan Selatan Jawa, yang posisinya diapit oleh dua depresi bekas danau purba, yaitu Ledok Wonosari dan Ledok Baturetno. Morfologinya berupa punggungan perbukitan karst berarah utara-selatan antara daerah Ponjong dan Rong-kop, membentuk semacam poros hampir tegak lurus terhadap bentangan umum Gunungsewu. Bagian paling utara ber-batasan dengan pegunungan non-karst dan memiliki topografi tertinggi di Blok Tengah Gunungsewu, sehingga menjadi wilayah hulu bagi sungai-sungai bawahtanah di Gunungkidul. Melalui beberapa survei ditemukan sejumlah 56 gua yang memiliki potensi arkeologis, tujuh di antaranya sudah diekskavasi dan terbukti menyimpan jejak-jejak hunian prase-jarah dari Kala Pleistosen Akhir - Holosen Awal. Pendekatan geoarkeologis sebagai studi gabungan antara arkeologi dan geomorfologi, dilakukan untuk membangun model-model integral mengenai hubungan sistematik antara manusia dengan bentanglahan karst Gunungsewu di area penelitian. Dua hal yang menjadi tujuan utama penelitian ini adalah: Pertama, menjelaskan karakter geoarkeologis Zona Poros Ponjong - Rongkop sebagai perpaduan antara aspek-aspek geomorfologis (morfologi, morfogenesis, morfokronologi, dan morfoaransemen) dan aspek-aspek arkeologis (distri-busi gua dan potensi arkeologisnya). Tujuan ini dicapai melalui penilaian dan pemetaan distribusi potensi gua sebagai situs arkeologis, kemudian menganalisis hubungannya dengan aspek-aspek geomorfologis setempat. Kedua, menjelas-kan proses budaya prasejarah, yaitu bentuk dinamis dari budaya penghunian gua beserta faktor-faktor yang mempen-garuhinya. Metode untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menganalisis konteks data arkeologis dan stratigrafi lantai gua yang pernah diekskavasi. Sintesis kajian atas kedua capaian tujuan ini memberikan penjelasan integral atas karakter geoarkeologis dan proses budaya prasejarah di area penelitian, dalam konteks dan perubahan bentanglahan, pembentu-kan dan perubahan situs, serta konteks stratigrafi. ABSTRACT  This thesis presents results of geoarchaeological research conducted in the Ponjong - Rongkop Axis Zone which is situated in the Central Block of Gunungsewu, a karstic area of the southern mountains of Java. This zone run north to south from Ponjong to Rongkop Districts forming an axis nearly perpendicular to the general orientation of Gunungsewu and is flanked by two former ancient lake depressions, the so-called Wonosari Basin and Baturetno Basin. Geomorphologically, it consists of a hilly karstic area. At the northern end lays a non-karst mountain which becomes the highest topography in the Central Block of Gunungsewu and the upstream region for the underground rivers of the Southern Mountains (Gunun-gkidul). Surveys in the zone has located at least 56 caves bearing archaeological potential. Seven of them were excavated and the results demonstrate prehistoric human occupation from the Late Pleistocene to Early Holocene. This research is addressed to contruct a model for human and landscape relationship in the Ponjong - Rongkop Axis Zone. Geoarchaeolog-ical approach, as an interdiciplinary study involving archaeology and geomorphology, is carried out to attain the research objectives which are two folds. Firstly, to explain the geoarchaeological character of the Ponjong - Rongkop Axis Zone that have been formed as a combination of some geomorphological aspects (morphology, morphogenetic, morphochronology, and morpho-arrangement) and archaeological aspects (distribution of caves with archaeological potential). This objective is achieved through assesment and mapping of the potential caves in the zone with regard to the local geomorphological aspects. Secondly, to explain the process of prehistoric culture, namely the cultural dynamic of the occupied caves and factors that influenced it. To attain this second objective, contextual analysis of the archaeological data and its stratigraphy which have been obtained from the archaeological excavations are conducted. Synthesis of the geoarchaeological characters and prehistoric cultural process provides an integrated explanation on the relationship between human and landscape in the re-search area as shown in three aspects: the landscape context and its changes, the formation and changes of the archaeological sites as well as the stratigraphic context.

Filter by Year

1988 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 2, No 3 (1989) Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue