cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengaruh Beberapa Jenis Car rier terhadap Daya Multiplikasi dan Infeksi Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) yang Dikemas ke Dalam Kapsul Muhamad Jawal Anwarudinsyah; - Jumjunidang; Y Herizal
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n1.2004.p1-6

Abstract

Telah dilakukan percobaan pengaruh beberapa jenis car rier terhadap daya multiplikasi dan infeksi cendawanmikoriza arbuskula (CMA) yang dikemas ke dalam kapsul, yang dilakukan di laboratorium Balitbu Solok. Penelitiandilaksanakan selama 10 bulan, mulai Oktober 2001 sampai Agustus 2002. Rancangan yang digunakan adalah acakkelompok faktorial dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. Faktor pertama adalah jenis car rier, yang terdiridari tiga macam yaitu tanah hitam, tanah merah, dan tepung. Faktor kedua adalah jenis CMA, yaitu CMA campurandari Padang dan CMA campuran dari Sijunjung. Spora CMA dicampur dengan masing-masing car rier kemudiandimasukkan ke dalam kapsul. Selanjutnya setiap kapsul yang berisi spora CMA disimpan selama 2 bulan pada suhukamar, kemudian diinokulasikan ke bidang perakaran tanaman Puraria javanica. Pa ram e ter yang diamati meliputidaya multiplikasi dengan menghitung jumlah spora yang terbentuk dan persentase infeksi spora CMA pada akarP. javanica. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah hitam merupakan car rier yang terbaik dalam mengemasspora. CMA campuran dari Padang memiliki kemampuan multiplikasi dan menginfeksi akar P. javanica yang lebihbaik daripada CMA dari Sijunjung.Ef fect of sev eral car ri ers to mul ti plyand in fect arbuscular mycorhyza fungi (AMF) which pack ages into capsule. The ex per i ment was con ducted at thelab o ra tory of In do ne sian Fruit Re search In sti tute (IFRURI) Solok, from Oc to ber 2001 to Au gust 2002 in fac to rial ran -dom ized block de sign with two fac tors and four rep li ca tions. The first fac tor is car ri ers those were black soil, red soiland pow der and the sec ond fac tor is lo ca tion of AMF collected those were AMF from Padang and AMF fromSijunjung. AMF spores were mixed with each car rier and put into cap sule, stored for 2 months in room tem per a tureand then innoculated to the rhyzospere of P. javanica. The param eters observed were the ability of multiplication andthe per cent age of in fec tion of AMF spores in the root of Puraria javanica. The re sult in di cated that black soil was agood car rier for AMF spores pack age. While better mul ti pli ca tion and the per cent age of in fec tion were de rived ofAMF which was col lected from Padang, than from Sijunjung.
Aplikasi Modifikasi Media Generik Dalam Produksi Bibit Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelev) Berkualitas Melalui Kultur In Vitro Herni Shintiavira; Fitri Rahmawati; Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p220-229

Abstract

Aplikasi media generik yang lebih murah menggantikan media Murashige dan Skoog (MS) yang mahal dan tetap mampu menghasilkan bibit krisan berkualitas secara masal memiliki pengaruh yang besar terhadap efisiensi produksi benih secara in vitro. Tujuan penelitian adalah mendapatkan media generik yang optimal untuk produksi benih berkualitas pada beberapa varietas krisan secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanHias Cipanas pada bulan Januari sampai dengan Desember 2011. Perlakuan varietas dan media disusun menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama varietas krisan yaitu Ratnahapsari, Kusumapatria, Cintamani, Sasikirana, dan Kusumaswasti. Faktor kedua adalah modifikasi media generik yaitu (1) ½ MS + 0,1 mg/l IAA sebagai kontrol, (2) 3 g/l Hyponex (20N:20K:20P) + vitamin MS + 0,1 mg/l IAA, (3) 3 g/l Hyponex (20N:20K:20P) dengan 50% air kelapa, (4) 3 g/l Hyponex (20N:20K:20P) + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA, (5) 2 g/l Gandasil D + vitamin MS + 0,1 mg/l IAA, (6) 2 g/l Gandasil D dengan 50% air kelapa, (7) 2 g/l Gandasil D + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA, dan (8) ½ MS dengan bahan teknis + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ratnahapsari merupakan varietas yang paling responsif dalam kultur in vitro dan memiliki tinggi tunas hingga 7,2 cm dengan 7,5 jumlah daun per tunas, 4,0 akar per tunas dan 4,6 cm panjang akar, sementara 3 g/ l Hyponex + 0,1 mg/l vitamin B kompleks teknis + 0,1 mg/l IAA (M63) merupakan media generik yang paling sesuai untuk menggantikan media MS yang menghasilkan planlet dengan tinggi tunas hingga 7,0 cm, 8,8 jumlah daun per tunas, 3,5 akar per tunas, dan 6,9 cm panjang akar dengan efisiensi biaya sebesar 52,38%. Pada tahap aklimatisasi Sasikirana memberikan hasil yang baik dengan tinggi tanaman mencapai 9,2 cm, 10 daun per tanaman, 5,5 akar per tanaman, dan 7,9 cm panjang akar. Media kultur in vitro krisan menggunakan MG3 merupakan media pertumbuhan terbaik ketika diaklimatisasi menggunakan arang sekam dengan tinggi tanaman mencapai 10,2 cm, 10,4 daun per tanaman, 6,8 akar per tanaman, dan 6,1 cm panjang akar. Keberhasilan aklimatisasi planlet krisan pada  kondisi ex vitro berkisar antara 74–99%.
Patogenisitas Isolat Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dalam Mengendalikan Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus Germar Hasyim, Ashol; -, Azwana
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n2.2003.p120-130

Abstract

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Buah Solok pada bulan Mei sampai Oktober 2002. Sampel tanah dikoleksi dari sentral produksi pisang di daerah Baso, Sei Tarab, Sei Sariek, dan Sikabau Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh dosis spora Beauveria bassiana terhadap serangga dewasa dan fase kerentanan serangga pradewasa dan dewasa hama penggerek bonggol pisang. Penelitian ditata dalam rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan dan dua belas perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum efektivitas B. bassiana meningkat dengan meningkatnya dosis untuk keempat isolat yang diuji. Terlihat perbedaan yang nyata infektivitas untuk semua  isolat B. bassiana. Mortalitas serangga dewasa hama penggerek bonggol pisang yang disebabkan oleh jamur entomopatogen B. bassiana dari isolat Baso, Sei Tarab, Sei Sariek, dan Sikabau pada konsentrasi tertinggi (3,2X108 konidia/ml) setelah 14 hari perlakuan berturut-turut adalah 96,67; 90,00;60,00;  dan  83,33%. Jumlah  konidia  yang  dibutuhkan  isolat Baso  untuk  mematikan  50%  serangga  dewasa Cosmopolites sordidus relatif lebih rendah (17.782,79 konidia/ml) dan waktu yang dibutuhkan untuk mematikan 50% serangga uji juga lebih singkat (LT 50 = 7,22 hari) dibanding ketiga isolat lainnya. Isolat Baso memiliki patogenisitas yang lebih tinggi dibanding ketiga isolat lainnya. Mortalitas stadia hama penggerek bonggol pisang berkisar 76,67% sampai 100% setelah 15 hari diinokulasi dengan jamur B. bassiana. Mortalitas stadia larva 2 C. sordidus relatif tinggi dibanding dengan stadia uji lainnya pada 15 hari setelah inokulasi. Hasil penelitian ini meberikan informasi bahwa jamur B. bassiana mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai  agens pengendali hama penggerek bonggol. Kata kunci: Musa sp; Patogenisitas; Beauveria  bassiana; Cosmopolites sordidus; Penggerek bonggol; Mortalitas ABSTRACT. This experiment was conducted at the labora- tory of Entomologiy, Indonesian Fruit Research Institute from May to October 2002. The soil samples were collected from banana production centers at Baso, Sei Tarab, Sei Sariek and Sikabau. The objectives of this experiment were to investigate the influence of spore dose on the infectivity of the isolates against adult and the susceptibility host of im- mature stages and mature stage of banana weevil which were treated with B. bassiana isolates. A completely random- ized design with twelve treatments and three replications were used in this study. The result showed that the effectiveness of the B. bassiana from four isolates increased with increasing spore dose. There was a significant differ- ent in infectivity of all isolates of B. bassiana. The adult banana weevil mortalities caused by entomopathogen fungi of B. bassiana isolate from Baso, Sei Tarab, Sei Sariek and Sikabau at highest density (3.2X108 conidia/ml) after two weeks were 96.67%, 90.00%, 60.00%, and 83.33% respectively. The aqueous suspension of B. bassiana conidia from isolate Baso was the lowest with LC50’s of 1778289 conidia/ml and a Lethal time 50’s was faster 7.22 days compare than other isolate. It means that isolate B. basiana from Baso has higher patogenicity than other isolate. The mortality of banana weevil stages ranging from 76.67% to 100% at 15 days after inoculation of B. Bassiana. Mortality of larva at the second stadia was relatively higher compared to the other stadia of banana corm borers. This study was undertaken to provide more information on the potential for developing B. bassiana as a control agent for the banana weevil borer.
Pengujian Stabilitas Membran Sel dan Kandungan Klorofil untuk Evaluasi Toleransi Suhu Tinggi pada Tanaman Kentang Tri Handayani; Panjisakti Basunanda; Rudi Hari Murti; Erri Sofiari
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n1.2013.p28-35

Abstract

Cekaman suhu tinggi memengaruhi proses fisiologis tanaman dan stabilitas membran sel. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi sifat toleran terhadap cekaman suhu tinggi pada  kentang dengan menguji stabilitas membran sel dan kandungan klorofil. Pengujian terhadap 13 varietas dan tujuh klon kentang dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Laboratorium Fisiologi Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari Bulan April sampai Juli 2012. Uji stabilitas membran sel dilakukan melalui pengukuran pelepasan elektrolit akibat kerusakan membran sel oleh suhu tinggi, sedangkan kandungan klorofil diukur menggunakan metode spektrofotometri. Pengujian menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Cipanas, serta klon CIP 390663.8, CIP 392781.1, CIP 394613.139, dan CIP 395195.7 (planlet dan tanaman di rumah kasa), Merbabu 17 (planlet), serta klon CIP 394614.117 dan varietas Ping 06 (tanaman di rumah kasa) mengalami kerusakan membran sel di bawah 40%. Cekaman suhu tinggi juga menyebabkan penurunan kandungan klorofil.  Penurunan total klorofil yang tinggi (60,20–69,15%) terjadi pada varietas Erika, Manohara, Margahayu, Repita, dan Tenggo, serta klon N.1. Klon CIP 395195.7 dan varietas Ping 06 memiliki kandungan total klorofil yang tinggi pada kondisi suhu tinggi, dengan penurunan total klorofil akibat suhu tinggi yang kecil. Genotip-genotip yang memiliki persentase kerusakan membran sel kecil, kandungan total klorofil yang tinggi, dan penurunan kandungan klorofil yang kecil, diduga memiliki sifat toleran terhadap cekaman suhu tinggi.
Pengaruh Kombinasi Komposisi Media Tanam dan Konsentrasi Sitokinin terhadap Pertumbuhan Aglaonema Syariful Mubarok; A Salimah; Farida Farida; Y Rochayat; Y Setiati
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n3.2012.p251-257

Abstract

ABSTRAK. Pertumbuhan dan kualitas Aglaonema dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya media tanam dan aktivitas hormonal. Penggunaan media tanaman alternatif selain pakis dan hormon seperti sitokinin penting untuk diketahui. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui pengaruh kombinasi tiga komposisi media tumbuh sebagai media alternatif serta pemberian sitokinin terhadap pertumbuhan dan kualitas  Aglaonema Fit Langsit. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran mulai Bulan Mei sampai dengan Agustus 2008. Komposisi media tanam yang digunakan yaitu arang sekam, cocopeat, dan zeolit dengan perbandingan (2:2:1), (3:2:1), (4:2:1), dan sebagai kontrol digunakan pakis, humus, pasir malang, dan cocopeat (2:1:1:1) yang dikombinasikan dengan pemberian sitokinin dengan konsentrasi 0, 50, dan 100 µl/l yang disemprotkan pada daun setiap 2 minggu sekali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kombinasi arang sekam, cocopeat, dan zeolit (3:2:1) disertai sitokinin 50 µl/l memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya dalam memperpanjang dan memperlebar ukuran daun, sehingga dapat meningkatkan kualitas tanaman Aglaonema menjadi lebih rimbun dan kompak karena semakin meningkatnya ukuran daun.ABSTRACT. Mubarok, S, Salimah, A, Farida, Rochayat, Y,  and Setiati, Y 2012. The Effect of Growing Media Compositions and Cytokinin Concentrations on the Growth of Aglaonema. The growth and quality of Aglaonema is affected by several factors such as growing media and hormones. The using of alternative growing media and hormones such as cytokinin are urgently needed to be identified. The aim of experiment was to find out the effect of the combination of three growing media composition as an alternative growing medium with cytokinin on the growth and quality of Aglaonema Fit Langsit. This experiment was conducted in Greenhouse at the Faculty of Agriculture, Padjadjaran University from May to August 2008. The compositions of growing media consisted of the mix of carbonated rice hulls, cocopeat, and zeolite at three combinations (2:2:1, 3:2:1, and 4:2:1) and a control consisted of the mix of fern, humus, malang sands, and cocopeat (2:1:1:1). They were combined with cytokinins of 0, 50, and 100 µl/l. The results showed that the composition of carbonated rice hulls, cocopeat, and zeolite (3:2:1) combined with 50 µl/l cytokinin gave a better result than other treatments in increasing leaves length and leaves width, so it increases the quality of Aglaonema become more dense and compact due to by increasing the leaf size.
Uji Kualitas Umbi Beberapa Klon Kentang untuk Keripik Ali Asgar; - Kusmana; S T Rahayu; Eri Sofiari
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n1.2011.p51-59

Abstract

Penelitian bertujuan menguji komponen kualitas dari beberapa klon kentang hasil seleksi untuk keripik. Penelitian dilakukan mulai bulan Juli sampai dengan September 2010 menggunakan metode eksperimen di laboratorium. Rancangan yang digunakan ialah acak kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji terdiri atas 10 klon kentang yaitu (1) 385524.9 x 392639.34, (2) 393077.54 x 391011.17, (3) 393077.54 x 391011.17, (4) 391011.17 x 391580.30, (5) 391011.17 x 385524.9, (6) 393077.54 x 391011.17, (7) 391011.17 x 385524.9, (8) 391011.17 x 385524.9, (9) 393033.54 x 391580.30, dan (10) Granola (kontrol). Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa keripik kentang yang memiliki skor antara 2,00-2,36 (kuning merata) untuk chips kentang ialah klon 7 (391011.17 x 385524.9) dan klon 8 (391011.17 x 385524.9). Kandungan gula reduksi dari kedua klon tersebut,  yaitu masing-masing 0,029 dan 0,023% lebih rendah daripada kandungan gula reduksi pada klon-klon lainnya yang keripiknya berwarna gelap. Klon-klon tersebut memenuhi persyaratan kualitas dan berpeluang untuk digunakan sebagai bahan baku industri pengolahan keripik kentang. The objective of the research was to determine the quality of potato clones resulted from selection for potato chips. Quality test of 10 selective clones was determined. The research was conducted from July to September 2010, and was arranged in a completely randomized block design with three replications. Treatments consisted of (1) 385524.9 x 392639.34, (2) 393077.54 x 391011.17, (3) 393077.54 x 391011.17, (4) 391011.17 x 391580.30, (5) 391011.17 x 385524.9, (6) 393077.54 x 391011.17, (7) 391011.17 x 385524.9, (8) 391011.17 x 385524.9, (9) 393033.54 x 391580.30, and (10) Granola (control).  The results showed that chips which had a score value between 2.00 to 2.36 (yellow uniform) for potato chips were clone 7 (391011.17 x 385524.9) and clone 8 (391011.17 x 385524.9). The reducted sugar content of these clones was lower (0.029 and 0.023% respectively) than the reducted sugar content of the other potato clones which had dark color. The potato clones had good quality and fulfilled conditions for potato chips processing.
Pengaruh Konsentrasi Rootone-F dan Panjang Setek padaPertumbuhan Begonia tuberosa Lmk. Ida Bagus Ketut Arinasa
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p142-149

Abstract

ABSTRAK. Begonia tuberosa Lmk. merupakan salah satu jenis tanaman hias yang mempunyai nilai estetika dan ekonomi tinggi. Permasalahan yang dialami dalam perbanyakan tanaman ini adalah sulitnya setek berakar, setek cepat busuk, dan terbatasnya ketersediaan bibit di pasaran. Penelitian merupakan percobaan pot yang dilakukan di dalam Rumah Kaca Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali - LIPI pada ketinggian tempat 1.250 m dpl. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh tanaman (Rootone-F) dan panjang setek pucuk pada pertumbuhan Begonia tuberosa Lmk. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi Rootone-F (0, 150, 300, dan 450 mg/l) dan faktor kedua adalah panjang setek pucuk (5; 7,5; dan 10 cm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara konsentrasi Rootone-F dan panjang setek pucuk tidak berpengaruh secara signifikan terhadap semua variabel yang diukur. Jumlah akar terbanyak diperoleh pada panjang setek 10 cm rerata sebanyak 18,25 buah dan tidak berbeda nyata dengan panjang setek 5 dan 7,5 cm. Berat kering oven total tiga ulangan bibit tertinggi diperoleh pada konsentrasi optimum 300 mg/l adalah 1,36 g dengan persentase penambahan secara berturut-turut sebesar 227,14; 70,92; dan 72,22% bila dibandingkan dengan berat total kering oven tiga ulangan bibit pada konsentrasi Rootone-F 0,150 dan 450 mg/l masing-masing 0,42; 0,80; dan 0,79 g. Panjang setek pucuk 10 cm memberikan pertumbuhan bibit B. tuberosa Lmk. tertinggi yang ditunjukkan dengan berat total kering oven tertinggi sebesar 1,58 g, jika dibandingkan dengan panjang setek pucuk 5 cm dan 7,5 cm yaitu 0,36 g dan 0,83 g terjadi peningkatan secara berturut-turut sebesar 334,94% dan 90,10%. Pertumbuhan terbaik perbanyakan B. tuberosa Lmk. dengan setek batang diperoleh dengan panjang setek 10 cm dan diberikan penambahan konsentrasi Rootone-F 300 mg/l.
Kemangkusan Kandidat Biofungisida Berbahan Aktif Bakteri Antagonis terhadap Fusarium oxysporum pada Phalaenopsis (Effectiveness of Biofungicide Candidate with Bacteria Active Ingredient Againts Fusarium oxysporum on Phalaenopsis) I Djatnika; nFN Hanudin; Wakiah Nuryani
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p121-132

Abstract

Layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum pada tanaman anggrek dapat menimbulkan kerusakan tanaman hingga mencapai 40%. Bakteri antagonis B 37 dan B 26 hasil isolasi dari tanaman anggrek efektif mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman anggrek masing-masing sebesar 65,3 dan 48,9%. Isolat bakteri tersebut belum diidentifikasi, diuji kompatibilitasnya, dan diaplikasikan masih dalam bentuk biakan murni. Tujuan penelitian ini ialah: (a) mengidentifikasi secara biokimia isolat bakteri B 26 dan B 37, (b) mendapatkan formulasi bahan pembawa organik yang kompatibel dengan isolat bakteri B 26 dan atau B 37, serta (c) mengendalikan F. oxysporum pada tanaman anggrek Phalaenopsis dengan menggunakan kedua bakteri tersebut yang sudah dikemas dalam bahan pembawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) hasil identifikasi secara biokimia bakteri B 26 dan B 37 ialah Bacillus spp., (b) semua bahan aktif calon biopestisida (Bacillus spp. B 26 dan B 37) kompatibel terhadap bahan pembawa dari bahan alami yang mengandung karbohidrat dan protein minimal, tetapi kurang kompatibel pada media pembawa dari bahan alami yang mengandung karbohidrat dan protein optimal serta air steril, dan (c) perlakuan Bacillus spp. B26 atau B 37 dalam media pembawa yang mengandung karbohidrat dan protein minimal atau disuspensikan dalam air (disuspensikan dalam air setiap akan dilakukan perlakuan) yang diaplikasikan dengan merendam benih selama 1 jam yang kemudian diikuti dengan penyemprotan tanaman setiap 7 hari, efektif mengendalikan penyakit layu fusarium pada anggrek Phalaenopsis.KeywordsPhalaenopsis; Fusarium oxysporum; Identifikasi; Kemangkusan; BiopestisidaAbstractFusarium wilt caused by Fusarium oxysporum on orchid plants caused damage plants up to 40%. Antagonistics bacteria isolate B 37 and B 26 effectively control fusarium wilt on orchids respectively by 65.3 and 48.9%. The isolates has not been yet identified, tested for compatibility and are applied in the form of a pure culture. Purposes of the study were (a) identify bacteria isolates of B 26 and B37 biochemically, (b) obtain isolates of Bacillus spp. B 26 and or B 37 are compatible with the organic carrier, and (c) controlling of F. oxysporum on Phalaenopsis orchid plant by using both the bacteria that have been packaged in a carrier. The results showed that (a) results of biochemical identification, biopesticide active ingredient B 26 and B 37 concluded as bacteria of Bacillus spp., (b) all biopesticides active ingredient (Bacillus spp. B 26 and B 37) are compatible to the carrier material that contains carbohydrates and protein minimum, but not in carrier contains carbohydrates and protein optimum, as well in sterile water, and (c) the treatments of Bacillus spp. B 26 or B 37 were suspended in carrier of natural ingredients that contains carbohydrates and protein minimum or in sterile water (suspended in the water each will be treated) were applied by means of dipping of seedling for 1 hour and followed by spray on plants every 7 days, consistently suppress fusarium wilt on Phalaenopsis orchids.
Segmentasi Konsumen Kentang, Bawang Merah, dan Cabai Merah Berdasarkan Peubah Sosio-Demografis dan Kepentingan Kriteria Produk Witono Adiyoga
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n4.2011.p353-371

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi segmen-segmen konsumen kentang, bawang merah, dan cabai merah berdasarkan peubah sosio-demografis dan persepsi tentang kepentingan kriteria produk. Penelitian survai dilaksanakan di tiga kota besar konsumen utama sayuran, yaitu Jakarta (DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat) pada bulan Juni sampai dengan September 2006. Responden terdiri dari 335 konsumen kentang, bawang merah, dan cabai merah yang dipilih secara acak. Alat analisis yang digunakan ialah statistik deskriptif, tabulasi silang, dan analisis klaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kentang, dua peubah sosio-demografis (pendidikan dan pengeluaran) dan 11 peubah kriteria produk (kesegaran, rasa, kebersihan, nilai gizi, tidak mengandung residu pestisida, penampakan luar, tidak ada tanda busuk, harga, kemasan, label produk, dan  kenyamanan tempat pembelian) berpengaruh nyata terhadap perbedaan karakteristik segmen konsumen kentang. Jumlah segmen konsumen kentang yang dianggap paling sensible (pantas/masuk akal) ialah tiga segmen (segmen 1=120 orang, segmen 2=12 orang, dan segmen 3=203 orang). Berdasarkan komposisi tersebut, pemasar/petani kentang disarankan agar lebih mengarahkan strategi pemasarannya ke segmen 3. Untuk bawang merah, tiga peubah sosio-demografis (pendidikan, pekerjaan, dan pengeluaran) dan 13 peubah kriteria produk (kesegaran, kebersihan, nilai gizi, tidak mengandung residu pestisida, penampakan luar, tidak ada tanda busuk, harga, warna, aroma, label produk, produk lokal, produk impor, dan  kenyamanan tempat pembelian) berpengaruh nyata terhadap perbedaan karakteristik segmen konsumen bawang merah. Jumlah segmen konsumen bawang merah yang dianggap paling sensible ialah dua segmen (segmen 1=113 orang dan segmen 2=222 orang). Komposisi anggota klaster tersebut menyarankan kepada pemasar/petani bawang merah agar lebih mengarahkan strategi pemasarannya ke segmen 2. Untuk cabai merah, empat peubah sosio-demografis (pendidikan, pekerjaan, pengeluaran, dan frekuensi memasak sendiri) dan 11 peubah kriteria produk (kesegaran, rasa, kebersihan, nilai gizi, tidak mengandung residu pestisida, penampakan luar, tidak ada tanda busuk, harga, warna, label produk, dan kenyamanan tempat pembelian) berpengaruh nyata terhadap perbedaan karakteristik segmen konsumen cabai merah. Jumlah segmen konsumen cabai merah yang dianggap paling sensible ialah tiga segmen (segmen 1=152 orang, segmen 2=2 orang, dan segmen 3=181 orang). Komposisi anggota klaster tersebut menyarankan kepada pemasar/petani cabai merah agar lebih mengarahkan strategi pemasarannya ke segmen 3 dan 1. Penelitian lebih lanjut perlu mempertimbangkan pencantuman peubah kriteria produk secara lebih terinci dan spesifik.The objective of this study was to identify market or consumer segments of potato, shallots, and hot peppers based on socio-demographic variables and the importance of product criteria. Consumer surveys were carried out in three big cities of vegetable main consumer in Indonesia i.e. Jakarta (DKI Jaya), Bandung (West Java), and Padang (West Sumatera) from June to September 2006. Respondents of these surveys were 335 potato, shallots, and hot peppers consumers who were randomly selected. Descriptive statistics, cross tabulations, and cluster analysis were used for data elaboration. Results show that for potato, two socio-demographic variables (education and expenditures) and 11 product criteria variables (freshness, taste, cleanliness, nutrient value, no pesticide-residue, appearance, no blemishes, price, packing, product label, and convenient purchasing place) were significantly contributing to the separation of the potato clusters. Three clusters are identified as the most sensible subgroup for potato consumer segments i.e. segment 1=120 cases, segment 2=12 cases, and segment 3=203 cases. Based on this composition, potato marketers/farmers were suggested to focus on segment 3 for implementing their marketing mix strategy. For shallots, three socio-demographic variables (education, employment, and expenditures) and 13 product criteria variables (freshness, cleanliness, nutrient value, no pesticide-residue, appearance, no blemishes, price, color, aroma, product label, local product, imported product, and convenient purchasing place) were significantly contributing to the separation of the shallots clusters. Two clusters were identified as the most sensible subgroup for shallots consumer segments i.e. segment 1=113 cases and segment 2=222 cases. Based on this composition, shallots marketers/farmers are suggested to focus on segment 2 for implementing their marketing mix strategy. For hot peppers, four socio-demographic variables (education, employment, expenditures, and self-cooking frequency), and 11 product criteria variables (freshness, taste, cleanliness, nutrient value, no pesticide-residue, appearance, no blemishes, price, color, product label, and convenient purchasing place) were significantly contributing to the separation of the hot peppers clusters. Three clusters were identified as the most sensible subgroup for hot peppers consumer segments i.e. segment 1=152 cases, segment 2=2 cases, and segment 3=181 cases. Based on this composition, hot peppers marketers/farmers were suggested to focus on segment 3 and 1 for implementing their marketing mix strategy. Further study needs to consider involving more detailed and more specific product criteria variables.
Koleksi dan Karakterisasi Mikoparasit Asal Karat Putih Pada Krisan E. Silvia Yusuf; Ika Djatnika; Suhardi Suhardi
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p56-64

Abstract

Penyakit karat yang disebabkan oleh Puccinia horiana merupakan penyakit yang paling penting pada tanaman krisan. Pengendalian penyakit menggunakan fungisida terbentur masalah timbulnya  pencemaran lingkungan dan resistensi terhadap fungisida. Penggunaan varietas resisten terkendala dengan timbulnya ras fisiologi baru yang dapat mematahkan sifat resistensi tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian terpadu. Salah satu komponen pengendalian terpadu ialah pemanfaatan mikoparasit. Penelitian bertujuan mengumpulkan dan mengidentifikasi mikoparasit serta menyaring isolat yang efektif dalam menekan penyakit karat pada tanaman krisan. Percobaan dilakukan dari Bulan Januari sampai Desember 2011. Kegiatan penelitian meliputi : (a) survei dan (b) percobaan. Survei dilakukan di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat, sedangkan percobaan dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias. Hasil penelitian menunjukkan: (1) ditemukan empat genus cendawan sebagai mikoparasit penyakit karat (P. horiana) pada tanaman krisan di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung, (2) dari 55 isolat mikoparasit, 92,7% merupakan genus Cladosporium. Selebihnya terdiri atas genus Fusarium, Trichoderma, dan Penicillium, dan (3) dari 20 isolat yang diuji efektivitasnya sebagai mikoparasit, hanya 11 isolat  Cladosporium sp. yang mempunyai efektivitas > 50% dan sebagai pengendali hayati karat potensial. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan untuk mendapatkan biofungisida potensial untuk mengendalikan penyakit karat putih pada krisan.

Page 65 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue