cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 427 Documents
PERTUMBUHAN DAN MORFOLOGI KULTUR TUNAS SEMPUR (Dillenia philippinensis Rolfe) PADA MEDIA MS-BAP-NAA (Growth and Morphology of Sempur (Dillenia philippinensis Rolfe) Shoot Culture on MS –BAP-NAA Media) Deritha Ellfy Rantau; Dyah Retno Wulandari; Tri Muji Ermayanti; Rudiyanto Rudiyanto; Betalini Widhi Hapsari; Aida Wulansari; Evan Maulana; Herlambang Laksmana Firdaus
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.1.65-78

Abstract

ABSTRACT Propagation of sempur (Dillenia philippinensis Rolfe) using conventional vegetative methods is considered ineffective due to slow process and low germination level. Propagation by tissue culture is considered more effective because it does not depend on the season and requires less plant material. It can benefit sempur conservation since it is categorized as threatened with extinction in 2020 on the IUCN red list. This study aimed to evaluate the effect of BAP and NAA on the growth of sempur’s shoots and to observe the morphology of shoot culture. The media used as a control was MS without growth regulators. The treatment medium was MS with the addition of BAP and NAA. Shoots were used as explants. Shoot growth and plantlet morphology were observed eight weeks after planting. The results indicated that the combination of 1 mg/l BAP and 0.5 mg/l NAA resulted in the highest total number of leaves, nodes and adventitious shoots. The combination of BAP and NAA, each 1 mg/l, resulted in the highest fresh weight and callus formation. The combination of 1 and 2 mg/l BAP and 0.5-1 mg/l NAA could not form roots. In comparison, the combination of BAP and NAA in culture media could change the shape and size of the leaves. The survival rate of growth of plantlets derived from MS medium was 50% at 22 weeks after acclimatization.Keywords: morphology, shoot culture, sempur, BAP (Benzil Amino Purin), NAA                  (Naphthalene Acetic Acid) ABSTRAK Perbanyakan tanaman sempur (Dillenia philippinensis Rolfe) dengan metode konvensional secara vegetatif memerlukan waktu lama dan daya kecambah biji juga rendah. Perbanyakan dengan kultur jaringan dianggap lebih menguntungkan karena tidak tergantung musim, memerlukan sedikit bahan tanaman dan bermanfaat untuk konservasi sempur karena termasuk spesies yang hampir terancam punah tahun 2020 dalam daftar merah IUCN. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh BAP dan NAA terhadap pertumbuhan tunas sempur serta mengamati morfologi kultur tunas. Media yang digunakan sebagai kontrol adalah MS yang tidak mengandung zat pengatur tumbuh. Media perlakuan adalah MS dengan penambahan BAP dan NAA. Tunas pucuk dipergunakan sebagai eksplan. Pertumbuhan tunas dan morfologi planlet diamati pada delapan MST. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kombinasi 1 mg/l BAP dan 0,5 mg/l NAA menghasilkan jumlah total daun, buku dan jumlah tunas adventif tertinggi. Kombinasi BAP dan NAA masing-masing 1 mg/l menghasilkan bobot basah dan pembentukan kalus tertinggi. Kombinasi antara BAP 1 dan 2 mg/l serta NAA 0,5-1 mg/l tidak mampu membentuk akar. Kombinasi BAP dan NAA pada media kultur mengubah bentukan dan ukuran daun.  Daya tumbuh planlet yang berasal dari media MS adalah 50% pada 22 minggu setelah aklimatisasi.  Kata kunci: morfologi, kultur tunas, sempur, BAP (Benzil Amino Purin), NAA                   (Naphthalene Acetic Acid)
Kelayakan Perubahan Kelas Perusahaan: Studi Kasus di Bagian Hutan Ngantang Pujon, KPH Malang (Feasibility of change in Enterprise Class: Case Study in the Forest Section of Ngantang Pujon, KPH Malang) Ikhlasul Amalia Firdani; Mochammad Chanan Chanan; Galit Gatut Prakosa
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.2.137-146

Abstract

ABSTRACTThe decline in damar stands due to shoot death has caused losses to the company. To anticipate these problems, it is necessary to find a enterprise class that is suitable with site characteristics. This study aimed to determine the business feasibility of damar and pine plants in order to determine the right enterprise class. The research was conducted in the Ngantang Pujon Forest Section , KPH Malang. The method used is quantitative descriptive using primary and secondary data. The analysis used is business feasibility analysis by calculating the Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), and Internal Rate Return (IRR). The results of NPV analysis showed that both damar and pine companies are feasible to cultivate. The pine enterprise class has a higher eligibility than the damar enterprise class. Thus, financially, the damar enterprise class can be changed to the pine enterprise class.Keywords : Firm grade , financial, stand, pine, damar ABSTRAKPenurunan tegakan damar akibat mati pucuk telah menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut perlu dicarikan kelas perusahaan yang sesuai dengan karakteristik tapak. Tujuan penelitian adalah mengetahui kelayakan usaha tanaman damar dan pinus guna menentukan kelas perusahaan yang tepat. Penelitian dilaksanakan di Bagian Hutan Ngantang Pujon, KPH Malang. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif menggunakan data primer dan sekunder. Analisis yang digunakan adalah analisis kelayakan usaha dengan menentukan nilai Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), dan Internal Rate Return (IRR). Hasil analisis NPV menunjukkan kedua kelas perusahaan damar dan pinus layak diusahakan. Kelas perusahaan pinus kelayakannya lebih tinggi daripada kelas perusahaan damar. Secara finansial kelas perusahaan damar dapat dirubah menjadi kelas perusahaan pinus.Kata kunci : Kelas perusahaan, finansial, tegakan, pinus, damar
Perbandingan Uji Budi Daya Lebah Jenis Heterotrigona itama pada Empat Tipe Vegetasi (Comparision of Meliponiculture using Heterotrigona itama Placed at Four Different Vegetations) Avry Pribadi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.2.93-108

Abstract

ABSTRACTNowadays, meliponiculture becomes a popular activity for most beekeepers since it is not complicated as apiculture. Heterotrigona itama is common species of stingless bees that becomes one of the most favorites for most meliponiculturists in Indonesia. On the other hand, location and vegetation are essential factors that influence the success of practicing meliponiculture. This study aimed to evaluate the development of H. itama at four locations (heterogenic yard field, calyandra plantation, pine forest, and oil palm plantation). Three times observations were conducted in June, August, and October 2016 toward the volume of brood,the number of honey, and the number of pollen pots. A randomized completely design was assigned in this study. Data were analyzed by conducting ANOVA and repeated measures that comparing between locations and observation times. Results showed that at the end of observation, the volume of brood was significantly high in oil palm plantations and the volume of brood was low in Pine forest. Meanwhile, the number of honey pots was significantly high in the heterogenic yard field and significantly low in the Pine forest. Furthermore, pollen pots were significantly high in oil palm plantations and low in Pine forests. This study revealed that low land and heterogeny yard are more suitable for keeping H. itama.Keyword: Meliponoculture, heterotrigona itama, honey pots, pollen pots, vegetations  ABSTRAKBeberapa tahun belakangan ini, budi daya lebah tanpa sengat menjadi sangat popular dibandingkan lebah bersengat, karena budi dayanya yang relatif \ sederhana dan tidak rumit. Mayoritas jenis yang banyak dibudidayakan oleh para peternak lebah adalah Heterotrigona itama. Kesuksesan budi daya lebah tidak bersengat bergantung pada lokasi dan kondisi vegetasi, sehingga pemilihan lokasi sebelum budi daya merupakan hal yang penting. Tujuan penelitian untuk mengetahui perkembangan H. itama yang ditempatkan pada vegetasi yang berbeda, yaitu lahan pekarangan heterogen, kebun kaliandra, hutan pinus, dan kebun kelapa sawit. Pengumpulan data dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu pada bulan Juni, Agustus, dan Oktober tahun 2016 terhadap volume sel anakan, jumlah kantung madu yang terbentuk, dan jumlah kantung tepung sari/polen.  enelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Data dianalisis secara ANOVA dan pengukuran berulang terhadap waktu pengamatan dan lokasi. Hasil menunjukkan bahwa volume sel anakan tertinggi pada akhir pengamatan pada bulan Oktober terdapat di lokasi kebun sawit dan terendah terdapat di hutan pinus. Perkembangan jumlah kantung madu pada koloni tertinggi terdapat di lahan pekarangan dan terendah terdapat di hutan pinus. Selanjutnya, perkembangan jumlah kantung polen pada koloni H. itama tertinggi terdapat di kebun sawit dan terendah di hutan pinus. Hasil ini menunjukkan bahwa lokasi yang tepat untuk pemeliharaan H. itama berada di lingkungan yang heterogen dan berada di dataran rendah.Kata kunci: Budi daya, tegakan, lebah tanpa sengat, Heterotrigona itama, kantung madu, kantung pole
Uji Adaptasi Hybrid Ulat Sutra asal Tiongkok (Adaptation Test of Hybrid Silkworm from China) Minarningsih Minarningsih; Rosita Dewi; Lincah Andadari
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.2.147-158

Abstract

ABSTRACTOne of the factors that determine the success of the natural silk development in Indonesia is the supply of superior silkworm eggs. It can be done through the procurement of superior eggs both from domestic and imported. Superior silkworm eggs must have high quality and productivity. This study aims to examine the productivity and quality of hybrid silkworm eggs of the Liangguang II originating from China with the commercial local hybrid C301 and other commercial hybrids. The study was conducted at the Natural Silk Development Station, Garut Regency, West Java. The results showed that the Liangguang II hybrid had better larva quality than the local commercial hybrid C301. The Liangguang II hybrid had a shorter larval period of 1 day 2 hours, better cocoon quality, higher cocoon quality, and the same filament quality as the C301 hybrid. The Liangguang II hybrid had a higher percentage of cocoon shells (22.19%) compared to imported F9X7 hybrids from China (20.96%) and Bulgarian hybrids (19.26%). The Liangguang II hybrid is recommended to be developed in the highlands in West Java.Keywords: Productivity, commercial, imported hybrid, silkworm eggs ABSTRAKSalah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan persutraan alam di Indonesia adalah pemenuhan bibit ulat sutra unggul. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka dapat dilakukan pengadaan bibit unggul yang berasal baik dari dalam negeri maupun impor. Bibit unggul harus memiliki kualitas dan produktivitas yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk menguji produktivitas dan kualitas bibit ulat sutra hybrid Liangguang II asal Tiongkok dibandingkan dengan hybrid lokal komersial C301 dan hybrid lainnya. Penelitian dilakukan di Stasiun Pembinaan Persutraan Alam, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit hybrid Liangguang II memiliki kualitas ulat yang lebih baik dari hybrid lokal komersial C301. Hybrid Liangguang II memiliki masa larva yang lebih pendek 1 hari 2 jam, kualitas kokon lebih baik, produktivitas kokon lebih tinggi, dan kualitas filamen sama dengan hybrid C301. Hybrid Liangguang II memiliki persentase kulit kokon (22,19%) lebih unggul dibandingkan dengan hybrid impor jenis F9X7 asal Tiongkok (20,96%) dan hybrid Bulgaria (19,26%). Hybrid Liangguang II direkomendasikan untuk dikembangkan di dataran tinggi di Jawa Barat.Kata kunci: Produkitivitas, komersial, hybrid impor, telur ulat sutra
Organisasi dan Keragaan Pasar Durian: Studi Kasus di Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, Provinsi Lampung (Market Organization and Performance of Durian: Case Study at Sungai Langka Village, Gedong Tataan District, Lampung Province) Rommy Qurniati; Ari Yudha Prasetya; Susni Herwanti; Machya Kartika Tsani
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.2.79-91

Abstract

ABSTRACTDurian production is a source of annual income for community living adjacent to the Wan Abdul Rahman Great Forest Park. Since, durian has a high economic value for the community, it is necessary to have an efficient marketing. The objective of this research was to analyse the market performance and organization of the durian market in its marketing system. The study was conducted in Januari until June 2019 on farmers and marketing institutions of durian at Sungai Langka Village, which is located on the boundary of the Wan Abdul Rachman Great Forest Park. Qualitative analysis was carried out to study the market organization and quantitative analysis was used to analyze market performance. The marketing of durian consists of four channels with a market structure that leads to oligopsony market at the farmer level and oligopoly at the marketing institutions (middlemen and retailers). The values of marketing margin, profit margin, ratio profit margin, and market share are not evenly distributed among all marketing institutions involved, therefore the durian marketing system is not efficient. Farmers need to collaborate with various parties to improve their capacity to produce high-quality durians and market them more efficiently.Keywords: Market conduct, market structure, marketing channels, marketing efficiency, profit margin ABSTRAKHasil tanaman durian menjadi sumber penghasilan tahunan bagi masyarakat yang tinggal berbatasan dengan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (Tahura WAR), agar durian dapat memberikan nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat, maka dibutuhkan sistem pemasaran yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis organisasi dan keragaan pasar pada sistem pemasaran durian. Penelitian dilakukan pada Januari sampai Juni 2019 pada petani dan lembaga pemasaran durian di Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedung Tataan, Kabupaten Pesawaran yang berbatasan dengan Tahura WAR. Analisis kualitatif dilakukan untuk mengkaji organisasi pasar dan analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisa keragaan pasar. Pemasaran durian terdiri dari empat saluran dengan struktur pasar oligopsoni di tingkat petani dan oligopoli di lembaga pemasaran (tengkulak dan pengecer). Nilai margin pemasaran, margin keuntungan, rasio profit margin, dan pangsa pasar belum merata diantara semua lembaga pemasaran yang terlibat, sehingga sistem pemasaran durian belum efisien. Petani perlu melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitasnya dalam memproduksi durian yang berkuliatas dan memasarkannya secara lebih efisien.Kata kunci: Efisiensi pemasaran, margin keuntungan, perilaku pasar, saluran pemasaran, struktur pasar
Analisis Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Daun Ruba Re’e dan Uji Aktivitasnya sebagai Pestisida Nabati (Analysis Secondary Metabolite Compounds of Ruba Re'e Leaves Extract and It’s Activity as Natural Pesticides) Maria Tensiana Tima; Philipus Nerius Supardi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.2.125-136

Abstract

ABSTRACTRuba re'e (Hyptis suaviolens) is a type of weed that is usually used by people of Ende in East Nusa Tenggara as traditional medicine, so this plant is the potential to be used as a botanical pesticide. The present study aims to determine the content of secondary metabolites in the Ruba re'e’s leaves and their activity as a natural pesticide on the Parmarion martensi test insects. The observation variables were the content of secondary metabolites in the leaves extract of H. suaviolens, the mortality of contact poison, stomach poison, Lethal Time (LT50), and the speed of death as well as the diet and feeding behavior of the P. martensi test insects. The results showed that H. suaviolens leaves extract contained alkaloids, flavonoids, and tannins, and had a toxic effect on the test insects. The highest mortality occurred in the treatment of pure extract of H. suaviolens leaves, which was 100% within 10 minutes for contact poison and 100% within 240 minutes (4 hours) for stomach poison. The fastest lletal time (LT50) also occurred in the treatment of pure extract of H. suaviolens leaves, namely 10 minutes with a death rate of 10 minutes/individual for contact poison and 120 minutes with a death rate of 2.64 hours/individual for stomach poison. So its effective as a contact poison to P. martensi has the potential as a pest of forestry plants, especially mangroves in nurseries, which causes damage to mangrove plants.Keywords: Hyptis suaveolens, natural pesticides, secondary metabolites ABSTRAKRuba re’e (Hyptis suaviolens) merupakan salah satu jenis gulma yang biasanya digunakan oleh masyarakat Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur sebagai obat tradisional, sehingga tanaman ini berpotensi untuk digunakan sebagai pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak daun H. suaviolens dan aktivitasnya sebagai pestisida nabati pada serangga uji Parmarion martensi. Variabel pengamatan pada penelitian ini adalah kandungan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak daun H. suaviolens, mortalitas racun kontak, racun perut, lethal time (LT 50%) dan kecepatan kematian serta aktratan dan perilaku makan pada serangga uji P. martensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak murni daun H. suaviolens mengandung senyawa metabolit sekunder yang terdiri atas golongan senyawa alkaloid, flavonoid, dan tanin. Ekstrak daun tersebut memberikan efek racun bagi serangga uji P. martensi. Mortalitas tertinggi terjadi pada perlakuan ekstrak murni daun H. suaviolens yaitu 100% dalam waktu 10 menit untuk racun kontak dan 100% dalam waktu 240 menit (4 jam) untuk racun perut. Lethal time (LT50) tercepat juga terjadi pada perlakuan ekstrak murni daun H. suaviolens yaitu 10 menit dengan kecepatan kematian 10 menit/individu untuk racun kontak dan 120 menit dengan kecepatan kematian 2,64 jam/individu untuk racun perut. Oleh karena itu, ektrak daun tersebut efektif sebagai racun kontak bagi hama P. martensi. Hama ini berpotensi juga sebagai hama tanaman kehutanan khususnya mangrove di pembibitan yang menyebabkan kerusakan pada tanaman mangrove.Kata kunci: Hyptis suaveolens, metabolit sekunder, pestisida nabati
Tingkat Kerawanan dan Mitigasi Bahaya Kebakaran Hutan: Studi Kasus di KHDTK Sawala Mandapa, Kadipaten, Provinsi Jawa Barat (The Level of Vulnerability Forest Fire Hazard Mitigation: Case Study at Sawala Mandapa Forest Research Station (FRS) Kadipaten, West Java Province) Henny Wahyuti; Irma Yeny
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2021.18.2.109-123

Abstract

ABSTRACTIn the dry season, land fires often occur in Sawala Mandapa forest research station (FRS) which is caused by human factors. In terms of anticipating this, the accurate information of land burnt potency is needed. The research aims are to determine the level of fire vulnerability and forest fire hazard mitigation. Data were collected by using survey techniques and interviews with key respondents. The collected data was analyzed in the excel program and showed a factor value of 1 - 5 according to their indicators. A survey was carried out on 11 polygons spread over the Sawala FRS Block 9. The data were collected in the specific form of variables of fire susceptibility level (human activity, land cover, weather, and soil type) and fire mitigation. The results showed that the research area had a vulnerable value of 1.8 - 3.3 (from low to high) vulnerable class category. The low-risk area has forest cover in the form of secondary forest and without any human activities. The moderate vulnerability has forest cover in the form of secondary forest and human activities in the certain forms such as obtaining firewood and community road access. The high vulnerability level has forest cover in the form of secondary forest and has certain human activities such as utilizing land under mahogany and teak stands. In addition, there were indicated that burning activities for waste disposal happened in the area. The mitigation that has been carried out is dominated by non-physical mitigation, namely strengthening community capacity. The fire hazard map produced by this study can be used as the basis for fire prevention policies.Keywords: Human activities, fire susceptibility, forest research station, mitigatioABSTRAKPada musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan sering terjadi di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Sawala Mandapa yang diakibatkan oleh kelalaian manusia. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan informasi yang akurat tentang lahan yang memiliki potensi terbakar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kerawanan kebakaran dan mitigasi bahaya kebakaran hutan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei dan wawancara terhadap responden kunci. Data yang terkumpul diinput dalam program Microsoft excel dan diberi nilai faktor 1 - 5 sesuai indikator yang dimiliki. Survei dilakukan pada 11 poligon yang tersebar pada KHDTK blok Sawala petak 9. Data yang dikumpulkan berupa variabel tingkat kerawanan kebakaran (aktivitas manusia, tutupan lahan, cuaca dan jenis tanah) dan mitigasi kebakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, wilayah penelitian memiliki nilai rawan 1,8 - 3,3 dengan kategori kelas rawan rendah hingga tinggi. Pada areal tingkat rawan rendah memiliki tutupan hutan berupa hutan sekunder dan tidak tampak aktivitas manusia. Tingkat rawan sedang, memiliki tutupan hutan berupa hutan sekunder dan aktivitas manusia berupa pengambilan kayu bakar dan akses jalan masyarakat. Tingkat rawan tinggi memiliki tutupan hutan berupa hutan sekunder dan memiliki aktivitas manusia berupa pemanfaatan lahan di bawah tegakan mahoni dan jati. Selain itu, terdapat aktivitas pembuangan dan pembakaran sampah. Mitigasi yang telah dilakukan didominasi oleh mitigasi non fisik, yaitu penguatan kapasitas masyarakat. Peta kerawanan kebakaran yang dihasilkan penelitian ini dapat dijadikan dasar kebijakan pencegahan kebakaran.Kata kunci : Aktivitas manusia, kerawanan kebakaran, KHDTK, mitigasi
Keseimbangan Hara Makro Tegakan Jati (Tectona grandis L.f) dengan Metode DRIS (Macro Nutrient Balance of Teak Stands (Tectona grandis L.f) Using DRIS) Mochamad Chanan; Febri Arif Cahyo Wibowo; Alisa Lila Nidha
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2022.19.1.1-9

Abstract

ABSTRACTThe practice of land clearing by burning, which is often carried out by farmers or area managers, has a negative impact on soil health. Soil health assessment is needed to produce good plant growth. Indicators of soil health include soil properties and cropping systems in the area. Soil health can be maintained by environmental management, crop rotation and soil nutrient management. This study aims to determine the balance of macronutrients in teak plantations. Data collection was conducted using five plots with a size of 12 x 12 m each. In each plot, the plant height and diameter, the physical and chemical properties of the soil, and the plant tissue (N, P, K, Ca, and Mg), were observed. The test results for macronutrients of teak plant tissue were analyzed using DRIS method. The results showed that the balance of nutrients was indicated by the nutrients N (0.244%), P (2.199 ppm), Ca (0 ppm), and Mg (3.241 ppm), while the unbalanced results were indicated by the element K (-5.180 ppm). Therefore, improvement efforts that need to be undertaken to increase the teak plant growth are the addition of potassium fertilizer.Key Words: Teak, macro-nutrients, DRIS method  ABSTRAKPraktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang seringkali dilakukan oleh petani atau pengelola kawasan berdampak negatif terhadap kesehatan tanah. Untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman yang baik diperlukan pengkajian kesehatan tanah. Indikator kesehatan tanah diantaranya, yaitu sifat-sifat tanah dan sistem tanam pada kawasan. Kesehatan tanah dapat dijaga di antaranya dengan pengelolaan lingkungan, rotasi tanaman dan pengelolaan hara tanah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keseimbangan unsur hara makro di hutan tanaman jati. Pengumpulan data dilakukan dengan plot yang terbagi menjadi lima dengan ukuran masing-masing 12 x 12 m. Pada setiap plot, diamati tinggi dan diameter tanaman, kondisi sifat fisik dan kimia tanah serta jaringan tanaman (N, P, K, Mg, dan Ca). Data hasil sampel uji unsur hara makro jaringan tanaman jati dianalisis dengan metode DRIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan unsur hara terjadi untuk hara N (0,244%), P (2,199 ppm), Ca (0 ppm), dan Mg (3,241 ppm), sedangkan tidak seimbang adalah unsur K (-5,180 ppm). Oleh karena itu, upaya perbaikan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman jati tersebut yaitu penambahan pupuk kalium.Kata Kunci: Jati, hara makro, metode DRIS
Bentuk Dan Ketersediaan Pangan dari Hutan Rakyat Untuk Mendukung Ketahanan Pangan Di Pedesaan (Forms and Availability of Food from Private Forest to Support Food Security in Rural Areas) Hardjanto Hardjanto; Yulius Hero; Melewanto Patabang
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2022.19.1.11-28

Abstract

ABSTRACTFood security remains a serious issue for Indonesia, as the availability and distribution of food is unequal in all regions of the country. There is surplus production of cereals (rice and maize) in most provinces in Indonesia, but there are still provinces with production deficits. The planting patterns of private forests established in Indonesia are very diverse and are intended to become a source of food for the community. The objectives of this study are 1) to identify different private forests that have been developed for food crops, and 2) to determine the availability of food for farming households from private forests. Primary and secondary data are used for this study. Primary data collection is done through structured interviews with questionnaires. The results show that the form of private forest for food supply is developed by using agroforestry patterns with areas ranging from < 1 hectare to > 1 hectare with different combinations of food crops. There are seven types of crops grown in private forest that have high value and are needed by farmhouses.Keywords : private forest, food security, agroforestry, food availability ABSTRAKKetahanan pangan masih menjadi masalah yang serius untuk Indonesia, karena ketersediaan dan distribusi pangan yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Surplus produksi serealia (padi dan jagung) terjadi di sebagian besar provinsi di Indonesia, namun masih terdapat provinsi yang mengalami defisit produksi. Pola tanam hutan rakyat yang dikembangkan di Indonesia sangat beragam di setiap daerah, dan diharapkan dapat menjadi sumber pangan bagi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi berbagai bentuk hutan rakyat yang telah dikembangkan untuk budidaya tanaman pangan, dan 2) mengidentifikasi ketersediaan pangan untuk rumah tangga petani dari hutan rakyat. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk hutan rakyat untuk penyediaan pangan dikembangkan dengan pola agroforestry dengan luasan lahan bervariasi antara < 1 ha dan > 1 ha. dengan kombinasi tanaman pangan yang berbeda. Terdapat tujuh jenis tanaman yang dihasilkan dari hutanrakyat dan mempunyai nilai tinggi serta dibutuhkan oleh rumahtangga petani.Kata kunci: hutan rakyat, ketahanan pangan, agroforestry, ketersediaan pangan 
Identifikasi Diversitas Sumber Pakan Lebah Berbasis Lahan Pekarangan pada Meliponikultur (Identification of Bee Forage Sources Diversity Based on Home Garden in Meliponicultural) Endah Wahyuningsih; Maiser Syaputra; Pande Komang Suparyan; Andi Tri Lestari
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2022.19.1.29-44

Abstract

AbstractKelulut cultivation (meliponiculture) has the potential to be developed in West Nusa Tenggara (NTB) due to the availability of abundant natural bee forage resources. The meliponiculture in NTB is generally still on a home garden-based scale. However, the lack of public knowledge about the variety of plants that produce nectar, pollen, and resin throughout the year is an obstacle to the development of meliponiculture. This study aims to identify the variety of the bee forage and identify constraints and opportunities for developing its cultivation. The results showed that 30 species of plants have the potential as bee forage sources, consisting of seasonal and herbaceous plants. All these plants produce pollen, in which 27 species produce pollen and nectar, and only six can produce all pollen, nectar, and resin. Based on identification results, there are five obstacles and five opportunities in meliponiculture at the research site. The main obstacle was the lack of knowledge about the economic and ecological prospects of meliponiculture. At the same time, the opportunity for cultivation is enormous due to the availability of abundant bee forage resources. Therefore, it is necessary to conduct counseling and training on the economic and ecological prospects of meliponiculture, potential food sources, colony maintenance, and post-harvest processing.Keywords: bee forages, cultivation, home garden, meliponiculture AbstrakBudidaya kelulut (meliponiculture) berpotensi dikembangkan di Nusa Tenggara Barat (NTB) karena ketersediaan sumber daya yang cukup melimpah di alam. Budi daya kelulut di Nusa Tenggara Barat umumnya masih berskala rumah tangga berbasis pekarangan (home garden). Namun kurangnya pengetahuan masyarakat tentang ragam tumbuhan yang menghasilkan nektar, polen, dan/atau resin sepanjang tahun menjadi kendala dalam pengembangan budidayanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tanaman sumber pakan kelulut, mengidentifikasi kendala dan peluang pengembangan budidayanya.  Hasil penelitian menunjukkan terdapat 30 jenis tanaman sumber pakan potensial kelulut yang terdiri dari jenis tanaman tahunan dan tanaman herba. Seluruh tanaman tersebut menghasilkan pollen, 27 jenis diantaranya menghasilkan pollen dan nektar, dan hanya 6 jenis yang dapat menghasilkan pollen, nektar dan resin sekaligus. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa ada 5 kendala dan 5 peluang dalam budi daya kelulut di lokasi penelitian. Kendala utama pengembangan budi daya kelulut, yaitu kurangnya pemahaman tentang prospek ekonomi dan ekologi budi daya kelulut, sedangkan peluang budidaya sangat besar karena ketersediaan sumber pakan yang melimpah. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyuluhan dan pelatihan tentang prospek ekonomi dan ekologi budi daya kelulut, sumber pakan potensial, pemeliharaan koloni dan pengolahan pasca panen.Kata kunci: budi daya, pekarangan, sumber pakan, kelulut

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2023): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 17, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2014): JPHT Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 4 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 4 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 2 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 3 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 2 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 1 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 1 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 3 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 3 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 2 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2004): JPHT More Issue