cover
Contact Name
Fauziah Astrid
Contact Email
fauziah.astrid@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtabligh@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Dakwah Tabligh
ISSN : 14127172     EISSN : 2549662X     DOI : -
Tabligh Journal is a scientific publication for research topics and studies on communication and da'wah. The form of publiation that we receive will be reviewed by reviewers who have a concentration in the field of Communication, specifically Da'wah and Communication.We publish this journal twice a year, in June and December. The Tabligh Journal first appeared in the printed version in 2011. This journal is managed by the Tabligh journal team under the Da'wah and Communication Faculty of Alauddin Islamic University in Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 318 Documents
WARTAWAN SEBAGAI DA’I Erwin Jusuf Thaib
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.345

Abstract

Abstract; Peradaban saat ini sering disebut sebagai peradaban informasi. Informasi telah menjadi komoditas bahkan sumber utama kekuasaan. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk membentuk opini publik yang mempengaruhi dan mengendalikan pikiran, sikap, dan perilaku manusia. Khotbah adalah pekerjaan yang disamakan dengan garam kehidupan manusia dengan nilai-nilai keimanan, Islam dan kesalehan, demi sekarang dan masa depan kebahagiaan. Namun, di sisi lain sebagian besar perubahan sosial mencerminkan dinamika masyarakat yang tidak lagi ingin memberikan terlalu besar peran agama karena realitas sosial-ekonomi sering kebutuhan untuk lebih dominan. Pandangan Al-Qur'an dan Hadis pada kebebasan pers cenderung diresmikan oleh sistem pers yang berlaku, serta semua teori lain tentang kebebasan pers, sehingga semua teori akan diserap ke dalam sistem. Sebenarnya sistem Pancasila tidak bertentangan dengan pandangan teologis tentang kebebasan pers dan pembatasan. Berarti, tanggung jawab untuk kebebasan pers atau kebebasan informasi, menurut Islam, tidak berbeda dengan apa yang ada dalam hukum pidana atau hukum pidana media komunikasi dan etika jurnalisme massa. Dari perspektif ini penulis melihat potensi dakwah di dunia jurnalistik. Tuntutan untuk berdiri di atas kebenaran dalam menjalankan tugas jurnalistik merupakan tuntutan Islam. Dari sini dapat dikatakan bahwa seorang wartawan yang jujur dan benar adalah penyampai kebenaran, dan karena itu dapat diklasifikasikan sebagai khatib. Kata Kunci: Jurnalis, Dai Civilization is now often referred to as civilization information. Information has become a commodity even the main source of power. Such information can be used as a tool to shape public opinion to influence and control the thoughts, attitudes, and human behavior. The sermon is equated with salt work of human life by the values of faith, Islam and piety, for the sake of present and future happiness. However, on the other hand most of the social changes reflect the dynamics of the community who no longer want to give too large a role religion because of the socio-economic realities often needs to be dominant. View of the Quran and Hadith on press freedom tends to be unveiled by the press system in force, as well as all other theories about the freedom of the press, so that all the theories will be absorbed into the system. Actually Pancasila system does not conflict with theological views about freedom of the press and restrictions. Means, the responsibility for the freedom of the press or freedom of information, according to Islam, is no different from what is in the criminal law or criminal law media mass communication and journalism ethics. From this perspective the authors look at the potential of propaganda in journalism. Demands to stand on the truth of the job as a journalist is a requirement of Islam. From this it can be said that an honest and true journalist is conveyer truth, and therefore can be classified as a preacher. Keywords: Journalists, Da’i
PEMIKIRAN DAKWAH NURCHOLISH MADJID Abdul Pirol
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.301

Abstract

Abstract; Tantangan yang dihadapi dakwah tidak hanya berupa pluralitas masyarakat Indonesia. Selain itu, juga tidak dapat menafikan tantangan lainnya yang berasal dari situasi dan keadaan lokal. Kedatangan Islam di Nusantara, tidak hanya memperlihatkan bagaimana Islam disebarkan, tetapi juga, bagaimana ia diterima, diadaptasi, dan berpengaruh pada pola-pola interaksi dalam masyarakat. Pemikiran dakwah Madjid pada aspek normatif atau tataran konseptual, mengacu pada istilah yang disebutnya sebagai “trilogi” dakwah, yaitu: al-da’wah ilâ al-khayr, amar ma’rûf dan nahy munkar. Selain itu, tampak pula dalam pandangan Madjid, berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar tidak hanya dimaknai sebagai suatu aktivitas verbal-konvensional melalui ceramah, tetapi juga menjangkau pemaknaan politis, sebagaimana ide-idenya mengenai oposisi loyal dan checks and balances. Selain kepada para cendekiawan, Madjid juga menekankan peran penting institusi keagamaan dan kemasyarakatan, termasuk organisasi kepemudaan dalam mengemban tugas dakwah dalam arti yang luas. Unsur lain yang selalu ada dalam proses dakwah adalah mâddah atau materi dakwah. Mâddah dakwah adalah isi pesan atau materi yang disampaikan da’i pada mad’û.  Materi dakwah pada dasarnya adalah seluruh ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang meliputi: aqidah, syari`ah dan akhlak. Dari perspektif pemikiran dakwah, Madjid memiliki konsepsi dan gagasan serta aktivitas di bidang dakwah. Dari segi materi dakwah atau pesan agama yang disampaikannya, Madjid meramu pesan keagamaannya dari tiga sendi utama pemikirannya, yaitu: keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan. Tipologi ini, juga dapat disebut sebagai dakwah “Madaniah” atau dakwah “Civil society”. Kata Kunci: Dakwah, Pluralitas The plurality of Indonesia citizens is one of big challenges for doing the Dakwah. The two of them are also a situation and local state. The arrival of Islam in archipelago shows on how Islam is not only diffused, but also accepted, adapted, dan gives a big influence over interaction patterns in citizens. The thought of Madjid Dakwah in normative aspect or conceptual refers from what is called as Dakwah “trilogi” which is al-da’wah ilâ al-khayr, amar ma’rûf, and nahy munkar. Further more, to do Dakwah and amar ma’ruf nahi mungkar in Madjid’s thought is not only seen as a verbal-communication activity through lecture, but also to reach the political meanings that can be seen from its thought of loyal opposition and checks and balances. Instead of all cendikiawan, Madjid higlights into the important role of religious institutions and citizens including of youth organization in doing their Dakwah in general. The other elements in Dakwah process is mâddah or Dakwah materials. Mâddah dakwah is a message or materials that is diffused by da’i in mad’û. The Dakwah materials are about all Islam’s lectures that are based on Al-Quran and Sunnah Rasul encompassing of Aqidah, Syari’ah, and Akhlak. From Madjid’s thought can be seen that he has a concept and notion of Dakwah. Madjid can summary three things from all his Dakwah materials or religious message that are Islamisme, Modernisme, and Indonesiaisme. This tipology can be also known as Dakwah “Madaniah” or Dakwah “Civil Society”. Keywords: Da’wa, Plurality
PENERAPAN MANAJEMEN MUTU TERPADU PADA LEMBAGA DAKWAH Saida Gani
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.336

Abstract

Abstract; Era informasi ataupun era globalisasi menuntut kapasitas manajemen organisasi melakukan tranformasi menuju perubahan manajemen untuk mengimplementasikan manajemen kontemporer yang disebut Total Quality Management (TQM). TQM adalah suatu pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh organisasi masa kini tak terkecuali lembaga dakwah untuk memperbaiki ouputnya, menekan biaya produksi serta meningkatkan produksinya. TQM mempunyai konotasi seluruh sistem seluruh proses, seluruh pegawai, termasuk pemakai produk dan jasa juga suplier. Total Quality berarti karakteristik yang memenuhi kebutuhan pemakai, sedang Management berarti proses komunikasi vertical dan horizontal, top-down dan buttom-up, guna mencapai mutu dan produktivitas. TQM di bidang organisasi dakwah/publik tentu membutuhkan penyesuaian. Karena permasalahan kualitas merupakan sesuatu yang kompleks maka perlu dilakukan pertahapan yang dapat memberikan ruang usaha untuk transisi menuju tercapainya kualitas. Melakukan integrasi satu sama lain dalam suatu organisasi, sehingga dapat memberikan dampak positif pada battom line perusahaan/organisasi. Melakukan upaya peningkatan kinerja secara terintegrasi dalam kebutuhan bisnis dan industri yang dirumuskan secara sistematik dalam suatu master improvement story bukan peningkatan secara acak (random performance improvement), parsial dan tak terintegrasi. TQM memerlukan keterampilan manajemen puncak dalam mengelola organisasi yang bekerjasama dengan senior manajer dalam menentukan kualitas dan produksi yang lebih baik agar dapat bersaing dengan organisasi lain. Sebagai tujuan akhir dan TQM adalah kesejahteraan organisasi dan seluruh karyawan. Kata Kunci: Implementasi, Manajemen, Kualitas Terpadu The information age or era of globalization requires management of the organization doing the transformation capacity for change management to implement contemporary management called Total Quality Management (TQM). TQM is an approach that should be done by the organization today is no exception da’wa agencies to improve the output, reduce production costs and increase production. TQM has the connotation of the whole system of the whole process, all employees, including consumer products and services are also suppliers. Total has the connotation of the whole system, ie the entire process, all employees, including users of products and services, as well as suppliers. Quality means the characteristics that meet the needs of users, while Management means the process of vertical and horizontal communication, top-down and bottom-up, in order to achieve quality and productivity. TQM in the field of da'wah organization / public course require adjustment. Because of quality problems are complex it is necessary to pertahapan that can provide business space for the transition to the achievement of quality. Integrate with each other in an organization, so it can have a positive impact on battom line company / organization. Make efforts to increase performance integrated in business and industry needs systematically formulated in an improvement master story not increase at random (random performance improvement), partial and not integrated. TQM requires top management skills in managing organizations that work with senior managers in determining the quality and better production in order to compete with other organizations. As a final goal and TQM are welfare organizations and employees. Keywords: Implementation, Management, Integrated Quality
DAKWAH DAN INDIVIDUALISME, MATERIALISME DAN HEDONISME Iskandar Iskandar
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i1.292

Abstract

Abstract;Individualisme, materialisme dan hedonisme adalah pola hidup yang cenderung mendominasi dalam kehidupan manusia modern. Berkembangnya pola hidup ini adalah pada awalnya di anggap sebagai jawaban atas persoalan manusia untuk kehidupan yang layak. Individualisme merupakan satu falsafah yang mempunyai pandangan moral, politik atau sosial yang menekankan kemerdekaan manusia serta kepentingan bertanggungjawab dan kebebasan sendiri. Individualisme juga mempunyai kaitan dengan munculnya kapitalisme yang mementingkan usaha individu dan imbalan berupa uang bagi mereka yang berkarya. Materialisme berarti, pandangan yang lebih mementingkan materi untuk mengantarkan hidup lebih bahagia. Sehingga materi adalah satu-satunya yang subtantif. Umat Islam menjadi semakin tidak mengenal komunitas sosialnya disebabkan terutama oleh pendewaan sains dan teknologi. Hedonisme berarti paham yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan yang paling utama dalam hidup. Pola hidup seperti ini berpandangan bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta fora adalah tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan bahwa hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup lebih banyak lagi. Peran dakwah sangat dibutuhkan dalam menangkal arus globalisasi yang cenderung menjangkiti sebagian masyarakat sehingga dakwah harus tetap dihidupkan oleh generasi Islam, karena hidup dan matinya Islam terletak terhadap eksistensi dakwah itu sendiri. Kata Kunci; Dakwah, Materialisme, Hedonisme Individualism, materialism and hedonism are a lifestyle that tends to dominate in modern human life. The development of this lifestyle is initially considered as the answer for human’s problems for a decent life. Individualism is a philosophy that has a moral view, political or social that emphasizes human freedom and responsibility and the freedom of his own interests. Individualism also has something to do with the advent of capitalism that emphasizes individual’s business and financial rewards for those who work. Materialism means, a view which is more concerned with the material to deliver a happier life, so that, the material is the only substantive one. Muslims do not become increasingly familiar with their social community caused mainly by the deification of science and technology. Hedonism means that the pleasure and enjoyment of the material are the ultimate goal in life. This view of life points out that the material is the main goal of life. For Hedonism people have fun, and party is the main purpose of life, whether it would be fun for others or not. It is because they think that life is only once, so they want to enjoy life more. The role of Da’wa is needed to counteract the globalization that tends to infect some people, so that Da’wa must be kept alive by generations of Islam because life and death of Islam is on the existence of Da’wa. Keywords; Da'wah, Materialism, Hedonism
KRITIK ILMIAH DALAM PERSPEKTIF ISLAM : Metode Dakwah Masyarakat Ilmiah Alwis Alwis
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i2.327

Abstract

Abstract; Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of Knowledge) atau Islamiyyat Al-Ma’rifat adalah sebuah gagasan yang timbul akibat adanya dikotomi dalam ilmu pengetahuan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan pada pusatnya yaitu dengan ‘tauhid’. Kritik adalah kecaman atau tanggapan yang kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, pemikiran dan sebagainya. Ilmiah berarti logis dan empiris. Kritik ilmiah ialah tanggapan seseorang atau pihak lain atas karya, pendapat atau pemikiran yang disertai dengan sanggahan yang masuk akal berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Kritik atas teori atau pemikiran dalam khazanah ilmu pengetahuan bukanlah hal yang baru. Tujuan dari kritik ini sendiri jelas, yaitu karena tesis yang dikemukakan dalam teori tersebut tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman, atau yang dalam terminologi pengetahuan dikatakan tidak terbukti lagi validitas dan realibilitasnya. Al-Qur`an mengajarkan agar manusia mencari kebenaran, karena kebenaran itu ada, dan kesalahan pun beserta orang-orang yang salahnya juga ada. Dalam beberapa ayat, Allah swt juga mengingatkan bahwa dalam hidup ini akan selalu ada dua pilihan; haqq dan bathil, benar (shawab) dan keliru (khatha`), sejati (shadiq) dan palsu (kadzib), baik (thayyib) dan busuk (khabits), bagus (hasanah) dan jelek (sayyi`ah), lurus (hidayah) dan tersesat (dlalalah). Semuanya itu mengajarkan nilai kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan mungkin untuk diraih. Kata Kunci: Kritik, Ilmiah, Metode, Masyarakat Islamization of Sciences (Islamization of Knowledge) or Islamiyyat Al-Ma'rifat is an idea arising from the dichotomy in science. One of the efforts is to restore science to its center is the 'monotheism'. Criticism is criticism or feedback that is sometimes accompanied by a description and good bad judgment against a work, opinions, thoughts and so on. Logical and empirical scientific means. Scientific criticism is the response of a person or any other party for work, opinions or ideas are accompanied by a disclaimer that makes sense based on the facts that can be justified. Critics of the theory or idea in the treasures of science is not new. The purpose of this criticism itself is clear, that is because the thesis put forward in the theory is no longer relevant to the times, or that is in terms of knowledge is said to be proven again and realibilitasnya validity. The Qur'an teaches that man's search for the truth, because the truth is there, and the fault was with those who hurt also. In some verses, Allah also warned that in this life there will always be two options; haqq and falsehood, right (sowab) and wrong (khatha`), true (Sadiq) and false (kadzib), good (thayyib) and foul (khabits), good (exploratory) and the ugly (sayyi`ah), straight (guidance ) and lost (dlalalah). Everything was taught the value of the human being that truth exists and possible to achieve. Keywords: Critics, Scientific, Methods, Society
DAKWAH, SENI DAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN Abd. Aziz Ahmad
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i1.315

Abstract

Abstract; Dakwah merupakan serangkaian aktivitas mensosialisasikan ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam dengan hikmah (wisdom) dan kebijaksanaan agar mereka mengerti, memahami dan melaksanakan pesan tersebut guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dakwah dengan lisan, dakwah seperti ini paling banyak dilakukan oleh umat Islam karena langsung berhadapan antara da’i dan mad’u . Dakwah dengan tulisan adalah dakwah yang dilakukan dengan perantaraan tulisan, seperti melalui buku-buku, majalah, surat kabar, buletin, risalah, kuliah-kuliah tertulis, pamflet, pengumuman tertulis, spanduk, baliho dan lain-lain. Dakwah melalui karya lukisan, metode seperti ini berupa gambar-gambar hasil senilukis, foto, grafis, digital image dan sebagainya. dakwah melalui audio visual. Metode audio visual adalah suatu cara penyampaian pesan yang sekaligus merangsang penglihatan dan pendengaran. Dengan Akhlak atau prilaku yang baik. Perilaku yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari dapat dijadikan media dakwah dan sebagai alat untuk mencegah orang dari berbuat kemungkaran, atau juga yang mendorong orang lain berbuat ma’ruf. Dakwah melalui budaya. Di Indonesia kita memiliki berbagai suku yang masing-masing mempunyai budaya yang berbeda antara satu suku dengan yang lainnya, misalnya Aceh dengan kebudayaan atau seninya. Seni lukis yang peduli terhadap etika dan moral Islam, dan diharapkan pada akhirnya akan menghasilkan kebudayaan yang islami karena semua itu dilakukan secara santun dan sesuai norma-norma agama Islam. Kata Kunci : Dakwah , Seni , Teknologi Pembelajaran Da’wa is a series of activities disseminating the teachings and values contained in Islam with wisdom and hikmah so that they know, understand and implement the message of life to achieve happiness in this world and hereafter. Da'wah with oral, propaganda like this most often committed by Muslims as the direct line of sight between preachers and mad'u. Da'wa with writing is da’wa carried out by means of writing, such as through books, magazines, newspapers, newsletters, treatise, written lectures, pamphlets, written announcements, banners, billboards and others. Da'wa through paintings, this method of pictures art painting results, photos, graphics, digital images, and so on. through da’wa of audio-visual . Audio-visual method is a way of delivering a message that while stimulating vision and hearing. With morality or good behavior. Behavior that is reflected in everyday life can be used as a medium of da’wa and as a means to prevent people from doing misguidence, or also encouraging others to do the good and. Da'wah through culture. In Indonesia we have a variety of tribes, each of which has a different culture from one tribe to another, for example Aceh with culture or art. Painting are concerned about the ethics and morals of Islam, and is expected in the end will result in an Islamic culture because it was all done politely and appropriate norms of Islam Keywords : Da’wa , Arts , Instructional Technology
URGENSI ETOS KERJA DALAM MENGELOLA LEMBAGA DAKWAH Nuzha Nuzha
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i2.350

Abstract

Abtsract; Ajaran Islam adalah konsepsi yang sempurna dan komprehensif, karena ia meliputi segala aspek kehidupan manusia, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Islam secara teologis, merupakan sistem nilai dan ajaran yang bersifat Ilahian dan transden. Sedangkan dari aspek sosiologis, Berkaitan dengan lembaga dakwah, stakeholder potensial dapat dilihat dari status ekonomi, kondisi demografi penduduk suatu wilayah, jenis aliran yang dianut oleh masyarakat Islam, dan lain-lain. Misalnya sebuah lembaga dakwah menawarkan layanan pendidikan yang menggunakan berbagai sarana canggih, dengan mubaligh dan mubalighah yang memiliki komptensi yang tinggi, maka untuk mengoperasionalkan seluruh kegiatan lembaga dakwah tersebut dibutuhkan dana yang besar sehingga lembaga dakwah menentukan stakeholder potensialnya adalah masyarakat Islam dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Demikian pula dengan penentuan stakeholder melalui sudut tinjauan yang lain. untuk mewujudkan suatu etos kerja yang berkualitas harus mengimplementasikan delapan (8) etos kerja yaitu: kerja adalah rahmat, bekerja tulus penuh syukur, kerja adalah amanah, bekerja benar penuh tanggung jawab, kerja adalah pangagilan, bekerja tuntas penuh integritas, kerja adalah aktualisasi dan bekerja keras penuh semangat. Jika delapan hal ini dilakukan oleh setiap orang maka akan terwujud suatu kehidupan yang sangat baik. Kedua, lembaga dakwah dalam melaksanakan aktivitasnya harus tetap eksis dan konsisten di tengah terpaan virus globalisasi dunia yang semakin memprihatinkan semua kalangan. Kata Kunci: Etos Kerja, Mengelola, Institusi The teachings of Islam is perfect and comprehensive conception, because it covers all aspects of human life, both temporal and hereafter. Islam theologically, is a system of values and teachings that are divinity and transden. While the sociological aspects, connection with the propaganda agencies, potential stakeholders can be seen from the economic status, demographic conditions of the population of an area, the type of flow that is embraced by the Islamic community, and others. For example, a propaganda agency offering educational services using a variety of sophisticated means, with preachers and mubalighah which has a high competency, then to operationalize the entire activities of the da’wa agency requires substantial funds so that the da’wa agencies determine potential stakeholders is an Islamic society with middle to upper-level economics . Similarly, the determination of the stakeholders through the corner from the other side. to create a quality work ethic must implement the eight (8) work ethic, namely: the work is mercy, work sincerely grateful, work is trustworthy, works really full responsibility, work is pangagilan, completing work with integrity, work is the actualization and work hard vigorously. If eight this is done by each person will realize a very good life. Second, da’waa agencies in carrying out their activities must exist and be consistent in the middle of the exposure to the virus which has become increasingly serious globalized world all circles. Keywords: Work ethic, Managing, Institutions
PERAN MUBALLIG DALAM PEMBINAAN REMAJA SUATU KAJIAN PSIKOLOGIS SOSIAL Adam Saleh
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.306

Abstract

Abstract; Kelompok yang harus tampil menyelamatkan para remaja adalah kelompok mubaligh. Para muballigh harus tampil untuk membina remaja Islam karena para mubalighlah yang harus bertanggungjawab terhadap persoalan umat, utamanya persoalan remaja Islam ini. Muballig biasa juga di sebut dengan da’i atau subyek dakwah atau pelaksana dakwah dengan tugas pokok adalah menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia baik yang sudah beriman maupun yang belum beriman. Keterpanggilan muballig untuk membina remaja adalah suatu keharusan sebab menurut Zakiah Daradjat pada akhir-akhir ini ada suatu kenyataan yang cukup mencemaskan di masyarakat, yaitu adanya keberanian disebagian remaja melakukan pelanggaran-pelanggaran susila baik wanita maupun pria. Bahkan diantara mereka ada yang berpendapat bahwa hubungan antar pria dan wanita tak perlu dibatasi dan tak usah dikontrol oleh orang tua. Biasanya kenakalan seperti ini disertai dengan tindakan-tindakan yang menganggu ketentraman masyarakat. Permasalahan yang dihadapi oleh para remaja seperti yang telah diungkapkan di atas, maka perlu pembinaan yang serius dari berbagai segi terutama dari segi mental keagamaannya. Dan sinilah dibutuhkan para muballigh untuk bisa membina para ramaja yang ada. Mengingat remaja merupakan generasi penerus cita-cita agama dan bangsa, maka diperlukan pembinaan yang serius, utamanya oleh para muballig. Muballig harus bertanggung jawab terhadap keselamatan remaja. Untuk itu kehadiran para muballig sangat penting untuk melakukan pembinaan terhadap remaja agar mereka selamat dari problem masa remajanya. Kata Kunci: Peran, Pembinaan, Remaja The group must perform to rescue teenagers is Mubaligh. The Mubaligh must go forward to erect Islam teengares because they are responsible for the issue of people particularly the issue of Islam teengares. Mubaligh usually also calls with a preacher (Da’i) or the subject of Dakwah or implementing of Dakwah with the fundamental duty is to convey the message of Islam to mankind either already has a faith or not. The present of Mubaligh to erect youth is a must because what Zakiah Daradjat said that there is an alarming lately in society that is some of youth have a courage to commit decency violence both women and men. They even talk that the relationship between man and woman does not need to limited and controlled by parents. This delinquency is usually accompanied by actions that disturb the public tranquility. The problem faced by teenagers as disclosed above, it is needed a serious approaching from various aspects, especially in terms of religious mental. In this case, Mubaligh should be on there to erect those youth. It takes place considering that youth are the next generation and religious ideal of the nation, so it requires a serious development, primarily by the Mubaligh. Mubaligh shall be responsible for the safety of teenagers. Accordingly, the Mubaligh’s presence is very important to provide guidance for teenagers in oreder to save them from adolescence problem. Keywords: Role, Guidance, Youth
JURNALISTIK DALAM KEMASAN DAKWAH Andries Kango
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 15 No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v15i1.341

Abstract

Abstract; Dakwah Islam dalam perkembangannya mengalami dinamika yang beragam, baik yang ditentukan oleh subyek dakwah (da'i) maupun realitas obyek (mad’u) Gerakan dakwah saat ini dan yang akan datang dihadapkan pada kondisi social yang berkembang sehingga secara otomatis menuntut pola pengembangan gerakan dakwah yang sistematis, baik secara teoritis maupun secara aplikatif. Dakwah bil qalam atau dakwah dengan menggunakan pena, dalam hal ini aktifitas tulis-menulis (jurnalistik). Dakwah bil qalam selayaknya membutuhkan keseriusan bagi para da'i jika dibandingkan dengan dakwah bil lisan. Alasan utamanya adalah untuk masa sekarang ini manusia cenderung memanfaatkan media (media massa) dalam mencari berbagai informasi yang dibutuhkan, disamping itu media tulisan dapat tersimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga bisa menjangkau obyek yang banyak. Berdakwah melalui media massa (koran, majalah, dll, atau disebut juga surat kabar) mempunyai cara dan karakteristik tersendiri, berbeda dengan berdakwah pada media lainnya, Surat kabar adalah salah satu komunikasi masyarakat pembaca yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembacanya. Oleh karena itu menulis pesan-pesan dakwah dalam sebuah koran maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu tulisan bemuansa dakwah itu akan dikonsumsikan kepada media apa, apakah media pers khusus Islam atau pers umum. Menulis dakwah untuk media pers khusus Islam memiliki teknik dan era yang sedikit berbeda dengan menulis di media pers UU. Kata Kunci: Jurnalistik, Kemasan Islamic da’wa in its development dynamics are diverse, which is determined by the subject of propaganda (preacher) and the reality of the object (mad'u) propaganda movement today and the future faced with growing social conditions that automatically demanding missionary movement patterns of development systematic, both theoretical and applicative. Da'wa bil Qalam or da’wa by using the pen, in this case the activity of writing (journalism). Da'wah bil Qalam should require the seriousness of the preachers when compared with oral propaganda bil. The main reason is to present these people tend to use the media (media) to find the information needed, in addition to the medium of writing can be stored in the long term so that it can reach a lot of objects. Preaching through the mass media (newspapers, magazines, etc., or also called the newspaper) has its own characteristic way and, in contrast to preach in other media, newspapers are one of the reading public communication enormous influence on readers. Therefore, write messages of propaganda in a newspaper there are several things to note are writing propaganda bemuansa it will be consumed on any media, whether the news media specifically Islamic or general press. Writing da’wa for the specialized press media techniques and Islam have a slightly different era by writing in the press law. Keywords: Journalism, Packaging
KONSEP DAKWAH MELALUI PROGRAM POSDAYA BERBASIS MASJID (Suatu Kajian Metode Dakwah bi al-Hāl) Hj. Muliaty Amin
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i1.297

Abstract

Abstract; Dakwah merupakan upaya mengajak atau menyeru manusia kepada kebaikan dan kebenaran serta mencegah dari kekejian, kemungkaran dan kebatilan untuk mencapai keselamatan, kemaslahatan, kebahagiaan dunia-akhirat. Dakwah bi al-hāl adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah (al-mad'ūlah) mengikuti jejak dan hal ikhwal si da'i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah. Posdaya sebagai singkatan dari Pos Pemberdayaan Keluarga, merupakan forum komunikasi, advokasi dan wadah kegiatan penguatan fungsi-fungsi keluarga secara terpadu. Dalam hal-hal tertentu bisa juga menjadi wadah pelayanan keluarga secara terpadu, yaitu pelayanan pengembangan keluarga secara berkelanjutan, dalam berbagai bidang, utamanya kesehatan, pendidikan dan wirausaha, agar keluarga bisa tumbuh mandiri. Dirumuskan pula kesimpulan bahwa dakwah bi al-hāl adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata yang langsung menyentuh kepada masyarakat dan hal ini menjadi konsep dakwah yang telah diimplementasikan Posdaya berbasis masjid. Di sini masjid merupakan sentra aktivitas keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang memiliki multifungsi dan sarana mengembangkan modal sosial tidak hanya lingkup ibadah dalam arti khusus tetapi juga aktivitas ibadah luas untuk peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat sebagai bentuk dakwah bi al-hāl. Secara realitas masjid-masjid selama ini memang kebanyakan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah secara ritual, maka dengan terimplementasinya kegiatan dakwah bi al-hāl melalui program Posdaya berbasis masjid, ke depan masjid dapat menjadi pusat kegiatan kemasyarakatan mulai kegiatan ibadah,kegiatan pendidikan, kegiatan wanita, kegiatan koperasi, kegiatan kesehatan, bahkan kegiatan jurnalistik sebagai media dahwah. Keywords:Posdaya, Dakwah bi al-hāl, Mesjid Da'wah is an effort to invite or call people for goodness and rightness and prevent atrocities, badness and falsehood to achieve safety, well-being, and happiness in the life and hereafter. Da'wah bi al-thing is a Dakwah that puts the real action. It gets for the Dakwah recipient of (al-mad'ūlah) follow the trail and matters of Da’i (preacher). It has a great influence on the recipient. Posdaya stands for Post-Family Empowerment is a forum of communication, advocacy, and strengthening activities of intagrated family functions. In certain cases it could also be a container in integrated family services which is family development services sustainably, in various fields, particularly health, education, and entrepreneurship, so that families can grow independently. Also formulated the conclusion that the mission bi al-thing is propaganda that puts the real action that directly touches to the community and this is a concept that has been implemented Posdaya Dakwah based mosques. It is concluded that the mission bi al-thing is Dakwah that puts the real action that directly touches to the community and this is a concept that has been implemented by Posdaya based on mosques. Mosque is the center of religious and social activities that are multifunctional and means of developing social capital is not only the scope of worship, but also a broad religious activities to improve the welfare of the family and society as a form of Dakwah bi al-thing. In reality, most mosques is only used as a place of worship in the ritual, then the implematation of Dakwah  bi al-hal through Posadaya program based on mosque will make mosque next to be the center of community activities started worship activities, educational activities, activities of women, cooperative activities, health activities, even as Dakwah media for journalistic activities. Keywords:Posdaya, Da’wah bi al-hāl, Mosque