cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 427 Documents
SPESIES ULAT KANTONG DAN MUSUH ALAMINYA YANG BERASOSIASI DENGAN TANAMAN SENGON (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) (Bagworms and Their Natural Enemies Associated with Albizia (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes plantation) Ujang Wawan Darmawan; Hermanu Triwidodo; Purnama Hidayat; Noor Farikhah Haneda; Neo Endra Lelana
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.913 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2020.17.1.1-13

Abstract

                                                         ABSTRACTBagworms are reported as severe pests in albizia in some areas. The bagworms species that attacked the plant in Java had been identified but had not been described well. Their natural enemies also had not been identified in this area. This information is essential and related to pest control opportunities. This study described several species of bagworm and their natural enemies. It also described the characters of the bag as a marker of the bagworm type. Samples were collected from ten localities spread across Central and West Java.  Bagworms pupae were collected and reared so that the imago or natural enemies emerged. The parasitization rate against bagworm pupae was then determined. Imago and natural enemies were morphologically described, as are bags character. Four species of bagworm were associated with albizia stand, namely Pteroma plagiophleps, Chalia javana, Clania crameri, and Khopene cuprea. Description and desk study revealed synonymies among bagworm species. Morphologically, a bagworm species had a unique characteristic bag as a type in shape, pattern, and size. Natural enemies were commonly parasitic Hymenoptera and Diptera insects and entomopathogenic fungi. The bagworm species has been associated with a particular insect of the parasitoid. The many synonyms in the particular species need to be confirmed through a comprehensive depth study involving morphological (imago, bag, and larvae) and molecular approaches to overcome synonymies among bagworm species.                                                          ABSTRAK Ulat kantong sebagai hama serius pada sengon di beberapa daerah. Spesies ulat kantong yang menyerang sengon di Pulau Jawa sudah pernah diidentifikasi tetapi belum dideskripsikan dengan baik. Musuh alami ulat kantongnya juga belum pernah diidentifikasi. Informasi ini penting karena terkait peluang pengendaliannya. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan beberapa spesies ulat kantong yang menyerang sengon dan musuh alami yang berasosiasi dengannya serta mendeskripsikan karakter kantong sebagai penanda spesiesnya. Sampel diambil dari sepuluh lokasi yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pupa ulat kantong dikumpulkan, dipelihara, sehingga imago atau musuh alami keluar dan tingkat parasitisasi ditentukan. Imago dan musuh alami dideskripsikan secara morfologi, demikian juga dengan karakter kantongnya. Empat spesies ulat kantong teridentifikasi berasosiasi dengan sengon adalah Pteromaplagiophleps, Chalia javana, Clania crameri, dan Khopene cuprea. Deskripsi dan penelusuran pustaka menunjukkan banyaknya nama sinonim yang terkait spesies-spesies tersebut. Secara morfologi, setiap spesies ulat kantong memiliki karakter kantong yang khas baik bentuk, pola maupun ukurannya. Musuh alami ulat kantong umumnya adalah serangga Hymenoptera dan Diptera serta cendawan entomopatogen. Adanya asosiasi spesies ulat kantong dengan spesies parasitoid tertentu. Banyaknya sinonim pada spesies ulat kantong perlu dikonfirmasi melalui pendekatan yang komprehensif dengan menggabungkan metode berbasis morfologi (imago, kantong, dan larva) sekaligus molekuler. 
STRUKTUR DAN KOMPOSISI JENIS VEGETASI DI HUTAN SEKUNDER: STUDI KASUS KHDTK LABANAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR (Structure And Species Composition Of Tree In Secondary Forest: A case study at KHDTK Labanan, East Borneo Province) Karmilasanti Karmilasanti; M. Fajri
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2020.17.2.69-85

Abstract

                                             ABSTRACT Unproductive forests in the form of secondary forest tend to be converted into forest plantation, agriculture and other land uses. Even though the secondary forest can still be restored using native commercial species. This study aimed to determine the structure and composition of stands, the potential of residual stands, and natural regeneration of the secondary forest in KHDTK Labanan. The research was carried out through vegetation inventory and vegetation analysis to calculate stand potential, natural regeneration, Importance Value Index (IVI), and species diversity. The results showed the structure of commercial species stands in secondary forests in the Labanan KHDTK followed an inverted "J" shaped exponential curve as well as stand structure of natural forest. The potential of commercial species stands with diameter of 20 cm and above was 22.30 m3/ha with a number of trees more than 25 trees/ha. Natural regeneration of commercial species for pole were 121 stems/ha, sapling were 47 stems/ha, and seedling were 50 stems/ha. The dominant species of native commercial such as  Shorea parvifolia, S. atrinervosa, S. agami, S. hopeifolia, Madhuca malaccensis, and Koilodepas sp needs to be maintained and nurtured in order to ensure the continuity the natural succession and diversity, thus become a source of seed trees. The species diversity index in the sekunder forest was high to moderate.                                                 ABSTRAK Hutan tidak produktif berupa hutan sekunder cenderung dikonversi menjadi hutan tanaman, perkebunan, dan peruntukkan lainnya, meskipun hutan sekunder masih bisa dipulihkan dengan menggunakan jenis-jenis komersial setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi tegakan, potensi tegakan tinggal, dan permudaan alami pada hutan sekunder di KHDTK Labanan. Penelitian dilakukan melalui inventarisasi vegetasi dan analisis vegetasi guna menentukan potensi tegakan, kondisi permudaan alami, Indeks Nilai Penting (INP), dan keragaman jenis. Hasil penelitian menunjukkan struktur tegakan jenis komersial pada hutan sekunder di KHDTK Labanan mengikuti kurva eksponensial berbentuk “J” terbalik seperti struktur tegakan pada berbagai kondisi hutan alam. Potensi tegakan jenis komersial diameter 20 cm ke atas sebesar 22,30 3m/ha dengan jumlah pohon lebih dari 25 pohon/ha. Permudaan alami jenis komersial untuk tingkat tiang 121 pohon/ha, pancang 47 batang/ha, dan semai 50 batang/ha. Dengan demikian, pada hutan sekunder KHDTK Labanan tidak diperlukan pengayaan. Jenis unggulan setempat yang dominan antara lain jenis Shorea parvifolia, S. atrinervosa, S. agami,  S. hopeifolia, Madhuca malaccensis, dan Koilodepas sp. perlu dijaga dan dipelihara agar suksesi alami dan keanekaragaman terus berlanjut, serta menjadi sumber benih. Indeks keanekaragaman jenis di hutan sekunder KHDTK Labanan termasuk tinggi sampai sedang.
POTENSI AKAR KUNING (Fibraurea tinctoria Lour.) DI HUTAN RAWA GAMBUT, KABUPATEN KAPUAS, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH (Potential of akar kuning (Fibraurea tinctoria Laur.) in Peat-Swamp Forests, Kapuas District, Central Kalimantan Province) Titi - Kalima
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.1.13-34

Abstract

 ABSTRACT Peat swamp forests in Kalimantan have generally been damaged due to overexploitation and excessive human activities. Akar kuning plant  (Fibraurea tinctoria Laur.) is known as a traditional herbal medicine used by Central Kalimantan people. This study aimed to obtain data on the potential, distribution, and association of akar kuning in the Block Release forest, Mantangai District, Kapuas Regency, Central Kalimantan Province. Data collection was conducted with an inventory purposive sampling method, where two transect lines were made and placed in the location where akar kuning was observed. Then 80 sampling units with a size of 5 m x 5 m and 2 m x 2 m were made alternately with an area of 0.2 ha. The results showed that the potential of  Fibruarea tinctoria in the Block Release forest was 375 individuals/ha and 675 individuals/ha, where the seedling phase is more dominant than the sapling phase (40 individuals/ha and 70 individuals/ha). The akar kuning distribution pattern was also found to spread uniformly or regularly. The level of association measured using the Ochiai index (OI) indicated that the most significant value of association strength was owned by Shorea balangeran and Mangifera similis (OI = 0.63), while the presence of Freycinetia angustifolia had a low level of association (OI = 0.48 - 0.23). Meanwhile, the lowest level of association (OI = < 0.22) was found in 17 species. Plant species associated with Fibraurea tinctoria are usually having potential as medicinal raw materials. Information regarding population, distribution and distribution patterns, as well as the association of akar kuning, is expected to be the basis for sustainable management of akar kuning in nature. Keywords: Potential, Fibraurea tinctoria, Block Release forest ABSTRAK Hutan rawa gambut Kalimantan umumnya telah mengalami kerusakan karena adanya eksploitasi dan aktivitas manusia yang berlebihan. Tumbuhan akar kuning (Fibraurea tinctoria Laur.) dikenal sebagai obat  herbal yang digunakan secara tradisional oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi potensi, sebaran, dan asosiasi akar kuning di hutan Blok Release, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Pengambilan data dilakukan dengan cara inventarisasi dengan metode pengambilan contoh secara purposif, dibuat dua jalur transek dan peletakan jalur (transek) pada lokasi ditemukan tumbuhan akar kuning. Kemudian dibuat plot berukuran 5 m x 5 m dan 2 m x 2 m secara  selang seling sebanyak 80 plot dengan luasan 0,2 ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi Fibraurea tinctoria di hutan Blok Release adalah 375 individu/ha dan 675 individu/ha, dimana tingkat semai lebih dominan daripada tingkat pancang (40 individu/ha dan 70 individu/ha). Adapun pola sebaran akar kuning menyebar secara seragam atau teratur. Tingkat asosiasi menggunakan indeks Ochiai (OI), menunjukkan nilai kekuatan asosiasi yang terbesar dimiliki oleh Shorea balangeran dan Mangifera similis (OI = 0,63), kehadiran Freycinetia angustifolia memiliki tingkat asosiasi rendah (OI = 0,48-0,23) dan tingkat asosiasi terendah (OI = < 0,22) dtemukan pada 17 jenis. Jenis tumbuhan yang berasosiasi terhadap Fibraurea tinctoria  adalah tanaman yang berpotensi sebagai bahan baku obat. Informasi mengenai populasi, sebaran dan pola sebaran, serta asosiasi akar kuning, diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan akar kuning secara lestari di alam. Kata kunci: Potensi, Fibraurea tinctoria, hutan Blok Release 
PENGEMBANGAN MODEL-MODEL PENDUGA INDEKS TEMPAT TUMBUH DAN PERTUMBUHAN TEGAKAN JABON (Neolamarckia cadamba (Roxb.)) DI HUTAN RAKYAT (Site Index and Growth of Neolamarckia cadamba (Roxb.) Stands in Community Forest) Lutfy Abdulah; Nina Mindawati; Mira Yulianti
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2020.17.2.131-143

Abstract

                                            ABSTRACTThe existence of community forests is one of the efforts to provide wood raw materials by the community. This effort has limitations such as non-standardized silvicultural techniques and cutting cycle, and no annual growth measurements. This is a problem in compiling tables of community forest stands. Therefore, no adequate information on the stands’ growth to support the promotion of community forest development. This study was conducted to overcome those problems using modeling techniques involving several different measurement locations and plant ages. The parameters of the built model were the elevation model, the quality of the place to grow, and the tree diameter of each class of quality of jabon stands’ site. The research objective was to create a growth and site quality model and provide data on jabon diameter growth in each class. The results showed that the Schumacher model could be used in estimating the tree height of jabon, while the ChapmanRichards model was excellent in classifying the quality of growing sites of jabon. The only valid model for diameter growth of jabon stands was Bonita II.                                               ABSTRAKKeberadaan hutan rakyat merupakan salah satu upaya penyediaan bahan baku kayu oleh  masyarakat. Upaya ini memiliki batasan seperti teknik silvikultur dan umur tebang yang  tidak baku, serta pengukuran pertumbuhan yang tidak dilakukan setiap tahun. Hal ini menjadi masalah dalam menyusun tabel tegakan hutan rakyat. Dampaknya adalah informasi pertumbuhan tegakan tidak ada sehingga promosi pembangunan hutan rakyat menjadi terbatas. Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan penelitian dengan menggunakan teknik pemodelan yang melibatkan beberapa lokasi pengukuran dan umur tanaman jabon yang berbeda. Parameter model yang dibangun adalah model peninggi, kualitas tempat tumbuh dan diameter pohon setiap kelas kualitas tempat tumbuh. Tujuan penelitian adalah membuat model peninggi dan kualitas tempat tumbuh serta menyediakan data pertumbuhan diameter pohon di setiap kelas. Hasil penelitian meunjukkan bahwa model Schumacher dapat digunakan dalam menduga tinggi pohon jabon, sedangkan model Chapman-Richards sangat baik dalam mengklasifikasi kualitas tempat tumbuh jabon. Model pertumbuhan diameter tegakan jabon yang valid hanya pada Bonita II.
PERTUMBUHAN DUA KLON KARET ASAL BIBIT OKULASI DI KABUPATEN BANYUASIN, PROVINSI SUMATERA SELATAN (Growth Performance of Two Rubber Budding Clones in Banyuasin District, South Sumatera Province) Jamin Saputra
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.1.1-12

Abstract

ABSTRACT Rubber clones have different adaptability  which leads to no rubber clone being superior for all planting locations. Therefore, the agro-climatic characteristics of plantation area are needed to determine the suitability class of the land before extensive rubber planting is carried out. The aim of this study was to examine the growth of combination of clones  (IRR 112 and IRR 118) and the number of umbrella leaves (two umbrellas and three umbrellas) during immature plants (TBM). Plantation was established at the Experimental Garden of the Rubber Research Center, Banyuasin Regency, South Sumatra Province. Land suitability was determined based on soil data and climate data. Clone growth was observed based on the growth of stems from a sampling of 500 trees for each clone-umbrella combination. Growth measurement was carried out every year until five years old plants. The results showed that IRR 112 clone rubber with three umbrellas was the best rubber planting material and reach 81% mature tapping stems after five years old. It is recommended that IRR 112 clone rubber with three umbrellas can be planted on land with the land suitability class suitable (S2) in the lowlands on Ultisol soil type.Keywords: Clone, rubber seeds, land suitability, circumference of the stem ABSTRAK  Klon tanaman karet memiliki daya adaptasi yang berbeda-beda, sehingga tidak ada klon karet yang unggul di semua lokasi penanaman. Oleh karena itu karakteristik agroklimat pada areal penanaman tanaman karet diperlukan untuk menentukan kelas kesesuaian lahannya sebelum penanaman karet secara luas dilaksanakan. Penelitian bertujuan untuk menguji pertumbuhan kombinasi klon (IRR 112 dan IRR 118) dan jumlah payung daun bibit karet (payung dua dan payung tiga) selama masa tanaman belum menghasilkan (TBM). Penanaman dilakukan di Kebun Percobaan Pusat Penelitian Karet, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Penentuan kelas kesesuaian lahan dilakukan berdasarkan data tanah dan data iklim. Pertumbuhan klon diamati berdasarkan pengukuran lilit batang pada 500 pohon sampling untuk setiap kombinasi klon-jumlah payung. Pengukuran pertumbuhan dilakukan setiap tahun sampai dengan umur lima tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit karet klon IRR 112 dengan jumlah payung tiga merupakan bibit karet yang terbaik dan pada umur lima tahun telah menghasilkan 81% batang matang sadap. Bibit karet tersebut dianjurkan ditanam pada lahan dengan kelas kesesuaian lahan sesuai (S2) di dataran rendah pada jenis tanah Ultisol.Kata kunci: Klon, bibit karet, kesesuaian lahan, lilit batang
KONFIRMASI JENIS DAN KERAGAMAN GENETIK SENGON RESISTEN DAN RENTAN INFEKSI KARAT TUMOR MENGGUNAKAN PENANDA DNA KLOROPLAS (Species confirmation and genetic diversity of Gall-rust resistant and susceptible sengon using chloroplast DNA marker) Hasyyati Shabrina; Ulfah J. Siregar; Deden D. Matra; Iskandar Z. Siregar
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2020.17.2.117-130

Abstract

                                                ABSTRACTSengon (Falcataria moluccana) plantations, particularly in Java, have been facing threats from gall-rust disease caused by the pathogen Uromycladium falcatariae, which has caused considerable economic losses. Other species with morphological similarities with F. moluccana raises the question of whether the infected and non-infected sengon are the same species. This study aimed to confirm the haplotype of infected and non-infected sengon by gall-rust and compare them with a morphologically similar species of Albizia chinensis using the psbA-trnH intergenic spacer region molecular marker on chloroplast DNA. Wet wood samples from 32 infected plants and 32 non-infected plants were collected from Bogor and Ciamis, West Java, for analysis and comparison with A. chinensis sequences from the same gene region. The results showed that the infected and non-infected sengon came from the same haplotype with a genetic distance of 0 and InDel diversity of 0,031. Meanwhile, from 380 parallel aligned sites, there were 27 different sites between F. moluccana and A. chinensis. The genetic distance of the two species was classified as very low at 0.017. The psbA-trnH intergenic spacer region sequences of sengon in this study were the first to be uploaded to GenBank and can be accessed with accession numbers of LC456638.1 to LC456701.1.                                               ABSTRAKHutan tanaman sengon (Falcataria moluccana), khususnya di Pulau Jawa, pada  umumya menghadapi serangan penyakit karat tumor yang disebabkan oleh patogen Uromycladium falcatariae, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Adanya spesies lain yang memiliki kemiripan morfologi dengan F. moluccana menimbulkan  pertanyaan apakah sengon yang terserang dan tidak terserang karat tumor merupakan jenis yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengonfirmasi jenis sengon yang terserang dan tidak terserang karat tumor dan membandingkan dengan spesies yang mirip secara morfologi, yaitu Albizia chinensis menggunakan penanda molekuler daerah psbA-trnH intergenic spacer pada DNA kloroplas. Sampel kayu basah dari 32 tanaman terserang dan 32 tanaman yang tidak terserang karat tumor diambil dari Bogor dan Ciamis, Jawa Barat, untuk dianalisis dan dibandingkan dengan sekuens A. chinensis dari wilayah gen yang sama. Hasil analisis menunjukkan bahwa sengon yang terserang dan tidak terserang berasal dari haplotipe yang sama dengan jarak genetik 0 dan keragaman InDel sebesar 0,031. Sementara itu, dari 380 situs yang sejajar, terdapat 27 situs yang berbeda antara F. moluccana dan A. chinensis. Jarak genetik kedua jenis tersebut tergolong sangat rendah yaitu 0,017. Sekuens daerah psbA-trnH intergenic spacer sengon dalam penelitian ini merupakan yang pertama diunggah di GenBank dan dapat diakses dengan nomer aksesi LC456638.1 sampai LC456701.1.
PENDUGAAN BIOMASSA DAN SERAPAN KARBON DI BEBERAPA AREAL TAMAN HUTAN KOTA JAKARTA, BEKASI DAN BOGOR (Estimated Value of Biomass and Carbon Sequestration in Several Forest Park of Jakarta, Bekasi and Bogor) Nyoto - Santoso; Sutopo - -; Gilang Prastya Pambudi; Vregat Febriansyah Danarta; Rohma Alif Wibisono; Tri Puji Astuti; Dimas Aryo Wicaksono
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.1.35-49

Abstract

 ABSTRACT The presence of forest park as green open space in densely populated urban areas and high traffic activities such as Jakarta, Bekasi and Bogor is important in absorbing CO2. However,  the function of urban forests is limited because the studies were carried out on a small scale and at separate loci. This study aimed to estimate the biomass, storage and sequestration of carbon in five green open spaces located in Jakarta and Bogor areas. Biomass was estimated by non-destructive sampling for above ground biomass. The results estimated the forest park in Kanal Banjir Timur (KBT) absorbed CO2 of 1,000.01 ton/ha/year, the forest park at head office absorbed CO2 of 937.53 ton/ha/year,  Mangrove Forest Park of Muara Tawar Bekasi absorbed  CO2 of 46.10 ton/ha/year, and the Bukit Golf Pantai Indah Kapuk area absorbed CO2 of 147.91 tonnes/ha/year.  Meanwhile the campus Forest Park of IPB University absorbed CO2 of 0.16 ton/ha. The value difference  is influenced by parameters such as size or scale of sampling areas, number of stands, diameter, height, and coefficient value for each plant species. This study is expected to contribute in providing information and data on biomass, carbon content, and absorption in urban areas.Keywords: Biomass, carbon sequestration, urban forest ABSTRAK Keberadaan taman hutan sebagai ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan yang padat penduduk dan aktivitas lalu lintas yang tinggi, seperti DKI Jakarta, Bekasi dan Bogor menjadi penting dalam menyerap CO2. Namun informasi dan data mengenai peran hutan kota masih sangat sedikit, karena umumnya kajian dilakukan dalam skala kecil dan pada lokus yang terpisah-pisah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menduga biomassa, simpanan dan serapan karbon pada lima ruang terbuka hijau di lima titik wilayah Jakarta dan Bogor. Metode yang digunakan untuk menduga biomasa adalah dengan non-destructive sampling untuk biomassa di atas permukaan tanah (above ground biomass). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau di Taman Kanal Banjir Timur (KBT) mampu menyerap CO2 sebesar 1.000,01 ton/tahun; Taman Hutan Tractors Head Office  mampu menyerap CO2 sebesar 937,53 ton/tahun, Taman Wisata Mangrove Muara Tawar Bekasi mampu menyerap karbon CO2 sebesar 46,10 ton/tahun, dan Taman Hutan Bukit Golf Pantai Indah Kapuk mampu menyerap CO2 sebesar 147,91 ton/tahun. Sementara Taman Hutan Kampus IPB Dramaga Bogor mampu menyerap CO2 sebesar 0,16 ton/tahun. Perbedaan nilai tersebut dipengaruhi oleh berbagai parameter seperti luas areal kajian, jumlah tegakan, diameter, tinggi, dan nilai koefisien pada masing-masing jenis tumbuhan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memberikan informasi dan data mengenai biomassa, kandungan dan serapan karbon di wilayah kajian. Kata kunci : Biomassa, hutan kota, serapan karbon
KAJIAN MANFAAT DAN KELAYAKAN EKONOMI BUDI DAYA SUREN PADA MASYARAKAT DESA SIPOLHA HORISON, KABUPATEN SIMALUNGUN, PROVINSI SUMATERA UTARA (Study of the Benefits and Economic Feasibility of Suren Cultivation in Sipolha Horison Village, Simalungun Regency, North Sumatera Province) Siti Latifah; Heriyadi Mukti Sima; Agus Purwoko
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2020.17.2.87-99

Abstract

                                                ABSTRACT Forests play an important role in the livelihoods of local people in most developing countries. Local people depend on forest resources for various products such as building materials, medicines, and food.  This study examined the benefits and economic feasibility of suren (Toona sureni) cultivation as a forest plant species that is widely used by local people for various needs. Interviews were conducted with selected respondents of forest communities in Sipolha Horison Village, Pematang Sidamanik District, Simalungun Regency, North Sumatra Province by purposive sampling method from May to June 2018. The analysis of the benefits of suren wascarried out in a qualitative descriptive method. Simultaneously, the economic assessment was done by using NPV (Net Present Value) to determine the feasibility of suren cultivation. The results showed that the local people used suren trees as land boundaries and shade. The plants’ stem were used for house walls, house frames, boats and ships, while the leaves were commonly used for fresh vegetables, medicines and natural insecticide. The NPV value obtained with an interest rate of 17.5% was 29,153,089 IDR/ha/cycle, which indicates that the cultivation of suren is feasible to develop.                                                ABSTRAK Hutan berperan penting dalam mata pencaharian masyarakat lokal di sebagian besar negara berkembang. Masyarakat lokal bergantung pada sumber daya hutan untuk berbagai produk seperti bahan bangunan, obat-obatan, dan makanan. Studi ini mengkaji manfaat dan kelayakan budi daya ekonomi suren (Toona  sureni) sebagai salah satu spesies tumbuhan hutan yang banyak dimanfaatkan masyarakat setempat untuk berbagai kebutuhan. Wawancara dilakukan secara purposive sampling selama bulan Mei-Juni 2018 terhadap masyarakat sekitar hutan di Desa Sipolha Horison Kecamatan Pematang Sidamanik Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Kajian manfaat suren dilakukan secara deskriptif kualitatif, sedangkan penilaian ekonominya menggunakan NPV (Net Present Value) untuk mengetahui kelayakan pengusahaan suren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan pohon suren sebagai  pembatas lahan dan naungan. Batang tanamannya digunakan untuk dinding rumah, kusen, perahu dan kapal, sedangkan daunnya digunakan untuk lalapan makan, obat obatan dan insektisida alami. Nilai NPV yang diperoleh dengan tingkat suku bunga 17,5% adalah Rp 29.153.089 ha/daur, yang menunjukkan bahwa budi daya tanaman suren layak dikembangkan. 
HUBUNGAN FAKTOR ABIOTIK TERHADAP JUMLAH KLOROFIL DAN STOMATA (EKOFISIOLOGIS) PADA TANAMAN JATI (Tectona grandis L.f.) DI KABUPATEN MALANG (Relationship of Abiotic Factors to Total of Chlorophyll and Stomata (Ecophysiological) in Teak Plant (Tectona grandis L.f.) at Malang District) Amir Syarifuddin; Febri Arif Cahyo Wibowo; Saddam Affandy Yusuf; Agus Dwi Sulistyono
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.1.51-64

Abstract

 ABSTRACT Climate change due to increasing earth temperature is predicted to escalate plant stress chances. Changes in temperature followed by humidity changes will affect plant physiology, including the stomata index and chlorophyll. Both parts are essential for the photosynthesis process in the plant. This study aimed to determine whether abiotic factors influenced the physiological conditions of teak plants. Leaf samples were taken from six trees selected based on tree height (11-13 meters). Leaf samples were taken in the same direction north and south, 18 for the stomata sample and 18 for the chlorophyll sample, with three samples for the stomata and chlorophyll in each tree. Temperature and humidity observations were carried out for two months. The analysis used in this study was SEM-PLS analysis using warpls software. The results showed that temperature had a positive effect on the stomata index of 0.746. The significant negative effect was indicated by the effect of temperature on chlorophyll a, humidity on chlorophyll b and humidity on total chlorophyll with values of 0.571,-0.688 and -0.614, respectively. The reduced environmental temperature has caused a reduction in photosystem activity, resulting in excessive chlorophyll production. The remedial solution is silvicultural techniques application in an appropriate plant spacing to reduce temperature and increase the humidity of the microclimate in the area. Keywords: Ecophysiology, chlorophyll, stomata, abiotic factorsABSTRAK Perubahan iklim akibat penambahan suhu bumi meningkatkan peluang stres tanaman. Perubahan suhu yang diikuti dengan perubahan kelembapan akan mempengaruhi fisiologi tanaman diantaranya indeks stomata dan klorofil, dimana keduanya merupakan bagian dalam proses penting tanaman, yakni proses fotosintesis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kondisi fisiologis tanaman jati dipengaruhi oleh faktor abiotik. Pengambilan sampel daun dilakukan pada enam pohon yang dipilih berdasarkan tinggi pohon (11-13 m). Sampel daun diambil searah, yaitu utara dan selatan sebanyak 18 untuk sampel stomata dan 18 untuk sampel klorofil, dengan masing-masing tiga sampel untu stomata dan klorofil pada setiap pohon. Pengamatan suhu dan kelembapan dilakukan selamadua bulan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis SEM-PLSmenggunakan software warpls. Hasil analisis menunjukkan bahwa suhu berpengaruh positif terhadap indeks stomata sebesar 0,746. Pengaruh negatif secara signifikan ditunjukkan olehpengaruh suhu terhadap klorofil a, kelembapan terhadap klorofil b dan kelembapan terhadap klorofil total dengan nilai masing-masing -0,571, -0,688 dan -0,614. Suhu lingkungan berkurang mengakibatkan pengurangan aktivitas fotosistem, sehingga produksi klorofilberlebihan. Solusi perbaikan dengan penerapan teknik silvikltur dalam pengaturan jaraktanaman yang sesuai untuk menurunkan suhu dan meningkatkan kelembapan iklim mikro dikawasan. Kata kunci: Ekofisiologi, klorofil, stomata, faktor abiotik 
EFISIENSI PEMASARAN KAYU SENGON (Falcataria moluccana) DI AREAL HUTAN RAKYAT PEKON LENGKUKAI, KABUPATEN TANGGAMUS, PROVINSI LAMPUNG (Marketing Efficiency of Sengon (Falcataria moluccana) Wood in Lengkukai Village, Tanggamus District, Lampung Province) Rian Betti Kusuma; Hari Kaskoyo; Rommy Qurniati
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2020.17.2.101-116

Abstract

                                                ABSTRACT Wood demand has increased, but wood supply from natural forests and industrial plantations has decreased. Small scale privately owned forest is an alternative to meet wood needs. To ensure the sustainability of small scale privately owned forest, it should provide high profit for the farmers and that can only be achieved by eficiency in the wood marketing. This study aimed to analyzed the efficiency of sengon wood marketing in Pekon Lengkukai Village. The research was conducted in January-February 2020. Data was collected through observation, documentation studies, and interviews with farmers and traders. Respondents consisted of 52 sengon wood farmers selected by simple random sampling and 10 marketing institutions (3 sawmills, 2 traders, and 5 loggers) selected by snowball sampling. The data were analyzed through marketing channels and market performance by using share and profit margin ratio calculation. The results identified four channels of sengon wood marketing, namely: (1) farmers - end consumers (2) farmers - sawmill - consumers, (3) farmers - collectors traders - sawmill - consumers, and (4) farmers - wood cutters - collector - sawmill - consumer. Sawmill has significant influence on marketing and achieved the highest ratio of profit margins. Based on the ratio of profit margins and share price at the farm level, the marketing of sengon wood in Lengkukai Village is inefficient. The bargaining position of farmers needs to be improved, by forming farmer groups as a marketing institution that accommodates and promotes farmer’s sengon wood, and open farmer’s access to market information and capital credit.                                            ABSTRAK Kebutuhan pasokan kayu mengalami peningkatan, tetapi kayu dari hutan alam dan hutan tanaman industri mengalami penurunan. Hutan rakyat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan ini. Untuk menjaga kelestarian hutan rakyat, maka petani sebagai pengelolanya harus mendapatkan keuntungan yang tinggi, hal ini dapat tercapai jika pemasarannya efisiensi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efisiensi pemasaran kayu sengon di Pekon Lengkukai, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Penelitian dilaksanakan bulan Januari-Februari 2020. Pengambilan data dilakukan melalui observasi lapang, studi dokumentasi dan wawancara pada petani kayu sengon serta lembaga pemasaran yang terlibat. Responden petani kayu sengon yang diwawancara, meliputi 52 orang petani yang dipilih secara acak sederhana, dan 10 lembaga pemasaran (3 sawmill, 2 pedagang pengumpul, dan 5 penebang kayu) yang dipilih menggunakan metode snowball sampling. Data yang diperoleh dianalisis berdasarkan saluran pemasaran dan keragaan pasar melalui perhitungan share dan ratio profit margin. Hasil penelitian mengidentifikasi empat saluran pemasaran kayu sengon di Pekon Lengkukai, Kabupaten Tanggamus, yaitu: (1) petani – konsumen akhir (2) petani – sawmill – konsumen akhir, (3) petani – pedagang pengumpul – sawmill – konsumen akhir, dan (4) petani – penebang kayu – pedagang pengumpul – sawmill – konsumen akhir. Sawmill memiliki pengaruh besar terhadap pemasaran kayu sengon dan juga memperoleh rasio profit margin tertinggi. Berdasarkan ratio profit margin dan share harga di tingkat petani, maka pemasaran kayu sengon di Pekon Lengkukai belum efisien. Untuk pemasaran lebih efisiensi, posisi tawar petani perlu ditingkatkan dengan membentuk kelompok tani sebagai lembaga pemasaran untuk menampung dan memasarkan kayu sengon dari petani, dan membuka akses petani pada informasi pasar kayu sengon dan kredit permodalan. 

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2023): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 17, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2014): JPHT Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 4 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 4 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 2 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 3 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 2 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 1 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 1 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 3 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 3 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 2 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2004): JPHT More Issue