cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengaruh Medium Dasar dan Amonium Nitrat terhadap Pembentukan, Regenerasi Kalus, dan Penggandaan Tunas Hasil Kultur Anther Anthurium Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n1.2013.p9-20

Abstract

Medium dasar dan amonium nitrat merupakan dua komponen penting yang berpengaruh besar terhadap keberhasilan kultur anther tanaman. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh medium dasar dan konsentrasi amonium nitrat terhadap pembentukan, pertumbuhan, dan regenerasi kalus. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung sejak Bulan Januari hingga Oktober 2008. Spadik Anthurium andraeanum Linden ex André kultivar Tropical dan kalus hasil regenerasinya digunakan dalam penelitian ini. Medium dasar yang digunakan dalam percobaan ini ialah: (1) ½ WT, (2) ½ NWT, dan (3) NWT, sedangkan konsentrasi amonium nitrat yang diaplikasikan ialah (1) 750 mg/l, (2) 550 mg/l, (3) 413 mg/l, (4) 206 mg/l, dan (5) 103 mg/l. Media penggandaan tunas (MP) pada percobaan ini ialah (1) 0,5 mg/l TDZ, 1,0 mg/l BAP, dan 0,01 mg/l NAA (sebagai kontrol, MP-1), (2) 1,0 mg/l TDZ, 1,0 mg/l BAP, dan 0,01 mg/l NAA (MP-2), (3) 1,5 mg/l TDZ, 1,0 mg/l BAP, dan 0,01 mg/l NAA (MP-3), (4) 1,0 mg/l TDZ, 1,5 mg/l BAP, dan 0,01 mg/l NAA (MP-4), (5) 0,5 mg/l TDZ, 2,0 mg/l BAP, dan 0,01 mg/l NAA (MP-5), (6) 1,0 mg/l BAP dan 0,01 mg/l NAA (MP-6), (7) 0,5 mg/l BAP (MP-7), dan (8) tanpa hormon (MP-8). Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap (RAK) dan RAK pola faktorial dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi amonium nitrat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap induksi pembentukan kalus. Konsentrasi 750 mg/l pada ½ WT merupakan kombinasi terbaik dengan potensi tumbuh anther mencapai 54% dengan 38% regenerasi anther dan 2,3 kalus per perlakuan. Medium ½ WT dan 205 mg/l amonium nitrat merupakan kombinasi perlakuan terbaik untuk pertumbuhan kalus dan pembentukan tunas. Kombinasi ini mampu menstimulasi pertumbuhan kalus hingga 205 mm3 dengan jumlah tunas terbanyak mencapai 5,2 tunas per eksplan. Medium MP-3 (½ WT yang ditambah 1,5 mg/l TDZ, 1,0 mg/l BAP, dan 0,01 mg/l NAA) merupakan kombinasi hormon yang sesuai untuk penggandaan tunas hasil kultur anther Anthurium. Medium ½ WT yang ditambah dengan 0,02 mg/l NAA dapat digunakan untuk pengakaran tunas hingga membentuk planlet yang siap untuk aklimatisasi.
Pengelolaan Fisik, Kimia, dan Biologi Tanah untuk Meningkatkan Kesuburan Lahan dan Hasil Cabai Merah Sumarni, Nani; Rosliani, Rini; Duriat, Ati Srie
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 mdpl.) dengan jenis tanah Andisol, dari bulan Juni 2004-Januari 2005. Tujuan percobaan adalah mengetahui pengaruhpemberian zeolit, jenis pupuk kandang, dan dosis NPK terhadap kesuburan tanah dan hasil cabai merah varietas Tanjung1. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri ataspemberian zeolit (0 dan 500 kg/ha), jenis pupuk kandang (kuda, sapi, dan ayam) masing-masing 20 t/ha, dan dosis NPK15-15-15 (250, 500, 750, dan 1.000 kg/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara perlakuanzeolit, jenis pupuk kandang, dan dosis NPK 15-15-15 terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah. Pemberian zeolit500 kg/ha tidak berpengaruh terhadap sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, begitu pula terhadap pertumbuhan danhasil cabai. Jenis pupuk kandang yang berbeda pada tingkat dosis yang sama (20 t/ha) tidak berpengaruh terhadappertumbuhan dan hasil cabai. Jenis pupuk kandang yang paling baik untuk pertumbuhan dan hasil cabai merah adalahpupuk kandang ayam. Pengurangan dosis pupuk NPK 15-15-15 dari 1.000 kg/ha menjadi 250 kg/ha tidak menurunkanhasil cabai merah secara nyata. Pemberian pupuk kandang perlu diberikan setiap kali bertanam, tetapi pupuk NPKtidak perlu diberikan secara berlebihan, agar produktivitas lahan dapat dipertahankan.ABSTRACT. Sumarni, N., R. Rosliani, and A.S. Duriat. 2010. Physical, Chemical, and Biological SoilManagement to Increase Soil Fertility and Hot Pepper Yield. The experiment was conducted at the ExperimentalGarden of Indonesian Vegetable Research Institute-Lembang (1,250 m asl.) on Andisol soil type from June 2004 upto January 2005. The aim of the experiment was to determine the effect of zeolite, stable manure, and NPK fertilizerapplications on soil fertility and hot pepper cv. Tanjung 1 yield. The treatments were set up in a factorial randomizedblock design with three replications. The treatments consisted of three factors, viz. (1) zeolite (0 and 500 kg/ha), (2)kinds of stable manure (horse, cow, and chicken manures) 20 t/ha respectively, and (3) NPK 15-15-15 (250, 500,750, and 1,000 kg/ha). The results indicated that there were no interaction effects between zeolite, stable manure, andNPK 15-15-15 on the growth and yield of hot pepper. Application of zeolite 500 kg/ha did not significantly affect thephysical, chemical, and biological characteristics of soil. It also did not affect on the growth and yield of hot pepper.The physical, chemical, and biological conditions of soil were not affected by the kinds of stable manure. But chickenmanure application gave the highest yield of hot pepper. Decreasing of NPK 15-15-15 dosages from 1,000 to 250 kg/ha did not significantly affect on the yield of hot pepper. Applying of stable manure (organic fertilizer) and adequatedosage of NPK fertilizer was necessary for each planting season to maintain the soil productivity
Beberapa Aspek Bioekologi Hama Penggerek Batang Mangga Muryati Muryati; M Istianto; Affandi Affandi
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penggerek batang merupakan masalah utama pada budidaya mangga di wilayah rendah basah. Informasimengenai hama ini masih sangat sedikit, sehingga upaya untuk mendapatkan teknologi pengendalian agak sulitdilakukan. Penelitian bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai jenis penggerek, tingkat serangan OPT padabeberapa lokasi dan varietas mangga, serta eksplorasi untuk mendapatkan musuh alaminya. Penelitian dilakukandengan metode survai mulai Januari 2005 sampai dengan Desember 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwahama penggerek yang menyerang tanaman mangga di Sumatera Barat dan Sumatera Utara adalah Rhytidodera integra(Coleoptera: Cerambycidae) (Kolbe 1886). Selain didominasi jenis hama tersebut, di Kebun Percobaan Balai PenelitianTanaman Buah Tropika juga ditemukan jenis lain, yaitu spesies Palimna annulata Oliver (Coleoptera: Cerambycidae).Perilaku kedua jenis hama tersebut sama, yaitu menyerang mangga mulai dari pucuk kemudian menuju ke bagianbatang utama. Hama penggerek batang menyerang hampir semua varietas yang ditemui dan ditemukan di semuadaerah yang disurvai. Tingkat serangan rerata hama penggerek batang di Sumatera Barat 8,83% dan di Sumatera Utara10,36%. Varietas mangga yang terserang paling parah di Sumatera Barat adalah Cengkir (23,26%) dan di SumateraUtara adalah Podang (19,01%). Lima jenis agens pengendali biologi hama penggerek batang mangga ditemukanselama pelaksanaan survai. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi awal untuk menyusun teknologipengendalian hama penggerek batang mangga.ABSTRACT. Muryati, M. Istianto, and Affandi. 2010. Some Bioecological Aspects of Mango Stem Borer.Stem borer is the most important pest on mango in the wet lowland area. The information about this pest was stillvery limited, therefore, it is difficult to arrange its control strategy. The research were intended to collect data on thespecies of stem borer from some locations, its damage severity on some mango varieties as well as its natural enemies.The study was conducted by survey method from January 2005 to December 2006. The research revealed that thestem borer found in some locations was dominated by Rhytidodera integra (Coleoptera: Cerambycidae) (Kolbe 1886).Besides this species, another Cerambycidae, i.e. Palimna annulata Oliver was also found at Aripan Research Stationof Indonesian Tropical Fruit Research Institute. Both species have a similar behavior. The stem borer attacked almostall varieties that were found in research locations. The damage severity of mango by stem borer was 8.83 and 10.36%in West Sumatera and in North Sumatera, respectively. The most severe damage of mango variety in West Sumaterawas Cengkir (23.26%), while in North Sumatera was Podang (19.01%). Five species of natural enemies were foundduring the study. The results of this experiment can be used as initial information to control mango stem borer
Deteksi dan Identifikasi Chrysanthemum Stunt Viroid pada Tanaman Krisan Menggunakan Teknik Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (Detection and Identification of Chrysanthemum Stunt Viroid on Chrysanthemum Using Reverse Transcriptase Polymerase Erniawati Diningsih; I gede Suastika; Yoyoh Sulyo; Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n1.2013.p1-8

Abstract

Chrysanthemum stunt viroid (CSVd) merupakan salah satu viroid yang menginfeksi tanaman krisan di Indonesia. Tujuan penelitian ialah untuk mengembangkan metode deteksi CSVd secara molekuler dan mengkarakterisasi CSVd isolat Indonesia. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Virologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, dan Rumah Kaca serta Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, Cianjur, Jawa Barat, dari Bulan Mei 2007 sampai dengan Juni 2008. RNA total diekstraksi dari daun tanaman krisan yang dihasilkan di rumah kaca menggunakan rneasy plant mini kits. Genom CSVd diamplifikasi dengan pasangan primer 5’-CAACTGAAGCTTCAACGCCTT-3’ dan 5’-AGGATTACTCCT- GTCTCGCA-3’. Suatu fragmen dengan ukuran 250 bp mengindikasikan bahwa c-DNA CSVd berhasil diamplifikasi dari tanaman krisan sakit menggunakan teknik RT-PCR. Urutan cDNA dari salah satu CSVd isolat Indonesia berhasil ditemukan dengan urutan sebagai berikut: cttaggattactcctgtctcgcaggagtggggtcctaagcctcattcga ttgcgcg aatctcgtcgtgcacttcctccagggatttccccgggggataccctgtaag- gaacttcttcgcctcatttcttttaagcagcagggttcaggagtgcaccacaggaaccacaagtaagtcccgagggaacaaaactaaggttccacgggcttactccctagcccaggtag- gctaaagaagattggaa. Urutan basa-basa tersebut memiliki tingkat kesamaan yang tinggi dengan sekuen nukleotida isolat CSVd dari Jepang, Korea, India, dan Amerika. 
Design Pengembangan Hortikultura Tahunan Berkelanjutan Di DAS Ciliwung Hulu W D Wibawa; H Hardjomidjojo; Guntur Irianto; B Pramudya
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Kondisi hidrologis DAS Ciliwung Hulu saat ini dalam keadaan kritis akibat dari penurunan areal vegetasi,khususnya tanaman tahunan yang mempunyai fungsi utama menahan, menangkap, menguapkan, dan mengalirkanair hujan ke dalam tanah maupun di atas permukaan tanah, sebagai bagian penting dari siklus hidrologi. Untukmemperbaiki kondisi hidrologis DAS bagian hulu sebagai wilayah tangkapan air, maka diperlukan peningkatan arealtutupan lahan dengan tanaman tahunan yang sekaligus mampu memenuhi kriteria secara ekonomis menguntungkan,ramah lingkungan, dan dapat diterima oleh masyarakat. Tujuan penelitian ialah menentukan jenis tanaman hortikulturatahunan yang memenuhi kriteria yang diharapkan dan sesuai dengan wilayah pengembangan di DAS CiliwungHulu. Untuk itu diidentifikasi lahan yang terdiri atas 30 unit lahan >700 m dpl. dan 21 unit lahan <700 m dpl..Penelitian berhasil mengidentifikasi penyebaran 24 jenis tanaman hortikultura tahunan di masing-masing unit lahan.Berdasarkan kombinasi antara jumlah dan sebaran tanaman, ditentukan 10 jenis tanaman hortikultura tahunan potensialmenggunakan metode perbandingan indeks kinerja. Kesepuluh jenis tanaman tersebut berturut-turut ialah nangka,lengkeng, durian, melinjo, mangga, alpokat, rambutan, limus, petai, dan jengkol. Dengan menggunakan kombinasianalisis kesesuaian lahan, jumlah, dan sebaran tanaman, ditetapkan arahan rekomendasi pengembangan tanamanhortikultura tahunan, yang merupakan tanaman dominan untuk dikembangkan di DAS Ciliwung Hulu. Hasil analisisfinansial menunjukkan bahwa tanaman lengkeng mempunyai nilai NPV tertinggi sebesar Rp42.278.400,00, sedangkantanaman mangga dengan nilai NPV terendah, yaitu Rp13.205.675,00. Kombinasi pola tanam alpokat-nangka-lengkengmenunjukkan nilai NPV tertinggi, yaitu sebesar Rp38.779.187,00.ABSTRACT. Wibawa, W.D., H. Hardjomidjojo, G. Irianto, and B. Pramudya. 2010. The Development Designof Sustainable Perennial Horticulture in Upper Ciliwung Watershed. Hydrological condition of Upper CiliwungWatershed is critical due to rapid decrease of the perennial vegetation area which has a main function to catch anddeliver rainfalls into the soil as part a hydrological cycle. To improve hydrological condition of upper watershed asa catchment area it is necessary to develop perennial vegetation which are economically beneficial, environmentallyfriendly, as well as socially accepted by the community. Therefore, the objective of this research was to determineperennial horticultural commodities and areas in the Upper Ciliwung Watershed. Land units have been identified anddelineated, 30 land units above 700 m asl. and 21 land units below 700 m asl.. Existing 24 perennial horticultures andtheir distribution have been identified and predicted. Combination of plant distribution and quantity was used as abase to select top 10 priority perennial horticultural plants by using comparative performance index (CPI) method.Ten commodities were identified such as jack fruit, longan, durian, Gnetum gnemon, mango, avocado, rambutan,Mangifera odorata, Parkia sp., and Pithecellobium. Combination of land suitability, number, and distribution ofselected perennial horticulture commodities in every land units as well as limitation of maximum three commoditiesto develop for each land unit has been used to recommend the development of perennial horticulture in every land unit.Jack fruit, avocado, durian, longan, and G. gnemon were the dominant recommended commodities to develop. Longanindicates the highest NPV (Rp42,278,400.00), meanwhile mango was the lowest (Rp13,205,675.00). Combinationof avocado-jack fruit-longan indicates the highest NPV (Rp38,779,187.00).
Identifikasi dan Analisis Tingkat Parasitasi Jenis Parasitoid terhadap Hama Lalat Buah Bactrocera tau pada Tanaman Markisa Octriana L
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n2.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Untuk mengidentifikasi jenis parasitoid dan menganalisis tingkat parasitasinya pada hama lalat buahBactrocera tau, pupa dikumpulkan dari kebun milik petani di Alahan Panjang, Solok. Pupa tersebut dibawa keLaboratorium Proteksi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika dan dipelihara pada suhu kamar. Pupa dimasukkanke dalam cawan petri yang dialasi tisu basah, kemudian dihitung jumlah pupa yang menetas, pupa yang diserangparasitoid, serta parameter mortalitas lainnya. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai Desember 2006. Hasilidentifikasi diperoleh empat jenis parasitoid yang memparasit B. tau, yaitu Opius oophilus, O. longicaudatus, O.vandenboschi, dan Tetrastichus giffardianus. Parasitoid ini menyebabkan kematian pupa yang dikumpulkan dilapangan sebesar 50,09% dan memparasit larva pada buah yang jatuh sebesar 31,20%. Tetrastichus giffardianus lebihdominan di kebun dengan kemampuan parasitasi 38,06%, sedangkan Opius spp. pada stadia larva, lebih dominandengan kemampuan parasitasi 24%. Parasitoid ini memiliki potensi sebagai agens pengendali hama secara terpadudi perkebunan markisa.ABSTRACT. Octriana, L. 2010. Identification of Parasitoid and Analysis of Its Parasitic Level on Fruit FlyBactrocera tau in Passion Fruit. Information of parasitoid diversity of fruit fly in passion fruit is still limited.Therefore, identification of parasitoid and analysis of its parasitic level is important. To obtain parasitoids, the pupaewere collected from fields in Alahan Panjang. The sample of pupae mass were reared at the Laboratory of IndonesianTropical Fruits Research Institute, Solok, West Sumatera under room temperature. Each pupae was isolated in petridishand recorded on hatching failure, pupae which were attached by parasitoid, and other mortality parameters. Theresearch was conducted from Juli to December 2006. The results indicated that four species of parasitoid, namelyOpius oophilus, O. longicaudatus, O. vandenboschi, and Tetrastichus giffardianus were found. The four parasitoidscould occur simultaneously in the field, resulting synergistic parasitism up to 50.09%. On the fallen fruits, theirparasitism reached 31.20%. Tetrastichus giffardianus was clearly predominant in the field and represented around38.06%, whereas Opius spp. was predominant on the larvae, amounted about 24%. These indigenous parasitoidswere potentially used as biocontrol agent in the integrated pest management program in passion fruits orchard.
Pengaruh Myoinositol dan Arang Aktif terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Dendrobium dalam Kultur In Vitro Widiastoeti, Dyah; Santi, Anggraeni; Solvia, Nina
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n3.2012.p205-209

Abstract

ABSTRAK.  Anggrek Dendrobium merupakan tanaman hias komersial yang sangat penting di Indonesia. Optimasi media dalam kultur in vitro sangat diperlukan untuk meningkatkan dan mempercepat pertumbuhan planlet. Salah satu cara untuk mengoptimalisasi media in vitro yaitu dengan pemberian myoinositol dan arang aktif. Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh myoinositol dan arang aktif terhadap pertumbuhan planlet Dendrobium. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu, Jakarta mulai Bulan Juni sampai dengan Desember 2010.  Metode penelitian menggunakan rancangan acak  kelompok dengan delapan perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas konsentrasi myoinositol  0, 50, 100, dan 150 mg/l dengan dan tanpa penambahan arang aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian myoinositol 50 mg/l tanpa arang aktif dapat meningkatkan tinggi planlet, panjang dan lebar daun, sedangkan myoinositol 100 mg/l dengan penambahan arang aktif 2 g/l meningkatkan pertumbuhan jumlah dan panjang akar terbaik.ABSTRACT. Widiastoety, D, Santi, A, and Solvia, N 2012. Effect of Myoinositol and Activated Charcoal on the Growth of Dendrobium Orchid Plantlets in In Vitro Culture. This study was aims to determine the effect of myoinositol and activated charcoal on the growth of Dendrobium plantlets. Dendrobium is one of the most important commercial orchids in Indonesia. Media optimization is critical factor to improve and to promote plantlet growth.  One of the methods to enrich the medium was by the use of myoinositol and activated charcoal. The study was conducted at the In Vitro Culture Laboratory of Indonesian Ornamental Crops Plants Research Institute Pasarminggu, Jakarta from June through December 2010. A completely randomized design with eight treatments and five replications was used in this experiment. The treatments given were myoinositol 0, 50, 100, and 150 mg/l with and without addition of activated charcoal. The results showed that application of myoinositol 50 mg/l without activated charcoal enhance the plantlet height, length, and leave width, while myoinositol 100 mg/l with addition of activated charcoal 2 g/l increased the highest number of the root and the longest root growth.
Respons Jenis Perangsang Tumbuh Berbahan Alami dan Asal Setek Batang Terhadap Pertumbuhan Bibit Tin (Ficus carica L.) Marpaung, Agustina E; Hutabarat, Rina Christina
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p37-43

Abstract

Perbanyakan tanaman tin pada umumnya dilakukan dengan setek batang. Penanaman setek batang tanpa perlakuan menghasilkan persentasi jadi bibit yang relatif rendah sehingga diperlukan suatu perlakuan yang tepat pada setek sebagai sumber bibit yang dapat meningkatkan persentase jadi bibit. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan alami dan asal setek batang terhadap pertumbuhan bibit tin. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl. jenis tanah Andisol yang dilaksanakan dari bulan Juni sampai November 2011. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua ulangan. Sebagai faktor I adalah jenis bahan alami yang terdiri atas a0= air, a1=air kelapa 100%, a2= air kelapa 50%, a3= sari bawang merah 100%, a4= sari bawang merah 50%, dan a5= pembanding (Rootone-F 100 ppm), sedangkan faktor II adalah asal setek bibit yang terdiri atas i1 = pangkal batang, i2 = tengah batang, dan i3= ujung batang. Sumber bibit berasal dari satu pohon induk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh nyata perlakuan asal setek batang pada setiap parameter yang diamati, tidak terdapat interaksi antara jenis bahan alami dan asal setek tanaman bibit tin. Jenis bahan alami air kelapa 50% menghasilkan waktu bertunas lebih cepat, panjang tunas, jumlah daun, panjang, dan bobot basah akar yang tinggi. Bahan alami air kelapa 50% dapat menggantikan perangsang akar sintetis sebagai zat pengatur tumbuh pada setek batang tin. Hasil dari penelitian akan bermanfaat dalam meningkatkan persentase jadi perbanyakan bibit tin melalui setek batang dengan menggunakan bahan alami sebagai perangsang tumbuh.
Induksi Kalus dan Bulblet serta Regenerasi Tanaman Lili Varietas Sorbon dari Tangkai Sari Bunga Kurniati, R; Purwito, A; Wattimena, G A; Marwoto, Budi; Supenti, Supenti
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n4.2012.p303-308

Abstract

Perbanyakan lili umumnya dilakukan secara vegetatif melalui teknik konvensional menggunakan umbi. Kemampuan totipotensi tanaman memungkinkan setiap bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk perbanyakan tanaman, termasuk tangkai sari bunga. Tujuan penelitian ialah mendapatkan protokol perbanyakan lili menggunakan tangkai sari bunga sebagai eksplan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Cipanas, dari Bulan Februari sampai dengan Oktober 2011. Tangkai sari diinduksi membentuk kalus pada beberapa media perlakuan yang mengandung TDZ 0,1-0,4 mg/l, kinetin 0,1-0,4 mg/l, dan 2,4-D 0,05 mg/l. Selanjutnya kalus diregenerasikan menjadi planlet. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 12 perlakuan media induksi kalus dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati ialah waktu inisiasi kalus, bobot basah kalus,  jumlah umbi yang terbentuk, serta jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media M1-K (MS + TDZ 0,1 mg/l + 2,4-D 0,05 mg/l + kinetin 0,1 mg/l) merupakan media terbaik untuk mendapatkan waktu inisiasi kalus lebih awal dibanding media yang lain. Bobot basah kalus tertinggi diperoleh pada media M3-K (MS + TDZ 0,2 mg/l + 2,4-D 0,05 mg/l + kinetin 0,3 mg/l). Jumlah daun dan jumlah umbi mini tidak berbeda nyata pada media perlakuan yang diuji.
Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu untuk Mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan Utama pada Budidaya Paprika Laksminiwati Prabaningrum; Tonny Koestani Moekasan
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n3.2011.p245-253

Abstract

Organisme penganggu yang paling merugikan dalam budidaya paprika ialah hama trips dan penyakit embun tepung. Upaya pengendalian hama tersebut oleh petani bertumpu pada penggunaan pestisida, tetapi sampai saat ini hasilnya kurang memuaskan. Oleh karena itu perlu dicari alternatif untuk mengatasi masalah tersebut dan salah satu di antaranya ialah dengan menerapkan teknologi pengendalian hama terpadu (PHT). Penelitian mengenai penerapan teknologi PHT pada budidaya paprika dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat (± 1.250 m dpl) dari bulan Januari sampai dengan Desember 2007. Tujuan penelitian ialah mengetahui kelayakan  komponen teknologi PHT untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada budidaya paprika. Pada penelitian ini digunakan metode petak berpasangan untuk membandingkan teknologi PHT dan teknologi konvensional. Komponen teknologi PHT yang dirakit terdiri atas pelepasan predator Menochilus sexmaculatus (1 ekor/ tanaman, 1 kali/ minggu), penyemprotan Verticilium lecanii (3 x 108 spora/ml, 1 kali /minggu), dan penggunaan pestisida selektif berdasarkan ambang pengendalian. Teknologi konvensional ialah teknologi budidaya yang umum digunakan oleh petani paprika di Kabupaten Bandung Barat berdasarkan hasil wawancara dengan 20 orang petani. Tiap perlakuan terdiri atas 200 tanaman paprika yang dibudidayakan secara hidroponik di dalam rumah kasa dan tiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi PHT dapat mengurangi penggunaan pestisida sebesar 84,60%. Kandungan residu pestisida pada buah paprika dapat ditekan hingga di bawah batas maksimum residu (BMR) yang telah ditetapkan, sedang pada perlakuan konvensional residu insektisida Imidakloprid dan fungisida Fenarimol melampaui nilai BMR. Rakitan teknologi PHT ini layak direkomendasikan kepada petani.Main pests of sweet peppers are thrips and powdery mildew that can reduce the yield. Farmers generally use pesticide for controlling the pests but the result was not satisfy. Therefore it is important to determine alternative methods, and one of them is implementing integrated pests management (IPM). Study of IPM implementation to control main pests on sweet peppers cultivation was conducted in Indonesian Vegetables Research Institute at Lembang (1,250 m asl), West Bandung District, West Java from January until December 2007. The aim of the experiment was to study IPM technology feasibilities to control main pests on sweet peppers. The experimental design used the study was a paired-comparison method to compare IPM technology and conventional technology. The IPM technology tested consisted of the releasing of predator Menochilus sexmaculatus (1 adult/ plant, once a week), spraying of Verticilium lecanii (3 x 108  spores/ ml, once a week), the use of control threshold and selective pesticides. Conventional technology tested was the technology used by farmers in West Bandung District according to the interview with 20 farmers. Each treatment consisted of 200 sweet peppers plants cultivated in hydroponics system in a screenhouse, and each treatment was repeated four times. The results of the study showed that implementation of IPM technology  reduced the use of pesticides (84.60%), and reduced the pesticides residue content in the sweet pepper fruit under the maximum residue level (MRL) in the other hand, in the conventional treatment, the residue of Imidacloprid and Fenarimol was above MRL. The yield in both treatments was equal. Integrated Pests Management technology can be recommended to the farmers.

Page 47 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue