cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 24 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012" : 24 Documents clear
Pengaruh Konsentrasi Oksigen dan Karbondioksida Dalam Kemasan Terhadap Daya Simpan Buah Mangga Gedong Amiarsi, Dwi
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pengembangan buah di Indonesia termasuk yang di prioritaskan, namun kesegaran buah tidak dapat bertahan lama. Untuk memperpanjang ketahanan simpannya perlu diberi perlakuan dengan konsentrasi oksigen dan karbondioksida dalam kemasan. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni sampai bulan November 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan suhu penyimpanan dengan komposisi gas O2 dan CO2 yang tepat dalam pengemasan agar dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang daya simpan buah mangga Gedong. Buah mangga dikemas dalam kantong plastik PE tebal 0,04 mm. Perlakuan komposisi gas yang dicoba terdiri dari 5,0% O2 + 5,0-5,8% CO2; 2,5% O2 + 5,0-5,8% CO2; 1,0% O2 + 5,0-5,8% CO2; Udara normal (21,0% O2 + 0,03% CO2), dan Udara terbuka serta suhu penyimpanan adalah 15oC dan 27-30oC. Penelitian disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dalam pola Faktorial dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan konsentrasi gas 5,0% O2 + 5,0-5,8% CO2 pada penyimpanan suhu 15oC setelah 21 hari penyimpanan memberikan mutu terbaik dengan kandungan Padatan Total Terlarut 11,56oBrix, pH 4,09, vitamin C 29,44 mg/100g, dan kadar air 87,20% serta persentase busuk buah 13,47%. Penerapan teknik hasil penelitian ini dapat menguntungkan pengguna karena waktu untuk distribusi diperpanjang.ABSTRACT. The effect of gas composition of oxygen and carbon dioxide in the packages on Gedong mango fruit self life. In Indonesia the development of fruit is priority. The self life of mango fruits is short. For prolonging the self life of mango fruits necessary to three gas compositions of oxygen and carbon dioxide treatment followed in the packages. The experiment was conducted from June to November 2007. The aim of the study was to determine both of the proper initial gas composition (CO2:O2) at the best storage temperature for conservation and extention of storage life. The mango fruits were packed in polyethylene bags (0.04 mm) and various initial compositions of O2 and CO2 with two levels of storage temperature. The gas compositions were 5,0% O2 + 5,0-5,8% CO2; 2,5% O2 + 5,0-5,8% CO2; 1,0% O2 + 5,0-5,8% CO2; Normal air (21,0% O2 + 0,03% CO2), and Untreated, and the storage temperature at 15oC and 27-30oC. This experiments was arranged in factorial and Completely Randomized Design with three replications. The results showed that either application of initial gas concentration were 5,0% O2 + 5,0-5,8% CO2 at 15oC after 21 day storage was able to maintain the best quality mango fruit days with total soluble solid 11,56oBrix, pH 4,09, ascorbic acid content of 29,44 mg/100g, moisture content 87,20%, rotten 13,47%. Applying this resulting technique will benefit to user due to lengthen of the distribution time.
Pendugaan Heterosis dan Heterobeltiosis pada Enam Genotipe Cabai Menggunakan Analisis Silang Dialel Penuh Arif, Abdulah Bin; Sujiprihati, Sri; Syukur, Muhamad
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Produktivitas cabai di Indonesia sampai saat ini masih rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas cabai yaitu melalui program pemuliaan tanaman. Terdapat beberapa rancangan persilangan untuk memilih tetua dalam rangka menghasilkan varietas unggul baru, di antaranya rancangan silang dialel. Tujuan penelitian ini ialah memperoleh informasi heterosis dan heterobeltiosis dari persilangan enam tetua cabai serta mendapatkan calon hibrida cabai yang unggul. Penelitian dilakukan pada November 2008-Mei 2009 di Kebun Percobaan Lwikopo IPB. Materi genetik yang digunakan ialah enam tetua cabai (IPB C2, IPB C9, IPB C10, IPB C14, IPB C15 dan IPB C20) serta turunan pertama dari persilangan enam tetua tersebut. Rancangan persilangan yang digunakan yaitu rancangan silang dialel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada populasi F1 hasil dari persilangan IPB C2 x IPB C10 dan IPB 10 x IPB C2 mempunyai nilai tinggi dikotomous yang relatif lebih tinggi dibandingkan hibrida lainnya. Pada populasi F1 hasil persilangan IPB C2 x IPB C14 dan IPB C14 x IPB C2 mempunyai bobot per buah yang relatif lebih tinggi dibandingkan hibrida lainnya. Nilai heterosis dan heterobeltiosis pada populasi F1 hasil dari persilangan IPB C2 x IPB C10, IPB C2 x IPB C14, IPB C2 x IPB C20, IPB C10 x IPB C2 dan IPB C14 x IPB C2 bernilai positif pada karakter tinggi dikotomous. Nilai heterosis dan heterobeltiosis pada populasi F1 hasil dari persilangan IPB C2 x IPB C14 dan IPB C14 x IPB C2 bernilai positif pada karakter bobot per buah. Calon hibrida yang sesuai dalam program pemuliaan cabai untuk pembentukan varietas unggul ialah populasi F1 hasil dari persilangan IPB C2 x IPB C14 dan IPB C14 x IPB C2.ABSTRACT Abdullah Bin Arif, S. Sujiprihati and M. Syukur. Estimated of Heterosis and Heterobeltiosis in Six Genotypes of Chilli Using Full Diallel Crosses Analysis. Until now productivity of chili in Indonesia is still low. One effort to increase productivity of chilli is by breeding program. There are several cross designs to choose inbred lines to produce new varieties superior, including the design of cross dialel. The aims of this research were to obtain information heterosis and heterobeltiosis from hybrid of six inbred line combination and to gain candidate of hybrids superior. The research was conducted in November 2008-May 2009 at the Garden Experiments Lwikopo IPB. Genetic material used are six inbred lines of chili (IPB C2, IPB C9, IPB C10, IPB C14, IPB C15 and IPB C20) and F1 of the hybridization of combination six inbred lines. The crossing design used was diallel cross. The results showed that population of F1 resulted from crossing of IPB C2 x IPB C10 and IPB 10 x IPB C2 had high dicotomous that was relatively higher than those of other hybrids. The population of F1 obtained from crossing IPB C2 x IPB C14 and IPB C14 x IPB C2 had weight per fruit that was relatively higher than those of other hybrids. Heterosis and heterobeltiosis values in F1 of IPB C2 x IPB C10, IPB C2 x IPB C14, IPB C2 x IPB C20, IPB C10 x IPB C2 and IPB C14 x IPB C2 were positive on high dicotomous character. Heterosis and heterobeltiosis values in F1 IPB C2 x IPB C14 and IPB C14 x IPB C2 were positive on weight per fruit character. The population of F1 that were appropriate used in breeding program to make superior variety were hybrids of IPB C2 x IPB C14 and IPB C14 x IPB C2.
Pengujian Ketahanan Klon-klon Hasil Silangan Tanaman Kentang Transgenik dengan Nontransgenik terhadap Penyakit Hawar Daun Phytophthora infestans di Lapangan Uji Terbatas Ambarwati, Alberta Dinar; Herman, Muhamad; Lisanto, Edi; Suryaningsih, Euis; Sofiari, Eri
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

STRAK. Tanaman kentang transgenik Katahdin event SP904 dan SP951 mengandung gen RB, yang diisolasi dari spesies liar kentang diploid Solanum bulbocastanum. Gen RB mempunyai ketahanan yang bersifat  durable dengan spektrum yang luas terhadap ras-ras Phytophthora  infestans di Amerika Serikat. Dalam perakitan tanaman kentang tahan penyakit hawar daun P. infestans di Indonesia, transgenik Katahdin dijadikan sebagai donor tahan dalam persilangan dengan varietas rentan Atlantik dan Granola. Klon-klon hasil silangan dianalisis secara molekuler mengandung gen RB. Penelitian dilakukan untuk menguji ketahanan klon-klon hasil silangan tanaman kentang transgenik dengan nontransgenik terhadap isolat P. infestans di lapangan uji terbatas (LUT) yang berlokasi di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang dari bulan Oktober 2009 sampai dengan Maret 2010. Klon-klon yang diuji ialah 12 klon hasil silangan Atlantik x transgenik Katahdin SP904 (A); 15 klon hasil silangan Atlantik x transgenik Katahdin SP951 (B); 17 klon hasil silangan Granola x transgenik Katahdin SP904 (C); dan 20 klon hasil silangan Granola x transgenik Katahdin SP951 (D). Atlantik dan Granola digunakan sebagai kontrol rentan, sedangkan transgenik Katahdin sebagai kontrol tahan. Pengamatan dimulai ketika muncul gejala awal, yaitu pada 26, 32, 39, 46, dan 53 hari setelah tanam. Ketahanan tanaman semakin menurun dengan bertambahnya periode pengamatan, diikuti meningkatnya intensitas penyakit dan AUDPC. Semua klon yang diuji menunjukkan keragaman dalam ketahanan fenotipik terhadap hawar daun P. infestans. Klon-klon hasil silangan Atlantik x transgenik Katahdin SP951 mempunyai nilai AUDPC 697, yang hampir sama dengan transgenik Katahdin SP904 yaitu 698,5. Klon-klon Granola x transgenik Katahdin SP951 mempunyai nilai AUDPC  687,5 lebih kecil dibandingkan transgenik Katahdin SP904. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa klon-klon tersebut mempunyai ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan transgenik Katahdin SP904. Pada pengamatan 46 hari setelah tanam atau 20 hari setelah infeksi diperoleh tiga klon tahan yaitu B49 (skor 7,5), C111 (skor 7,1), dan D26 (skor 7,3). Ketahanan ini lebih tinggi daripada transgenik Katahdin SP904 (skor 5,1) dan transgenik Katahdin SP951 (skor 6,4). ABSTRACT. Ambarwati, AD, Herman, M, Listanto, E, Suryaningsih, E and Sofiari, E 2012. Resistance Testing on Transgenic and Nontransgenic Potato Clones Against Late Blight Phytophthora  infestans in Confined Field Trial.  Transgenic potato Katahdin event SP904 and  SP951 containing RB gene, which were isolated from a wild diploid potato species, Solanum bulbocastanum. RB gene showed durable resistance with broad spectrum to all known races of  P. infestans in the USA. In development of  potato resistant to late blight P. infestans in Indonesia, Katahdin transgenic were used as a resistant donor and crossed with susceptible varieties i.e. Atlantic and Granola. Clones derived from the crossing were molecularly analyzed and had RB gene contain. Experiment was conducted to assess the resistance of the clones derived from crossing of Katahdin transgenic and nontransgenic to P. infestans in confined field trial (CFT), located at the Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang from October 2009 to March 2010. Several clones tested were 12 clones of Atlantic x Katahdin transgenic SP904 (A); 15 clones of Atlantic x Katahdin transgenic SP951 (B); 17 clones of Granola x Katahdin transgenic SP904 (C); and 20 clones of Granola x Katahdin transgenic SP951 (D). Atlantic and Granola were used as susceptible control whereas Katahdin transgenic as resistant control. Observation was started as late blight symptoms and detected at 26, 32, 39, 46, and 53 days after planting. Plant resistance decreases with increasing period of observation, followed by increasing disease intensity and AUDPC. All clones tested showed variation in phenotypic resistance to late blight P. infestans. Clones derived from crossing of Atlantic x Katahdin transgenic SP951 had AUDPC score 697 and almost similar to Katahdin transgenic SP904 (698.5). Clones derived from crossing of Granola x Katahdin transgenic SP951 had AUDPC score 687.5 and smaller than Katahdin transgenic SP904. The results also indicated that these clones had higher resistance than Katahdin transgenic SP904. Observation at 46 days after planting or 20 days after infection resulted three resistant clones i.e. B49 (score 7.5), C111 (score 7.1); and D26 (score 7.3).  This resistance was higher than Katahdin transgenic SP904 (score 5.1) and Katahdin transgenic SP951 (score 6.4).
Eksplorasi Isolat Lemah Chili Veinal Mottle Potyvirus pada Pertanaman Cabai di Jambi, Sumatera Barat, dan Jawa Barat -, asniwita; Hidayat, SH; Suastika, G; Sujiprihati, S; Susanto, S; Hayati, I
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Salah satu virus utama yang menginfeksi tanaman cabai ialah Chili veinal mottle potyvirus (ChiVMV) yang potensial menyebabkan kehilangan hasil. Strategi pengendalian virus melalui proteksi silang mengandalkan kemampuan virus strain lemah dalam melindungi tanaman dari infeksi virus strain kuat. Penelitian dilakukan untuk mengeksplorasi isolat lemah ChiVMV pada pertanaman cabai di Jambi, Sumatera Barat, dan Jawa Barat, sedangkan deteksi ChiVMV dilakukan di Laboratorium Virologi Tumbuhan dan penularan ke tanaman cabai di Rumah Kaca Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, dari bulan Februari sampai Juli 2011. Isolat-isolat ChiVMV dari tiap daerah berhasil ditularkan dan diperbanyak pada tanaman cabai rentan (Capsicum annuum L.) IPB C13 di rumah kaca. Berdasarkan gejala penyakit dan keparahan penyakit, isolat ChiVMV dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu isolat kuat (CKB), isolat sedang (CKW), dan isolat lemah (KAR, SPR, IVAK, SKT, LGM, SKR, CGN, CSR, dan PGL). Isolat-isolat lemah ChiVMV ini selanjutnya dapat digunakan sebagai kandidat agens proteksi silang dalam pengendalian penyakit belang yang disebabkan oleh ChiVMV.ABSTRACT. Asniwita,  Hidayat, SH, Suastika, G, Sujiprihati, S, Susanto, S, and Hayati, I 2012. Exploration of Weak Isolates of  Chili Veinal Mottle Potyvirus from Chili Peppers in Jambi, West Sumatera, and West Java. Chili veinal mottle potyvirus (ChiVMV) is known as an important virus infecting chili peppers and may cause significant yield loss.  Management strategy of virus diseases using cross protection relies on the ability of mild strain of virus to protect plant from infection by severe strain of the same virus. A research was initiated to employ cross protection approach for disease management to reduce the infection of ChiVMV.  Initial exploration was conducted at chili peppers growing areas in Jambi, West Sumatera, and West Java to collect ChiVMV field isolates, whereas ChiVMV detection was conducted at Plant Virology Laboratorium, and transmission to chili peppers in Greenhouse Plant Protection Department, Bogor Agricultural Institute from February to July 2011. ChiVMV isolates were successfully collected and propagated in susceptible chili peppers line (Capsicum annuum L.) IPB C13.  Based on percentage of symptom development, and disease severity of ChiVMV isolates can be differentiated into three groups, i.e. strong isolate (CKB), mild isolate (CKW), and weak isolates (KAR, SPR, IVAK, SKT, LGM, SKR, CGN, CSR, and PGL). Further characterization of promising ChiVMV weak isolates could use as an agent of cross protection candidates in controlling mottle disease caused by ChiVMV.
Trips (Thysanoptera: Thripidae) pada Bunga dan Buah Manggis Serta Hubungannya dengan Kejadian Burik -, Fardedi; Maryana, N; Manuwoto, S; Poerwanto, R
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Burik merupakan salah satu penyebab rendahnya mutu buah manggis di Indonesia. Saat ini informasi tentang kejadian burik pada buah manggis di Indonesia baik penyebab maupun pengelolaannya  masih sangat terbatas. Tujuan penelitian ialah untuk mempelajari burik buah, dinamika populasi trips, dan hubungan populasi trips dengan kejadian burik pada buah manggis. Penelitian tentang asosiasi serangga trips (Thysanoptera: Thripidae) dengan bunga dan buah serta hubungannya dengan kejadian burik pada buah manggis dilaksanakan di Desa Cengal, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dari bulan Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010. Pengamatan laboratorium dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga dan Laboratorium Anatomi Tumbuhan, Institut  Pertanian  Bogor.  Bagian tanaman yang diamati ialah daun muda, kuncup, bunga mekar sempurna, dan buah umur 1–16 minggu setelah antesis (MSA).  Hasil penelitian menunjukkan burik hanya merusak lapisan kutikula dan eksokarp buah manggis. Scirtothrips dorsalis dan Thrips hawaiiensis (Thysanoptera: Thripidae) ditemukan pada daun muda, kuncup, bunga, dan buah manggis. Populasi imago S. dorsalis dan T. hawaiiensis tertinggi ialah 1,15 dan 0,95 indiividu/bunga mekar sempurna, populasi larva tertinggi ditemui pada buah berumur 2 MSA yaitu 8,75 individu. Populasi trips semakin menurun dengan bertambahnya umur buah manggis. Gejala burik paling banyak  muncul pada buah umur 2 dan 3 MSA. Terdapat korelasi antara kepadatan populasi trips pada buah umur 2 dan 3 MSA dengan kejadian burik pada buah manggis. Kepadatan trips sebanyak 10,6 inidividu dapat menimbulkan gejala burik pada buah manggis umur 2 MSA. Karena populasi trips dan gejala burik muncul pada awal pertumbuhan buah, tindakan preventif dengan insektisida dapat dilakukan sebelum tanaman manggis memasuki periode berbunga.ABSTRACT. Fardedi, Maryana, N, Manuwoto, S and Poerwanto, R 2012. Thrips (Thysanoptera: Thripidae) in Flower and Fruit of Mangosteen (Garcinia mangostana L.) and the Correlation to Fruit Scars. Scars on mangosteen decreases the quality of this fruit economically. At the moment, information about management and causal factor of the scars on mangosteen in Indonesia are very limited. The aims of this research were to investigate the fruit scars, the population dynamic of thrips, and the correlation to the fruit scars. The association between thrips and mangosteen flowers and fruits as well as the correlation between thrips population to the fruit scars was investigated. The research was conducted at Cengal Village, Bogor District, West Java from May 2009 to August 2010. Laboratory investigation was carried out in Insect Biosystematics Laboratory and Plant Anatomy Laboratory, Bogor Agricultural University. Parts of plant observed were the shoot, flower bud, opened-flower, and fruit of 1 - 16 weeks after anthesis (WAA). The scars occurred in fruit cuticle and exocarp. There were two species of thrips, Scirtothrips dorsalis and Thrips hawaiiensis, that were found at flower bud, opened- flower, and fruit. The highest larva population of S. dorsalis  and T. hawaiiensis imago were 1.15 and 0.95 each flowers, the highest larva population was on 2 WAA fruits (8.75). The population of adults for both species was high in opened-flower. The population of larva was also high on fruit 2 WAA. The population of thrips decreased along with fruit growth. Scars occurred on fruit 2 and 3 WAA. There was a correlation between the abundance of thrips on fruit 2–3 WAA and scars at mangosteen fruits. Trips density 10.6 could cause scars on 2 WAA fruits. Thrips population and the symptoms of scars occurred on the early growth of fruits, therefore to control the trips using insecticide was suggested to be applied before flowering stage.
Kompatibilitas Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Trichoderma harzianum untuk Mengendalikan Ralstonia solanacearum pada Tanaman Kentang Marwoto, Budi; -, Hanudin; -, Hersanti; Muharam, Agus
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Dalam usaha budidaya kentang dijumpai berbagai kendala yang menekan produktivitas tanaman.  Salah satu kendala yang paling penting yaitu patogen tular-tanah yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum E. F. Smith. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa patogen ini dapat menimbulkan kehilangan hasil tanaman kentang  40–100%. Salah satu alternatif yang paling prospektif dalam mengendalikan R. solanacearum ialah dengan mengaplikasikan mikrob antagonis yang diisolasi dari alam. Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, dan Trichoderma harzianum merupakan mikrob antagonis yang mampu mengendalikan patogen yang terbawa tanah sampai 70% dan mampu meningkatkan produksi tanaman sampai 40%. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi kompatibilitas mikrob antagonis dan dapat mengendalikan R. solanacearum pada tanaman kentang.  Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dan Laboratorium Bakteriologi Balai Penelitian Tanaman Hias,  pada bulan Maret sampai dengan Desember  2009. Dari hasil penelitian ini diperoleh dua nomor isolat bakteri yaitu P. fluorescens yang diisolasi dari rizosfer krisan, Segunung (Pf2), B. subtilis berasal dari IPB (Bs 12), dan satu isolat T. harzianum berasal dari Universitas Gadjah Mada (Th 1) kompatibel pada media yang banyak mengandung protein (King’s B), tetapi tidak kompatibel pada media yang banyak mengandung karbohidrat (potato dextrose agar). Indikatornya ialah indeks kompatibilitas ≤1. Aplikasi B. subtilis secara tunggal merupakan perlakuan yang paling efektif mengendalikan R. solanacearum pada kentang. Hal tersebut ditunjukkan oleh persentase penekanan perlakuan tersebut paling besar (35,27%) bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya, kecuali perlakuan gabungan antara Bs 12, Pf 2, dan Th 1 yang sama-sama menunjukkan persentase penekanan sebesar 35,27%.ABSTRACT. Hanudin, Marwoto, B, Hersanti, and Muharam, A 2012. Compatibilities of Bacillus subtilis, Pseudomonas fluorescens, and Trichoderma harzianum to Control Ralstonia solanacearum on Potato.   Among the vegetable crops cultivated by farmers, potato is the most important one.  In cultivating the crop, farmers has faced many problems, the most important one is wilt disease caused by Ralstonia solanacearum E. F. Smith.   Based on the available data known that the disease reduces 40–100% of the total production.  One of the alternative methods control which was more environmentally friendly applied by the use of antagonistic microbes isolated from the soil.  Bacillus subtilis, P. fluorescens, and T. harzianum were abundance in the soil and easily be isolated from rhizosfer.  The bacteria are reported to be effective to control soilborn pathogens in the field.  Based on the preliminary research proven that the bacteria could reduce 70% of the total soilborn pathogens in the soil and increase crop production up to 40%.  The objective of  this study was to determine information of compatibilities between antagonistic microbe and bacterial wilt which had control on potato. The research  were conducted in Laboratory and  Greenhouse of the Padjadjaran University, Indonesian Vegetable Research Institute, and Indonesian Ornamental Crops Research Institute, on March to December 2009. The results showed that  isolates of P. fluorescens (Pf2), B. subtilis (Bs12),  and T. harzianum (Th1) were compatible on medium which containing protein (King’s B), but were not copmatible on medium containing carbohydrate (PDA). The indicator is compatibility index ≤1. Single application of B. subtilis  was  effective to  control  R. solanacearum on potato, suppression wilt biggest (35,27%), if compared with other treatments except combination between Bs 12, Pf 2, and Th 1 treatments was 35,27 % too. 
Penentuan Metode Terbaik Uji Fosfor untuk Tanaman Tomat pada Tanah Inceptisols Izhar, L; Susila, A D; Puswoko, B S; Sutandi, A; Mangku, I W
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK.  Fosfor merupakan salah satu hara penting tanah dan aplikasi hara tersebut pada konsentrasi yang sesuai sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tomat. Penelitian tentang studi analisis fosfor tanah dan aplikasi pupuk fosfor pada budidaya tomat pada tanah Inceptisols dilakukan di Kebun Percobaan dan Rumah Kaca di Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, dari bulan Maret sampai dengan November 2010. Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan  metode  ekstraksi  fosfor tanah yang terbaik guna menentukan dosis pupuk fosfor pada budidaya tomat  pada tanah Inceptisols. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan pemberian pupuk fosfor pada beberapa tingkat dosis yaitu  0X, ¼ X, ½ X, ¾ X, dan 1X, di mana nilai X ialah 368,5 kg/ha P2O5 dengan empat ulangan. Perlakuan pemupukan fosfor diterapkan pada 6 bulan sebelum penanaman tomat. Analisis korelasi dilakukan antara kandungan P tanah dan pertumbuhan tanaman yang ditanam di dalam rumah kaca menggunakan media inkubasi berasal dari tanah yang diberi perlakuan dan dianalisis. Uji  fosfor  tanah menggunakan lima metode ekstraksi, yaitu metode Bray I (NH4F 0,03 N + HCl 0,025 N, nisbah 1:7); Bray II (NH4F 0,03 N + HCl 0,10 N ); Mehlich I (HCl 0,05 N + H2SO4 0,025 N); Morgan Wolf (NaC2H2H3O2.3H2O; pH 4,8); dan Truogh [HCl 0,10 N + (NH4)2SO4; pH 3]. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara pengaruh perlakuan pupuk P terhadap parameter  tinggi tanaman,  jumlah daun, dan diameter batang tomat. Bobot segar biomassa dan bobot kering tomat juga menunjukkan  perbedaan pengaruh yang signifikan antarperlakuan. Nilai korelasi terbaik ditunjukkan oleh metode pengekstrak Mehlich I melalui parameter bobot kering dan bobot basah relatif tanaman. Dengan demikian, metode uji P tanah yang menggunakan Mehlich I dapat digunakan sebagai metode ekstraksi yang paling tepat untuk menganalisis unsur hara fosfor dengan koefisien korelasi 0,88, sehingga metode Mehlich I dapat diusulkan sebagai rekomendasi pemupukan P pada budidaya tomat pada tanah Inceptisols (nilai r = 0,89).  ABSTRACT. Izhar, L, Susila, AD, Purwoko, BS, Sutandi, A,  and  Mangku, IW. 2012. Determination of the Best Method of Soil P Test for Tomato (Lycopersicon esculentum Mill. L) on Inceptisols Soil. Phosphorus is one of important soil elements and application of the element in suitable concentration give high effect on tomato growth. A study on phosphorus analysis and its application for recommendation of soil fertilization of tomato cultivation on Inceptisols soil was conducted at the field and Greenhouse of Cikabayan, Bogor Agricultural University, from March to November 2010. The objective of this research was to obtain the best extraction method of soil-P test for determining phosphorus nutrient required for tomato cultivation on Inceptisol soil. Rate of phosphorus of 0X, ¼ X, ½ X, ¾ X, and 1X, where X was 368.5 kg/ha P2O5 with four replications, was applied in the study. The treatments were applied 6 months before planting date. The research was arranged in randomized complete block design. Analysis of correlation between soil-P and plant growth based on data collected from the plants grown in the greenhouse using incubation media in treated-soil was  analyzed. Soil-P test was carried out by using five extraction methods i.e. Bray I (HCl 0,025 N + NH4F 0.03), Bray II (NH4F 0.03 N + HCl 0.10 N), Mehlich I (HCl 0.05 N + H2SO4 0.025 N), Morgan Wolf (NaC2H2H3O2.3H2O; pH 4.8), and Truogh [HCl 0.10 N + (NH4)2SO4; pH 3]. The results showed that there were significant differences among the treatments of P fertilizer on the variables of plant height, leaf number, and stem diameter of tomato. Biomass fresh and dry weight of tomato also showed significantly different between the treatments applied. The highest correlation was shown on Mehlich I extraction reagent between plant dry and fresh weight. It means that, this P-nutrient extraction method was the most appropriate in determining phosphorus nutrient for tomatoes on Inceptisols soil with a coefficient correlation of 0.88. Mehlich I can also be used to develop a comprehensive phosphorus fertilizer recommendation for tomato cultivation on Inceptisols soil (r value = 0.89).
Hubungan antara Ketersediaan Hara Tanah dengan Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis Martias, -; Poerwanto, R; Anwar, S; Hidayati, R
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Cemaran getah kuning merupakan masalah utama yang menyebabkan rendahnya kualitas buah manggis untuk ekspor. Ketersediaan hara di dalam tanah diduga berpengaruh terhadap cemaran getah kuning. (Tambahkan informasi pada level konsentrasi hara Ca dan Mn yang bagaimana yang berpengaruh terhadap frekuensi/insidensi getah kuning pada manggis).  Penelitian hubungan antara ketersediaan hara tanah dengan cemaran getah kuning pada buah manggis dilakukan di Desa Karacak, Barengkok, Garogek, dan Pusaka Mulia (Jawa Barat),  Koto Lua, Baringin, Pakandangan, Padang Laweh, Lalan (Sumatera Barat), dan Sukarame (Lampung), dari bulan  Desember 2009 sampai Juli 2011 (Perlu ditambahkan informasi yang jelas perbedaan lokasi yang dipilih apakah merepresentasikan adanya perbedaan yang mencolok kasus cemaran getah kuning manggis, sehingga pembaca bisa membaca alasan penentuan lokasi tersebut, mengingat cemaran getah kuning menjadi factor penting penelitian ini). Lokasi penelitian di tingkat desa ditentukan dari hasil wawancara menggunakan teknik purposive sampling dengan pedagang pengumpul di tingkat kecamatan dan desa. Pada setiap lokasi dari 10 sentra produksi yang terpilih, ditentukan 10 tanaman yang representatif  untuk diamati, setiap tanaman diambil 100 buah sampel. Buah manggis yang diamati untuk seluruh lokasi mencapai 10.000 buah (1.000 buah untuk setiap lokasi). Sampel tanah diambil dari zona perakaran pada masing-masing pohon serta dianalisis sifat kimia dan ketersediaan hara tanahnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cemaran getah kuning pada buah manggis secara langsung dikendalikan oleh ketersediaan Ca dan Mn dalam tanah. Ketersediaan K, P, Mg, Cu, Zn, dan B dalam tanah secara tidak langsung berpengaruh terhadap cemaran getah kuning (Mekanismenya bagaimana? Perlu dijelaskan). Kalsium berperan mengeliminasi, sedangkan Mn menginduksi cemaran getah kuning pada aril (daging buah) maupun kulit buah manggis. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan untuk mengendalikan cemaran getah kuning pada buah manggis.ABSTRACT. Martias, Poerwanto, R,  Anwar, S, and Hidayati, R 2012. Relationship between Nutrient Availability of Soil with Yellow Sap Contamination on Mangosteen Fruits. Yellow sap contamination on mangosteen fruits is a major problem that causes poor quality on mangosteen fruits for export. Soil nutrients availability would  be expected influence directly and indirectly in eliminating or inducing yellow sap contamination. Research relationship between nutrients availability with yellow sap contamination on mangosteen fruits was  done in some mangosteen production center areas in the Village Karacak, Barengkok, Garogek, and Pusaka Mulia (West Java), Koto Lua, Baringin, Pakandangan, Padang Laweh, and Lalan (West Sumatera), and Sukarame (Lampung), from December 2009 to July 2011. Research sites at the village level were determined by interviewing traders at district and village levels using purposive sampling technique. At each location of 10 from center production that was selected, determined 10 plants representative to observe, each plant taken 100 fruits sample. Mangosteen fruits were observed for all sites reach 10 thousand pieces (1,000 pieces for each location). Soil samples were taken at the root zone of each tree and analyzed the chemical properties and soil nutrient availability. The results showed that the yellow sap contamination of mangosteen fruits was directly controlled by the availability of Ca and Mn  in the soil. The availability of K, P, Mg, Cu, Zn, and B in the soil indirectly affected yellow sap contamination. Calcium played to eliminate and Mn contributed to induces yellow sap contamination, either aryl and the skin of mangosteen fruits. The results of  this study can be used as the basis for the study contaminat control yellow sap of the  mangosteen fruits.
Hubungan antara Tingkat Konsentrasi Inokulum Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 dengan Perkembangan Penyakit Layu pada Kultivar Pisang Rentan Riska, -; Jumjumidang, -; Hermanto, Catur
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Peran konsentrasi inokulum awal patogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) terhadap insidensi penyakit layu pada pisang perlu diteliti, mengingat patogen ini persisten di dalam tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi inokulum Foc VCG 01213/16 dengan laju perkembangan penyakit layu pada pisang. Bahan yang digunakan ialah kultivar pisang rentan (Kilita). Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika pada bulan Mei sampai dengan September 2009. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, perlakuan terdiri atas lima taraf konsentrasi inokulum Foc yaitu 0; 102; 104; 106; dan 108 sel konidia/ml dengan lima ulangan, masing-masing plot berisi lima tanaman. Analisis regresi dan korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi inokulum dengan perkembangan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua taraf konsentrasi inokulum Foc VCG 01213/16 dapat menyebabkan 100% tanaman terserang. Perbedaan konsentrasi berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi, intensitas, dan perkembangan penyakit pada pisang Kilita. Makin tinggi konsentrasi inokulum, maka makin cepat masa inkubasi penyakit serta makin tinggi intensitas dan perkembangan penyakit. Terdapat korelasi positif antara konsentrasi inokulum dengan intensitas penyakit pada daun dan bonggol pisang dan korelasi negatif antara masa inkubasi dengan intensitas penyakit pada daun dan bonggol pisang. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat direkomendasikan bahwa pengendalian Foc harus diarahkan pada upaya penurunan konsentrasi inokulum awal di dalam tanah sampai pada tingkat serendah mungkin.ABSTRACT. Riska, Jumjunidang, and Hermanto, C 2012. Relation between Concentration Level of Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 and the Disease Development on Susceptible Banana. Initial inoculum of pathogen is the most important factor to be observed, due to persistent of F. oxysporum f.sp.cubense (Foc) in the soil. The research was aimed to ascertain the relation between concentration levels of Foc VCG 01213/16 and the disease development on susceptible banana. This research was conducted at the Indonesian Tropical Fruits Research Institute from May to September 2009. Kilita as banana variety wich susceptible to Foc was used in the study as plant material. The experiment was arranged in a randomized complete block design with five concentrations of inoculum i.e. 0; 102; 104; 106; and 108 conidia/ml and five replications. Regression analysis was performed to determine the relation between concentration levels of Foc VCG 01213/16 and the disease development on susceptible banana. The results showed that there was no significant difference observed among the concentration levels of Foc inoculums on the percentage of wilted plants.  All the concentrations caused 100% of Kilita bananas to be wilt. The inoculum concentrations of Foc VCG 01213/16 significantly affected incubation period, the disease intensity on leaves and corm and disease development on Kilita. The higher concentration of Foc inoculums, the shorter disease development and incubation period occurred, the higher levels of disease intensity observed. There was a positive correlation between the inocolum concentration and the disease intensity and a negative correlation between the incubation period and the disease intensity on banana leaves and corms of the banana. The result of study, it could be recommended that decreasing initial inoculums of Foc in the soil is important to be done to control the disease severity in the field.
Respons Tanaman Bawang Merah terhadap Pemupukan Fosfat pada Beberapa Tingkat Kesuburan Lahan (Status P-Tanah) Sumarni, N; Rosliani, R; Basuki, R S; Hilman, Yusdar
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pemupukan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan tanaman akan unsur hara dan kandungan hara dalam tanah, agar diperoleh hasil yang optimal. Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan dosis optimal pupuk P pada dua varietas bawang merah pada beberapa tingkat kesuburan tanah (status P-tanah). Penelitian dilakukan di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, dari bulan Mei sampai dengan Desember 2008. Rancangan percobaan yang digunakan ialah split-split plot design dengan tiga ulangan. Petak utama ialah varietas bawang merah, terdiri atas varietas Bangkok dan Kuning. Anak petak ialah kandungan/status P-tanah (Bray 1), terdiri atas rendah (<15 ppm P2O5), sedang (16–25 ppm P2O5), dan tinggi (>26 ppm P2O5). Anak-anak petak ialah dosis pupuk P (P2O5), terdiri atas 0, 60, 120, 180, dan 240 kg/ha. Pupuk N dan K diberikan sebagai pupuk dasar dengan dosis N 150 kg/ha dan K2O 150 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara varietas, status P-tanah, dan dosis pupuk P terhadap luas daun, bobot umbi segar, dan bobot umbi kering eskip per tanaman, serta serapan P tanaman bawang merah. Pada status P-tanah rendah dan sedang, dosis optimal pupuk P untuk varietas Bangkok dan Kuning masih belum diketahui, karena kurva respons hubungan antara dosis pupuk P dan hasil umbi kering eskip masih linier. Pada status P-tanah tinggi, hubungan antara dosis pupuk P dan hasil umbi kering eskip varietas Bangkok ataupun Kuning bersifat kuadratik. Hasil umbi kering eskip maksimal diperoleh dengan dosis pupuk P sebesar 126,50 kg/ha P2O5 untuk varietas Bangkok dan 0 kg/ha P2O5 untuk varietas Kuning. Makin tinggi dosis pupuk P yang diberikan, maka makin tinggi pula residu pupuk P terdeteksi dalam tanah. Implikasi hasil penelitian ialah kebutuhan  pupuk P yang optimal pada bawang merah berbeda bergantung pada status P-tanah dan varietas yang digunakan.ABSTRACT. Sumarni, N, Rosliani, R, Basuki, RS,  and Hilman, Y 2012. Response of Shallots Plant to Phosphat Fertilization on Several Soil Fertility Levels (Soil-P Status). To achieve an optimum yield, fertilization should be applied based on plant nutrient requirement and soil nutrient content. This experiment was carried out at Screenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute from May to December 2008, to find out the optimum dosage of P fertilizer for two shallots varieties on several soil fertility levels (soil-P status). A split-split plot design with three replications was set up for this experiment. Main plots were shallots varieties i.e.: Bangkok and Kuning. Subplots were three soil-P statuses i.e.: low (<15 ppm P2O5), medium (16–25 ppm P2O5), and high (>26 ppm P2O5). Sub-subplots were five levels of P fertilizer dosage of 0, 60, 120, 180, and 240 kg/ha P2O5. Nitrogen fertilizer of 150 kg/ha and K fertilizer (K2O) of 150 kg/ha were applied to all. The results showed that there were interaction effect among varieties, soil-P status, and P fertilizer dosages influencing leaf area, fresh, and dry weight of bulb yield, and P uptake by shallots plant. The optimal dosage of P fertilizer for Bangkok and Kuning varieties on low and medium of soil-P status was still unknown yet, since the relation response curve of relationship between P fertilizer dosages and dry bulb yield was still linear. Meanwhile, in high of soil-P status, the response curve was quadratic for both Bangkok and Kuning varieties. The maximum dry bulb yield was obtained by 126.50 kg/ha P2O5 for Bangkok and 0 kg/ha P2O5 for Kuning. The higher of P fertilizer dosage applied, the higher of residual of P fertilizer detected in soil. The optimum dosage of P fertilizer for shallots production was different depend on variety and soil-P status.

Page 1 of 3 | Total Record : 24


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue