cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
TINGKAT KEBERHASILAN MODEL RESTORASI DI PONDOK INJUK KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK : Studi Kasus Kampung Cimapag, Sebagai Model Kampung Konservasi Aditya Hani; Encep Rachman
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.6.591-602

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tujuan penelitian ini  adalah untuk mengkaji keberhasilan penerapan model restorasi yang dilaksanakan oleh masyarakat Kampung Cimapag sehingga diharapkan menjadi model yang dapat diterapkan bagi pengelola Taman Nasional lainnya.  Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan dengan cara wawancara dengan metode purposive sampling terhadap anggota kelompok Masyarakat Kampung Konservasi (MKK) yang berjumlah 15 responden. Data sekunder diperoleh dari hasil laporan penelitian yang telah dilakukan sebelumya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Pondok Injuk Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu tempat yang mengalami kerusakan akibat adanya tekanan penduduk berupa penebangan pohon dan pembukaan hutan untuk lahan pertanian. Untuk mengembalikan kepada kondisi seperti semula, Balai TNGHS mengupayakan melalui kegiatan restorasi dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang dikembangkan yaitu pembentukan MKK yang telah dimulai sejak tahun 2004. Model Kampung Konservasi mempunyai tiga kegiatan pokok meliputi: 1) Memperbaiki atau merehabilitasi kawasan TNGHS yang rusak, 2) Observasi kawasan TNGHS secara bersama-sama dengan masyarakat lokal dengan tujuan untuk memantau situasi sekaligus untuk mengurangi kegiatan-kegiatan illegal, serta menjalin hubungan yang baik antara TNGHS dengan masyarakat lokal melalui komunikasi yang intens, dan 3) Untuk meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat. Kegiatan restorasi yang telah dilaksanakan oleh masyarakat   Kampung Cimapag   antara lain melakukan penanaman secara swadaya tanaman kayu-kayuan jenis asli setempat. Luas lahan yang berhasil ditanami adalah 49,5 ha dengan 19.817 bibit pohon terdiri dari rasamala (Altingia excelsa Noronha), puspa (Schima wallichii Reinw), dan huru (Litsea javanica BL). Bibit pohon yang ditanam berasal dari cabutan anakan alam yang ada di sekitar Kampung Cimapag. 
VALUASI EKONOMI TAMAN WISATA ALAM PUNTI KAYU PALEMBANG Bambang Tejo Premono; Adi Kunarso
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.1.13-23

Abstract

Penelitian dilakukan di Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang: (1) karakteristik pengunjung Taman Wisata Alam Punti Kayu; (2) faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kunjungan rekreasi; (3) persamaan permintaan manfaat rekreasi dari Taman Wisata Alam Punti Kayu; (4) valuasi ekonomi Taman Wisata Alam. Dari hasil penelitian diketahui, karakteristik pengunjung yang terdiri dari umur, jenis kelamin, penghasilan, jenis pekerjaan, biaya yang dikeluarkan selama kegiatan rekreasi, motivasi, dan jenis kendaraan yang digunakan sangat bervariasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis regresi berganda. Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ke Taman Wisata Alam Punti Kayu meliputi biaya perjalanan, jumlah penduduk perkecamatan, dan jumlah waktu kerja per hari. Model persamaan permintaan berdasarkan metode biaya perjalanan, yaitu Y = -4,018 + 0,0002428 X1 dengan r2  = 0,767; Y adalah permintaan rekreasi dan X adalah biaya perjalanan. Valuasi ekonomi dari Taman Wisata Alam Punti Kayu diperoleh dari nilai rata-rata kesediaan berkorban, nilai yang dikorbankan, dan surplus konsumen per 1.000 penduduk yang masing-masing adalah  Rp 365.932,215; Rp 165.485,997, dan Rp 200.446,218
PENGARUH TINGGI GENANGAN DAN JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN ANAKAN Rhizophora mucronata Lam. DI PANTAI BARAT SULAWESI SELATAN Halidah Halidah
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.1.25-34

Abstract

Rehabilitasi lahan mangrove telah banyak dilakukan dengan tingkat keberhasilan yang hanya sekitar 24,3%. Kegagalan ini banyak disebabkan karena besarnya ombak yang menerpa anakan mangrove yang baru ditanam, substrat dan tinggi genangan yang tidak sesuai. Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan ketinggian genangan terhadap pertumbuhan anakan Rhizophora mucronata Lam. Penelitian dilakukan secara acak kelompok dengan tinggi genangan dan  jarak tanam masing-masing sebagai perlakuan terhadap jenis. Sebagai perlakuan tinggi genangan adalah 0-30 cm, 30-60 cm,  dan 60-90 cm. Untuk jarak tanam yang digunakan adalah 0,5 x 0,5m 2, 1 x 1 m 2, 1 x 2 m 2, dan 1,5 x 2 m menunjukkan bahwa pengamatan selama enam bulan terhadap anakan R. mucronata Lam. menunjukkan adanya  pengaruh yang nyata dari  tinggi genangan terhadap persen tumbuh tetapi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi dan pertumbuhan jumlah daun. Tinggi genangan yang memperlihatkan persen tumbuh yang paling tinggi adalah tinggi genangan 0-30 cm yakni sebesar 45% dan berbeda nyata dengan tinggi genangan 30-60 cm yang memperlihatkan persen tumbuh sebesar 32,26% dan tinggi genangan 60-90 cm sebesar 16,59%. Pengamatan selama enam bulan terhadap R. mucronata Lam.  menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam 2 x 1,5 m 2  berpengaruh nyata pada persen hidup dan sangat nyata pada pertumbuhan tinggi tetapi tidak berpengaruh pada pertumbuhan jumlah daun. Jarak tanam yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap persen tumbuh adalah jarak tanam 2 x 1,5 m 2  yaitu sebesar 98,88% dan berbeda nyata dengan jarak tanam 0,5 x 0,5 m 2  sebesar 70,22%, 1 x 1 m 2  sebesar 78,88%, dan 1 x 2 m  sebesar 75,55 %. Jarak tanam yang memberikan pertumbuhan tinggi yang paling tinggi adalah jarak tanam 2 x 1,5 m yakni sebesar 5,4 cm dan berbeda sangat nyata dengan jarak tanam 0,5 x 0,5 m 2  sebesar 1,56 cm, jarak tanam 1 x 1 m 2  sebesar 2,22 cm, dan jarak tanam 1 x 2 m 2  sebesar 1,77 cm
KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN EFEKTIVITAS CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA (CMA) PADA LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA Enny Widyati; Irdika Mansur; Cecep Kusmana; Iswandi anas; Erdy Santoso
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.3.295-302

Abstract

Peranan  cendawan   mikoriza  arbuskula   (CMA)  dalam  membantu  pertumbuhan   dan ketahanan   tanaman yang  tumbuh  pada  lahan  marginal seperti  lahan bekas  tambang  sangat  penting.  Penelitian   ini bertujuan untuk mendapatkan    infonnasi   keanekaragaman    hayati  CMA  pada  lahan  bekas tambang   batubara   dan isolat yang paling  efektifuntuk    membantu pertumbuhan   bibit Acacia crassicarpa. Isolasi  dan pemurnian dilakukan menurut  metode  Brundett  et al. dengan  inang Pruearia.javanica. Sedangkan uji kompatibilitas dilakukan   dengan  bibit  A.  crassicarpa umur  7 hari. Pertumbuhan    diamati  melalui  pengukuran    tinggi setiap bulan  selama  3 bulan.  Setelah  3 bulan bib it dipanen  dan diamati nodulasi,  biomassa,  dan persentase akar terinfeksi  CMA. Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa pada lahan bekas tambang  batubara  di Sumatera Selatan  ditemukan   Scutelospora sp.,  Acaulospora sp.,  dan Glomus sp. Jenis  yang  mendominasi   adalah G/omus sp. Isolat  13 (Glomus sp.)  yang  diisolasi  dari A.  auriculiformis merupakan   isolat  yang  paling kompatibel   dan efektif,  terbukti  isolat  ini dapat  meningkatkan   tinggi,  biomas,  dan  nodulasi  tanaman  A. crassicarpa berturut-turut    sebesar  38 %, 201 %, dan  108 %. lsolat  ini juga mempunyai  produktivitas yang tinggi (256 spora/10  g inokulum)  dan infektif(84  %). Dengan demikian,  isolat ini dapat dikembangkan sebagai   inokulum  A. crassicarpa pada  kegiatan  revegetasi   lahan  bekas  tambang  batubara
POTENSI PENGEMBANGAN MAMAR SEBAGAI MODEL HUTAN RAKYAT DALAM REHABILITASI LAHAN KRITIS DI TIMOR BARAT Gerson ND. Njurumana; Bayu Adrian Victorino; Pratiwi Pratiwi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.5.473-484

Abstract

ABSTRAK Pendekatan rehabilitasi lahan kritis di Timor Barat harus dilakukan secara holistik dengan memperhatikan aspek sosial ekonomi dan budaya masyarakat. Masalah yang dihadapi dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan antara lain: kemiskinan, keterbatasan alternatif lapangan kerja, serta tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap pertanian lahan kering dan hewan ternak. Laju percepatan lahan kritis pada beberapa DAS  seperti DAS Benain Noelmina di Timor Barat sangat tinggi. Dengan demikian, pendekatan rehabilitasi lahan di Timor Barat harus dilakukan secara terpadu dan lebih spesifik dengan mengintegrasikan berbagai komponen yang saling mempengaruhi. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi mengenai alternatif rehabilitasi lahan melalui pengembangan hutan rakyat berbasis mamar. Metode pendekatan yang digunakan adalah observasi langsung terhadap  karakteristik mamar,  wawancara, dan  pengumpulan data  sekunder.    Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem mamar berpeluang dikembangkan sebagai model hutan rakyat untuk mendukung rehabilitasi lahan. Keuntungan pengembangan mamar adalah diperolehnya dasar pengelolaan lahan kritis dengan menggunakan inisiatif lokal yang sesuai dengan karakteristik wilayah, sosial budaya dan kearifan lokal masyarakat, sehingga akan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan rehabilitasi hutan dan lahan.
KLASIFIKASI POTENSI TEGAKAN HUTAN ALAM BERDASARKAN CITRA SATELIT DI KELOMPOK HUTAN SUNGAI BOMBERAI-SUNGAI. BESIRI DI KABUPATEN FAKFAK, PAPUA Sofwan Bustomi; Djoko Wahjono; N. M. Heriyanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.4.437-458

Abstract

Tujuan penelitian ini  adalah untuk mendapatkan inforrnasi  tentang   kelas  kerapatan  hutan dan potensi tegakan berdasarkan  tampilan  warnaltone pada citra  satelit.  Metode  yang digunakan yaitu pengukuran/pemetaan potensi pada citra satelit  dan pengamatan    lapangan.  Pengukuran potensi  pada citra satelit tersebut dilihat dari tone yang dijumpai, semakin rapat  tegakan, semakin jelas tone yang   dihasilkan.  Sedangkan pengamatan lapangan dilakukan  dengan cara menentukan  satuan contoh  berbentuk  bujur sangkar dengan ukuran 1 km x  1 km (100  ha). Di dalam  plot  bujur  sangkar  dilihat lima jalur  ukur  yang  diletakkan  secara sistematik  dengan jarak antar jalur 200 m,  lebar  jalur 20  m,  panjang 1.000  m.  Hasil   penelitian  ditemukan    48 jenis pohon yang tercakup  ke dalam  27 famili.  Jenis-jenis yang  dominan berturut-turut resak/damar (Vatica rassak Bl.), matoa (Pometia pinnata  Forst.),  kelat/jarnbu-jambu  (Eugenia  sp.), kenari  (Canarium maluense Lauterb.), mersawa (Anisoptera  polyandra Bl.),  dan pala hutan (Myristica fawn  Houtt.). Pengkelasan hutan menurut   warnaltone pada peta ciira satelit  dapat digunakan, hal ini ditunjukkan   oleh kerapatan tegakan hutan dengan diameter ≥ 20 cm pada hutan   "jarang" sebesar 96,80  pohon/ha (diameter ≥ 50 cm=  7,20  N/ha dan diarneter ≥ 60 cm = 2,60  N/ha), hutan "sedang" sebesar 101,25  pohon/ha (diameter  ≥ 50 cm = 8,70 N/ha dan diameter ≥ 60 cm = 4,25  N/ha) dan kerapatan tegakan hutan "rapat"  sebesar 118,05 pohon/ha  (diarneter ≥ 50 cm = 9,45  N/ha  dan diameter  ≥ 60 cm  = 4,25  N/ha).  Potensi  pohon  berdiameter ≥ 20 cm  di  areal kerja PT Prabu Alaska Unit  I Fakfak pada hutan "jarang" sebesar  68,66 ml/ha (diameter ≥ 50 cm= 18,04 m3/ha dan diameter ≥  60 cm =9,56 ml/ha), hutan  "sedang"   sebesar 76,88  m3/ha (diameter ≥ 50 cm =  25 m3/ha dan diameter ≥   60 cm = 17,06  m3/ha) dan kerapatan tegakan  hutan "rapat" sebesar  85,78  m3/ha (diameter ≥ 50 cm =  25,80 m3/ha dan diameter ≥ 60 cm =  16,46  m3/ha).
SELEKSI SUMBERDAYA HABITAT ORANGUTAN (Pongo abelii Lesson 1827) DI CAGAR ALAM SIPIROK, SUMATERA UTARA Wanda Kuswanda
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.3.255-271

Abstract

Orangutan (Pongo abelii) semakin terancam punah karena habitat rusak dan semakin berkurang.Upaya konservasi yang dapat dilakukan salah satunya adalah memperbaiki habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi faktor-faktor sumberdaya habitat yang memengaruhi kehadiran orangutan di Cagar Alam Sipirok, Sumatera Utara. Pengambilan data dilaksanakan selama empat bulan. Plot penelitian sumberdaya habitat  dibuat sebanyak 195 plot (7,8 ha), terdiri dari 79 plot yang digunakan/used plots (terdapat sarang orangutan) dan 116 plot yang tidak digunakan/unused plots. Unused plot diletakkan secara sistematik dengan jarak 300 m dan used plot ditetapkan secara search sampling method. Analisis data menggunakan Z  test, One-Way Anova, regresi logistik, stepwise regression, dan uji peringkat Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumberdaya habitat yang signifikan (nilai Sig < 0,05) memengaruhi peluang kehadiran orangutan yaitu  jenis tumbuhan pakan pada tingkat pohon dan pada tingkat tiang. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa peluang kehadiran orangutan akan tinggi pada habitat yang minimal memiliki satu jenis tumbuhan pakan pada tingkat pohon dengan minimal terdapat dua jenis tumbuhan pakan pada tingkat tiang dalam satuan unit luasan plot penelitian.
PERMUDAAN DUABANGA (Duabanga moluccana Blume) PADA SISTEM SILVIKULTUR TEBANG JALUR TANAM INDONESIA DI KAWASAN HUTAN PRODUKSI GUNUNG TAMBORA, PULAU SUMBAWA I Komang Surata
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.1.29-41

Abstract

Permasalahan yang dihadapi dalam penerapan metode pemanenan hutan dengan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) di hutan alam produksi kawasan hutan Gunung Tambora, Pulau Sumbawa adalah permudaan duabanga (Duabanga moluccana Blume) di kawasan hutan bekas tebangan rendah dan digantikan jenis lain yang kurang komersial. Pertumbuhan permudaan D. moluccana memerlukan cahaya matahari (jenis intoleran) yang tumbuh pada kawasan terbuka. Penerapan sistem silvikultur Tebang Jalur Tanam Indonesia (TJTI) diharapkan akan menciptakan ruang terbuka yang lebih baik, sehingga diharapkan dapat meningkatkan regenerasi  D.  moluccana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi pengaruh pertumbuhan permudaan D. moluccana pada sistem silvikultur TJTI. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok dengan empat perlakuan sistem silvikultur dan tiga blok/ulangan antara lain: TJTI tidak dilakukan pengayaan dan disertai pemeliharaan, TJTI dilakukan pengayaan dan disertai pemeliharaan, TJTI tidak dilakukan pengayaan dan pemeliharaan, TPTI dilakukan pengayaan dan disertai pemeliharaan. Lebar jalur tebang (produksi) 170 m dan jalur tidak ditebang (konservasi) 30 m yang letaknya berselang-seling pada plot coba sepanjang 250 m. Pengayaan D. moluccana menggunakan jarak tanam 10 m x 10 m yang dilakukan satu tahun setelah penebangan. Pemeliharaan dilakukan setiap enam bulan sekali pada tahun pertama, kemudian satu kali setiap tahun sampai umur tiga tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur empat tahun setelah tebangan, sistem silvikultur TJTI dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter, dan jumlah hidup permudaan alam dan pengayaan D. moluccana. Pertumbuhan tinggi, diameter, dan jumlah hidup permudaan alam D. moluccana meningkat masing-masing 47,4%, 86,68%, 183,2% dan pengayaan 47,26%, 88,1%, 272,3 %. Permudaan D. moluccana 74% berasal dari permudaan alam dan 26% pengayaan. Pemeliharaan tidak meningkatkan pertumbuhan tinggi dan jumlah hidup permudaan dan hanya meningkatkan diameter. Pemanenan dengan sistem silvikultur TJTI dan TPTI menurunkan tingkat kesuburan tanah dan iklim mikro.
PERILAKU BURUNG BAYAN SUMBA (Eclectus roratus cornelia Bonaparte) DI PENANGKARAN HAMBALA, SUMBA TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR Mariana Takandjandji; Kayat Kayat; Gerson ND. Njurumana
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.4.357-369

Abstract

Perilaku burung bayan sumba (Eclectus roratus cornelia Bonaparte) di penangkaran merupakan salah satu aspek penting yang perlu diamati agar dapat menunjang keberhasilan penangkaran di Hambala, Sumba Timur Pengamatan perilaku di penangkaran bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kondisi kesehatan, kemampuan berbiak, dan proses adaptasi terhadap lingkungan sehingga dapat memberikan gambaran tentang pengelolaan burung. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burung bayan sumba di  penangkaran Hambala, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 13 macam aktivitas harian yang digolongkan ke dalam empat perilaku utama yaitu perilaku bergerak, diam, ingestif, dan kawin. Perilaku bergerak ditunjukkan oleh aktivitas terbang, berjalan, berkelahi, dan menggelantung. Perilaku diam, dengan aktivitas bertengger, istrahat, dan berjemur. Perilaku ingestif dengan aktivitas makan, minum, dan membersihkan paruh, sedangkan perilaku kawin dengan akitivitas mendekati betina, menyelisik, dan mencumbu. Rata-rata frekuensi aktivitas dalam perilaku bergerak 12,59 kali, perilaku diam 16,5 kali, perilaku ingestif 6,43 kali dan perilaku kawin  1,9 kali
STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA PADA HABITAT BEKANTAN (Nasalis larvatus Wurmb.) DI KUALA SAMBOJA, KALIMANTAN TIMUR Tri Atmoko
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.4.425-437

Abstract

Penelitian tentang strategi pengembangan ekowisata pada habitat bekantan (Nasalis larvatus Wurmb.) telah dilakukan di Kuala Samboja, Kalimantan Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang hasil analisis potensi obyek ekowisata pada habitat bekantan dan alternatif strategi pengelolaannya. Analisis SWOT (Strengths-Weaknesses-Opportunities-Treath) dilakukan untuk menyusun strategi pengembangan ekowisata di habitat bekantan. Hasil penelitian menunjukkan matrik posisi SWOT terletak pada posisi konservatif yaitu Strategi W-O (kelemahan-peluang). Beberapa strategi yang dapat dilakukan yaitu: membangun kelembagaan, paket wisata integratif, paket wisata petualangan ilmiah, peningkatan kesadaran masyarakat, dan kegiatan promosi. Kegiatan pengembangn ekowisata diharapkan dapat menjadikan habitat dan populasi bekantan yang baik melalui kegiatan rehabilitasi dan memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar 

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue