cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 404 Documents
Pengaruh Variasi Media Kultur Terhadap Komposisi Nutrisi Mikroalga Thalassiosira sp. Amanda, Vevilia Tri; Indriyawati, Novi; Azkiya, Azmi Binta; Wulandari, Destin Retno; Bachri, Abdul Rozak; Winata, Dimas Candra
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.33676

Abstract

ABSTRAKMikroalga Thalassiosira sp. merupakan sumber bioaktif yang potensial karena kandungan protein, lipid, dan karbohidratnya tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan media kultur untuk peningkatan biomassa dan nutrisi. Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan digunakan, dengan analisis proksimat meliputi kadar air, lemak, abu, protein, dan karbohidrat. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Tukey HSD untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil analisis menunjukkan perbedaan signifikan antar media (p 0,05). Kandungan protein tertinggi terdapat pada media air laut steril (PA) sebesar 30,42%, lemak tertinggi pada media air laut tidak steril (PC) sebesar 24,33%, dan abu tertinggi pada media air buatan (PB) sebesar 2,44%. Temuan ini mengindikasikan bahwa media air laut steril (PA)memberikan kecenderungan paling efektif dalam peningkatan  kandungan nutrisi, khususnya protein, pada Thalassiosira sp. tanpa mengabaikan peran media lain dalam mempengaruhi kandungan nutrisi yang berbeda. Oleh karena itu, pemilihan media kultur perlu disesuaikan dengan tujuan produksi biomassa atau komponen  nutrisi yang diinginkan.Kata Kunci: Thalassiosira sp., nutrisi, media kulturABSTRACTThalassiosira sp. microalgae are a potential source of bioactive compounds due to their high protein, lipid, and carbohydrate content. This study aimed to evaluate the effect of different culture media on biomass production and nutrient composition. A Randomized Block Design (RBD) with three treatments and three replications was applied. Proximate analysis included moisture, lipid, ash, protein, and carbohydrate contents. Data were analyzed using One-Way ANOVA followed by Tukey’s HSD test to determine significant differences among treatments. The results showed significant differences among culture media (p 0.05). The highest protein content was found in sterile seawater medium (PA) at 30.42%, the highest lipid content in non-sterile seawater medium (PC) at 24.33%, and the highest ash content in artificial seawater medium (PB) at 2.44%. These findings indicate that sterile seawater medium (PA) tends to be the most effective in enhancing nutrient content, particularly protein, in Thalassiosira sp., while other media contribute differently to specific nutrient components. Therefore, the selection of culture media should be adjusted according to the intended biomass production or targeted nutritional components.Keywords: Thalassiosira sp., nutrition, culture media
Identifikasi Jenis Mikroplastik Di Perairan Laut Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh Kusumawati, Ika; Suriani, Mai; Nurdini, Jihannuma Adibiah; Amin, Saiful; Anggraini, Deri
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.33937

Abstract

ABSTRAKJenis mikroplastik di perairan laut menjadi penting untuk diperhatikan karena menggambarkan karakteristik dan sumber pencemar yang terdapat di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis mikroplastik yang menjadi bahan pencemar di perairan laut Aceh Barat. Penelitian dilaksanakan pada Mei 2024 dengan pengambilan sampel menggunakan ember, plankton net, dan botol sampel. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Produktivitas Lingkungan Perairan Universitas Teuku Umar dengan mengamati 1 ml sampel air laut di bawah mikroskop binokuler perbesaran 4 × 0,10 µm menggunakan pola pengamatan zig-zag. Hasil menunjukkan empat jenis mikroplastik, yaitu fiber (540) partikel, fragment (518) partikel, film (598) partikel, dan pellet (23) partikel. Keberadaan mikroplastik pada lokasi penelitian diduga berkaitan dengan aktivitas masyarakat nelayan di pesisir pantai dan muara sungai yang berkontribusi terhadap masuknya sampah ke perairan. Disimpulkan bahwa terdapat empat jenis mikroplastik dengan jenis pellet tidak ditemukan pada stasiun II karena rendahnya aktivitas masyarakat. Perlu adanya langkah pengumpulan informasi komposisi mikroplastik secara lebih menyeluruh sebagai dasar pengelolaan lingkungan pesisir dan pengendalian pencemaran plastik di perairan laut Kabupaten Aceh Barat. Kata Kunci: Mikroplastik, Jenis Mikroplastik, Aceh Barat.ABSTRACTThe types of microplastics in marine waters are important to note because they describe the characteristics and sources of pollution found in these waters. This study aims to determine the types of microplastics that are pollutants in the marine waters of West Aceh. The study was conducted in May 2024 by taking samples using buckets, plankton nets, and sample bottles. Identification was carried out at the Aquatic Environmental Productivity Laboratory of Teuku Umar University by observing 1 ml of seawater samples under a binocular microscope at a magnification of 4 × 0.10 µm using a zig-zag observation pattern. The results showed four types of microplastics, namely fiber (540) particles, fragment (518) particles, film (598) particles, and pellet (23) particles. The presence of microplastics at the study site is suspected to be related to the activities of fishing communities on the coast and river estuaries that contribute to the entry of waste into the waters. It was concluded that there were four types of microplastics with pellets not found at station II due to low community activity. There is a need for more comprehensive steps to collect information on the composition of microplastics as a basis for coastal environmental management and controlling plastic pollution in the marine waters of West Aceh Regency.Keywords: Microplastics, Type of Microplastic, West Aceh.
Faktor Biokonsentrasi (BCF) Dan Faktor Translokasi (TF) Logam Berat Tembaga (Cu) Pada Beberapa Jenis Mangrove Dari Ekosistem Pesisir Bangkalan Madura, Jawa Timur Nurdini, Jihannuma Adibiah; Aljamilah, Wakhidatun Nafisyah; Sahara, Aginda; Wardhani, Maulinna Kusumo
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.32821

Abstract

ABSTRAKTekanan antropogenik di kawasan pesisir, seperti industri, perikanan, dan transportasi laut, meningkatkan potensi cemaran logam berat, termasuk tembaga (Cu), yang bersifat toksik pada kadar tinggi. Mangrove berperan sebagai agen fitoremediasi melalui kemampuan menyerap dan mengakumulasi logam berat pada jaringan tanaman, terutama akar. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan kemampuan serapan beberapa jenis mangrove terhadap Cu di perairan pesisir Martajasah.  Konsentrasi tembaga (Cu) dianalisis pada masing-masing sampel sedimen, akar, dan daun mangrove dari 7 spesies pohon mangrove dengan total 21 sampel. Parameter lingkungan perairan diukur secara in situ (suhu, salinitas, pH tanah, dan DO). Preparasi sampel dilakukan melalui destruksi basah menggunakan HNO₃ dan H₂O₂, kemudian konsentrasi tembaga (Cu) dianalisis menggunakan AAS. Nilai faktor biokonsentrasi (BCF) dan translokasi (TF) dihitung untuk menilai akumulasi dan kemampuan mangrove mentransport logam berat Cu dari sedimen menuju akar dan daun. Xylocarpus moluccensis menunjukkan faktor biokonsentrasi tertinggi baik pada akar maupun daun, namun dengan translokasi yang rendah, yang menunjukkan peran potensialnya sebagai bioakumulator sekaligus fitostabilisator di lingkungan pesisir yang terkontaminasi tembaga (Cu). Sebaliknya Avicennia officinalis dengan nilai faktor translokasi tertinggi namun dengan biokonsentrasi rendah mengindikasikan kemampuan penyerapan awal tembaga (Cu) yang rendah dengan mekanisme translokasi tinggi.Kata Kunci: Mangrove, Biokonsentrasi, Translokasi, Logam Berat, TembagaABSTRACTAnthropogenic pressures in coastal areas, including industrial activities, fisheries, and maritime transportation, increase the risk of heavy metal contamination, particularly copper (Cu), which is toxic at elevated concentrations. Mangroves play a crucial role as phytoremediation agents due to their ability to absorb and accumulate heavy metals within plant tissues, especially in the roots. This study aimed to analyze and compare the uptake capacity of several mangrove species toward Cu in the coastal waters of Martajasah. Copper (Cu) concentrations were determined in sediment, root, and leaf samples collected from seven mangrove species, with a total of 21 samples. Environmental parameters, including temperature, salinity, soil pH, and dissolved oxygen (DO), were measured in situ. Sample preparation was conducted using wet digestion with HNO₃ and H₂O₂, followed by Cu analysis using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Bioconcentration Factor (BCF) and Translocation Factor (TF) were calculated to evaluate the accumulation capacity and the ability of mangroves to transport Cu from sediment to plant tissues. Xylocarpus moluccensis exhibited the highest bioconcentration factors in both roots and leaves, but relatively low translocation, indicating its potential role as both a bioaccumulator  and  a  phytostabilizer in Cu-contaminated  coastal  environments, whereas Avicennia officinalis showed the highest translocation factor but low bioconcentration, suggesting limited initial Cu uptake with a more efficient internal translocation mechanism.Kata Kunci: Mangrove, Phytoremediation, Heavy Metal, Copper, Bangkalan
Profil Cyanobacteria Berfilamen Serta Keanekaragaman Dan Kelimpahan Di Perairan Pulau Tunda Nasution, Annisa Khairan; Kurniawan, Aditiali; Aprilia, Nabila Nur; Chairamah, Desta Lis; Suryaatmaja, I Gusti Ngurah; Hutabarat, Reyfael; Gibran, Qalam Averoes
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.32354

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil cyanobacteria berfilamen di perairan Pulau Tunda, Banten, melalui analisis keanekaragaman, kelimpahan, dan identifikasi genus. Pengambilan sampel dilakukan pada dua stasiun pengamatan menggunakan plankton net, kemudian dianalisis secara mikroskopis untuk menentukan genus yang teridentifikasi, menghitung kelimpahan, serta mendeskripsikan ciri morfologi sebagai pendukung identifikasi taksonomi. Keanekaragaman dianalisis menggunakan indeks Shannon Wiener (H’). Hasil penelitian menunjukkan adanya delapan genus cyanobacteria berfilamen, yaitu Oscillatoria, Aphanizomenon, Anabaena, Lyngbya, Microcoleus, Phormidium, Spirulina, dan Nodularia. Genus Oscillatoria dan Aphanizomenon menunjukkan kelimpahan tertinggi pada kedua stasiun. Nilai indeks keanekaragaman berada pada kategori sedang, mengindikasikan komunitas yang relatif stabil tanpa dominansi ekstrem. Ciri morfologi antar genus memperlihatkan variasi bentuk filamen, ukuran sel, struktur trikom, serta keberadaan heterosit yang menjadi dasar pembeda takson. Penelitian ini memberikan profil awal cyanobacteria berfilamen di perairan Pulau Tunda dan dapat digunakan sebagai data dasar untuk pemantauan ekologi jangka panjang dan pengelolaan lingkungan perairan.Kata kunci: cyanobacteria berfilamen, keanekaragaman, kelimpahan, morfologi, Pulau Tunda.ABSTRACTThis study aims to describe the profile of filamentous cyanobacteria in the waters of Tunda Island, Banten, through analysis of diversity, abundance, and genus identification. Sampling was conducted at two observation stations using plankton nets, and the samples were then analyzed microscopically to identify the genera, calculate abundance, and describe morphological characteristics to support taxonomic identification. Diversity was analyzed using the Shannon-Wiener index (H’). The results showed the presence of eight genera of filamentous cyanobacteria, namely Oscillatoria, Aphanizomenon, Anabaena, Lyngbya, Microcoleus, Phormidium, Spirulina, and Nodularia. The genera Oscillatoria and Aphanizomenon showed the highest abundance at both stations. The diversity index value fell within the moderate category, indicating a relatively stable community with moderate dominance. Morphological characteristics between genera exhibited variations in filament shape, cell size, trichome structure, and the presence of heterocysts, which serve as the basis for taxon differentiation. This study provides an initial profile of filamentous cyanobacteria in the waters of Tunda Island. It can be used as baseline data for long-term ecological monitoring and aquatic environmental management.Keywords: filamentous cyanobacteria, diversity, aphorisms, morphology, Tunda Island.