cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Kultur In Vitro Biji Duku Rahayu Triatminingsih; Karsinah -; Hary Subakti; I Fitrianingsih
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n2.2003.p77-81

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Buah Solok, dari bulan Juli sampai dengan Desember 1999. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kombinasi benzil amino purin dan naftalen asam  asetat  yang cocok untuk pertumbuhan biji duku secara in vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang cocok untuk tahap inisiasi  kultur eksplan biji adalah WPM+0,5 ppm BAP tanpa NAA selama satu minggu, kemudian untuk tahap multiplikasinya adalah media WPM + 1 ppm BAP tanpa NAA. Jumlah tunas per biji terbanyak 6,67 tunas dan tunas terpanjang 5,4 + 0,2449 cm. Media subkultur selanjutnya adalah WPM + 0,5 ppm BAP+0,1 ppm NAA. Jumlah akar terbanyak adalah 20,33 buah terjadi pada media WPM+2 ppm BAP+0,2 ppm NAA. Kata kunci : Lancium domesticum; Eksplan; Media; Pertumbuhan tunas. ABSTRACT. This experiment was conducted at the tissue culture laboratory of Indonesian Fruits Research Institute at Solok, from July to December 1999. The objective of this experiment was to find out suitable medium for growing langzone explants. The results indicated that a suitable media for growth of seed explant on the initiation stage was WPM + 0.5 ppm BAP without NAA during one week and subculture medium for multiplication stage was WPM + 1 ppm BAP without NAA. Highest number of adventitious shoot and shoot length were 6.67 and 5.4 + 0.2449 cm, respectively. The use of 0.5 ppm of BAP associated with 0.1 ppm of NAA was essential for obtaining the vigor plantlets. Maximum root number, 20,33 were obtained on media WPM + 2 ppm BAP + 0.2 ppm NAA.
Studi Embriogenesis Klon-klon Vanda Hasil Persilangan Vanda tricolor x [(Vanda Patao x Vanda Jenny Hashimoto) x Ascocenda Peggy Foo] secara In Vitro Budi Winarto; Minangsari Dewanti; Dewi Permanik
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n2.2013.p114-128

Abstract

Perakitan varietas unggul baru Vanda beraroma wangi telah dilakukan dan menghasilkan beberapa klon yang terseleksi. Untuk menunjang pelepasan klon-klon terseleksi tersebut diperlukan ketersediaan bibit yang cukup dan perbanyakan bibit melalui induksi embriogenesis somatik dapat menjadi alternatif terbaik. Studi embriogenesis klon-klon Vanda hasil persilangan Vanda tricolor x [(Vanda Patao x Vanda Jenny Hashimoto) x Ascocenda Peggy Foo secara in vitro dalam rangka penyediaan bibit berkualitas dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias, dari Bulan Januari 2010 hingga Desember 2011. Delapan belas klon Vanda, tiga teknik sterilisasi (TS-1, TS-2, dan TS-3), empat jenis eksplan (JE-1, JE-2, JE-3, dan JE-4), tiga kondisi inkubasi (KI-1, KI-2, dan KI-3), empat kombinasi konsentrasi asam 2,4-diklorofenoksi asetat (2,4-D)- Tidiazuron (TDZ) (KK-1, KK-2, KK-3, dan KK-4), dan 16 jenis media (variasi MI, MP, dan MK) digunakan dan diuji dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dan RAK faktorial dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh klon yaitu V2-17, V2-21, V2-43, V2-10-1, V2-10-2, V2-2010-1, dan V2-2010-3 dengan kemampuan membentuk kalus embriogenik yang hampir sama dengan rerata persentase pembentukan kalus mencapai 25% dan skor pembentukan kalus +++. Medium ½ Murashige & Skoog (MS) yang ditambah dengan 1 mg/l TDZ, 0,5 mg/l benzylaminopurine (BAP), 2% sukrosa (MI-1), dan 0,05% HgCl2 selama 10 menit yang diikuti oleh pembilasan dengan air steril 5–6 kali (masing-masing 5 menit) (TS-3) merupakan medium inisiasi dan teknik sterilisasi yang sesuai untuk embriogenesis klon-klon Vanda. Variasi media MI-1 diperbaiki dan menghasilkan medium ½ MS yang ditambah dengan 10 mg/l (2,4-D), 1 mg/l TDZ, 0,5 mg/l BAP, 1 mg/l asam asetat-3-indol (IAA), dan 3% sukrosa (MP-2). Variasi media MP-2 mampu menginduksi pembentukan embrio (tahap akhir globular/koleoptilar) hingga 18 embrio per eksplan pada nodus tangkai bunga (JE-3). Kombinasi konsentrasi 2,5 mg/l 2,4-D dengan 5 mg/l TDZ (KK-4) pada kondisi inkubasi intensitas cahaya rendah (KI-2) mampu menginduksi pembentukan kalus lebih cepat dengan persentase pembentukan embrio mencapai 32% dan jumlah embrio hingga 20 embrio (tahap akhir globular/koleoptilar) per eksplan. Embrio berkecambah dengan kualitas pertumbuhan tunas terbaik pada medium New Phalaenopsis yang ditambah 0,5 mg/l BAP (MK-5). Media MK-5 mampu menekan pencoklatan eksplan turun hingga 1,3% dan meningkatkan persentase perkecambahan hingga 68% dengan jumlah embrio berkecambah mencapai 17 embrio (tahap akhir globular/koleoptilar). Embrio yang berkecambah tumbuh baik membentuk planlet pada medium NP yang ditambah 0,25 mg/l BAP. Keberhasilan induksi embriogenesis hingga pembentukan tunas berkualitas pada studi ini dapat menjadi bahan pertimbangan pengembangan protocol embriogenesis pada anggrek Vanda yang lain.
Pengujian Ketahanan Klon-klon Hasil Silangan Tanaman Kentang Transgenik dengan Nontransgenik terhadap Penyakit Hawar Daun Phytophthora infestans di Lapangan Uji Terbatas Alberta Dinar Ambarwati; Muhamad Herman; Edi Lisanto; Euis Suryaningsih; Eri Sofiari
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p187-196

Abstract

STRAK. Tanaman kentang transgenik Katahdin event SP904 dan SP951 mengandung gen RB, yang diisolasi dari spesies liar kentang diploid Solanum bulbocastanum. Gen RB mempunyai ketahanan yang bersifat  durable dengan spektrum yang luas terhadap ras-ras Phytophthora  infestans di Amerika Serikat. Dalam perakitan tanaman kentang tahan penyakit hawar daun P. infestans di Indonesia, transgenik Katahdin dijadikan sebagai donor tahan dalam persilangan dengan varietas rentan Atlantik dan Granola. Klon-klon hasil silangan dianalisis secara molekuler mengandung gen RB. Penelitian dilakukan untuk menguji ketahanan klon-klon hasil silangan tanaman kentang transgenik dengan nontransgenik terhadap isolat P. infestans di lapangan uji terbatas (LUT) yang berlokasi di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang dari bulan Oktober 2009 sampai dengan Maret 2010. Klon-klon yang diuji ialah 12 klon hasil silangan Atlantik x transgenik Katahdin SP904 (A); 15 klon hasil silangan Atlantik x transgenik Katahdin SP951 (B); 17 klon hasil silangan Granola x transgenik Katahdin SP904 (C); dan 20 klon hasil silangan Granola x transgenik Katahdin SP951 (D). Atlantik dan Granola digunakan sebagai kontrol rentan, sedangkan transgenik Katahdin sebagai kontrol tahan. Pengamatan dimulai ketika muncul gejala awal, yaitu pada 26, 32, 39, 46, dan 53 hari setelah tanam. Ketahanan tanaman semakin menurun dengan bertambahnya periode pengamatan, diikuti meningkatnya intensitas penyakit dan AUDPC. Semua klon yang diuji menunjukkan keragaman dalam ketahanan fenotipik terhadap hawar daun P. infestans. Klon-klon hasil silangan Atlantik x transgenik Katahdin SP951 mempunyai nilai AUDPC 697, yang hampir sama dengan transgenik Katahdin SP904 yaitu 698,5. Klon-klon Granola x transgenik Katahdin SP951 mempunyai nilai AUDPC  687,5 lebih kecil dibandingkan transgenik Katahdin SP904. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa klon-klon tersebut mempunyai ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan transgenik Katahdin SP904. Pada pengamatan 46 hari setelah tanam atau 20 hari setelah infeksi diperoleh tiga klon tahan yaitu B49 (skor 7,5), C111 (skor 7,1), dan D26 (skor 7,3). Ketahanan ini lebih tinggi daripada transgenik Katahdin SP904 (skor 5,1) dan transgenik Katahdin SP951 (skor 6,4). ABSTRACT. Ambarwati, AD, Herman, M, Listanto, E, Suryaningsih, E and Sofiari, E 2012. Resistance Testing on Transgenic and Nontransgenic Potato Clones Against Late Blight Phytophthora  infestans in Confined Field Trial.  Transgenic potato Katahdin event SP904 and  SP951 containing RB gene, which were isolated from a wild diploid potato species, Solanum bulbocastanum. RB gene showed durable resistance with broad spectrum to all known races of  P. infestans in the USA. In development of  potato resistant to late blight P. infestans in Indonesia, Katahdin transgenic were used as a resistant donor and crossed with susceptible varieties i.e. Atlantic and Granola. Clones derived from the crossing were molecularly analyzed and had RB gene contain. Experiment was conducted to assess the resistance of the clones derived from crossing of Katahdin transgenic and nontransgenic to P. infestans in confined field trial (CFT), located at the Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang from October 2009 to March 2010. Several clones tested were 12 clones of Atlantic x Katahdin transgenic SP904 (A); 15 clones of Atlantic x Katahdin transgenic SP951 (B); 17 clones of Granola x Katahdin transgenic SP904 (C); and 20 clones of Granola x Katahdin transgenic SP951 (D). Atlantic and Granola were used as susceptible control whereas Katahdin transgenic as resistant control. Observation was started as late blight symptoms and detected at 26, 32, 39, 46, and 53 days after planting. Plant resistance decreases with increasing period of observation, followed by increasing disease intensity and AUDPC. All clones tested showed variation in phenotypic resistance to late blight P. infestans. Clones derived from crossing of Atlantic x Katahdin transgenic SP951 had AUDPC score 697 and almost similar to Katahdin transgenic SP904 (698.5). Clones derived from crossing of Granola x Katahdin transgenic SP951 had AUDPC score 687.5 and smaller than Katahdin transgenic SP904. The results also indicated that these clones had higher resistance than Katahdin transgenic SP904. Observation at 46 days after planting or 20 days after infection resulted three resistant clones i.e. B49 (score 7.5), C111 (score 7.1); and D26 (score 7.3).  This resistance was higher than Katahdin transgenic SP904 (score 5.1) and Katahdin transgenic SP951 (score 6.4).
Bionomi Tungau pada Enam Kultivar Jeruk - Muryati; Mizu Istianto; Liliek Setyobudi
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n4.2004.p274-278

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh enam kultivar jeruk terhadap panjang siklus hidup dan potensireproduksi tungau. Enam varietas jeruk yang dievaluasi adalah manis sumut, keprok batu-55, keprok kacang, keprokmanis singkarak, keprok keling, dan keprok siem. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 1997 sampai April1998 di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok . Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus hidup danpotensi reproduksi tungau dipengaruhi oleh kultivar jeruk. Keprok kacang pal ing tahan terhadap tungau. Hal initampak pada umur nimfa pal ing lama (7,2 hari), umur imago pal ing pendek (10,4 hari), jumlah telur yang diletakkanpal ing sedikit (7,1 butir), dan mortalitas nimfa pal ing tinggi (54,0%). Kultivar yang pal ing peka terhadap tungau iniadalah keprok manis singkarak, dicirikan dengan umur nimfa tungau pal ing pendek (4,1 hari), umur imago pal inglama (15,7 hari), jumlah telur yang diletakkan pal ing banyak (36,6 butir), dan mortalitas nimfa pal ing rendah (17,9%).Berdasarkan hasil analisis anatomi daun ternyata panjang siklus hidup dan potensi reproduksi tungau dipengaruhioleh ketebalan epi der mis daun. Semakin tebal epi der mis daun, pertumbuhan tungau semakin kurang baik.Berdasarkan pengamatan terhadap siklus hidup dan potensi reproduksi Tetranychus urticae, keprok kacang memilikiprospek untuk digunakan sebagai sumber tetua guna menghasilkan kultivar jeruk yang toleran terhadap T. urticae.Kata kunci : Tetranychus urticae; Bionomi; Kultivar jerukAB STRACT. Muryati, M. Istianto, and L. Setyobudi. 2004. The bionomic of mite on six cit rus cultivars. Theob jec tives of this re search was to eval u ate the life cy cle and po ten tial re pro duc tion of T. urticae on six cit rus cultivars.The six cultivars were manis sumut, keprok batu-55, keprok kacang, keprok manis singkarak, keprok keling, andkeprok siem. The re search was con ducted since Au gust 1997 un til April 1998 un der lab o ra tory con di tion at In do ne -sian Fruit Re search In sti tute, Solok. The re sults showed that the life cy cle length and po ten tial re pro duc tion of T.urticae was sig nif i cantly in flu enced by cit rus cultivars. Keprok kacang was the most un suit able cultivar for T. urticaede vel op ment com pare with oth ers, which was in di cated by the lon gest nymph stages (7.2 days), the short est adultstage (10.4 days), the low est num ber of eggs laid (7.1), and the high est nymph mor tal ity (54.0%). The most suit ablecultivar for T. urticae de vel op ment was keprok manis singkarak, which was in di cated by the short est nymph stages(4.1 days), the lon gest adult stages (15.7 days), the high est num ber of eggs laid (36.6), and the low est nymph mor tal ity(17,9%). Based on the leaves anat omy, the keprok kacang has the thick ness of epi der mic tis sue, which in flu enced un -suit able on the mite’s lenght life cy cle and re pro duc tive po ten tial. There fore, keprok kacang has a po ten tial to be usedas pa ren tal for cit rus va ri ety im prove ment pro gram against T. urticae.
Kajian Beberapa Bahan Penunda Kematangan Terhadap Mutu Buah Pisang Barangan Selama Penyimpanan Besman Napitupulu
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n3.2013.p263-275

Abstract

Pisang Barangan merupakan buah tropik yang spesifik lokasi dan sebagai sumberdaya genetik di Sumatera Utara yang pemasarannya telah sampai ke Jakarta, Riau (Batam), Jambi, Bandung, dan provinsi lainnya. Dalam upaya untuk memperpanjang masa simpan pisang Barangan beberapa bahan penunda kematangan digunakan yaitu kalium permanganat (KMnO), kalsium hidroksida Ca(OH), dan asam askorbat. Tujuan pengkajian ialah untuk mendapatkan alternatif teknologi penunda kematangan dalam upaya memperpanjang masa simpan buah pisang Barangan. Penelitian dilakukan pada Bulan Mei sampai dengan Desember 2009 di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Penyimpanan pisang Barangan dilakukan dalam bentuk tandan dan sisir yang dikemas dengan sistem udara termodifikasi. Pisang Barangan dalam bentuk tandan yang dikemas dalam plastik polietilen densitas rendah dengan memasukkan etilen absorben (KMnO24), Ca(OH), dan asam askorbat diperoleh masa simpan segar mencapai 25 hari dan merupakan perlakuan terbaik, kemudian diikuti perlakuan dengan memasukkan KMnO24 dan Ca(OH) yang dapat memperpanjang masa simpan segar pisang Barangan selama 20 hari. Demikian juga halnya pisang Barangan dalam bentuk sisir dikemas dengan sistem udara termodifikasi menggunakan plastik polietilen densitas rendah dikemas dengan menambahkan KMnO4, Ca(OH), dan asam askorbat yang merupakan kemasan primer, selanjutnya dikemas ke dalam kotak karton sebagai kemasan sekunder, menghasilkan ketahanan simpan buah pisang Barangan segar selama 25 hari pada suhu kamar. Perlakuan dengan memasukkan bahan penunda kematangan KMnO24, Ca(OH), dan asam askorbat menunjukkan mutu buah pisang Barangan masih layak pasar pada penyimpanan 20 dan 25 hari disimpan suhu kamar. Implikasi hasil kajian ini merupakan metode penggunaan bahan penunda kematangan diharapkan dapat digunakan petani dan pedagang untuk memperpanjang ketahanan simpan buah pisang Barangan dalam bentuk tandan maupun sisir sehingga penataan dan jangkauan distribusi pemasaran dapat diperluas. 
Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Pisang di Provinsi NAD: Sebaran dan Identifikasi Isolat Berdasarkan Analisis Vegetative Compatibility Group Edison -; Riska -; Catur Hermanto
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p165-172

Abstract

ABSTRAK. Penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan Fusarium  oxysporum f. sp. cubense (Foc) merupakan penyakit paling berbahaya pada tanaman pisang. Untuk mendapatkan teknik pengendalian yang tepat, maka informasi tentang distribusi dan karakter biologi patogen tersebut perlu diketahui. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi penyakit layu Fusarium di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan varietas pisang yang diserangnya serta mengidentifikasi isolat  Foc berdasarkan analisis vegetative compatibility group (VCG). Survei dan pengumpulan sampel tanaman pisang terserang penyakit dilakukan pada bulan Januari 2007 dan Juli 2008. Isolasi dan pemurnian isolat dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika Solok pada bulan Februari 2007 dan Agustus 2008. Analisis VCG dilakukan di Departement of Primary Industry, Plant Pathology Section, Indooroopilli Australia dan Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika sejak bulan Juli 2007 sampai bulan Juli 2009. Tester VCG berjumlah 17 nomor yang berasal dari Department of Primary Industry, Plant Pathology Section, Indooroopilli Australia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit layu Fusarium ditemukan di semua lokasi pengamatan di Provinsi NAD pada empat varietas pisang, yaitu Barangan (AAA), Raja (AAB), Kepok (ABB/BBB), dan Siem (ABB). Dari 50 isolat Foc yang dikoleksi terkelompok ke dalam dua VCG, 37 isolat (74%) termasuk dalam VCG 01213/16 (Tropical Race 4), ditemukan pada tiga varietas (Barangan, Kepok, dan Raja), sembilan isolat masuk VCG 01218 (Ras 1) ditemukan hanya pada varietas Siem, sedangkan VCG empat isolat yang menyerang pisang varietas Siem belum ditemukan. Foc VCGs 01213/16 (TR4) paling dominan ditemukan di Provinsi NAD, baik dari jumlah, sebaran lokasi, maupun ragam varietas yang diserangnya. Data ini menginformasikan bahwa pengembangan tanaman pisang di Provinsi NAD harus dilakukan secara selektif serta mempertimbangkan langkah-langkah preventif dan pengendalian yang tepat.ABSTRACT. Jumjunidang, Edison, Riska, and Hermanto, C 2012. Fusarium Wilt Disease on Banana in NAD Province: Distribution and Identification of Isolates through Vegetative Compatibility Group Analysis. Wilt disease caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) is the most dangerous pathogen on banana. Knowledge of the distribution and biological characters of the pathogen is very important to arrange an effective control technique. The objectives of this study were to reveal distribution of Fusarium wilt disease in Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Province and infected banana varieties as well as to identify of Foc isolates with vegetative compatibility group (VCG) analysis Survey and collection of samples of infected banana plants in NAD Province were carried out in January 2007 and July 2008. Isolation and purification of the isolates with single spore techniques were done at Plant Protection Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute (ITFRI), Solok in February 2007 and August 2008. Vegetative compatibility group analysis was performed at Department of Primary Industry, Plant Pathology Section, Indooroopilli Australia and Plant Protection Laboratory of ITFRI from July 2007 to July 2009. Seventeen VCG testers were originated from Department of Primary Industry, Plant Pathology Section, Indooroopilli Australia. The results showed that Fusarium wilt disease was found in all surveyed locations in NAD Province on four banana varieties, i.e. Barangan (AAA), Raja (AAB), Kepok (ABB/BBB), and Siem (ABB). Fifty isolates of the pathogen Foc have been collected and grouped into two VCGs, 37 isolates (74%) were grouped into VCG 01213/16 (Tropical Race 4) attacking three varieties (Barangan, Kepok, and Raja), nine isolates were clustered into VCG 01218 (Race 1) attacking Siem variety only, and the other four isolates from Siem variety had not been identified yet.  Foc VCG 01213/16 (TR4) was very dominant in NAD Province, in terms of numbers, location, and distribution of attacked varieties. These findings inform that the development of banana plants in the NAD province should be done selectively and consider both preventive measures and appropriate controls.
Deteksi Dini Penyakit Daun Kipas (Grapevine Fanleaf Virus) dan Perbedaan Gejala Pada Tiga Varietas Anggur Sri Widyaningsih; Mutia Erti Dwiastuti; T K Puspitasari
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p63-70

Abstract

Penyakit daun kipas grapevine fanleaf virus (GFLV) merupakan penyakit yang sangat merugikan pada tanaman anggur, karena menghambat pertumbuhan dan menekan produktivitas tanaman. Penelitian bertujuan mengetahui cara deteksi dini, penyebab penyakit, dan perbedaan gejala penyakit GFLV pada tiga varietas anggur. Penelitian dilaksanakan di Screen House dan Laboratorium Terpadu Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) pada bulan Januari  sampai dengan April 2011. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), terdiri atas enam perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan terdiri atas tiga varietas tanaman anggur, yaitu Prabu Bestari, Kediri Kuning, dan Probolinggo Super. Masing-masing varietas diberi dua perlakuan yaitu diinokulasi dan tidak diinokulasi GFLV (sehat). Parameter pengamatan meliputi masa inkubasi, gejala serangan, kerusakan jaringan daun akibat infeksi GFLV, benda asing pada jaringan daun tanaman anggur akibat infeksi GFLV, dan pengujian serologi ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deteksi dini GFLV dapat dilakukan dengan pengamatan gejala visual, pengamatan kerusakan jaringan tanaman, dan benda asing pada jaringan daun serta dengan uji ELISA. Terdapat perbedaan gejala dan kerusakan jaringan antara tanaman yang terinfeksi GFLV dan tidak terinfeksi. Terdapat perbedaan gejala visual dan masa inkubasi GFLV pada varietas yang berbeda.
Pembentukan Benih Sintetik Tanaman Nenas I Roostika; R Purnamaningsih; Y Supriati; Ika Mariska; N Khumaida; A G Wattimena
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n4.2012.p316-326

Abstract

Nenas merupakan tanaman buah tropis dan subtropis yang komersial. Kultivar Smooth Cayenne memiliki tipe dan jumlah propagul yang terbatas, sehingga diperlukan dukungan teknologi lainnya untuk produksi benih secara masal. Teknologi benih sintetik dapat diterapkan untuk produksi benih secara masal dan konservasi. Tujuan  penelitian ialah untuk mengetahui pengaruh kombinasi auksin dan sitokinin terhadap morfogenesis eksplan nenas yang terenkapsulasi, mengetahui pengaruh interaksi antara suhu penyimpanan dengan konsentrasi paklobutrazol atau manitol terhadap pertumbuhan eksplan nenas yang terenkapsulasi dan masa simpan. Penelitian dilaksanakan dari Bulan April sampai dengan Desember 2011 di Laboratorium Kultur Jaringan, Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. Percobaan disusun secara faktorial dalam rancangan acak lengkap terdiri atas enkapsulasi eksplan, pertumbuhan minimal menggunakan paklobutrazol, atau manitol yang dikombinasikan dengan suhu penyimpanan. Enkapsulasi dilakukan terhadap batang semu dan basal daun menggunakan Na-alginat 3% yang berisi media MS dengan penambahan BA (0, 1, 2, dan 3 mg/l) yang dikombinasikan dengan NAA (0, 1, 2, dan 3 mg/l). Untuk memacu proses diferensiasi, basal daun diberi praperlakuan menggunakan media MS yang mengandung BA 0,5 mg/l dan NAA 0,5 mg/l sebelum dienkapsulasi dengan perlakuan BA dan NAA pada konsentrasi 0; 0,5; dan 1 mg/l.  Pertumbuhan minimal dilakukan menggunakan paklobutrazol (0, 1, 2, dan 3 mg/l) atau manitol (0, 1, 2, 3, 4, dan 5%) pada suhu penyimpanan 15 dan 25 0C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa basal daun nenas yang terenkapsulasi mampu berdiferensiasi setelah praperlakuan. Tidak terdapat interaksi yang nyata antara konsentrasi paklobutrazol dengan suhu penyimpanan terhadap daya hidup dan daya tembus kapsul tunas nenas. Biakan tersebut hanya dapat disimpan selama 1 bulan. Interaksi yang nyata juga tidak dijumpai antara konsentrasi manitol dengan suhu penyimpanan terhadap daya hidup dan daya tembus kapsul embrio somatik nenas. Manitol 4% mampu memperpanjang masa simpan hingga 4 bulan. Manitol dapat menggantikan aplikasi suhu rendah dalam penyimpanan kultur nenas yang terenkapsulasi.
Pengawet untuk Menjaga Kualitas Bunga Potong Mawar Selama Penyimpanan Dwi Amiarsi; Rahayu Tejasarwana
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n3.2011.p274-279

Abstract

Bunga mawar yang dikenal saat ini merupakan hibrida yang berasal dari hasil pemuliaan tanaman selama puluhan tahun. Bunga mawar yang beredar di floris dewasa ini mempunyai variasi bentuk dan warna bunga yang menakjubkan seolah-olah tidak ada habis-habisnya kebaruannya. Varietas mawar Pergiwati dan Pergiwa merupakan salah satu produk nasional yang mempunyai warna menawan, namun sebagai bunga potong daya tahan kesegarannya masih terbatas dan perlu upaya untuk meningkatkan kesegarannya, khususnya dengan penggunaan pengawet. Keuntungan dari larutan pengawet ialah dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang kesegaran bunga potong. Penelitian dilakukan pada bulan September 2006 sampai dengan Januari 2007 di Laboratorium Fisiologi Hasil Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pengawet yang tepat dalam upaya mempertahankan masa kesegaran bunga mawar potong varietas baru yaitu Pergiwati dan Pergiwa. Penelitian menggunakan dua jenis larutan pengawet, yaitu 2,5% sukrose dengan dan tanpa 100 ppm asam benzoat. Suhu penyimpanan yaitu suhu ruang (27-31oC), 20-23oC, dan 5-10oC. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan larutan 2,5% sucrose + 100 ppm asam benzoat pada bunga mawar Pergiwati mempunyai masa kesegaran bunga 28 hari bila disimpan pada suhu 5-10oC dengan persentase bunga mekar mencapai 100%. Implementasi hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengatur suplai bunga potong ke pasar.Rose flower that known this time are origin hybrids of more than 10 years of breeding process. Rose flower available on this time has attractive fine form and color as well as never ending its novelty. Rose varieties such us Pergiwati and Pergiwa generally showed short freshness as a cut flower, therefore to prolong the vaselife, a special treatment should be addressed and application of preservative has potential for this purpose. The advantages of applying preservatives are not only can keep the freshness, but also can maintain flower quality. The research was conducted at Laboratory of Physiological Product of Indonesian Ornamental Crop Research Institute from September 2006 to January 2007. The research objective was to find out the proper preservative combinations to lengthen the freshness of rose cut flower of new varieties i.e. Pergiwati and Pergiwa. Two types of preservative used in the study were 2,5% sucrose with or without 100 ppm benzoic acid. Temperature ranges of flower storage tested in the experiment were 27-31oC, 20-23oC, and 5-10oC. The factorial experiment was arranged in a completely randomized design with five replications. The results showed that using the preservative solution containing 2.5% sucrose + 100 ppm benzoic acid for Pergiwati rose cut flower could prolong the flower freshness up to 28 days at 5-10oC storage with 100% opened-buds. The result implied that the supply of rose cut flower can be regulated through application of the preservative composition.
Pengembangan Teknik Deteksi Fusarium Patogen Pada Umbi Benih Bawang Merah (Allium ascalonicum) di Laboratorium Sitti Fadhilah; Suryo Wiyono; Memen Surahman
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p171-178

Abstract

Penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum merupakan salah satu penyakit penting pada bawang merah (Allium ascalonicum). Sebagian besar petani menggunakan umbi sebagai benih dan diketahui bahwa beberapa patogen dapat terbawa oleh benih seperti Fusarium oxysporum. Oleh karena itu diperlukan pengujian kesehatan benih untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. Salah satu metode sederhana dan efektif untuk digunakan di laboratorium adalah blotter test. Namun beberapa strain F. oxysporum terbukti tidak bersifat patogenik, serta tidak dapat dibedakan secara morfologi dengan strain yang bersifat patogenik. Penelitian ini bertujuan menentukan parameter uji dan jumlah sampel minimal dalam deteksi Fusarium oxysporum pada umbi bawang merah dengan metode blotter test. Hasil pengujian menunjukkan bahwa parameter nekrosis pada basal plate umbi bawang merah mempunyai koefisien korelasi (r) sebesar 0,77 terhadap tingkat infeksi pada growing on test (GOT) dan lebih besar dari tingkat infeksi fusarium (0,34) pada blotter test. Dari 195 isolat Fusarium spp. yang diuji, diketahui bahwa sebagian besar isolat bersifat nonpatogenik. Penentuan jumlah minimal umbi dengan plot kurva rerata jumlah nekrosis pada basal plate dan standar deviasi, menunjukkan jumlah sampel umbi minimal untuk blotter test adalah 150 umbi. Perhitungan jumlah sampel dengan formal probability statement yang menunjukkan jumlah umbi minimal untuk blotter test adalah 138 umbi.

Page 66 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue