cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Penerapan Teknologi Pembibitan Salak Secara Cangkok Karsijadi, F; Purbiati, T; Mahfud, M C; Sudaryono, T; Soemarsono, S R
Jurnal Hortikultura Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Upaya menguji efisiensi penggunaan hormon untuk induksi akar dan penerapan teknologi perbanyakan bibit salak secara cangkok di sentra produksi salak Kabupaten Malang, Pasuruan. dan Karangasern (Bali) di Lakukan menggunak.an metode penelitian adaptif di kebun petani. Penelitian melibatkan kerja sama aktif antara peneliti dan petani, sejak persiapan pencangkokan hmgga panen bibit salak. Penelitian dilaksanakan dari bulan Aaustus 1995 hingga Maret 1996. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan rakitan teknologi pembibitan salak secara cangkok menggunakan limbah bawang merah takaran 75 g per cangkok untuk induksi akar dapat meningkatkan keberhasilan cangkok sebesar 10% dibandingkan menggunakan induksi akar IBA 1.000 ppm takaran 7,5 ml per cangkok. Pada saat harga bawang merah Rp.1.000 per kg dan harga IBA Rp.20.000,- per g, keuntungan dari penerapan teknologi dengan limbah bawang merah dapat menekan biaya bibit cangkok sebesar 28%. Setelah petani melihat cara pelaksanaan mencangkok tunas anakan salak dan kemudian melaksanakan pencangkokan sendiri, ternyata tingkat keberhasilan cangkok tidak berbeda dengan hasil yang dilaksanakan oleh peneliti, yakni mencapai 61% cangkok jadi.Tingkat keberhasilan cangkok yang dilakukan oleh petani yang pernah mencangkok lebih tinggi dari pada petani yang baru melihat atau mendengar cara mencangkok tunas anakan salak. Tingkat keberhasilan cangkok pada pohon salak umur 5-15 tahun lebih tinggi dari pada salak umur di atas 15 tahun. Luas pemilikan kebun salak berpengaruh terhadap keberhasilan cangkok, tetapi tingkat pendidikan dan umur petani salak serta jumlah cangkokan per pohon tidak berpengaruh.ABSTRACT, The application of technology on marcotting propagation of salacea. Adaptive research, on salacca propagation technique was done at farmers field to evaluate the efficiency of the use of root induction, and to introduction salacca propagation using marcotting method to farmers in the salacca production center in Malang. Pasuruan. and Karangasem The research involved an active participation of farmers in all activities, from the preparation to the harvest of marcotting, from August 1995 to March 1996 The results showed that the use of discarded shallot at 75g in each marcotting increased the success of marcotting by 10% compared to the use of 100 ppm IBA at 7.5 ml, while the price or discarded shallot was Rp. 1000.-/kg and IBA was Rp. 20.000.-/g. therefore the use of discarded shallot reduced the marcotting cost by 28%. Farmers adopted the technology readily, as indicated by 61% of successful marcotting which was not much different to the results obtained by researchers The rate of succes of farmers who had experienced in marcotting practice was higher than those who unexperienced. The rate of success in marcotting of 5 to 15 years old plants was higher then those of more than 15 years. Size Of land ownership had a significant influence to the success of marcotting, while the number of marcotted sucker per plant, the education and the age of farmers had no Influence on the marcotting success.   
Persilangan dan Seleksi untuk Mendapatkan Varietas Unggul Baru Mawar Potong Berwarna Merah Darliah Darliah; D Kuriasih; W Handayati
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Persilangan mawar dan selekasi tanaman F1 dilaksanakan di KP Cipanas, Balai Penelitian TanamanHias, dengan ketinggian tempat 1.100 m dpl. pada tahun 2000. Selanjutnya klon-klon terpilih diuji melalui penelitianpemuliaan partisipatif di Kebun PT Inggu Laut (Malang, Jawa Timur) dan Kebun PT Sekar Asri (Lembang, JawaBarat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon No. 41 (C.00.421-01) mempunyai keunikan dalam warna bunga,yaitu merah cerah (red purple group 57A). Selain itu, klon No. 41 memiliki tangkai yang panjang yang termasukkelas super, batang atau tangkai yang tegak dengan diameter kuncup dan diameter bunga mekar besar, serta jumlahpetal yang lebih banyak dibandingkan dengan varietas Putri sebagai varietas pembanding.ABSTRACT. Darliah, D. Kurniasih, and W. Handayati. 2010. Crossing and Selection Obtain A SuperiorVarieties of Red Cut Rose. Crossing of rose and F1 plants selection were carried out at Cipanas Research Station,Indonesian Ornamental Crops Research Institute, at 1,100 m asl. on year 2000. Clones selected was observed throughparticipatory breeding with PT Inggu Laut (Batu, East Java) and PT Sekar Asri (Lembang, West Java). The resultsshowed that clone No. 41 has unique bright red color (red purple group 57 A),with long and straight stem (fulfilledthe requirement for premium class), big flower bud and flower diameter, with petal number more than Putri as thecontrol variety.
Pembungaan Jeruk Kalamondin Hasil Perbanyakan Melalui Somatik Embriogenesis yang Disambung pada Batang Bawah JC Nirmala Friyanti Devy; Hardiyanto Hardiyanto; Farida Yulianti
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n1.2013.p21-27

Abstract

Fase vegetatif mencakup fase juvenil yang ditandai dengan munculnya percabangan, pertumbuhan duri, serta belum berkembangnya bunga. Karakter ini ditemukan pada periode vegetatif asal biji dan hasil perbanyakan somatik embriogenesis (SE). Tujuan penelitian ialah mengetahui kemampuan berbunga dan berbuah tanaman jeruk Kalamondin hasil perbanyakan SE yang disambung dengan batang bawah JC setelah 1 tahun ditanam di lapangan. Penelitian pembungaan pada tanaman hasil perbanyakan SE yang disambung dengan batang bawah JC dilakukan di Kebun Percobaan Tlekung, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, pada Bulan Februari 2011-Maret 2012. Tanaman jeruk Kalamondin berasal dari hasil sambungan ex vitro, yaitu batang atas berasal dari embrio kotiledonari dan planlet disambungkan pada batang bawah JC dengan tiga perlakuan, yaitu planlet JC hasil perbanyakan SE yang berumur 4 dan 8 bulan setelah aklimatisasi serta semaian biji umur 8 bulan. Tanaman jeruk Kalamondin hasil sambungan berumur 1 tahun, ditanam di lapangan dan disusun secara RAK dengan tiga ulangan dengan unit percobaaan tiga tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dengan umur 7 bulan di lapangan, tanaman masih pada fase vegetatif, dengan pertumbuhan tertinggi pada perlakuan KPS yaitu tanaman yang berasal dari planlet Kalamondin yang disambungkan pada semaian JC. Namun, pada bulan kedelapan setelah tanam, pertanaman menunjukkan fase generatif yang ditandai dengan munculnya organ bunga. Jumlah bunga dan buah tertinggi terdapat pada perlakuan tanaman yang berasal dari planlet Kalamondin yang disambungkan pada batang bawah JC hasil aklimatisasi. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa hasil perbanyakan jeruk melalui SE, berupa embrio kotiledonari maupun planlet dapat dimanfaatkan sebagai batang atas yang tumbuh dan berkembang dengan normal di lapangan apabila didukung oleh kondisi lingkungan yang optimal.
Respons Beberapa Varietas Nasional Gladiol terhadap Pemupukan N dan K Muchdar Soedarjo; Sri Wuryaningsih
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Nitrogen merupakan salah satu hara makro pembatas pertumbuhan vegetatif dan generatif tanamangladiol, sedangkan kalium sebagai katalisator pada proses metabolisme. Percobaan lapangan untuk mengevaluasipengaruh pupuk N dan K pada pertumbuhan, kualitas bunga, dan subang beberapa varietas gladiol dilakukan diKebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Juni sampai Desember 2009. Rancangan percobaan yangdigunakan ialah petak terpisah dengan dua ulangan. Petak utama adalah tiga varietas gladiol yaitu (1) Nabila, (2)Clara, dan (3) Kaifa. Anak petak adalah kombinasi pemupukan N dan K yaitu (1) N10K10, (2) N10K20, (3) N10K30, (4)N20K10, (5) N20K20, (6) N20K30, (7) N30K10, (8) N30K20, dan (9) N30K30. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapatinteraksi nyata antara varietas dan pemupukan terhadap panjang tangkai bunga dan jumlah kuntum bunga/tangkai.Nitrogen (N) dan kalium (K) merupakan hara makro yang membatasi pertumbuhan tanaman yang berperan besarpada kualitas bunga dan subang gladiol, dengan respons berbeda bagi setiap varietas. Varietas Clara paling responsifterhadap pemupukan nitrogen, dengan pemupukan N30K10 menghasilkan tangkai bunga terpanjang (73,16 cm), danjumlah subang kelas A terbanyak (9,83 subang). Pemberian pupuk N20K10 pada varietas Kaifa dapat menghasilkantangkai bunga terpanjang dan jumlah kuntum bunga terbanyak. Pemupukan N dan K dapat diimplementasikan denganmempertimbangkan varietas gladiol yang ditanam.ABSTRACT. Soedarjo, M. and S. Wuryaningsih. 2010. Response of Several Gladiolus Varieties on N andK Fertilizer Application. Nitrogen is one of the nutrients limiting the growth either vegetative or generative ofgladiolus, while potassium as a catalyst in the process of metabolism.A field experiment to evaluate the effect of Nand K fertilizers on the growth and development of three varieties of gladiolus was conducted at the experimentalgarden of The Indonesian Ornamental Crop Research Institute from June to December 2009. A split plot design withtwo replications was used. The main plot was three gladiolus varieties consisted of (1) Nabila, (2) Clara, and (3)Kaifa. The subplot was combinations of N and K fertilizers, namely (1) N10K10, (2) N10K20, (3) N10K30, (4) N20K10,(5) N20K20, (6) N20K30, (7) N30K10, (8) N30K20, and (9) N30K30. The Research results showed that there were interactionsbetween varieties and N K fertilizers on flower spike length and number of floret/spike. Nitrogen (N) and potassium(K), the macro nutrient that limits plant growth, and played a significant role in the quality of flowers and corms ofgladiolus, responses for each variety. Clara varieties was the most responsive to nitrogen fertilization, with fertilizerapplication of N30K10 produce longest flower stalks (73.16 cm), and highest number of class A corm (9.83). Fertilizerapplication N20K10 on Kaifa varieties produce the longest flower stalk and the largest flower number/spike. Nitrogenand Kalium fertilization could be implemented by considering the varity of gladiolus.
Sistem Pengadaan dan Distribusi Benih Bawang Merah pada Tingkat Petani di Kabupaten Brebes rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui sumber benih, cara pengadaan, dan kualitas benih yang ditanampetani, serta ketersediaan benih bawang merah bermutu untuk petani di Brebes. Hasil penelitian digunakan sebagaimasukan pembuatan kebijakan untuk memperbaiki sistem perbenihan bawang merah di Brebes. Penelitian deskriptifini dilakukan di Brebes pada bulan September 2007. Penelitian dilakukan di tiga desa yang dipilih secara purposiveberdasarkan jenis varietas dominan yang ditanam di lokasi tersebut. Responden dipilih secara purposive berdasarkanjenis varietas yang ditanam, yaitu 35 petani yang menanam benih varietas lokal dan 10 petani yang menanam benihvarietas impor. Selain petani, juga dipilih secara purposive sembilan responden pedagang atau penangkar benih. Dataprimer dikumpulkan melalui wawancara individual dengan responden menggunakan kuesioner. Data yang terkumpuldianalisis menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber benih varietaslokal yang ditanam oleh sebagian besar petani responden (94%) berasal dari benih yang dihasilkan petani sendiridari penyisihan hasil bawang konsumsi musim sebelumnya dan sebagian kecil (6%) berasal dari benih yang dibelidari petani lain, sedangkan benih varietas impor yang ditanam petani, seluruhnya (100%) berasal dari pembelian ditoko atau pedagang benih. Petani memproduksi benih sendiri dengan cara menyisihkan sebagian dari hasil bawangkonsumsi musim sebelumnya yang pertumbuhan tanamannya masih bagus, produktivitas, dan kemurnian varietasnyamasih tinggi. Kualitas benih yang dihasilkan petani cukup baik dalam hal daya tumbuh (99,1%), tingkat infeksi olehpenyakit tular benih (1,7%), dan persentase kemurnian varietas (99,3%). Benih yang tersedia di lokasi penelitian,sebagian besar (>94%) berasal dari benih hasil produksi petani, tidak ada yang berasal dari hasil penangkaran benihsecara khusus.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2010. Procurement and Distribution System of Shallots Seed at Farmer Level atBrebes District. The objectives of the research were to understand the sources, procurement methods, and qualityof shallots seed planted by farmers as well as the availability of good quality seed for farmers in Brebes. The resultof this study was used as policy input for improving the existing shallots seed system in Brebes. Descriptive researchwas conducted in Brebes on September 2007, in three villages selected purposively based on the dominant shallotsvarieties planted by farmers in the locations. Respondents were selected purposively based on the shallots varietiesplanted, consisted of 35 farmers who planted local varieties and 10 farmers who planted imported variety of shallotsseed. In addition, nine shallots seed growers or traders were also selected purposively as respondents. Primary datawas collected through individual interview with respondents. The results showed that most farmers (94%) who plantedlocal varieties used their own seed obtained from previous harvest, and only 6% used their seed from other farmers.Meanwhile, all farmers (100%) who planted imported seed they bought from seed stores or traders. Farmers obtainedtheir own shallots seed from the healthy, productive, and high purity variety from previous harvest. The quality offarmers’ seed was good in terms of high percentage of seed growth (99.1%), low disease infected seed (1.7%), andhigh purity of variety (99.3%). The availability of seed mostly (>94%) was farmers’ seed, and almost no sources ofseed obtained from special seed growers.
Pengaruh Jenis Media Kultur In Vitro dan Jenis Eksplan terhadap Morfogenesis Lili Oriental D Pramanik; F Rachmawati
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Perbanyakan secara in vitro merupakan teknik yang sangat menjanjikan untuk perbanyakan tanaman.Dengan teknik ini dapat diperoleh bibit tanaman yang banyak dalam waktu singkat. Tujuan penelitian ialahmemperoleh informasi mengenai pengaruh jenis media dan jenis eksplan tehadap morfogenesis lili secara in vitro.Varietas yang digunakan ialah lili oriental cv. Donau. Penelitiaan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan BalaiPenelitian Tanaman Hias, Segunung, Cianjur, Jawa Barat, dari bulan Januari-Desember 2007. Percobaan menggunakanrancangan acak lengkap pola faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama ialah empat jenis media, yaituA = Murashige dan Skoog (MS)+BAP 1 ppm+2,4-D 1 ppm, B = MS+NAA 0,5 ppm+TDZ 0,08 ppm, C=MS+NAA1 ppm+TDZ 2 ppm, dan D = MS+2,4-D 1,5 ppm+Kinetin 1 ppm+TDZ 1 ppm dan faktor kedua adalah empat jeniseksplan (petal, petiol, ovul, dan sisik umbi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata padainteraksi antara faktor pertama dan faktor kedua pada semua parameter yang diamati. Media B yang dikombinasikandengan eksplan ovul memberikan hasil tertinggi untuk inisiasi pembengkakan eksplan, sedangkan media B denganeksplan petal, serta media D dengan eksplan petal dan sisik umbi memberikan hasil terbaik untuk induksi kalus. MediaA dan sisik umbi merupakan kondisi terbaik untuk pembentukan tunas dan akar. Media A dengan eksplan sisik umbidan media C dengan eksplan tangkai bunga menunjukkan hasil perlakuan terbaik dalam menginduksi umbi mikro.Pembentukan kalus embriogenik tertinggi terjadi pada media D dengan eksplan petal.ABSTRACT. Pramanik, D. and F. Rachmawati. 2010. The Effect of In Vitro Culture Media and Explants onMorphogenesis of Oriental Lily. Tissue culture technique is the promising method for plant multiplication. Theaim of this study was to evaluate the effect of in vitro media and explants on the morphogenesis of oriental lily cv.Donau. The research was conducted by using randomized complete design with two factors and three replications.The first factor was media, that were A = Murashige and Skoog (MS)+BAP 1 ppm+2.4-D 1 ppm, B = MS+NAA0.5 ppm+TDZ 0.08 ppm, C = MS+NAA 1 ppm+TDZ 2 ppm, and D = MS+2.4-D 1.5 ppm+Kinetin 1 ppm+TDZ 1ppm. While second factors was explants, i.e. petal, peduncle, ovule, and bulb-scale. The results of the study showedthat there was a very significant difference of interaction between first factor and second factor to all parametersobserved. B medium combined with ovule explants gave the best treatment for explants-swollen induction. MeanwhileB medium with petal explants and D medium with petal and bulb-scale explants were the best treatment for callusinduction. A medium with bulb-scale explants provided the best condition for shoot and root formation. A mediumwith bulb-scale explants and C medium with peduncle explants showed the best treatment in micro-bulb induction.The best result on embryogenic callus induction was D medium combined with petal explants.
Potensi Beberapa Varietas Jagung untuk Dikembangkan sebagai Varietas Jagung Semi Yudiwanti Yudiwanti; W R Sepriliyana; S G Budiarti
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Jagung semi merupakan salah satu komoditas sayuran yang semakin digemari, akan tetapi produksinyadi Indonesia menghadapi kendala antara lain belum tersedianya varietas jagung yang khusus untuk diproduksi sebagaijagung semi. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi potensi dari beberapa varietas jagung untukdikembangkan sebagai varietas jagung semi. Penelitian lapangan dilaksanakan di KP IPB Leuwikopo, Dramaga,Bogor dari bulan Mei sampai Juli 2009. Bahan genetik yang digunakan terdiri dari 17 varietas koleksi BB Biogen,yaitu lima varietas lokal (Campaloga, Genjah Kodok, Ketip Kuning, Lokal Oesae, dan Lokal Srimanganti), tujuhvarietas hasil pemuliaan (Antasena, Arjuna P18, Bayu, BC 10 MS 15 , Nakula, Sadewa, dan Wisanggeni), lima varietasintroduksi (EW DMR Pool C6S2, EY Pool C4S2, Kiran, Phil DMR Comp 2, dan Phil DMR 6), dan satu varietaskontrol, Bisi-2. Penelitian disusun dalam rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Peubah yangdiamati adalah tinggi tanaman, jumlah buku, diameter batang, umur berbunga, umur panen pertama, jumlah tongkolper tanaman, bobot tongkol bersih per tanaman, ukuran tongkol (diameter dan panjang tongkol), jumlah tongkollayak pasar, dan jumlah tongkol afkir per tanaman. Data dari peubah yang diamati dianalisis dengan ANOVA diikutidengan uji t-Dunnett. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar varietas yang dievaluasi lebih pendekdan berbunga lebih cepat serta dipanen lebih awal, dibanding kontrol. Varietas-varietas Ketip Kuning, Antasena,BC 10 MS 15, dan EW DMR Pool C6S2 menghasilkan jumlah tongkol per tanaman dan bobot tongkol bersih tidakberbeda dari Bisi-2 sebagai kontrol. Varietas-varietas tersebut dapat dikembangkan sebagai varietas jagung semi.Hasil penelitian ini menguatkan diperlukannya perakitan varietas jagung khusus untuk produksi jagung semi yangbertongkol banyak dan layak pasar.ABSTRACT. Yudiwanti, W.R. Sepriliyana, and S.G. Budiarti. 2010. The Potential of Some Maize Varietiesto be Developed as Baby Corn Varieties. Baby corn is one of vegetables which was increasingly popular, but itsproduction in Indonesia was facing constraints such as unavailability of special variety to produce baby corn. Theresearch objective was to obtain information on the potential of several varieties of corn to be developed as baby cornvariety. The experiment conducted at Leuwikopo-IPB experimental field at Dramaga, Bogor from May until July 2009.The genetic material was consisted of 17 collection varieties of Indonesian Center for Agricultural Biotechnologyand Genetic Resources Research and Development, they were: five local varieties (Campaloga, Genjah Kodok, KetipKuning, Local Oesae, and Local Srimanganti), seven breeding varieties (Antasena, Arjuna P18, Bayu, BC 10 MS 15,Nakula, Sadewa, and Wisanggeni), five introduced varieties (EW DMR Pool C6S2, EY Pool C4S2, Kiran, Phil DMRComp 2, and Phil DMR 6), and one control variety, Bisi-2. The experiment was arranged in a randomized completelyblock design with three replications. Variables measured were plant height, number of nodes, stem diameter, dateof flowering, date of first harvesting, number of ears per plant, gross weight of ears per plant, net weight of ears perplant, ear size (diameter and length of ears), number of marketable, and nonmarketable baby corn ears. Data measuredwere analyzed with ANOVA followed by t-Dunnett test. The results showed that most of the varieties evaluated wereshorter and flowering faster and also harvested earlier than Bisi-2 as control. Ketip Kuning, Antasena, BC 10 MS 15,and EW DMR Pool C6S2 varieties did not showed any significant different in the number of ear per plant and earnet weight per plant compare with Bisi-2 as control. It showed that those varieties could be developed as baby cornvariety. The results of this study reinforce the need for creating special corn varieties for baby corn production
Analisis Finansial Penggunaan Benih Kentang G4 Bersertifikat dalam Meningkatkan Pendapatan Usahatani Petani Kentang H K Ridwan; Nurmalinda Nurmalinda; Sabari Sabari; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Permasalahan utama usahatani kentang ialah produktivitas rerata yang masih rendah, yaitu sekitar16,94 t/ha. Penggunaan benih G4 bersertifikat diharapkan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan para petanikentang. Penelitian mengenai analisis finansial penggunaan benih G4 bersertifikat dalam meningkatkan pendapatanusahatani kentang di Indonesia telah dilakukan di Kecamatan Pangalengan, Bandung, Jawa Barat dan KecamatanBatur, Banjarnegara, Jawa Tengah, dari bulan Januari-Desember 2008. Tujuan penelitian ialah menganalisis secarafinansial penggunaan benih kentang G4 bersertifikat dalam hal biaya, produksi, penerimaan, dan keuntungan bersihusahatani dibanding dengan penggunaan benih kentang tidak bersertifikat. Penelitian dilaksanakan dengan metodesurvei. Data primer diperoleh melalui wawancara berstruktur dengan petani, sedangkan data sekunder dikumpulkan dariinstansi terkait. Analisis data kualitatif dilakukan secara deskriptif, sedangkan analisis biaya dan pendapatan dilakukandengan metode analisis finansial statik serta uji t untuk membandingkan dua perlakuan. Hasil analisis biaya usahatanikentang menunjukkan bahwa di Pangalengan rerata biaya produksi kentang dengan benih G4 bersertifikat mencapaiRp37.042.970,00, dan benih tidak bersertifikat Rp29.305.108,00 per ha/musim. Di Batur, rerata biaya produksikentang dengan benih G4 bersertifikat mencapai Rp23.718.196,00 dan benih tidak bersertifikat Rp22.589.475,00 perha/musim. Di Pangalengan, rerata produksi kentang yang dihasilkan dengan benih G4 bersertifikat mencapai 26.364kg, dan benih tidak bersertifikat mencapai 22.001 kg per ha/musim. Di Batur, rerata produksi kentang dengan benihG4 bersertifikat dan benih tidak bersertifikat masing-masing mencapai 16.976 kg dan 14.031 kg per ha/musim. Hasilanalisis masukan dan keluaran menunjukkan bahwa, di Pangalengan usahatani kentang yang menggunakan benihG4 bersertifikat dan benih tidak bersertifikat mendapatkan penerimaan serta keuntungan bersih masing-masingRp70.417.354,00 dan Rp53.529.785,00 serta Rp33.374.384,00 dan Rp24.224.677,00 per ha/musim, sedangkan di Baturmendapatkan penerimaan Rp67.130.010,00 dan Rp51.338.645,00 serta keuntungan bersih sebesar Rp43.411.814,00dan Rp28.749.170,00 per ha/musim. Hasil perhitungan uji t menunjukkan bahwa, di Pangalengan penggunaan benihkentang G4 bersertifikat memperlihatkan adanya perbedaan nyata dalam biaya dan penerimaan, sedangkan di Batur,memperlihatkan adanya perbedaan nyata dalam penerimaan dan keuntungan bersih usahatani dibanding dengan yangmenggunakan benih tidak bersertifikat.ABSTRACT. Ridwan, H.K., Nurmalinda, Sabari, and Y. Hilman. 2010. Financial Analysis of Potato FarmingSystem Using G4 Certified Seed to Improve Potato Farmer’s Income. The main problem on potato farmingsystem was low productivity (16.94 t/ha). The use of certified seeds (generation four/G4) was expected to improveproductivity and potato farmers income. The research was conducted at Pangalengan District, Bandung, West JavaProvince and Batur District, Banjarnegara, Central Java, from January to December 2008. The objectives of thisresearch was to analyze financially the used of certified seed (G4) in term of production cost, productivity, revenue,and profit of potato farming in comparation with the used of uncertified seed. The study was conducted by usingsurvey method. Primary data were obtained through interviewing farmers and secondary data were collected fromthe related institutions. Qualitative data were analyzed descriptively, while the cost and income analysis weredone by static method, and t test. The results indicated that the production cost in Pangalengan reached as much asRp37,042,970.00/ha (using certified seeds) and Rp29,305,108.00/ha (using uncertified seeds). Similar result wasobtained in Batur, the production cost was Rp23,718,196.00/ha (using certified seeds) and Rp22,589,475.00/ha (usinguncertified seeds). In Pangalengan, potato productivity reached 26,364 kg/ha (using certified seeds) and 22,001 kg/ha (using uncertified seeds), while in Batur, the productivity was about 16,976 kg/ha (using certified seeds) and14,031 kg/ha (using uncertified seeds). The result of input and output analyses showed that in Pangalengan, potatofarming provide revenue and profit about Rp.70,417,354.00 and Rp.33,374,384.00/ha/season respectively (usingcertified seeds), while uncertified seeds gave revenue and profit Rp.53,529,785.00/ha and Rp.24,224,677.00/ha/season, respectively. Whereas in Batur, the use of certified seeds provide revenue and profit Rp.67,130,010.00 andRp.43,411,818.00/ha/season respectively, while uncertified seeds provide Rp.51,338,645.00 and Rp.28,749,170.00/ha/season respectively. The results of t-test showed that in Pangalengan, the use of certified seeds was significantlydifferent in term of production cost and revenue, while in Batur, there were a significant different on the revenue andbenefit between the use of certified and uncertified seeds.
Penentuan Indeks Kebutuhan Hara Makro pada Tanaman Mangga dengan Metode Diagnosis and Recommendation Integrated System S Juliati
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Mangga merupakan komoditas buah yang memiliki nilai strategis untuk peningkatan ekspor danpengembangan agroindustri buah-buahan di Indonesia. Pemupukan pada tanaman mangga selama ini didasarkanpada pengalaman dan kebiasaan petani, belum mengacu pada kebutuhan tanaman. Diagnosis and RecommendationIntegrated System (DRIS) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mendiagnosis kebutuhan hara tanamandengan memperhitungkan perbandingan sepasang hara yang terkandung dalam jaringan tanaman. Untuk efisiensipemupukan, metode ini dinilai lebih baik dibanding beberapa metode lainnya. Tujuan penelitian ialah mendapatkanindeks hara dan nilai keseimbangan hara makro (N, P, K, Ca, dan Mg) pada tanaman mangga. Penelitian dilaksanakandi perkebunan mangga Arumanis umur 10 tahun milik PT Trigatra Rajasa, Situbondo, Jawa Timur mulai Januari2004 hingga Desember 2005. Pemilihan lokasi sampel didasarkan atas perbedaan kedalaman solum, yakni solumdangkal (<75 cm), solum sedang (75-150 cm), dan solum dalam (>150 cm). Penetapan sampel dilakukan secarapurposive random sampling sebanyak 12 tanaman untuk masing-masing kriteria kedalaman solum. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa hara P merupakan hara dominan yang dibutuhkan tanaman, diikuti oleh hara Mg dan N untuksolum sedang dan dalam, sedangkan untuk solum dangkal diperlukan hara P diikuti hara N. Sementara hara K danCa terdapat dalam jumlah yang cukup untuk semua lokasi. Rasio N/P untuk solum dalam (6,85) dan solum sedang(6,90) berada pada kisaran seimbang/normal (nilai N/P seimbang: 6,29-6,92), sementara untuk solum dangkal (6,07)berada pada kisaran kekahatan ringan (nilai N/P : 5,99–6,29). Rasio nilai N/K (solum dalam = 3,23, solum sedang= 3,38, dan solum dangkal = 3,02), berada pada kisaran normal/cukup (nilai N/K seimbang: 3,09-3,33). Demikianjuga rasio K/P (solum dalam = 2,15, solum sedang = 2,06, dan solum dangkal = 2,03), berada pada kisaran normal/cukup (kisaran K/P seimbang: 2,04-2,12). Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa unsur P merupakan unsurpaling dominan yang dibutuhkan tanaman mangga di lokasi tersebut, menyusul unsur N dan K. Terdapat hubunganantara nisbah hara N/P, N/K, dan K/P terhadap pertumbuhan, produksi, dan produktivitas tanaman, di mana bilamasing-masing nisbah hara tersebut berada dalam kisaran seimbang, maka pertumbuhan dan produksi tanamanjuga menjadi lebih baik. Model DRIS dapat direkomendasikan untuk membantu pengelolaan pemberian hara yangefisien sesuai kebutuhan tanaman.ABSTRACT. Juliati, S. 2010. Determination Macro Nutrient Index on Mango by DRIS Method. Mango ispriority commodity to increase export and as fruit agroindustry in Indonesia. Up till now fertilization on mango hasbeen done based on farmer’s pratices. Diagnosis and Recommendation Integrated System (DRIS) is a method todetermine nutrient requirement by analyzing nutrient ratio in pairs whitin plant tissue. To obtain the efficiency infertilization this method was better than other method. The experiment was carried out in 10 years age of mangoorchard of cv. Arumanis at PT Trigatra Rajasa Situbondo, East Java, from January 2004 until December 2005. Selectionof sample location was based on soil solum depth that were shallow solum (<75 cm), intermediate solum (75-150cm), and deep solum (>150 cm). Twelve trees at each soil solum depth were chosen as sample units determinedby purposive random sampling. The results showed that P was the most dominant nutrient element required by theplant in all location, followed by Mg and N for intermediate and deep solum, while for shallow solum the dominantnutrient was P followed by N. Kalium and Ca nutrient in were efficient all location. N/P nutrient balanced ratio fordeep solum was 6.85, 6.90 for intermediate solum and the normal range was N/P value : 6.29-6.92. For shallowsolum the N/P nutrient balanced ratio was 6.07 at low deficiency range (N/P value: 5.99–6.29). For N/K ratio value(deep solum = 3.23, intermediate solum = 3.38, and shallow solum = 3.02), all solums had balance range (N/Kbalanced value : 3.09-3.33). Similarly for K/P ratio (deep solum = 2.15, intermediate solum = 2.06 and shallowsolum = 2.03), all solums had balanced range (K/P balanced ratio : 2.04-2.12). Results of this study described that Pwas the most dominant nutrient required by the plant in the location. There was relationship between N/P, N/K, andK/P ratio on growth, production, and productivity. If each nutrient ratio was at balance condition it would be obtainedthe optimum growth and production of the plant. Diagnosis and Recommendation Integrated System model could beused to issue recommendation of efficient soil fertilization as it is matched with plant requirement.
Respons Hama Lalat Buah Jantan terhadap beberapa Jenis Atraktan dan Warna Perangkap di Kebun Petani Hasyim, Ahsol; Boy, A; Hilman, Yusdar
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian respons lalat buah jantan terhadap beberapa jenis atraktan dan warna perangkap dilakukan dikebun buah dan sayur Padang Pariaman dari bulan Juni sampai Oktober 2006. Penelitian menggunakan rancangan acakkelompok pola faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama ialah warna perangkap (merah, kuning,hijau, oranye, dan transparan). Faktor kedua ialah atraktan ME sintetik (metil eugenol murni 90%), petrogenol (ME70%), dan cue-lure. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata jumlah lalat buah yang terperangkap/perangkap/haripada berbagai warna perangkap dan atraktan sintetik berbeda nyata. Lalat buah lebih banyak terperangkap, diperolehpada perangkap warna kuning (39 ekor), kemudian diikuti oleh perangkap warna merah, hijau, oranye, dan transparan,masing-masing 29,84, 27,99, 14,89, dan 14,3 ekor lalat buah/perangkap/hari. Jumlah lalat buah paling banyak tertarikpada perangkap dengan atraktan metil eugenol murni dibandingkan dengan perangkap ME 70% dan cue-lure. Perangkapwarna kuning dengan atraktan ME dapat menarik lebih banyak jenis lalat buah (11 spesies) kemudian diikuti olehperangkap transparan, perangkap warna merah, oranye, dan hijau, masing-masing dapat menarik berturut-turut 9,8, 8, dan 7 jenis lalat buah. Penggabungan antara warna perangkap dengan atraktan sintetik metil eugenol, dapatmeningkatkan kemampuan sebagai perangkap yang potensial dan juga sebagai alat monitoring lalat buah.ABSTRACT. Hasyim, A., A. Boy, and Y. Hilman. 2010. The Response of Male Fruit Fly to Various Attractantand Trap Colors in the Farmer Orchard. The research was conducted in fruits and vegetables farmer orchard inPadang Pariaman from June to October 2006. The factorial randomized completely design with three replications andtwo factors were used in this experiment. The first factor was trap color (red, yellow, green, orange, and transparent).The second factor was kind of synthetic attractant (pure methyl eugenol 90%, petrogenol 70%, and cue-lure). Theresults showed that number of flies’ caught/trap/day was significantly different in response to trap colors and syntheticattractant. Yellow colored trap captured significantly highest number of male fruit fly (39 flies/trap/day) followed byred, green, orange, and transparent trap which were 29.84, 27.99, 14.89, and 14.3 fruit fly/trap/days, respectively.Pure ME (90%) attracted highest number of flies comparing ME 70% (petrogenol) and cue-lure. Yellow trap attractedhighest number of flies species (11 species) followed by transparent trap, red, orange, and green which were of 9, 8,8, and 7 species, respectively. The incorporation of trap color and synthetic attractant such as methyl eugenol wouldprovide powerful tools not only potential for fruit fly trapped but also for monitoring.

Page 46 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue