cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
KESESUAIAN HABITAT ELANG ULAR BIDO (Spilornis cheela LATHAM, 1790) DI KORIDOR HALIMUN SALAK P., Alya Faryanti; H., Jarwadi Budi; P., Lilik Budi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Deforestasi telah menyebabkan kerusakan habitat dan mengancam kelestarian elang ular bido (Spilornis cheela Latham, 1790). Kesesuaian habitat yang tersisa untuk elang ular bido ini belum diketahui. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesesuaian habitat elang ular bido dan menganalisis tingkat kesesuaian habitat Koridor Halimun Salak untuk elang ular bido. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Juli 2014. Pengamatan elang ular bido dilakukan dengan metode point count. Peubah habitat berupa ketinggian tempat, kemiringan lahan, kerapatan tajuk, suhu permukaan serta jarak dari pemukiman, jalan, tepi hutan, sungai dan elang ular bido lain diidentifikasi berdasarkan data  spasial.  Analisis  komponen utama  digunakan untuk  menentukan peubah  utama  yang mempengaruhi kesesuaian habitat elang ular bido. Hasil penelitian menemukan bahwa peubah utama yang berpengaruh ialah ketinggian tempat dari permukaan laut (x1), jarak dari sungai musim (x2), jarak dari sungai permanen (x3), suhu permukaan (x4), kemiringan lahan (x5) dan jarak dari pemukiman (x6). Persamaan skor kesesuaian habitat yang diperoleh yaitu SKH = 0,849 x1 + 0,846 x2+ 0,748 x3 – 0,871 x4 + 0,810 x5 + 0,719 x6. Kesesuaian habitat di Koridor Halimun Salak terbagi menjadi kesesuaian rendah (27%), kesesuaian sedang (38%) dan kesesuaian tinggi (35%). Koridor Halimun Salak masih berpotensi mendukung keberlangsungan hidup elang ular bido
PENGARUH DIAMETER DAN LUAS TAJUK POHON INDUK TERHADAP POTENSI PERMUDAAN ALAM TINGKAT SEMAI TUMBUHAN PENGHASIL GAHARU JENIS KARAS Sumarna, Yana
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tumbuhan karas (Aquilaria malaccensis Lamk) tergolong   salah satu jenis pohon penghasil gaharu yang potensial dan bernilai komersial tinggi. Semula produksi hanya dengan memanfaatkan pohon produksi yang mati alami. Akibat nilai guna yang berkembang selain sebagai bahan parfum, kosmetika, dan obat herbal serta nilai jual yang semakin tinggi, mendorong masyarakat untuk mencari gaharu dengan cara menebang pohon hidup. Dalam upaya konservasi dan melestarikan produksi agar tidak tergantung kepada hutan alam, upaya budidaya merupakan solusi yang perlu dilaksanakan. Dalam budidaya, kendala pengadaan bibit dapat ditempuh selain menggunakan benih juga dapat dibina dengan memanfaatkan anakan alam yang tumbuh di bawah pohon induk. Melalui pengamatan terhadap pohon induk alami dalam rancangan berblok dengan tiga faktor kelas diameter (D1  : ± 20 cm, D 2 : ± 30 cm, D3  : >30 cm) melalui lima plot pengamatan secara acak pada tiga ulangan sesuai kelas diameter batang pohon induk, benih-benih yang jatuh setelah 2-3 bulan akan tumbuh  menghasilkan anakan  alam.  Hasil  pengamatan  menunjukkan bahwa    potensi  permudaan  alam memiliki hubungan dengan diameter dan luas tajuk. Potensi anakan alam pada pohon induk Ø ± 20 cm danluas tajuk 26,33 m2 : 5,082 batang, pada Ø ± 30 cm dengan luas tajuk 42,60 m2   : 12,397 batang, dan pada pohon Ø > 30 cm dengan luas tajuk 50,13 m2 menghasilkan 18,348 batang anakan alam. Hasil uji keragaman dan uji beda nilai terkecil, antar kelas diameter batang berbeda nyata (signifikan) terhadap permudaan alam. Sesuai hasil tersebut secara biologis dapat diasumsikan bahwa semakin besar diameter batang dan semakinluas tajuk pohon induk akan semakin tinggi potensi permudaan-permudaan alam yang dihasilkan. Dalam upaya pengadaan bahan tanaman dengan memanfaatkan anakan alam, secara teknis dapat diperkirakan sesuaikelas diameter serta luas tajuk pohon induk.
PENYERAPAN POLUTAN LOGAM BERAT (Hg, Pb dan Cu) OLEH JENIS-JENIS MANGROVE Heriyanto, N.M.; Subiandono, Endro
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian penyerapan polutan di perairan oleh jenis-jenis mangrove dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2010. Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai jenis-jenis mangrove yang baik dalam menyerap polutan (merkuri/Hg, timbal/Pb dan tembaga/Cu). Penelitian dilakukan di tiga lokasi hutan mangrove, yaitu Blanakan Subang Jawa Barat, Cilacap Jawa Tengah dan Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi, Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya akumulasi terbesar Cu terdapat pada bagian akar dan batang. Pb terakumulasi pada bagian akar dan daun sedangkan Hg pada bagian batang dan daun mangrove yang dekat dengan sumber pencemar. Dalam menyerap zat pencemar, kemampuan jenis Avicennia marina (Forsk.) Vierh. lebih baik dari Rhizophora apiculata Bl. dan Ceriops tagal C.B. Rob. Hal ini ditunjukkan oleh akumulasi zat tersebut pada bagian pohon. Akumulasi Pb di Blanakan Subang pada jarak 0-500 mdalam udang (Penaeus monodon Fabricius, 1798) 16 kali lebih besar dibanding pada jarak > 1.000 m dari sumber pencemar, sedangkan pada ikan bandeng (Chanos chanos Forsskål, 1775) hanya tiga kali. Di Cilacap akumulasi Pb pada ikan blanak (Mugil cephalus Linnaeus, 1758) tiga kali; Cu 2,5 kali dan Hg delapan kali bila dibandingkan antara jarak 0-500 mdan > 1.000 m dari sumber pencemar. Kandungan Hg pada udang tiga kali lebih besar dibandingkan dengan ikan blanak  di Taman Nasional Alas Purwo, yaitu sebesar 3,12 µg/kg. 
KUALITAS FISIK BIBIT MERANTI TEMBAGA (Shorea leprosula Miq.) ASAL STEK PUCUK PADA TIGA TINGKAT UMUR Junaedi, Ahmad; Hidayat, Asep; Frianto, Dodi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang pertumbuhan dan kualitas fisik bibit meranti tembaga (Shorea leprosula Miq.) asal perbanyakan stek pucuk pada tiga tingkat umur. Penelitian dilakukan melalui pengamatan parameter pertumbuhan dan penilaian mutu fisik bibit meranti tembaga umur sebelas bulan setelah sapih (11 BSS), 12 BSS, dan 14 BSS.  Pengamatan dan penilaian tersebut dilakukan terhadap 10 sampel bibit pada tiap tingkat umur bibit yang dipilih  dengan menggunakan metode penarikan contoh acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi bibit umur 14 BSS (40,1 cm) berbeda secara nyata (p < 0,05) dengan umur 11 BSS (32,6 cm) dan 12 BSS (32,6 cm); sedangkan kualitas fisik bibit antartingkat umur tidak berbeda nyata. Pada umur bibit 11 BSS bibit sudah siap tanam dengan tinggi 32,6 cm; kekokohan 10,79; rasio pucuk akar 2,58; dan indeks mutu bibit 0,28
DAYA DUKUNG HABITAT ORANGUTAN (Pongo abelii Lesson) DI CAGAR ALAM DOLOK SIBUAL-BUALI, SUMATERA UTARA Kuswanda, Wanda; Bismark, M.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 ABSTRAK Populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson) saat ini diduga sekitar 7.501 individu.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang   nilai daya dukung habitat orangutan sebagai dasar perencanaan pengelolaan cagar alam dan konservasi orangutan Sumatera.   Penelitian ini dilaksanakan di Cagar Alam Dolok Sibual-buali, dari bulan Juni sampai November 2004.   Pendugaan daya dukung berdasarkan nilai produktivitas daun dan buah di habitatnya.  Nilai produktivitas daun diperoleh sebesar 40,7 kg/ha/hari (berat basah) atau 14,8 kg/ha/hari (berat kering).  Nilai produktivitas buah dengan memperhatikan musim berbuah diperoleh antara 2,2-13,1 kg/ha/hari (berat basah) atau 0,9-5,6 kg/ha/hari (berat kering). Nilai konsumsi orangutan diperkirakan sebesar 6,2 kg/hari/ekor.  Berdasarkan produktivitas daun dan buah diperoleh daya dukung habitat sekitar 47-56 ekor. 
KEPADATAN POPULASI DAN KARAKTERISTIK HABITAT TARSIUS (Tarsius spectrum Pallas 1779) DI KAWASAN PATUNUANG, TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG-BULUSARAUNG, SULAWESI SELATAN Qiptiyah, Maryatul; Setiawan, Heru
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tarsius merupakan salah satu satwa endemik Sulawesi yang dilindungi dan hidup, baik di hutan primer maupun hutan sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepadatan populasi dan karakteristik habitat tarsius (Tarsius spectrum Pallas 1779) di Kawasan Patunuang, TN Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Penghitungan kepadatan populasi menggunakan metode transect line  dan concentration count, karakteristik habitat didekati dengan analisis vegetasi menggunakan metode kuadrat. Hasil penelitian manunjukkan bahwa tarsius hidup berkelompok antara  2-8 individu dengan kepadatan populasi di kawasan Patunuang yang didapatkan selama penelitian adalah sebesar 70,15 individu/km2. Habitat tarsius adalah hutancampuran dengan bambu (Bambusa multiflex) yang rapat sekitar celah tebing karst. Indeks Nilai Penting tertinggi pohon, tiang, pancang dan anakan masing-masing adalah kayu nona (Metrosideros sp.) (75,01), lambere (Melochia umbellata) (37,08), puca (Barringtonia racemosa (L.) Spreng) (19,31), dan bu’rung (Ailanthus sp.) (25,64).
ANALISIS FINANSIAL USAHA LEBAH MADU Apis mellifera L. Adalina, Yelin
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang kelayakan finansial usaha pada perusahaan yang bergerak dalam pengusahaan lebah madu Apis mellifera L. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif melalui studi kasus yang berupa analisis dokumen (desk study), yaitu dengan cara mengumpulkan data dari tiga buah perusahaan di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata- rata produksi madu adalah 14,38-30,62 kg/koloni/tahun, harga pokok produksi madu adalah Rp 7.790,- – Rp20.500,-/kg madu, harga pokok penjualan adalah Rp 8.040,- - Rp 25.600,-/kg madu, dan harga penjualan adalah Rp 13.500,- - Rp 33.000,-/kg madu. Jumlah madu pada saat titik impas atau break event point (BEP) sebesar 1.230-6.459 kg dan bila dikonversi ke dalam jumlah koloni sebesar 84-240 koloni, sedangkan besarnya nilai penjualan madu hasil perhitungan titik impas Rp 37.594.000,- – Rp 84.214.000,-. Jumlah koloni dan hasil penjualan madu ini berada di atas titik impas nilai penjualan, sehingga perusahaan mendapatkan  keuntungan.  Besarnya  nisbah  manfaat  terhadap  biaya  (B/C  ratio)  1,0-1,39  pada  tingkat diskonto 10 persen. Jangka waktu pengembalian atau payback period (PBP) agar dana yang tertanam pada suatu investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya 41-58 bulan dari jangka waktu maksimum yang diusulkan selama 60 bulan. Tingkat bunga maksimum atau internal rate of return (IRR) yang dapat dibayar dalam pengusahaan lebah madu Apis mellifera L. sebesar 10,2-75 persen. Besarnya manfaat sekarang neto (NPV) pada tingkat diskonto 10 persen sebesar Rp 218.900,- sampai Rp 228.945.600,-. Pengusahaan lebah madu Apis mellifera L. layak diusahakan karena besarnya produksi di atas titik impas, rasio manfaat terhadap biaya (B/C ratio) lebih besar dari satu, tingkat bunga maksimum yang dapat dibayar di atas bunga bank, nilai sekarang dari arus uang pada masa yang akan datang dengan tingkat diskonto 10 persen bernilai positif dan jangka waktu pengembalian dana investasi lebih pendek dari jangka waktu maksimum yang diusulkan.
KAJIAN PERTUMBUHAN TANAMAN PADA SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM INDONESIA (TPTII) DI KALIMANTAN TENGAH Mawazin, Mawazin; Suhaendi, Hendi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKProduksi kayu bulat hutan alam, tahun 1989 sebesar 28 juta m3, kemudian menurun berturut-turut menjadi 10,8 juta m3 dan8,2 juta m3 pada tahun 2003 dan 2006. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya riap tegakan hutan bekas tebangan. Penelitian dilakukan di areal PT. Erna Djuliawati, Kalimantan Tengah terhadap empat jenis unggulan setempat. . Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai riap tinggi, diameter, dan jenis-jenis yang cocok pada sistem silvikultur TPTII di areal tersebut. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap untuk menguji perlakuan jenis meranti (Shorea), dengan 4 taraf jenis (Shorea dasyphylla Foxw., S. parvifolia Dyer, S. leprosula Miq., dan S. plathyclados Sloot ex Foxw. Respon yang diamati meliputi tinggi, diameter dan dihitung nilai riap tahunan (MAI), pada umur tanaman 18 bulan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor jenis tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap riap tinggi maupun riap diameter. Shorea dasyphylla Foxw. Memiliki rata-rata riap tinggi terbesar yaitu 160,21 cm, disusul S. parvifolia Dyer, S. leprosula Miq., dan S. plathyclados Sloot ex Foxw, yaitu berturut-turut: 159,14 cm; 154,19 cm dan 86,44 cm. Sedangkan riap diameter terbesar pada S. leprosula Miq. yaitu 1,74 cm, diikuti jenis S. parvifolia Dyer, S. dasyphylla Foxw. dan S. plathyclados Sloot ex Foxw. berturut-turut:  1,41 cm; 1,33 cm dan 0,94 cm. Untuk jenis S. leprosula Miq., S. parvifolia Dyer dan S. dasyphylla Foxw., menunjukkan riap diameter yang lebih baik dibanding riap diameter tegakan bekas tebangan hutan alam, yaitu diatas 1 cm/th. Apabila riap ini dapat dipertahankan, maka dalam waktu 35 tahun diameter S. leprosula Miq.,  S. parvifolia dyer dan Shorea dasyphylla Foxw. akan mencapai berturut-turut adalah 60,90 cm, 49,35 cm dan 46,55. 
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPK TERHADAP PRODUKSI RUMPUT SULANJANA (Hierochloe horsfieldii Kunth Maxim) SEBAGAI PAKAN RUSA DI PENANGKARAN HAURBENTES, KABUPATEN BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT Garsetiasih, R.; Heriyanto, N. M.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang besarnya respon dosis pemupukan terhadap produksi rumput sulanjana (Hierochloe horsfieldii Kunth Maxim). Penelitian dilakukan dari bulan November2004  sampai  Maret  2005  di  Laboratorium Flora  dan  Fauna  Langka,  Haurbentes,  Kecamatan  Jasinga, Kabupaten Bogor. Perlakuan terdiri dari empat tingkat dosis pemupukan NPK yang diberikan satu kali. Dosis yang digunakan yaitu : T 0  = 0 (kontrol), T 1  = 1,5 g/rumpun, T 2  = 3 g/rumpun, dan T 3  = 4,5 g/rumpun. Rumput ditanam dengan jarak 0,5 m pada satuan contoh berbentuk guludan dengan panjang 10 m, lebar 0,5 m, dan tinggi guludan 0,4 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tertinggi rumput sulanjana (Hierochloe horsfieldii Kunth Maxim) untuk pemotongan pertama umur 3 bulan diperoleh pada perlakuan T 2 (848,75 g/rumpun), sedangkan untuk pemotongan kedua umur 5 bulan diperoleh pada  perlakuan T 2   (421,50 g/rumpun).
GANGGUAN SATWALIAR DI LAHAN PERTANIAN SEKITAR TAMAN NASIONAL MERU BETIRI, JAWA TIMUR (Wildlife Interference in Agricultural Land Around Meru Betiri National Park, East Java) Heriyanto, N. M.; Mukhtar, Abdullah Syarief
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2007 di sekitar perkebunan Bandealit, Jember, Jawa Timur bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang besarnya nilai kerugian masyarakat akibat gangguan dari satwaliar yang keluar dari taman nasional. Hasil penelitian menunjukkan, jenis satwaliar yang keluar dari kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dan paling merusak tanaman masyarakat, yaitu banteng (Bos javanicus d’Alton, 1832), babi hutan (Sus scrofa Linnaeus, 1758) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Linnaeus, 1821). Secara umum kerugian masyarakat akibat dari gangguan satwaliar berkisar antara 34% sampai 50% dari produksi tanaman pertanian, jenis komoditi padi ladang (Oryza sativa L.) dan kacang tanah (Arachis hypogaea L.) paling banyak mengalami kerugian, yaitu sebesar Rp. 1.372.500,- dan Rp. 1.065.000,. Masyarakat yang menjadi responden (60 kepala keluarga dari 190 kepala keluarga petani penggarap) merasa takut dan khawatir bila tanaman mereka diganggu satwaliar sebanyak 90% dari gangguan banteng, 40% darigangguan babi hutan dan 20% dari gangguan monyet ekor panjang. Salah satu cara penanggulangan dari gangguan satwaliar yang dilakukan oleh masyarakat sekitar taman nasional, yaitu : melakukan pengamanan dan penjagaan, baik siang maupun malam, menanami di batas taman nasional dengan tanaman berduri dari jenis lokal dan pemagaran dengan bambu/kayu bernilai konservasi yang dapat tumbuh di kebunnya masing-masing. 

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue