cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1: April (2020)" : 7 Documents clear
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BANGGAI CARDINAL FISH (BCF) Bahrul Ulum; Muhammad Junaidi; Ibadur Rahman
Jurnal Kelautan Vol 13, No 1: April (2020)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v13i1.5938

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the effect of feeding frequency on the growth and survival of Banggai Cardinal Fish (BCF), and to determine the optimal frequency and timing of feeding. The study used a Completely Randomized Design (CRD) method with 5 treatments and 3 replications namely treatment P1 = one time feeding at 06.00 (morning), treatment P2 = one time feeding at 18.00 (afternoon), treatment P3 = twice feeding at 06.00 and 18.00, treatment P4 = three times feeding at 06.00, 12.00, and 18.00, treatment P5 = four times feeding at 06.00, 12.00, 18.00, and 24.00. The data obtained were analyzed using ANOVA at 95% confidence level and further tests using (Tukey HSD) to determine the best treatment. The parameters observed were absolute length growth, absolute weight growth, daily growth rate, survival rate and water quality. The results showed the frequency of feeding significantly affected the growth and survival of Banggai Cardinal Fish (BCF). The best treatment was obtained from the treatment of feeding 3 times a day resulting in an absolute length growth of 0.62 cm, an absolute weight growth of 0.20 grams, a daily growth rate of 6.97% / day, a survival rate of 73.3%.Keywords: growth, survival, Banggai Cardinal Fish, frequency.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh frekuensi pemberian pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup Banggai Cardinal Fish (BCF), serta mengetahui frekuensi dan waktu pemberian pakan yang optimal.Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan yakni perlakuan P1 = satu kali pemberian pakan jam 06.00 (pagi), perlakuan P2 = satu kali pemberian pakan jam 18.00 (sore), perlakuan P3 = dua kali pemberian pakan jam 06.00 dan 18.00, perlakuan P4 = tiga kali pemberian pakan jam 06.00, 12.00, dan 18.00, perlakuan P5 = empat kali pemberian pakan jam 06.00, 12.00, 18.00, dan 24.00. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf kepercayaan 95% dan uji lanjut menggunakan (Tukey HSD) untuk mengetahui perlakuan terbaik. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan panjang mutlak, pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan harian, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan frekuensi pemberian pakan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup Banggai Cardina Fish (BCF). Perlakuan terbaik didapatkan dari perlakuan pemberian pakan sebanyak 3x sehari menghasilkan pertumbuhan panjang mutlak sebesar 0,62 cm, pertumbuhan berat mutlak sebesar 0,20 gram, laju pertumbuhan harian sebesar 6,97 %/hari, tingkat kelangsungan hidup sebesar 73,3%. Kata kunci: pertumbuhan, kelangsungan hidup, Banggai Cardinal Fish, frekuensi.
EFEKTIVITAS PENAMBAHAN TEPUNG BUAH LABU KUNING PADA PAKAN IKAN TERHADAP PENINGKATAN KECERAHAN DAN PERTUMBUHAN IKAN BADUT (Amphipriion ocellaris) S Sartikawati; Muhammad Junaidi; Ayu Adhita Damayanti
Jurnal Kelautan Vol 13, No 1: April (2020)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v13i1.5940

Abstract

ABSTRACTClown fish is a type of ornamental fish that is very commonly known, namely Amphiprion ocellaris. this research Analyzes the effect of the use of pumpkin flour mixed into fish feed for color brightness and growth. The method used is an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 5 treatments and 3 replications. The treatment is the addition of pumpkin fruit flour with a different number of additional doses of treatment P0 without adding pumpkin fruit flour (control), treatment P1 5%, treatment P2 10%, treatment P3 15%, treatment P4 20%. The parameters observed were total carotenoids, survival rates, growth in length and weight of fish and water quality. Based on the analysis of variance that the addition of pumpkin fruit flour has an influence on the brightness of the color and growth, where the highest treatment was obtained in the treatment of P3, namely the addition of pumpkin fruit flour 15%, with the number of color changes of 1.2631, absolute weight growth of 0, 5853, specific weight of 0.0195, absolute length of 0.4567, specific length of 0.0152 and survival rate of 0.8000.Keywords: Color change, absolute weight, specific weight, specific length, clownfish.ABSTRAKIkan badut adalah jenis ikan hias yang sangat umum dikenal, yaitu Amphiprion ocellaris. Penelitian ini Menganalisis pengaruh penggunaan tepung labu kuning yang dicampur ke dalam pakan ikan terhadap kecerahan dan pertumbuhan warna. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuannya adalah penambahan tepung buah labu dengan jumlah dosis tambahan perlakuan berbeda, P0 tanpa menambahkan tepung buah labu (kontrol), perlakuan P1 5%, perlakuan P2 10%, perlakuan P3 15%, perlakuan P4 15%, perlakuan P4 20%. Parameter yang diamati adalah total karotenoid, tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan panjang dan berat ikan dan kualitas air. Berdasarkan analisis varian bahwa penambahan tepung buah labu kuning memiliki pengaruh terhadap kecerahan warna dan pertumbuhan, dimana perlakuan tertinggi diperoleh pada perlakuan P3, yaitu penambahan tepung buah labu 15%, dengan jumlah perubahan warna 1,2631, pertumbuhan berat absolut 0, 5853, berat spesifik 0,0195, panjang absolut 0,4567, panjang spesifik 0,0152 dan tingkat kelangsungan hidup 0,8000.Kata kunci: Perubahan warna, berat total, berat spesifik, panjang spesifik, ikan badut.
EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa balbisiana Colla) UNTUK MENURUNKAN KANIBALISME PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Lensa Safitrah; Dewi Nur’aeni Setyowati; Baiq Hilda Astriana
Jurnal Kelautan Vol 13, No 1: April (2020)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v13i1.5941

Abstract

ABSTRACTThis study aims to determine the effectiveness of adding kapok banana peel extract (Musa balbisiana colla) in commercial feed to reduce cannibalism in vaname shrimp (Litopenaeus vannamei). Test animals used in this study were 22-day-old vaname shrimp (PL 22) with an initial weight of 0.07-0.09 g. The method used in this study is an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 3 replications to obtain 12 experimental units, namely P0 (without the addition of banana peel extract), P1 (banana peel extract 0.5% ), P2 (1% banana peel extract), P3 (1.5% banana peel extract). The results showed that there was no significant effect on the rate of cannibalism predation, survival, FCR and frequency of molting, but had a significant effect on the growth of absolute weights and specific weights. 1.5% piak skin) is the best treatment with an absolute weight percentage of 2.80 g and a specific weight of 3.83%.Keywords: Shrimp vaname, banana peel extract, cannibalism, growth, survival.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan ekstrak kulit pisang kapok (Musa balbisiana colla) dalam pakan komersial untuk menurunkan kanibalisme pada udang vaname (Litopenaeus vannamei). Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah udang vaname umur 22 hari (PL 22) dengan bobot awal 0,07-0,09 g. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 12 unit percobaan, yakni P0 (tanpa penambahan ekstrak kulit pisang), P1 (ekstrak kulit pisang 0,5%), P2 (ekstrak kulit pisang 1%), P3 (ekstrak kulit pisang 1,5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak signifikan terhadap laju pemangsaan kanibalisme, kelangsungan hidup, FCR dan frekuensi molting, namun berpengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan bobot spesifik, sehingga dilakukan uji lanjut untuk mengetahui perlakuan terbaik dalam menghasilkan pertumbuhan udang vaname, diketahui bahwa P3 (ektrak kulit piang 1,5%) merupakan perlakuan terbaik dengan persentase bobot mutlak sebesar 2,80 g dan bobot spesifik sebesar 3,83%.Kata kunci: Udang vaname, ekstrak kulit pisang, kanibalisme, pertumbuhan, kelangsungan hidup.
PENGARUH KONDISI LINGKUNGAN TERHADAP KEMAMPUAN SONAR KRI DALAM MENDETEKSI KONTAK BAWAH AIR Putu Agus Harianto; Tatit Eko W; Rio Henrimuko Yumm
Jurnal Kelautan Vol 13, No 1: April (2020)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.171 KB) | DOI: 10.21107/jk.v13i1.5845

Abstract

ABSTRACTThe ability of sonar in detecting underwater contact is still a mainstay in carrying out Anti Submarine warfare. warship will find it difficult to detect the presence of submarines without the sonar equipment installed on the warship. The sonar's ability to detect underwater contact is not only influenced by the underwater environment conditions, especially when underwater conditions experience a negative gradient where the submarine can hide without being detected by the ship's sonar because the sound waves emitted by the sonar cannot penetrate the area or the waves cannot return to the source of the sound waves. To anticipate the constraints that may be obtained by sonar due to the influence of the underwater conditions, the sonar operator must have data on underwater propagation in the environment. The addition of portable sonar equipment is also very useful for detecting underwater contacts in the shadow zone region that cannot be penetrated by Sonar.Keywords: Sonar Ability, Underwater Environmental Influence, Anti-Submarine WarfareABSTRAKKemampuan sonar (Sound Navigation and Ranging) dalam mendeteksi kontak bawah air masih menjadi andalan dalam melaksanakan peperangan Anti Kapal Selam.  KRI akan kesulitan dalam mendeteksi keberadaan kapal selam tanpa adanya peralatan sonar yang terpasang di KRI tersebut. Kemampuan sonar dalam mendeteksi kontak bawah air selain dipengaruhi kemampuan operator dan kesiapan teknis peralatannya, juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan bawah air terutama saat kondisi bawah air mengalami gradien negatif maka akan muncul wilayah Shadow Zone yang merupakan wilayah dimana kapal selam dapat bersembunyi tanpa terdeteksi oleh sonar kapal karena gelombang suara yang dipancarkan oleh sonar tidak dapat menembus daerah tersebut atau gelombang tersebut tidak dapat kembali ke sumber gelombang suara (Sonar). Untuk mengantisipasi kendala yang mungkin didapatkan oleh sonar akibat pengaruh kondisi bawah air tersebut maka operator sonar harus mempunyai data-data tentang propagasi bawah air di lingkungan tempat melaksanakan operasi baik mendapatkan data dari bank data yang dimiliki maupun dengan melakukan penghitungaa kondisi bawah air dengan menggunakan alat Bathytermografi (XBT). Penambahan peralatan sonar portable (Variable depth Sonar) juga sangat berguna untuk mendeteksi kontak bawah air yang berada di wilayah shadow zone yang tidak dapat ditembus oleh gelombang suara yang dipancarkan oleh sonar hull mounted sonar (HMS). Kata kunci: Kemampuan Sonar, pengaruh lingkungan bawah air, peperangan anti kapal selam 
STUDI KAPAL IKAN KATAMARAN BERBASIS ENERGI FOSIL Pramudya Imawan Santosa
Jurnal Kelautan Vol 13, No 1: April (2020)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v13i1.6141

Abstract

ABSTRACTIn general, the operation of a fishing boat is always associated with economic and environmental issues. The consumption of fossil energy is still quite large, especially the use of fuel oil (fuel) as fuel to drive the ship's engine. The use of fuel for motorized vessels besides being uneconomic is also not friendly environment. Technical analysis is carried out by testing the ship model then the results are developed with shipping theories. This paper explains the cost benefits of using fuel on fishing vessels and is expected to provide a comprehensive picture to those concerned so that they are expected to be able to help in making decisions. From the results of the study it was shown that catamaran hull is very potential to be used as a fishing vessel because it has a large deck area and also has good resistance, stability and movement (seakeeping) performance and has the potential to reduce exhaust emissions and subsequently will be used as a basis for non-fossil energy applications on ships.Keyword: fishing boats, fossil energy, pollution, analysis.ABSTRAKSecara umum, operasional dari sebuah kapal ikan senantiasa dikaitkan dengan persoalan ekonomi dan lingkungan.Konsumsi pemakaian energi fosil masih cukup besar terutama penggunaan bahan bakar minyak (bbm) sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin kapal. Pemakaian bbm untuk kapal bermotor disamping tidak ekonomis juga tidak ramah lingkungan.Analisa teknis dilakukan dengan melakukan pengujian model kapal selanjutnya hasilnya dikembangkan dengan teori-teori ilmu perkapalan.Paper ini memaparkan cost benefits penggunaan bbm pada kapal ikan dan diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif kepada mereka yang berkepentingan sehingga diharapkan dapat membantu dalam mengambil keputusan. Dari hasil penelitian diperlihatkan bahwa lambung katamaran sangat potensial untuk digunakan sebagai kapal penangkap ikan karena memiliki area geladak yang luas dan juga memiliki kinerja hambatan, stabilitas dan gerakan (seakeeping) yang baik serta berpotensi mengurangi emisi gas buang dan selanjutnya ke depan akan dijadikan sebagai dasar untuk aplikasi energi non fosil di kapal.Kata Kunci: kapal ikan, energy fosil, polusi, analisa.
PENGARUH PERBEDAAN DIAMAETER TELUR Chelonia mydas (LINN. 1758) TERHADAP DAYA TETAS TELUR DENGAN MENGGUNAKAN Automatic Turtle Egg Incubator (MATICGATOR) H Hendra; Vian Dedi Pratama; S Sunardi; Zaenal Abidin; M Mulyanto; S Sukandar
Jurnal Kelautan Vol 13, No 1: April (2020)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.159 KB) | DOI: 10.21107/jk.v13i1.5934

Abstract

ABSTRACTGreen Turtle (Chelonia mydas) is one of the animals that have been listed on the International Union for the Conservation of Nature (IUCN) as one of the species that are endangered and protected. Pokmaswas Indah Lestari does conservation with semi-natural hatchery. The program has not been maximized so that the BPP (Agency for Research and Community Service) from Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Brawijaya University is create The MATICGATOR. MATICGATOR hatching percentage is higher than semi-natural hatchery. The research intend to enhance the functionality of MATICGATOR. This research used 75 samples of turtle eggs from 5 mains green turtle (chelonian mydas). The first incubation period is 45 days and the second is 66 days. Based on the results of the research, there is a positive correlation between the differences of diameter to the percentage of turtle eggs hatching success. The highest correlation obtained at mains E to 51.1% and the lowest correlation to the mains C to 15.7%. Percentage hatching on MATICGATOR is 80%.Keywords: Diameter eggs, Green Turtle, percentage of hatchingABSTRAKPenyu hijau (Chelonia mydas) merupakan salah satu jenis hewan yang sudah tercantum di International Union for The Conservation Nature (IUCN) sebagai salah satu species yang rentan dan wajib dilindungi. Pokmaswas Indah Lestari melakukan konservasi dengan penetasan semi-alami. Program tersebut belum maksimal sehingga Badan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Fakultas perikanan dan kelautan, universitas brawijaya menciptakan MATICGATOR. Prosentase penetasan maticgator lebih tinggi dari pada penetasan semi-alami. Penelitian ini bertujuan untuk menyempurnakan fungsi Maticgator. Penelitian ini menggunakan 75 sampel telur  dari 5 induk penyu hijau (Chelonian mydas). Masa inkubasi pada penetsan pertama 45 hari dan penetasan kedua 66 hari. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat korelasi positif antara perbedaan diameter telur penyu terhadap prosentase penetasan. Korelasi tertinggi didapat pada induk E sebesar 51,1% dan korelasi terendah pada induk C sebesar 15,7%. Prosentase penetasan pada MATICGATOR adalah sebesar 80%.Kata kunci: Diameter telur, Penyu Hijau, Prosentase penetasan
HUBUNGAN PERSEN PENUTUPAN LAMUN DAN STRUKTUR KOMUNITAS ECHINODERMATA DI PULAU RA’AS Alex Purnomo; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Vol 13, No 1: April (2020)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.962 KB) | DOI: 10.21107/jk.v13i1.7251

Abstract

ABSTRACTSeagrass beds are one of the ecosystems that support a variety of life in the sea. Various types of biota live around seagrass beds, one of which is Echinodermata. Echinodermata has a role as a detritus eater in seagrass plants. The association of Echinodermata and seagrass species can be used to see the suitability of a habitat for the existence of species that live in seagrass ecosystems. The purpose of this study was to determine the associations of Echinoderms and Seagrasses on Ra'as Island, Brakas Village, Telangoh Tengah Hamlet, Sumenep Regency, East Java. This research was conducted in November-December 2018. The method used is the quadratic method placed on the transect line with the size of each quadrant of 1x1 m. The association of Echinodermata and Seagrass relationships between Echinoderms and Seagrasses was analyzed by simple linear regression. The results showed that there were 4 species of Echinoderms and 3 species of seagrass. Diversity, uniformity and dominance of Echinoderms at each is low. The association of Echinoderms and Seagrasses showed that seagrass results and Echinodermata did not have a significant relationship. The influencing factor is that most Echinoderms found are Echinoderms, which occupy coral reef ecosystems such as Diadema sitosum, which is most often found at each station.Keywords: Seagrass, Community Structure, Relationship to Seagrasses and Echinoderms, Ra'as IslandABSTRAKPadang lamun adalah salah satu ekosistem yang menyangga berbagai kehidupan di laut. Berbagai macam biota hidup disekitar padang lamun salah satunya adalah Echinodermata. Echinodermata memiliki peranan sebagai pemakan detritus pada tumbuhan lamun. Asosiasi spesies Echinodermata dan lamun dapat digunakan untuk melihat tingkat kesesuaian suatu habitat bagi keberadaan spesies yang hidup pada ekosistem padang lamun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui asosiasi Echinodermata dan lamun di Pulau Ra’as, Desa Brakas, Dusun Telangoh Tengah, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November-Desember 2018.  Metode yang digunakan metode kuadrat yang diletakkan pada garis transek dengan ukuran tiap kuadran 1x1 m. Asosiasi Echinodermata dan lamun hubungan Echinodermata dan lamun dianalisis dengan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 spesies Echinodermata dan 3 spesies lamun. Keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi Echinodermata pada setiap stasiun adalah rendah. Asosiasi Echinodermata dan lamun menunjukkan hasil tidak memiliki hubungan yang signifikan. Faktor yang mempengaruhi adalah kebanyakan Echinodermata yang di temukan adalah Echinodermata yang menempati ekosistem terumbu karang seperti Diadema sitosum yang paling sering ditemukan pada setiap stasiun.Kata Kunci: Lamun, Struktur Komunitas, Hubungan Lamun dan Echinodermata, Pulau Ra’as

Page 1 of 1 | Total Record : 7