cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Identifikasi Patogen Penyebab Busuk Pangkal Batang pada Tanaman Jeruk di Tanah Karo Marpaung, A E; Silalahi, Frit H; Purba, EIY
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pertanaman jeruk saat ini, di Kabupaten Karo, memperlihatkan produktivitas rendah dan umur tanamanyang pendek. Hal tersebut disebabkan oleh serangan Phytophthora spp. yang merupakan patogen penyebab penyakitbusuk pangkal batang pada tanaman jeruk. Penelitian bertujuan mengidentifikasi Phytophthora spp., patogen penyebabpenyakit busuk pangkal batang pada tanaman jeruk. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit, Kebun PercobaanTanaman Buah Berastagi dalam bulan Januari-Februari 2007. Daerah pengambilan sampel ialah di Desa SumbulKecamatan Kabanjahe, dan Desa Barusjahe Kecamatan Barusjahe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamurPhytophthora palmivora, P. citrophthora, dan P. parasitica ditemukan di Desa Sumbul. Jamur P. citrophthora danP. parasitica juga diperoleh di Desa Barusjahe. Sporangia dan misellium P. palmivora di Desa Sumbul berwarnamerah jambu dan putih, P. citrophthora berwarna putih dan hijau kehitaman, serta P. parasitica berwarna putihdan kuning muda, sedangkan di Desa Barusjahe P. citrophthora berwarna putih dan merah jambu dan P. parasiticaberwarna putih. Ukuran (panjang x lebar) sporangia P. palmivora (33-45) x (30-50) μm, P. citrophthora di DesaSumbul (40-50) x (34-50) μm, dan di Desa Barusjahe (30-45) x (30-45) μm, P. parasitica di Desa Sumbul (33-35) x(29-30) μm, dan di Desa Barusjahe (30-40) x (28-30) μm. Ukuran sporangiofor P. palmivora pada umumnya sebesar6,25-250 μm, panjang sporangiofor P. citrophthora di Desa Sumbul antara 25-68,75 μm dan di Desa Barusjahe12,5-100 μm, sedangkan panjang sporangiofor P. parasitica di Desa Sumbul 43,75-162,5 μm dan di Desa Barusjahe6,25-150 μm. Spesies phytophthora yang paling banyak ditemukan di Desa Sumbul adalah P. palmivora, sedangkandi daerah Barusjahe adalah P. citrophthora. Hasil identifikasi yang diperoleh dari penelitian ini akan bermanfaatdalam menentukan cara pengendalian Phytophthora spp. pada tanaman jeruk.ABSTRACT. Marpaung, A.E., F.H. Silalahi, and E.I.Y. Purba. 2010. Identification of the Causal Agent ofBrown Rot Gummosis on Citrus in Karo Region. Citrus cultivation in Karo region has exhibited low yieldingand short plant lifetime. This condition was caused by the infection of Phytophthora spp., the causal agent of brownrot gummosis on citrus. The objectives of the research was to identify the occurence of Phytophthora spp. on citrusplants. The research was conducted in Berastagi Fruits Plant Research Farm, from January to February 2007. Thesamples were collected from Kabanjahe District at the viilage of Sumbul and Barusjahe. The results indicated, thatPhytophthora palmivora, P. citrophthora, and P. parasitica were obtained from Sumbul village, while P. citrophthoraand P. parasitica were also found in Barusjahe village. The color of sporangia and misellium of P. palmivora originatedfrom Sumbul Village was white, P. citrophthora was white and dark green, and P. parasitica were pink and yellow,meanwhile the color of at P. citrophthora obtained from Barusjahe village were white and pink and P. parasitica waswhite. The size of sporangia P. palmivora was (33-45) x (30-50) μm, P. citrophthora at Sumbul Village was (40-50)x (34-50) μm, and from Barusjahe Village was (30-45) x (30-45) μm, P. parasitica at Sumbul Village was (33-35)x (29-30) μm and Barusjahe Village was (30-40) x (28-30) μm. The general length of sporangiofor P. palmivorawas 6.25-250 μm. The length of sporangiofor P. citrophthora at Sumbul Village was 25-68.75 μm and at BarusjaheVillage was 12.5-100 μm, even though P. parasitica at Sumbul Village was 43.75-162.5 μm and Barusjahe Village was6.25-150 μm. The most species of phytophthora found at Sumbul Village was P. palmivora and at Barusjahe Villagewas P. citrophthora. The result of the identification wil beneficial for the development of easier control measures ofPhytophthora spp. disease on citrus.
Hubungan antara Ketersediaan Hara Tanah dengan Cemaran Getah Kuning pada Buah Manggis Martias, -; Poerwanto, R; Anwar, S; Hidayati, R
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Cemaran getah kuning merupakan masalah utama yang menyebabkan rendahnya kualitas buah manggis untuk ekspor. Ketersediaan hara di dalam tanah diduga berpengaruh terhadap cemaran getah kuning. (Tambahkan informasi pada level konsentrasi hara Ca dan Mn yang bagaimana yang berpengaruh terhadap frekuensi/insidensi getah kuning pada manggis).  Penelitian hubungan antara ketersediaan hara tanah dengan cemaran getah kuning pada buah manggis dilakukan di Desa Karacak, Barengkok, Garogek, dan Pusaka Mulia (Jawa Barat),  Koto Lua, Baringin, Pakandangan, Padang Laweh, Lalan (Sumatera Barat), dan Sukarame (Lampung), dari bulan  Desember 2009 sampai Juli 2011 (Perlu ditambahkan informasi yang jelas perbedaan lokasi yang dipilih apakah merepresentasikan adanya perbedaan yang mencolok kasus cemaran getah kuning manggis, sehingga pembaca bisa membaca alasan penentuan lokasi tersebut, mengingat cemaran getah kuning menjadi factor penting penelitian ini). Lokasi penelitian di tingkat desa ditentukan dari hasil wawancara menggunakan teknik purposive sampling dengan pedagang pengumpul di tingkat kecamatan dan desa. Pada setiap lokasi dari 10 sentra produksi yang terpilih, ditentukan 10 tanaman yang representatif  untuk diamati, setiap tanaman diambil 100 buah sampel. Buah manggis yang diamati untuk seluruh lokasi mencapai 10.000 buah (1.000 buah untuk setiap lokasi). Sampel tanah diambil dari zona perakaran pada masing-masing pohon serta dianalisis sifat kimia dan ketersediaan hara tanahnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cemaran getah kuning pada buah manggis secara langsung dikendalikan oleh ketersediaan Ca dan Mn dalam tanah. Ketersediaan K, P, Mg, Cu, Zn, dan B dalam tanah secara tidak langsung berpengaruh terhadap cemaran getah kuning (Mekanismenya bagaimana? Perlu dijelaskan). Kalsium berperan mengeliminasi, sedangkan Mn menginduksi cemaran getah kuning pada aril (daging buah) maupun kulit buah manggis. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan untuk mengendalikan cemaran getah kuning pada buah manggis.ABSTRACT. Martias, Poerwanto, R,  Anwar, S, and Hidayati, R 2012. Relationship between Nutrient Availability of Soil with Yellow Sap Contamination on Mangosteen Fruits. Yellow sap contamination on mangosteen fruits is a major problem that causes poor quality on mangosteen fruits for export. Soil nutrients availability would  be expected influence directly and indirectly in eliminating or inducing yellow sap contamination. Research relationship between nutrients availability with yellow sap contamination on mangosteen fruits was  done in some mangosteen production center areas in the Village Karacak, Barengkok, Garogek, and Pusaka Mulia (West Java), Koto Lua, Baringin, Pakandangan, Padang Laweh, and Lalan (West Sumatera), and Sukarame (Lampung), from December 2009 to July 2011. Research sites at the village level were determined by interviewing traders at district and village levels using purposive sampling technique. At each location of 10 from center production that was selected, determined 10 plants representative to observe, each plant taken 100 fruits sample. Mangosteen fruits were observed for all sites reach 10 thousand pieces (1,000 pieces for each location). Soil samples were taken at the root zone of each tree and analyzed the chemical properties and soil nutrient availability. The results showed that the yellow sap contamination of mangosteen fruits was directly controlled by the availability of Ca and Mn  in the soil. The availability of K, P, Mg, Cu, Zn, and B in the soil indirectly affected yellow sap contamination. Calcium played to eliminate and Mn contributed to induces yellow sap contamination, either aryl and the skin of mangosteen fruits. The results of  this study can be used as the basis for the study contaminat control yellow sap of the  mangosteen fruits.
Hubungan antara Tingkat Konsentrasi Inokulum Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 dengan Perkembangan Penyakit Layu pada Kultivar Pisang Rentan Riska, -; Jumjumidang, -; Hermanto, Catur
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Peran konsentrasi inokulum awal patogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) terhadap insidensi penyakit layu pada pisang perlu diteliti, mengingat patogen ini persisten di dalam tanah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi inokulum Foc VCG 01213/16 dengan laju perkembangan penyakit layu pada pisang. Bahan yang digunakan ialah kultivar pisang rentan (Kilita). Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika pada bulan Mei sampai dengan September 2009. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, perlakuan terdiri atas lima taraf konsentrasi inokulum Foc yaitu 0; 102; 104; 106; dan 108 sel konidia/ml dengan lima ulangan, masing-masing plot berisi lima tanaman. Analisis regresi dan korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi inokulum dengan perkembangan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua taraf konsentrasi inokulum Foc VCG 01213/16 dapat menyebabkan 100% tanaman terserang. Perbedaan konsentrasi berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi, intensitas, dan perkembangan penyakit pada pisang Kilita. Makin tinggi konsentrasi inokulum, maka makin cepat masa inkubasi penyakit serta makin tinggi intensitas dan perkembangan penyakit. Terdapat korelasi positif antara konsentrasi inokulum dengan intensitas penyakit pada daun dan bonggol pisang dan korelasi negatif antara masa inkubasi dengan intensitas penyakit pada daun dan bonggol pisang. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat direkomendasikan bahwa pengendalian Foc harus diarahkan pada upaya penurunan konsentrasi inokulum awal di dalam tanah sampai pada tingkat serendah mungkin.ABSTRACT. Riska, Jumjunidang, and Hermanto, C 2012. Relation between Concentration Level of Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 and the Disease Development on Susceptible Banana. Initial inoculum of pathogen is the most important factor to be observed, due to persistent of F. oxysporum f.sp.cubense (Foc) in the soil. The research was aimed to ascertain the relation between concentration levels of Foc VCG 01213/16 and the disease development on susceptible banana. This research was conducted at the Indonesian Tropical Fruits Research Institute from May to September 2009. Kilita as banana variety wich susceptible to Foc was used in the study as plant material. The experiment was arranged in a randomized complete block design with five concentrations of inoculum i.e. 0; 102; 104; 106; and 108 conidia/ml and five replications. Regression analysis was performed to determine the relation between concentration levels of Foc VCG 01213/16 and the disease development on susceptible banana. The results showed that there was no significant difference observed among the concentration levels of Foc inoculums on the percentage of wilted plants.  All the concentrations caused 100% of Kilita bananas to be wilt. The inoculum concentrations of Foc VCG 01213/16 significantly affected incubation period, the disease intensity on leaves and corm and disease development on Kilita. The higher concentration of Foc inoculums, the shorter disease development and incubation period occurred, the higher levels of disease intensity observed. There was a positive correlation between the inocolum concentration and the disease intensity and a negative correlation between the incubation period and the disease intensity on banana leaves and corms of the banana. The result of study, it could be recommended that decreasing initial inoculums of Foc in the soil is important to be done to control the disease severity in the field.
Deteksi dan Pemetaan Distribusi Fusarium oxysporum f. sp. Cubense pada Daerah Potensial Pengembangan Agribisnis Pisang di In do ne sia Nasir, Nasril; Jumjunidang, -; Riska, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) adalah patogen pal ing berbahaya pada tanaman pisang didunia. Di In do ne sia, sekitar 8 juta rumpun tanaman pisang tradisional dan lebih dari 5000 ha perkebunan komersialhancur oleh patogen ini, selama kurun waktu 1995/1996-2000/2001. Patogen ini telah menyebabkan kerugianekonomis yang sangat besar. Walaupun tingkat kehancuran oleh Foc telah mencapai tingkat yang cukup tinggi,namun belum ditemukan cara pengendalian yang pal ing tepat, baik secara ekonomis maupun efektivitasbahan/metoda yang diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi dan memetakan keberadaan Foc, agardalam pengembangan pisang dalam skala agribisnis, kerugian yang sangat besar akibat serangan patogen ini dapatdihindari secara dini. Penelitian dilakukan sejak bulan Juli 2001 sampai dengan Desember 2002. Pemetaan dilakukandi lokasi yang sudah dipublikasikan sebagai lokasi potensial untuk pengembangan agribisnis pisang di In do ne sia, danatau pada lokasi-lokasi yang ditargetkan oleh pemerintah daerah setempat sebagai lokasi pengembangan pisang.Lokasi yang dipilih adalah Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Barat dan Lampung. Deteksi dilakukan dengan mengambilsampel tanaman pisang terserang Foc pada lokasi-lokasi tersebut. Isolat dikarakterisasi secara VOT di LaboratoriumPenyakit, Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok. Dari 67 isolat yang dikoleksi berasal dari 28 jenis pisang, 60 diantaranya adalah Foc ras 4. Pengembangan agribisnis pisang di lokasi terinfeksi oleh ras 4 tidak direkomendasikan,bila tidak menggunakan varietas tahan atau menggunakan metoda pengendalian Foc ras 4 yang sudah terujikemangkusannya.De tec tion and map ping of Fusarium oxysporum f. sp.cubense on the potential area for banana agribusiness development in Indonesia. Fusarium oxysporum f. sp.cubense (Foc) is the most dan ger ous patho gen on ba nana in the world. In In do ne sia, about 8 mil lion mats of ba nana tra -di tional plan ta tion and more than 5 000 hect ares of com mer cial plan ta tion have de stroyed by this patho gen in theperiode of 1995/1996–2000/2001. The patho gen has caused enor mous eco nomic dam age in the coun try. Al thoughdev as ta tion caused by the patho gen has reached the data men tioned above, there was no ap pro pri ate method to con trolthe patho gen to date, whether in term of the eco nomic value or the ef fec tive ness ways in com bat ing the patho gen. Thepur pose of this study was to de tect and to map the ex ist ing of Foc so that ba nana ag ri busi ness de vel op ment pro gram inIn do ne sia can be avoided from the dev as ta tion caused by the patho gen. Mappings were con ducted on the se lected lo -ca tions which have been pub lished as the po ten tial area for ba nana ag ri busi ness de vel op ment in some parts ofSumatera. Or at the ar eas which are tar geted by lo cal gov ern ment to be used for ba nana es tate pro gram. Stud ies wereheld in the Prov inces of Riau, Jambi, West Su ma tra and Lampung. De tec tion was car ried out by col lect ing sam ple ofdis eased plants at the lo ca tions which were clar i fied above. Iso lates were char ac ter ized by VOT tech nique at the plantpa thol ogy lab o ra tory of the Re search In sti tute for Fruits, Solok. From 67 iso lates col lected which de rived from 28 ba -nana cultivars, 60 of them were race 4 of Foc. Based on this study, to de velop ba nana ag ri busi ness pro gram in the ar easwhich have been or be ing in fected by Foc race 4 is not rec om mended, un less re sis tant cultivars availabe or im ple men -ta tion of a method which has been suc cess fully tested to con trol Foc race 4.
Tanggap Pertumbuhan Tanaman Biwa terhadap Berbagai Perbandingan Dosis Pupuk N, P, dan K Silalahi, Fritz H; Marpaung, Agustina E; Tarigan, Rariska
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah biwa (Eriobotrya japonica) sangat baik untuk kesehatan tubuh dan dapaat digunakan sebagai bahan baku obat-obatan. Budidaya tanaman biwa di tingkat petani saat ini masih bersifat tradisional, sehingga produksinya masih rendah dan belum dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Salah satu penyebabnya ialah keterbatasan informasi mengenai penggunaan pupuk yang efektif dan efisien pada pembudidayaannya. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemberian pupuk N, P, dan K pada tanaman biwa. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Tanaman Buah Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl., dengan jenis tanah Andisol, yang dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan Desember 2006. Percobaan menggunakan rancangan  acak kelompok pola faktorial dengan dua ulangan. Perlakuan terdiri atas tiga faktor yakni : N (0, 180, dan 360 kg/ha), P (0 dan 36 kg/ha), dan K (0, 180, dan 360 kg/ha). Hasil penelitian menunjukkan adanya  interaksi NxP dan NxK terhadap pertambahan tinggi tanaman pada umur 6 dan 8 bulan setelah pemberian pupuk pertama.Tidak ada interaksi NxP yang nyata terhadap pertambahan diameter batang, namun ada interaksi NxK yang nyata terhadap pertambahan diameter batang pada umur 4, 6, dan 8 bulan setelah pemberian pupuk pertama. Taraf dosis pupuk N:P:K (360:36:180) kg/ha menghasilkan pertumbuhan vegetatif tanaman biwa (tinggi tanaman, diameter batang, serta jumlah tunas) yang lebih baik dari perlakuan lainnya. Hasil analisis daun biwa memperlihatkan bahwa kandungan hara N, P, dan K   terbesar dalam daun yang ditemukan pada perlakuan dosis pupuk N:P:K (360:36:180) kg/ha. Implikasi dari penelitian ini adalah sebagai pedoman pemupukan pada budidaya biwa. Loquat fruits is very good for human health. Furthermore, it can be used as the raw material for some medicines. Until now the loquat cultivataion is still traditionally practiced by farmers, so its production is still very low and can not fulfill consumers demand. One of the reasons is that the information of effective and efficient fertilization is not available. The objective of the research was to determine the effect of  N, P, and K fertilizers on the growth of loquat. The research was conducted at Berastagi Experimental Fruit Farm, at altitude of 1,340 m asl, with  Andisol soil type, on January to December 2006. A randomized block design was used with two replications. The research consisted of 18 treatments combination with three factors i.e. N (0, 180, and 360 kg/ha), P (0 and 36 kg/ha), and K (0, 180, and 360 kg/ha). The results showed that there were significant interaction effects of NxP and NxK to plant height on 6 and 8 months after the first fertilizer application. The significant interaction effect of NxK was also stem diameter on 4, 6, and 8 months after the first fertilizer application. The  dosage of N:P:K (360:36:180 kg/ha) exhibited better vegetative growth of loquat (plants height, stem diameter, and number of shoots) compared to other treatments. The analysis of loquat leaves indicaated that the content of N, P, and K nutrients on leaves was higher on the fertilizer dosage of N:P:K = 360:36:180 kg/ha  compared to the other fertilizer treatments.Implication of the research is to guide fertilizing on loquat cultivation.
Respons Tanaman Bawang Merah terhadap Pemupukan Fosfat pada Beberapa Tingkat Kesuburan Lahan (Status P-Tanah) Sumarni, N; Rosliani, R; Basuki, R S; Hilman, Yusdar
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pemupukan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan tanaman akan unsur hara dan kandungan hara dalam tanah, agar diperoleh hasil yang optimal. Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan dosis optimal pupuk P pada dua varietas bawang merah pada beberapa tingkat kesuburan tanah (status P-tanah). Penelitian dilakukan di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, dari bulan Mei sampai dengan Desember 2008. Rancangan percobaan yang digunakan ialah split-split plot design dengan tiga ulangan. Petak utama ialah varietas bawang merah, terdiri atas varietas Bangkok dan Kuning. Anak petak ialah kandungan/status P-tanah (Bray 1), terdiri atas rendah (<15 ppm P2O5), sedang (16–25 ppm P2O5), dan tinggi (>26 ppm P2O5). Anak-anak petak ialah dosis pupuk P (P2O5), terdiri atas 0, 60, 120, 180, dan 240 kg/ha. Pupuk N dan K diberikan sebagai pupuk dasar dengan dosis N 150 kg/ha dan K2O 150 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara varietas, status P-tanah, dan dosis pupuk P terhadap luas daun, bobot umbi segar, dan bobot umbi kering eskip per tanaman, serta serapan P tanaman bawang merah. Pada status P-tanah rendah dan sedang, dosis optimal pupuk P untuk varietas Bangkok dan Kuning masih belum diketahui, karena kurva respons hubungan antara dosis pupuk P dan hasil umbi kering eskip masih linier. Pada status P-tanah tinggi, hubungan antara dosis pupuk P dan hasil umbi kering eskip varietas Bangkok ataupun Kuning bersifat kuadratik. Hasil umbi kering eskip maksimal diperoleh dengan dosis pupuk P sebesar 126,50 kg/ha P2O5 untuk varietas Bangkok dan 0 kg/ha P2O5 untuk varietas Kuning. Makin tinggi dosis pupuk P yang diberikan, maka makin tinggi pula residu pupuk P terdeteksi dalam tanah. Implikasi hasil penelitian ialah kebutuhan  pupuk P yang optimal pada bawang merah berbeda bergantung pada status P-tanah dan varietas yang digunakan.ABSTRACT. Sumarni, N, Rosliani, R, Basuki, RS,  and Hilman, Y 2012. Response of Shallots Plant to Phosphat Fertilization on Several Soil Fertility Levels (Soil-P Status). To achieve an optimum yield, fertilization should be applied based on plant nutrient requirement and soil nutrient content. This experiment was carried out at Screenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute from May to December 2008, to find out the optimum dosage of P fertilizer for two shallots varieties on several soil fertility levels (soil-P status). A split-split plot design with three replications was set up for this experiment. Main plots were shallots varieties i.e.: Bangkok and Kuning. Subplots were three soil-P statuses i.e.: low (<15 ppm P2O5), medium (16–25 ppm P2O5), and high (>26 ppm P2O5). Sub-subplots were five levels of P fertilizer dosage of 0, 60, 120, 180, and 240 kg/ha P2O5. Nitrogen fertilizer of 150 kg/ha and K fertilizer (K2O) of 150 kg/ha were applied to all. The results showed that there were interaction effect among varieties, soil-P status, and P fertilizer dosages influencing leaf area, fresh, and dry weight of bulb yield, and P uptake by shallots plant. The optimal dosage of P fertilizer for Bangkok and Kuning varieties on low and medium of soil-P status was still unknown yet, since the relation response curve of relationship between P fertilizer dosages and dry bulb yield was still linear. Meanwhile, in high of soil-P status, the response curve was quadratic for both Bangkok and Kuning varieties. The maximum dry bulb yield was obtained by 126.50 kg/ha P2O5 for Bangkok and 0 kg/ha P2O5 for Kuning. The higher of P fertilizer dosage applied, the higher of residual of P fertilizer detected in soil. The optimum dosage of P fertilizer for shallots production was different depend on variety and soil-P status.
Induksi Mutasi Kecombrang (Etlingera elatior) Menggunakan Iradiasi Sinar Gamma Dwiatmini, Kristina; Kartikaningrum, Suskandari; Sulyo, Yoyo
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Etlingera elatior merupakan tanaman asli Indonesia yang berpotensi untuk dijadikan sebagai bunga potongbernilai komersial. Penelitian untuk mendapatkan keragaman yang luas telah dilaksanakan di Pusat Penelitian danPengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi, Pasar Jumat Jakarta dan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung daribulan Juni 2003 sampai Januari 2004 untuk mendapatkan variabilitas genetik kecombrang yang luas. Biji kecombrangdiiradiasi sinar gamma dengan dosis 0, 20, 40, 60, 80, dan 100 Gy, dengan laju dosis 2,044437 KGy/jam. Pengamatandilakukan pada jumlah tanaman yang tumbuh serta banyaknya tanaman normal dan abnormal. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa LD50 adalah 62,074 Gy. Makin tinggi dosis, pertumbuhan tanaman makin terhambat. Pada dosis20-40 Gy, sebagian tanaman mengalami perubahan bentuk dan chimera, sedangkan dosis 60 Gy menyebabkan seluruhtanaman menunjukkan perubahan bentuk. Dosis anjuran iradiasi pada biji kecombrang adalah 20-40 Gy.ABSTRACT. Dwiatmini, K., S. Kartikaningrum, and Y. Sulyo. 2009. Mutation Induction of Etlingera elatiorUsing Gamma Ray Irradiation. The torch ginger (Etlingera elatior (Jack) R.M. Smith) is believed native to Indonesia,and has the potential for commercial cut flower. The experiment was conducted at Indonesian Isotope Technologyand Radiation Researh Institute, Pasar Jumat Jakarta and Indonesian Ornamental Crop Research Institute, Segunungfrom June 2003 until January 2004. The aim of the experiment was to obtain a wide torch ginger genetic variability.The torch ginger seeds was irradiated by gamma ray at 6 levels of 0, 20, 40, 60, 80, and 100 Gy, under 2.044437KGy/h dosage rate. Number of survival plants, normal and abnormal plants were evaluated. The results showed thatthe LD50 was at 62.074 Gy. The higher the dosage, the more restricted the growth. Dosages of gamma rays between20-40 Gy, resulted in chimeras for some plants. While 60 Gy dosage, all plants showed chimeras. Recomended dosagegamma ray irradiation for torch ginger seed was at the range of 20-40 Gy.
Optimasi Jarak Tanam dan Dosis Pupuk NPK untuk Produksi Bawang Merah dari Benih Umbi Mini di Dataran Tinggi Sumarni, N; Rosliani, R; Suwandi, -
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Benih umbi mini bawang merah (shallots set) adalah benih umbi berukuran kecil (<3 g/umbi) yang dihasilkan dari biji botani bawang merah (True Shallot Seeds). Penggunaan benih umbi mini belum umum dilakukan pada budidaya bawang merah di Indonesia. Penelitian bertujuan mendapatkan jarak tanam dan dosis pemupukan NPK untuk produksi umbi bawang merah dari benih umbi mini di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.) dengan jenis tanah Andisol, dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2009. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok dengan tiga ulangan dan 12 perlakuan, yaitu tiga taraf jarak tanam (5 x 20 cm, 10 x 20 cm, dan 15 x 20 cm), yang dikombinasikan dengan empat taraf dosis pupuk NPK (½ ; 1,0; 1,5; dan 2,0 dosis NPK standar), dan satu perlakuan kontrol yang menggunakan benih umbi konvensional (5 g/umbi) dengan jarak tanam 15 x 20 cm dan 1,0 dosis pupuk NPK standar. Dosis NPK standar ialah N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, dan K2O 120 kg/ha. Benih umbi mini dan benih umbi konvensional yang digunakan ialah varietas Bima Brebes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah tanaman yang berumbi (dapat dipanen) paling banyak (39,10%) terdapat pada perlakuan jarak tanam 15 x 20 cm dan dosis pupuk NPK yang rendah (N 95 kg/ha, P2O5 46 kg/ha, dan K2O 60 kg/ha) menggunakan benih umbi mini dibanding perlakuan yang lain (14,66–33,22%). Perlakuan tersebut juga berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan menggunakan benih umbi konvensional (24,99%). Jarak tanam 15 x 20 cm dengan dosis N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, dan K2O 120 kg/ha merupakan jarak tanam dan dosis pupuk NPK optimal untuk produksi umbi bawang merah asal benih umbi mini, yang menghasilkan bobot umbi kering eskip sebesar 35,48 g/tanaman. Penggunaan benih umbi mini dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil umbi bawang merah, serta mengurangi (tonase) penggunaan benih umbi per satuan luas.  ABSTRACT. Sumarni, N, Rosliani, R, and Suwandi 2012. Optimization of Plant Distance and NPK Dosage to Produce Shallots from Shallots Set in Highland. Shallots set is small seed bulb derived from true shallot seeds (TSS).  Using of the shallots set in shallots production is not common yet in Indonesia. The objective of this research was to find out the optimum plant distance in combination with NPK dosage to produce shallots bulb from shallots set in highland. The experiment was conducted at the Experimental Garden of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang (1,250 m asl.) on Andisol soil, from August to December 2009. A randomized complete block design with three replications was applied in the study. There were 12 treatments, viz. three levels of plant distance of 5 x 20 cm, 10 x 20 cm, and 15 x 20 cm that were combined with the application of four levels of standard dosage of NPK, viz. 0.5; 1.0; 1.5; and 2.0 NPK standard dosage, and one treatment as a control using bulb (5 g/set) with 15 x 20 cm planting distance,  and a NPK standard fertilization (N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, and K2O 120 kg/ha). Bima Brebes cultivar was used as a planting material source for developing TSS, mini bulbs, and bulbs as generally applied in conventional cultivation.  Research results revealed that the highest number of bulbed-plant harvested in the experiment 39.10% was recorded on shallots set cultivated using plant distance of 15 x 20 cm and NPK dosage of N 95 kg/ha, P2O5 46 kg/ha, and K2O 60 kg/ha compared to other treatments (14.66–33.22%). The treatment also gave higher results compared to conventional cultivation using bulbs (24.99%). The optimum plant distance and NPK dosage to produce shallots bulb from shallots set in highland was 15 x 20 cm and N 190 kg/ha, P2O5 92 kg/ha, and K2O 120 kg/ha that resulted in 35.48 g dry weight of shallots bulb per plant. The application of shallots set could increase the quantity and quality of shallots yield, and reduced quantity of bulbs needed per hectare.
Perbedaan Primer RAPD dan ISSR dalam Identifikasi Hubungan Kekerabatan Genetik Jeruk Siam (Citrus suhuniensis L. Tan) Indonesia Agisimanto, Dwi; Martasari, C; Supriyanto, Arry
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Jeruk siam Indonesia tersebar di berbagai sentra produksi dengan nama yang berbeda menurut lokasi adaptasi. Morfologi jeruk-jeruk tersebut terlihat sama, dengan beberapa karakter spesifik yang berbeda. Penelitian bertujuan membandingkan kemampuan primer RAPD dan ISSR dalam mendeteksi kekerabatan di antara jeruk siam. Sampel DNA dari 19 jenis jeruk siam telah diisolasi dari daun dan diamplifikasi dengan 5 buah primer tunggal RAPD dan ISSR. Produk amplifikasi RAPD dipisahkan dalam gel agarose, sedangkan produk ISSR dalam gel poliakrilamid. Statistik pita DNA dan data matriks setiap tipe primer dihitung dan dendogram terbangun berdasarkan analisis kluster menurut UPGMA menggunakan metode SHAN pada program NTSys-PC versi 2,10. Sebanyak 2.605 buah pita DNA dan 240 lokus telah dieksplorasi oleh primer ISSR, sedangkan dengan primer RAPD hanya 515 dan 38 buah. Dari jumlah pita tersebut lokus polimorfisme primer ISSR 90,08% lebih tinggi dibanding primer RAPD. Sebanyak 16 pita spesifik dijumpai pada jeruk siam Banyuwangi 1, siam Purworejo 1, siam Madu, dan siam Banjar 2 oleh primer ISSR, dan 6 pita pada siam Lumajang 1 dan siam Banjar 3 oleh primer RAPD. Perbedaan statistik pita DNA yang dieksplorasi tersebut berhubungan dengan akurasi kemiripan dan jarak genetik jeruk-jeruk siam pada dendogram yang terbangun. Dendogram yang terbangun oleh primer ISSR memperlihatkan keragaman jeruk siam yang lebih tinggi dengan jarak genetik yang lebih tinggi. Kedekatan hubungan di antara jeruk-jeruk siam ini terbanyak pada kisaran 84-100% (RAPD) atau 74-92% (ISSR). Fokus lebih jauh harus ditujukan kepada identifikasi keragaman siam berdasarkan primer dengan sekuen mikrosatelit yang sudah terpaut kepada sifat tertentu untuk lebih memastikan keragaman siam komersial tersebut.ABSTRACT. Agisimanto, D., C. Martasari, and A. Supriyanto. 2007. Differentiation Between RAPD and ISSR Primer on Genetic Diversity Identification of Siam (Citrus suhuniensis L. Tan) from Indonesia. siam was widely cultivated in several citrus growing areas with some local names. Their high adaptability to difference areas, create difficulties in deciding their original varieties. The objective of the research was to compare RAPD and ISSR primer on the genetics similarities identification among siam cultivars. DNA samples from 19 varieties were isolated and amplified by 5 RAPD and ISSR primers. Amplification products of RAPD were separated in agarose gel, while ISSR in PAGE. The DNA fragments from both primers were scored and dendogram were built based on UPGMA of NTSYS-PC version 2.10. About 2605 DNA fragments and 240 loci were scored from ISSR primers, while RAPD were 515 and 38 respectively. A total number of polymorphism loci of ISSRs were 90.08% higher than RAPDs. About 16 specific loci were identified from siam Banyuwangi 1, siam Purworejo 1, siam Madu, and siam Banjar 2 by ISSR primers, and 6 specific loci from siam Lumajang 1 and siam Banjar 3 by RAPD primers. Two dendogram were established from the primers. Coeficient similarity of siam cultivars revealed by ISSR was lower, ranging from 74 to 92%, than RAPD (84-100%). Future activities should be focused on diversity studies of siam by using primer based on microsatellite sequences which are link to specific characters.
Kemampuan Regenerasi Kalus Segmen Akar pada Beberapa Klon Bawang Putih Lokal Secara In Vitro Devy, Friyanti Nirmala; Hardiyanto, Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Regenerasi tanaman bawang putih dapat dilakukan menggunakan kalus sebagai bahan. Namun metodeini dapat juga digunakan untuk perbanyakan, terutama pada produksi tanaman bebas virus. Tujuan penelitian ialahmemperoleh komposisi media yang sesuai untuk pertumbuhan kalus dan regenerasi beberapa klon bawang putih.Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika mulaiMaret 2005 sampai dengan Agustus 2006. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap faktorial dengan 2perlakuan dan 6 ulangan. Induksi kalus dilakukan pada segmen apikal akar bawang putih yang ditanam secara invitro. Persentase jumlah eksplan yang berkalus cukup tinggi, berkisar antara 70-100% pada media MS+0,2 g/l CH +1 ppm 2.4 D maupun media MS + 1 ppm 2.4 D + 0,1 ppm IAA. Meskipun demikian, hanya 2 klon yang memberikanrespons pertumbuhan dan regenerasi kalus yang lebih baik dibandingkan klon lainnya, yaitu Lumbu Kuning danTawangmangu. Pada fase regenerasi menggunakan media MS + 1 ppm kinetin dan MS + 1 ppm IAA + 10 ppm 2-ip,kalus embrionik dari 2 klon tersebut menghasilkan persentase akar yang paling tinggi, masing-masing sebesar 60dan 70% dengan kisaran jumlah akar/eksplan mencapai 2-6 buah. Jumlah planlet berkisar antara 5-10 buah. Padafase perkembangan selanjutnya umbi mikro terbentuk sempurna.ABSTRACT. Devy, N.F. and Hardiyanto. 2009. Regeneration Capacity of Callus-derived from Root Segmentsof Several Local Garlic Clones. The regeneration of garlic using callus as explants is usually used for breedingprogram such as genetic transformation activities. However, this method can also be used as propagation method,especially for virus-free planting maerials. The experiment was carried out at Tissue Culture Laboratory, IndonesianCitrus and Subtropical Fruit Research Institute from March 2005 to August 2006. The experiment was arranged ina factorial randomized complete design with 2 treatments and 6 replications. The callus induction was derived fromgarlic apical root segment via in vitro. The percentage of total explants that produce callus was very high (70-100%)on both medium MS+0.2 g/l CH + 1 ppm 2,4 D and MS + 1 ppm 2, 4 D + 0.1 ppm IAA. Nevertheless, it was only2 clones that gave better callus growth and regeneration responses than others, these were Lumbu Kuning andTawangmangu. On the subculture medium (MS + 1 ppm kinetin and MS + 1 ppm IAA + 10 ppm 2-ip), the percentageof rooted embryogenic callus of both Lumbu Kuning and Tawangmangu were also high, i.e. 60 and 70% respectivelywith 2-6 roots/explant. Shoots grew as a mass, with total shoots number of 5-10 per a mass. Normal micro bulbletswere produced in the next development phase

Page 8 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue