cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengaruh Penambahan Auksin dan Sitokinin terhadap Pertumbuhan Tunas Bawang Putih Karyadi, Asih Kartasih; Buchory, Abuchoir
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. � � � � o� o� K� � � � �� � � � Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh dari penambahan auksin dan sitokinin terhadap pertumbuhan tunas bawang putih kultivar Lumbu Kuning. Perlakuan yang diuji adalah media dasar B5 yang dikombinasikan dengan picloram (0, 0,1, dan 0,2 mg/l), BAP(0, 1, dan 2 mg/l), dan 2-ip (0, 1, dan 2 mg/l). Ada 18 komposisi media perlakuan. Sebagai eksplan digunakan jaringan meristematik bawang putih. Pengamatan dilakukan secara visual terhadap pertumbuhan eksplan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan dapat tumbuh dan berkembang di semua komposisi media. KoKontaminasi hanya terjadi pada beberapa kultur. Pertumbuhan eksplan yang normal ditunjukkan oleh pertumbuhan daun yang baik, lurus, dan mengarah ke atas. Tidak didapatkan perbedaan nyata pengaruh penambahan hormon picloram, 2-ip, dan BAP terhadap pertumbuhan plantlet. Namun secara umum kombinasi antara picloram dan 2-ip dapat mempercepat pertumbuhan tunas.ABSTRACT. Karjadi, A.K. and Buchory A. 2007. The Effect of Auxin and Cytokinin Concentration on Shoot Induction of Garlic. The experiment was conducted at tissue culture laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute. The objectives of the experiment were to find out the influence of picloram and cytokinin (BAP, 2-ip) concentration on shoo t induction of garlic cv. Lumbu Kuning. The experiment consisted of 18 media compositions, those were basal medium of B5 combined with picloram (0, 0.1, and 0.2 mg/l), BAP (0, 1, and 2 mg/l), and 2–ip (0, 1, and 2 mg/l) and the explants were from meristematic tissue/shoo t tip. Results of experiment showed that explants could be proliferated in all medium composition. There were no significant differences on medium with hormone picloram, 2–ip, or BAP. However combination of hormone picloram and 2–ip in the medium could accelerate shoo t growth of garlic.
Interaksi Tanaman pada Sistem Tumpangsari Tomat dan Cabai di Dataran Tingg -, Suwandi; Rosliany, Rini; Setiawati, Wiwin
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mempelajari interaksi sinergis tanaman tomat dan cabai dalam sistem pertanaman tumpangsari di dataran tinggi. Kegiatan penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan lapangan, di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, mulai bulai Mei sampai dengan Desember 2000. Perlakuan percobaan terdiri atas delapan macam perlakuan tanam tumpangsari, termasuk pertanaman monokrop sebagai pembandingnya. Percobaan rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua ulangan, sedangkan di lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) interaksi sinergis tanaman terjadi pada tumpangsari tanaman tomat dan cabai terhadap komponen pertumbuhan tinggi (7 minggu), perkembangan luas daun, bobot kering tanaman pada fase pertumbuhan maksimum, serapan total NPK, dan komponen hasil buah tomat dan cabai (buah sehat dan rusak), (b) efek sinergis tanaman nyata terjadi searah dari tanaman cabai terhadap setiap parameter tanaman tomat; dan (c) sistem interaksi sinergis tanaman tumpangsari di dataran tinggi dipengaruhi cara pengelolaan tanaman  di lapangan. Selanjutnya pengaruh interaksi dua arah dari tanaman tumpangsari sayuran di dataran tinggi perlu diteliti lebih lanjut. Kata kunci: Lycopersicum esculentum;Capsicum annuum; Tumpangsari; Sinergisme; Interaksi; Tanaman sayuran. ABSTRACT. A series of experiment were conducted at screen house and experi- mental garden of  Research Institute for Vegetable, starting from  May to December 2000. Treatments consisted of eight kinds of intercropping systems including monocrop as its control treatment. A screen house experiment used a randomized complete design with two replications, while the randomized block design with three replications was ap- plied in the field experiment. The results showed that (a) the positive plant interaction occurred on tomato and hot pep- per intercropping as shown at growth component of plant height (7 weeks), leaf area, dry weight of crop at maximum growth stage, total uptake of NPK, and the yield components of tomato and hot pepper fruits (healthy fruit and damage fruit), (b) synergism affect of plants significantly occurred directly from hot pepper plant on tomato crop, and (c) the plant interaction system of tomato and hot pepper intercropping in the highland were closely related to cropping man- agement in field. Further study are needed to explore more information deeply in two ways interaction affects of crop- ping sytem on vegetables farming in the highland.
Bionomi Tungau pada Enam Kultivar Jeruk Muryati, -; Istianto, Mizu; Setyobudi, Liliek
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh enam kultivar jeruk terhadap panjang siklus hidup dan potensireproduksi tungau. Enam varietas jeruk yang dievaluasi adalah manis sumut, keprok batu-55, keprok kacang, keprokmanis singkarak, keprok keling, dan keprok siem. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 1997 sampai April1998 di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok . Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus hidup danpotensi reproduksi tungau dipengaruhi oleh kultivar jeruk. Keprok kacang pal ing tahan terhadap tungau. Hal initampak pada umur nimfa pal ing lama (7,2 hari), umur imago pal ing pendek (10,4 hari), jumlah telur yang diletakkanpal ing sedikit (7,1 butir), dan mortalitas nimfa pal ing tinggi (54,0%). Kultivar yang pal ing peka terhadap tungau iniadalah keprok manis singkarak, dicirikan dengan umur nimfa tungau pal ing pendek (4,1 hari), umur imago pal inglama (15,7 hari), jumlah telur yang diletakkan pal ing banyak (36,6 butir), dan mortalitas nimfa pal ing rendah (17,9%).Berdasarkan hasil analisis anatomi daun ternyata panjang siklus hidup dan potensi reproduksi tungau dipengaruhioleh ketebalan epi der mis daun. Semakin tebal epi der mis daun, pertumbuhan tungau semakin kurang baik.Berdasarkan pengamatan terhadap siklus hidup dan potensi reproduksi Tetranychus urticae, keprok kacang memilikiprospek untuk digunakan sebagai sumber tetua guna menghasilkan kultivar jeruk yang toleran terhadap T. urticae.Kata kunci : Tetranychus urticae; Bionomi; Kultivar jerukAB STRACT. Muryati, M. Istianto, and L. Setyobudi. 2004. The bionomic of mite on six cit rus cultivars. Theob jec tives of this re search was to eval u ate the life cy cle and po ten tial re pro duc tion of T. urticae on six cit rus cultivars.The six cultivars were manis sumut, keprok batu-55, keprok kacang, keprok manis singkarak, keprok keling, andkeprok siem. The re search was con ducted since Au gust 1997 un til April 1998 un der lab o ra tory con di tion at In do ne -sian Fruit Re search In sti tute, Solok. The re sults showed that the life cy cle length and po ten tial re pro duc tion of T.urticae was sig nif i cantly in flu enced by cit rus cultivars. Keprok kacang was the most un suit able cultivar for T. urticaede vel op ment com pare with oth ers, which was in di cated by the lon gest nymph stages (7.2 days), the short est adultstage (10.4 days), the low est num ber of eggs laid (7.1), and the high est nymph mor tal ity (54.0%). The most suit ablecultivar for T. urticae de vel op ment was keprok manis singkarak, which was in di cated by the short est nymph stages(4.1 days), the lon gest adult stages (15.7 days), the high est num ber of eggs laid (36.6), and the low est nymph mor tal ity(17,9%). Based on the leaves anat omy, the keprok kacang has the thick ness of epi der mic tis sue, which in flu enced un -suit able on the mite’s lenght life cy cle and re pro duc tive po ten tial. There fore, keprok kacang has a po ten tial to be usedas pa ren tal for cit rus va ri ety im prove ment pro gram against T. urticae.
Evaluasi Daya Hasil dan Adaptasi Klon-klon Harapan Krisan Wasito, Antoro; Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lima belas klon harapan krisan ditanamkan di  lokasi dengan  tinggi 700, 800, dan 1.200 m dpl  menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, pada bulan Oktober 2000 sampai dengan Maret 2001. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh klon-klon krisan yang berdaya hasil tinggi untuk persiapan pelepasan varietas baru.   Luaran yang diharapkan adalah lima klon krisan yang berdaya hasil tinggi dan adaptif terhadap kondisi lingkungan di sentra-sentra produksi krisan. Hasil penelitian mendapatkan lima klon krisan no. 49, 26, 4, 21, dan 29 yang adaptif dan berdaya hasil tinggi yang selanjutnya dapat direkomendasikan untuk pelepasan varietas baru. Kata kunci:  Chrysanthemum morifolium; Klon harapan; Daya hasil; Adaptasi ABSTRACT. Fiveteen promising clones of chrysanthemum were planted at three locations with eleva- tion 700, 900, and 1,200 m. above sea level. A randomized design with three replications, and conducted from October 2000 to March 2001. The objective of this experiments was to evaluate the potential yield and adaptation of breeder promising clones related to selection method on chrysanthemum breeding program for releasing varieties. The results showed that five clones of chrysanthemum no. 49, 26, 4, 21, dan 29 possesed superior characteristics i.e high yielding potential and adaptive that should be recommended for releasing varieties.
Eksplorasi dan Karakterisasi Plasma Nutfah Tanaman Markisa Karsinah, -; Silalahi, F H; Manshur, A
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Ketersediaan varietas unggul yang sesuai dengan kebutuhan konsumen menjadi syarat yang harus dipenuhi dalam industrialisasi pertanian dan liberalisasi perdagangan. Varietas unggul dapat dirakit jika tersedia keragaman sumberdaya genetik. Keberadaan koleksi plasma nutfah harus terus dipertahankan dan ditingkatkan sejalan dengan tuntutan perakitan varietas untuk memperkaya cadangan gen, kemudian dikonservasi secara ex-situ agar mudah dalam perawatan, evaluasi, pengamanan, dan pemanfaatannya. Eksplorasi plasma nutfah tanaman markisa dilakukan di beberapa daerah sentra produksi markisa di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Koleksi plasma nutfah tanaman markisa dilakukan di Kebun Percobaan Tanaman Buah, Berastagi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2005 sampai Pebruari 2006. Penelitian bertujuan mengumpulkan dan mengkarakterisasi plasma nutfah, serta membentuk kebun koleksi plasma nutfah tanaman markisa. Hasil eksplorasi telah diperoleh 7 aksesi markisa yang terdiri dari 4 aksesi markisa asam (Passiflora edulis) dan 3 aksesi markisa manis (P. ligularis). Koleksi contoh tanaman dari 7 aksesi markisa tersebut telah ditanam di Kebun Percobaan Tanaman Buah, Berastagi dan masih dalam fase pertumbuhan vegetatif. Data diskripsi indigenous dari 7 aksesi markisa yang diperoleh telah disimpan dalam file elektronik.ABSTRACT. Karsinah, F. H. Silalahi, and A. Manshur. 2007. Exploration and Characterization of Passion Fruit Germplasm. The availability of superior varieties that suitable to consumer preference become very important on agriculture industrialization and free-trade liberalization. So that, the germplasm collection must be maintained and increased in accordance with demand for varieties improvement and enrichment of genes resources, afterwards those genes must be conserved by ex situ conservation to make easy in maintenance, evaluation, and utilization of those germplasm. The research was conducted from June 2005 to February 2006 in several areas of passion fruit production center in North Sumatera and West Sumatera. Collection of passion fruit germplasm were conducted in Berastagi Experimental Field. The aims of the study were to collect and characterize of passion fruit germplasm, as well as to establish passion fruit germplasm collection field. The results of the study showed that there were 7 accessions of passion fruit collected from exploration, consisted of 4 accessions of Passiflora edulis Sims and 3 accessions of Passiflora ligularis Juss. Collection of those 7 accessions of passion fruit have been planted in Berastagi Experimental Field and still in the vegetative growth stage. The data of indigenous description of 7 accessions have been stored in an electronic file disk.
Pengujian Keefektifan Gliokompos terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Krisan Wasito, Antoro; Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi gliokompos terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan September 1999 sampai dengan Januari 2000. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Delapan komposisi media tanam berupa perbandingan volume gliokompos, pupuk kandang, dan tanah sebagai faktor pertama dan tiga varietas, yaitu saraswati, retno dumilah, dan dewi sartika sebagai faktor kedua. Data diperoleh dari beberapa peubah pertumbuhan dan hasil bunga. Penggunaan gliokompos efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil bunga serta ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit tular tanah. Pertumbuhan dan hasil bunga terbaik ditunjukkan oleh varietas retno dumilah, disusul dengan varietas saraswati dan dewi sartika.  Penggunaan pupuk kandang sebagai media tanam cenderung menurunkan ketahanan tanaman akan serangan beberapa penyakit tular tanah.  Sebaliknya penggunaan gliokompos mampu menekan serangan penyakit tular tanah serta meningkatkan hasil bunga. Kata kunci: Dendrathema grandiflora Tzvelev; Gliokompos; Kesehatan tanaman; Pertumbuhan tanaman; Hasil bunga ABSTRACT. The objective of this experiment was to evaluate effective- ness of gliocompost as soil sterillant on the cutting production and healthiness. Experiment was conducted at Indone- sian Ornamental Research Institute Segunung  from September 1999 to January 2000.  A factorial randomized block design with three replications was used in this experiment.  Eight medium compositions described by volume ratio of gliocompost, chicken manure, and soil, were notated as first factor. Three varieties, namely saraswati, retno dumilah and dewi sartika, were used as second factor. Data collected were plant growth and healthiness as well as flower pro- duction. Based on the available data, concluded that the best plant growth performance and flowers production were showed by retno dumilah, followed by saraswati and dewi sartika. The use of chicken manure as a planting medium tended reduce plant resistance to soil borne diseases. Inversely, the use of gliocompost as planting medium increased plant resistance and  flower production..
Status Resistensi Spodoptera exigua Hubn. pada Tanaman Bawang Merah Asal Kabupaten Cirebon, Brebes, dan Tegal terhadap Insektisida yang Umum Digunakan Petani di Daerah Tersebut Moekasan, Tonny Koetani; Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian terdiri atas survai dan penelitian laboratorium. Tujuan survai adalah untuk mengetahui perilaku petani dalam menggunakan insektisida untuk mengendalikan ulat bawang dan penelitian di laboratorium bertujuan mengetahui status resistensi ulat bawang terhadap insektisida yang umum digunakan oleh petani. Survai dilakukan terhadap 60 orang petani di Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon), Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes), dan Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal) pada bulan Juni sampai dengan Juli 2005. Penelitian di laboratorium dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2005. Pengujian menggunakan metode pencelupan potongan daun bawang terhadap larva S. exigua instar ke-2 dan atau ke-3 asal Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon), Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes), Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal). Penghitungan nilai LC50 tiap jenis insektisida yang diuji dilakukan menggunakan program komputer analisis Probit. Hasil survai menunjukkan bahwa insektisida yang umum digunakan petani untuk mengendalikan ulat bawang adalah spinosad, klorpirifos, triazofos, metomil, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikarb, dan abamektin. Petani umumnya mencampur 2-5 jenis insektisida dan melakukan penyemprotan 2-3 kali per minggu. Konsentrasi formulasi insektisida yang digunakan pada umumnya di bawah konsentrasi formulasi anjuran, tetapi volume semprot yang digunakan sesuai dengan yang direkomendasikan. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan terdapat perbedaan kerentanan S. exigua, bergantung pada asal (strain) ulat bawang yang diuji. Ulat bawang asal Kecamatan Gebang dan Losari (Kabupaten Cirebon) terindikasi resisten terhadap insektisida spinosad, klorpirifos, triazofos, betasiflutrin, siromazin, karbosulfan, tiodikab, dan abamektin. Ulat bawang asal Kecamatan Wanasari dan Larangan (Kabupaten Brebes) terindikasi resisten terhadap insektisida klorpirifos dan betasiflutrin, sedangkan ulat bawang asal Kecamatan Wanasari terindikasi resisten terhadap insektisida siromazin, karbosulfan, dan abamektin. Ulat bawang asal Kecamatan Dukuhturi dan Margadana (Kabupaten Tegal) terindikasi resisten terhadap insektisida karbosulfan dan tiodikarb, sedangkan ulat bawang asal Kecamatan Dukuhturi terindikasi resisten pula terhadap insektisida spinosad, klorpirifos, dan siromazin.ABSTRACT. Moekasan, T.K. and R. S. Basuki. 2007. Resistance Status of Spodoptera exigua Hubn. on Shallot from Cirebon, Brebes, and Tegal District to Several Insecticide Commonly Used by Farmers. The research consisted of survey and laboratory study. The aim of the survey was to identify farmers behaviour on using insecticide on shallot. While the laboratory study was aimed to find out the resistance status of pest toward pesticides commonly used by farmers. The survey conducted from June until July 2005, at Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon District), Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes District), Dukuhturi and Margadana Subdistricts (Tegal District). Number of respondents was 60 farmers. The purpose of the laboratory study was to determine the resistance status of S. exigua larvae to several insecticides commonly used by farmers at those locations. The laboratory study conducted from July until December 2005. The leaf-dip bioassay used on second and third instar of S. exigua larvae from Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon District), Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes District), and Dukuhturi and Margadana Subdistricts (Tegal District). The data was analyzed using Probit analyze programme. Results of the survey showed that farmers used spinosad, chlorpyriphos, triazophos, methomyl, betasifluthrin, cyromazin, carbosulfan, tiodicarb, and abamectin to control S. exigua Hubn. Usually farmers mix 2-5 insecticides and spray 2-3 times per week. Concentration of formulation used were under the recommendation, but the spraying volume based on the recommendation. Results of laboratory study showed that S. exigua larvae taken from Gebang and Losari Subdistricts (Cirebon Districts) were resistant to spinosad, chlorpyriphos, triazophos, betasifluthrin, cyromazin, carbosulfan, tiodicarb, and abamectin. Beet armyworm larvae taken from Wanasari and Larangan Subdistricts (Brebes Districts) were resistant to chlorpyriphos and betasifluthrin, and larvae from Wanasari were also resistant to cyromazine, carbosulfan and abamectin. The larvae taken from Dukuhturi and Margadana Subdistrict (Tegal District) were resistant to carbosulfan and tiodicarb, and the larvae from Dukuhturi Subdistrict (Tegal District) were also resistant to spinosad, chlorpyriphos, and cyromazine.
Perlakuan Biji Pepaya dalam Larutan 3-Indolebutyric Acid, Absicic Acid dan Ukuran Polibag terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhannya Triatminingsih, Rahayu; Handayani, Sri; Subakti, Hary; Purnomo, Sudarmadi
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil persilangan antartanaman berdasarkan tipe seks menghasilkan segregasi dengan proporsi yang berbeda-beda.Teknik identifikasi seks sejak fase benih sangat dibutuhkan dalam upaya mempercepat siklus generasi dan efisiensiruang uji dalam uji persilangan. Penelitian ini merupakan tahap awal untuk mengidentifikasi bibit sejak dini yaitudengan memperlakukan biji dalam larutan auksin dan ABA.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh datadaya pertumbuhan bibit pepaya yang diperlakukan dengan indole bu tyric acid (IBA) dan absicic acid (ABA).Penelitian ini dilaksanakan di Sumatera Barat mulai bulan Agustus 1999 sampai dengan Maret 2000. Penelitianmenggunakan Rancangan Acak Kelompok sebanyak tiga ulangan yang disusun secara faktorial. Untuk mendapatkanteknik identifikasi tersebut dapat didekati dengan mendiskripsikan benih semaian sampai dengan tanaman di polibag.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan IBA dan ABA berpengaruh terhadap pertumbuhan daun dan tinggitanaman. IBA dan ABA tidak berpengaruh nyata terhadap di am e ter batang. Pada awal pertumbuhan, di am e ter batangdipengaruhi oleh tempat. Pengaruh IBA dan ABA nyata pada perkecambahan biji terutama untuk dampit, lokal kuningdan lokal jingga.Kata kunci : Carica pa paya; Biji pepaya; IBA; ABAAB STRACT. Triatminingsih. R., S. Handayani., H. Subakti., and S. Purnomo. 2002. The ef fect of IBA, ABAand con tainer size for seed ger mi na tion and seed grow ing of pa paya. This ex per i ment has been done at Solok Re -search In sti tute for Fruit Crops. Outpolynation the plant ac cord ing to sex type pro duced highly seg re ga tion. The pro -por tion of seg re gate was not the same. Iden tity of va ri ety is the main key in pa paya cross ing. Sex iden ti fi ca tiontech nique at seed ling was de manded. This tech nique can be used to accelarate re gen er a tion cy cle and ef fi ciency ontest ing the new clones. The aims of this ex per i ment was to find out the seed ger mi na tion and seed ling growth. The re -search was con ducted at West Sumatera from Au gust 1999 un til March 2000. The ex per i ment was us ing a Ran dom -ized Block De sign with three rep li ca tion. The tech nique can be worked out by mor phol ogy de scrip tion from seed lingup to the plant that was grown in a polybag. The re sults in di cated that ABA and IBA was sig nif i cant by af fect the leafgrowth and hight of stem. There was no sig nif i cantly dif fer ent on stem di am e ters. At early growth polybag sizes wassig nif i cantly af fect the stem di am e ter. IBA and ABA was af fected to the ger mi na tion of pa paya seed va ri ety, dampit,lo cal kuning and lo cal jingga.
Teknik Perbanyakan Masal Predator Menochilus sexmaculatus Pengendali Serangga Bemisia tabaci Vektor Virus Kuning pada Tanaman Cabai Muharam, Agus; Setiawati, Wiwin
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bemisia tabaci Genn. merupakan hama penting pada tanaman cabai merah. Peran penting lainnya adalah sebagai serangga vektor penular virus gemini yang menyebabkan penyakit kuning pada komoditas tersebut. Penelitian mengenai teknik perbanyakan masal predator Menochilus sexmaculatus pengendali serangga B. tabaci vektor virus kuning pada tanaman cabai telah dilaksanakan di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang sejak bulan April sampai dengan November 2006. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap, yaitu (1) perbanyakan M. sexmaculatus, menggunakan rancangan acak kelompok faktorial, dengan 4 tanaman inang dan 2 serangga mangsa, dan (2) uji daya mangsa pada B. tabaci dan Myzus persicae, menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara tanaman dan mangsa yang digunakan. Tanaman caisin dan mangsa M. persicae merupakan perlakuan yang terbaik untuk perbanyakan predator M. sexmaculatus dan dapat menghasilkan telur sebanyak 893,33 butir, diikuti oleh kombinasi antara tongkol jagung dan M. persicae serta caisin dan B. tabaci, seekor betina M. sexmaculatus mampu menghasilkan telur sebanyak 140-975 butir selama 8-11 hari atau 12-89 ekor/hari. Puncak peneluran terjadi pada hari ke-5 sampai hari ke-7, mortalitas larva M. sexmaculatus berkisar antara 28,66-45,47%, perbandingan antara jantan:betina 1:1, selama 24 jam M. sexmaculatus mampu memangsa B. tabaci sebanyak 51,50 ekor dan pada M. persicae sebanyak 168,50 ekor; daur hidup predator M. sexmaculatus berkisar antara 56 hingga 78 hari dengan rincian telur 4-5 hari, larva 20-25 hari, pupa 4-6 hari dan imago 28-42 hari. Stadia imago terutama betina lebih banyak memangsa B. tabaci dibandingkan dengan jantan ataupun stadia larva. Predator betina paling cepat menemukan mangsa dibandingkan dengan jantan ataupun larva. Predator M. sexmaculatus betina hanya memerlukan waktu 20,33 detik pada jumlah mangsa 120 ekor. Penggunaan M. sexmaculatus untuk pengendalian B. tabaci secara hayati sangat potensial untuk menekan penggunaan insektisida sintetis.ABSTRACT. Muharam, A. and W. Setiawati. 2007. The Mass Propagation Technique of Menochilus sexmaculatus, the Predator of Bemisia tabaci, the Chilli-Yellow-Viruses Transmitting Vector. Bemisia tabaci is apparently known as one of the major pests on chilli pepper. Another important role of the pest is the capability of transmitting gemini virus on chilli pepper causing yellow diseases. A study on mass propagation of M. sexmaculatus, the predator of B. tabaci, was carried out in Screenhouses of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, from April to November 2006. Consecutive steps of the study were (1) propagation of the predator using a factorial randomized block design, with 4 host plants and 2 preys, and (2) the test of the capability of M. sexmaculatus as the predator of B. tabaci and Myzus persicae, utilyzing a randomized block design with 6 treatments and 4 replications. The results indicated that a correlation was occurred between host plants and preys. The combination of Brassica sinensis as a host plant with M. persicae as a prey resulted in the best treatment for propagation of the predator with eggs production of 893.33, followed by the combinations of Zea mays with M. persicae, and B. sinensis with B. tabaci. One female of M. sexmaculatus was able to produce 140 to 975 eggs within 8 to 11 days, or 12 to 89 eggs per day. The peak of egg production was occurred from the 5th to 7th day. Mortality of M. sexmaculatus larvae was between 28.66 and 45.47%. The best ratio of female and male of the predator was 1 : 1. Within 24 hours the predator was able to attack B. tabaci and M. persicae up to 51.50 and 168.50 larvae, respectively. Life cycle of the predator was between 56 and 78 days: egg 4-5 days, larvae 20-25 days, pupa 4-6 days, and imago for 28-42 days. Female predators attacked B. tabaci much more than male and larvae. Female predators found preys faster than male ones and larvae, 20.33 seconds for 120 preys. The application of M. sexmaculatus for biological control of B. tabaci will obviously decrease the use of synthetic insecticides.
Perbaikan Cara Ekstraksi untuk Meningkatkan Rendemen dan Mutu Minyak Melati Prabawati, Sulusi; A., Endang D.; Setiabudi, Dondy Anggono
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi melalui ekstraksi bertahap denganmeningkatkan perbandingan bunga dan pelarut. Penelitian dikerjakan pada melati gambir (Jasminum officinale),diekstraksi dengan pelarut heksan selama 12 jam. Pelarut diuapkan untuk mendapatkan concrete. Concrete yangdiperoleh dilarutkan dengan etanol dan diuapkan sampai didapatkan minyak melati. Perlakuan yang diterapkanadalah perbandingan bunga dan pelarut (1 : 1,5 dan 1 : 2), tahapan ekstraksi (sekali, dua kali, dan tiga kali) denganpelarut heksan. Rancangan percobaan menggunakan acak lengkap pola faktorial 2 x 3 dengan tiga ulangan. Pa ram e teryang diamati adalah rendemen concrete dan minyak, jumlah penggunaan heksan, indeks bias, dan komponenpenyusun minyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi bunga melati pada perbandingan bunga dan pelarut(1 : 2) pada tahap ekstraksi dua kali menghasilkan rendemen minyak tertinggi (0,1326%), dengan penggunaan pelarutpal ing sedikit (528,2933 ml) untuk menghasilkan 1 g minyak. Mutu minyak melati yang dihasilkan mempunyai indeksbias 1,4309 dan mengandung kadar komponen penyusun minyak atsiri tertinggi (34,3357%) dengan delapankomponen sudah diidentifikasi (linalol, linalil asetat, indol, fenol, bensil asetat, metil antranilat, bensil alkohol, dan cisjasmon). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pemilihan proses ekstraksi bunga melati agarmenghasilkan rendemen minyak yang tinggi dengan penggunaan pelarut min i mal.Kata kunci : Jasminum officinale; Ekstraksi minyak melati; Kualitas minyak melatiAB STRACT. Prabawati, S., Endang D. A., Suyanti, and Dondy ASB. 2002. Im prove ment of ex trac tion methodto in crease quan tity and qual ity of jas mine oil re cov ery. This re search was aimed to in crease the re cov ery of oil ex -trac tion ab so lute through in creas ing the flower-sol vent ra tio and multi-ex trac tion stages of red jas mine (Jasminumofficinale). Hex ane perfumary grade was used on sim ple ex trac tion method by dip ping the flow ers and man ual stir ringfre quently. Af ter 12 hours of ex trac tion, sol vent was evap o rated to pro duce con crete. Eth a nol 95% was added to dis -solve the con crete, and then the so lu tion was fil tered to sep a rate wax frac tions. The clear so lu tion was evap o rated topro duce ab so lute. The treat ments tested were flower-sol vent ra tio (1 : 1.5 and 1 : 2) and stages of ex trac tion (1, 2, and 3stage of ex trac tion), and fac to rial de sign 2 x 3 with three rep li ca tions was used. Ob ser va tions were done on the yield ofcon crete and ab so lute, to tal sol vent used on ex trac tion, re frac tion in dex of ab so lute, and the com po si tion of es sen tialoil. Re sults showed that, flower-sol vent ra tio (1 : 2) and two stage of ex trac tion had the high est per cent age of ab so lute(0.1326%) and the low est to tal sol vent used (528.2933 ml to get 1 g of ab so lute). Jas mine ab so lute was in good qual itywith re frac tion in dex of 1.4309 and con tained 34.3357% of es sen tial oil com po nent (linalool, linalil ac e tate, indole,phenole, benzil ac e tate, methyl antranilate, benzil al co hol, and cis jasmone) were indentified. Futhermore, the re sult ofthis study can be used an ap pro pri ated ef fec tive method of jas mine oil ex trac tion method.

Page 43 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue