Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah"
:
9 Documents
clear
SABAR DALAM PERSFEKTIF AL-QUR’AN
Andi Miswar
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Patient is the ability of some one to endure from difficulty of life and to control emotion for the shake of reaching a target. People are often confronted by collision or condition that bring them into insulation, dissapointment and stress. So that patient can become control of some one personally and socially. Patience does not mean surrender bacause it some time brings someone into fatalism. Patient is a word that covers a whole set of moral values that’s most infortant. In fact, patient is a key from some one to success. Qur’an also suggest to use patient as benefactor in facing all aspect of life’s temptation.
NIKAH DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN
Andi Syahraeni
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Al-nikah dengan segala turunan bentuk katanya. Allah Swt. juga menjelaskannya dengan kata al-zawaj. Setelah dilakukan penelusuran, baik kosa kata dengan segala derivasinya dapat dinyatakan bahwa keduanya bersinonim, yakni sama-sama menerangkan tentang perkawinan menurut syariat Islam. Hanya saja satu kelebihan kata al-zawaj adalah menunjukkan nama yang berkawin dengan “ الزوج“ yang berarti suami, dan “الزوحة“ yang berarti isteri. Kata al-nikah tidak mengungkapkan hal ini, karena yang kawin itu adalah sebuah pasangan. Perkawinan menurut al-Qur’an memiliki beberapa aspek substansial, yaitu syarat dan prosedur menikah. Nikah tak boleh dilakukan, kecuali sesuai dengan ketentuan Allah Swt. untuk menghalalkan hubungan seksual laki-laki dan perempuan guna memperoleh keturunan sebagai hakikat dan urgensi nikah.
ALIRAN STRUKTURAL FUNGSIONAL (Konsepsi Radcliffe-Brown)
Wahyuddin Wahyuddin
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Alfred Reginald Brown (1881-1955) ditokohkan sebagai pendiri aliran struktural fungsional. Antropolog kelahiran Inggris ini memperoleh pendidikan di Universitas Cambridge, di mana ia banyak dipengaruhi oleh Rivers. Radcliffe Brown melaksanakan penelitian lapangan di Pulau Andaman yang terletak di sebelah Barat Thailand tahun 1906-1908. Bobot tokoh ini ditandai dengan karirnya di berbagai negara, seperti Universitas Oxford, Australia, Afrika selatan, dan Amerika Serikat. Dia juga banyak melahirkan karya ilmiah, satu diantaranya ialah Structure and Function Primitive Society pada tahun 1952. Di samping tugas mengajar, meneliti dan mengembangkan teori, dia juga berpengaruh terhadap pemerintah mewujudkan semacam antropologi terapan. Konsepsi struktural fungsional Radcliffe Brown menekankan adanya asumsi dasar bahwa kebudayaan bukan pemuas kebutuhan individu, melainkan kebutuhan sosial kelompok. Dalam konteks ini, Brown berpendapat bahwa sistem budaya dapat dipandang memiliki kebutuhan sosial. Kebudayaan itu muncul karena ada kebutuhan tertentu, baik oleh lingkungan maupun pendukungnya. Tuntutan itu menyebabkan kebudayaan semakin tumbuh dan berfungsi
BANI ABBASIYAH ( Pembentukan, Perkembangan dan Kemajuan )
edianto edianto
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Proses terbentuknya dinasti Abbasiyah dilakukan melalui dua cara: Pertama yaitu dengan menyebarkan misi propaganda melalui jaringan rahasia, dan yang kedua yaitu dengan menghimpun kekuatan militer demi menghancurkan kekuatan Bani Umayyah Untuk memperoleh hasil maksimal, bani Abbas menyiapkan strategi yang cukup matang, mereka menebarkan propagandis untuk mendukung khilafah dari kerabat Nabi. Kemajuan-kemajuan dinasti Abbasiyah diperoleh seiring dengan membaiknya perekonomian yang mulai meningkat, terutama dari sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti emas, perak, tembaga dan besi. Kemajuan dalam sektor ini diikuti dengan perbaikan-perbaikan internal yang cukup bagus baik dalam sistem administrasi dan pemerintahan yang menunjukkan kematangan dalam berpikir.
PERMESTA MENGGUGAT (Telaah Atas Pemberlakuan Otonomi Daerah)
Surayah Rasyid
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Studi ini mendiskusikan tentang ‘permesta menggugat’ sebagai sebuah gerakan pemberlakuan otonomi daerah. Isu sentral yang menjadi persoalan dalam studi ini adalah permesta dan otonomi daerah serta inflikasinya terhadap integrasi politik Indonesia. Dengan menggunakan analisis konten dan pendekatan sejarah, diperoleh pemahaman bahwa latar belakang lahirnya permesta adalah ketidakpuasan atas kebijakan-kebijakan pemerintah pusat, terjadiny perpecahan dwi-tunggal Soekarno-Hatta, serta adanya kesan bahwa Jawa menjajah daerah luar jawa, demikian pula adanya pembangunan yang tidak merata. Bentuk gerakan permesta pada awalnya dalam bentuk tawaran konsep terhadap pemerintah pusat mengenai penyelenggaraan pemerintahan. Namun upaya ini tidak disikapi secara bijak, sehingga permesta mengambil sikap tidak kompromi. Tuntutan otonomi daerah dijadikan prioritas bagi permesta, karena otonomi daerah disamping sudah menjadi amanat UUD 1945, juga merupakan sistem pemerintahan yang cukup efektif dalam rangka pemberdayaan potensi daerah untuk pembangunan, dan kesejahteraan rakyat dapat terwujud.
ISLAM DI MYANMAR
Nasruddin nasruddin
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Masyarakat Muslim Di Myanmar pada dasarnya, merupakan Masyarakat yang telah berdiam diri lama di Myanmar khususnya Arakan, bahkan telah membangun sebuah kebudayaan dan peradaban disana, dan antara umat Muslim dan Budha tidak ada perpecahan yang menimbulkan kekerasan. Namun pada masa kolonialisme perpecahan etnis terjadi sebagai hasil dari politik adu domba yang kemudian memeras suatu daerah tertentu, sehingga kekerasan tidak dapat dibendung dan akibatnya hingga masa pasca kolonialisme. Hal itu pun mempengaruhi pada masalah sosial, politik, budaya, ekonomi dan pendidikan. Masalah politik masyarakat minoritas, Islam khususnya, tidak boleh ikut andil dalam masalah politik di Myanmar, sehingga suara mereka tidak pernah sampai di parlemen.
PERMESTA MENGGUGAT (Telaah Atas Pemberlakuan Otonomi Daerah)
Suraya Rasyid
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Studi ini mendiskusikan tentang ‘permesta menggugat’ sebagai sebuah gerakan pemberlakuan otonomi daerah. Isu sentral yang menjadi persoalan dalam studi ini adalah permesta dan otonomi daerah serta inflikasinya terhadap integrasi politik Indonesia. Dengan menggunakan analisis konten dan pendekatan sejarah, diperoleh pemahaman bahwa latar belakang lahirnya permesta adalah ketidakpuasan atas kebijakan-kebijakan pemerintah pusat, terjadiny perpecahan dwi-tunggal Soekarno-Hatta, serta adanya kesan bahwa Jawa menjajah daerah luar jawa, demikian pula adanya pembangunan yang tidak merata. Bentuk gerakan permesta pada awalnya dalam bentuk tawaran konsep terhadap pemerintah pusat mengenai penyelenggaraan pemerintahan. Namun upaya ini tidak disikapi secara bijak, sehingga permesta mengambil sikap tidak kompromi. Tuntutan otonomi daerah dijadikan prioritas bagi permesta, karena otonomi daerah disamping sudah menjadi amanat UUD 1945, juga merupakan sistem pemerintahan yang cukup efektif dalam rangka pemberdayaan potensi daerah untuk pembangunan, dan kesejahteraan rakyat dapat terwujud.
HUBUNGAN YAHUDI DAN ISLAM DALAM LINTASAN SEJARAH
Shagira Rukmini
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Yahudi sebagai bangsa sebutan bagi bangsa anak keturunan Nabi Ishaq (anak Nabi Ibrahim). Yahudi sebagai suatu agama, merupakan agama samawi yang disiarkan oleh Nabi Mūsa dengan berpedoman pada Taurat. Dalam sejarah perjalannya, kaum Yahudi berkembang pesat di Israel, sementara umat Islam berkembang di berbagai wilayah dan negara, bahkan dalam sejarahnya, Islam pernah mendominasi kekuasaan Barat, yang mampu menggiring dunia ke arah peradaban dan kebudayaan yang tinggi. Hubungan Islam dan Yahudi pada awalnya cukup terbuka, hal ini dibuktikan pada tatanan kehidupan masyarakat Madinah di bawah pemerintahan Nabi Muhammad saw. Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama karena Yahudi ingin mendominasi dengan menanamkan pengaruhnya kepada umat Islam, lalu mereka (Yahudi) gagal, dan sebagai konsekuensinya mereka diusir, maka orang-orang Yahudi memusuhi umat Islam dengan berbagai cara yang dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa mereka itu (Yahudi) sangat keras permusuhannya terhadap Islam.
KITAB-KITAB ‘ULUM AL-HADIS
Gustia Tahir
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 19 No 2 (2017): al Hikmah
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The scope of ‘ulum al-hadis generally consists of two: ilmu hadis riwayat and ilmu hadis dirayah. The development of ‘ulum al-hadis, which is its writing and collection, can be divided into seven phases or periods. Within each period, there are figures as pioneers marked by the existence of book collations. Those seven phases or periods are natal period, completion period, separately book keeping period, collation of main book period, maturation and completion period, coagulation and congealing period, and the second awakening period. The first Islamic scholar collating a book of ‘ulum al-hadis is al-Ramahhurmuzy. But, before he collated the book of al-Muhaddis al-Fasil bain al-Rawy wa al-Wa’iy, there has been a discussion of ‘ulum al-hadis. This discussion was still in the form of sheets collected from the results of Islamic scholars’ discussions; or in the form of partial branch of ‘ulum al-hadis.