cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
HABITAT MACAN TUTUL JAWA (Panthera pardus melas Cuvier 1809) DI LANSKAP HUTAN PRODUKSI YANG TERFRAGMENTASI Hendra Gunawan; Lilik B. Prasetyo; Ani Mardiastuti; Agus P. Kartono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.2.95-114

Abstract

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas Cuvier 1809) merupakan spesies kunci ekosistem hutan di Jawa yang sedang mengalami ancaman kepunahan akibat fragmentasi habitat. Di Provinsi Jawa Tengah 83,84% hutannya merupakan hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani dan terbagi dalam 20 unit pengelolaan (Kesatuan Pemangkuan Hutan). Oleh karena itu kelestarian macan tutul sangat tergantung pada keadaan hutan produksi tersebut. Sejak krisis moneter, hutan produksi di Jawa Tengah terus mengalami deforestasi dan fragmentasi, sehingga mengancam kelestarian macan tutul.  KPH Kendal merupakan salah satu daerah penyebaran macan tutul di hutan tanaman jati. Penelitian ini bertujuan  untuk  mengetahui karakteristik habitat macan tutul di lanskap hutan tanaman yang sedang mengalami fragmentasi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa di KPH Kendal terdapat tiga populasi macan tutul yang terpisah akibat fragmentasi oleh jalan, perkampungan, dan lahan pertanian. Fragmentasi hutan ditandai oleh peningkatan jumlah  atch, penurunan luas Class Area, peningkatan Total  Edge, penurunan Core  Area Index, dan peningkatan Mean Shape Index. Fragmentasi habitat macan tutul di KPH Kendal disebabkan oleh okupasi hutan untuk pertanian, konversi untuk pemukiman, pembangunan jalan, jaringan listrik SUTET, dan sistem silvikultur tebang habis.  Fragmentasi ini menyebabkan isolasi populasi, degradasi kualitas habitat, dan penyempitan habitat yang secara sendiri atau bersama-sama mengancam kelestarian macan tutul. Macan tutul  memilih fitur-fitur habitat tertentu untuk berbagai aktivitasnya, seperti tempat  berlindung, tempat melindungi dan memelihara anak, tempat berburu, tempat istirahat, tempat mengasuh anak, dan tempat untuk penandaan teritori. Terdapat 18 jenis satwa yang potensial menjadi mangsa macan tutul di KPH Kendal, tetapi macan tutul memiliki preferensi terhadap kijang (Muntiacus muntjak zimmermann, 1780), monyet abu- abu (Macaca fascicularis Raffles, 1821), lutung (Trachipitecus auratus Geoffroy, 1812), babi hutan (Sus scrofa Linnaeus, 1758), dan anjing kampung (Canis familiaris Linnaeus, 1758) sebagai mangsanya. 
PENGARUH STERILISASI MEDIA TERHADAP PERKEMBANGAN EKTOMIKORIZA DAN PENYERAPAN UNSUR HARA PADA STEK Shorea leprosula Miq. R. Mulyana Omon
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2004.1.1.111-127

Abstract

Sterilisasi tanah menggunakan autoklap adalah metoda untuk membunuh petogen dan jamur yang tidak diharapkan pada media untuk perkembangan mikoriza. Percobaan ini dilakukan di rumah kaca Loka Litbang Satwa Primata Kalimantan Timur. Tujuan dari percobaan ini untuk memperoleh pengaruh sterilisasi terhadap perkembangan mikoriza dan penyerapan unsur hara terhadap pertumbuhan stek shorea leprosula Miq. pada media tanah yang berbeda. Perlakuan yang dilakukan dalam percobaan ini terdiri dari tiga tipe tanah, inokulasi tipe jamur dengan media tanah yang di sterilirsasi dan tidak di sterilisasi. Rancangan percobaan yang dilakukan adalah faktorial dalam pola acak lengkap dengan tiga kali ulangan. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa pemanasan yang berlebihan dengan menggunakan autoklap dengan temperatur 121" C selam dua jam pada media tanah telah memberikan pengaruh terhadap penyerapan unsur hara dan perrtumbuhan stek S.leprosula. Penyerapan unsur hara N,P,K dan Mg pada media tanah yang disteril lebih rendah dibandingkan dengan media yang tidak disterilsasikan pada stek S.leprosula. Inokulasi mikoriza dengan Amanita sp. Rassula sp,Sclerodema columnare dan campuran dari ketiga jamur lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol terhadap persentase akar yang bermikoriza pada stek S.leprosula. Penyerapan unsur Fe (besi) dengan inokulasi jamur Rassula sp lebih tinggi dibandingkan dari jamur yang lain. Hal ini menunjukan bahwa setiap jamur mikoriza mempunyai spesifik dalam penyerapan unsur hara pada tanaman dipterokarpa. Dengan demikian untuk penyedian bibit stek S.leprosula skala besar dapat direkomendasikan dengan menggunakan media tanah lempung berpasir atau tanah liat berpasir tidak di sterilisasikan
KOLONISASI CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA PADA BIBIT TANAMAN PENGHASIL GAHARU Erdy Santoso; A.W. Gunawan; Maman Turjaman
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.5.499-509

Abstract

Tanaman penghasil gaharu termasuk jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan keberadaannya sangat penting dalam meningkatkan pendapatan masyarakat di negara-negara Asia Tenggara, tetapi beberapa jenis tanaman penghasil gaharu telah mengalami kepunahan disebabkan pemanenan di alam yang berlebihan.  Ada usaha  peningkatan  dalam  penyediaan  bibit  Aquilaria  microcarpa  Baill  tetapi  tidak  cukup   dalam meningkatkan jenis HHBK tersebut dan dalam meningkatkan promosi  konservasi hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang pengaruh lima jenis cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dalam meningkatkan pertumbuhan awal Aquilaria microcarpa Baill.   Bibit Aquilaria microcarpa Baill diinokulasi oleh Entrophospora sp. Ames & Scheneider, Glomus sp. ACA Tulasne & Tulasne,  Glomus sp. ZEA Tulasne & Tulasne,  Glomus clarum Nicholson & Schenk, Gigaspora decipiens Hall & Abbott, dan kontrol (tidak diinokulasi) pada kondisi di persemaian. Paramater yang diukur adalah kolonisasi CMA, pertumbuhan tanaman, kandungan dan serapan N atau P pada jaringan tanaman sampai tanaman berumur 25 minggu.  Kolonisasi CMA pada akar Aquilaria microcarpa  Baill adalah 71-93 %.  Kolonisasi CMA  telah meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, dan berat kering.  Serapan N dan P jaringan tanaman juga meningkat pada tanaman yang dikolonisasi oleh CMA.    Hasil penelitian ini memberikan indikasi bahwa CMA dapat membantu dalam penyediaan bibit Aquilaria microcarpa   Baill yang vigor dan selanjutnya berimplikasi dalam upaya konservasi dan meningkatkan penyediaan produk hasil hutan bukan kayu secara ekonomi dan lestari.
PENYERAPAN POLUTAN LOGAM BERAT (Hg, Pb dan Cu) OLEH JENIS-JENIS MANGROVE N.M. Heriyanto; Endro Subiandono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.2.177-188

Abstract

Penelitian penyerapan polutan di perairan oleh jenis-jenis mangrove dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2010. Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai jenis-jenis mangrove yang baik dalam menyerap polutan (merkuri/Hg, timbal/Pb dan tembaga/Cu). Penelitian dilakukan di tiga lokasi hutan mangrove, yaitu Blanakan Subang Jawa Barat, Cilacap Jawa Tengah dan Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi, Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya akumulasi terbesar Cu terdapat pada bagian akar dan batang. Pb terakumulasi pada bagian akar dan daun sedangkan Hg pada bagian batang dan daun mangrove yang dekat dengan sumber pencemar. Dalam menyerap zat pencemar, kemampuan jenis Avicennia marina (Forsk.) Vierh. lebih baik dari Rhizophora apiculata Bl. dan Ceriops tagal C.B. Rob. Hal ini ditunjukkan oleh akumulasi zat tersebut pada bagian pohon. Akumulasi Pb di Blanakan Subang pada jarak 0-500 mdalam udang (Penaeus monodon Fabricius, 1798) 16 kali lebih besar dibanding pada jarak > 1.000 m dari sumber pencemar, sedangkan pada ikan bandeng (Chanos chanos Forsskål, 1775) hanya tiga kali. Di Cilacap akumulasi Pb pada ikan blanak (Mugil cephalus Linnaeus, 1758) tiga kali; Cu 2,5 kali dan Hg delapan kali bila dibandingkan antara jarak 0-500 mdan > 1.000 m dari sumber pencemar. Kandungan Hg pada udang tiga kali lebih besar dibandingkan dengan ikan blanak  di Taman Nasional Alas Purwo, yaitu sebesar 3,12 µg/kg. 
UJI COBA BEBERAPA KOMBINASI KOMPOSISI PAKAN TRENGGILING (Manis javanica Desmarest, 1822) DI PENANGKARAN Anita Rianti; Novriyanti Novriyanti; Mariana Takandjandji
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2017.14.2.111-122

Abstract

ABSTRACTCaptive breeding is one of the alternative solution to reduce the extinction of pangolin (Manis javanica Desmarest, 1822). This research was aimed to determine the feeding intake and the growth of the pangolin body through the provision of alternative feeding from agricultural wastes and rotten woods. The research was conducted at Multi Jaya Abadi Captive Breeding, located in Medan North Sumatra. Four pangolins were used as material for this study and the observation was done for 14 days. The pangolins were treated with four types of feeding treatments, i.e. A (mixture of rice bran, corn flour and kroto), B (mixture of rice bran, corn flour, and worm), C (mixture of rice bran, corn flour, and cricket), and D (mixture of rice bran, corn flour, and termites). Of the four treatments, feeding alternative of D was the most preferred by pangolin, followed by alternatives A, B and C. This result showed that pangolin in the captive breeding in Medan prefer feeding termites (24.24%), then followed by kroto (20.97%), worms (10.56%), and crickets (9.17%).Key words: Agricultural waste, captive breeding, feeding alternative, pangolin.ABSTRAKSalah satu alternatif yang diharapkan untuk mengatasi punahnya trenggiling, yakni melalui penangkaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi pakan dan pertumbuhan badan trenggiling melalui penyediaan pakan alternatif dari limbah pertanian dan kayu lapuk. Penelitian dilakukan di Multi Jaya Abadi, yang berlokasi di Medan, Sumatera Utara. Empat individu trenggiling merupakan materi penelitian yang digunakan selama 14 hari pengamatan dan diberi empat perlakuan pakan, yakni A = dedak padi+tepung jagung+kroto; B = dedak padi +  tepung jagung + cacing; C = dedak padi + tepung jagung + jangkrik; dan D = dedak padi + tepung jagung + rayap. Empat perlakuan kombinasi pakan tersebut, kombinasi pakan D paling disukai oleh trenggiling, diikuti dengan kombinasi pakan A, B dan C. Hasil penelitian membuktikan bahwa trenggiling di penangkaran Medan lebih menyukai pakan rayap (24,24%), diikuti oleh kroto (20,97%), cacing (10,56%), dan jangkrik (9,17%).Kata kunci: Limbah pertanian, penangkaran, jenis pakan alternatif, trenggiling.
KERAGAMAN DAN POTENSI JENIS SERTA KANDUNGAN KARBON HUTAN MANGROVE DI SUNGAI SUBELEN SIBERUT, SUMATERA BARAT M. Bismark; Endro Subiandono; N.M. Heriyanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.3.297-306

Abstract

Penelitian yang dilakukan pada bulan Juni 2007 bertujuan untuk memperoleh informasi tentang besarnya potensi biofisik dan kandungan karbon pada hutan mangrove di Cagar Biosfer Pulau Siberut, Sumatera Barat. Analisis potensi biomasa, karbon, dan kesuburan tanah dalam tegakan mangrove dilakukan dalam dua plot seluas masing-masing 0,25 ha pada jarak 1.300 m dari garis pantai. Inventarisasi jenis mangrove dilakukan di tepi sungai sepanjang satu km dari sungai sepanjang dua km dengan vegetasi riverine mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 jenis pohon mangrove, yaitu Rhizophora apiculata Blume, R. mucronata Blume, Bruguiera cylindrica W.et.A., B. gymnorrhiza (L). Savigny, Xylocarpus granatum Koen, Barringtonia  racemosa  Blume,  Ceriops  tagal  C.B Rob.,  Aegyceras corniculatum Blanco, Luminitzera littorea Voigl., dan Avicennia alba L.  Hutan mangrove  di lokasi penelitian mempunyai kadar C sebesar 23,22%, N sebesar 0,73%, Na dan K sebesar masing-masing 10,40 me/100 g dan 4,51 me/100 g yang termasuk kategori sangat tinggi, namun nilai P sebesar 3,94 ppm dan KTK sebesar 18,93 termasuk cukup rendah. Jenis yang mendominasi tegakan hutan mangrove adalah R. apiculata dengan kerapatan 80 pohon/ha, R. mucronata dengan kerapatan 28 pohon/ha, dan B. gymnorrhiza dengan kerapatan 12 pohon/ha. Biomasa tegakan di  atas tanah dan kandungan karbon  hutan mangrove yang  terdiri dari jenis R.  apiculata, R. mucronata, dan jenis B. gymnorrhiza cukup rendah, yaitu sebesar 49,13  ton/ha dan 24,56 ton C/ha, atau setara dengan 90,16 ton CO2 /ha.
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN SEBAGAI PESTISIDA ALAMI DI SAVANA BEKOL TAMAN NASIONAL BALURAN Dona Octavia; Susi Andriani; M.Abdul Qirom; Fatahul Azwar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.4.355-365

Abstract

Padang  rumput  mempunyai  fungsi  sebagai  tempat  penyedia  makanan  bagi  hewan,  terutama  mamalia herbivora besar, dan pusat aktivitas hewan seperti kawin, mengasuh, dan membesarkan anaknya, serta interaksi sosial lainnya. Selain itu, padang rumput juga merupakan habitat dari berbagai jenis tumbuhan yang berfungsi sebagai pestisida alami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan yang berfungsi sebagai pestisida alami di areal savana Bekol Taman Nasional Baluran. Pengambilan data  lapangan dilakukan dengan penentuan ukuran petak contoh, penentuan jumlah petak contoh serta analisis data kuantitatif yang meliputi kerapatan, frekuensi, dan Indeks Nilai Penting (INP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat tujuh spesies yang berfungsi sebagai pestisida alami dari 38 spesies tumbuhan yang ditemui di savana Bekol.  Ini berarti bahwa, 18% dari total jenis tumbuhan yang ada berfungsi sebagai pestisida alami.
lDENTIFIKASI JENlS MERANTI SUMATERA MELALUI SIFAT MORFOLOGI DAUN Marfu'ah Wardani
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.3.281-296

Abstract

Pengetahuan pengenalan jenis meranyi seperti Sharen  acuminata Dyer,  S  assamica   Dyer,  S. atrinervosa Sym. berdasarkan  sifat vegetatif   rnasih  terbatas pada pengalaman  lapangan.  Oleh karena itu    diperlukan sarana  pengenalan  jenis  yang mudah dipelajari  dan  dipraktekkan  melalui  sifat  morfologi daun dan alat vegetatif  lainnya.  Daun  adalah  bagian  utama dan pohon meranti yang  selalu  tersedia,  sehingga dengan melalui   pengetahuan  sifat  morfologi  daun diharapkan  dapat  membantu mengenal jenis meranti dengan mudah, cepat,  dan tepat. Penclitian   dilakukan  dengan menggunakan   spesrmen  herbarium  jenis meranti  yang tersimpan  di  herbarium   Pusat  Penelitian dan Pengembangan  Hutan dan Konservasi   Alam Bogor.  Tujuan penelitian  untuk  menguji   koefisienan   teknik  identifikasi berdasarkan  sifat  morfologi   daun dari 51  jenis meranti   (Shorea   spp.)  berasal   dari   Sumatera,  sehingga   dalam  mengidentifikasi   tidak  memerlukan pengarnatan sifat  morfologi  bunga dan buah.
KEMAMPUAN Avicennia marina (Forsk.) Vierh. DAN Rhizophora apiculata Bl. DALAM PENYERAPAN POLUTAN LOGAM BERAT Endro Subiandono; M. Bismark; N. M. Heriyanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.1.93-102

Abstract

Penelitian kemampuan tegakan mangrove dalam menyerap polutan logam berat Mn, Zn, Cr, dan Cd dilakukan terhadap Avicennia marina (Forsk.) Vierh. dan Rhizophora apiculata Bl. hasil rehabilitasi di kawasan tambak di Demak, Jawa Tengah dan kawasan pantai di Suwung, Bali. Bahan penelitian berupa air terpolusi, tanah, bagian tumbuhan mangrove, dan fauna air yang diambil dalam plot yang berjarak 0-500 m, 500-1.000 m, dan > 1.000 m dari sumber pencemar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air sungai untuk tambak dan air laut yang diteliti mempunyai kadar logam berat masih di bawah ambang batas, namun logam berat tersebut terakumulasi dalam tanah sedimen substrat tempat tumbuh A. marina dan R. apiculata. Perbandingan konsentrasi Mn, Zn, Cr, dan Cd dalam tanah tambak adalah 78 : 13 : 0,2 : 1, sedangkan di pantai 127 : 52 : 2,2 : 1. Penurunan konsentrasi rata-rata logam berat pada jarak 1.000 m dari sumber pencemar relatif kecil di kawasan tambak (12%) dan di pantai rata-rata mencapai 55%. Akumulasi Mn dan Zn tertinggi pada daun dan akar A. marina, Cr dan Cd tersebar merata pada bagian tumbuhan. Mn lebih terakumulasi pada bagian batang dan daun R. apiculata, sedangkan Zn tersebar merata di akar, batang, dan daun. Kemampuan menyerap keempat logam berat lebih baik pada R. apiculata. Selain itu diketahui bahwa parameter penentuan kemampuan penyerapan logam berat lebih baik berdasarkan kadar yang ada dalam daun. Rendahnya kadar logam berat dalam air sebagai hábitat fauna air mengakibatkan konsentrasi pada jaringan ikan bandeng (Chanos chanos (Forssk, 1775)), udang (Penaeus monodon Fabricius, 1798), dan kepiting (Uca pugnax (S.I. Smith, 1870) masih di bawah ambang batas.
PENGARUH UKURAN LUBANG TANAM DAN KOMPOS KOTORAN SAPI UNTUK PENANAMAN LAHAN KRITIS DI DAERAH SAVANA DI PULAU SUMBA I Komang Surata
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.2.147-157

Abstract

Rehabilitasi lahan kritis dengan cara revegetasi di daerah savana Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi permasalahan terutama tingkat pertumbuhan tanaman yang masih rendah. Hal ini karena tanahnya marginal yaitu mempunyai sifat kesuburan rendah, solum tipis (<20 cm), berbatu kapur, dan iklim kering Untuk mengatasi masalah ini maka perlu dilakukan perbaikan media tanam, salah satu dengan manipulasi lubang tanam dan pemberian media tanam yang subur dengan kompos kotoran sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pengaruh ukuran lubang tanam dan pemupukan kompos kotoran sapi terhadap pertumbuhan Eucalyptus camaldulensis Dehnh dan kesambi (Schleichera oleosa (Lour.) Merr) untuk penanaman lahan kritis di daerah savana Pulau Sumba. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Berblok pola faktorial dengan perlakuan ukuran lubang tanam yaitu 30 cm x 30 cm x 30 cm,  40 cm x 40 cm x 40 cm, 50 cm x 50 cm x 50 cm, dan dosis kompos kotoran sapi 0, 1, 2, 3, 4 kg/pohon. Penelitian terdiri tiga blok dan 25 ulangan yang dicobakan pada dua jenis tanaman yaitu E. camaldulensis dan kesambi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran lubang tanam tidak nyata dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi, pertumbuhan diameter, dan  persen  hidup tanaman E.  camaldulensis dan  kesambi. Pemanfaatan kompos kotoran sapi sebagai media tanam sebanyak 1,75 kg/pohon paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi,  pertumbuhan diameter, dan  persen hidup  E.  camaldulensis masing- masing sebesar 31%, 30%, dan 42%. Perlakuan kompos sebanyak 1,65 kg/pohon pada tanaman kesambi paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan tinggi, pertumbuhan diameter, dan persen hidup masing- masing sebesar 35%, 22%, dan 38%.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue