Articles
1,559 Documents
PRODUKTIVITAS DAN BIAYA TRAKTOR PERTANIAN UNTUK PENGANGKUTAN BIBIT DALAM PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI
Dulsalam Dulsalam
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 10 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1996.14.10.433-443
Paper ini menyajikan hasil penelitian tentang penggunaan traktor pertanian untuk pengangkutan bibit di perusahaan pembangunan hutan tanaman industri di Sumatera Selatan pada tahun 1991. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan traktor pertanian untuk pengangkutan bibit. Data jumlah bibit, jarak angkut dan waktu kerja serta upah pekerja dikumpulkan.Hasil penelitian adalah sebagai berikut :Traktor pertanian yang dilengkapi trailer adalah cocok untuk mengangkut bibit dari tempat persemaian ke tempat penanaman.Bibit-bibit yang akan diangkut diletakkan pada kotak kayu yang dibuat untuk mempermudah pemuatan dan pembongkarannya dan menghindari kerusakan bibit selama pengangkutan.Trailer pada traktor pertanian dapat dimuati 20 kotak bibit yang terdiri dari 1.200 bibit. Produktivitas traktor pertanian berkisar antara 7.362 bibit - km/jam sampai 13.488 bibit - km/jam dengan rata-rata 10.032 bibit - km/jam.Biaya traktor pertanian untuk pengangkutan bibit berkisar antara Rp. 3,01,-/bibit - km sampai Rp. 5,51,-/bibit - km dengan rata-rata Rp. 4,10,-/bibit - km.Traktor pertanian dapat digunakan untuk pengangkutan bibit pada medan berat dan jalan becek.
PENGERINGAN ALAMI DAN BUATAN SEPULUH JENIS KAYU NUSA TENGGARA BARAT (Air drying and kiln drying properties of 10 wood species from Nusa Tenggara Barat)
Efrida Basri;
Syarif Hidayat
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 3 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1993.11.3.122-127
This report presents result of a study on air drying properties and kiln drying schedule of ten wood species from Nusa Tenggara Barat. the study was carried out based On data from quick drying test. The result shows that, the quality of almost all of the species dried using air drying method are inferior compared with that obtained from kiln drying. the ten wood species used in the study can be grouped into four drying schedules, ringin, kabaukafa, sabaha and niu can be grouped into schedules 1 (easy to dry), katowi and kencari schedule 2, whereas red monggo and konca schedule 3, and mongo schedule 4 (difficult to dry).
Mempelajari cara pemisahan ω-hidroksi dan n-asam lemak dengan menggunakan Kromatografi cair kinerja tinggi
Bambang Wiyono;
P J Jordan;
Poedji Hastoeti
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 2 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2000.18.2.111-121
Penelitian ini bertujuan untuk mencari kondisi yang cocok untuk memisahkan ω-hidroksi dan n-asam lemak tanpa derivitasi dengan menggunakan metode Kromatografi cairan kinerja tinggi. Dalam kromatografi cair kinerja tinggi digunakan kolom RP-18 Brownlee, fase bergerak campuran THF dan CH3OCN, metode isokratik, dilakukan pada suhu kamar, kecepatan alir 1 ml/mn, menggunakan detektor UV dengan panjang gelombang 215 nm dan sensitivitasnya 0,5 AUFS. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan persentase air dalam fase bergerak meningkatkan waktu retensi n-asarn lemak dan ω -hidroksi asam lernak, n-asam lemak dapat dipisahkan dengan baik bila menggunakan kondisi di atas dan menggunakan fase bergerak yang mengandung air sekitar 25-35 bagian. Sedangkan ω-hidroksi asam lemak dapat dipisahkan dengan baik dengan menggunakan fase bergerak yang mengandung air minimal 49 bagian berdasarkan volume.
PENGAWETAN TUJUH BELAS JENIS KAYU SECARA RENDAMAN DINGIN DENGAN BAHAN PENGAWET BFCA (Cold Soaking Treatment of Seventeen Wood Species Using BFCA Preservative)
Sasa Abdurrohim;
Barty Barty
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 4 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1993.11.4.137-143
Wood samples of 17 species measuring 5 cm x 5 cm x 30 cm were treated with BFCA preservative by cold soaking treatment were 1, 3 and 5 days with preservative concentration of 5 and 10 percent.Taking retention and penetration requirements into consideration for wood uses under roof and in the Open air, both .Without ground contact, the resulls that seven wood species could be satisfactorily treated under the experimental conditions. However, it is important to note that three of the seven species, i.e. tumbawa (Dysoxylum sp.), cempaka (Ehmerilla ovalis) and merawan (Hopeasp.) falfilled only the requirements for wood usage under the roof without ground contact. The treatment schedule proposed for the seven wood species is also presented in this paper.
PENGARUH KONSENTRASI ASAM DALAM PEMBUATAN GONDORUKEM MALEAT TERHADAP RENDEMEN DAN SIFAT FISIKO-KIMIANYA
Bambang Wiyono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 3 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2002.20.3.207-215
Rosin is a mixture of abietic and pimaric acids with small amount of neutral materials. By modifying these acids could widen its utilizations. One of modified rosin is maleic rosin. This study is intended to find out the effect of acid concentration on yield and maleic rosin physico-chemical properties. The research target is to determine a proper condition for manufacturing of maleic rosin which could fulfill the standard requirements.The manufacturing of maleic rosin was carried out by elevating the temperature to 160 - 170 °C and maintained it at this temperature for 2-3 hours. Maleic acid that was used in the process consisted of 0 %, 2%. 4%, 6% and 8%. The physico-chemical properties of the maleic rosin produced was analysed. As raw materials. this experiment utilized rosin from North Sumatra (WW quality) and rosin from East Java (WG quality). The phsyco-chemical properties of the products were then analysed. The data were analysed by using factorial random design, and the different value between means was calculated with Tukey procedure by the SAS computer package.The results showed that the increase in maleic acid concentration caused to increase in yield, softening points. acid value. and saponification value of maleic rosin. The ash content value, however, did not exhibit certain tendency when maleic rosin were produced under the experimental condition applied. Rosin from East Java with WW quality produced maleic rosin higher softening point and saponification value than that of from North Sumatra with WG quality. Based on its softening point and dirt content, manufacturing maleic rosin with acid concentration 2 % in this experiment produced maleic rosin which could meet the requirement of second quality for Chinesse maleic rosin.
PENGARUH METODE DAN WAKI'U PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN SIFAT FISIKO KIMIA MINYAK KENANGA
Bambang Wiyono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 1 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1990.7.1.25 - 27
This paper described the study on the effect of distilling time and methods on yield and pysiocheical properties of cananga oil. The distillation methods applied were water distillation an water steam distillation with the distilling time being 8, 16, and 24 hours, consecutively. The results were analysed using the randomized completely block design, and the difference between means were tested with the Least Significant Difference method.The results showed that the distilling method appeared to have significant effect on the saponification and ester numbers whereas, the oil yield was significantly increased with prolonged distilling time. Water distillation method produced higher quality of cananga oil than that produced by the water-steam distillation one. This was indicated by a higher ester number of the oil obtained by the water distillation.
PENGAWETAN TUJUH JENIS KAYU SECARA RENDAMAN PANAS DINGIN DENGAN BAHAN PENGAWET IMPRALIT 16 SP DAN IMPRALIT CKB
Sasa Abdurrohim
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1997.15.4.312-322
Bagan pengawetan bagi kayu Indonesia yang diawetkan secara rendaman panas dingin menggunakan bahan pengawet yang masih diizinkan baru diperoleh pada beberapa jenis saja. Penelitian lanjutan terhadap jenis kayu lain menggunakan berbagai bahan pengawet perlu dilakukan.Tujuh jenis kayu dalam keadaan kering udara berukuran 5 cm x 5 cm x 50 cm, diawetkan dengan proses rendaman panas dingin menggunakan bahan pengawet lmpralit 16 SP don lmpralit CKB dengan konsentrasi larutan 5 % dan 10 %. Lama rendaman panas yang digunakan 1 jam dan 3 jam dengan suhu antara 65 °C - 70 °C yang masing-masing diikuti rendaman dingin I hari.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tujuh jenis kayu yang diteliti, Lima jenis, yaitu damar,rengas, sengon, sumpung dan tusam, dapat diawetkan dengan kedua jenis bahan pengawet, sedangkan dua jenis kayu lainnya, yaitu melina dan suren, tidak ada yang mencapai persyaratan yang ditentukan. Dari percobaan ini dapat disusun bagan pengawetan yang dianjurkan untuk kelima jenis kayu tersebut.
ANALISIS EKONOMI TEBANG PILIH TANAM INDONESIA (TPTI) DAN TEBANG JALUR TANAM INDONESIA (TJTI) DALAM PEMBANGUNAN KEHUTANAN DI LUAR JAWA
B D Nasendi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 3 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1996.14.3.100-114
Demand side economic analysis or the so called market approach economic analysis was conducted to evaluate the Indonesian Selective Cutting and Planting System (IPTI) and its complementary technique called TJTI (Indonesian Strip Cutting and Planting System) at PT. ITCI (International Timber Corporation Indonesia) Forest Concession Management and Operations in East Kalimantan.The analysis proved that the logs produced and marketed both with TPTI and TJTI systems of forestry operations and practices in East Kalimantan, one of the Indonesian Outer Java Inslands rich tropical forest archipelagoes is viable and economically feasible to maintain the sustainable production and marketing. However, further research is needed to evaluate the resource and supply side economic analysis including sustainable forest resource management, minimum and maximum management unit sizes of both TJTI and TPTI and its sustainability in terms of production, socio-economic and ecological-biophysical.Key words: Economic analysis, TPTI, TJTI and Sustainable Forest Management.
POTENSI DAN BIAYA PEMUNGUTAN LIMBAH PENEBANGAN KAYU MANGIUM SEBAGAI BAHAN BAKU SERPIH
Sukadaryati Sukadaryati;
Dulsalam Dulsalam;
Osly Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2005.23.4.327-337
Pemanfaatan kayu di hutan sampai saat ini masih dirasakan belum optimal, terbukti masih tingginya limbah kayu dari kegiatan permanenan. Limbah yang terjadi dari pohon yang ditebang sampai dengan diameter batang minimum 15 cm adalah sebesar 57%. Oleh karena itu langkah-langkah pengelolaan hutan menuju zero waste perlu dilakukan. Salah satu cara untuk meningkatkan pemanfaatan hutan tanaman adalah memanfaatkan limbah penebangan hutan tanaman menjadi bahan baku serpih. Penelitian potensi dan biaya pemungutan limbah penebangan kayu mangium (Acacia mangium) telah dilakukan di BKPH Parungpanjang, KPH Bogor pada tahun 2002. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata potensi dan biaya pemungutan limbah penebangan kayu mangiu sebagai bahan balm serpih adalah 0,079 m3/pohon atau 15,4% dan Rp. 15.250/sm. Potensi limbah penebangan mangium sebagai bahan baku serpih yang layak diusahakan adalah sebesar 8,33 sm/ha atau 4,444 m3/ha. Sementara itu harga pokok limbah kayu mangium adalah sebesar Rp. 23.375/sm.Dukungan pemerintah sangat diperlukan dalam bentuk kebijakan yang dapat mendorong kembali masyarakat sekitar hutan untuk memanfaatkan limbah penebangan kayu dari hutan tanaman sebagai bahan baku serpih. Kebijakan tersebut berupa kemudahan dalam memperoleh limbah kayu dengan harga sesuai besarnya biaya eksploitasi dan menetapkan harga dasar serpih yang tidak terlalu tinggi.
IDENTIFIKASI JENIS KAYU PERDAGANGAN DAN KURANG DIKENAL YANG DIPERDAGANGKAN DI SURABAYA
Nenny Sumarliani
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 1 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1992.10.1.29-33
Survey of commercial and lesser known wood species marketed in Surabaya has been conducted. The survey result from several companies shows that there are 21 commercial wood species represented by 10 families and 10 trade names. The trade name used in Surabaya is similar to those listed in the official Indonesian Timber nomen clature. A tentative identification key of the above wood species is presented in this paper.