cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 411 Documents
Pengaruh Variasi Media Kultur Terhadap Komposisi Nutrisi Mikroalga Thalassiosira sp. Vevilia Tri Amanda; Novi Indriyawati; Azmi Binta Azkiya; Destin Retno Wulandari; Abdul Rozak Bachri; Dimas Candra Winata
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.33676

Abstract

ABSTRAKMikroalga Thalassiosira sp. merupakan sumber bioaktif yang potensial karena kandungan protein, lipid, dan karbohidratnya tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan media kultur untuk peningkatan biomassa dan nutrisi. Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan digunakan, dengan analisis proksimat meliputi kadar air, lemak, abu, protein, dan karbohidrat. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Tukey HSD untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil analisis menunjukkan perbedaan signifikan antar media (p 0,05). Kandungan protein tertinggi terdapat pada media air laut steril (PA) sebesar 30,42%, lemak tertinggi pada media air laut tidak steril (PC) sebesar 24,33%, dan abu tertinggi pada media air buatan (PB) sebesar 2,44%. Temuan ini mengindikasikan bahwa media air laut steril (PA)memberikan kecenderungan paling efektif dalam peningkatan  kandungan nutrisi, khususnya protein, pada Thalassiosira sp. tanpa mengabaikan peran media lain dalam mempengaruhi kandungan nutrisi yang berbeda. Oleh karena itu, pemilihan media kultur perlu disesuaikan dengan tujuan produksi biomassa atau komponen  nutrisi yang diinginkan.Kata Kunci: Thalassiosira sp., nutrisi, media kulturABSTRACTThalassiosira sp. microalgae are a potential source of bioactive compounds due to their high protein, lipid, and carbohydrate content. This study aimed to evaluate the effect of different culture media on biomass production and nutrient composition. A Randomized Block Design (RBD) with three treatments and three replications was applied. Proximate analysis included moisture, lipid, ash, protein, and carbohydrate contents. Data were analyzed using One-Way ANOVA followed by Tukey’s HSD test to determine significant differences among treatments. The results showed significant differences among culture media (p 0.05). The highest protein content was found in sterile seawater medium (PA) at 30.42%, the highest lipid content in non-sterile seawater medium (PC) at 24.33%, and the highest ash content in artificial seawater medium (PB) at 2.44%. These findings indicate that sterile seawater medium (PA) tends to be the most effective in enhancing nutrient content, particularly protein, in Thalassiosira sp., while other media contribute differently to specific nutrient components. Therefore, the selection of culture media should be adjusted according to the intended biomass production or targeted nutritional components.Keywords: Thalassiosira sp., nutrition, culture media
Identifikasi Jenis Mikroplastik Di Perairan Laut Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh Ika Kusumawati; Mai Suriani; Jihannuma Adibiah Nurdini; Saiful Amin; Deri Anggraini
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.33937

Abstract

ABSTRAKJenis mikroplastik di perairan laut menjadi penting untuk diperhatikan karena menggambarkan karakteristik dan sumber pencemar yang terdapat di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis mikroplastik yang menjadi bahan pencemar di perairan laut Aceh Barat. Penelitian dilaksanakan pada Mei 2024 dengan pengambilan sampel menggunakan ember, plankton net, dan botol sampel. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Produktivitas Lingkungan Perairan Universitas Teuku Umar dengan mengamati 1 ml sampel air laut di bawah mikroskop binokuler perbesaran 4 × 0,10 µm menggunakan pola pengamatan zig-zag. Hasil menunjukkan empat jenis mikroplastik, yaitu fiber (540) partikel, fragment (518) partikel, film (598) partikel, dan pellet (23) partikel. Keberadaan mikroplastik pada lokasi penelitian diduga berkaitan dengan aktivitas masyarakat nelayan di pesisir pantai dan muara sungai yang berkontribusi terhadap masuknya sampah ke perairan. Disimpulkan bahwa terdapat empat jenis mikroplastik dengan jenis pellet tidak ditemukan pada stasiun II karena rendahnya aktivitas masyarakat. Perlu adanya langkah pengumpulan informasi komposisi mikroplastik secara lebih menyeluruh sebagai dasar pengelolaan lingkungan pesisir dan pengendalian pencemaran plastik di perairan laut Kabupaten Aceh Barat. Kata Kunci: Mikroplastik, Jenis Mikroplastik, Aceh Barat.ABSTRACTThe types of microplastics in marine waters are important to note because they describe the characteristics and sources of pollution found in these waters. This study aims to determine the types of microplastics that are pollutants in the marine waters of West Aceh. The study was conducted in May 2024 by taking samples using buckets, plankton nets, and sample bottles. Identification was carried out at the Aquatic Environmental Productivity Laboratory of Teuku Umar University by observing 1 ml of seawater samples under a binocular microscope at a magnification of 4 × 0.10 µm using a zig-zag observation pattern. The results showed four types of microplastics, namely fiber (540) particles, fragment (518) particles, film (598) particles, and pellet (23) particles. The presence of microplastics at the study site is suspected to be related to the activities of fishing communities on the coast and river estuaries that contribute to the entry of waste into the waters. It was concluded that there were four types of microplastics with pellets not found at station II due to low community activity. There is a need for more comprehensive steps to collect information on the composition of microplastics as a basis for coastal environmental management and controlling plastic pollution in the marine waters of West Aceh Regency.Keywords: Microplastics, Type of Microplastic, West Aceh.
Faktor Biokonsentrasi (BCF) Dan Faktor Translokasi (TF) Logam Berat Tembaga (Cu) Pada Beberapa Jenis Mangrove Dari Ekosistem Pesisir Bangkalan Madura, Jawa Timur Jihannuma Adibiah Nurdini; Wakhidatun Nafisyah Aljamilah; Aginda Sahara; Maulinna Kusumo Wardhani
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.32821

Abstract

ABSTRAKTekanan antropogenik di kawasan pesisir, seperti industri, perikanan, dan transportasi laut, meningkatkan potensi cemaran logam berat, termasuk tembaga (Cu), yang bersifat toksik pada kadar tinggi. Mangrove berperan sebagai agen fitoremediasi melalui kemampuan menyerap dan mengakumulasi logam berat pada jaringan tanaman, terutama akar. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan kemampuan serapan beberapa jenis mangrove terhadap Cu di perairan pesisir Martajasah.  Konsentrasi tembaga (Cu) dianalisis pada masing-masing sampel sedimen, akar, dan daun mangrove dari 7 spesies pohon mangrove dengan total 21 sampel. Parameter lingkungan perairan diukur secara in situ (suhu, salinitas, pH tanah, dan DO). Preparasi sampel dilakukan melalui destruksi basah menggunakan HNO₃ dan H₂O₂, kemudian konsentrasi tembaga (Cu) dianalisis menggunakan AAS. Nilai faktor biokonsentrasi (BCF) dan translokasi (TF) dihitung untuk menilai akumulasi dan kemampuan mangrove mentransport logam berat Cu dari sedimen menuju akar dan daun. Xylocarpus moluccensis menunjukkan faktor biokonsentrasi tertinggi baik pada akar maupun daun, namun dengan translokasi yang rendah, yang menunjukkan peran potensialnya sebagai bioakumulator sekaligus fitostabilisator di lingkungan pesisir yang terkontaminasi tembaga (Cu). Sebaliknya Avicennia officinalis dengan nilai faktor translokasi tertinggi namun dengan biokonsentrasi rendah mengindikasikan kemampuan penyerapan awal tembaga (Cu) yang rendah dengan mekanisme translokasi tinggi.Kata Kunci: Mangrove, Biokonsentrasi, Translokasi, Logam Berat, TembagaABSTRACTAnthropogenic pressures in coastal areas, including industrial activities, fisheries, and maritime transportation, increase the risk of heavy metal contamination, particularly copper (Cu), which is toxic at elevated concentrations. Mangroves play a crucial role as phytoremediation agents due to their ability to absorb and accumulate heavy metals within plant tissues, especially in the roots. This study aimed to analyze and compare the uptake capacity of several mangrove species toward Cu in the coastal waters of Martajasah. Copper (Cu) concentrations were determined in sediment, root, and leaf samples collected from seven mangrove species, with a total of 21 samples. Environmental parameters, including temperature, salinity, soil pH, and dissolved oxygen (DO), were measured in situ. Sample preparation was conducted using wet digestion with HNO₃ and H₂O₂, followed by Cu analysis using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Bioconcentration Factor (BCF) and Translocation Factor (TF) were calculated to evaluate the accumulation capacity and the ability of mangroves to transport Cu from sediment to plant tissues. Xylocarpus moluccensis exhibited the highest bioconcentration factors in both roots and leaves, but relatively low translocation, indicating its potential role as both a bioaccumulator  and  a  phytostabilizer in Cu-contaminated  coastal  environments, whereas Avicennia officinalis showed the highest translocation factor but low bioconcentration, suggesting limited initial Cu uptake with a more efficient internal translocation mechanism.Kata Kunci: Mangrove, Phytoremediation, Heavy Metal, Copper, Bangkalan
Profil Cyanobacteria Berfilamen Serta Keanekaragaman Dan Kelimpahan Di Perairan Pulau Tunda Annisa Khairan Nasution; Aditiali Kurniawan; Nabila Nur Aprilia; Desta Lis Chairamah; I Gusti Ngurah Suryaatmaja; Reyfael Hutabarat; Qalam Averoes Gibran
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.32354

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil cyanobacteria berfilamen di perairan Pulau Tunda, Banten, melalui analisis keanekaragaman, kelimpahan, dan identifikasi genus. Pengambilan sampel dilakukan pada dua stasiun pengamatan menggunakan plankton net, kemudian dianalisis secara mikroskopis untuk menentukan genus yang teridentifikasi, menghitung kelimpahan, serta mendeskripsikan ciri morfologi sebagai pendukung identifikasi taksonomi. Keanekaragaman dianalisis menggunakan indeks Shannon Wiener (H’). Hasil penelitian menunjukkan adanya delapan genus cyanobacteria berfilamen, yaitu Oscillatoria, Aphanizomenon, Anabaena, Lyngbya, Microcoleus, Phormidium, Spirulina, dan Nodularia. Genus Oscillatoria dan Aphanizomenon menunjukkan kelimpahan tertinggi pada kedua stasiun. Nilai indeks keanekaragaman berada pada kategori sedang, mengindikasikan komunitas yang relatif stabil tanpa dominansi ekstrem. Ciri morfologi antar genus memperlihatkan variasi bentuk filamen, ukuran sel, struktur trikom, serta keberadaan heterosit yang menjadi dasar pembeda takson. Penelitian ini memberikan profil awal cyanobacteria berfilamen di perairan Pulau Tunda dan dapat digunakan sebagai data dasar untuk pemantauan ekologi jangka panjang dan pengelolaan lingkungan perairan.Kata kunci: cyanobacteria berfilamen, keanekaragaman, kelimpahan, morfologi, Pulau Tunda.ABSTRACTThis study aims to describe the profile of filamentous cyanobacteria in the waters of Tunda Island, Banten, through analysis of diversity, abundance, and genus identification. Sampling was conducted at two observation stations using plankton nets, and the samples were then analyzed microscopically to identify the genera, calculate abundance, and describe morphological characteristics to support taxonomic identification. Diversity was analyzed using the Shannon-Wiener index (H’). The results showed the presence of eight genera of filamentous cyanobacteria, namely Oscillatoria, Aphanizomenon, Anabaena, Lyngbya, Microcoleus, Phormidium, Spirulina, and Nodularia. The genera Oscillatoria and Aphanizomenon showed the highest abundance at both stations. The diversity index value fell within the moderate category, indicating a relatively stable community with moderate dominance. Morphological characteristics between genera exhibited variations in filament shape, cell size, trichome structure, and the presence of heterocysts, which serve as the basis for taxon differentiation. This study provides an initial profile of filamentous cyanobacteria in the waters of Tunda Island. It can be used as baseline data for long-term ecological monitoring and aquatic environmental management.Keywords: filamentous cyanobacteria, diversity, aphorisms, morphology, Tunda Island.
Analisis Indeks Kesesuaian Wisata Bahari di Pantai Sembilan, Pulau Gili Genting, Madura Adam Prayoga Dwi Marara; Adriana Monica Sahidu; Kustiawan Tri Pursetyo
Jurnal Kelautan Vol 19, No 2: Agustus (2026)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i2.30785

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kesesuaian wisata Pantai Sembilan di Pulau Gili Genting, Madura, untuk empat kategori kegiatan wisata: rekreasi pantai, snorkeling, selam, dan memancing. Metode yang digunakan adalah perhitungan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) berdasarkan parameter fisik, biologis, dan lingkungan pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Sembilan memiliki nilai IKW sebesar 3,09 untuk wisata pantai yang tergolong sangat sesuai, nilai 2,4 wisata memancing yang tergolong sesuai, namun nilai IKW untuk kegiatan snorkeling dan selam masing-masing sebesar 0,78 tergolong sangat tidak sesuai. Faktor utama yang mempengaruhi ketidaksesuaian adalah rendahnya tutupan karang hidup dan kedalaman perairan yang tidak mendukung aktivitas bawah laut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pantai Sembilan memiliki potensi utama untuk wisata pantai dan memancing, namun perlu rehabilitasi karang tidak otomatis meningkatkan kesesuaian wisata karena beberapa faktor lainnya juga perlu diperhatikan seperti kedalaman, luas hamparan karang dan kecepatan arusKata Kunci: Kesesuaian wisata, IKW, Pantai SembilanABSTRACTThis study aims to evaluate the tourism suitability of Pantai Sembilan, Gili Genting Island, Madura, for four types of tourism activities: beach recreation, snorkeling, diving, and fishing. The method used is the Tourism Suitability Index (IKW), which assesses environmental, physical, and biological parameters. The results indicate that Pantai Sembilan scores 3.09 for beach recreation (highly suitable), 2.4 for fishing (suitable), and 0.78 for both snorkeling and diving (highly unsuitable). The main limiting factors for underwater activities are low coral cover and insufficient water depth. This study concludes that the beach and fishing tourism are feasible and promising, while environmental rehabilitation is needed to improve the suitability for snorkeling and diving in the future.Keywords: Tourism suitability, IKW, Sembilan Beach
Kelimpahan dan Karakteristik Mikroplastik pada Air, Sedimen, dan Kerang Tahu (Meretrix sp.) di Perairan Pangeranan, Kabupaten Bangkalan Yashita Nova Ariska; Febi Ayu Pramithasari; Indah Wahyuni Abida; Mertiara Ratih Terry Laksani; Ima Isyana Maysayroh
Jurnal Kelautan Vol 19, No 2: Agustus (2026)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i2.34116

Abstract

ABSTRAKPeningkatan penggunaan plastik di Indonesia berkontribusi terhadap meningkatnya pencemaran mikroplastik di perairan laut. Plastik yang sulit terurai akan terfragmentasi menjadi partikel kecil berukuran 5 mm yang bersifat persisten dan berpotensi berdampak terhadap ekosistem perairan serta kesehatan manusia. Perairan Pangeranan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura berpotensi tercemar mikroplastik akibat aktivitas domestik, perikanan, dan kegiatan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kelimpahan serta jenis mikroplastik pada air, sedimen, dan kerang tahu (Meretrix sp.) di Perairan Pangeranan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode purposive sampling. Analisis mikroplastik mengacu pada prosedur National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan identifikasi dilakukan menggunakan mikroskop stereo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan pada seluruh matriks sampel dengan kelimpahan yang bervariasi antar stasiun dan waktu pengambilan sampel. Kelimpahan mikroplastik berkisar antara 2,56–5,76 partikel/L pada air, 0,98–3,54 partikel/g pada sedimen, dan 0,18–0,72 partikel/individu pada kerang tahu. Jenis mikroplastik yang dominan pada air dan sedimen adalah dalam bentuk fragment yang diikuti bentuk fiber, serta film ditemukan dalam jumlah paling rendah. Sedangkan pada kerang tahu, mikroplastik yang ditemukan dominan dalam bentuk fiber. Keberadaan mikroplastik pada seluruh sampel menunjukkan adanya potensi cemaran mikroplastik di Perairan Pangeranan sehingga diperlukan pemantauan dalam pengelolaan lingkungan pesisir.Kata Kunci: mikroplastik, air, sedimen, kerang tahu (Meretrix sp.), perairan pesisirABSTRACTThe increasing use of plastic in Indonesia contributes to the rising contamination of microplastics in marine waters. Plastics that are difficult to degrade fragment into particles smaller than 5 mm, which are persistent and potentially harmful to aquatic ecosystems and human health. Pangeranan Waters, Bangkalan Regency, Madura Island, are potentially contaminated by microplastics due to domestic activities, fisheries, and coastal activities. This study aims to determine and compare the abundance and types of microplastics in water, sediment, and hard clam (Meretrix sp.) in Pangeranan Waters. Sampling was conducted using purposive sampling method. Microplastic analysis followed the procedures of the National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), and identification was carried out using a stereo microscope. The results showed that microplastics were found in all sample matrices with varying abundance across stations and sampling periods. The abundance ranged from 2.56–5.76 particles/L in water, 0.98–3.54 particles/g in sediment, and 0.18–0.72 particles/individual in hard clams. Fragments were the dominant microplastic type in water and sediment, followed by fibers, while films were found in the lowest quantities. In contrast, fibers were the dominant microplastic type found in Meretrix sp. The presence of microplastics across all samples indicates potential microplastic contamination in Pangeranan waters, highlighting the need for monitoring as part of coastal environmental management.Keywords: microplastics, water, sediment, hard clam (Meretrix sp.), coastal waters
Distribusi Spasial Kepiting Uca spp. Berdasarkan Karakteristik Lingkungan Di Pesisir Kota Lhokseumawe Cut Zahara; Syahrial Syahrial; Munawar Khalil; Arina Ruzanna; Eka Maida; Suhartin Suhartin; Fitrianti Fitrianti; Puji Fitria Zainal; Tia Nuraya; Eva Susan Ratuhulain
Jurnal Kelautan Vol 19, No 2: Agustus (2026)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i2.35966

Abstract

ABSTRAKAktivitas antropogenik di ekosistem mangrove berpotensi memengaruhi kelimpahan, keanekaragaman, dan distribusi spasial kepiting biola (Uca spp.). Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi spasial kepiting biola (Uca spp.) berdasarkan karakteristik lingkungan di pesisir Kota Lhokseumawe. Penentuan stasiun pengamatan dilakukan menggunakan metode purposive sampling, sedangkan pengumpulan data kepiting dilakukan dengan metode visual encounter survey. Hasil penelitian mencatat 13 spesies Uca. Uca annulipes mendominasi zona barat (78%) dan timur (49%), sedangkan U. benggali mendominasi zona tengah (36%). Komunitas Uca memiliki indeks keanekaragaman Shannon–Wiener (H′ = 1,04) dan indeks dominansi Simpson (C = 0,44) yang tergolong rendah, sedangkan indeks keseragaman Pielou (E = 0,66) tergolong sedang. Analisis komponen utama (PCA) menunjukkan adanya perbedaan karakteristik lingkungan antarzona. Zona barat berasosiasi dengan pH yang lebih tinggi, indeks dominansi, serta keberadaan U. annulipes, U. perplexa, U. crassipes, U. umbratila, U. cryptica, U. vocans, U. formosensis, U. iranica, dan U. mjoebergi. Zona tengah berasosiasi dengan suhu yang lebih tinggi, indeks keseragaman, serta keberadaan U. jocelynae dan U. benggali. Sebaliknya, zona timur berasosiasi dengan salinitas, bahan organik total (BOT), indeks keanekaragaman, serta keberadaan U. coarctata dan U. triangularis. Hasil penelitian PCA menunjukkan adanya pola asosiasi antara karakteristik lingkungan dan struktur komunitas kepiting biola antarzona.Kata Kunci: bioindikator, distribusi spasial, mangrove, Uca sp., preferensi habitatABSTRACTAnthropogenic activities in mangrove ecosystems may affect the abundance, diversity, and spatial distribution of fiddler crabs (Uca spp.). This study aimed to analyze the spatial distribution of fiddler crabs in relation to environmental characteristics along the coast of Lhokseumawe City, Aceh, Indonesia. Observation stations were selected using purposive sampling, and crab data were collected through visual encounter surveys. A total of 13 Uca species were recorded. Uca annulipes dominated the western (78%) and eastern (49%) zones, whereas U. benggali dominated the central zone (36%). The Uca community exhibited low Shannon–Wiener diversity (H′ = 1.04) and Simpson dominance (C = 0.44), while Pielou’s evenness was moderate (E = 0.66). Principal component analysis (PCA) revealed distinct environmental characteristics among zones. The western zone was associated with higher pH and the occurrence of U. annulipes, U. perplexa, U. crassipes, U. umbratila, U. cryptica, U. vocans, U. formosensis, U. iranica, and U. mjoebergi. The central zone was associated with higher temperature and U. jocelynae and U. benggali. The eastern zone was associated with salinity, total organic matter (TOM), diversity, and U. coarctata and U. triangularis. These findings indicate that spatial variation in environmental characteristics is associated with Uca distribution patterns in Lhokseumawe’s mangrove ecosystemsKeywords: Bioindicator, habitat preference, mangrove, spatial distribution, Uca sp.
Dinamika Populasi Kerang Masngur (Tellina remies) Pada Habitat Intertidal Berpasir Perairan Ohoidertawun, Maluku Tenggara Rosita Silaban; Johny Dobo; Anthon Daud Kilmanun; Bernita br Silaban; Siti Rahmawati Maswatu; Armin Armin
Jurnal Kelautan Vol 19, No 2: Agustus (2026)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i2.35235

Abstract

ABSTRAKKerang masngur (Tellina remies) merupakan salah satu sumber daya bentik yang dimanfaatkan masyarakat pesisir Ohoidertawun sebagai sumber pangan dan mata pencaharian. Namun, informasi mengenai dinamika populasinya di perairan Maluku Tenggara masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kohort, pertumbuhan, mortalitas, dan tingkat rekrutmen T. remies di habitat intertidal berpasir. Penelitian dilaksanakan selama Agustus–November melalui pengambilan sampel pada zona intertidal menggunakan metode transek dan kuadran berukuran 1 × 1 m dengan jumlah transek sebanyak 6 buah, jumlah kuadran 32 buah dan total sampel 600 individu. Analisis dinamika populasi dilakukan menggunakan perangkat lunak FISAT II yang meliputi pemisahan kohort (NORMSEP), model pertumbuhan Von Bertalanffy, analisis mortalitas, dan rekrutmen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi T. remies didominasi individu subdewasa hingga dewasa dengan laju pertumbuhan sedang. Nilai mortalitas penangkapan (F) lebih tinggi dibandingkan mortalitas alami (M) dengan nilai tingkat eksploitasi (E) menunjukan populasi ini telah mengalami eksploitasi berlebih (overexploited). Hasil penelitian menunjukan perlu adanya penerapan pengelolaan berbasis ekosistem misalnya penetapan ukuran tangkap minimum, pengaturan musim atau periode penutupan sementara serta perlindungan terhadap habitat intertidal berpasir yang menjadi lokasi penangkapan melalui pembatasan aktivitas yang merusak substrat.Kata kunci:  Tellina remies, dinamika populasi, kohort, mortalitas, rekrutmen, eksploitasiABSTRACTMasngur clams (Tellina remies) are one of the benthic resources utilized by the coastal communities of Ohoidertawun as a food source and livelihood. However, information on their population dynamics in the waters of Southeast Maluku is still very limited. This study aims to analyze the cohort, growth, mortality, and recruitment rate of T. remies in sandy intertidal habitats. The study was conducted from August to November through sampling in the intertidal zone using the transect and quadrant method measuring 1 × 1 m with a total of 6 transects, 32 quadrants and a total sample of 600 individuals. Population dynamics analysis was carried out using FISAT II software which includes cohort separation (NORMSEP), the Von Bertalanffy growth model, mortality analysis, and recruitment. The results showed that the T. remies population was dominated by subadult to adult individuals with a moderate growth rate. The fishing mortality value (F) was higher than the natural mortality (M) with the exploitation level value (E) indicating that this population has experienced overexploitation. The research results show the need for the implementation of ecosystem-based management, for example, determining minimum catch sizes, regulating seasons or temporary closure periods, and protecting sandy intertidal habitats that are fishing locations by limiting activities that damage the substrate.Keywords: Tellina remies, population dynamics, cohort, mortality, recruitment, exploitation
Sebaran Spasial Fitoplankton Dan Hubungannya Dengan Parameter Lingkungan Perairan Pesisir Utara Kota Tanjungpinang Aji Purnama; Tri Apriadi; Andi Zulfikar; Ahmad Zahid
Jurnal Kelautan Vol 19, No 2: Agustus (2026)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i2.31065

Abstract

ABSTRAKPerairan pesisir utara Kota Tanjungpinang berupa estuari yang meliputi daerah Sebauk, Kampung Madong, Sei Nyirih, dan Air Raja. Keberadaan fitoplankton di perairan estuari dapat menjadi gambaran produktivitas primer yang dapat menunjang produksi perikanan. Riset yang dilakukan pada Juli 2024 dan Januari 2025 ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan sebaran spasial fitoplankton serta hubungan parameter lingkungan terhadap kelimpahan fitoplankton di perairan pesisir utara Kota Tanjungpinang. Pengambilan sampel fitoplankton dan air untuk analisis nutrien serta pengukuran beberapa parameter lingkungan dilakukan di 30 titik sampling yang ditentukan secara acak sistematis. Kelimpahan fitoplankton pada Januari 2005 lebih tinggi dari Juli 2024. Sebaran spasial fitoplankton pada bulan Juli 2024 dan Januari 2025 menunjukkan pola yang serupa yaitu kelimpahan tinggi di area tengah perairan (Kampung Madong dan Sei Nyirih), dan kelimpahan yang rendah bagian timur (Air Raja) dan barat (Sebauk). Hal ini juga sejalan dengan sebaran spasial konsentrasi nutrien nitrat dan fosfat. Konsentrasi nitrat dan fosfat menunjukkan hubungan positif dan signifikan dengan kelimpahan fitoplankton pada kedua periode pengamatan. Temuan ini menyoroti peran penting ketersediaan nutrien dalam mengatur dinamika fitoplankton di wilayah studi.Kata kunci : Chaetoceros, fitoplankton, fosfat, nitrat, sebaran spasialABSTRACTThe northern coastal waters of Tanjungpinang City comprise estuarine ecosystems encompassing Sebauk, Kampung Madong, Sei Nyirih, and Air Raja. Phytoplankton communities in estuarine waters are widely recognized as indicators of primary productivity and play a crucial role in supporting fisheries resources. This study was conducted in July 2024 and January 2025 to assess phytoplankton abundance, evaluate the relationships between environmental parameters and phytoplankton abundance, and examine the spatial distribution of phytoplankton in the northern coastal waters of Tanjungpinang. Phytoplankton and water samples for nutrient analyses, together with in situ measurements of environmental parameters, were collected from 30 sampling stations established using a systematic random sampling approach. Phytoplankton abundance was higher in January 2025 than in July 2024. Spatial analysis revealed a consistent distribution pattern during both sampling periods, with the highest phytoplankton abundance occurring in the central waters (Kampung Madong and Sei Nyirih) and lower abundance in the eastern (Air Raja) and western (Sebauk) areas. This spatial pattern corresponded closely with the distribution of nitrate and phosphate concentrations. Furthermore, nitrate and phosphate concentrations were positively and significantly correlated with phytoplankton abundance during both observation periods, highlighting the important role of nutrient availability in regulating phytoplankton dynamics in the study area.Keywords : Chaetoceros, nitrate, phosphate, phytoplankton, spatial distribution
Toksisitas Akut Antihipertensi Amlodipine Pada Ikan Cere (Gambusia affinis) Ade Yamindago; Salma Intan Nabila; Siti Nurchotipah; Muhammad Arif As’adi; Dian Aliviyanti
Jurnal Kelautan Vol 19, No 2: Agustus (2026)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i2.35567

Abstract

ABSTRAKSenyawa farmasi merupakan salah satu kelompok kontaminan baru yang umum terdeteksi di lingkungan pesisir dan laut. Senyawa-senyawa tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap organisme akuatik dan berkontribusi terhadap ketidakseimbangan ekosistem. Amlodipin (AML), salah satu obat antihipertensi, merupakan obat yang banyak diresepkan untuk pengobatan tekanan darah tinggi (hipertensi). AML dapat terdistribusi ke lingkungan melalui ekskresi sisa metabolisme dari tubuh manusia, pembuangan obat yang telah kedaluwarsa, serta pelepasan dari proses pengolahan limbah. AML memiliki laju ekskresi yang lambat di dalam tubuh manusia dan waktu paruh yang relatif panjang, sehingga dapat meningkatkan persistensi dan potensi risikonya terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas akut (LC50) dan efek subletal AML terhadap ikan cere (Gambusia affinis), yaitu salah satu spesies ikan yang memiliki peran ekologis penting sebagai organisme pengendali hayati dalam ekosistem perairan. Uji toksisitas akut dilakukan selama 96 jam untuk mengevaluasi mortalitas ikan yang terpapar AML. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi pengaruh paparan AML subletal terhadap konsumsi oksigen, perilaku makan, dan kerusakan jaringan sebagai respons fisiologis dan histologis. Nilai konsentrasi letal median (LC50) AML pada ikan cere masing-masing sebesar 117,2 mg/L dan 75,5 mg/L setelah paparan selama 24 jam dan 48 jam, sedangkan nilai LC50 pada 72 jam dan 96 jam tidak dapat dihitung berdasarkan tingkat mortalitas ikan cere. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa paparan AML dengan konsentrasi 2 mg/L secara signifikan dapat meningkatkan konsumsi oksigen setelah 2 jam dan 4 jam, sedangkan konsumsi makanan menurun secara signifikan setelah paparan selama 48, 72, dan 96 jam pada konsentrasi serendah-rendahnya 0,25 mg/L. Paparan AML juga menyebabkan hiperplasia dan nekrosis pada konsentrasi serendah-rendahnya 0,5 mg/L setelah paparan selama 24 jam. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa paparan AML dapat menyebabkan mortalitas, stres fisiologis, perubahan perilaku makan, dan kerusakan jaringan pada ikan cere. Dampak tersebut berpotensi mengganggu kestabilan ekologi di ekosistem pesisir dan laut.Kata kunci: kematian ikan, kerusakan jaringan, tekanan darah, nafsu makan, tingkah laku renang ABSTRACTPharmaceutical compounds are among the emerging contaminants commonly detected in coastal and marine environments. These compounds have the potential to pose risks to aquatic organisms and contribute to ecological imbalance. Amlodipine (AML), an antihypertensive drug, is widely prescribed for the treatment of high blood pressure (hypertension). AML can enter the environment through the excretion of unmetabolized residues and metabolites from the human body, disposal of expired pharmaceuticals, and release from wastewater treatment processes. AML has a relatively slow elimination rate in humans and a relatively long half-life, which may increase its environmental persistence and potential ecological risks. This study aimed to evaluate the acute toxicity (LC50) and sublethal  effects  of  AML  on  the  mosquitofish  (Gambusia  affinis),  a  fish  species  with  ecological importance as a biological control organism in aquatic ecosystems. A 96-h acute toxicity test was conducted to evaluate the mortality of fish exposed to AML. In addition, the effects of sublethal AML exposure on oxygen consumption, feeding behavior, and tissue damage were evaluated as physiological and histological responses. The median lethal concentration (LC50) values of AML in mosquitofish were 117.2 mg/L and 75.5 mg/L after 24 and 48 h of exposure, respectively, whereas the LC50 values at 72 and 96 h could not be calculated based on the observed mortality rates. The results also showed that exposure to AML at a concentration of 2 mg/L significantly increased oxygen consumption after 2 and 4 h of exposure. However, food consumption decreased significantly after 48, 72, and 96 h of exposure at concentrations as low as 0.25 mg/L. AML exposure also induced hyperplasia and necrosis at concentrations as low as 0.5 mg/L following 24 h of exposure. These findings demonstrate that AML exposure can cause mortality, physiological stress, alterations in feeding behavior, and tissue damage in the mosquitofish. Such effects may potentially disrupt ecological stability in coastal and marine ecosystems.Keywords: fish mortality, tissue damage, blood tension, food appetite, swimming behavior