cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
KESUBURAN TANAH HUTAN HUJAN TROPIK DAN KESESUAIANNYA UNTUK BEBERAPA JENIS TANAMAN PERTANIAN PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR Ismayadi Samsoedin; I Wayan Susi Dharmawan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.5.505-512

Abstract

Pengetahuan tingkat kesuburan lahan hutan hujan tropik sangat diperlukan dalam mengembangkan tanaman pertanian untuk mendukung kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan, guna mengurangi tekanan atau intervensi masyarakat terhadap hutan. Penelitian dilakukan di lokasi hutan hujan tropik Hutan  Penelitian Bulungan, Kalimantan Timur pada hutan bekas tebangan berumur 5, 10, dan 30 tahun dengan pembanding hutan primer pada ketinggian 100-300 m dpl. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kesuburan tanah hutan pada hutan bekas tebangan berumur 5, 10, dan 30 tahun, guna mengetahui kelayakan lahan sekitar hutan untuk kemungkinan pengembangan tanaman pertanian. Penelitian dilakukan dengan mengambil contoh tanah pada lokasi hutan bekas tebangan berumur 5, 10, 30 tahun serta hutan primer untuk keperluan analisis dan penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian adalah Oxisols. Kesuburan tanahnya rendah sampai dengan sangat rendah untuk produksi tanaman pertanian, dengan tingkat kesesuaian lahan yang umumnya marginal (S3) atau tidak layak (N). Hasil ini menunjukkan bahwa lahan hutan produksi dengan ekosistem hutan hujan tropik dataran rendah  hanya  cocok  untuk mendukung kegiatan kehutanan.
KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI SARIBI, NUMFOR BARAT, PAPUA: BEBERAPA CATATAN Hadi Warsito; Sarah Yuliana
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.6.553-560

Abstract

Salah satu cara untuk mengurangi ancaman terhadap berkurangnya keanekaragaman hayati di wilayah pulau- pulau adalah perlunya dukungan informasi tentang komposisi jenis dan kemungkinan adanya satwa kunci untuk kemungkinan perlindungan secara budaya dan ekologis. Suatu penelitian dengan metode Timed Species Counts (TSCs) dilakukan di  Saribi, Pulau Numfor, Papua pada bulan November 2005 untuk memperoleh informasi tentang komposisi jenis burung yang ada dan mengamati kaitannya dengan aktivitas manusia dan habitatnya.  Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya 46 jenis burung dari 23 famili.  Jenis- jenis itu tersebar di tiga tipe lokasi yaitu hutan pantai, hutan peralihan, dan hutan primer.  Adanya aktivitas manusia pada tipe hutan tertentu diduga memberikan pengaruh pada komposisi jenis burung yang dijumpai. Satwa kunci yang dikenal secara budaya dapat memberikan peluang perlindungan terhadap habitat yang ada. 
INDIKATOR DAN PARAMETER KRITERIA LAHAN UNTUK MONITORING DAN EVALUASI KINERJA SUB-DAS Tyas Mutiara Basuki
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2014.11.3.281-297

Abstract

Indikator dan parameter untuk monitoring dan evaluasi (monev) kinerja daerah aliran sungai (DAS) yang ada saat ini cukup yang rumit, sehingga menyulitkan pelaksana di lapang. Untuk itu diperlukan indikator danparameter sederhana namun secara ilmiah dapat diterima.Studi ini ditujukan untuk mengevaluasi  indikator dan parameter kriteria lahan dari pedoman monev DAS yang sudah ada dan mendapatkan indikator danparameter yang lebih mudah penerapannya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan sub-DAS yang terletak dalam Kabupaten dominan, yaitu sub-DAS Samin. Penelitian ini mengevaluasi  kriteria lahan yang ada dibuku Pedoman Monev DAS yang dikeluarkan oleh Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Untuk menyederhanakan metode yang sudah ada, beberapa skenario  menggunakan beberapa indikator dan parameter dibuat untuk monev kinerja sub-DAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode yang diusulkan menggunakan Indeks Penutupan Lahan (IPL), pengelolaan lahan dan praktek konservasi tanah (CP) menghasilkan skor yang sama dengan metode yang telah ada. Selain itu, alternatif lain yang menghasilkan kategori yang sama adalah menggunakan indikator/parameter IPL, IKPL dan CP, namun penggunaan Indeks Kemampuan Penggunaan Lahan (IKPL) membutuhkan data yang relatif banyak. Evaluasi kinerja sub DAS Samin dengan menggunakan indikator dan parameter dari metode yang sudah ada dan metode yang diusulkan menunjukkan hasil yang sama yaitu kinerja sub-DAS Samin dikategorikan agak buruk.
PENGGUNAAN HERBISIDA MONOAMONIUM GLIFOSAT UNTUK PENGENDALIAN GULMA DI BAWAH TEGAKAN Acacia mangium Willd. DI PARUNG PANJANG, JAWA BARAT Muhammad Nazif; Ari Wibowo
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.1.37-52

Abstract

Ujicoba    telah   dilakukan  di  Parung Panjang,  Jawa   barat  untuk mengetahui  efektivitas herbisida monoamonium  glifosat dalam mengendalikan  gulma di bawah tegakan Acacia mangium Willd. Percobaan dilaksanakan  melalui   aplikasi  herbisida  monoamonium  glifosat  dengan dosis  3, 4,5, 6 dan 9 liter per ha serta  membandingkannya   dengan herbisida   glifosat  up 4,5  liter  per  ha, perlakuan   manual  dan  kontrol (tanpa perlakuan). Hasil percobaan menunjukkan  bahwa herbisida monoamonium glifosat  dapat digunakan sebagai  sarana pemeliharaan   tanaman  kehutanan dari ganggua gulma di bawah  tegakan Acacia mangium Willd.  Selanjutnya  herbisida monoamonium  glifosat  dengan  minimum dosis  4,5  liter/ha efektif untuk mengendalikan   gulma lmperata cylindrica Beauv.,  Borreria latifolia DC.  clan Mikaniamicrantha Will. Meskipun   demikian  herbisida ini tidak  efektifuntuk  mengendalikan   pertumbuhan  gulma Chromolaena odorata DC.  Pada  tanaman  Acacia mangium Willd.  tidak tampak  gejala  keracunan  akibat  penggunaan herbisida  monoamonium   glifosat  pada  semua  tingkat  osis  yang  dicobakan.
PENDUGAAN ASOSIASI INTERSPESIFIK DAN PENGELOMPOKAN TIPE HADITAT BEBERAPA JENIS AMFIBI (ORDO : ANURA Raflnesque, 1815) Sarah Yuliana; Mirta Dikari Kusrini; Herman Remetwu
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.2.189-196

Abstract

Interaksi antar spesies mahluk hidup merupakan dasar awal dari banyak karakteristik dalam komunitas ekologi. Interaksi ini akan mempengaruhi distribusi dan keadaan internal suatupouplasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan asosiasi interspesifik dan pengelompokan terhadap tipe habitat pada sejumlah jenis amfibi (ordo anura). Metode yang digunakan untuk pengumplan data adalah Visual ncounter Survey, sedangkan pendugaan asosiasi dan pengelompokan habitat satwa dilakukan dengan perhitungan indeks Asosiasi Interspesifik dan Indeks Similaritas Jaccard. Hasil yang diperoleh menunjukan adny 13 jenis anura yang tersebar dihampir seluruh lkasi pengamatan . Pendugaan terhadap asosiasi interspesifik menghasilkan 4 kelompok jenis yang berasosisasi berdasarkan kesamaan lokasi penjumpaan, yaiut kelompok yang dijumpai di areal persawahan, kelompok yang sering mengunjungi daerah pemukiman manusia dan daerah yang terganggu walau dapat hidup dihutan primer dan sekunder, kelompok jenis yang sering ditemukan didaerah hutan primer dan sekunder , atau pada badan-badan air alami seperti sungai, kolam atau rawa alami, serta kelompook jenis yang hanya dijumpai di daerah tegakan (dalam kasus ini arboretum Fahutan). Pendugaan terhadap pengelompokan tipe habitat yang diamati menunjukan 3 kelompok tipe habitat berdasarkan kesamaa sifat fisik, yaitu kelompok lokasi berupa badan air permanen, kelomopk badan air temporal, dan kelompok lokasi tanpa badan air. Dari hasil penelitian jenis Rhacoporus reindwarditii Schlegel (1840) menunjukan lokasi dengan tingkat gangguan manusi yang rendah, jenis Bufo melanostctus (1799) menjadi indikator adanya pengaruh 
PENERAPAN MODEL ANSWERS UNTUK PENDUGAAN LIMPASAN DAN HASIL SEDIMEN PADA SUB DAS KAWASAN HUTAN PINUS DI GOMBONG, JAWA TENGAH: STUDI PENDAHULUAN Agung B. Supangat; Sukresno Sukresno
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.5.409-422

Abstract

Perencanaan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia saat ini masih menggunakan pendekatan model USLE (Universal Soil Loss Equation) dalam penilaian kekritisan lahan.  Kelemahan model ini adalah hanya mampu memperkirakan besaran erosi, dan kurang memperhitungkan kondisi hidrologis secara detail. Oleh karenanya, diperlukan jenis model hidrologi lain yang dapat diterapkan secara lebih tepat dan akurat untuk menutupi kelemahan model yang ada, seperti model ANSWERS (Areal Nonpoint Source Watershed Environment  Response  Simulation).    Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menguji  model  ANSWERS  untuk menduga erosi dan limpasan permukaan di sub DAS kawasan hutan pinus.  Penelitian dilakukan di sub DAS Watujali dan  Silengkong, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen.    Hasil  t-test  menunjukkan bahwa limpasan langsung aktual (Q-act) dan prediksi (Q-prd) tidak berbeda nyata, namun memiliki selisih yang cukup besar. Sub DAS Watujali menunjukkan besarnya nilai Q-prd 576,0 mm; Q-act 494,5 mm; Besarnya erosi tanah perkiraan (E-prd) 1,21 ton/ha; dan erosi tanah aktual (E-act) 2,95 ton/ha. Di sub DAS Silengkong menunjukkan besarnya  Q-prd 938,4 mm; Q-act 845,4 mm; erosi tanah prediksi 10,12 ton/ha; erosi tanah aktual sebesar 6,09 ton/ha.   Hasil tersebut mengindikasikan bahwa model ANSWERS belum dapat memberikan informasi yang  akurat dalam perencanaan pengelolaan DAS.  Sebelum dilakukan simulasi, disarankan adanya penambahan pasangan data kejadian hujan dan aliran untuk menjalankan model, sehingga hasil kalibrasi dan verifikasi model lebih sempurna. Dalam rangka mengeliminasi pengaruh distribusi curah hujan, disarankan untuk menambah stasiun curah hujan sehingga dapat meningkatkan akurasi data.  Sebagai penutup, studi ini baru merupakan studi awal dalam rangka implementasi model ANSWERS untuk simulasi perencanaan pengelolaan DAS.
POLA PEMANFAATAN LAHAN MASYARAKAT DI DARRAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKITTIGAPULUH, PROVINSI JAMBI Wanda Kuswanda
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.3.249-258

Abstract

lnformasi  pemanfaatan lahan oleh masyarakat  lokal merupakan  aspek penting  yang  harus diketahui di dalam menyusun rencana pengelolaan zona  penyangga di  taman  nasional.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepemilikan dan pola pernanfaatan lahan di Zona Penyangga Taman Nasional Bukit  Tigapuluh. Data  dikurnpulkan melalui   penyebaran kuesioner, wawancara, dan pengamatan secara deskriptif,   selanjutnya dianalisis  secara kuantitatif  menggunakan  tabel frekuensi.  Masyarakat  di  lokasi  penelitian (Desa Lubuk Kambing dan Sungai   Rotan)  secara  umum  menggarap lahan pribadi/hak milik dengan luas  rata-rata  sekitar 3 ha/responden yang berasal  dan rnembuka hutan   35%, warisan orang  tua 8,33 % dan lainnya. Pemanfaatan lahan oleh   masyarakat  lokal untuk areal perkebunan, pertanian (ladang dan  sawah) dan  keperluan  lainnya (pekarangan rumah dan jalan). Hasil   pengelolaan  lahan  dimanfaatkan untuk dijual   (48,33%) dan  dikonsumsi (20%).
PERSAMAAN ALOMETRIK DAN CADANGAN KARBON VEGETASI PADA HUTAN GAMBUT PRIMER DAN BEKAS TERBAKAR I Wayan Susi Dharmawan; Bambang Hero Saharjo; Supriyanto Supriyanto; Hadi Susilo Arifin
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.2.175-191

Abstract

Biosekuestrasi atau penyerapan karbondioksida oleh vegetasi merupakan salah satu pengelolaan cadangan karbon yang penting untuk digarisbawahi dalam setiap pertemuan internasional, tetapi ketersediaan data tersebut masih kurang lengkap dan tersebar. Data cadangan karbon dari vegetasi dan tanah gambut sangat penting untuk mengurangi variasi pendugaan stok karbon di hutan gambut. Tujuan penelitian ini adalah untuk memformulasikan persamaan alometrik dalam pendugaan biomassa pohon di hutan gambut primer dan bekas kebakaran serta untuk menganalisis cadangan karbon vegetasi di hutan gambut primer dan bekas kebakaran. Penelitian dilakukan di hutan gambut primer (HGP), hutan gambut bekas terbakar berulang tiap tahun (HG1), hutan gambut bekas terbakar setelah tiga tahun (HG3), dan hutan gambut bekas terbakar setelah delapan tahun (HG8). Klaster plot dibuat di setiap hutan gambut primer dan bekas kebakaran yang mewakili periode kondisi setelah kebakaran dan hutan gambut tidak terganggu. Setiap klaster terdiri dari empat subplot lingkaran (jari-jari 7,32 m) dan empat annular lingkaran (jari-jari 17,95 m). Jumlah total adalah 16 subplot lingkaran serta 16 annular lingkaran. Data cadangan biomassa karbon dikumpulkan dalam plot-plot tersebut.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menduga biomassa total pada keseluruhan klaster, maka persamaan alometrik yang paling tepat adalah Y = 0,061 (DBHxρxT)1,464. Persamaan alometrik umum keseluruhan klaster tersebut digunakan untuk pengguna di lapangan dalam menghitung cadangan biomassa karbon tegakan.  Persamaan umum ini dapat digunakan karena semua klaster penelitian memiliki wilayah zona iklim curah hujan sebesar 2.621-3.339 mm/tahun yang termasuk dalam zona iklim moist 1.500-4.000 mm/tahun (Brown et al., 1989).  Masing-masing persamaan alometrik tiap klaster yang diperoleh dari hasil penelitian ini digunakan untuk menduga cadangan biomassa karbon tegakan tiap klaster.  Persamaan alometrik terpilih penduga biomassa total untuk hutan gambut primer adalah Y = 0,040 (DBHxρxT)1,524; untuk hutan gambut bekas terbakar berulang tiap tahun adalah Y = 0,098 (DBH)2,350; untuk hutan gambut bekas terbakar setelah tiga tahun adalah Y = 0,084 (DBHxρxT)1,376; untuk hutan gambut bekas terbakar setelah delapan tahun adalah  Y = 0,024 (DBHxρxT)1,667. Cadangan karbon total yang merupakan jumlah dari tumbuhan bawah, semai, pancang, tiang, dan pohon adalah sebesar 73,08 tonC/ha di HGP; 4,93 tonC/ha di HG1; 13,64 tonC/ha di HG3; dan 26,13 tonC/ha di HG8.
AKUMULASI BIOMASSA KARBON PADA SKENARIO HUTAN SEKUNDER DI MARIBAYA, BOGOR, JAWA BARAT Chairil Anwar Siregar; N. M. Heriyanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.3.215-226

Abstract

Penelitian ini dilakukan dari tahun 2002 sampai tahun 2005 di Maribaya, Bogor, bertujuan untuk memperoleh informasi tentang akumulasi biomassa karbon pada skenario hutan sekunder. Pada plot tertutup (pagar bambu, tanpa pemanfaatan oleh masyarakat) kandungan karbonnya meningkat dari 2,87 ton C/ha (tahun 2002) menjadi 17,28 ton C/ha (tahun 2005). Pada plot terbuka (tanpa pagar bambu, dimanfaatkan oleh masyarakat) kandungan karbonnya meningkat dari 1,81 ton C/ha (tahun 2002) menjadi 11,96 ton C/ha (tahun 2005). Sedangkan tumbuhan bawah kandungan karbonnya berturut-turut sebesar 2,43 ton C/ha dan 2,83 ton C/ha. Selisih akumulasi karbon pada plot tertutup dan terbuka yaitu sebesar 3,86 ton C/ha, dianggap sebagai kebocoran (leakage) dalam proyek sejenis. Kandungan karbon rata-rata pada hutan sekunder yang dijadikan base line pada kawasan hutan tanaman Acacia mangium Willd. di Maribaya yaitu sebesar 17,25 ton C/ha atau setara dengan 63,31 ton CO /ha. Kandungan karbon A. mangium berumur empat tahun di Maribaya sebesar 31,41 ton C/ha atau setara dengan 115,29 ton CO2 /ha. Bila dibandingkan dengan kandungan karbon base line di tempat yang sama, ada selisih sebesar 14,16 ton C/ha setara dengan 51,97 ton CO2/ha. Persamaan alometri antara biomassa bagian atas tanah dengan diameter ialah Y = 0,1769 X 2,0501  (R2  = 0,78), antara biomassa batang dengan diameter ialah Y = 0,1147 X 1,9238  (R2  =  0,65), antara biomassa akar dengan diameter ialah Y = 0,0203 X 2,1291  (R2  = 0,63) dan antara biomassa total dengan diameter ialah Y = 0,1969X = 0,72)
STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN ZONA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH Wanda Kuswanda; Abdullah Syarief Mukhtar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.5.491-504

Abstract

Pengelolaan zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) belum optimal karena kurangnya koordinasi dan sosialisasi antar lembaga terkait. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan  informasi tentang faktor penghambat utama dan strategi untuk mengembangkan kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya alam di zona penyangga TNBT. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner untuk masyarakat dan stakeholder. emua penilaian responden diolah dengan sistem Analytic Hierarchy Process (AHP)menggunakan program expert choice dan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penghambat utama adalah kurang jelasnya batas dan fungsi zona penyangga (nilai  =  0,357, artinya 35,7% ha] tersebut dinilai sebagai penghambat pengembangan kelembagaan zona penyangga) dan tingkat ekonomi dan peranserta masyarakat yang masih rendah (0,289). Altematif strategi untuk mengembangkan kelembagaan adalah pembinaan dan pemberdayaan berbagai stakeholder terkait (0,436), penataan kembali status dan peruntukan lahan untuk kawasan lindung dan budidaya di daerah penyangga (0,323), dan menciptakan kesempatan usaha pada masyarakat (0,241). Program yang dapat dikembangkan di antaranya adalah mendayagunakan Badan Pengelola Multi Stakeholder (BPMS), meningkatkan kapasitas dan wawasan sumberdaya manusia, rasionalisasi batas kawasan dan zonasi TNBT.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue