Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Analisis Faktor Biokonsentrasi Dan Faktor Translokasi Dari Logam Berat Cu Pada Mangrove Rhizopora sp. Salju Qolbi Ilhami; Jihannuma Adibiah Nurdini
Juvenil Vol 5, No 4: November 2024
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i4.28067

Abstract

ABSTRAKSalah satu polutan logam berat di lingkungan adalah tembaga (Cu) yang bersumber dari aktivitas manusia seperti industri dan pertambangan yang tidak dikelola dengan baik, menimbulkan limbah yang mengandung logam berat yang kemudian terakumulasi dan dibawa oleh aliran air menuju laut. Penelitian ini menganalisis kandungan logam berat, faktor biokonsentrasi serta faktor tranlokasi pada akar, sedimen, dan daun mangrove. Stasiun pengambilan sampel mencakup 5 stasiun yaitu: Sepulu, Poltera, Modung, Tajungan, dan Bancaran. Metode yang digunakan untuk menganalisis logam berat Cu adalah metode detruksi asam nitrat peklorat dan spektrofotometri serapan atom dengan panjang gelombang 324,7 nm. Hasil yang ditemukan dengan cemaran logam berat Cu tertinggi pada akar, daun, dan sedimen terdapat di stasiun 4 dengan masing-masing nilai besaran 0.5880; 0.4965; 4.8510. Sedangkan dengan nilai kandungan logam berat Cu terendah pada akar, daun, dan sedimen terdapat di stasiun 3 dengan masing-masing nilai besaran 0.2130; 0.0952; 0.5221. Faktor biokonsentrasi tertinggi adalah akar rata-rata sebesar 0.429, kemudian daun dengan rata-rata 0.220. Faktor translokasi untuk mengetahui perpindahan akumulasi logam dari akar ke daun, nilai factor translokasi tertinggi tertinggi berada di stasiun 4 sebesar 0.844. Hal ini membuktikan bahwa mangrove dapat mengakumulasi logam berat dalam jaringan tubuhnya untuk mengurangi pencemaran logam berat.Kata Kunci: Logam berat Cu, Mangrove, Rhizopora Mucronata, Faktor Bikonsentrasi, Faktor TranslokasiABSTRACTOne of the heavy metal pollutants in the environment is copper (Cu) which comes from human activities such as industry and mining that are not managed properly, causing waste containing heavy metals which then accumulate and are carried by water flow to the sea. This study analyzed the content of heavy metals, bioconcentration factors and translocation factors in roots, sediments, and mangrove leaves. Sampling stations include 5 stations, namely: Sepulu, Poltera, Modung, Tajungan, and Bancaran. The method used to analyze the heavy metal Cu is the nitric acid pechlorate destruction method and atomic absorption spectrophotometry with a wavelength of 324.7 nm. The results found with the highest Cu heavy metal contamination in roots, leaves, and sediments were at station 4 with respective values of 0.5880; 0.4965; 4.8510. While the lowest Cu heavy metal content in roots, leaves, and sediments was at station 3 with respective values of 0.2130; 0.0952; 0.5221. The bioconcentration factor is the ability of organisms to accumulate heavy metals in sediment, the highest bioconcentration factor value is the average root of 0.429, then the leaves with an average of 0.220. The translocation factor is to determine the transfer of metal accumulation from roots to leaves, the highest translocation factor value is at station 4 of 0.844. This proves that mangroves can accumulate heavy metals in their body tissues to reduce heavy metal pollution.Keywords: Heavy metal Cu, Mangrove, Rhizophora Mucronata, Bioconcentration Factor, Translocation Factor
Eksplorasi Keanekaragaman Spesies Kerang (Bivalvia) di Wilayah Pesisir Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur Putri, Rizka Rahmana; Innaya, Ainnun; Putri, Fareza Nabila Dhea Fatma; Abida, Indah Wahyuni; Pramithasari, Febi Ayu; Nurdini, Jihannuma Adibiah
Juvenil Vol 6, No 2: Mei (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i2.30147

Abstract

ABSTRAKPerairan pesisir Socah, Kabupaten Bangkalan, merupakan wilayah yang memiliki potensi keanekaragaman hayati tinggi, khususnya kelompok kerang (Bivalvia). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan inventarisasi jenis-jenis kerang yang ditemukan di wilayah tersebut sebagai dasar pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode random sampling, kemudian spesimen diidentifikasi berdasarkan morfologi, morfometrik, serta pencocokan data dengan sumber ilmiah dan database biodiversitas seperti World Register of Marine Species (WoRMS) dan Global Biodiversity Information Facility (GBIF). Hasil identifikasi menunjukkan terdapat 12 jenis kerang berdasarkan nomenklatur lokal, di antaranya kerang kampak (Atrina pectinata), kerang hijau (Perna viridis), kerang kepah/kerang putih/kerang tahu (Meretrix meretrix), kerang darah (Anadara granosa), kerang kipas (Mimachlamys varia), kerang batik (Paratapes undulatus), kerang cokelat (Meretrix lusoria), kerang kor-kor (genus Anadara), kerang tiram/tiram Pasifik (Crassostrea gigas), kerang putih tipis dan kerang licin yang sama-sama termasuk dalam genus Dosinia, kerang iris (Pharus legumen). Beberapa spesies yang memiliki kemiripan morfologi (cryptic species) disarankan untuk dianalisis lebih lanjut secara molekuler. Hasil pengukuran kualitas air menunjukkan suhu 29,5°C, pH 7,7, DO 5,5 mg/l, dan salinitas 28 ppt, semuanya berada dalam kisaran optimal untuk kehidupan kerang. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya dokumentasi dan identifikasi awal keanekaragaman kerang secara ilmiah sebagai langkah awal konservasi dan pemanfaatan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, serta kami menekankan perlunya revisi taksonomi dan praktik taksonomi yang menggabungkan data molekuler dan morfologi.Kata kunci: biodiversitas, cryptic species, identifikasi morfologi, inventarisasi, kerangABSTRACTThe coastal waters of Socah, Bangkalan Regency, are an area with high biodiversity potential, particularly among bivalve mollusks (Bivalvia). This study aims to inventory the bivalve species found in the area as a foundation for sustainable marine resource management. Sampling was conducted using a random sampling method, and specimens were subsequently identified based on morphological and morphometric characteristics, as well as by cross-referencing scientific literature and biodiversity databases such as World Register of Marine Species (WoRMS) and Global Biodiversity Information Facility (GBIF). The identification results revealed 12 species of bivalves based on local nomenclature, including Atrina pectinata (commonly known as kampak clam), Perna viridis (green mussel), Anadara granosa (blood cockle), among others. Some species with similar morphological features (cryptic species) are recommended for further molecular analysis. Water quality measurements showed a temperature of 29.5°C, pH of 7.7, dissolved oxygen (DO) of 5.5 mg/l, and salinity of 28 ppt, all within the optimal range for bivalve life. This study underscores the importance of scientific documentation and initial identification of shellfish biodiversity as a foundational step toward conservation and the sustainable use of coastal resources. Furthermore, we emphasize the need for taxonomic revision and practices that integrate both molecular and morphological data.Keywords: biodiversity, bivalves, cryptic species, inventory, morphological identification
Penerapan Teknologi Smart Farming Berbasis Irigasi Tetes Otomatis Untuk Optimalisasi Budidaya Melon Pada BumDes Bumi Mentari Desa Kampak Bangkalan Achmad Fiqhi Ibadillah; Monika Faswia Fahmi; Jihannuma Adibiah Nurdini; Achmad Fajar Bahruddin; Muhammad Zamanul Khoir; Mukhammad Aditia Ilham; Muhammad Zakky Rahmadhani; Dani Hatta Prayoga
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v6i1.2665

Abstract

Permasalahan utama dalam budidaya melon di BumDes Bumi Mentari Desa Kampak, Bangkalan meliputi sistem irigasi yang masih dilakukan secara manual, pemberian air dan nutrisi yang tidak terukur, tingginya kadar PPM air, serta belum tersedianya sistem pemantauan kondisi tanaman secara real-time, yang berdampak pada ketidakteraturan pertumbuhan tanaman dan rendahnya efisiensi pengelolaan budidaya. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk menerapkan teknologi smart farming berbasis irigasi tetes otomatis sebagai solusi terhadap permasalahan tersebut. Metode pelaksanaan meliputi tahapan identifikasi masalah melalui survei dan wawancara, perancangan dan pembuatan satu unit teknologi smart farming berbasis mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor kelembaban tanah dan sensor PPM, instalasi sistem di greenhouse mitra, pelaksanaan pelatihan dan pendampingan serta evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sistem yang dibangun mampu mengontrol penyiraman secara otomatis berdasarkan kondisi aktual kelembaban tanah dan memantau nutrisi secara real-time, serta berhasil dioperasikan secara langsung di satu unit greenhouse budidaya melon. Hasil evaluasi pelatihan menunjukkan seluruh indikator berada pada kategori sangat baik dengan persentase di atas 81%, dengan nilai tertinggi pada aspek pemahaman pengaturan sensor sebesar 89,09%, serta indikator manfaat pelatihan, peningkatan kepercayaan diri, dan rekomendasi masing-masing sebesar 87,27%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan PKM ini berhasil membangun dan mengimplementasikan teknologi smart farming secara fungsional serta meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan kesiapan mitra dalam mengadopsi teknologi pertanian digital untuk mendukung pengelolaan budidaya melon yang lebih efisien, terukur, dan berkelanjutan.
Identifikasi Jenis Mikroplastik Di Perairan Laut Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh Kusumawati, Ika; Suriani, Mai; Nurdini, Jihannuma Adibiah; Amin, Saiful; Anggraini, Deri
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.33937

Abstract

ABSTRAKJenis mikroplastik di perairan laut menjadi penting untuk diperhatikan karena menggambarkan karakteristik dan sumber pencemar yang terdapat di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis mikroplastik yang menjadi bahan pencemar di perairan laut Aceh Barat. Penelitian dilaksanakan pada Mei 2024 dengan pengambilan sampel menggunakan ember, plankton net, dan botol sampel. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Produktivitas Lingkungan Perairan Universitas Teuku Umar dengan mengamati 1 ml sampel air laut di bawah mikroskop binokuler perbesaran 4 × 0,10 µm menggunakan pola pengamatan zig-zag. Hasil menunjukkan empat jenis mikroplastik, yaitu fiber (540) partikel, fragment (518) partikel, film (598) partikel, dan pellet (23) partikel. Keberadaan mikroplastik pada lokasi penelitian diduga berkaitan dengan aktivitas masyarakat nelayan di pesisir pantai dan muara sungai yang berkontribusi terhadap masuknya sampah ke perairan. Disimpulkan bahwa terdapat empat jenis mikroplastik dengan jenis pellet tidak ditemukan pada stasiun II karena rendahnya aktivitas masyarakat. Perlu adanya langkah pengumpulan informasi komposisi mikroplastik secara lebih menyeluruh sebagai dasar pengelolaan lingkungan pesisir dan pengendalian pencemaran plastik di perairan laut Kabupaten Aceh Barat. Kata Kunci: Mikroplastik, Jenis Mikroplastik, Aceh Barat.ABSTRACTThe types of microplastics in marine waters are important to note because they describe the characteristics and sources of pollution found in these waters. This study aims to determine the types of microplastics that are pollutants in the marine waters of West Aceh. The study was conducted in May 2024 by taking samples using buckets, plankton nets, and sample bottles. Identification was carried out at the Aquatic Environmental Productivity Laboratory of Teuku Umar University by observing 1 ml of seawater samples under a binocular microscope at a magnification of 4 × 0.10 µm using a zig-zag observation pattern. The results showed four types of microplastics, namely fiber (540) particles, fragment (518) particles, film (598) particles, and pellet (23) particles. The presence of microplastics at the study site is suspected to be related to the activities of fishing communities on the coast and river estuaries that contribute to the entry of waste into the waters. It was concluded that there were four types of microplastics with pellets not found at station II due to low community activity. There is a need for more comprehensive steps to collect information on the composition of microplastics as a basis for coastal environmental management and controlling plastic pollution in the marine waters of West Aceh Regency.Keywords: Microplastics, Type of Microplastic, West Aceh.
Faktor Biokonsentrasi (BCF) Dan Faktor Translokasi (TF) Logam Berat Tembaga (Cu) Pada Beberapa Jenis Mangrove Dari Ekosistem Pesisir Bangkalan Madura, Jawa Timur Nurdini, Jihannuma Adibiah; Aljamilah, Wakhidatun Nafisyah; Sahara, Aginda; Wardhani, Maulinna Kusumo
Jurnal Kelautan Vol 19, No 1: April 2026
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v19i1.32821

Abstract

ABSTRAKTekanan antropogenik di kawasan pesisir, seperti industri, perikanan, dan transportasi laut, meningkatkan potensi cemaran logam berat, termasuk tembaga (Cu), yang bersifat toksik pada kadar tinggi. Mangrove berperan sebagai agen fitoremediasi melalui kemampuan menyerap dan mengakumulasi logam berat pada jaringan tanaman, terutama akar. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan kemampuan serapan beberapa jenis mangrove terhadap Cu di perairan pesisir Martajasah.  Konsentrasi tembaga (Cu) dianalisis pada masing-masing sampel sedimen, akar, dan daun mangrove dari 7 spesies pohon mangrove dengan total 21 sampel. Parameter lingkungan perairan diukur secara in situ (suhu, salinitas, pH tanah, dan DO). Preparasi sampel dilakukan melalui destruksi basah menggunakan HNO₃ dan H₂O₂, kemudian konsentrasi tembaga (Cu) dianalisis menggunakan AAS. Nilai faktor biokonsentrasi (BCF) dan translokasi (TF) dihitung untuk menilai akumulasi dan kemampuan mangrove mentransport logam berat Cu dari sedimen menuju akar dan daun. Xylocarpus moluccensis menunjukkan faktor biokonsentrasi tertinggi baik pada akar maupun daun, namun dengan translokasi yang rendah, yang menunjukkan peran potensialnya sebagai bioakumulator sekaligus fitostabilisator di lingkungan pesisir yang terkontaminasi tembaga (Cu). Sebaliknya Avicennia officinalis dengan nilai faktor translokasi tertinggi namun dengan biokonsentrasi rendah mengindikasikan kemampuan penyerapan awal tembaga (Cu) yang rendah dengan mekanisme translokasi tinggi.Kata Kunci: Mangrove, Biokonsentrasi, Translokasi, Logam Berat, TembagaABSTRACTAnthropogenic pressures in coastal areas, including industrial activities, fisheries, and maritime transportation, increase the risk of heavy metal contamination, particularly copper (Cu), which is toxic at elevated concentrations. Mangroves play a crucial role as phytoremediation agents due to their ability to absorb and accumulate heavy metals within plant tissues, especially in the roots. This study aimed to analyze and compare the uptake capacity of several mangrove species toward Cu in the coastal waters of Martajasah. Copper (Cu) concentrations were determined in sediment, root, and leaf samples collected from seven mangrove species, with a total of 21 samples. Environmental parameters, including temperature, salinity, soil pH, and dissolved oxygen (DO), were measured in situ. Sample preparation was conducted using wet digestion with HNO₃ and H₂O₂, followed by Cu analysis using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Bioconcentration Factor (BCF) and Translocation Factor (TF) were calculated to evaluate the accumulation capacity and the ability of mangroves to transport Cu from sediment to plant tissues. Xylocarpus moluccensis exhibited the highest bioconcentration factors in both roots and leaves, but relatively low translocation, indicating its potential role as both a bioaccumulator  and  a  phytostabilizer in Cu-contaminated  coastal  environments, whereas Avicennia officinalis showed the highest translocation factor but low bioconcentration, suggesting limited initial Cu uptake with a more efficient internal translocation mechanism.Kata Kunci: Mangrove, Phytoremediation, Heavy Metal, Copper, Bangkalan