cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 1,559 Documents
PEMANFAATAN SERBUK GERGAJI LIMBAH INDUSTRI SEBAGAI KOMPOS Sri Komarayati
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 9 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3421.857 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1996.14.9.337-343

Abstract

Tulisan ini menyajikan hasil percobaan pengomposan serbuk gergaji dengan sasaran menemukan suatu cara yang efisien untuk memproduksi kompos dari serbuk gergaji dicampur dengan mikroorganisme efektif, kotoran ayam dan air dalam dua macam perlakuan:- Serbuk gergaji setebal 15 cm ditumpuk di atas permukaan tanah, diselang-selingi dengan inokulum EM4 dan kotoran ayam.- Serbuk gergaji yang telah dicampur dengan inokulum, kotoran ayam dan air, kemudian dimasukkan ke dalam karung dan ditutup. Sebulan sekali karung dibuka dan campuran tadi diaduk. Kedua perlakuan tersebut dibiarkan selama empat bulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah C/N masih tinggi, kecuali untuk perlakuan pertama yaitu serbuk gergaji kayu karet nisbah C/N adalah 19,94 (kurang dari 20). Kadar lignin serbuk gergaji kayu pinus pada perlakuan kedua menurun sebesar 6,8 % dan pada perlakuan pertama mengalami penurunan sebesar 8,5 %. Sedangkan kadar lignin kompos serbuk gergaji kayu karet pada perlakuan kedua dan perlakuan pertama menurun sekitar 13,2 % dan 17,7 %. Kompos dapat dibuat dari serbuk gergaji melalui perombakan oleh mikroba, akan tetapi memerlukan waktu yang lama dan cukup penambahan sumber nitrogen.
DERAJAT PUTIH DAN KETEGUHAN TARIK BAMBU (Gigantochloa apus) SETELAH MENGALAMI PROSES PEMUTIHAN Zulnely Zulnely; Erik Dahlian
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1799.785 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2000.17.3.134-139

Abstract

Bambu tali (Gigantochloa apus) mempunyai serat yang ulet da ruas yang panjang,  sehingga bambu ini banyak digunakan sebagai bahan kerajinan anyaman. Untuk meningkatkan kualitas bahan kerajinan anyaman salah satunya dengan cara meningkatkan kecerahan warna bambu melalui pemutihan.Dalam percobaan ini dilakukan pemutihan dua buah bambu yang berbeda umur panennya. dengan tiap bambu dibedakan bagian ujung. tengah dau pangkal. Untuk pemutihan bambu digunakan larutan hidrogen peroksida (H2O) dan data yang diperoleh diolah dengan petak terbagi berpola faktorial. Faktornya adalah umur dalam taraf 6 bulan dan 1 tahun serta bagian tanaman dalam dalam taraf ujung, tengah, dan pangkal.Dari percobaan diperoleh nilai derajat putih yang tinggi pada bambu umur panen 6 bulan dan kekuatan tarik yang tinggi pada bambu umur panen 1 tahun. Hasil pemutihan bagian bambu umur panen 6 bulan adalah untuk bagian ujung dan tengah.  bambu mempunyai nilai derajat putih yang tinggi sedangkan bagian pangkal mempunyai kekuatan tarik yang tingg. Dari pemutihan bagian bambu umur panen  1 tahun diperoleh nilai derajat putih yang tinggi pada bagian ujung dan pangkal, sedangkan untuk kekuatan tariknya tidak terdapat perbedaan.
EFEKTIVITAS BAHAN PENGISI KAYU PADA TIGA JENIS KAYU Jamal Balfas; Efrida Basri; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.623 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2018.36.2.113-128

Abstract

Penggunaan wood filler adalah sangat penting dalam pekerjaan finishing kayu.  Namun wood filler komersil yang tersedia di pasar dewasa ini umumnya terbuat dari resin yang menggunakan pelarut kimia, seperti poliuretan dan nitroselulosa.  Produk ini mengandung bahan yang dapat melepas polutan, yang dapat merusak lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan.  Dalam penelitian ini dilakukan eksplorasi penggunaan dan performa bahan wood filler alternatif dan komersial.  Wood filler alternatif dalam penelitian ini dibuat dari campuran tepung dempul dengan resin organik yaitu sirlak, akrilik dan polivinil asetat.  Performa wood filler alternatif diuji secara fisis, mekanis dan kimia pada kayu tusam, jabon dan karet, serta dibandingkan dengan performa bahan dempul komersial, yaitu nitroselulosa.  Contoh uji ketiga jenis kayu dilabur dengan larutan wood filler kemudian dikeringkan.  Perubahan berat dan dimensi contoh uji akibat laburan ditentukan pada kondisi basah dan kering.  Ketahanan film wood filler terhadap pereaksi kimia dan pelarut diuji menurut prosedur ASTM.  Ketahanan gores pada film wood filler diuji untuk mengetahui sifat mekanis dari formula wood filler.  Kedekatan warna antar perlakuan wood filler  dengan warna kayu kontrol dievaluasi dengan menggunakan prosedur Cielab.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan berat dan perubahan dimensi akibat laburan wood filler beragam menurut jenis kayu.  Contoh kayu tusam mengalami perubahan berat dan dimensi lebih besar daripada kayu jabon dan karet.  Semua formula dempul organik mampu melindungi kayu dari intrusi air, setara dengan wood filler  komersial (WF).  Formula wood filler organik memiliki ketahanan gores lebih tinggi, ketahan lebih rendah terhadap larutan kimia serta penampilan warna lebih baik daripada wood filler komersial (WF).      
KEADAAN JALAN DI DAERAH HUTAN NON-JATI JAWA TENGAH DAN POTENSINYA DALAM AKSELERASI EROSI TANAH Djaban Tinambunan
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 1 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3897.052 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.1.29 - 36

Abstract

An investigation on forest     road  conditions  in  non-teak forests    of Kedu  Utara and kedu selatan  Forest  Districts and their soil erosion  potentials   was conducted in early  1992.  The samples  of roads investigated  were  6 segments  in kedu   Utara and other 6 segments in Kedu selatan  in Kedu  Selatan,  each of 50 m long, Forest areas distribution and road inventory  were also investigated  and collected.     It is found  that forest  sections  in both forest  districts  are spread in  several regencies    and each section  consisted  of several relative small areas   scattered in many   locations  which are seperated by villages and other  land uses. This condition becomes the constraint in practicing good forest management in the area. The total  area  used for    rood  infrastructure (combined    graveled forest roads and public  roads)  in  Kedu utara and kedu selatan are 8.30 ha (0.03%) and 60.62 ha (0.14%) respectively.   This means that an average  land lost due to roading is only 0.08%.All factors in the universal soil loss equation (USLE) for the non- teak forest areas of kedu utara and kedu selatan are in the level of high scores in terms of soil erosion acceleration potential. It is noticed in the field that many segments of forest roads have been seriously eroded, especially along the berms and ditches, and on the fill and cut sections. Better planning and construction practices of forest roads are necessary to avoid forest land damage due to soil erosion.
PENGARUH JUMLAH LAPISAN TERHADAP SIFAT BAMBU LAMINA l M Sulastiningsih; Nurwati Nurwati; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 9 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4080.623 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1996.14.9.366-373

Abstract

Bambu merupakan hasil hutan non kayu, banyak dijumpai dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Dalam rangka peningkatan mutu dan pemanfaatan bambu untuk bahan bangunan, telah dilakukan penelitian sifat fisis dan mekanis bambu lamina yang dibuat dari bambu betung (Dendrocalamus asper) dengan variasi jumlah lapisan (2, 3, 4 dan 5 lapis) yang direkat dengan perekat urea formaldehida cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis bambu lamina dari bambu betung tidak dipengaruhi oleh jumlah lapisan kecuali keteguhan rekat berdasarkan uji geser tarik dalam keadaan kering (makin banyak jumlah lapisan makin tinggi keteguhan tarik). Sifat perekatan bambu lamina dari bambu betung cukup baik dan memenuhi standar Jepang untuk uji delaminasi. Berdasarkan nilai kerapatan, keteguhan lentur statis dan keteguhan tekan, bambu lamina betung setara dengan kayu kelas kuat II.
PENGOLAHAN TIGA JENIS ROTAN DENGAN MENGGUNAKAN BERBAGAI KOMPOSISI CAMPURAN MINYAK PEMASAK Abdul Hakim Lukman; Zulnely Zulnely
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3618.128 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2000.17.3.169-177

Abstract

Pengolahan tiga jenis rotan dari Jawa Barat yaitu rota pelah (Daemonorops rubra BI.), rotan seel (D. melanochaetes BI) dan rotan seuti (Calamus ornatus BI) dengan cara menggorengnya di dalam campuran minyak tanah dan minyak kepala sawit pada perbandingan 4:0; 4:1; 4:2; dan 4:3. Kondisi penggorengan adalah suhu pemanas 130ºC dan lamanya 20 menit. Tujuan dari penelitian ini untuk mencari komposisi campuran minyak kelapa sawit da minyak tanah sebagai minyak penggoreng rotan yang terbaik.Hasil percobaan menunjukkan bahwa komposisi minyak penggoreng memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat jenis, kadar air, keteguhan lentur statis danketeguhan tekan sejajar serat. Sedangkan untuk jenis rotan hanya berpengaruh pada berat jenis saja. Dari percobaan jg diperoleh bahwa berat jenis rotan seuti (0,51) lebih tinggi dibandingkan dengan rotan pelah 0,44) dan rotan seel (0,47). Kondisi penggorengan yang baik diperoleh pada campuran minyak tanah dan minyak kelapa sawit dengan perbandingan 4:2. Pada kondisi tersebut dihasilkan rotan dengan sifat-sifat tertentu yaitu berat jenis (0,46; 0,51; dan 0,50 berturut-turut untk jenis rotan pelah, seel, dan seuti; kadar air (13,58%; 13,85% dan 13,26% untuk pelah, seel, dan seuti); keteguhan lentur statis (249,46 kg/cm2 , 313,43 kg/cm2, dan 292,19 kg/cm2 untuk pelah, seel, dan seuti); dan keteguhan tekan serta (212,96 kg/cm2, 245,42 kg/cm2, dan 205,41 kg/cm2 untuk pelah, seel, dan seuti). Disarankan untuk menggoreng rotan dengan campuran minyak tanah dan minyak kelapa sawit menggunakan perbandingan 4:2 pada suhu 130ºC selama 20 menit.
PENGARUH KOMPOSISI ARAH LAPISAN TERHADAP SIFAT PAPAN BAMBU KOMPOSIT I.M. Sulastiningsih; Surdiding Ruhendi; Muh. Yusram Massijaya; Wayan Darmawan; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2014.32.3.221-234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi arah lapisan terhadap sifat papan bambu komposit (PBK). Jenis bambu yang digunakan adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) berumur sekitar 4 tahun yang diperoleh dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Bilah bambu andong yang digunakan untuk membuat PBK diberi perlakuan pendahuluan dengan jalan direndam dalam larutan boron 7% selama 2 jam. Produk PBK 5 lapis dibuat dengan 4 macam variasi komposisi arah lapisan. Bambu lamina dibuat dengan menggunakan perekat isosianat water based polymer-isocyanate (WBPI) dengan berat labur perekat 250 g/m2 permukaan, dikempa dingin dengan lama pengempaan 45 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kerapatan, kadar air, pengembangan tebal, dan pengembangan lebar PBK berturut-turut adalah 0,79g/cm3, 12,60%, 2,38%, dan 1,13%. Kualitas perekatan PBK yang dibuat dengan perekat isosianat (WBPI) cukup baik yang ditunjukkan oleh tidak terjadinya delaminasi pada semua contoh uji untuk pengujian delaminasi. Keteguhan rekat rata-rata (uji kering) PBK yang dibuat dari bambu andong dengan perekat isosianat adalah 70,4 kg/cm2.  Sifat fisis dan mekanis PBK sangat dipengaruhi oleh komposisi arah lapisan penyusun PBK. Sifat mekanis PBK menurun dengan meningkatnya jumlah lapisan silang dalam komposisi lapisan penyusun PBK. Sebaliknya keberadaan lapisan silang dalam komposisi lapisan penyusun PBK meningkatkan kestabilan dimensi PBK yang dihasilkan.
SIFAT DAN PENGARUH KOMPOSISI MOLEKUL UREA DAN FORMALDEHIDA PADA PEMBUATAN PEREKAT UREA FORMALDEHIDA TERHADAP KETEGUHAN REKAT KAYU LAPIS Suwandi Kliwon
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 6 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2617.782 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1989.6.6.389-391

Abstract

This paper presents the result of a laboratory study on the properties of Urea formaldehyde resin manufactured with 5 molar ratio treatment of Urea and formaldehyde, and its effect on plywood glue shear strength. All composition of the Urea formaldehyde produced, and its physical properties (appearance, sticky matter, pH and viscosity) meet the Indonesian Indu.stry Standard for class 2a quality.The effects of Urea and formaldehyde molar ratio on glue shear strength of plywood were not significantly different. The average value of glue shear strength of Urea formaldehyde molar ratio 1 : 1,2 and 1 : 1,4 were meet the Indonesian Industry Standard.
PENGELUARAN KAYU SISTEM KABEL LAYANG GAYA GRAVITASI DENGAN KERETA PENGANGKUT KAYU BER-REM KITO PADA DAERAH BERTOPOGRAFI SULIT DI SUKABUMI. Wesman Endom
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3082.728 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.2.167-180

Abstract

Uji coba pengeluaran kayu pinus dengan teknologi kabel layang menggunakan gaya gravitasi dan dikenal dengan istilah GSS, dicoba dilakukan di Kampung Cigalasar, Desa Bojongkalong, Kecamatan yalindung,  Sukabumi, pada tegakan pinus berdiameter antara 24-45 cm yang saat ini masih disadap getahnya. Hasil uji coba pengeluaran kayu ke arah bawah lereng dengan bentangan alam ± 350 m memperlihatkan bahwa teknologi ini cukup baik dan produktif. Sejumlah hambatan yang dialami dan dinilai masih perlu perbaikannya antara lain perlunya penyangga di beberapa tempat agar muatan kayu tidak menyentuh pemukaan tanah akibat panjangnya bentangan kabel, tiang penyangga dilengkapi dengan pijakan panjat agar mudah saat melakukan pemasangan atau bila terjadi sesuatu perbaikan, pemasangan jalur kabel agar berada pada satu garis lurus sehingga kabel mudah lepas dari penyangga, hati-hati dalam saat memasang posisi kereta angkut kayu, hati-hati dalam memasang ulang kabel tanpa ujung, pengikatan kayu yang praktis clan kuat, penggunaan tenaga yang memadai dan model pengunci kabel penarik lebih kuat. Produktivitas kerja GSS sebesar 5-9.104,3 m'.hm/jam dengan rata-rata 7,033 m'.hm/jam dan biaya pengeluaran kayu sebesar Rp 48.668/jam atau Rp 6.920/m'.  Dengan investasi sebesar Rp 20 juta dan dapat disewakan dengan biaya sewa sebesar Rp 10.500 / m' /hm, maka  setelah 6 tahun dapat diperoleh nilai NPV sebesar Rp 14.445.241 dan IRR sebesar 31,9%.
KEANEKARAGAMAN JENIS DAN INTENSITAS SERANGAN RAYAP TANAH DI TIGA TIPE TANAH DI AREAL BEKAS KEBUN KARET Ginuk Sumami; Agus Ismanto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 3 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3664.332 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.3.114-117

Abstract

This  paper  deals   with  a study  on  the  infestation   intensity  of subterranean   termites  on three soil types  in clear felled rubber plantation areas in West Java. The soil types  predominating the  areas are  Red  Podzolic,  Brown Latosol  and Dark Grey  Grumusol. The  results  reveal   that  four  species  of  termite  Microtermes insperatus Kemner,   M. incertoides Holmgren, Macrotennes gilvus   (Hagen)  and  Capritermes buitenzorgi  Holmgren   are found   in these  areas pie  termites   were  mostly found  on  the  Dark  Grey Grumusol   soil,   and  the  least number  of  termite  was found  at the Red Podzolic  soil.The  results  also reveal  that  the  soil  type  gave significant  effect to  the  infestation   intensity  of subterranean   termite, but  it did  not give any effect  to the community  of the termite. 

Page 79 of 156 | Total Record : 1559


Filter by Year

1984 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 3 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 40, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 40, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 39, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 38, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 37, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 4 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 4 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 4 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 4 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 4 (2013): Vol 31, No 3 (2013): Vol 31, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 2 (2013): Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013): Vol 30, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 4 (2012): Vol 30, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012): Vol 30, No 2 (2012): Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 1 (2012): Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HASIL HUTAN Vol 29, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 4 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 4 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 3 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 3 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 4 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 3 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 21, No 3 (2003): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 21, No 2 (2003): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 21, No 1 (2003): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 5 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 4 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 3 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 2 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 1 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 4 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 3 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 2 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 1 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 2 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 1 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 4 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 2 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 1 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 5 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 3 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 2 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 1 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 8 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 7 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 6 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 5 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 3 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 2 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 1 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 10 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 9 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 8 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 7 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 6 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 5 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 4 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 3 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 2 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 1 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 8 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 7 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 6 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 5 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 4 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 3 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 2 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 1 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 6 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 5 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 4 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 3 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 2 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 1 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 8 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 7 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 6 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 5 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 4 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 3 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 2 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 1 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 6 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 5 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 4 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 3 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 2 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 1 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 7 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 6 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 5 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 4 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 3 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 2 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 1 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 6 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 5 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 4 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 3 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 2 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 1 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 4 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 3 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 2 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 1 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 8 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 7 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 6 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 5 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 4 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 3 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 2 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 1 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 7 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 6 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 5 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 4 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 3 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 2 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 1 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 4 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 3 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 2 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 1 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 4 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 3 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 2 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 1 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 4 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 3 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 2 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 1 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 4 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 3 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 2 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 1 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan More Issue