cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Selektivitas Insektisida Sintetik dan Nabati terhadap Larva Helicoverpa armigera, Crocidolomia binotalis, dan Spodoptera litura, serta Imago Parasitoid Eriborus argenteopilosus Sastrosiswojo, S; Setiawati, W; Rubiati, T
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Parasitoid E. argenteopilosus Cam. adalah musuh alami penting hama H. armigera, C. binotalis, dan S. litura. Untuk melindungi parasitoid tersebut, dalam implementasi pengendalian hama terpadu pada tanaman tomat, kubis, dan cabai perlu digunakan insektisida selektif. Untuk memperoleh jenis insektisida yang selektif telah dilaksanakan pengujian laboratorium di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang sejak bulan Maret sampai dengan Nopember 2001. Penghitungan nilai LC50 lima jenis insektisida sintetik termasuk dua jenis insektisida mikroba dan lima jenis ekstrak kasar tanaman dilakukan dengan analisis probit. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh data dasar nilai LC50 awal 10 jenis insektisida yang diuji. Selain itu secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa jenis insektisida yang selektif terhadap hama H. armigera, C. binotalis, dan S. litura serta parasitoid E. argenteopilosus adalah B. thuringiensis var. aizawai, protiofos, ekstrak daun Lantana sp., dan ekstrak biji sirsak. Untuk memantapkan hasil percobaan diperlukan penelitian lebih lanjut di lapangan. Kata kunci : Insektisida selektif; Helicoverpa armigera; Crocidolomia binotalis; Spodoptera litura; Eriborus argenteopilosus; implementasi PHT. ABSTRACT. An Ichneumonid parasitoid, E. argenteopilosus Cam., is important as a natural enemy of H. armigera, C. binotalis and S. litura. The use of selective insecticides in the implementation of integrated pest management on tomato, cabbage, and hot pepper should be persued to protect the role of E. argenteopilosus. A laboratory study has been conducted at Indonesian Vegetables Research Institute, Lembang from March to November 2001 to obtain selective insecticides. LC50 values of five synthetic insecticides including two types of microbial insec- ticides and five crude extracts of plants were calculated using probit analysis. Based on the laboratory test has been obtained base line data of initial LC50 values of the ten tested insecticides. As a whole, it can be concluded that B. thuringiensis var. aizawai, prothiophos, crude extract of Lantana sp. leaves, and Annona sp. seeds were selective against H. armigera, C. binotalis, S. litura, and E. argenteopilosus. A field trial is still needed to confirm result of this study.
Penggunaan Tanaman Perangkap Tagetes erecta, Zea mays, dan Vi rus HaNPV untuk Mengendalikan Hama Helicoverpa armigera Hbn. pada Tanaman Tomat Setiawati, Wiwin; Uhan, Tini S.; Purwati, Ety; Sastrosiswojo, Soedarwo
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Helicoverpa armigera merupakan hama penting pada tanaman tomat. Kehilangan hasil yang diakibatkan dapatmencapai 52%. Penggunaan insektisida yang terus menerus mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan,pengurangan keanekaragaman fauna, dan resistensi H. armigera terhadap insektisida. Pengendalian cara teknis danpenggunaan musuh alami merupakan cara untuk mengendalikan hama H. armigera dan merupakan komponenpenting dalam konsepsi pengendalian hama terpadu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efikasitanaman perangkap Tagetes erecta, Zea mays, dan HaNPV terhadap serangan H. armigera pada tanaman tomat.Penelitian dilaksanakan di Rancaekek, Jawa Barat sejak bulan Juni sampai Sep tem ber 1999. Rancangan percobaanyang digunakan adalah Petak Terpisah, di mana varietas sebagai petak utama dan sistem tanam sebagai anak petak.Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas tomat LV-2471 relatif tahan terhadap serangan H. armigera.Penggunaan tanaman perangkap tagetes (T. erecta) dan jagung (Z. mays) dapat menekan serangan H. armigera.Sedangkan tanaman tomat yang ditumpangsarikan dengan tanaman perangkap tagetes dan diaplikasi dengan vi rusHaNPV, merupakan kombinasi yang efektif dan memberikan harapan yang baik untuk dikembangkan dalampengendalian organisme pengganggu tanaman pada tanaman tomat dan dapat menekan serangan H. armigera sebesar58,04 %.Kata kunci : Solanum lycopersicum; Tanaman perangkap; Tagetes erecta; Zea mays; Helicoverpa armigera; HaNPVAB STRACT. Setiawati, W., T.S. Uhan, E. Purwati, and S. Sastrosiswojo. 2002. The use of trap crops Tageteserecta, Zea mays, and HaNPV vi rus to con trol Helicoverpa armigera on to mato. The to ma toes crops is at tackedheavily by in sects and the most im por tant of which is H. armigera. This pest caused yield losses up to 52 %. Farm ersin creas ingly rely on syn thetic in sec ti cides to man age this pest. This has in creased the risk of en vi ron men tal con tam i na -tion, the loss of biodiversity, and con trib uted to the de vel op ment of in sec ti cides re sis tant H. armigera pop u la tions.Cul tural prac tices and the use of nat u ral en emy are con sid ered im por tant in the sup pres sion of pest pop u la tions in in te -grated pest man age ment programmes. The ob jec tive of this ex per i ment was to known the ef fi cacy of trap crops (T.erecta and Z. mays) and HaNPV to con trol of H. armigera on to mato. The ex per i ment was con ducted in Rancaekek,West Java from June to Sep tem ber 1999. Split Plot De sign was used with va ri ety as a main plot and plant ing sys tem asa sub plot. The re sults of this ex per i ment in di cated that LV-2471 to mato va ri ety was rel a tively re sis tant to H.armigera. The use of T. erecta and Z. mays as a trap crops on to mato can sup press pop u la tion of H. armigera .Intercropping sys tem of to mato and T. erecta with HaNPV ef fec tively re duced pop u la tion and fruit dam age due to H.armigera up to 58.04 % and the best choice as al ter na tive con trol to H. armigera.
Interaksi Tanaman pada Sistem Tumpangsari Tomat dan Cabai di Dataran Tinggi Suwandi, R; Rosliani, N; Setiawati, W
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mempelajari interaksi sinergis tanaman tomat dan cabai dalam sistem pertanaman tumpangsari di dataran tinggi. Kegiatan penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan lapangan, di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, mulai bulai Mei sampai dengan Desember 2000. Perlakuan percobaan terdiri atas delapan macam perlakuan tanam tumpangsari, termasuk pertanaman monokrop sebagai pembandingnya. Percobaan rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua ulangan, sedangkan di lapangan menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) interaksi sinergis tanaman terjadi pada tumpangsari tanaman tomat dan cabai terhadap komponen pertumbuhan tinggi (7 minggu), perkembangan luas daun, bobot kering tanaman pada fase pertumbuhan maksimum, serapan total NPK, dan komponen hasil buah tomat dan cabai (buah sehat dan rusak), (b) efek sinergis tanaman nyata terjadi searah dari tanaman cabai terhadap setiap parameter tanaman tomat, dan (c) sistem interaksi sinergis tanaman tumpangsari di dataran tinggi dipengaruhi cara pengelolaan tanaman  di lapangan. Selanjutnya pengaruh interaksi dua arah dari tanaman tumpangsari sayuran di dataran tinggi perlu diteliti lebih lanjut. Kata kunci: Lycopersicum esculentum;Capsicum annuum; Tumpangsari; Sinergisme; Interaksi; Tanaman sayuran. ABSTRACT. This research aimed to study the plants interaction of tomato and hot pepper intercropping system in highland. A series of experiment were conducted at screen house and experimental garden of Indonesian Vegetable Research Institute, starting from May to December 2000. Treatments consisted of eight kinds of intercropping systems including monocrop as control. A screen house experiment used a randomized complete design with two replications, while the randomized block design with three replications was applied in the field experiment.  The results showed that (a) the positive plant interaction occurred on tomato and hot pepper intercropping as shown at growth component of plant height (7 weeks),  leaf area, dry weight of crop at maximum growth stage, total uptake of NPK, and the yield components of tomato and hot pepper fruits (healthy fruit and damage fruit), (b) synergism affect of plants significantly occurred directly from hot pepper plant on tomato crop, and (c) the plant  interaction  system of  tomato and hot pepper intercropping in the highland were closely related to cropping management in field. Further study are needed to explore more information deeply in two ways interaction affects of cropping sytem on vegetables farming in the highland.
Studi Bedengan Kompos Permanen Untuk Budidaya Kentang di Pekarangan Sumiati, Etty; Hidayat, Achmad
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Studi Bedengan Kompos Permanen untuk Budidaya Kentang di Pekarangan.Kebutuhan pupuk buatan/kimia untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang, sebagian dapat disubstitusi melaluipemanfaatan bahan limbah organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengomposan dan efektivitas bedengan komposuntuk budidaya tanaman kentang di lahan kering. Penelitian dilakukan di dataran tinggi Samarang-Garut, Jawa Barat. Rancanganpercobaan digunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 6 ulangan. Perlakuan pada bedengan permanen terdiri atas 4 macam for -mula, yaitu menggunakan komposisi berbagai macam campuran limbah organik, serta pupuk kandang sapi sebagai kontrol. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa bedengan permanen yang digarit dan diisi limbah organik pupuk kandang sapi 20 tha-1 ditambah NPK(15-15-15) 40 kgha-1, memberikan pertumbuhan serta hasil dan kualitas umbi kentang kultivar Gra nola yang tertinggi. Selain itu,proses dekomposisi limbah organik pupuk kandang sapi, sangat cepat yang tercermin dari nilai C/N yang terendah setelah 1 bulanterjadi proses pengomposan.Kata kunci : Solanum tuberosum L., limbah organik, pengomposan, hasil umbi.Abstract. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Study on the permanent plot of organic waste materials for cultivation of potato onthe dry-land area. The application of several kinds of organic waste materials hopefully may support and substitute the need ofchemical fertilizers to increase the growth and yield of potato which sustainable and lower environmental pollution. Research activityhave been conducted in highland area of Samarang-Garut, West Java. A Randomized Block Design with six replication was set up inthe field. Treatments on the permanent plots comprised of mixture of several kinds of waste organic materials, including cattle manureas control. Research results revealed that the permanent plot with cattle manure of 20 tha-1 + NPK (15-15-15) 40 kgha-1, gave the bestgrowth and the highest yield of potato cultivar Granola. Moreover, the decomposition process of cattle manure was the faster whichwas identified by the lowest C/N value gained after one month of decomposition process took place.
Dinamika Populasi dan Pola Infestasi Liriomyza huidobrensis Blanchard pada Tanaman Kentang di Musim Kemarau dan Musim Hujan Setiawati, Wiwin; Somantri, Aang; Purwati, -
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Liriomyza huidobrensis merupakan hama baru pada tanaman kentang. Hama ini pertama kali dilaporkan menyerangtanaman kentang di Puncak, Jawa Barat pada tahun 1994 dan diduga telah resisten terhadap berbagai jenis insektisidaseperti organofosfat, karbamat, dan piretroid sintetik. Upaya pengendalian diarahkan pada pengendalian hamaterpadu yang penerapannya bergantung pada bioekologi serangga hama. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui dinamika L. huidobrensis dan musuh alaminya, serta pola infestasi pada tanaman kentang di musimkemarau dan musim hujan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang,sejak bulan Juni 1999 sampai dengan bulan Pebruari 2000. Rancangan percobaan yang digunakan adalah PetakBerpasangan, terdiri atas dua perlakuan dan diulang enam kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. huidobrensismulai menyerang tanaman kentang sejak umur tiga minggu setelah tanam (MST) dan mencapai puncaknya pada umurempat, enam, dan delapan MST. Keberadaan kompetitor sangat mempengaruhi fluktuasi populasi L. huidobrensis.Selain itu faktor lingkungan abiotik seperti suhu, kelembaban, dan angin juga mempengaruhi fluktuasi populasi L.huidobrensis. Keberadaan musuh alami H. varicornis tidak mampu menekan serangan L. huidobrensis. Penggunaaninsektisida bensultaf 50 WP cukup efektif untuk mengendalikan L. huidobrensis. Pada musim kemarau serangan L.huidobrensis lebih tinggi bila dibandingkan dengan musim hujan. L. huidobrensis lebih memilih daun bawah dantengah sebagai tempat peletakan telur.Kata kunci : Solanum tuberosum; Dinamika populasi; Pola infestasi; Liriomyza huidobrensis; Musim kemarau;Musim hujan.AB STRACT. Setiawati, W., A. Somantri, and Purwati. 2002. Pop u la tion dy namic and in fes ta tion pat tern ofLiriomyza huidobrensis on po tato in dry sea son and rainy sea son. The leafminer flies are newly re corded as a peston po tato in In do ne sia. It was firstly re ported to at tack po tato in Puncak, west Java in 1994 and its has be came re sis -tance to sev eral in sec ti cide such as organophospate, carbamat, and syn thetic pyrethroid. In te grated pest man age mentis the best way to con trol this pest and in for ma tion of bioecology of this pest is im por tant to sup port im ple men ta tion ofin te grated pest man age ment (IPM) tech nol ogy in the field. The ob jec tives of this ex per i ment were to know pop u la tiondy namic of L. huidobrensis and its nat u ral en e mies and in fes ta tion pat tern of this pest on po tato in dry and rainy sea -son. This ex per i ment was con ducted at Re search In sti tute for Veg e ta bles (Lembang, West Java) from June 1999 toFeb ru ary 2000. Comparation paired de sign was used in this ex per i ment with two treat ments and rep li cated six times.Re sults of this ex per i ment in di cated that L. huidobrensis in vaded and at tacked po tato plants start ing from the shootemer gence stage or at three weeks af ter plant ing. Pop u la tion of L. huidobrensis fluc tu ated dur ing the grow ing pe riodof plants, and there were three pop u la tion peaks oc curred at four, six, and eight weeks af ter plant ing. Com pet i tors andabiotic fac tors such as tem per a ture, hu mid ity, and wind were more in flu enced L. huidobrensis pop u la tion thanparasitoid ac tiv ity. Bensultaf 50 WP in sec ti cide was ef fec tive to con trol L. huidobrensis. Pop u la tion of L.huidobrensis was higher in dry sea son than in rainy sea son. The adult of L. huidobrensis pre ferred to feed and ovipositon leaves lo cated in the bot tom and mid dle part of po tato plants.
Pertumbuhan serta Hasil Umbi Bawang Bombai yang ditanam pada Waktu Berbeda-beda di Dataran Tinggi Sumiati, Etty
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bawang bombai (Allium cepa L.) merupakan sayuran eksotik, di mana umbi untuk konsumsi dan biji untuk benihmasih diimpor. Saat ini terdapat ratusan kultivar hari pendek asal polinasi terbuka dan hibrida, yang dapat tumbuh danberadaptasi di daerah tropika. Usaha pengembangan bawang bombai di In do ne sia perlu segera dimulai, denganmenyeleksi kultivar yang dapat beradaptasi dan waktu tanam yang sesuai. Penelitian dilakukan di dataran tinggiLembang (1.250 m dpl). Digunakan rancangan Split Plot in Time dengan tiga ulangan. Petak utama adalah waktutanam, yaitu tanam bulan Agustus dan Oktober. Anak petak adalah kultivar bawang bombai yang terdiri atas 14kultivar hari pendek asal polinasi terbuka introduksi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tidak terjadi interaksiantara waktu tanam dan kultivar terhadap variabel pertumbuhan tanaman dan hasil umbi bawang bombai. Interaksiterjadi terhadap variabel indeks panen dan waktu inisiasi umbi. Empat belas kultivar introduksi dapat beradaptasi dantumbuh baik di dataran tinggi Lembang, Jawa Barat. Bobot umbi to tal yang tertinggi dihasilkan oleh kultivar GladalanBrown asal Aus tra lia. Waktu tanam bawang bombai introduksi pada bulan Agustus lebih baik dari bulan Oktober.Kata kunci : Allium cepa; Seleksi kultivar; Waktu tanam; Hasil umbiAB STRACT. Sumiati, E. 2002. Growth and yield of on ion planted in dif fer ent time in high land. On ion (Alliumcepa L.) is an ex otic veg e ta ble. Both the bulb and the seed are still im ported. There are hun dreds of short-day on ioncultivars from open pol li nated and hy brid which can grow and do nice ad ap ta tion in trop i cal re gions. At tempt to de -velop and pro mote on ion in In do ne sia must be started, by do ing a cultivar se lec tion on in tro duced on ion cultivarswhich suit able un der high land en vi ron men tal con di tions at proper plant ing time. Re search ac tiv ity has been con -ducted in high land Lembang (1,250 m asl). A Split Plot in Time was set up in the field, with three rep li ca tions. Mainplot was plant ing time con sisted plant ing in Au gust and plant ing in Oc to ber. Sub plot was cultivar, com prised of four -teen in tro duced short-day open polinated on ion cultivars. Re search re sults re vealed that there were no in ter ac tion ef -fects be tween plant ing time and cultivars on vari ables of growth and yield of on ion mea sured. In ter ac tion have beenhap pened on vari ables of har vest in dex and on the time of bulbing on set. All the four teen in tro duced cultivars havegood adptation and grow nicely un der high land Lembang, West Java. The high est to tal of bulb yield was gained fromcultivar Gladalan Brown orig i nated from Aus tra lia. The plant ing time set up in Au gust was better than that of in Oc to -ber.
Uji Daya Gabung pada Persilangan beberapa Genotipe Pepaya (Carica pa paya L.) Indriani, Ni Luh Putu; H., Sri Kuntjiyati; Soebijanto, -
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui daya gabung pada persilangan beberapa genotipe pepaya dan mempelajari aksigen yang menentukan komponen hasil, daya hasil, dan kualitas buah dari genotipe-genotipe yang diuji. Lima genotipepepaya disilangkan berdasarkan rancangan Dialel Metode 4 menurut Griffing. Penelitian dilakukan di kebun petani didesa Banjarsari (± 2 m dpl), Probolinggo,Jawa Timur, mulai bulan Oktober 2000 sampai Sep tem ber 2001 denganmenggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari sepuluh hasilpersilangan. Analisis ragam untuk daya gabung umum berbeda nyata pada seluruh sifat, sedangkan daya gabungkhusus hanya berbeda nyata pada panjang buah, panjang tangkai buah, tebal daging buah, jumlah biji, dan berat buah.Genotipe 99-015 merupakan tetua penggabung yang baik untuk hasil dan kualitas, sedangkan genotipe 99-020merupakan tetua yang baik untuk hasil. Kombinasi persilangan yang terbaik tidak diperoleh dalam penelitian ini. Aksigen aditif terjadi pada panjang buah, di am e ter buah, jumlah buah, berat buah, dan hasil dengan tingkat dominansi tidaklengkap. Aksi gen dominan terjadi pada panjang tangkai buah, tebal daging buah, dan padatan terlarut to tal dengantingkat dominansi lebih, sedangkan jumlah biji tidak terjadi dominansi. Hasil penelitian bermanfaat bagi pemulia yangakan menggunakan genotipe-genotipe yang diuji ini sebagai bahan rakitan varietas unggul pepaya.Kata kunci : Carica pa paya; Daya gabung; Persilangan; GenotipeAB STRACT . Indriyani, NLP., S. Kuntjiyati H., and Soebijanto. 2002. Com bin ing abil ity of some pa paya ge no -types. The re search as sesses the com bin ing abil ity of the cross ing of five pa paya ge no types, and the gene ac tion thatde ter mines the com po nent of yield, and fruit qual ity of the ge no types ob served. Five ge no types were crossed us ingDialel Method 4 of Griffing. The ex per i ment was con ducted at farmer’s fields, Banjarsari, Probolinggo, from Oc to ber2000 to Sep tem ber 2001. A Ran dom ized Com plete Block De sign was used in this ex per i ment with three rep li ca tions.The treat ments con sisted of ten cross ings. The re sults showed that gen eral com bin ing abil ity ef fects were sig nif i cantfor all char ac ters ob served. Spe cific com bin ing abil ity ef fects were sig nif i cant for fruit length, length of fruit stalk,flesh thick ness, seed num ber, and fruit weight. The ge no type 99-015 was a good com bin ing par ent for yield andquality, while the ge no type of 99-020 was a good com bin ing par ent for yield. This re search in di cated no any bestcombining cross. The ad di tive gene ac tion occured on fruit length, fruit di am e ter, fruit num ber, fruit weight, and yieldwith in com plete dom i nance level. Dom i nant gene ac tion was ob served on the length of fruit stalk, flesh thick ness, to talsol u ble solid with over dom i nance level. There was no dom i nance on seed num ber. The re sults sug gest that breed erscan use these ge no types to con struct ma te rial of su pe rior va ri ety.
Penggunaan Pupuk TSP dan SP-36 pada tanaan Bawang Putih di Dataran Tinggi Hilman, Yusdar; Suwandi, -; Rosliani, Rini
Jurnal Hortikultura Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Efisiensi penggunaan pupuk fosfat pada bawang putih tergolong rendah. Salah satu alternatif untuk meningkakan efisiens penggunaan pupuk fofat adalah penggunaan pupuk SP-36 (Superfosfat 36). Penelitian ini dilaksanakan di lahan petani bawang putih di dataran tinggi iidey Kabupaten Bandung (1.400 d.p.l) dengantipe tanah andosol. Tujuan peneltian ini adalah untuk mendapatkan sumber da dosis fosfat yang paling efisien dan untuk mempelajari seberapa jauh pupuk SP-36 dapat mempertahankan hasil umbi serta perubahan ciri kimia tanah pada budidaya bawang putih. Perlakuan terdiri dari dua jenis pupuk fosfat yakni TSP dan SP-36 yang dikombinasikan dengan empat taraf dosis pemupukan fosfat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak kelompok dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pupuk SP-36 dan TSP pada berbagai dosis tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering, dan berat basah tanaman bawang putih dan tidak juga menigkatkan serapan nitrogen, fosfor, dan kalium total. Hasil umi total bawang putih tertinggi terjadi pada sumber fosfat yang berasal dari TSP dengan dosis 250 kg/ha, tetapi tidak berbeda nyata dengan pupuk fosfat yang berasal dari SP-36. Dengan demikian, pupuk fosfat yang berasal SP-36 dengan dosis 150 kg/ha merupakan penggunaan pupuk fosfat yang paling efisien. Peningkatan dosis TSP sedikit meningkatkan pH tanah, sebaiknya peningkatan dosis SP-36 cenderung memasamkan tanah. Makin tinggi dosis TSP dan SP-36 yang digunakan makin tinggi pula P ersedia di dalam tanah. Abstract.Utilization of triple superphniplaite (TSP). and superphosphate (SP)-36 fertilizers on garlic in highland of Ciwiday, The efficiency of using P fertilizer on garlic is low. One of the alternatives to increase the efficiency is by the utilization of SP-36 fertilizer,  Experiment was conducted at farmers field at Ciwidey, West Jawa. The altitude was 1400 m a.s.l. with Andosol suit type. The objectives of this research were to find out the most efficient rate of phosphate fertilizer and to study how far SP-36 fertilizer could increase bulb yield as well as the change of soil chemical properties in the cultural practises of garlic. The treatments  consisted of 4 dosage levels each of TSP and SP-36. Result of the experiment showed that SP-36 and TSP fertilizers al all rates tested did not influence plant height, leaf number, dry weight and fresh weight of garlic plant nor increase the total N, P, and K uptakes. The highest increase in total yield occured al the rate of 250 kg/ha TSP. However, the most rieiefficient was 150 kg/ha SP-36. Utilization of TSP slightly increased soil pH, but SP-36 tended to decrease soil pH. Soil P availability can he improved by increasing TSP and SP-36 dosage.
Penerapan Teknologi Pembibitan Salak Secara Cangkok Karsijadi, F; Purbiati, T; Mahfud, M C; Sudaryono, T; Soemarsono, S R
Jurnal Hortikultura Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Upaya menguji efisiensi penggunaan hormon untuk induksi akar dan penerapan teknologi perbanyakan bibit salak secara cangkok di sentra produksi salak Kabupaten Malang, Pasuruan. dan Karangasern (Bali) di Lakukan menggunak.an metode penelitian adaptif di kebun petani. Penelitian melibatkan kerja sama aktif antara peneliti dan petani, sejak persiapan pencangkokan hmgga panen bibit salak. Penelitian dilaksanakan dari bulan Aaustus 1995 hingga Maret 1996. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan rakitan teknologi pembibitan salak secara cangkok menggunakan limbah bawang merah takaran 75 g per cangkok untuk induksi akar dapat meningkatkan keberhasilan cangkok sebesar 10% dibandingkan menggunakan induksi akar IBA 1.000 ppm takaran 7,5 ml per cangkok. Pada saat harga bawang merah Rp.1.000 per kg dan harga IBA Rp.20.000,- per g, keuntungan dari penerapan teknologi dengan limbah bawang merah dapat menekan biaya bibit cangkok sebesar 28%. Setelah petani melihat cara pelaksanaan mencangkok tunas anakan salak dan kemudian melaksanakan pencangkokan sendiri, ternyata tingkat keberhasilan cangkok tidak berbeda dengan hasil yang dilaksanakan oleh peneliti, yakni mencapai 61% cangkok jadi.Tingkat keberhasilan cangkok yang dilakukan oleh petani yang pernah mencangkok lebih tinggi dari pada petani yang baru melihat atau mendengar cara mencangkok tunas anakan salak. Tingkat keberhasilan cangkok pada pohon salak umur 5-15 tahun lebih tinggi dari pada salak umur di atas 15 tahun. Luas pemilikan kebun salak berpengaruh terhadap keberhasilan cangkok, tetapi tingkat pendidikan dan umur petani salak serta jumlah cangkokan per pohon tidak berpengaruh.ABSTRACT, The appihration of technology un marcotting propagation of salacea. Adaptive research, on saIacca propagation technique was done at fbrroers field to evaluate the clic iency of the use of root induction, ;Intl to In odtree salacea prupaga:ion using marcotting rnethed to farmers rn the saIacca production center rn Malang. Pasuruan. and Karangasem The research involved an active participation of farmers in all setIvi ties, from the preparation to the harvest of marrow ng, from August 1995 to March 199h The results showed that the use of discarded thallut ut 758 11 each marcotting increased the success of ma:coning by 10% compared to the use of 100 ppm iBA at 7.5 rril, while the pnce or discarded shallot was Et.p. 1030.-/kg and IBA was Rp. 20.000.-4. therefore the use of discarded shallot reduced the marcotting cosi by 28%. Farmers adopted the technology readily, as indicated by SI% of successful rnarcor,tmg which was not much different to th,e results obtained by reseurchers The rale orsuuess of farmers who had experienced in marcotting practice was higher than those who unexperienced. The rate of success in rmrcotting of 5 to L3 years old plants was higher then those of more than 15 years. Size Of land ownership had a significant influence to the success of manning, while the number of marmot sucker per plant, the education and the age of :tuners had no Influence on the marcotting success.   
Pertumbuhan dan Hasil Umbi Kentang Kultivar Granola dengan Aplikasi Mepiquat Klorida di Dataran Medium Maja, Jawa Barat Sumiati, Etty
Jurnal Hortikultura Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi dan jumlah aplikasi optimum xat pengatur tumbuh (ZPT) mepiquat klorida untuk memaksimalkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang kultivar Granola yang ditanam di dataran medium Maja, Jawa Barat. Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan telah digunakan. Pemberian mepiquat klorida terdiri atas empat taraf konsentrasi, yaitu 4,6,8 ml/l diaplikasikan satu kali pada umur 42 hari setelah tanam dan yang diaplikasikan dua kali masing-masing setengah konsentrasi pada umur 35 dan 42 hari setelah tanam bibit umbi kentang dan kontrol, sehingga jumlah perlakuan ada sembilan. Hasil penelitian mengungkapkan tidak terjadi gejala fitotoksisitas klorosis, dan gejala abnormal lainnya pada tanaman kentang kultivar Granola yang disemprot laturan meiquat klorida tersebut, mepiquat  klorida konsentrasi 4 sampai 16 m/l yang diberikan satu atau dua kali mereduksi luas daun 17% sampai 37%, meningkatkan bobot umbi segar total sebesar 14% sampai 25%. Hasil bobot umbi tertinggi diperoleh dari pemberian mepiquat klorida konsentrasi 6 ml/l satu kali aplikasi pada 42 hst. Penerapan teknologi yang dihasilkan dapat menguntungkan melalui peingkatan hasil umbi kentang kultivar Granola sekitar 25% yang ditanam di dataran medium dengan pemberian ZPT yang tepat. Abstract. Research has been carried out to find out the optimal concentration and optimal number of application of plant growth regulator mepiquat cloride and to maximize both the growth and yield of potato cv. Granola at Maja medium elevation (560 m above sea level). A Randomized Block Design wit three replications was set up in the field.Treatments consisted of four levels of mepiquat chloride concentrations, viz.4,6,8, 16 ml/l which were applied once at 42 days after planting nd twice in a half dosage at 35 and 42 days after plantng, respectively, and control. Research results revealed that there was no phytotoxicity symptom, no chlorosis, and abnormality on potatoplants cv. Granola treated with mepiquat cloride at concentration of 4 to16 ml/l for both at once and at twice have reduced leaf area by 17-37%, increased total fresh weight of potato tuber by 14% to 25%; however, the highest yield of potato tuber was gained from plants treated with mepiquat chloride 6 ml/l applied at 42 days after planting. The users may get benefit trough improvement of potato yield cv Granola around 255 which is cultivated in medium elevation with proper dosage and frequency of growth regulator application.    

Page 45 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue