cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Tanggapan Tiga Kultivar Mawar terhadap Media Tumbuh Tanpa Tanah Sri Wuryaningsih; Agus Muharram; Iyus Rusyadi
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n1.2003.p28-40

Abstract

Media tanpa tanah mempunyai peluang untuk dikembangkan karena lebih bersih, ramah lingkungan, dan bahan – bahannya banyak terdapat di alam Indonesia. Percobaan dilakukan di rumah plastik  pada bulan Juni 1999 sampai dengan Februari 2000 dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan tiga kultivar mawar terhadap media tumbuh yang mengandung zeolit + serbuk sabut kelapa dan zeolit + serbuk gergaji. Rancangan percobaan adalah acak kelompok dengan pola faktorial, dua buah faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tiga kultivar mawar (Selabintana, maribaya, dan cipanas dwiwarna). Sedangkan faktor kedua adalah delapan komposisi serbuk sabut kelapa/serbuk gergaji + zeolit dan tanah sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa tunas yang terbentuk pada media serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + zeolit kultivar selabintana mencapai 2,42 kali, Maribaya 2,59 kali, dan cipanas dwiwarna 3,4 kali lebih tinggi dibandingkan pada media serbuk gergaji. Pertumbuhan vegetatif dan generatif mawar pada media  serbuk sabut kelapa, serbuk sabut kelapa + zeolit, dan tanah lebih baik dibandingkan pada serbuk gergaji. Rataan tinggi tanaman pada penggunaan serbuk sabut kelapa + 100 g zeolit adalah tertinggi yaitu 39,4 cm. Bobot total tanaman dan waktu inisiasi bunga pada penggunaan media serbuk sabut kelapa mencapai 1,8 kali lebih besar dan 29 hari lebih pendek dibandingkan pada media serbuk gergaji. Tanaman mawar yang ditumbuhkan pada media serbuk sabut kelapa + zeolit menghasilkan daun lebih hijau dan tanaman lebih tegar dibandingkan pada media serbuk gergaji + zeolit. Komposisi media serbuk sabut kelapa + zeolit 100 dan 200 g memenuhi syarat sebagai media tanam bagi budidaya mawar dan dapat digunakan sebagai media pengganti tanah. Kata kunci : Rosa hybrida L.; Mawar taman; Media tumbuh tanpa tanah; Pertumbuhan; Serbuk sabut kelapa; Zeolit; Serbuk gergaji. ABSTRACT. Soilless media has opportunity for development because of clean, environmentally sound, and the material could be found in Indonesia. Research on the response of rose cultivars to soilless media (coirdust + zeolite and saw- dust + zeolite) was conducted at plastic house from June 1999 to February 2000. Randomized complete block design with factorial pattern consists of two factors and three replications were used in this experiment. The first factor was three cultivars of rose and the second factor was eight combination compositions of sawdust/sawdust + zeolite and soil as control. The results showed that cultivars of Selabintana grown bud on sawdust or sawdust + zeolite media 2.4 times, maribaya 2.6 times, and cipanas dwiwarna 3.4 times higher than those on sawdust media. The vegetative and generative development of such cultivars on the coirdust, coirdust + zeolite, and soil were better than those on sawdust media. Coirdust + 100 g zeolite produced the highest plant high of 39.4 cm. The use coirdust media yielded plant total weight of 1.8 times, higher, fastened flower initiation time of 29 days and improved flower numbers of 3,84 times than those of sawdust media. The rose cultivars planted on zeolite + coirdust had leaf more greenery and heavier compared to those on zeolite + sawdust. The composition of 100 g coirdust and 200 g zeolite could be recommended as alterna- tive media for growing of rose.
Uji Daya Hasil Lanjutan Tomat Hibrida di Dataran Tinggi Jawa Timur Prasodjo Soedomo
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n1.2012.p8-13

Abstract

Varietas hibrida tomat telah banyak digunakan oleh petani dan tersebar luas diberbagai sentra produksi sayuran.Peningkatan permintaan dan kebutuhan akan varietas unggul baru tomat juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk menunjangpeningkatan permintaan produk tanaman tersebut, melalui kegiatan pemuliaan, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) telahmendapatkan beberapa galur harapan F1 hibrida. Untuk mengetahui produktivitas dan kualitas galur-galur harapan tersebut padalokasi yang berbeda, uji daya hasil lanjutan galur-galur tersebut sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dayahasil galur-galur F1 hibrida di Jawa Timur. Penelitian dilakukan di lahan petani, Desa Santrian, Kecamatan Batu, Kota AdministrasiBatu, Jawa Timur, dengan jenis tanah Latosol kecoklatan dan ketinggian + 800 m dpl. dari bulan Juli sampai dengan November2010. Sepuluh (10) galur F1 tomat hibrida harapan dari Balitsa yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) GH.F1-T-1; (2)GH.F1-T-2; (3) GH.F1-T-3; (4) GH.F1-T-4; (5) GH.F1-T-5; (6) GH.F1-T-6; (7) GH.F1-T-7; (8) GH.F1-T-8; (9) GH.F1-T-9; dan(10) GH.F1-T-10 serta dua varietas tomat F1 yaitu hibrid Marta dan Giok. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini ialahacak kelompok dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur tomat F1 hibrida dari Balitsa yaitu GH.F1-T-6mempunyai kualitas dan produktivitas terbaik dibanding galur harapan dan varietas pembanding. Galur GH.F1-T-6 memilikiproduktivitas buah hingga 5,9 kg per pohon dan jumlah buah 50,9 butir per pohon. Hasil ini membuktikan bahwa terdapat galurharapan F1 hibrid hasil pemuliaan Balitsa yang memiliki potensi besar dikembangkan didaerah Jawa Timur, khususnya DesaSantrian, Kec. Batu, Kota Administratif Batu.ABSTRACThybrid varieties have been generally used by farmer and distributed in several vegetable production areas. To support increasingdemand and need of new superior tomato varieties, via breeding activity, Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI)released several potential lines of F1 hybrids. To know productivity and quality of the potential lines in different cultivation area,the potential quality and productivity field trial test for the lines were addressed. Objective of the study was to know the productivityand quality of the IVEGRI tomato potential lines in East Java. The research was conducted at Santrian Village, Batu Subdistrict,Batu Administrative City, Malang-East Java in 800 m asl. and brownish Latosol soil type from July to November 2010. Ten (10)promising of tomato F1 hybrid lines tested in the study were (1) GH.F1-T-1; (2) GH.F1-T-2; (3) GH.F1-T-3; (4) GH.F1-T-4;(5) GH.F1-T-5; (6) GH.F1-T-6; (7) GH.F1-T-7; (8) GH.F1-T-8; (9) GH.F1-T-9; and (10) GH.F1-T-10, and two hybrid tomatoesF1 i.e. Marta and Giok for control. Randomized complete block design with four replications was used in the experiment. Theresults showed that GHF1-T-6 line from IVEGRI had the highest quality and productivity compared to others. The line had fruitproductivity up to 5.9 kg/plant and number of fruits up to 50.9 fruits per plant. Results of the study gave real evidence that therewas a promising line of F1 hybrid derived from IVEGRI breeding activity having high potential developed in East Java, especially in Santrian Village, Batu Subdistrict, Batu Administrative City, Malang.
Keterpautan Marka Amplified Fragment Length Polymorphism dengan Sifat Resisten Penyakit Antraknos pada Cabai Berdasarkan Metode Bulk Segregant Analysis Lia Sanjaya
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n3.2003.p169-176

Abstract

Penggunaan varietas resisten merupakan cara yang potensial untuk mengendalikan penyakit antraknos. Untuk mendapatkan varietas yang resisten perlu penerapan teknik seleksi yang efektif. Marka molekuler sebagai alat seleksi dalam program pemuliaan telah terbukti sangat handal dalam mempercepat perakitan varietas unggul. Di dalam penelitian ini marka amplified fragment length polymorphism (AFLP) yang terpaut erat dengan sifat tahan antraknos telah  diidentifikasi berdasarkan  metode bulk  segregant  analysis.  Penelitian  menggunakan populasi F2   hasil persilangan interspesifik antara jatilaba, C. annuum sebagai tetua rentan dan sebagai tetua resisten adalah PI 315023, C. chinense. Teknik molekuler AFLP memungkinkan menganalisis ribuan marka dalam waktu relatif singkat. Analisis bulk segregant adalah metode yang memfasilitasi identifikasi marka yang terpaut erat dengan gen yang dimaksud.  Dari  penelitian  ini  diperoleh  satu  marka AFLP  yang  terpaut  erat  dengan  sifat  tahan  antraknos (Colletotrichum capsici dan C. gloeosporioides) berdasarkan analisis fragmen yang teramplifikasi secara selektif menggunakan 96 kombinasi primer EcoRI/MseI. Marka E37M51184 dapat digunakan sebagai marker assisted selec- tion dalam program pemuliaan tanaman cabai dan merupakan dasar untuk mengkloning gen resisten. Kata kunci:  Capsicum annuum; Amplified fragment length polymorphism; Analisis bulk segregant; Antraknos; Collotetrichum capsici; Collotetrichum gloeosporioides. ABSTRACT. The use of resistant varieties is recommended to be as the most reliable method to control the antracnose disease on hot-pepper. To produce those varieties, effective selec- tion technique must be applied.  Molecular marker technologies have eased and potentiated for genetic analysis of plants and have become an extremely useful tool in plant breeding. Using F2, an intercross Jatilaba as susceptible par- ent and PI 315023 as resistance parent for segregation population as a model, this paper was aimed to show and discuss the possibility of  applying amplified fragment length polymorphism to assess the disease resistance against antracnose, Colletotrichum gloeosporioides and Colletorichum capsici, using bulk segregant analysis. A marker was identified linked to antracnose resistance based on selective amplified fragments using 96 EcoRI/MseI primer combi- nation. Marker E37M51184 can be used for hot-pepper breeding program as marker assisted selection and clonning of resistance gene.
Metode Deteksi Cendawan Penyebab Infeksi Laten pada Buah Jeruk Impor Nurholis Nurholis; Meity Suradji Sinaga; Efi Toding Tondok
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n4.2015.p357-366

Abstract

Infeksi laten adalah hubungan parasitik patogen yang bersifat dorman dalam tanaman inang, yang dapat berubah menjadi patogen yang aktif. Patogen infeksi laten pada buah jeruk impor berpotensi tinggi sebagai sumber inokulum yang dapat menyebabkan epidemik penyakit tumbuhan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menetapkan metode yang akurat, cepat, dan dapat diaplikasikan untuk mendeteksi keberadaan cendawan penyebab infeksi laten pada buah jeruk impor. Penelitian dilaksanakan berdasarkan studi kasus buah jeruk impor asal Argentina melalui pintu pemasukan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Perlakuan deteksi cendawan telah dilakukan pada bagian kalik, kulit, biji, dan karpel dari buah jeruk menggunakan metode konvensional dan molekuler. Deteksi secara konvensional terdiri atas direct agar plating technique (DAPT), kombinasi senescence stimulating technique (SST) dan DAPT, serta overnight freezing incubation technique (ONFIT). Deteksi secara molekuler menggunakan pasangan primer universal ITS1F dan ITS4. Tiap perlakuan menggunakan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan penyebab infeksi laten pada buah jeruk berhasil  dideteksi menggunakan metode konvensional dan molekuler. Metode DAPT berhasil mendeteksi Alternaria citri, Colletotrichum gloeosporioides, dan Fusarium incarnatum pada hari ketiga setelah inkubasi. Cendawan yang sama juga ditemukan melalui metode kombinasi SST dan DAPT pada hari kedua setelah inkubasi. Menggunakan metode ONFIT berhasil menemukan A. citri, C. gloeosporioides, F. incarnatum, C. boninense, dan Guignardia mangiferae pada hari ketiga setelah inkubasi. Temuan kelima spesies cendawan tersebut adalah hasil identifikasi secara konvensional melalui karakter morfologi yang diperkuat oleh teknik identifikasi secara molekuler. Keberadaan DNA cendawan penyebab infeksi laten pada buah jeruk juga berhasil dideteksi secara langsung melalui metode molekuler. Hasil sikuen mengidentifikasi cendawan tersebut adalah Alternaria sp. dan Fusarium sp. ONFIT adalah metode yang relatif cepat, akurat, dan dapat diaplikasikan untuk mendeteksi organisme pengganggu tumbuhankarantina (OPTK) pada buah jeruk impor sehingga direkomendasikan sebagai metode alternatif dalam tindakan pemeriksaan karantina pada buah jeruk di tiap-tiap pintu pemasukan.
Daya Gabung dan Aksi Gen pada Karakter Buah dan Hasil dari Populasi Setengah Dialel Lima Genotipe Pepaya (Carica papaya L.) Tri Budiyanti; Sobir Sobir; Desta Wirnas; Sunyoto Sunyoto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n4.2015.p278-293

Abstract

Salah satu masalah dalam perakitan varietas hibrida, yaitu memilih tetua yang mempunyai daya gabung tinggi. Untuk menghasilkan hibrida F1 pepaya dengan kualitas dan produksi yang tinggi diperlukan informasi daya gabung yang tinggi antartetua.  Penelitian bertujuan mengetahui daya gabung umum (DGU) dan daya gabung khusus (DGK) untuk mendukung program perbaikan genetik varietas pepaya. Pendugaan DGU dan DGK  menggunakan populasi setengah dialel lima genotipe pepaya. Lima tetua pepaya yang dipergunakan, yaitu BT2, Carmina, Dampit, Carmida, and Merah Delima. Penelitian  menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter  bobot buah, panjang buah, dan kekerasan daging dikendalikan oleh aksi gen aditif. Tetua Dampit  dapat dipilih sebagai tetua dengan DGU terbaik untuk karakter tersebut. Karakter tebal daging, PTT, jumlah buah, produksi per pohon, dan persentase buah cacat dikendalikan oleh aksi gen nonaditif karena efek DGK dan ragam nonaditif lebih besar daripada efek DGU dan ragam aditif. Hibrida Carmina x Carmida  mempunyai  nilai DGK dan rata-rata yang tinggi untuk karakter tebal daging dan PTT. Hibrida BT2 x Dampit, Carmina x Dampit, Dampit x Merah Delima, dan Dampit x Merah Delima  mempunyai DGK dan rerata yang tinggi untuk karakter produksi per pohon. Pasangan kombinasi hibrid F1 tersebut dapat berpotensi untuk  dipilih sebagai varietas unggul  hibrida pepaya dengan keunggulan produksi buah yang tinggi. Calon varietas unggul baru pepaya tersebut   dapat dikembangkan di masyarakat sehingga akan meningkatkan produksi pepaya di Indonesia.
Seleksi dan Adaptasi Empat Calon Varietas Unggul Buncis Tegak untuk Dataran Medium (Selection and Adaptation of Four Variety Candidates Superior Bush Bean Varieties for Medium Land) Diny Djuariah; Rini Rosliani; Helmi Kurniawan; Liferdi Lukman
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p49-58

Abstract

Buncis merupakan salah satu sayuran yang mempunyai peranan penting sebagai sumber gizi masyarakat dan sebagai sumber ekonomi. Rerata hasil buncis masih rendah (< 15 t/ha). Salah satu cara untuk meningkatkan produksi buncis baik kuantitas maupun kualitas, yaitu melalui penggunaan benih bermutu tinggi. Benih bermutu tinggi dapat berupa varietas unggul baru buncis tegak, yang sampai saat ini belum ada varietas yang didaftar. Skrining kultivar-kultivar buncis tegak telah dilakukan dan menghasilkan empat kultivar yang menunjukkan hasil yang baik. Hasil dari uji pendahuluan dan uji lanjutan menunjukkan ternyata buncis tegak cocok untuk dikembangkan di dataran medium dan dataran rendah sampai 200 m dpl. Oleh karena itu, sebagai syarat untuk pendaftaran varietas telah dilakukan uji keunggulan di tiga lokasi dataran medium dan dua musim tanam. Penelitian ini bertujuan mendapatkan varietas unggul buncis tegak untuk dataran medium, kualitas baik (seragam, renyah, dan polong hijau terang) dan produksi tinggi (> 20 t/ha). Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas lima nomor yang diuji, yaitu Le - 02, Le - 44, Balitsa 1, Balitsa 2, dan Balitsa 3 serta BC 02 sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Balitsa 1, Balitsa 2, dan Balitsa 3 merupakan varietas unggul buncis tegak untuk dataran medium yang disukai konsumen dan produksi lebih besar, masing-masing 16,25 t/ha, 19,50 t/ha, dan 19,71 t/ha. Dari hasil kegiatan uji keunggulan ini didapat tiga calon varietas unggul buncis tegak berkualitas baik dan produksi tinggi dan beralasan untuk didaftarkan.KeywordsVarietas unggul; Buncis tegak; Seleksi dan adaptasi; Dataran mediumAbstractBush bean is one of vegetable crops as a sources of nutrient and valuable economically. Average yield is still low (<15 t/ha). Application of new superior varieties may be improve yield and quality of bush bean. From cultivar selection activities, it has been gained four new superior cultivars. Results from preliminary and further studies it was revealed that the new superior cultivars are suitable and adapted, and can be developed for both medium and low altitudes up to 200 m asl. Those new superior varieties were tested for multi-locations test at three different medium land for two planting seasons (rainy). The goal of these experiments is to find out the new superior varieties of bush beans for medium land which give high yield and quality (>15 t/ha). A randomized block design with four replications will be arranged in the field. Treatments comprised of four candidate of superior cultivars of bush beans, viz. Le-02, Le-44, Balitsa 1, Balitsa 2, and Balitsa 3 and BC 02 (control cultivars). The result showed that Balitsa 1, Balitsa 2 and Balitsa 3 the superior cultivars that are suitable for medium land and the yield > each production is 16,25 t/ha, 19,50 t/ha, and 19,71 t/ha. If can be concluded superior test, all list three candidat strains with high yield and qualities are suitable and reasonable to be released.
Produksi Benih Sumber (G0) Beberapa Varietas Kentang dari Umbi Mikro Iteu Margaret Hidayat
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n3.2011.p197-205

Abstract

Pengembangan kawasan dan industri benih kentang yang terus meningkat dan tersebar di seluruh wilayah kepulauan di Indonesia harus didukung oleh sistem distribusi dan produksi benih yang efisien. Penggunaan umbi mikro merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan distribusi dan produksi benih sumber. Penelitian tentang penggunaan umbi mikro dalam produksi benih sumber (Go) kentang telah dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kasa bebas serangga Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari bulan Juni 2010 sampai dengan April 2011. Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan informasi nisbah perbanyakan umbi mikro varietas Amudra, Atlantik M, Cipanas, Granola L, Manohara, Merbabu, dan Ping dalam menghasilkan umbi yang memenuhi kriteria sebagai benih sumber. Umbi mikro yang diperoleh dari kultur in vitro planlet bebas patogen tujuh varietas kentang, yaitu Amudra, Atlantik M, Cipanas, Granola L, Manohara, Merbabu, dan Ping yang telah melampaui masa dormansi ditanam pada media yang terdiri atas campuran pupuk kandang dan arang sekam (1:1. v/v) yang telah disterilkan dengan pengukusan selama 4 jam. Jarak tanam 10 x 10 cm dengan jeluk penanaman 1 cm. Setiap ulangan terdiri atas 20 umbi. Penanaman umbi mikro mengikuti rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Pemupukan dilakukan dengan memberikan NPK 16:16:16 dosis 5g/l, 3 l pupuk/bak beroda diberikan pada interval 1 minggu sampai tanaman mencapai 10 minggu setelah tanam (MST). Penambahan media tanam dilakukan pada 4 dan 8 MST, dan panen dilakukan pada 12 MST. Hasil panen menunjukkan bobot umbi/tan, jumlah umbi/tan, proporsi umbi dengan diameter 0,7-1, 1,1-2, dan 2,1-3 cm berbeda sangat nyata di antara varietas yang diuji. Umbi mikro var. Amudra dan Merbabu menunjukkan bobot umbi/tanaman tertinggi masing masing 35 dan 34 g/tanaman, dengan proporsi umbi diameter 0,7-1, 1,1-2, dan 2,1-3 cm masing-masing 34,80, 50,52, 15,55%, dan 50,15, 33,93, dan 18,12%. Varietas yang menghasilkan jumlah umbi/ tanaman >10 ialah Granola L, Manohara, Merbabu, dan Ping. The increasing and developing of potato production area as well as potato seed industry which is spread through out the country must be supported by an efficient seed production and distribution system. The use of microtuber is one alternative to overcome seed production and distribution problems in Indonesia. Study on the use of microtuber in potato basic seed (Go) production was conducted in the Tissue Culture Laboratory and aphid proof Screenhouse, the Indonesian Vegetable Research Institute from June 2010 to April 2011. The study aimed to obtain information on multiplication rate of microtubers var. Amudra, Atlantik M, Cipanas, Granola L, Manohara, Merbabu, and Ping to produce tuber that meets basic seed criteria. Microtubers derived from in vitro culture of virus free plantlet of seven potato varieties viz Amudra, Atlantik M, Cipanas, Granola L, Manohara, Merbabu, and Ping with which their dormancy had broken were planted in the media composed of stable manure and burnt rice husk (1:1 v/v) sterilized by steaming for 4 hours. Planting distance was 10 x 10 cm, 1 cm depth. Each replication consisted of 20 tuber seed. Completely randomized design with three replications was used in the study.  NPK 16:16:16 at 5g/l, 3 l/roller bench was applied at 1 week interval up to weeks after planting (WAP). Medium was added for hilling up at 4 and 8 WAP, and tuber was harvested at 12 WAP. The results indicated that tuber weight/plant, tuber number/plant, tuber proportion with diameter 0.7-1, 1.1-2, and 2.1-3 cm were highly significant different among tested varieties. Plants derived from microtubers var. Amudra and Merbabu performed the highest tuber weight/plant at each 35 and 34 g/plant, with tuber diameter proportion 0.7-1, 1.1-2, and 2.1-3 cm were 34.80, 50.52, 15.55%, and 50.15, 33.93, and 18.12% respectively. Varieties that gave number of tuber/plant >10 were Granola L, Manohara, Merbabu, and Ping.
Morfogenesis Eksplan Keping Biji dari Tiga Klon Manggis (Garcinia mangostana L.) Pada Tiga Jenis Media Dasar Yosi Zendra Joni; Darda Efendi; Ika Roostika Tambunan
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p94-101

Abstract

Sistem regenerasi manggis secara in vitro merupakan metode alternatif yang mendukung upaya produksi benih secara masal dan pemuliaan tanaman manggis secara bioteknologi. Dalam kultur in vitro, jenis klon dan media dasar sangat menentukan pertumbuhan biakan manggis. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respons in vitro (morfogenesis) tiga klon manggis yang dikulturkan pada tiga jenis media dasar. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen) dari bulan Januari sampai Agustus 2013. Percobaan disusun secara faktorial dalam lingkungan rancangan acak lengkap. Faktor pertama yaitu eksplan yang berasal dari tiga klon manggis (Leuwiliang, Wanayasa, dan Puspahiang). Faktor kedua adalah tiga jenis media dasar (MS, WPM, dan B5). Setiap media diperkaya dengan gula 30 g/l, phytagel 2,5 g/l, glutamin 300 mg/l, dan 6-benzyldenine (BA) 5 mg/l. Setiap perlakuan terdiri atas 25 ulangan (botol). Dalam setiap botol terdapat tiga irisan melintang biji manggis yang berasal dari satu biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara jenis klon dengan jenis media dasar untuk peubah jumlah tunas, tinggi tanaman, jumlah daun/tunas, dan jumlah daun total. Terdapat interaksi antara jenis klon dengan jenis media dasar, yaitu untuk peubah jumlah nodul. Menariknya, penggunaan media MS menyebabkan jumlah tunas, jumlah daun total, dan jumlah nodul yang terbanyak. Tinggi tunas tertinggi diperoleh dari penggunaan media WPM dan B5. Selain itu, morfogenesis klon Wanayasa dan Puspahiang lebih baik daripada klon Leuwiliang
Persepsi Publik terhadap Keberadaan Pertanian Ur ban di Ja karta dan Bandung Witono Adiyoga; Ahmad Dimyati; Thomas Agoes Soetiarso; Mieke Ameriana; Rahman Suherman
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n2.2004.p134-149

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-No vem ber 2001 di dua daerah ur ban di Ja karta dan Bandung.Kegiatan survai dilakukan untuk menghimpun persepsi dan pengetahuan responden mengenai keberadaanpertanian ur ban, melalui wawancara menggunakan kuesioner. Responden sejumlah 39 orang (Ja karta) dan 41orang (Bandung) dipilih secara sengaja dari beberapa institusi terkait, perguruan tinggi, dan lembaga swadayamasyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden memberikan tanggapan positif terhadapkeberadaan pertanian ur ban. Sementara itu, jenis kegiatan yang menjadi preferensi sebagian besar responden adalahpengusahaan hortikultura (sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias), tidak saja dari sisi produksi, tetapi juga termasukpengolahannya. Sebagian besar responden mendukung penempatan kegiatan pertanian ur ban hampir di setiap lokasiyang secara teknis memenuhi syarat dan secara ekologis maupun estetis tidak mengganggu/merusak atau mengarahpada kegiatan yang bersifat kontra produktif. Responden juga berpendapat bahwa sebaiknya ada ar eal khusus di daerahur ban yang dialokasikan maupun yang dilarang untuk kegiatan pertanian. Menurut persepsi responden, tanggung jawabpembinaan yang perlu dilaksanakan secara terpadu oleh institusi pertanian, penataan kota, dan perencanaan harusmeliputi (a) memberikan pelayanan penyuluhan dan bantuan teknis bagi pelaku pertanian ur ban, (b) mengidentifikasilokasi yang memungkinkan untuk kegiatan pertanian ur ban, (c) menyusun formulasi kebijakan atau peraturanmenyangkut kegiatan pertanian ur ban, (d) memonitor kegiatan pertanian ur ban, dan (e) melakukan registrasi danpemberian ijin untuk kegiatan pertanian ur ban. Namun demikian, pengamatan dan pengalaman pribadi respondenmengindikasikan bahwa peranan institusi terkait dalam melakukan fasilitasi pengembangan pertanian ur ban di Ja -karta dan Bandung masih perlu terus ditingkatkan. Dua isu penting yang dipersepsi responden membatasiperkembangan pertanian ur ban adalah isu akses dan ketersediaan lahan, serta isu kelembagaan berhubungan dengandukungan kebijakan, regulasi, dan perencanaan. Strategi promosi yang harus dilakukan oleh berbagai instansi terkait(pertanian, penataan kota, dan perencanaan) menurut pendapat responden pada dasarnya, mengarah pada berbagaiupaya untuk melembagakan (institutionalization) pertanian ur ban ke dalam perencanaan pengembanganperkotaan. Secara berurutan, responden berpendapat bahwa prioritas tindakan yang perlu dilakukan berkenaan denganpengembangan pertanian ur ban adalah (1) menetapkan kebijakan yang jelas mengenai keberadaan pertanian ur ban sertaketerpaduannya dengan perencanaan pengembangan perkotaan yang dituangkan ke dalam peraturan daerah, (2)melakukan sosialisasi pertanian ur ban ke semua tingkatan masyarakat, tidak saja menyangkut potensi manfaatnya,tetapi juga mengenai kemungkinan dampak negatifnya (ekonomis dan ekologis), (3) memberikan pelatihan/penyuluhanteknologi tepat guna untuk mendukung kegiatan produksi, pengolahan, dan pemasaran beserta pro grampercontohannya, dan (4) memberikan fasilitasi, terutama kemudahan memperoleh lahan garapan dan kredit, kepadapelaku pertanian ur ban.Pub lic per -cep tion of ur ban ag ri cul ture ex is tence in Ja karta and Bandung. This study was con ducted from Au gust to No -vem ber 2001 in ur ban Ja karta and Bandung. A sur vey was car ried out to col lect in for ma tion re gard ing pub licper cep tion and knowl edge on the ex is tence of ur ban ag ri cul ture, through in ter views by us ing a questionaire.Respondents (39 and 41 from Ja karta and Bandung, re spec tively) were se lected pur pos ively from some in sti tu -tions, such as ag ri cul tural of fices, city plan ning of fices, uni ver si ties, and non-gov ern men tal of fices. Re sults in di -cate that all re spon dents show pos i tive opin ion and re sponse with re gard to the ex is tence of ur ban ag ri cul ture.Ag ri cul tural ac tiv ity pre ferred by most re spon dents is hor ti cul ture (veg e ta bles, fruits, and ornamentals), not onlyfrom pro duc tion side, but also on pro cess ing. Most re spon dents sup port all lo ca tions that sat isfy the tech ni cal re -quire ments for car ry ing out ag ri cul tural ac tiv i ties as long as they are eco log i cally and aes thet i cally sound. Re spon -dents sug gest not only the al lo ca tion of spe cial area for con duct ing ag ri cul tural ac tiv i ties, but also the pro hi bi tionof par tic u lar area to be used that may lead to coun ter pro duc tive ac tiv i ties. Most re spon dents per ceive that the re -spon si bil ity for guid ing the de vel op ment of ur ban ag ri cul ture should be car ried out as an in te grated ef fort from ag -ri cul tural and city plan ning of fices that may in clude (a) pro vid ing ser vices, ex ten sion, and tech ni cal as sis tance tour ban ag ri cul ture ac tors, (b) iden ti fy ing lo ca tions most fea si ble for ur ban ag ri cul ture ac tiv i ties, (c) for mu lat ingpol i cies or legislations to reg u late ur ban ag ri cul ture ac tiv i ties, (d) mon i tor ing ur ban ag ri cul ture ac tiv i ties, and (e)con duct ing reg is tra tion and pro vid ing per mits for ur ban ag ri cul ture ac tiv i ties. How ever, re spon dents’ per sonal ob -ser va tion and ex pe ri ence in di cate that the ef fec tive ness of these in sti tu tions in car ry ing out their roles still needssome im prove ments. Two im por tant is sues con sid ered im por tant by most re spon dents that may limit or ham per thede vel op ment of ur ban ag ri cul ture are land ac cess/avail abil ity and in sti tu tional as pects re lated to pol icy, reg u la tionand plan ning sup ports. Most re spon dents per ceive that the pro mo tion strat egy of ur ban ag ri cul ture should beaimed at in sti tu tion al iz ing the in te gra tion of ur ban ag ri cul ture plan ning into ur ban/city de vel op ment plan ning.There are some pri or ity ac tions re spec tively sug gested by re spon dents in de vel op ing ur ban ag ri cul ture, those are(1) formulating clear policies regarding the existence of urban agri culture and its integration to the city development planning that is documented in regional legis lation/regulation, (2) socializing the existence of urban agri culture to alllev els, not only its po ten tials, but also its neg a tive im pacts, eco nom i cally, and eco log i cally, (3) pro vid ing train ing/ex -tension on appropriate technol ogy to support production, processing and marketing activities, including its dem onstra -tion programs/plots, and (4) providing facil itation, especially access to land and credit to urban agri culture producers.
Seleksi Khamir Epifit Sebagai Agens Antagonis Penyakit Antraknosa Pada Cabai Sri Hartati; Suryo Wiyono; Sri Hendrastuti Hidayat; Meity S Sinaga
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n3.2014.p258-265

Abstract

Antraknosa merupakan penyakit penting pada tanaman cabai yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar. Khamir merupakan salah satu mikroba yang telah diketahui berpotensi sebagai agens antagonis pada berbagai produk pascapanen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat-isolat khamir epifit yang berpotensi sebagai agens antagonis penyakit antraknosa pada cabai. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikologi Tumbuhan dan Kebun Percobaan Institut Pertanian Bogor, dari bulan April sampai Desember 2013. Khamir epifit diisolasi dari daun dan buah cabai merah yang diperoleh dari pertanaman cabai di Rancabango dan Panjiwangi (Kabupaten Garut) dan Dramaga (Kabupaten Bogor). Patogen penyebab antraknosa yaitu Colletotrichum acutatum diisolasi dari buah cabai bergejala dari pertanaman cabai di Panjiwangi. Khamir hasil isolasi diuji patogenisitasnya pada benih dan buah cabai. Khamir nonpatogenik diseleksi potensi antagonismenya terhadap  penyebab penyakit antraknosa. Diperoleh 43 isolat khamir epifit, semua isolat bersifat nonpatogenik berdasarkan hasil uji patogenisitas. Seleksi potensi antagonisme isolat khamir epifit menghasilkan 23 isolat yang berpotensi sebagai agens antagonis C. acutatum. Empat belas isolat  khamir epifit menyebabkan penghambatan penyakit antraknosa lebih besar dibandingkan mankozeb.

Page 67 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue