cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
TANAMAN PENUTUP TANAH YANG SESUAI PADA LAHAN KRITIS BEKAS TAMBANG BATU APUNG Budi Hadi Narendra; Syahidan Syahidan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.4.357-365

Abstract

Tambang batu  apung  di Lombok Timur, khususnya di  Ijobalit merniliki   potensi dan produksi terbesar di Indonesia. Masyarakat menambang secara tradisional  tanpa mengupayakan rehabilitasi dan konservasi   tanah dan air. Bekas tambang ini merupakan lahan terdegradasi yang  dibiarkan saja menjadi lahan  kritis  dengan permukaan berlubang-lubang yang sebagian besar tidak  dimanfaatkan lagi. Hanya vegetasi  tertentu saja  yang masih dapat  dijumpai  pada lahan  tersebut, karena  lahan  telah  mengalami  kemunduran  sifat fisika kimia tanahnya.     Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi dan teknologi  budidaya   jenis tanaman penutup tanah dan dosis  pupuk kandang  yang sesuai    untuk rehabilitasi lahan kritis bekas  tarnbang batu apung. Penelitian ini  menggunakan desain split plot, dimana tiga macam dosis pupuk  kandang sebagai plot utama dan tiga jenis  tanaman penutup tanah   sebagai sub plot. Masing-masing  kombinasi perlakuan ini diulang, sebanyak 16 kali. Berdasarkan kernampuan hidup, kemarnpuan rnenutup tanah dan biornassanya, tanarnan yang paling tepat digunakan  sebagai   penutup tanah adalah  jenis sentro  (Centrosema  pubescens  Benth.). Penggunaan pupuk kandang dengan dosis  4,4  kg/m2 dapat diaplikasikan guna menambah kandungan bahan organik tanah.
HABITAT MACAN TUTUL JAWA (Panthera pardus melas Cuvier 1809) DI LANSEKAP HUTAN TANAMAN PINUS Hendra Gunawan; Lilik B. Prasetyo; Ani Mardiastuti; Agus P. Kartono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.1.049-067

Abstract

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier, 1809) tersebar di Pulau Jawa, Pulau Kangean, Pulau Nusakambangan dan Pulau Sempu.  Macan tutul jawa menempati habitat dengan toleransi yang tinggi terhadap iklim dan makanan.  Di Jawa Tengah macan tutul jawa hidup di hutan jati (Tectona grandis L.f.), hutan pinus (Pinus spp.), hutan tanaman campuran serta hutan alam, dataran rendah dan pegunungan.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang  karakteristik habitat macan tutul jawa di lansekap hutan pinus dan termasuk kelebihan dan kekurangannya  serta ancamannya terutama yang bersumber dari fragmentasi hutan.  Metode penelitian meliputi survei sebaran macan tutul, penggambaran struktur vegetasi dan habitat feature, inventarisasi satwa mangsa dan analisis fragmentasi hutan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan pinus merupakan habitat penting bagi macan tutul jawa di Jawa Tengah karena memiliki luasan terbesar kedua (36,3%) setelah hutan jati (55,3%) dan macan tutul jawa lebih banyak ditemukan di hutan pinus (43,8%) dibandingkan di tipe hutan lainnya.  Sebagian besar habitat macan tutul jawa di hutan pinus ada pada ketinggian lebih dari 500 dpl, beriklim basah (A dan B) dan topografinya lebih dari 60% curam sampai sangat curam.  Habitat macan tutul jawa di hutan pinus umumnya merupakan hutan lindung atau berbatasan dengan hutan lindung.  Ketiga lokasi yang diteliti (KPH Pekalongan Barat, Banyumas Barat dan Banyumas Timur) memiliki satwa mangsa utama primata dan ungulata serta ketersediaan air sepanjang tahun.  Ancaman utama terhadap macan tutul jawa di hutan pinus adalah terisolasi di habitat yang kecil akibat fragmentasi hutan oleh pemukiman, lahan pertanian, jalan raya, rel kereta api dan sungai besar.
KARAKTERISTIK HUTAN RAKYAT POLA KEBUN CAMPURAN Asmanah Widiarti; Sukaesih Prajadinata
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.2.145-156

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang karakteristik hutan rakyat dengan pola  kebun campuran atau sering disebut hutan rakyat swadaya, yang dinilai lebih memenuhi aspek kelestarian produksi dan pendapatan. Kajian ditinjau dari aspek teknis dan sosial ekonomi petani. Hasil kajian menunjukkan kebun campuran saat ini masih dikelola secara tradisional. Komposisi jenis tanaman yang ada bervariasi antar daerah, secara umum jenis kayu yang dijumpai adalah sengon, mahoni, maesopsis sedangkan jenis buah-buahan adalah durian, pete, dan melinjo. Di Pandeglang komposisi tanaman  terdiri dari 38,45% kayu- kayuan, 49,88% buah-buahan, dan 11,67% tumbuhan bawah. Sedangkan di Sukabumi terdiri dari 52,43% kayu-kayuan, 28,68% buah-buahan, dan 18,89% tumbuhan bawah. Penghasilan dari kebun campuran ditentukan oleh perbandingan komposisi antara pohon kayu-kayuan dengan buah-buahan dan bentuk hasil kayu yang dijual. Di Pandeglang pendapatan dari kebun campuran sebesar Rp 2.477.323/ha/tahun (21,62% berasal dari kayu). Sedangkan di Sukabumi sebesar Rp 3.973.039/ha/tahun (60,30% berasal dari kayu). Hasil analisis vegetasi menunjukkan struktur vegetasi   kebun campuran lebih sederhana dibandingkan dengan struktur vegetasi di hutan alam, tetapi dari segi kerapatan pohon dan penutupan tajuk mendekati ekosistem hutan alam. Dari segi keanekaragaman hayati kebun campuran di Pandeglang lebih baik dibandingkan di Sukabumi. Kondisi keanekaragaman kebun campuran di kedua lokasi untuk tingkat pohon dijumpai 28-39 jenis dan dari segi penutupan tajuk berkisar antara 96,4-246,3% sehingga lebih baik dari segi manfaat ekologis. Upaya peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan perbaikan teknis silvikultur/budidaya dan modifikasi pola tanam.
FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR MENING KATKAN PERTUMBUHAN AWAL Aquilaria crassna Pierre ex Lecomte Ragil S.B. Irianto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2015.12.2.223-231

Abstract

Aquilaria  crassna  merupakan  tanaman  eksotik  dan  cepat  tumbuh  di  Indonesia  dan  sebaran  alamnya mencakup Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang efektivitas FMA Glomus sp. 1 dan Glomus sp. 2, terhadap pertumbuhan bibit di pesemaian dan tanaman di lapangan. Rancangan penelitian yang digunakan di pesemaian adalah rancangan acak lengkap dan di lapangan adalah rancangan acak kelompok dengan tiga perlakuan yaitu kontrol, Glomus sp. 1 dan Glomus sp. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Glomus sp. 1 dan Glomus sp. 2 dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter bibit tanaman penghasil gaharu umur delapan bulan di pesemaian secara nyata sebesar 123%, 122% dan 42%, 47% dibandingkan dengan kontrol dan meningkatkan berat kering akar, berat kering pucuk, berat kering total bibit secara nyata sebesar 133%, 143%, 193%, 174% dan 173%, 164% dibandingkan dengan kontrol. Pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman muda A. crassna umur enam bulan di lapang yang diinokulasi dengan Glomus sp. 1 dan Glomus sp. 2 pada saat di pembibitan juga meningkat secara nyata sebesar 55%, 43% dan 39%, 33% dibandingkan dengan kontrol
STRUKTUR DAN SEBARAN TEGAKAN DIPTEROCARPACEAE DI SUMBER BENIH MERAPIT, KALIMANTAN TENGAH Tri Atmoko; Zainal Arifin; Priyono Priyono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.4.399-413

Abstract

Penelitian struktur dan sebaran pohon Dipterocarpaceae telah dilakukan di Sumber Benih Merapit, Kalimantan Tengah.  Penelitian dilakukan dengan membuat tujuh petak ukur tidak permanen berukuran 100 x 100 m yang ditempatkan secara purposive sampling.  Pohon Dipterocarpaceae berdiameter batang > 10 cm dicatat jenisnya dan diukur diameter, tinggi serta koordinat x dan y. Hasil penelitian diketahui sebanyak 31 pohon Dipterocarpaceae yang termasuk dalam empat marga.  Terdapat tiga strata pohon pada tegakan sumber benih Merapit, yaitu strata A (tinggi > 30 m), B  (tinggi 20-30 m) dan C (tinggi 4-20 m), dimana 44,88% pohon menempati strata A. Jenis Shorea parvifolia Dyer. ditemukan paling dominan dan menyebar pada semua petak pengamatan, selain itu 15 pohon di antaranya memenuhi syarat sebagai pohon induk.
Model INGROWTH, UPGROWTH, DAN MORTALITY PADA HUTAN RAWA BEKAS TEBANGAN DI PROVINSI RIAU Aswandi Aswandi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.4.361-375

Abstract

Pertumbuhan hutan setelah  penebangan m erepresentasikan  dinamika perturnbuhan tegakan melalui penambahan individu pohon baru (ingrowth), peningkatan fase perturnbuhan melalui pertambahan diameter (upgrowth), dan kematian pohon penyusun tegakan (mortality).Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model penduga ingrowth, upgrowth, dan mortality hutan rawa dengan menggunakan data seri petak ukur permanen HPH PT. Inti Prona Provinsi Riau. Model yang dibangun menunjukkan bahwa laju ingrowth, upgrowth, dan mortality dipengaruhi oleh luas bidang dasar tegakan, kerapatan tegakan, dan ukuran pohon. Laju ingrowth dan upgrowth berhubungan negatif dengan luas bidang dasar tegakan, dan ingrowth dan upgrowth akan semakin rendah pada luas bidang dasar tegakan yang semakin besar (tegakan yang lebih rapat). Sedangkan laju mortality berhubungan positif dengan luas bidang dasar tegakan, sehingga laju mortality akan semakin tinggi pada luas bidang dasar tegakan yang semakin besar.
KERAGAMAN JENIS DAN POPULASI FLORA POHON DI HUTAN LINDUNG GUNUNG SLAMET, BATURRADEN, JAWA TENGAH Titi Kalima
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.2.151-160

Abstract

Penelitian keragaman  dan  populasi  flora  di  hutan  lindung  Gunung Slamet Baturraden, Jawa  Tengah dilakukan sebagai pendekatan penelitian untuk memperoleh data dan informasi dasar untuk pengelolaan Kebun Raya Baturraden berbasis ekologis. Penelitian ini bertujuan unutk mendapatkan informasi tentang keanekaragaman flora dan populasi di wilayah hutan lindung Gunung Slamet. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode kuadrat dengan pengukuran jalur berpetak dengan lebar 10 m dan panjang 500 m memotong kontur. Jalur diletakkan pada ketinggian 1.130 m dpl dan 1.250 m dpl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua lokasi tersebut diperoleh 40 spesies flora hutan termasuk ke dalam 38 marga dan 33 suku dengan spesies flora pohon dominan antara lain Castanopsis argentea Blume, Elaeocarpus glaber Blume, Symplocos fasciculate Zoll., Ficus fistulosa Reinw., dan Antidesma tetandrum Blume. Selanjutnya hasil analisis indeks keanekaragaman spesies dan indeks kesamaan spesies pada lokasi penelitian tidak menunjukkan perbedaan antara flora spesies pada ketinggian 1.130 m dpl dan 1.250 m dpl. Pada ketinggian 1.250 m dpl. kerapatan flora pohon cenderung menurun bila dibandingkan dengan ketinggian 1.130 m dpl. diakibatkan oleh perbedaan kondisi tanah, topografi, dan lingkungan fisik. 
MODEL PENDUGAAN VOLUME BATANG BERDIRI DENGAN INTEGRASI FUNGSI TAPER JENIS MERANTI (Shorea spp.) : STUDI KASUS DI HPH PT. KIANG NAM DEVELOPMENT INDONESIA SUMATERA UTARA) Aswandi Darmawan Edy; Dodo A. Suhada
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.1.11-19

Abstract

Beragamnya  bentuk pohon  membatasi penggunaan  tabel volume dan angka bentuk batang dalam pendugaan volume pohon denganjenis dan lokasi tertentu. Angka bentuk 0,7 yang umumnya digunakan dalam inventarisasi  hutan cenderung  menghasilkan pendugaan volume yang bias, khususnya  bagi bentuk batang yang tidak linear. Studi ini bertujuan untuk menemukan suatu model penduga volume pohon berdiri yang lebih akurat dengan menggunakan pendekatan integrasi fungsi taper. Berdasarkan pengukuran 424 seksi batang dari 89 pohon contoh, diperoleh  fungsi taper dan pendugaan volume pohon berdiri sebagai berikut :~  = 0,652+ 0,542( 1- ;  )- 0,2{ 1-   ;  ) dan n« = Y. "D' (0,96G )- 0,12{; r -o.ms(; J + 0,0121(; )' +o,oo,s(; )')I dimana d :   diameter pada ketinggian h, D :   diameter setinggi dada, h :  ukuran tinggi pohon pada titik tertentu, dan H: tinggi total kayu pertukangan. Pendugaan volume pohon berdirijenis  meranti (Shorea spp.) menggunaan  integrasi fungsi taper menghasilkan pendugaan yang memiliki akurasi tinggi dan fleksibilitas dalam pelaksanaannya.
KARAKTERISTIK HUTAN RAWA GAMBUT DI TUANAN DAN KATUNJUNG, KALIMANTAN TENGAH Kade Sidiyasa
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.2.125-137

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik, struktur, dan komposisi tegakan hutan rawa gambut di Tuanan dan Katunjung, Kalimantan Tengah. Pengamatan dilakukan di enam petak cuplikan 500 m x 10 m, dengan luas keseluruhan tiga ha. Pencatatan dilakukan terhadap pohon-pohon berdiameter batang setinggi dada ≥ 10 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi hutan rawa gambut di Tuanan dan Katunjung pernah mengalami degradasi yang dicirikan oleh tingkat kerapatan pohon adalah 682 pohon/ha dengan luas bidang dasar 18,054 m²/ha. Teridentifikasi 124 spesies pohon (berdiameter ≥ 10 cm) yang termasuk ke dalam 70 marga dan 36 suku. Neoscortechinia philippinensis (Merr.) Welzen merupakan spesies yang paling umum dan penting. Sebagian besar (73,03%) pohon yang didata berdiameter batang < 20 cm, hanya kurang dari satu persen untuk pohon yang berdiameter batang 50-< 60 cm  (0,15%) dan untuk pohon yang berdiameter batang ≥ 60 cm (0,10%). Terdapat perbedaan komunitas penyusun tegakan antar petak cuplikan maupun antar lokasi penelitian yang ditunjukkan oleh nilai indeks kesamaan menurut Jaccard (ISj) yang rata-rata < 50%.
ANALISIS FINANSIAL USAHA LEBAH MADU Apis mellifera L. Yelin Adalina
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.3.217-237

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi tentang kelayakan finansial usaha pada perusahaan yang bergerak dalam pengusahaan lebah madu Apis mellifera L. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif melalui studi kasus yang berupa analisis dokumen (desk study), yaitu dengan cara mengumpulkan data dari tiga buah perusahaan di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata- rata produksi madu adalah 14,38-30,62 kg/koloni/tahun, harga pokok produksi madu adalah Rp 7.790,- – Rp 20.500,-/kg madu, harga pokok penjualan adalah Rp 8.040,- - Rp 25.600,-/kg madu, dan harga penjualan adalah Rp 13.500,- - Rp 33.000,-/kg madu. Jumlah madu pada saat titik impas atau break event point (BEP) sebesar 1.230-6.459 kg dan bila dikonversi ke dalam jumlah koloni sebesar 84-240 koloni, sedangkan besarnya nilai penjualan madu hasil perhitungan titik impas Rp 37.594.000,- – Rp 84.214.000,-. Jumlah koloni dan hasil penjualan madu ini berada di atas titik impas nilai penjualan, sehingga perusahaan mendapatkan  keuntungan. Besarnya nisbah manfaat  terhadap  biaya (B/C  ratio)  1,0-1,39  pada  tingkat diskonto 10 persen. Jangka waktu pengembalian atau payback period (PBP) agar dana yang tertanam pada suatu investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya 41-58 bulan dari jangka waktu maksimum yang diusulkan selama 60 bulan. Tingkat bunga maksimum atau internal rate of return (IRR) yang dapat dibayar dalam pengusahaan lebah madu Apis mellifera L. sebesar 10,2-75 persen. Besarnya manfaat sekarang neto (NPV) pada tingkat diskonto 10 persen sebesar Rp 218.900,- sampai Rp 228.945.600,-. Pengusahaan lebah madu Apis mellifera L. layak diusahakan karena besarnya produksi di atas titik impas, rasio manfaat terhadap biaya (B/C ratio) lebih besar dari satu, tingkat bunga maksimum yang dapat dibayar di atas bunga bank, nilai sekarang dari arus uang pada masa yang akan datang dengan tingkat diskonto 10 persen bernilai positif dan jangka waktu pengembalian dana investasi lebih pendek dari jangka waktu maksimum yang diusulkan.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue