cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. purworejo,
Jawa tengah
INDONESIA
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
ISSN : 23030631     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ADITYA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai media publikasi hasil karya ilmiah. Terbit dua kali setahun tiap bulan November dan Mei. Redaksi menerima artikel dari kalangan mahasiswa, budayawan, ahli sastra maupun praktisi pendidikan.
Arjuna Subject : -
Articles 523 Documents
Analisis Wacana Tekstual Lirik Lagu Langgam Pada Kempalan Langgam Karawitan Jawi Oleh Sri Widodo Titis Widarningsih
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.958 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) aspek gramatikal yang terdapat dalam lirik lagu langgam pada Kempalan Langgam Karawitan Jawi oleh Sri Widodo; (2) aspek leksikal yang terdapat dalam lirik lagu langgam pada Kempalan Langgam Karawitan Jawi Oleh Sri Widodo. Sumber data penelitian ini adalah lirik lagu langgam pada Kempalan Langgam Karawitan Jawi Oleh Sri Widodo diterbitkan oleh CV. Cendrawasih di Sukoharjo-Surakarta sementara data dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan mengenai aspek gramatikal pada perangkaian dan aspek leksikal pada yang ada dalam lirik lagu langgam pada Kempalan Langgam Karawitan Jawi Oleh Sri Widodo. Teknik pengumpulan data ini menggunakan teknik pustaka, teknik simak dan teknik catat. Adapun teknik analisis data digunakan  metode analisis isi yang mengkaji isi teks dengan teliti dan menyeluruh. Instrumen penelitian ini adalah penulis yang bertindak sebagai perencana dan pelaksana dalam penelitian. Uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan validitas semantis sedangkan uji kredibilitas datanya menggunakan teknik ketekunan pengamatan. Penulis mencari data melalui teks cerita dan pustaka penunjang lainnya. Selanjutnya, dalam penyajian hasil analisisnya digunakan metode informal, yakni  penyajian hasil analisis menggunakan kata-kata biasa. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa Aspek gramatikal dalam Kempalan Langgam Karawitan Jawi Oleh Sri Widodo meliputi 1) referensi (pengacuan) yaitu pada pengacuan persona I, II, dan III; pengacuan demonstratif waktu; pengacuan komparatif; 2) konjungsi (perangkaian) yang meliputi a) sebab akibat; b) perrtentangan c) d) aditif,e) urutan f) waktu g) syarat. Aspek Leksikal dalam Kempalan Langgam Karawitan Jawi Oleh Sri Widodo meliputi 1) repetisi (pengulangan), 2) sinonimi (padan  kata), 3) antonym (oposisi makna), 4) kolokasi (sanding kata), dan 5) ekuivalensi (kesepadanan).   Kata kunci: Wacana, tekstual
Analisis Aspek Diksi Dalam Antologi Geguritan “Guritan” Oleh Suripan Sadi Hutomo Vivi Kusumawati
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.439 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan: 1) mendeskripsikan bunyi bahasa yang terdapat dalam diksi yang digunakan dalam Antologi Geguritan “Guritan” yang disusun oleh Suripan Sadi Hutomo dan 2) mendeskripsikan struktur leksikal yang terdapat dalam diksi yang digunakan dalam Antologi Geguritan “Guritan” yang disusun oleh Suripan Sadi Hutomo. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penggunaan diksi dalam Antologi Geguritan “Guritan” yang disusun oleh Suripan Sadi Hutomo. 1) Bunyi bahasa atau repetisi meliputi: (a) repetisi epizeuksis (12), (b) repetisi tautotes (6), (c) repetisi anafora (37), (d) repetisi epistrofa (4), (e) repetisi simploke (1), (f) repetisi mesodiplosis (21), (g) repetisi epanalepsis (4), (h) repetisi anadiplosis (4), dan (i) repetisi utuh/ penuh (2). 2) Struktur leksikal meliputi: (a) hiponimi (5), (b) antonimi (oposisi makna) yang dibagi menjadi enam yaitu (1) oposisi kembar (4), (2) oposisi majemuk (2), (3) oposisi gradual (6), (4) oposisi relasional (kebalikan) (9), (5) oposisi hirarkis (2), dan (6) oposisi inversi (1).   Kata kunci : diksi, Antologi Geguritan
Penggunaan Bentuk dan Jenis Honorifik Bahasa Jawa di Kabupaten Purworejo Ari Fariza Ma’rifati
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.446 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) bentuk-bentuk honorifik dan (2) jenis-jenis honorifik bahasa Jawa di Kabupaten Purworejo. Honorifik merupakan satuan lingual yang digunakan untuk mengungkapkan rasa hormat kepada orang lain, berdasarkan perbedaan dalam hal derajat sosial, peringkat kesantunan, dan kekuasaan pada yang bersangkutan. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh masyarakat kabupaten Purworejo. Sampel penelitian yaitu 9 desa dari 3 kecamatan di kabupaten Purworejo. Penelitian ini dilakukan di (1) Kecamatan Bruno, yakni (a) desa Brunorejo, (b) desa Gowong, dan (c) desa Plipiran. Selanjutnya (2) Kecamatan Gebang yakni (a) desa Gebang, (b) desa Salam, dan (c) desa Bendosari. Lalu yang terakhir (3) Kecamatan Kemiri yakni (a) desa Gedhongan, (b) desa Gesikan, dan (c) desa Paitan. Data penelitian ini berupa bentuk dan jenis honorifik yang terdapat di kabupaten tersebut. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian  merupakan peneliti sendiri dan dibantu perangkat keras dan perangkat lunak. Analisis data dengan teknik deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan yaitu metode padan dan metode agih. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) bentuk honorifik yang terdapat di kabupaten Purworejo ada 5 yaitu: (a) kata, (b) kelompok kata, (c) singkatan kata, (d) kelompok singkatan kata, dan (e) gabungan singkatan dan kata. (2) berdasarkan jenisnya ada 7 jenis honorifik bahasa Jawa di kabupaten Purworejo, yaitu (a) honorifik kata kerabat, (b) honorifik kata ganti personal, (c) honorifik pangkat, jabatan, dan profesi, (d) honorifik gelar, (e) honorifik rekigius, (f) honorifik tokoh ghaib, dan (g) honorifik umum.   Kata kunci: Bentuk, Jenis Honorifik, Kabupaten Purworejo.
Analisis Semiotik dalam Antologi Geguritan Siter Gadhing Karya Djaimin. K Asih Yulianti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.45 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pembacaan heuristik pada Antologi Geguritan Siter Gadhing Karya Djaimin. K, dan (2) mendeskripsikan pembacaan hermeneutik pada Antologi Geguritan Siter Gadhing Karya Djaimin. K. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif . Sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan teks  geguritan atau antologi geguritan Siter Gadhing karya Djaimin K. Data dalam penelitian ini berupa adalah geguritan yang terdapat dalam kumpulan teks geguritan yang berupa kata-kata, kalimat dan satuan gramatikal yang menunjukkan indikator sehingga perlu dilakukan pembacaan secara semiotik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik simak dan teknik catat. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen dan instrumen pembantu berupa nota pencatat data. Uji keabsahan data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik ketekunan pengamatan. Teknik analisis data yang digunakan adalah content analysis (analisis isi). Teknik penyajian data dalam penelitian ini adalah teknik informal yaitu perumusan dengan kata-kata biasa. Hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa hasil dari pembacaan heuristik adalah terdapat penyimpangan frasa yang menyulitkan pembacaan, sehingga analisis heuristik sangat membantu dalam pemaknaan. Sedangkan hasil dari pembacaan hermeneutik adalah terdapat konvensi ketidaklangsungan ekspresi berupa penggantian arti karena bahasa kiasan. Keseluruhan makna dari pembacaan hermeneutik pada geguritan yang terdapat dalam Antologi Geguritan Siter Gadhing Karya Djaimin. K yaitu mengandung ungkapan mengenai rasa cinta kasih, harapan, kekecewaan dan kesengsaraan, semangat, nasihat, rasa senang dan syukur, rasa pasrah diri, perjuangan, rasa ikhlas, kejahatan dan rasa khawatir.   Kata kunci: geguritan, heuristik dan hermeneutik
Analisis Struktural Novel Rangsang Tuban Karya Padmasusastra dan Pembelajarannya di SMA Nur Isrofi
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.589 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) struktur pembangun novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra (2) hubungan antarstruktur novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra (3) pembelajaran novel Rangsang Tuban di SMA. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan: (1) struktur novel Rangsang Tuban karya Padmasusastra memiliki (a) tema: Hancurnya persaudaraan dua anak raja akibat rasa iri dan kecemburuan; (b) tokoh utamanya: Sri Narendra Sindupati, Raden Warihkusuma, Raden Warsakusuma sedangkan tokoh tambahannya: Rara Sendang Wresti, Retna Wayi, Kanjeng Rekyana, Prabu Hertambang, Kanjeng Kyai Buyut Wulusan, Kanjeng Nyai Buyut Wulusan, Raden Udakawimba; (c) alurnya: alur maju; (d) latar tempat: Tuban, Banyubiru, Kasurwangi, Mudal, Sumbereja, Taman, Sungai, Jurang Kenaka, Hutan; (e) latar waktu: Latar waktu yang digunakan dalam novel Rangsang Tuban adalah kehidupan zaman dahulu tersebut menggambarkan pola pikir masyarakat yang maju; (f) sudut pandang: orang ketiga serba tahu; (2) Pembelajaran novel Rangsang Tuban di SMA sesuai dengan kurikulum 2013; (3) hubungan antarstruktur dalam novel Rangsang Tuban meliputi hubungan tema dengan alur, hubungan tema dengan tokoh dan penokohan, hubungan tema dengan latar, hubungan alur dengan tokoh dan penokohan, hubungan alur dengan latar, hubungan latar dengan tokoh dan penokohan, hubungan judul dengan tema, hubungan judul dengan tokoh dan penokohan, sehingga novel Rangsang Tuban Karya Padmasusastra dapat dijadikan bahan ajar sastra Jawa di SMA.   Kata kunci : struktural, pembelajaran sastra
Analisis Nilai Pendidikan Moral Rubrik ‘Wacan Bocah’ dalam Majalah Djaka Lodang Edisi Januari- Desember 2014 Dwi Purwaningsih
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.56 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan nilai-nilai moral rubrik ‘Wacan Bocah’ dalam majalah Djaka Lodang, (2) mendeskripsikan relevansinilai-nilai moral rubrik ‘Wacan Bocah’ dalam majalah Djaka Lodang dengan kehidupan sekarang.Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah berupa kutipan pada majalah Djaka Lodang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup tiga hal yaitu teknik pustaka, teknik simak, dan teknik catat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrument  utama, dengan  menggunakan alat-alat tulis, alat rekam dan kartu data. Teknik keabsahan data menggunakan teknik pengujian kredibilitas data dalam penelitian ini adalah semantik. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik content analysis . Teknik penyajian hasil analisis data menggunakan teknik informal. Hasil penelitian yang ditemukan nilai moral pada majalah Djaka Lodang adalah : (1) nilai moral hubungan manusia dengan Tuhan, meliputi: berdoa  6 indikator dan bersyukur 4 indikator, (2) nilai moral hubungan manusia dengan manusia, meliputi: menasehati 8 indikator, tolong menolong 15 indikator, persaudaraan 3 indikator, kasih sayang  3 indikator, berbakti kepada orang tua 3 indikator, (3) nilai moral hubungan manusia dengan diri sendiri, meliputi: khawatir 8 indikator, ragu-ragu 2 indikator, senang 19 indikator, waspada  2 berjanji pada diri sendiri 5 indikator, berpikir 6 indikator, ikhlas 1 indikator, membela diri 2 indikator, pemberani 5 indikator. Relevansi nilai moral dalam ‘Wacan Bocah’ dalam majalah Djaka Lodhang edisi Januari-Desember 2014  dengan kehidupan sekarang: (a) nilai moral hubungan manusia dengan Tuhan, meliputi berdoa dan bersyukur sudah tidak relevan dengan kehidupan sekarang. (b) nilai moral hubungan manusia dengan manusia, yang masih relevan dengan kehidupan sekarang adalah sikap menasehati, persahabatan, dan tolong menolong, sedangkan yang tidak relevan dengan kehidupan sekarang adalah persaudaraan, kasih sayang dan berbakti kepada orang tua. (c) nilai moral hubungan manusia dengan diri sendiri, yang masih relevan dengan kehidupan sekarang meliputi sikap waspada, pemberani, membela diri, dan berpikir, sedangkan yang tidak relevan dengan kehidupan sekarang adalah sikap khawatir, ragu-ragu, senang, dan ikhlas.   Kata kunci: nilai, pendidikan, moral,
Prosesi Dan Makna Simbolik Upacara Tradisi Wiwit Padi di Desa Silendung Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo Mur ti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.953 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan prosesi upacara tradisi wiwit padi di desa Silendung, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, (2) Mendeskripsikan makna simbolis sesaji dalam tradisi wiwit padi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, datanya dikumpulkan, dideskripsikan, dan dianalisis latar belakang, prosesi dan makna simbolis yang terdapat dalam upacara tradisi wiwit padi.Sumber data yang dikaji dalam penelitian ini yaitu tokoh masyarakat dan warga masyarakat desa Silendung. Data yang diambil berupa data lisan dari hasil wawancara dengan narasumber. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara semiterstruktur, observasi pertisipan, dan dokumentasi. Validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik tringulasi. Hasil  penelitian ini adalah, Prosesi dari upacara tradisi wiwit padi diantarannya malaksanakan ritual genguri atau kepungan dan ritual mengelilingi sawah. Makna simbolis sesaji dalam tradisi wiwit padi semuanya mengandung arti tertentu di dalamnya. Misalnya: (1) ingkung mempunyai arti pasrah kepada yang maha kuasa, (2) pisang raja agar yang mempunyai hajat wiwit mempunyai sifat seperti raja, (3) kembang empon-empon mempunyai arti agar manusia selalu ingat pada Tuhan, (4) kupat lepet meminta permohonan maaf, (5) megono menggambarkan kemakmuran, (6) telur jawa setiap tindakan harus direncanakan terlebih dahulu dan, (7) sesaji pelengkap agar selalu berhasil dalam hidupnya, (8) oboruntuk penerang (9) ani-ani untuk memetik padi (10) besek/ daun pisang untuk tempat sesaji dan (11) Korek api .   Kata kunci : Prosesi, makna simbolik, tradisi wiwit padi
Pelestarian Kesenian Jepinan di Desa Pulasari Kecamatan Pagentan Banjarnegara Ahmad Solikhin
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.359 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan pertunjukan kesenian Jepinan di Desa Pulasari Kecamatan Pagentan Kabupaten Banjarnegara,; (2) Untuk mengetahui makna simbolik yang terdapat dalam sesaji yang digunakan dalam pertunjukan kesenian Jepinan di Desa Pulasari Kecamatan Wanayasa Kabupaten Banjarnegara,; (3) Untuk mengetahui pelestarian kesenian Jepinan di Desa Pulasari Kecamatan Wanayasa Kabupaten Banjarnegara.Metode Penelitian deskriptif kualitatif, Populasi dalam penelitian ini adalah semua masyarakat di Desa Pulasari Kecamatan Pagentan Kabupaten Banjarnegara yang mengetahui dan masih melestarikan kesenian Jepinan. Instrumen penelitian adalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai participant observer, dan dibantu Handphone sebagai perekam wawancara serta camera digital untuk mengabadikan gambar. Teknik pengumpulan data adalah Teknik Wawancara, teknik observasi dan Teknik Dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan langkah data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian dan pembahasan data menunjukkan bahwa (1) Prosesi Pertunjukan Kesenian Jepinan di Desa Pulasari meliputi Ngliar, mempersiapkan tempat pertunjukan, pembuatan ubarampe/ sesaji, obong menyan (membakar kemenyan), Pertunjukan kesenian Jepinan di Desa Pulasari, Meliputi : Pertunjukan gerakan tarian , mendem (kesurupan), golet kanca (mencari anggota kesenian Jepinan yang tidak ikut dalam pertunjukan, golet Upas (mencari guna-guna atau unsur ilmu hitam yang digunakan untuk menjaili seseorang, dan pasca pertunjukan ditutup dengan berfoto bersama para pemain kesenian Jepinan di Desa Pulasari, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara. (2) Makna Simbolis yang terkandung dalam Ubarampe / Sesaji dalam Pertunjukan Kesenian Jepinan di Desa pulasari, sebagai berikut : Godhogangodhonggandul juga memiliki makna yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan manusia. Manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia tidaklah akan berjalan indah selamanya. Pasti dalam kehidupan manusia akan memiliki rintangan ataupun cobaan yang melanda, Telabakar, Ubarampe godhongsuruh, Kembang mawarabangputih, Kinang, Wedang kopi, wedang teh, wedang putih, Minyak Duyung, Kemenyan, (3) Pelestarian Kesenian Jepinan di Desa Pulasari, dalam pelestarian kesenian Jepinan terdapat Unsur Pendukung dan Unsur Penghambat, Unsur Pendukung dalam Kesenian Jepinan di Desa Pulasari meliputi : Pemerintah Desa Pulasari, Masyarakat dan juga Pemain Kesenian Jepinan sendiri, sedangkan Unsur Penghambatnya yaitu : Pemerintah Kecamatan kesenian Jepinan yang tidak serius, Agama yang dianut masyarakat Desa Pulasari. Kata kunci : Jepinan, Makna Simbolis, Pelestarian
Kajian Struktural dan Nilai Religius dalam “Serat Palapuraning Panitra Nalika Dherek Pangarsa Tedhak Madura” karangan R.M.NG. Prajakintaka Dianto Sumangku Panemu
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.62 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  unsur struktural dan mencari nilai religi teks naskah Serat Palapuraning Panitra Nalika Dherek Pangarsa Tedhak Madura Karangan R.M.Ng.Prajakintaka”., Penelitian ini menggunakan pendekatan yang bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah naskah Serat Palapuraning Panitra Nalika Dherek Pangarsa Tedhak Madura MaduraKarangan R.M.Ng.Prajakintaka”. yang disimpan di museum Radya Pustaka, Surakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara; studi pustaka dengan teknik analisis baca dan catat, dan pencatatan  sumber data. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, sedangkan hasil penyajian analisis data menggunakan teknik penyajian analisis informal. Unsur struktural teks naskah Serat Palapuraning Panitra Nalika Dherek Pangarsa Tedhak Madura meliputi : tema, tokoh, alut/plot dan latar atau setting. Serat Palapuraning Panitra Nalika Dherek Pangarsa Tedhak Madura berisi tentang catatan kisah perjalanan Kangjeng Pangeran Haryo Hadiwijaya dari Surakarta menuju Madura,  perjalanan selama tujuh hari (hari jum’at sampai dengan kamis) dari Surakarta Menuju Madura hingga beliau pulang kembali ke Surakarta. Alur dalam serat ini merupakan alur campuran. Tokoh dalam serat ini yaitu keluarga kerajaan, latar dalam serat ini memiliki latar tempat. waktu, dan sosial. Nilai religi yang terkandung di dalam naskah Serat Palapuraning Panitra Nalika Dherek Pangarsa Tedhak Madura diantaranya bersyukur kepada tuhan, berdoa, berziarah, membaca Al-Qur’an, taat terhadap larangan agama, ajakan masuk agama Islam, serta pemakaman jenazah.   Kata kunci : Kajian Struktural, Nilai Religi
Analisis Tokoh Wanita dalam Novel Tunggak-Tunggak Jati Karya Esmiet Trian Wahyu Prasetiyo
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 6, No 5 (2015): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.026 KB)

Abstract

Abstrak:  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur yang membangun dalam novel Tunggak-tunggak Jati karya Esmiet yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur dan latar serta citra wanita yang meliputi aspek fisik, aspek psikis, dan aspek sosial di keluarga. Subjek penelitian ini novel yang berjudul Tunggak-tunggak Jati karya Esmiet. Objek penelitian ini adalah struktur yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur serta latar dan pencitraan tokoh wanita, yang meliputi aspek fisik, aspek psikis dan aspek sosial dalam keluarga. Data dalam penelitian ini adalah struktur dan citra tokoh wanita, sumber datanya novel Tunggak-tunggak Jati. Instrumen penelitian ini peneliti itu sendiri. Teknik pengumpulan data yang digunakan: teknik simak, teknik catat dan teknik pustaka. Teknik analisis data yang digunakan: metode analisis konten dan teknik terjemahan. Teknik penyajian data yang digunakan adalah metode penyajian informal.Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh hasil yaitu: (1) Struktur novel Tunggak-tunggak Jati karya Esmiet meliputi: tema yaitu percintaan, tokoh utama yaitu Lien Nio dan Karmodo, tokoh tambahan yaitu Tan Bian Biau, Siau Yung, Karsini, Salmah, Suwaji, dan Kastam. Alurnya adalah alur maju. Latarnya antara lain latar tempat, gubug di tengah hutan, rumah Bian Biau, rumah Pak Karsonto, desa Parijatah, dan rumah Lien Nio. Latar waktu antara lain: jam 7 pagi, siang hari, pagi hari, malam hari, dan sepuluh tahun, serta latar sosialnya merupakan status menengah ke atas. (2) Citra Wanita pada novel Tunggak-tunggak Jati karya Esmiet meliputi citra diri dan citra sosial. Dalam aspek fisik tokoh wanita Lien Nio dan Siau Yung dalam novel ini digambarkan sebagai wanita yang bermata sipit dan berkulit kuning, tokoh wanita Karsini digambarkan sebagai wanita yang berkulit kuning, dan tokoh wanita Salmah digambarkan sebagai seorang janda yang mempunyai senyum menawan. Dalam aspek psikis (kejiwaan) tokoh wanita Lien Nio digambarkan sebagai wanita yang mengalami tekanan batin dan merana, tokoh wanita Siau Yung digambarkan sebagai wanita yang iri hati, tokoh wanita Karsini digambarkan sebagai wanita yang merasa tidak adil, dan tokoh wanita Salmah digambarkan sebagai wanita yang membutuhkan kecukupan rohani. Citra sosial di dalam keluarga, Lien Nio berperan sebagai anggota keluarga, Siau Yung berperan sebagai anggota keluarga Lien Nio, Karsini berperan sebagai anggota keluarga lain, dan Salmah berperan sebagai kerabat Lien Nio.   Kata Kunci : citra wanita, feminisme, tokoh utama, novel Tunggak-tunggak Jati