cover
Contact Name
Amirullah
Contact Email
amirullah8505@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.pattingalloang@unm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan
Jurnal Pattigalloang adalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah dan Pemikiran Kesejarahan dan ilmu-ilmu sosial.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 8, No. 1, April 2021" : 9 Documents clear
Pensuteraan di Kampung Sutera BNI Desa Pakkana Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo 2011 - 2019 Rahayu Rahayu; Jumadi Jumadi
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.18399

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai latar belakang pembentukan, perkembangan dan dampak dari pembentukan Kampung Sutera BNI di Desa Pakkana Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo 2011-2019. Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang pembentukan Kampung sutera BNI di Desa Pakkana karena pernah terjadinya krisis ekonomi di Kabupaten Wajo pada tahun 1980-an dan hanya di Desa Pakkana yang masih melestarikan tradisi menenun secara turun temurun sehingga pihak bank BNI tertarik untuk membangun kampung wisata di sana. Setelah terbentuknya kampung sutera BNI telah terjadi banyak perkembangan di Desa Pakkana, contohnya para pengrajin yang awalnya hanya berprofesi sebagai penenun kini mulai beralih profesi menjadi pedagang, mereka mendirikan tokonya di dalam kawasan kampung sutera BNI sehingga para pembeli bisa langsung membeli hasil tenunan para pengrajin di sana serta dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat di Desa Pakkana yaitu tidak perlu jauh untuk menjual hasil tenunan mereka di pasar, mereka cukup menjadi mitra para pedagang yang berada di kampung sutera BNI. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang bersifat deskriptif analisis. Berdasarkan metode tersebut maka penelitian dilakukan melalui tahap heuristik yaitu pengumpulan data dengan melakukan wawancara dengan narasumber dan buku yang di peroleh dari Perpustakkan Daerah Kabupaten Wajo dan Perpustakaan Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. (2)Kritik, (3) Interpretasi dan (4) Historiografi.Kata kunci :  Kampung sutera BNI, Kampung sutera, Kabupaten WajoAbstractThis research discusses the background of the formation, development and impact of the formation of BNI Sutera Village in Pakkana Village, Tanasitolo District, Wajo Regency 2011-2019. This research shows that the background for the formation of the BNI silk village in Pakkana Village was due to the economic crisis in Wajo Regency in the 1980s and only in Pakkana Village that still preserved the tradition of weaving from generation to generation so that the BNI bank was interested in building a tourist village in there. After the formation of the BNI silk village there have been many developments in Pakkana Village, for example the craftsmen who initially only worked as weavers have now started to switch professions to become traders, they set up their shops in the BNI silk village area so that buyers can immediately buy the weavings of the craftsmen there. as well as the impact on the community in Pakkana Village, namely that they do not have to be far from selling their woven products in the market, they simply become partners for traders in the BNI silk village. This research uses historical method which is descriptive analysis. Based on this method, the research was carried out through the heuristic stage, namely data collection by conducting interviews with resource persons and books obtained from the Wajo Regency Regional Library and the Regional Library of South Sulawesi Province. (2) Criticism, (3) Interpretation and (4) Historiography.Keywords: BNI silk village, silk village, Wajo Regency  
Usaha Kuliner Tiram di Kelurahan Coppo Kabupaten Barru (1999-2018) cristina amir
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.19020

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang keberadaan Usaha Kuliner Tiram di Kelurahan Coppo, dinamika kehidupan sosial ekonomi pengusaha kuliner tiram, dampak keberadaan usaha kuliner tiram bagi masyarakat dalam segi ekonomi dan pariwisata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber (kritik intern dan ekstern), interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelurahan coppo merupakan daerah pesisir Pantai yang masyarakatnya membuka usaha kuliner tiram, faktor yang mempengaruhi munculnya usaha ini adalah faktor kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia dan masyarakat memanfaatkan lokasi yang dekat dengan muara sungai untuk mencari tiram kemudian menjualnya. Dalam perkembangannya usaha ini telah mengalami banyak perubahan, seperti pada cara penjualan hingga perubahan pada harga jualnya. Usaha kuliner tiram di Kelurahan Coppo memiliki banyak peminat baik dari daerah Kabupaten Barru maupun diluar daerah Kabupaten Barru, seperti Kabupaten Soppeng, Kota Pare-pare dan Kota Makassar. Setelah berkembangnya usaha ini kehidupan ekonomi masyarakat mengalami peningkatan, dan terjadi perubahan-perubahan yang mendasar pada pola hidup masyarakat dari segi taraf ekonomi masyarakat. Peningkatan ekonomi ini dapat ditunjukkan dengan semakin membaiknya kondisi fisik rumah tempat tinggal rata-rata pengusaha kuliner tiram Kelurahan Coppo bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dimana ketika itu rumah tempat tinggal masih beratapkan dari daun nipah. Sedangkan setelah usaha ini Mengalami perkembangan, rata-rata penduduk telah mampu mendirikan bangunan yang relative lebih baik, bahkan banyak diantaranya yang telah memiliki rumah permanen dan bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Peningkatan taraf ekonomi pengusaha tiram  Kelurahan Coppo juga dapat dilihat dari kepemilikan kendaraan baik motor maupun mobil. Pengusaha kuliner tiram di Kelurahan Coppo dari sudut ekonomi yang mengisyaratkan adanya peningkatan kesejahteraan pada Usaha Kuliner Tiram. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Usaha ini merupakan satu-satunya usaha yang bergerak di bidang kuliner tiram yang berada di Kabupaten Barru. Dan masyarakat yang menggeluti usaha ini bisa memberikan pengaruh yang besar pada perekonomian masyarakat khusunya pengusaha kuliner tiram di Kelurahan Coppo Kabupaten Barru.
Narasi Pancasila dan Tujuan Pendidikan Nasional dalam Sejarah Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia Sumardiansyah Perdana Kusuma; Bahri bahri; Andi Dewi Tati
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.20382

Abstract

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berangkat dari jati diri bangsa. Pendidikan nasional sebagai sebuah sistem, harus dirancang sesuai dengan karakteristik keindonesiaan dan selaras dengan cita-cita para pendiri bangsa. Sesungguhnya karakteristik dan cita-cita tersebut terangkum dalam sebuah konsepsi yang disebut Pancasila. Pancasila merupakan dasar sekaligus arah dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Narasi Pancasila dan tujuan pendidikan nasional harus terintegrasi secara tekstual maupun konstekstual di berbagai desain kebijakan ataupun implementasi dari pendidikan nasional di Indonesia. Artikel ini ditulis dengan metode studi Pustaka dan pendekatan konten analisis, dengan berpijak pada regulasi-regulasi yang diterbitkan Pemerintah Republik Indonesia terkait sistem pendidikan nasional.Kata Kunci: Pancasila, Tujuan Pendidikan Nasional, Sistem Pendidikan Nasional AbstractNational education is education that departs from the national identity. National education as a system must be designed in accordance with Indonesian characteristics and in line with the ideals of the nation's founders. In fact, these characteristics and ideals are summarized in a conception called Pancasila. Pancasila is the basis as well as the direction in achieving the goals of national education. So that naration of Pancasila and national education goals must be integrated textually and contextually in various policy designs or implementation of national education in Indonesia. This article was written using the literature study method and content analysis approach, based on the regulations issued by the Government of the Republic of Indonesia regarding national education system.Keywords: Pancasila, National Education Goals, National Education System
Darud Da’wah Wal Irsyad di Barru 1966-1998 Andi Masyithah Rahmah; Najamuddin Najamuddin; Bahri Bahri
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.18449

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tentang Kondisi Darud Da’wah Wal Irsyad sebelum Orde Baru, serta Perkembangan dan dampak keberadaan DDI pada masa Orde Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DDI merupakan organisasi masyarakat yang bersikap tidak terlibat atau bekerjasama dalam kegiatan partai politik. Namun yang terlibat hanya tokoh DDI dan Ketua Umum PB DDI. DDI mengalami beberapa perkembangan pada tahun 1971 yakni dengan mendirikan pesantren DDI Ulul Addariyah Kabbalangan di Pinrang, ditahun 1992 mendirikan pondok pesantren DDI Al-Ikhlas di Takkalasi. Dan terjadi penyesusaian kurikulim dengan Sekolah Negeri agar pesantren DDI diakui oleh pemerintah. Dampak keberadaan DDI dimasa orde baru yakni, terjadinya aksi protes para santri DDI kepada ketua umum PB DDI dan masyarakat tidak ingin menyekolahkan anaknya ke pesantren DDI, dan adanya perkembangan dari segi fasilitas pesantren DDI, adanya renovasi gedung yang didapatkan DDI dan perkembangaan pendidikan Agama Islam mendapatkan perhatian dari pemerintah. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan pendekatan Ilmu Sejarah dengan tahapan: (1) Heuristik, penelitian ini menggunakan kajian pustaka yang di perolah di perpustakan pesantren Darud Da’wah Wal rsyad di Barru, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Perpustakan Umum Universitas Negeri Makassar, serta buku-buku koleksi pribadi. (2) Kritik, (3) Interpretasi dan (4) Historiografi.
Perkembangan Musik Rap di Jogja (1993-2011) : Akulturasi Budaya Afro-Amerika Dengan Jawa Arsyi Firmansyah
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.20430

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan musik rap di Yogyakarta, mengetahui proses peleburan budaya Jawa dengan budaya Hip-Hop, dan mengetahui pelaku Hip-Hop Yogyakarta dalam perkembangannya pada tahun 1993-2011. Penelitian ini memakai metode penelitian sejarah, dengan lima tahapan dalam prosesnya yaitu pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi, dan heuristik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa musik rap dinyanyikan pertama kali di Yogyakarta oleh grup rap bernama G-Tribe yang dipelopori oleh Ki Ageng Gantas pada tahun 1993, pada tahun 1995 G-Tribe menjadi ssatu-satunya rapper dari Yogyakarta yang masuk dalam sebuah album kompilasi musik rap seluruh Indonesia. Kemudian pada akhir tahun 90-an muncul grup rap yang namanya cukup besar di kalangan pecinta Hip-Hop Yogyakarta pada saat itu, yaitu Jahanam yang beranggotakan dua orang yaitu Mamox dan Balance. Hingga pada akhirnya pada tahun 2001 muncul sorang pegiat seni yang menaungi seluruh pelaku Hip-Hop di Yogyakarta yang bernama Marzuki Mohammad dengan membuat komunitas bernama Jogja Hip-Hop Foundation. Marzuki Mohammad membawa banyak perubahan dalam skena Hip-Hop Yogyakarta, salah satunya adalah menggabungkan unsur-unsur budaya Jawa dalam musik rap, acara pertama yang dibuat oleh Marzuki Mohammad dalam menyatukan kebudayaan lokal dengan musik rap adalah Poetri Battle, yang merupakan konser musik rap dengan lirik karya puisi lama hingga kontemporer. Dari acara tersebut kemudian musik rap yang dibawakan oleh JHF setelah itu lebih ke menekankan pada unsur-unsur Jawa, salah satu alasan mereka yang mendasar adalah sebagai identitas bahwa mereka merupakan orang Yogyakarta. Tahun 2011 lagu Jogja Istimewa dirilis dan mendapat banyak respon dari dalam maupun luar negeri.
Kajian Kelayakan Objek Lanskap Sejarah Eropa Berdasarkan Persepsi Masyarakat Kecamatan Ambarawa Nova Tri Surya; Alfred Jansen Sutrisno
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.19758

Abstract

Ambarawa termasuk salah satu daerah yang memiliki potensi aset sejarah peninggalan khas eropa serta dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata sejarah. Objek wisata sejarah eropa tersebut memiliki potensi mendatangkan wisatawan yang dapat meningkatkan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Wisatawan yang berkunjung pada objek wisata sejarah di Ambarawa mulai mengalami penurunan setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena berkurangnya peran masyarakat, pengelola, dan dinas terkait untuk merawat setiap peninggalan sejarah eropa yang berada di Ambarawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan potensi wisata sejarah eropa tersebut. Teknik analisis skoring digunakan untuk mengevaluasi objek lanskap sejarah eropa sebagai objek wisata sejarah. Hasil analisis diklasifikasikan dalam bentuk kelas potensi. Hasil analisis yang tergolong sangat layak didapatkan pada Museum Kereta Api Ambarawa, dan Benteng Willem 1 (Benteng Pendem). Hasil analisis yang tergolong kurang layak didapatkan pada Gereja Santo Yusuf (Gereja Jago), SDN Panjang 03 Ambarawa, Kantor Kecamatan Ambarawa, Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ambarawa, dan Gedung Polsek Ambarawa serta Pegadaian Ambarawa. Hasil analisis yang tergolong kategori tidak layak yaitu Kawasan Pecinan Ambarawa. AbstractAmbarawa is one of the areas that has the potential for historical assets of typical European heritage and can be used as a historical tourist attraction. This European historical tourist attraction has the potential to bring in tourists who can improve the economy for the surrounding community. Tourists visiting historical attractions in Ambarawa are starting to experience a decline every year. This is due to the reduced role of the community, managers, and related agencies in caring for any European historical heritage in Ambarawa. This study aims to analyze the feasibility of the European historical tourism potential. The scoring analysis technique is used to evaluate European historical landscape objects as historical tourism objects. The results of the analysis are classified in the form of potential classes. The results of the analysis that are classified as very feasible are obtained at the Ambarawa Railway Museum, and Fort Willem 1 (Benteng Pendem). The results of the analysis that are classified as inadequate are obtained at the St. Yusuf Church (Gereja Jago), SDN Panjang 03 Ambarawa, Ambarawa District Office, Ambarawa Slaughterhouse (RPH), and Ambarawa Police Building and Ambarawa Pawnshop. The results of the analysis that are classified as inappropriate categories are Ambarawa Chinatown.
Petani Tambak di Desa Manera Kecamatan Salomekko Kabupaten Bone Tahun 1975-2019 Sari, Suci Indah; Amirullah, Amirullah
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.18608

Abstract

 Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas empat tahapan yaitu: heuristik (pengumpulan data atau sumber), kritik sumber yang terdiri dari kritik intern dan ekstern, interpretasi atau penafsiran sumber dan historiografi yaitu penulisan sejarah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sekitar tahun 1960 di Desa Manera, pada saat itu bernama Maroanging dibangun tambak dengan alat sederhana. Kemudian di tahun 1975 datang orang Bulukumba untuk bertani tambak pula. Dari tahun 1975-2019 terjadi perubahan dalam pengelolaan tambak dan terjadi perubahan-perubahan pada kondisi alam Desa Manera.Selanjutnya bahwa dengan keberadaan tambak di Desa Manera sama sekali tidak mengganggu terhadap penduduk setempat yang bekerja selain sebagai petani tambak. Kondisi sosial petani tambak di Desa Manera terjalin hubungan baik antar sesama petani tambak dan masih mengutamakan sifat gotong royong. Terhadap kondisi ekonomi petani tambak, dengan adanya tambak kondisi ekonomi petani tambak dapat meningkat terbukti dengan petani tambak yang menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan S1, hal lain dapat dilihat pada pembelian barang-barang skunder dari hasil penjualan ikan tambak. ­­Kata kunci : Petani tambak, sosial ekonomi, perkembangan  
Persebaran To Lotang Setelah Aksi DI/TII di Kabupaten Sidenreng Rappang 1966-2018 Rahmat Kurniawan; Bahri Bahri; Asmunandar Asmunandar
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.18466

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang persebaran To Lotang setelah aksi DI/TII di Kabupaten Sidenreng Rappang, Wilayah-wilayah yang ditempati bermukim oleh To Lotang di Kabupaten Sidenreng Rappang hingga kondisi sosial-budaya ekonomi masyarakat To Lotang. Hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor yang mempengaruhi Towani Tolotang tersebar ke berbagai daerah yang ada di kabupaten Sidrap merupakan dampak terjadinya Aksi DI/TII di Kabupaten Sidrap. Towani Tolotang kemudian pergi mencari daerah yang aman seperti daerah Buae yang mayoritasnya beragama Islam. Dimana ketika Towani Tolotang berbaur dengan masyarakat Muslim maka mereka dianggap tidak kafir oleh rombongan DI/TII yang ingin mendirikan Negara Islam. Selain itu faktor yang mempengaruhi persebaran To Lotang ke berbagai daerah ialah kebiasaan Mabekke’ (Membuka Lahan). Setelah aktivitas DI/TII di Kabupaten Sidrap hilang Uwa’ yang berada di Amparita kemudian memerintahkan warganya untuk menyebar ke berbagai daerah dengan alasan untuk Mabekke’. Dalam hal ini membuka lahan dijadikan sebagai mata pencaharian dari masyarakat To Lotang. Meskipun pada awalnya Towani Tolotang mendapatkan diskrimnasi dan tidak diakui oleh negara kepercayaannya. Tapi  usaha dan totalitas dari masyarakat Tolotang tetap ada dan bertahan hingga saat ini. Akhir dari penelitian, menunjukkan bahwa Towani Tolotang meskipun tersebar ke berbagai daerah mereka tetap mempertahankan adat dan kebudayaannya sebagai Towani Tolotang dan menjadikan Amparita sebagai First Home-nya (Rumah pertama). Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitik dengan menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu heuristic, kritik sumber (kritik ekstern dan kritik intern), interpretasi dan historiografi. Kata Kunci : Persebaran, To Lotang, Sidenreng Rappang
Petani Kopi Robusta di Desa Basseang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang (1970-2018) Sriyuni Wahyuningsih Ripal; Rasyid Ridha; Ahmadin Ahmadin
PATTINGALLOANG Vol. 8, No. 1, April 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v8i1.18396

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang keberadaan Petani Kopi Robusta di Desa Basseang, dinamika produksi kopi, sistem pengolahan hasil panen dan dampak keberadaan pertanian kopi robusta. Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitik menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu heuristik, kritik ekstern dan kritik intern, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Belanda membawa bibit kopi Robusta dikarenakan hampir seluruh perkebunan di dataran rendah di Indonesia rusak terkena hama. Tahun 1907 Kerajaan Sawitto telah ditaklukkan oleh pemerintah Kolonial Belanda mendatangkan bibit kopi Robusta ke daerah tersebut yang disebut Kawa Balanda. Tahun 1970 merupakan awal baru bagi pertanian kopi yang ada di Desa Basseang. Ambe’ Mine sebagai pelopor pertanian kopi di Desa tersebut mengajak petani lainnya memulai membudidayakan kopi yang sebelumnya rusak karena perang dan ditinggalkan ketika terjadi bentrok fisik antara TKR pada masa DI/TII. hasil produksi pertanian kopi Robusta semakin meningkat tiap tahunnya, dikarenakan kondisi cuaca dan iklim yang mendukung pertanian tersebut. Hasil panen petani kopi di Desa Basseang diolah secara tradisional dan modern. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa petani kopi merupakan salah satu profesi yang sejak dahulu dilakoni oleh masyarakat di Desa Basseang sejak zaman kolonial hingga era milenial. Profesi petani kopi diyakini meningkatkan taraf hidup masyarakat di Desa Basseang.

Page 1 of 1 | Total Record : 9