cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Induksi Perakaran Manggis (Garcinia mangostana L.) Secara In Vitro dan Ex Vitro Y Z Joni; D Efendi; Ika Roostika
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p97-105

Abstract

Induksi perakaran merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi dalam kultur in vitro manggis. Sistem perakaran yang baik menjadi persyaratan penting bagi planlet untuk siap diaklimatisasi. Penelitian bertujuan untuk menentukan kombinasi perlakuan dan konsentrasi IBA, NAA, paklobutrazol, dan phloroglucinol yang efektif untuk menginduksi pembentukan akar planlet manggis secara in vitro dan ex vitro. Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), mulai bulan Maret 2013 sampai Januari 2014. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Induksi perakaran manggis secara in vitro terdiri atas tujuh perlakuan, yaitu kombinasi IBA (10 mg/l) dengan paklobutrazol (3, 6, dan 9 mg/l) atau phloroglucinol (2,8; 5,6; dan 8,4 mg/l). Induksi perakaran manggis secara ex vitro terdiri atas delapan perlakuan IBA dan NAA (masing-masing 100, 200, 300, dan 400 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi IBA dengan paklobutrazol atau phloroglucinol menghasilkan jumlah planlet berakar yang relatif rendah (0−29%). Induksi akar secara ex vitro menghasilkan planlet berakar yang relatif tinggi (70−90%). IBA dan NAA 100−400 mg/l dapat menginduksi akar manggis secara ex vitro. Media terbaik untuk pengakaran manggis secara ex vitro adalah perendaman dalam larutan NAA 200 mg/l selama 1 jam. Induksi perakaran secara ex vitro lebih baik dilakukan daripada secara in vitro. Keberhasilan induksi perakaran manggis secara ex vitro dapat mempersingkat waktu mikropropagasi benih manggis.
Pelengkungan Cabang dan Pemupukan Jeruk Keprok Borneo Prima pada Periode Transisi di Lahan Rawa Kabupaten Paser Kalimantan Timur Muhamad Noor Azizu; Roedhy Poerwanto; M. Rahmad Suhartanto; Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p81-88

Abstract

(Bending and Fertilization in Transition Period of Mandarin Citrus cv. Borneo Prima in Wetlands Paser Regency East Kalimantan)Jeruk keprok Borneo Prima (Citrus reticulata cv. Borneo Prima) merupakan komoditas lokal unggulan yang perlu dikembangkan sebagai upaya untuk mengurangi impor jeruk. Tanaman jeruk keprok Borneo Prima telah berumur 5 tahun, namun belum memasuki periode berbunga dan berbuah. Hal ini diduga karena kondisi lingkungan dan teknik budidaya yang belum sesuai. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan teknik pelengkungan cabang dan dosis pupuk kandang yang tepat jeruk keprok Borneo Prima pada periode transisi di lahan rawa. Penelitian dilaksanakan di kebun jeruk petani Desa Padang Pengrapat, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, di lahan rawa pada bulan Oktober 2013 sampai dengan Maret 2014, dengan rancangan acak kelompok faktorial dan tiga ulangan. Faktor pertama ialah pelengkungan cabang dengan dua taraf, yaitu tidak dilengkungkan dan dilengkungkan. Faktor kedua ialah dosis pupuk kandang dengan empat taraf, yaitu 0, 40, 60, dan 80 kg/tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pelengkungan cabang dapat menyebabkan tanaman jeruk keprok Borneo Prima yang berumur 5 tahun menjadi berbunga dan berbuah, sedangkan yang tidak dilengkungkan cabangnya tidak berbunga dan tidak berbuah. Selain itu pelengkungan cabang meningkatkan pertumbuhan vegetatif (jumlah tunas baru, total panjang tunas baru per pohon, dan total daun baru per pohon). Pemberian pupuk kandang sampai dengan 80 kg/tanaman pada periode transisi belum dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan generatif (jumlah bunga per cabang dan jumlah buah per cabang) sampai dengan 90 hari setelah perlakuan. Tidak terdapat interaksi antara pemberian pupuk kandang dan pelengkungan cabang terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif. Bunga pertama muncul dari cabang atau tunas yang terletak di bagian dalam tajuk lalu diikuti tajuk yang terletak di luar. Untuk membungakan tanaman jeruk keprok Borneo Prima yang telah memasuki periode transisi atau pada periode transisi dapat dilakukan pelengkungan cabang.KeywordsJuvenil; Lahan rawa; Pupuk kandang; JerukAbstractMandarin citrus cv. Borneo Prima (Citrus reticulata cv. Borneo Prima) is superior local variety that needs to be developed in order to reduce citrus import. This citrus are 5 years old at wetlands in Paser East Kalimantan, but the citrus crop has not entered a fruitful period. This is allegedly due to environmental conditions and cultivation techniques are not appropriate. The purpose of this research was to find out the bending technology and best manure rate fertilization on transition period of mandarin citrus cv. Borneo Prima at wetlands.The experiment was conducted from October 2013 to March 2014 in the citrus farm orchard in Village of Padang Pengrapat, Tanah Grogot, Paser, East Kalimantan. The research used randomized block design with three replication. The first factor is bending (without bending and bending) and the second factor is manure rate (0, 40, 60, and 80 kg/plant). The results showed that bending can cause into flowering and fruiting mandarin citrus plant cv. Borneo Prima 5 year old, whereas that is without bending branches not flowering and not fruiting, in addition to the bending branches increase vegetative growth (number of new shoots, the total length of new shoots per plant, and total new leaves per plant). Manure up to 80 kg/plant in the period of transition has not been able to increase the vegetative and generative growth (number of flowers per branch and the number of fruits per branch) to 90 days after treatment.There is no interaction effect between bending and manure rate for vegetative and generative growth mandarin citrus cv. Borneo Prima. The first flowers appear from the branches or shoots located inside the canopy and canopy followed that outside located. Lend at interest mandarin citrus plant cv. Borneo Prima which has entered a transition period or in the period of transition can be done bending branches.
Evaluasi Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Kandidat Varietas Nenas Rendah Oksalat dan Manis Tanpa Duri Sri Hadiati; Sri Yuliati; - Jumjumidang
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n4.2011.p315-323

Abstract

Kandungan Ca-oksalat yang tinggi pada buah nenas kurang baik bagi kesehatan, sedangkan tanaman nenas yang daunnya tidak berduri memudahkan petani dalam pemeliharaannya. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan hasil beberapa kandidat varietas nenas rendah oksalat dan nenas manis tanpa duri. Penelitian dilakukan mulai bulan Juni 2009 sampai dengan Desember 2010 di Kebun Percobaan Subang. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok dengan lima perlakuan yaitu dua kandidat varietas nenas rendah oksalat (Q dan EE), satu kandidat varietas nenas manis tanpa duri (P), dan dua varietas pembanding (Simadu dan Ponggok) dengan empat ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 52 tanaman dan jumlah sampel yang diamati ialah 10 tanaman yang diambil secara acak. Tanaman nenas ditanam dengan sistem dua baris, jarak antarbaris 90 cm dan jarak tanam dalam baris (50 x 50) cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada akhir pertumbuhan vegetatif (umur 11 bulan setelah tanam) rerata tinggi tanaman pada aksesi yang diuji  berbeda nyata, sedangkan varietas Ponggok mempunyai tinggi tanaman tertinggi (88,94 cm), jumlah daun antaraksesi tidak berbeda nyata, yaitu berkisar 41-51 helai. Persentase tanaman berbuah terbanyak ialah varietas Ponggok (94,86%),  sebaliknya  varietas Simadu  paling sedikit (5,6%). Aksesi P, Q, dan EE mempunyai kualitas buah yang kurang baik dibandingkan varietas pembanding  Simadu, tetapi aksesi EE mempunyai kualitas buah (bobot buah 910,00 g, vitamin C 24,53 mg/100 g, dan kadar oksalat 486,85 ppm) yang lebih baik dibandingkan dengan varietas pembanding Ponggok. Aksesi EE berpeluang untuk dijadikan varietas unggul baru.The high Ca-oxalate content in pineapple fruit is not good for health. Meanwhile pineapple plants with spineless leaves make farmers easy in their maintainance. The aim of this research was to evaluate growth and yield of several pineapple candidates  with low oxalate, sweet taste, and spineless leaves.  The research was conducted from June 2009 to December 2010 at Subang Research Station. A randomized block design with five treatments (two candidates of pineapple varieties with low oxalate content (Q and EE), one candidate of pineapple variety with spineless leaves (P), and two popular varieties as comparison (Simadu and Ponggok) with four replications was used in this study.  Each unit experiment consisted of 52 plants and 10 plants of sampled randomly were observed. Pineapple plants were planted in two rows with plant distance 50x50 cm. The results showed that at the end of vegetative growth (11 months after planting) the average plant height of accessions tested were significantly different, Ponggok variety had the highest of plant height (88.94 cm) but the number of leaves ranging from 41-51was not significantly different. Ponggok variety had the highest percentage of fruiting plants (94.86%), and conversely Simadu variety was the least one (5.6%). Accessions of P, Q, and EE produced lower fruit quality than Simadu, but accession of EE had better fruit quality in fruit weight 910.00 g, vitamin C 24.53 mg/100 g, and oxalate content 486.25 ppm than Ponggok variety. The EE was a promising accession that can be realeased as a new superior variety.
Pengembangan Marka Molekuler yang Berasosiasi Dengan Kekuatan Dinding Sel Penyusun Saluran Getah Kuning Pada Manggis Risa Aryantri; Miftahudin Miftahudin; Sobir Sobir
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p16-22

Abstract

Salah satu masalah utama dalam peningkatan kualitas buah manggis ialah pencemaran buah oleh getah kuning akibat pecahnya sel penyusun saluran getah kuning. Seleksi buah manggis untuk mendapatkan buah bebas getah kuning dapat dibantu dengan memanfaatkan marka molekuler terpaut karakter kekuatan dinding sel penyusun saluran getah kuning. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropik (PKHT), Institut Pertanian Bogor Jawa Barat, pada Bulan Mei 2012 sampai dengan April 2013. Penelitian ini bertujuan mengembangkan marka molekuler yang berasosiasi dengan sifat kekuatan dinding sel penyusun saluran getah kuning pada manggis. Sebanyak 39 aksesi Garcinia mangostana L. koleksi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Sumatera Barat dan hasil koleksi dari Desa Leuwiliang, Jawa Barat digunakan dalam penelitian ini. Dua pasang primerdikembangkan dari sekuen gen kekuatan dinding sel manggis dengan teknik tersarang (nested PCR). Amplifikasi DNA dilakukan dengan teknik PCR standar. Hasil amplifikasi DNA menunjukkan satu pita DNA berukuran ± 260 pb yang polimorf antara tanaman dengan buah tercemar getah kuning dan tidak tercemar getah kuning. Pita tersebut berasosiasi dengan sifat kekuatan dinding sel penyusun saluran getah kuning.
Kekerabatan 13 Genotip Anggrek Subtribe Sarcanthinae Berdasarkan Karakter Morfologi dan Pola Pita DNA Suskandari Kartiningrum; N Hermiati; A Baihaki; M. H Karmana; N Toruan-Mathius
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n1.2003.p7-15

Abstract

Abnormalitas meiosis dan rendahnya fertilitas sering terjadi pada persilangan interspesifik maupun intergenerik pada beberapa  tanaman anggrek  subtribe  sarcanthinae.  Kendala  tersebut  mungkin  berkaitan  dengan  jauh-dekatnya hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan antara dua individu atau populasi dapat diukur berdasarkan kemiripan dari sejumlah karakter, dengan asumsi karakter-karakter berbeda menggambarkan perbedaan susunan genetiknya. Penelitian dilakukan mulai Januari-Desember 2001. Tujuan penelitian adalah mengetahui kekerabatan antar-13 genotip anggrek subtribe sarcanthinae serta korelasi antara jarak taksonomi berdasarkan karakter morfologi dan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Pengelompokan 13 genotip anggrek dianalisis berdasarkan 22 data morfologi dan 185 pita DNA yang diperoleh dari hasil amplifikasi 14 primer dekamer acak random amplified poly- morphic DNA berbasis polymerase chain reaction. Analisis gerombol  13 genotip anggrek subtribe sarcanthinae dilakukan berdasarkan karakter morfologi menggunakan rumus rataan jarak taksonomi dan berdasarkan pola  pita DNA menggunakan  rumus Nei & Li atau koefisien Dice. Dari hasil analisis  diperoleh matriks kemiripan yang digunakan untuk menentukan nilai korelasi antara hasil pengelompokan dengan data fenotipik dan data pola pita DNA. Hasil pengelompokan tanaman anggrek subtribe sarcanthinae berdasarkan karakter morfologi tidak konsisten dengan hasil yang diperoleh dari analisis pola pita DNA. Jarak genetik yang berasal dari data fenotip tidak dapat digunakan untuk menduga kemiripan genetik. Rataan jarak taksonomi 13 genotip anggrek berdasarkan karakter morfologi berkorelasi negatif (r = -0,586, P < 0,01) dengan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Kata kunci : Anggrek; Kekerabatan; Jarak genetik; Subtribe sarcanthinae; Karakter morfologi; Pola pita DNA; Random amplified polymorphic DNA ABSTRACT. Several interspesific and intergeneric hybrid of subtribe sarcanthinae showed meiotic abnor- mality and poor fertility. This condition was caused by the distant genetic relationship. Genetic relationships between individuals and populations can be measured based on similarity of traits, assuming that the different traits describe the genetic composition. This experiment was begun in January-December 2001. The objective of this study was to esti- mate the correlation between taxonomic distance based on phenotypic performance and genetic similarity based on DNA banding pattern among 13 different genotype of orchid member of subtribe sarcanthinae. The genetic relation- ship analysis among those genotypes was based on 22 morphological traits and 185 DNA bands generated from 14 random amplified polymorphic DNA primers by polymerase chain reaction procedure. Cluster analysis of the geno- types based on phenotypic performance was computed by average taxonomic distance and the DNA banding pattern was calculated by the Dice coefficient of Nei & Li. The analysis resulted in a distance and similarity matrix which was used to determine correlation value between phenotype and DNA. Subtribe sarcanthinae clusters were not consistent with DNA banding pattern. Genetic distance from phenotypic data can't be used to estimate genetic similarity distance based on phenotypic performance which was negatively correlated (r = -0.586, P < 0.01) with that of similarity based on DNA banding pattern.
Pengaruh Konsentrasi Oksigen dan Karbondioksida Dalam Kemasan Terhadap Daya Simpan Buah Mangga Gedong Dwi Amiarsi
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p197-204

Abstract

ABSTRAK. Pengembangan buah di Indonesia termasuk yang di prioritaskan, namun kesegaran buah tidak dapat bertahan lama. Untuk memperpanjang ketahanan simpannya perlu diberi perlakuan dengan konsentrasi oksigen dan karbondioksida dalam kemasan. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni sampai bulan November 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan suhu penyimpanan dengan komposisi gas O2 dan CO2 yang tepat dalam pengemasan agar dapat mempertahankan mutu dan memperpanjang daya simpan buah mangga Gedong. Buah mangga dikemas dalam kantong plastik PE tebal 0,04 mm. Perlakuan komposisi gas yang dicoba terdiri dari 5,0% O2 + 5,0-5,8% CO2; 2,5% O2 + 5,0-5,8% CO2; 1,0% O2 + 5,0-5,8% CO2; Udara normal (21,0% O2 + 0,03% CO2), dan Udara terbuka serta suhu penyimpanan adalah 15oC dan 27-30oC. Penelitian disusun dengan Rancangan Acak Lengkap dalam pola Faktorial dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan konsentrasi gas 5,0% O2 + 5,0-5,8% CO2 pada penyimpanan suhu 15oC setelah 21 hari penyimpanan memberikan mutu terbaik dengan kandungan Padatan Total Terlarut 11,56oBrix, pH 4,09, vitamin C 29,44 mg/100g, dan kadar air 87,20% serta persentase busuk buah 13,47%. Penerapan teknik hasil penelitian ini dapat menguntungkan pengguna karena waktu untuk distribusi diperpanjang.ABSTRACT. The effect of gas composition of oxygen and carbon dioxide in the packages on Gedong mango fruit self life. In Indonesia the development of fruit is priority. The self life of mango fruits is short. For prolonging the self life of mango fruits necessary to three gas compositions of oxygen and carbon dioxide treatment followed in the packages. The experiment was conducted from June to November 2007. The aim of the study was to determine both of the proper initial gas composition (CO2:O2) at the best storage temperature for conservation and extention of storage life. The mango fruits were packed in polyethylene bags (0.04 mm) and various initial compositions of O2 and CO2 with two levels of storage temperature. The gas compositions were 5,0% O2 + 5,0-5,8% CO2; 2,5% O2 + 5,0-5,8% CO2; 1,0% O2 + 5,0-5,8% CO2; Normal air (21,0% O2 + 0,03% CO2), and Untreated, and the storage temperature at 15oC and 27-30oC. This experiments was arranged in factorial and Completely Randomized Design with three replications. The results showed that either application of initial gas concentration were 5,0% O2 + 5,0-5,8% CO2 at 15oC after 21 day storage was able to maintain the best quality mango fruit days with total soluble solid 11,56oBrix, pH 4,09, ascorbic acid content of 29,44 mg/100g, moisture content 87,20%, rotten 13,47%. Applying this resulting technique will benefit to user due to lengthen of the distribution time.
Isolasi dan Identifikasi Penyebab Penyakit Speckle Daun Pisang Sahlan -; Z. A. M Ahmad
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n3.2003.p190-196

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universiti Putra Malaysia dari bulan Mei sampai dengan Desember 2001. Penelitian bertujuan mengisolasi dan mengidentifikasi secara mendetail morfologi cendawan penyebab penyakit speckle daun pisang. Teknik isolasi menggunakan cellotape imprint, isolasi secara langsung dengan contoh daun sakit, dan isolasi spora tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik isolasi pal- ing sesuai untuk mendapatkan cendawan penyebab speckle daun pisang adalah isolasi spora tunggal. Berdasarkan atas pengamatan menunjukkan bahwa konidia cendawan yang berasal dari media buatan didominasi oleh konidia bersel tunggal, terbentuk dalam rangkaian, berbentuk oval atau membulat, tidak berwarna, berukuran panjang 3-21 mm dan lebar 2-6 mm.  Sementara konidia yang diambil secara langsung dengan selotip berukuran sedikit lebih besar, berukuran panjang 5-22 mm dan lebar 3-7 mm, terbentuk dalam rangkaian dan tidak berwarna. Berdasarkan atas sifat-sifat morfologinya, cendawan yang berasal dari contoh daun yang terserang penyakit speckle ada kesamaan dengan cendawan Cladosporium musae Mason sebagaimana telah dilaporkan sebelumnya. Kata kunci: Pisang; Penyakit speckle; Isolasi; Identifikasi ABSTRACT. The experiment was conducted at Phytopathology Laboratory of Universiti Putra Malaysia from May to De- cember 2001. The aim of this study was to isolate and to identify the causal agent of speckle disease from banana leaves. The isolation techniques used were cellotape imprint, direct plating diseased banana leaves, and single spore isolation. The results showed that the suitable technique for isolation agent of speckle disease was single spore isola- tion. Observation showed that the conidia in cultures were predominantly one-celled, colorless, produced in catenulate chains, and were ellipsoidal, ovate cylindrical or fusiform in shape. The average conidial dimension in cul- tures was 3-21 mm in length and 2- 6 mm in width. Those observed from cellotape imprints made on banana leaves were larger, averaging 5 -22 mm in length and 3 -7 mm in width. The cultural and morphological characteristics of the fungus isolated from diseased banana leaf samples are discussed.
Penentuan Metode Terbaik Uji Kalium untuk Tanaman Tomat Pada Tanah Inceptisols Luthfi Izhar; Anas D Susila; Bambang S Purwoko; Atang Sutandi; Iwayan Mangku
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n3.2013.p218-224

Abstract

Penelitian tentang studi analisis kalium tanah dan aplikasi pupuk kalium pada budidaya tomat pada tanah Inceptisols dilakukan di Kebun Percobaan dan Rumah Kaca di Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, dari Bulan April hingga November 2011. Tujuan penelitian untuk mendapatkan metode ekstraksi kalium tanah yang terbaik guna menentukan dosis pupuk kalium pada budidaya tomat pada tanah Inceptisols. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan pemberian pupuk kalium pada beberapa tingkat dosis, yaitu 0, ¼, ½, ¾, dan 1X, dimana nilai X ialah 608,6 kg K O kg/ha dengan empat ulangan. Perlakuan pemupukan kalium diterapkan pada 3 bulan sebelum penanaman tomat. Analisis korelasi dilakukan antara kandungan K tanah dan pertumbuhan tanaman di dalam rumah kaca menggunakan media inkubasi berasal dari tanah setelah diberi perlakuan. Uji kalium tanah menggunakan lima metode ekstraksi, yaitu metode HCl 25%, NH422) OAc 1 M pH 7, Mehlich I, Truog, dan Morgan Vanema. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang nyata antara pengaruh perlakuan pupuk K terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, dan diameter batang tomat. Bobot segar biomassa dan bobot kering tomat juga menunjukkan perbedaan pengaruh yang nyata antarperlakuan. Nilai korelasi tertinggi ditunjukkan pada metode pengekstrak Truog melalui parameter bobot kering dan basah relatif tanaman (r = 0,7). Dengan demikian, uji K tanah menggunakan metode Truog dapat digunakan sebagai metode ekstraksi yang paling tepat untuk menganalisis unsur hara kalium dalam rangka penyediaan rekomendasi pemupukan K pada budidaya tomat pada tanah Inceptisols.
Potensi Beberapa Fungisida Nabati dalam Mengendalikan Karat Putih (Puccinia horiana Henn.) dan Perbaikan Mutu Krisan Evi Silvia Yusuf; Waqiah Nuryani; Ika Djatnika; Hanudin -; Suhardi -; Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n4.2012.p385-391

Abstract

Puccinia horiana Henn. merupakan patogen penting penyebab penyakit karat putih yang menimbulkan kerugian signifikan dalam budidaya krisan, baik bunga potong atau tanaman pot. Aplikasi fungisida sintetik yang sering diandalkan oleh petani dan pengusaha tidak hanya memerlukan biaya yang lebih mahal, namun juga berdampak pada kerusakan lingkungan. Oleh karena itu pemanfaatan fungisida nabati yang lebih murah dan ramah terhadap lingkungan dapat menjadi alternatif pemecahannya. Beberapa fungisida nabati seperti Cees EC, Neem-plus, Cekam EC, dan Sitron-E berbahan aktif minyak atsiri cengkih, nimba, kayu manis, serai wangi, dan asam salisilat telah diproduksi dan dikomersialisasikan oleh Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Aplikasi fungisida tersebut diduga berpengaruh positif dalam menekan penyakit karat putih. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi keefektifan empat produk fungisida nabati tersebut dalam  mengendalikan penyakit karat putih dan meningkatkan kualitas pertumbuhan  krisan. Penelitian dilakukan di Rumah Plastik di Poncokusumo, Malang, Jawa Timur sejak Bulan Januari hingga Desember 2010. Bahan tanaman yang digunakan ialah Dendranthema grandiflora cv. Swarna Kencana. Perlakuan yang diuji ialah 3 ml/l untuk Cees EC, Neem-plus, Cekam EC, dan Sitron-E, serta 1,5 ml/l Amistartop 35 EC sebagai kontrol positif dan air sebagai kontrol negatif. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua fungisida nabati yang diuji efektif mengendalikan penyakit karat pada krisan. Perlakuan tersebut menurut uji statistik memiliki kemampuan yang sebanding dengan Amistartop. Penurunan intensitas karat putih oleh  perlakuan Cees EC, Neem-plus, Cekam EC, Sitron-E, dan Amistartop berturut-turut  sebesar  49; 37,74; 32,43; 29,78; dan 48,33%.  Aplikasi  Cees EC, Neem-plus, Cekam EC, dan Sitron-E tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, diameter bunga, dan vaselife bunga. Aplikasi hasil penelitian ini dapat memberi manfaat  untuk petani dan pengusaha dalam menurunkan biaya produksi serta meningkatkan pendapatan petani dan pengusaha karena harga keempat biofungisida murah dan tanpa dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan. Controlling white rust disease (Puccinia horiana Henn.) on chrysanthemum with some biofungicides P. horiana Henn. is important pathogen causing white rust disease  that may  lead to a significant lost in chrysanthemum cultivation (both for cut flower and pot plant). Synthetic fungicide commonly applied by farmers are causing not only high production costs, but also endangering the environment.  Confronting to this situation, the use of biofungicide that are considered cheaper and more environmental friendly has become  a relevant and promising alternative. Several biofungicides such as Cees EC, Neem-plus, Cekam EC, and Sitron-E with active ingredient of clove oil, neem, cinnamon, citronella, and salicylic acid have been commersialized by the Indonesian Medical and Spice Crops Research Institute. In this study those  biofungicides were hypothesized to have great potential in control the white rust  disease. The main objective of this study was to obtain information regarding  the efficacy of  four  biofungicides in controlling white rust disease on  chrysanthemum. The  experiment was conducted at Plastichouse in Poncokusumo, Malang, East Java from January to December 2010 by using Dendranthema grandiflora cv. Swarna Kencana as planting materials. The treatments were consisted of 3 ml/l application of Cees EC, Neem-plus, Cekam EC, and Sitron-E 1.5 ml/l application of difenokonazol + azoxistrobin (Amistartop 35 EC) as a positive control  and water as negative control. The experiment was set up  using a randomized block design with six treatments and four replications. The results showed that all tested biofungicides  were quite effective in  controlling white rust disease on chrysanthemum and had similar effectiveness in  reducing  disease intensity compared to  Amistartop. Cees EC, Neem-plus, Cekam EC, Sitron-E, and Amistartop had been able to reduce the white rust disease intensity by 49; 37.74; 32.43; 29.78; and 48.33% respectively. In the meantime, those biofungicides did not show significant effect on plant height, stem diameter, flower diameter, and flower vaselife. The use of biofungicides seems potentially promising to increase farmers income because the price of biofungicides were cheap and maintain environmental sustainability.
Pengaruh Media dan Penyungkupan Terhadap Daya Tumbuh Benih Jeruk Bebas Penyakit Hasil Penyambungan Meristem Tip In Vitro Nirmala Friyanti Devy; Suhariyono Suhariyono; Hardiyanto Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p15-25

Abstract

Teknologi penyambungan meristem tip (PMT) untuk mengeliminasi penyakit yang berasal dari graft-transmissible pada tanaman jeruk di Indonesia telah dilakukan sejak dua dekade lalu. Namun tingkat pertumbuhan benih hasil penyambungannya masih sangat rendah dan waktu yang diperlukan untuk proses indeksing masih relatif panjang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Pembibitan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika mulai Januari 2012 – Maret 2013. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan teknologi PMT yang diperbarui melalui modifikasi media in vitro serta penyungkupan untuk meningkatkan persentase keberhasilan dan daya tumbuh tanaman. Perlakuan yang diaplikasikan adalah penambahan konsentrasi vitamin MS pada media persemaian biji batang bawah jeruk Japanese Citroen/JC (Citrus medica) dan media pertumbuhan tanaman keprok Batu 55 (Citrus reticulata Blanco) hasil PMT in vitro. Pada tahapan berikutnya, perlakuan yang diaplikasikan adalah perbaikan kondisi lingkungan tumbuh berupa penambahan ukuran polibag dan pengaturan suhu lingkungan mikro tanaman dengan melakukan penyungkupan menggunakan plastik tanaman hasil PMT yang di-regrafting. Penelitian dirancang dalam rancangan acak lengkap dengan lima ulangan pada tahapan pertumbuhan semai in vitro, rancangan acak lengkap faktorial dengan lima ulangan pada pertumbuhan tanaman hasil PMT, dan rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan pada tahapan regrafting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pada fase semaian batang bawah in vitro, penambahan konsentrasi vitamin pada media sampai 10 kali tidak berpengaruh nyata terhadap persen perkecambahan biji serta pertumbuhan semaian JC, sedangkan pada fase ex vitro, perlakuan kombinasi antara ukuran polibag dan penyungkupan tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Perlakuan penyungkupan pada minggu ke–10 sampai dengan ke–14 berpengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan tinggi dan jumlah daun jeruk keprok Batu 55, masing-masing mencapai 40,1% dan 25,9%. Hasil penelitian ini akan mempercepat kisaran waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan tanaman induk jeruk bebas penyakit dengan menggunakan teknik PMT.

Page 63 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue