cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. purworejo,
Jawa tengah
INDONESIA
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
ISSN : 23030631     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ADITYA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai media publikasi hasil karya ilmiah. Terbit dua kali setahun tiap bulan November dan Mei. Redaksi menerima artikel dari kalangan mahasiswa, budayawan, ahli sastra maupun praktisi pendidikan.
Arjuna Subject : -
Articles 523 Documents
KESENIAN REWO-REWO DI DESA REDIN KECAMATAN GEBANG KABUPATEN PURWOREJO Khusnul Istiqomah
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 5 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.659 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (a) bentuk penyajian kesenian Rewo-Rewo di Desa Redin Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo; (b) fungsi kesenian Rewo-Rewo bagi masyarakat Desa Redin Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo. Penelitian ini menggunakan metode deskripstif kualitatif sehingga menghasilkan data deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, teknik study pustaka dan observasi. Observasi dengan dua cara yaitu teknik dokumenter dan rekaman/video. Objek dalam penelitian ini adalah kesenian Rewo-Rewo dan para pemain kesenian Rewo-Rewo di Desa Redin Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo. Sumber data dalam penelitian ini adalah proses pertunjukan kesenian Rewo-Rewo, dokumen, buku-buku yang berkaitan dengan masalah kebudayaan, dan wawancara dengan para informan, teknik pemeriksaan keabsahan data yang dilakukan adalah meningkatkan ketekunan dalam pengamatan di lapangan, peneliti menggunakan teknik triangulasi metode. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif yang difokuskan pada pertunjukan kesenian Rewo-Rewo.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa: (1) bentuk penyajian kesenian Rewo-Rewo di Desa Redin Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo adalah : a) pelaku yang terdiri dari pajak, pengrawit, pawang, Rewo-Rewo, barong, penthul dan jaranan, b) gerak yang merupakan unsur utama dalam tari, c) iringan dan tembang yang terdiri dari beberapa instrumen gamelan Jawa, d) busana dan tata rias yang sepintas mirip dengan busana penari dholalak ataupun jaran kepang, e) tempat dan waktu pertunjukan dipentaskan ditempat terbuka, f) urutan penyajian yang sudah ditetapkan dalam kesenian Rewo-Rewo, g) sesaji sebagai kelengkapan wajib di pementasan, h) pertunjukan yang tak lepas dari peran pennonton dan penikmat. (2) Kesenian Rewo-Rewo mempunyai fungsi bagi masyarakat pendukungnya yaitu meliputi : a) sebagai media dan kesempatan perbaikan sosial, b) untuk integrasi sosial c)  untuk pelestarian budaya dan hiburan, d) menyampaikan nilai pendidikan yang terdapat dalam kesenian Rewo-Rewo diantaranya : a) nilai pendidikan sosial meliputi ekonomi dan politik desa, b) nilai pendidikan budi pekerti meliputi menghormati orang lain, tanggung jawab, pengembangan masyarakat, serta intropeksi diri untuk menatap masa depan.     Kata kunci :   Kesenian Rewo-Rewo, bentuk dan fungsinya
KAJIAN SEMIOTIK DALAM KUMPULAN GEGURITAN PADA MAJALAH DJAKA LODANG EDISI TAHUN 2011 Eni Lismawati Nurmawitantri
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 5 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.697 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) pembacaan heuristik pada kumpulan geguritan pada Majalah Djaka Lodang edisi tahun 2011; (2) pembacaan hermeneutik pada kumpulan geguritan pada Majalah Djaka Lodang edisi tahun 2011. Jenis penelitian ini adalah deskripsi kualitatif dengan bidang kajian sastra. Subjek yang dijadikan dalam penenlitian ini adalah pembacaan heuristik pada kumpulan geguritan pada Majalah Djaka Lodang edisi tahun 2011 dan pembacaan hermeneutik pada kumpulan geguritan pada Majalah Djaka Lodang edisi tahun 2011. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik catat. Analisis data menggunakan metode analisis isi. Hasil analisisnya adalah pada kumpulan geguritan pada Majalah Djaka Lodang edisi tahun 2011 terdapat beberapa penyimpangan frasa dan sintaksis yang sulit dibaca oleh pembaca, sehingga analisis pembacaan heuristik dianggap sangat membantu pembaca dalam memaknai geguritan yang terdapat di dalamnya. Konvensi ketaklangsungan ekspresi yang terdapat dalam kumpulan geguritan pada Majalah Djaka Lodang edisi tahun 2011 lebih banyak disebabkan oleh penggunaan penggantian arti dan penggunaan bahasa kiasan. Keseluruhan makna yang terdapat dalam kumpulan geguritan pada Majalah Djaka Lodang edisi tahun 2011 adalah tentang kritik, saran, dan nasihat yang ditujukan kepada manusia tentang bagaimana dalam menjalani kehidupan seperti halnya semangat mencari rezeki dan mencari ilmu.     Kata kunci : kajian semiotik, geguritan, majalah Djaka Lodang  
RITUAL SESAJI SEBAGAI BENTUK PERSEMBAHAN UNTUK KANJENG RATU KIDUL DI DESA KARANGBOLONG KECAMATAN BUAYAN KABUPATEN KEBUMEN Hani yaturroufah
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 5 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.648 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) prosesi ritual sesaji, (2) makna simbolik sesaji, dan (3) fungsi ritual sesaji di pesanggrahan Kanjeng Ratu Kidul di Desa Karangbolong Kecamatan Buayan Kabupaten Kebumen. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata  tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati. Hasil dari penelitian ini adalah prosesi ritual sesaji, makna simbolik sesaji, dan fungsi dari ritual sesaji. Prosesi ritual meliputi: persiapan pada hari Rabu dilakukan proses penjemuran pakaian yang berada di dalam pesanggrahan dan hari Kamis Juru Kunci dan warga memulai berbelanja barang-barang yang akan dimasak untuk sesaji, pelaksanaan pada hari Jumat dilakukan prosesi penyembelihan kerbau sebagai sesaji, peletakan sesaji di pesanggrahan, dan acara kenduri bersama warga dan perangkat desa, prosesi puncak dilaksanakan pada jumat malam jam 24.00 WIB dengan ditandai pembersihan semua sesaji yang ada di ruang sesaji. Adapun makna simbolik sesaji meliputi: Janur kuning mempunyai makna “sing kukuh sing ngening”, Cengkir atau kelapa muda mempunyai makna “kencenge pikir”. Fungsi folklor dalam upacara ritual ini yaitu fungsi ritual dan fungsi sosial. Diantara fungsi sosial yang ada antara lain (a) fungsi sebagai sarana kerukunan hidup, (b) fungsi sebagai kegotongroyongan, (c) fungsi sebagai alat pengendali atau pengawas norma-norma masyarakat yang selalu dipatuhi oleh pendukungnya, (d) fungsi sebagai sarana hiburan, (e) fungsi pelestarian tradisi, dan (f) fungsi sebagai pengesahan pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan masyarakat desa Karangbolong. Fungsi pelestari tradisi yaitu masih dilaksanakannya ritual sesaji sebanyak empat kali dalam satu tahun, karena merupakan warisan dari leluhur yang tidak ditinggalkan. Kata Kunci: Ritual, Sesaji, Persembahan, Kanjeng Ratu Kidul
ANALISIS GAYA BAHASA PADA ANTOLOGI GEGURITAN ABANG BRANANG KARYA RACHMAT DJOKO PRADOPO Siti Robingatun
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 5 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.45 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini  adalah untuk mendeskripsikan gaya bahasa dan makna gaya bahasa dalam Antologi Geguritan “Abang Branang” karya Rachmat Djoko Pradopo. Teori yang dipakai adalah teori yang diungkapkan oleh Gorys Keraf. Subjek penelitian adalah Antologi Geguritan “Abang Branang” karya Rachmat Djoko Pradopo. Objek penelitian adalah gaya bahasa dan makna gaya bahasa yang ada dalam Antologi Geguritan “Abang Branang” karya Rachmat Djoko Pradopo. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka. Berdasarkan hasil analisis disimpulkan bahwa gaya bahasa struktur kalimat yaitu repetisi anafora (16). Gaya bahasa retoris hiperbola (2). Gaya bahasa kiasan meliputi: simile (5), metafora (5), personifikasi (11), metonimia (10), ironi (1), sinisme (1), sarkasme (5). Isi Antologi Geguritan Abang Branang karya Rachmat Djoko Pradopo adalah masalah kehidupan yang beragam yang sering dialami oleh manusia.   Kata kunci: gaya bahasa, dan geguritan.
ANALISIS STRUKTURAL DAN MORALITAS TOKOH DALAM DONGENG PUTRI ARUM DALU KARANGAN DHANU PRIYO PRABOWO Novyta Kumayroh
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 5 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.792 KB)

Abstract

ABSTRAK Skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) struktur dongeng Putri Arum Dalu karangan Dhanu Priyo Prabowo (2) moralitas baik dan buruk dalam dongeng Putri Arum Dalu karangan Dhanu Priyo Prabowo. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini berupa buku dongeng Putri Arum Dalu karangan Dhanu Priyo Prabowo, buku tentang teori sastra, buku tentang moralitas baik dan buruk tokoh, dan referensi lain. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka. Instrumen penelitian yaitu pensil, buku tulis, penulis sendiri dan kartu data. Teknik analisis data menggunakan content analysis. Penyajian hasil analisis menggunakan teknik informal. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa (1) struktur dongeng Putri Arum Dalu karangan Dhanu Priyo Prabowo (a) tema yaitu penyesalan setelah kehilangan sesuatu; (b) alur yaitu alur maju; (c) tokoh dan penokohan terdiri dari tokoh utama yaitu Putri Arum Dalu dan penokohannya ringan tangan, rela berkorban tanpa pamrih, cerdik, mempunyai tubuh yang wangi dan Ratu Candhala dan penokohannya kejam, pelit, sangat sayang kepada anaknya, pemarah, baik hati setelah anaknya musnah, dan tokoh tambahan yaitu kawula atau masyarakat dan penokohannya hidupnya susah, prajurit dan penokohannya kejam, sombong, emban atau pengasuh dan penokohannya setia kepada bendara atau majikannya; (d) latar terdiri dari latar tempat yaitu Kraton Pepeteng, kamar Putri Arum Dalu, desa di lereng gunung, dan taman keputren kraton, latar waktu yaitu zaman dahulu, setiap hari, malam hari, dan suatu hari dan latar sosial yaitu rendah, menengah, dan tinggi; (e) sudut pandang persona ketiga gaya “dia”; (f) gaya bahasa (metonimia dan sinekdoke), (2) moralitas dongeng Putri Arum Dalu karangan Dhanu Priyo Prabowo terdiri dari (a) moralitas baik meliputi ringan tangan, suka menolong tanpa pamrih, menolong orang tanpa melihat status sosial, rela berkorban, setia kepada majikan, dan mau bertobat; (b) moralitas buruk meliputi  jahat, suka sewenang-wenang kepada masyarakat, membuat orang lain susah, pilih kasih, melarang anaknya agar tidak berbaur dengan masyarakat jelata, pemarah, keras kepala, dan tega menyakiti masyarakat.   Kata kunci: analisis struktural, moralitas tokoh, dongeng
BENTUK DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI GUYUBAN BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA PASIR AYAH KEBUMEN Ade Reza Palevi
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 5 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.061 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap: (1) Bentuk tradisi Guyuban di Desa Pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, (2) Nilai pendidikan tradisi Guyuban bagi kehidupan masyarakat Desa Pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, (3) Fungsi folklor tradisi Guyuban di desa Pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode pustaka, observasi, dan wawancara mendalam dengan narasumber yang aktif melaksanakan upacara tradisi Guyuban. Hasil analisi meliputi bentuk tradisi Guyuban di Desa Pasir, ubarampe dan sesaji tradisi Guyuban bunga setaman antara lain mawar, melati, kanthil, kenanga, dan alin-lain. Bunga setaman dimasukan kedalam tempat yang terbuat dari daun pisang yang disebut takir. Bunga memiliki aroma harum, yakni keharuman diri manusia. Artinya manusia harus menjaga keharuman namanya agar tidak tercemar hal-hal yang negatif, nasi tumpeng melambangkan semangat bersatunya antara penguasa dengan rakyatnya. Tukon pasar ini merupakan simbol agar manusia selalu tercukupi kebutuhannya dan diharapkan agar bisa berhasil. Tempat pelaksanaan tradisi Guyuban berada di Desa pasir. Waktu pelaksanaan tradisi Guyuban Jumat Manis, nilai pendidikan tradisi Guyuban bagi kehidupan masyarakat Desa Pasir meliputi Nilai pendidikan religius mendekatkan diri kepada Tuhan, nilai pendidikan moral memupuk rasa kebersamaan, nilai pendidikan sosial nilai pendidikan budaya yaitu pentingnya menjaga tradisi yang ada. Fungsi folklore upacara tradisi Guyuban di Desa pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, fungsi ritual, fungsi sosial, fungsi pelestarian tradisi, fungsi hiburan.   Kata Kunci: Tradisi guyuban. Nilai-Nilai Pendidikan
PENGGUNAAN METODE STAD SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PEMBELAJARAN MENULIS GEGURITAN SISWA KELAS IX A SMP NEGERI 2 KROYA CILACAP Nur Rahma Aniyah
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 5 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.4 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan langkah-langkah metode pem-belajaran, peningkatan kemampuan menulis geguritan dan pengaruh  metode pembelajaran STAD (Student Teams-Achievement Divisions) terhadap kemampuan menulis geguritan siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Kroya Cilacap. Jenis penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX A SMP Negeri 2 Kroya yang berjumlah 38 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, angket, catatan lapangan, dokumentasi dan teknik tes. Instrumen penelitian menggunakan tes dan nontes. Teknik analisis data menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis geguritan. Peningkatan kemampuan menulis geguritan dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata dan persentase ketuntasan hasil belajar pada setiap siklus. Nilai rata-rata dan persentase ketuntasan hasil belajar prasiklus sebesar 59,26 dan 15,79%. Siklus I sebesar 70,00 dan 52,63%, mengalami peningkatan menjadi 74,84 dan 78,95% pada siklus II. Hasil pengamatan dan kuesioner menunjukkan adanya peningkatan belajar siswa dalam menulis geguritan dan mengikuti proses pembelajaran. Pada saat prasiklus belajar siswa kurang dalam menulis geguritan. Pada siklus I penggunaan metode STAD (Student Teams-Achievement Divisions) belajar siswa cukup meningkat. Pada siklus II penggunaan metode STAD belajar siswa semakin meningkat dibandingkan siklus sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya metode pembelajaran yang menarik yang digunakan dalam proses pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode STAD dalam proses pembelajaran menulis geguritan dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa dalam menulis geguritan.   Kata kunci: menulis, geguritan, metode STAD (Student Teams-Achievement Divisions)
MAKNA FILOSOFIS PERTUNJUKAN DAN BUSANA CING POO LING DI DESA KESAWEN PITURUH KABUPATEN PURWOREJO Septi Prihatiningsih
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 5 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.862 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dengan jelas bagaimana bentuk penyajian, ubarampe, makna filosofis yang terkandung pada ubarampe kesenian Cing Poo Ling serta untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kontinuitas dan perubahan pada kesenian Cing Poo Ling. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian perlengkapan pertunjukan dan busana kesenian Cing Poo Ling semuanya mengandung magic tertentu atau misteri didalamnya. Diantaranya : (1) Topi pacul gowang yang berfungsi untuk menutup iket yang dipakai Dipo agar prajurit sandi tidak mengenalinya. (2) Iket. Fungsi dari iket yaitu jika dikebutkan kepada seseorang, yang terkena iket tersebut tidak akan bisa melihat ( kabur penglihatannya ). (3) Ketipung. Bila dipukul dengan irama tertentu akan mengeluarkan seperti batu berlompatan dan melukai musuhnya. (4) Kecrek. adalah ajimat ampuh yang berfungsi agar si pemegang kebal senjata dan menjadikan lawannya pingsan. Dengan berkembangnya jaman kesenian Cing Poo Ling beralih fungsi dari upacara pisowanan beralih fungsi menjadi sarana hiburan. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan yang terjadi dalam kesenian Cing Poo Ling. Namun, perubahan tersebut tidak mengubah sepenuhnya dari keaslian kesenian tersebut, hanya sebagian kecil saja diantaranya: perubahan fungsi dan waktu dan tempat pertunjukan kesenian Cing Poo Ling. Keaslian tari, alat musik dan busana masih dipertahankan keasliannya hingga sekarang.     Kata kunci: bentuk penyajian, ubarampe, makna filosofis, pertunjukan Cing Poo Ling.
KAJIAN ESTETIKA DAN PROSES PEMBUATAN KERIS KARYA SUTIKNO KANTHI PRASOJO KELURAHAN KLEDUNG KRADENAN KECAMATAN BANYUURIP KABUPATEN PURWOREJO JAWA TENGAH Bustomi Ferdian
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 6 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.648 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam pembuatan keris karya Sutikno Kanthi Prasojo; (2) mengatahui  proses pembuatan keris karya Sutikno Kanthi Prasojo; (3) mengetahui estetika keris karya Sutikno Kanthi Prasojo di Kelurahan Kledung Kradenan Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik wawancara yang digunakan yaitu teknik wawancara mendalam, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Analisis data digunakan tiga teknik yaitu (1) reduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok; (2) penyajian data, disajikan dalam bentuk sekumpulan informasi yang tersusun dengan baik melalui ringkasan atau rangkuman-rangkuman berdasarkan data-data yang telah diseleksi atau direduksi; (3) verifikasi data, merupakan tinjauan terhadap catatan yang telah dilakukan di lapangan. Teknik keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber.  Selanjutnya, dalam teknik penyajian hasil analisis data digunakan teknik informal. Hasil penelitian yang diperoleh meliputi (1) bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan dalam pembuatan keris. Bahan yang digunakan yaitu besi,baja,nikel dan arang kayu jati, sedangkan peralatan yang digunakan meliputi; Paron, Gergaji besi, Tatah, Wungkal (batu asah), Palu, Tanggam, Kikir, Grafir , Sapit , Gerinda dan Bor. (2) Proses pembuatan keris melelui beberapa tahap yaitu menyiapkan bahan, menyiapkan alat, proses menempa (masuh, mencampurkan antara besi dengan nikel menjadi lapisan pamor, membentuk kodokan, membuat gonjo), ngelus, membuat ricikan, finishing (menyepuh dan mewarangi). (3) Estetika bilah keris karya Sutikno dalam bentuk keris dapur sengkelat dan omyang pajang.   Kata kunci : Estetika Keris, Proses Pembuatan
PRINSIP KERJA SAMA DALAM ANTOLOGI DRAMA JAWA MODHERN “GONG” TAHUN 2002 KARYA SUWARDI ENDRASWARA Pitsy Anggraeni Wijaya
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 3, No 6 (2013): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.745 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penggunaan prinsip kerja sama dalam Antologi Drama Jawa Modhern “Gong” Tahun 2002 Karya Suwardi Endraswara; (2) bentuk-bentuk pematuhan dan pelanggaran prinsip kerja sama dalam Antologi Drama Jawa Modhern “Gong” Tahun 2002 Karya Suwardi Endraswara. Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian berupa naskah-naskah drama. Objek berupa penggunaan prinsip kerja sama dalam Antologi Drama Jawa Modhern “Gong” Tahun 2002 Karya Suwardi Endraswara. Instrumen penelitian adalah penulis sendiri dibantu dengan kartu data. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan teknik catat. Teknik analisis data menggunakan teknik identifikasi semua data yang diperoleh. Teknik penyajian data menggunakan teknik informal. Hasil penelitian diperoleh: (1) bentuk pematuhan dalam Antologi Drama Jawa Modhern “Gong” Tahun 2002 Karya Suwardi Endraswara ada 15 macam meliputi 4 maksim utama yaitu maksim kuantitas, kualitas, relevansi, cara, dan 11 maksim kombinasi dari 4 maksim utama (2) bentuk pelanggaran dalam Antologi Drama Jawa Modhern “Gong” Tahun 2002 Karya Suwardi Endraswara ditemukan 15 macam maksim seperti pada bentuk pematuhan prinsip kerja sama. Kata kunci: analisis, prinsip kerja sama, gong

Page 10 of 53 | Total Record : 523