cover
Contact Name
Fauziah Astrid
Contact Email
fauziah.astrid@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtabligh@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Dakwah Tabligh
ISSN : 14127172     EISSN : 2549662X     DOI : -
Tabligh Journal is a scientific publication for research topics and studies on communication and da'wah. The form of publiation that we receive will be reviewed by reviewers who have a concentration in the field of Communication, specifically Da'wah and Communication.We publish this journal twice a year, in June and December. The Tabligh Journal first appeared in the printed version in 2011. This journal is managed by the Tabligh journal team under the Da'wah and Communication Faculty of Alauddin Islamic University in Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 318 Documents
REPRESENTASI ETNISITAS DALAM BINGKAI BHINNEKA TUGGAL IKA DI MEDIA (Studi Etnis Papua dalam Bingkai Bhinneka Tuggal Ika Pada Program TransTV “Keluarga Minus”) Nurul Islam
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.307

Abstract

Abstract; Dalam kerangka pemikiran Ilmu Komunikasi, pada dasarnya tulisan ini merupakan sepenggal proposisi dari tinjauan Kajian Media dan Minoritas, dengan maksud menggali pesan-pesan etnisitas dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di Media, khususnya program televisi “Keluarga Minus” di saluran TransTV. Representasi mempunyai dua urgensi yang harus dipahami dalam konsepsi tersebut, yakni representasi mental atau konsep dan representasi bahasa. Pertama, representasi mental yaitu konsepsi yang berkaitan dengan “sesuatu” yang ada di kepala kita masing-masing biasa disebut dengan peta konseptual. Representasi mental ini berbentuk sesuatu yang abstrak atau tak nampak. Kedua, representasi bahasa. Representasi bahasa berkaitan penuh dengan kepentingan atas konstruksi makna. Stereotip merupakan suatu penanda praktis yang fokus pada representasi perbedaan ras, dan juga elemen penting dalam kekerasan simbolik. Representasi makna diatas tidak terlepas dari relasi ideologi dominan yang ada. Kelompok sosial dominan, adalah orang-orang yang mereproduksi ideologi dominan atas kelompok-kelompok etnis dan ras. Oleh sebab itu, hal yang tidak dapat kita pungkiri adalah kerelaan atas ideologi dominan yang mampu memproduksi stereotipe etnisitas dan rasial, media merupakan ideologis apparatus yang mampu untuk hal tersebut, memproduksi ideologi. Media merupakan apparatus pencipta ideologi yang halus dan bukan refresi. Dari ideologi tersebut, yang kemudian tertanam dalam pikiran kita dan tanpa kita disadari, hal tersebut digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, sehingga stereotip tersebut terus-menerus ada, dan tetap terjaga dalam suatu masyarakat. Kata Kunci: Representasi, Etnisitas, Bhinneka Tunggal Ika In the framework of Communication Sciences, basically this writing is a piece proposition reviewed from Media and Minorities studies with the intention to dig up ethnicity messages in the frame of Binneka Tunggal Ika in the Media, especially television program of "Keluarga Minus" on Trans TV. A representation has two urgency things that must be understood as a concept which is a mental representation/concept and a language representation. First, the mental representation that is associated with the conception of "something" that is in our head commonly called the conceptual map. This representation is formed in abstract or invisible. Secondly, the representation language which is full of interest related to the construction of meanings. Stereotype is a practical marker that focuses on the representation of racial differences, and an important element in the symbolic of violence. Those representations cannot be separated from the ideology dominance. A dominant social group is the one who reproduces the ideology dominance over ethnic and races groups. Therefore, I can be denied that is a willingness over ideology dominance that is able to reproduce stereotype, ethnicity, and racial in which media is an ideological apparatus that can do like producing ideology. Media is the creator of the ideological apparatus that is smooth, but not repressive. From this ideology that is embedded in our minds, it is used to communicate with other people that makes this ideology exists constantly and keeps hanging in our society without realizing it. Keywords: Representation, Ethnicity, National unity
PENERAPAN METODE QUANTUM HIJAIYAH DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BACA AL-QURAN KOMUNITAS MUALLAF DI KALIMANTAN BARAT Samsul Hidayat
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 20 No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v20i1.9602

Abstract

This research is entitled: "Application of the Quantum Hijaiyah Method in Improving the Ability to Read the Koran of the Muslim Community in West Kalimantan”. The purpose of this study is to guide the convert community (muallaf) to be able to read the Qur'an properly and correctly, equipping them with the ability to practice one of the teachings of Islam, namely to read the holy verses of the Qur'an in order to increase the spirit of converts in practicing Islamic teachings.The object of this research is the Muslim convert community (muallaf) in Senyabang Village, Sanggau District and the Muslim Community in Menjalin Village, Menjalin District, Landak Regency. This qualitative research model targets the social community as an active part of the research process, in order to increase the effectiveness of the data collection and analysis process to produce a recommendation that is truly beneficial for the improvement of the quality of their social life. The community-based research approach is more suitable if it uses an action research model, as applied research that requires dynamic and clinical trials. The results of the study were in the form of application a method of learning the Qur'an in an easier time with the Quantum Hijaiyah method. The training and development participants showed an increase in the mastery of reading hijaiyah letters and verses of the Qur'an during 19 hours of effective learning starting from pre-test, training and post-test activities. Increasing the reading ability of participants is proven by the results of tests and testimonials or acknowledgment from each participant who acknowledges the changes and improvement in the quality of reading the verses of the Qur'an.
ETIKA KOMUNIKASI DALAM AL-QUR’AN DAN HADIS Muh. Syawir Dahlan
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.342

Abstract

Abstract; Konsep tentang komunikasi tidak hanya berkaitan dengan masalah cara berbicara efektif saja melainkan juga etika bicara. Semenjak memasuki era reformasi, masyarakat Indonesia berada dalam suasana euforia, bebas bicara tentang apa saja, terhadap siapapun, dengan cara bagaimanapun. Al-Qur’an menyebut komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia. Untuk mengetahui bagaimana manusia seharusya berkomunikasi. Al-Qur’an memberikan kata kunci (keyconcept) yag berhubungan dengan hal itu. Al-Syaukani, misalnya mengartikan kata kunci al-bayan sebagai kemampuan berkomunikasi. Selain itu, kata kunci yang dipergunakan Al-Qur’an untuk komunikasi ialah al-qaul. Demokrasi yang melegitimasi terdapatnya keragaman (pluralitas) tentu harus dipraktikkan ke ranah politik dan kekuasaan. Untuk itu dibutuhkan alat untuk mengantarkan terjadinya proses tawar dan konsensus di antara komponen sosial politik yang ada. Instrumen tersebut adalah komunikasi politik. Etika politik diperlukan secara kontinu dalam proses komunikasi politik di tengah transisi demokrasi saat ini di mana etika politik mengarahkan ke hidup baik bersama dan untuk orang lain dalam kerangka memperluas lingkup kebebasan dan menciptakan institusi-institusi yang lebih adil. Barangkali bisa dipahami dengan komunikasi politik yang beretika maka nilai-nilai demokrasi tetap dikedepankan serta mereka akan menjaga komitmen untuk mengutamakan kepentingan publik. Perintah berkata dalam Al-Qur’an dan hadis menjadi sebuah indikasi wajibnya bagi muslim mengaplikasikan sifat kejujuran dan perkataan benar yang dalam konsep Al-Qur’an dikenal dengan istilah qaulan sadidan. Kata Kunci: Etika, Komunikasi The concept of communication is not only concerned with the problem of how to speak effectively but also the ethics of speech. Since entering the reform era, the people of Indonesia are in a euphoric atmosphere, free to talk about anything, to anyone, in any way. The Quran calls the communication as one of human nature. To find out how humans seharusya communicate. The Qur'an gives the keyword (keyconcept) yag associated with it. Al-Syaukani, for example, define the keyword al-bayan as the ability to communicate. In addition, the keywords used for communication Qur'an is al-qaul. Democracy which legitimize the presence of diversity (plurality) of course must be practiced to the realm of politics and power. That requires a tool to deliver the bargaining process and consensus among the existing social and political components. The instrument is political communication. Political ethics required continuously in the process of political communication in the middle of the current democratic transition in which the direct political ethics to live well together and for others within the framework of expanding the scope of freedom and creating institutions fairer. Perhaps it can be understood in political communication, the ethical values of democracy still put forward and they will maintain a commitment to prioritize the public interest. The command said in the Qur'an and Hadith become an indication obligatory for Muslims to apply the nature of honesty and true are the words of the Qur'an concept known as qaulan sadidan. Keywords: Ethics, Communication
REVITALISASI PERAN MASJID SEBAGAI BASIS DAN MEDIA DAKWAH KONTEMPORER M. Abzar D
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i1.298

Abstract

Abstract; Dalam sejarahnya masjid merupakan lembaga pertama yang dibangun oleh Rasulullah Saw pada periode Madinah. Di masa sekarang ini, dapat diamati fungsi masjid yang dulu multifunction itu masih banyak yang difungsikan sebatas pada rutinitas ibadah seperti shalat berjamaah (misalnya shalat Jum'at dan Ramadhan) saja, sedangkan fungsi horisontalistik (hablun minannas) terlihat masih sangat kurang. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ditinjau dari akar sejarahnya masjid telah difungsikan sedemikian rupa, tidak saja sebatas sebagai tempat ibadah-ibadah khusus semata, tetapi juga telah difungsikan pada urusan-urusan keduniaan yang di antaranya diorientasikan pada pembinaan sumber daya umat. Masjid-masjid saat ini masih banyak yang terjebak pada memposisikan diri sebagai masjid yang bercorak "vertikalistik an sich", yaitu masjid yang hanya difungsikan untuk menyelenggarakan rutinitas-rutinitas ibadah mahdhah semata. Aktivitas dakwah pada dasamya dapat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sarana yang ada, termasuk di dalamnya memanfaatkan masjid sebagai sarana dakwah. Sejak masa Rasulullah SAW masjid telah dimanfaatkan sedemikian rupa sebagai sarana kegiatan dakwah. Beberapa altematif penguatan tersebut dijalankan, dengan tetap memperhatikan kekuatan, peluang, hambatan, dan ancaman dari problem-problem yang dihadapi masjid, maka revitalisasi peran masjid sebagai basis gerakan dakwah dapat terwujud dengan nyata. Agar masjid tidak kehilangan peran dan fungsinya, maka di sarnping sebagai tempat ibadah, masjid juga harus dapat difungsikan sebagai tempat penyebaran ilmu pengetahuan, pusat kebudayaan, kegiatan sosial, ekonomi, politik, seni dan juga filsafat. Keywords; Revitalisasi, Peran Masjid, Media Dakwah Mosque is the first institution established by the Prophet in Medina period in the history. At the present time, it can be observed that the function of the mosque was first multifunction to the routine of worship such as prayer in congregation (e.g. the Friday prayers and Ramadan), whereas the function of horisontalistic (hablun minannas) looks still very poor. Thus, it can be seen that in terms of the historical roots, mosque has functioned as special worship alone, but also has functioned in the mundane affairs that are oriented towards the development of community resources. Mosques now place theirselves as a mosque called "verticalistic an sich", which only enables for organizing routines worship mahdhah. Basically a missionary activity can be done by utilizing a variety of existing facilities, including utilizing the mosque as a means of Dakwah. Mosque has been used in such a way as a means of Dakwah activities since the time of the Prophet Muhammad. Some strengthening alternative are executed that still focuses on strength, opportunities, barriers, and the threat of problems faced by mosque, so that the revitalization of the role of the mosque as a base missionary movement can be realized. In order to make the role of the mosque and its function loss, it sould be also used as a place to disseminate science, culture center, social activities, economic, politic, art, and philoshopy. Keywords; Revitalization, role of the mosque, the media of da’wah
AL-MA’IYYAH AND AL-AHÁTHAH, “THE ACCOMPANIMENT AND ENCOMPASSING OF GOD TOWARDS HIS SLAVE” IN SHEIKH YUSUF CONCEPTION Hj. Muzdalifah Sahib
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.333

Abstract

Abstract; Sheikh Yusuf al-Maqassary (1626-1699), adalah seorang penulis produktif yang telah menulis risalah lebih dari 38, sebagai pedoman bagi masyarakat muslim khususnya bagi para pengikutnya. Meskipun Sheikh Yusuf berpegang teguh pada transendensi Allah, ia percaya bahwa Allah meliputi segala sesuatu (al-aháthah) dan ada di mana-mana (al-maiyyah) atas ciptaan-Nya. Namun, dia sangat berhati-hati untuk tidak mengikat dirinya dengan doktrin panteisme dengan mengatakan, meskipun Allah muncul sendiri dalam ciptaan-Nya, itu tidak berarti bahwa ciptaan-Nya adalah Allah sendiri, semua ciptaan hanyalah makhluk alegoris atau metaforis (al -maujúd al-majazi), bukan wujud yang sebenarnya (al-maujúd haqiqi). Jadi, menurut Syekh Yusuf, kata Tuhan dalam ciptaan-Nya tidak berarti kehadiran Allah sendiri dalam diri mereka, tetapi sifat ilmunya-Nyalah meliputi hamba-Nya, dan keadaannya yang bersama dengan hamba-Nya, bukan keadaan hamba bersama-sama dengan Allah, karena itu tidak mungkin, kecuali bagi hamba yang berada dalam kondisi dzikr (hanya mengingat Allah) dan tidak mengingat wujud lain selain Allah. Oleh karena itu, Sheikh Yusuf menganggap bahwa salah bagi seorang sufi yang telah mencapai puncak pengalaman spiritual, merasa fana 'fillah dan baqa' bihi, atau telah memasuki keberadaan Tuhan, kemudian dia mengatakan perasaannya dengan kata-kata shataháts, seperti: 'Ana-Allah (saya Allah),' Ana al-Haqq (Akulah Paling Benar), Subhani (Maha Suci aku), dll. Adapun konsep kebersamaan dan liputan Tuhan ini terhadap hamba-Nya kebanyakan tertuang dalam risalahnya “Zubdat al-Asrár and Sirr al-Asrár”, akan tetapi, pembahasannya mungkin terlalu panjang, jika kita harus mengambil dari kedua teks tsb. Oleh karena itu penulis hanya memilih satu teks saja, yakni “Zubdat al-Asrár. Kata Kunci: Syaikh Yusuf al-Maqassary, Pendampingan, Tuhan dan HambaNya, “Zubdat al-Asrár” Sheikh Yusuf al-Maqassary (1626-1699), was a prolific writer who has written a treatise of more than 38, as a guide for the Muslim community in particular for his followers. Although Sheikh Yusuf cling to the transcendence of God, he believes that Allah encompasses everything (al-aháthah) and there everywhere (al-maiyyah) over his creation. However, he was very careful to not bind himself with the doctrine of pantheism to say, although God manifests itself in His creation, it does not mean that his creation is God himself, all creation is only allegorical or metaphorical creature (al -maujúd al- majazi), not the actual form (al-existent haqiqi). Thus, according to Sheikh Yusuf, said the Lord in His creation does not mean the presence of God in themselves, but their knowledge is His nature includes his servants, and the circumstances which along with his servant, not a slave state together with God, because it is not possible, except for the servants who are in a state of dhikr (remembrance of Allah only) and do not remember any other form other than Allah. Therefore, Sheikh Yusuf considers that one for a Sufi who has reached the pinnacle of spiritual experience, feel mortal 'fillah and baqa' bihi, or has entered the existence of God, then he said his feelings with words shataháts, such as: 'Ana-God (my God), "Ana al-Haqq (I am the Most True), Subhani (Glory I), etc. The concept of togetherness and coverage of the Lord is against His servants mostly contained in his treatise "Zubdat Sirr al-Asrar al-Asrar and", however, the discussion may be too long, if we have to take from the second text page. Therefore, the authors only choose one text only, namely "Zubdat al-Asrar. Key words: Sheikh Yusuf al-Maqassary, the Accompaniment and Encompassing, God and His slaves, “Zubdat al-Asrár”
KONSTRUKSI MEDIA MASSA DALAM PENGEMBANGAN DAKWAH Nurul Syobah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.324

Abstract

Abstract; Keberadaan media massa sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Media massa mampu membentuk opini bahkan mengubah perilaku masyarakat. Seiring dengan itu, kehadiran media membawa nilai positif juga negatif. Sementara itu, aktivitas diarahkan membentuk perilaku yang baik bagi masyarakat sehingga media diharapkan juga dapat memberi kontribusi melalui pemberitaan dalam pengembangan dakwah dalam masyarakat. Kegiatan dakwah menjadi semarak dengan merambah dunia media massa yang terintegrasi. Dalam perkembanganya, media mampu melakukan rekonstruksi sosial dalam membentuk opini publik terhadap realitas di tengah-tengah masyarakat. Keberadaan media massa di tengah masyarakat sangat urgen bahkan mampu mempengaruhi pola pikir bahkan perilaku masyarakat. Ketika sebuah peristiwa dikonstruksi media menjadi tayangan bermuatan dakwah dan diakses publik yang meliputi umat Islam selaku mad’u, tentu konstruksi media atas teks atau tayangan dalam konstruk dakwah merupakan harapan bagi pengembangan dakwah melalui media massa yang diyaikini pengaruhnya signifikan. Media massa diyakini dapat memberi kesan khusus dan efek terhadap individu, kelompok atau lingkungan tertentu. Secara personal (individu) media massa dapat memberi pengaruh pada tiga level yaitu efek kognitif, afektif dan konasi. Media menyadari bahwa dakwah merupakan kebutuhan masyarakat termasuk informasi atau pemberitaan soal agama. Dalam konteks ini media mengemasnya dalam bentuk pemberitaan yang mengandung pesan-pesan keagamaan yang diangkat dari peristiwa keagamaan. Proses ini dilakukan dalam bentuk merekonstruksi peristiwa menjadi berita yang diakses publik. Kata Kunci: Konstruksi, Media, Pengembangan, Dakwah The existence of mass media is very influential on people's lives. The media was able to form an opinion even change people's behavior. Along with it, the presence of the media brought positive value is also negative. Meanwhile, activity directed to form good behavior for the community so that the media is also expected to contribute through da’wa in the news in the development of society. Proselytizing activities by venturing into the vibrant world of integrated media. In the expansion, is able to perform the reconstruction of social media in shaping public opinion against the reality in the midst of society. The existence of the mass media in society is very urgent even be able to influence people's behavior even mindset. When an event is constructed into impressions charged media of da’wa and accessible to the public which includes Muslims as mad'u, construction of the media over the text or impressions in the construct of hope for the development of da’wa is da’wa through mass media believed significant influence. The mass media is believed to give a special impression and effect on individuals, groups or particular environments. Personal (individual) mass media can make an impact at three levels, namely the effects of cognitive, affective and konasi. Media realized that the mission is a community needs including information or news about religion. In this context the media packaging in the form of reports that contain religious messages are removed from the religious events. This process is done in the form of reconstructing the events in the news are accessible to the public. Keywords: Construction, Media, Development, Da'wah
URGENSI KOMUNIKASI POLITIK DAKWAH Suharto Suharto
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i1.312

Abstract

Abstract; Komunikasi merupakan sebuah suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”. Komunikasi dakwah komunikasi berisi pesan-pesan dakwah/nilai-ajaran Islam. komunikasi apabila dikaitkan dengan komunikasi politik dan komunikasi dakwah, maka dapat ditarik sebuah benang merah bahwa sadar atau tidak, proses penyampaian materi dakwah oleh da’I atau komunikator kepada khalayak atau mad’u atau komunikan membutuhkan piranti lunak dan keras seperti strategi, taktik dan media dalam berdakwah. komunikasi politik dakwah, tidaklah terlalu berbeda dengan proses komunikasi politik pada umumnya. Bahwa semua muballiq atau da’i harus mampu merencakan desain rancang bangun aksi dakwahnya yang lebih terstruktur dan kongkret. Komunikasi persuasif adalah perilaku komunikasi yang bertujuan mengubah, memodifikasi atau membentuk respon (sikap atau perilaku) dari penerima. Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau mempengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Tujuan komunikasi persuasif identik dengan tujuan utama dakwah, yakni menanamkan believe (keyakinan) dan mengubah attitude (sikap/perilaku). Pada muaranya adalah terwujudnya tujuan utama dari komunikasi politik dakwah adalah “terwujudnya kebahagiaan didunia dan akhirat yang diridhoi Allah”. Kata Kunci; Komunikasi, Politik, Dakwah Communication is a process in which a person or persons, groups, organizations, and communities create and use information in order to connect with the environment and other people. Political communication is communication involving political messages and political actors, or related to power, government, and government policies. With this understanding, as an applied science, political communication is not new. Political communication can also be understood as communication between the "ruling" and "ruled". Communications provides communications da’wa message of da’wa / value-Islam. Communication when linked with political communication and da’wa communication, it can be a common thread that consciously or not, the process of delivering material of da’wa by preachers or the communicator to the public or mad'u or communicant requires software and hardware such as strategy, tactics and media in preaching. Da’wa of political communication, it is not too different from the process of political communication in general. That all muballiq or preachers should be able to plan your actions preaching engineering design more structured and concrete. Persuasive communication is communication that is aimed at changing behavior, modify or establish response (attitude or behavior) of the receiver. Persuasive communication is communication that aims to change or influence the beliefs, attitudes, and behavior so as to act in accordance with what is expected by the communicator. Persuasive communication purposes identical with the main purpose of propaganda, namely embed believe (faith) and change the attitude (attitude / behavior). In the estuary is the realization of the main goals of political communication propaganda is "the realization of happiness in the world and the hereafter blessed God". Keywords; Communication, Politics, Da’wa
KEPEMIMPINAN DAKWAH Mahmuddin Mahmuddin
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.347

Abstract

Abstract Dalam dunia modern, masalah administrasi makin mendapat posisi penting dalam pelaksanaan segala usaha, termasuk kehidupan organisasional. Pimpinan memainkan peranan yang sangat penting, bahkan dikatakan amat menentukan dalam usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Seorang pimpinan harus benar-benar mengetahui metode atau cara pengambilan keputusan serta teknik-teknik lainnya guna menghindari kesalahan yang fatal dan dapat merugikan dirinya dan organisasinya. Manusia sebagai pemimpin akan menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan memimpin manusia. Dalam konteks ini makna keadilan yang pertama adalah keadilan yang benar-benar menempatkan manusia pada harkat kemanusiaannya. Untuk menjalankan fungsi keadilan, seorang pemimpin dituntut memiliki sifat-sifat kepemimpinan penunjang lainnya seperti pengetahuan, kearifan, kesabaran, kesederhanaan dan sifat terpuji lainnya, sehingga pada dirinya memang terdapat suatu otoritas yang memungkinkan ia menjalankan kepemimpinann yang adil tersebut. Setiap pemimpin sekurang-kurangnya memiliki tiga ciri yaitu persepsi sosial, kemampuan berpikir abstrak dan keseimbangan emosional. Kepemimpinan dakwah merupakan suatu kemampuan khusus yang dimiliki oleh pelaksana dakwah untuk mempengaruhi perilaku orang lain sesuai yang diinginkan oleh pelaksana dakwah. Tugas seorang pemimpin dalam arti kepemimpinan dakwah betul-betul merupakan tugas yang sangat besar dan mulia, dan tugas ini tidak dapat dipikul oleh semua orang, karena selain tugasnya yang berat, juga tanggung jawab menggerakkan dan memengaruhi orang lain secara suka rela. Tanggung jawab dunia dan akhirat. Itulah salah satu masalah yang tidak semua orang mampu melakukannya. Keywords; Kepemimpinan, Dakwah In the modern world, more and more administrative problems got an important position in the implementation of all the efforts, including organizational life. Leadership plays a very important role, even said to be very decisive in the effort to achieve goals that have been set previously. A leader must really know the method or manner of decision making as well as other techniques in order to avoid a fatal error and can harm himself and his organization. Humans as a leader will perform the function of leadership to lead people. In this context the meaning of the first justice is justice really put a man on the dignity of humanity. To perform the function of justice, a leader is required to have leadership qualities and other supporting such knowledge, wisdom, patience, modesty and good character of the other, so that in itself is there an authority that allows it to run the fair kepemimpinann. Every leader has at least three characteristics, namely the social perception, the ability to think abstractly and emotional balance. Leadership propaganda is a special ability possessed by implementing propaganda to influence the behavior of others as desired by implementing propaganda. The task of a leader in the sense of propaganda leadership really is an enormous task and noble, and this task can not be borne by everyone, because in addition to the heavy duty, also the responsibility to mobilize and influence others voluntarily. Responsibilities of the world and the hereafter. That is one problem that not everyone is able to do so. Keywords; Leadership, Da’wa
QUR’ᾹNIC DᾹʻῙ (In Search of His Qualification) Iftitah Jafar
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.303

Abstract

Abstract; Makalah ini mencoba mencermati kualifikasi dai yang dicanangkan Al-Qur’an. Kualifikasi ini sangat penting dan menentukan kredibilitas seorang dai dalam menapaki tugasnya di tengah-tengah masyarakat. Sebagai komunikator, seorang dai memang seharusnya memenuhi standar atau kualifikasi tersendiri agar pelaksanaan dakwahnya dapat berhasil sebagaimana diharapkan. Al-Qur’an sebagai pedoman dakwah menyediakan berbagai kualifikasi yang selayaknya menjadi modal dasar bagi seorang dai. Al-Qur’an mensyaratkan misalnya bahwa seorang dai hendaknya dari kalangan kaumnya sendiri mengingat adanya kedekatan dan persamaan: bahasa, kultur dan kecenderungan. Terma-terma bi lughati qawmih, akhᾱhum dan minhum merefleksikan kedekatan tersebut. Konsep ini lebih diperkuat dengan penekanan kesamaan bahasa antara dai dan mad’unya. Di samping itu kualitas pesan sangat ditekankan Al-Qur’an yang antara lain tercermin dalam konsep berdakwah alᾱ bashῑrah yakni materi ceramah diperkuat dengan pembuktian-pembuktian, misalnya, hasil penelitian para ahli di laboratorium. Termasuk concern Al-Qur’an adalah kualitas pribadi seorang dai yang terrefleksi dalam kefasihan berbicara, posisinya sebagai teladan dan panutan dalam ilmu dan amal yang disimbolkan dengan konsep khayra ummah. Selain itu posisinya sebagai figur moderat baik dalam pandangan keagamaan maupun sikap dan prilakunya yang dilukiskan dengan konsep ummatan wasathan. Perpaduan aplikasi konsep-konsep tersebut dalam diri seorang dai akan menambah kredibilitasnya di mata masyarakat sebagai obyek dakwahnya. Sekaligus tentunya sebagai modal dasar kesuksesannya dalam mengemban dakwah di tengah-tengah masyarakat. Kata Kunci: Qur’an, Dᾱʻῑ, Kualifikasi This paper tries to examine the qualifications of dᾱʻῑ proclaimed by the Qur'an. It is really essential and determines the credibility of dᾱʻῑ in treading duties in the middle of society. As a communicator, a dᾱʻῑ is supposed to meet its own standards or qualifications in order to be successful implementation of his Dakwah as expected. Qur'an as guidelines provide a wide range of qualifications that should be the basis for a dᾱʻῑ. The Qur'an requires such that a preacher should be from among his own people in view of the proximities and similarities: language, culture and trends. The terms of bi lughati qawmih, akhᾱhum, and minhum reflect the closeness. This concept is reinforced by the suppression of common language between dᾱʻῑ and its mad'u . In addition, the quality of the message is emphasized from the Qur'an that is reflected in the concept of alᾱ bashῑrah which is the lecture material is reinforced with proofs, for example, research’s outcome from experts in the laboratory. Following to the Qur'an indicates the personal qualities of the dᾱʻῑ that is reflected in eloquence, his position as a role model, and science and charity symbolized by the concept of khayra ummah. Furthermore, his position as moderate figure either in a habit and attitude of religious that is depicted in ummatan wasathan concept.The combination of the application of these concepts of the dᾱʻῑ will contirbute to its credibility in the public as an object message. At the same time, it can be also a capital for its success in doing Dakwah in the middle of society. Key Words: Qur’an, dᾱʻῑ, qualification
MUHAMMAD ABDUH : KONSEP RASIONALISME DALAM ISLAM Nurlaelah Abbas
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.338

Abstract

Abstract; Muhammad Abduh seorang Pemikir Pembaru Islam yang sangat berpengaruh di dalam sejarah pemikiran Islam. Pemikirannya membawa dampak yang signifikan dalam berbagai tatanan kehidupan pemikiran masyarakat meliputi aspek penafsiran Al-Qur'an, pendidikan, social masyarakat, politik, peradaban dan sebagainya. Islam adalah agama yang terdiri dari beberapa aspek yang saling berhubungan, satu dengan yang lainnya. Yaitu Aqidah (Teologi), Syariah (Hukum Islam), dan Akhlak (tasawuf). Namun dalam hal ini, penulis memilih fokus pembahasan pada pemikiran dalam bidang akidah (teologi) dan hukum karena kedua ini sangat menentukan kehidupan seseorang dalam bertindak. Kepercayaan pada kekuatan akal, membawa Muhammad Abduh selanjutnya kepada faham yang mengatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam kemauan dan perbuatan. Dalam teologi dan falsafah terdapat dua konsep mengenai hal tersebut. Pertama, pendapat mengatakan bahwa semua perbuatan manusia telah ditentukan semenjak aza, sebelum ia lahir, dan faham ini dalam teologi Islam disebut jabariah. Dalam teologi Barat pendapat ini disebut fatalisme atau predestination. Kedua, bahwa manusia mempunyai kebebasan sungguh pun terbatas sesuai dengan keterbatasan manusia dalam kemauan dan perbuatan. Faham ini dalam Islam disebut qadariyah, dan dalam teologi Barat disebut free will and free act. Pemikiran Muhammad Abduh sangat berpengaruh dalam dunia Islam baik di Mesir maupun negara-negara Arab lainnya, sehingga muncul ulama-ulama modern seperti Mustafa al-Maraghi, Mustafah Abd Raziq, Tantawi Jauhari, Ali Abd al-Raziq dan Rasyid Ridha, pengarang-pengarang dalam bidang agama seperti Farid Wajdi, Ahmad Amin, Qasim Amin juga di Indonesia tidak sedikit gerakan pembaruan yang dicetuskan sepert Ahmad Surkati dan gerakan al-Irsyad, Ahmad Dahlan dan gerakan Muhammadiyah dll. Kata Kunci: Konsep, Rationalisme Muhammad Abduh an Islamic reformer thinker who is very influential in the history of Islamic thought. Their thinking is a significant impact on the livelihood of various aspects of people's minds include interpretation of the Qur'an, educational, social, society, politics, civilization and so on. Islam is a religion which consists of several interrelated aspects, one with the other. That Aqeedah (theology), Sharia (Islamic law), and Morals (Sufism). But in this case, the authors chose to focus the discussion on the thinking in the field of Aqeedah (theology) and the second law because it largely determines the life of someone in the act. The belief in the power of reason, bringing Muhammad Abduh next to the ideology that says that man has the freedom to will and deed. In theology and philosophy, there are two concepts about it. First, it argued that all human actions have been determined since aza, before he was born, and this ideology in Islamic theology called jabariah. In the opinion of Western theology is called fatalism or Predestination. Secondly, that man has the freedom really is limited in accordance with the limitations of the human will and deed. This ideology in Islam called Qadariyah, and in Western theology is called free will and free act. Thought Muhammad Abduh very influential in the Islamic world both in Egypt and other Arab countries, making it appear modern scholars such as Mustafa al-Maraghi, Abd Mustafah Raziq, Tantawi Jauhari, Ali Abd al-Raziq and Rashid Rida, authors in field of religion as Farid Wajdi, Ahmad Amin, Amin Qasim also in Indonesia is not the slightest movement triggered updates sepert Ahmad Surkati and movement al-Irshad Ahmad Dahlan and Muhammadiyah movement etc. Keywords: Concept, Rationalism