cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengaruh Naungan Plastik Transparan, Kerapatan Tanaman, dan Dosis N terhadap Produksi Umbi Bibit Asal Biji Bawang Merah Sumarni, Nani; Rosliani, Rini
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bawang merah dapat dibudidayakan menggunakan umbi bibit atau biji botani (TSS). Dari biji TSS dapat diproduksi umbi bibit mini (set), yang menghasilkan tanaman lebih sehat dan kualitas hasil umbi lebih baik dibandingkan dengan umbi bibit asal umbi (cara konvensional). Banyak faktor yang memengaruhi produksi umbi mini asal biji TSS, antara lain kerapatan tanaman, pemupukan N, dan naungan. Penelitian bertujuan mendapatkan naungan, kerapatan tanaman, dan dosis N yang sesuai untuk produksi umbi bibit asal biji bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.) dengan jenis tanah Andisol, dari bulan Oktober 2005 sampai Februari 2006. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan dan tiga faktor perlakuan. Faktor pertama adalah naungan, terdiri atas tiga taraf yaitu naungan plastik transparan digunakan dari awal semai biji sampai panen umbi, naungan plastik transparan digunakan dari awal semai biji sampai tanaman berumur enam minggu, dan tanpa naungan. Faktor kedua adalah kerapatan tanaman, terdiri dari tiga taraf yaitu 4, 6, dan 8 g biji/m2. Faktor ketiga adalah dosis pupuk N, terdiri atas dua taraf yaitu 45 dan 90 kg N/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naungan dan kerapatan tanaman berpengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah asal biji, sedang pemberian 45 dan 90 kg N/ha tidak memberikan perbedaan pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah yang nyata. Hasil bobot umbi kering eskip tertinggi sebesar 2,54 kg/m2 diperoleh dari penggunaan naungan plastik transparan sejak awal biji disemai sampai panen yang dikombinasikan dengan kerapatan tanaman 8 g biji/m2 dan dosis 45 kg N/ha. Hasil bobot umbi tersebut lebih dari 70% berukuran umbi konsumsi  (>5 g/umbi), sisanya berukuran umbi bibit (3-5 g/umbi). Umbi bibit mini (<2 g/umbi) tidak dihasilkan. Teknologi ini diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan hasil dan kualitas hasil umbi bibit bawang merahABSTRACT. Sumarni, N. and R. Rosliani. 2010. The Effect of Transparent Plastic Shelter, Plant Density, and N Dosages on Shallots Seed Production from True Shallots Seed (TSS). Shallots can be cultivated by using bulb seed or TSS. Planting materials from TSS could produce mini bulb seeds which finally gave healthier shallots plant with high quality of bulb yield than that of from bulbs (conventional method). Several factors affected the yield of mini bulb shallots seed, among other thing are plant density, N fertilization, and the application of transparent plastic shading. The objective of this experiment was to find out the effect of plastic shelter, plant density, and N dosage to produce shallot bulb seeds from TSS. The research was carried out at the Experimental Garden of Indonesian Vegetables Research Institute Lembang (1,250 m asl.) on Andisol type soil from October 2005 to February 2006. The treatments were set up in a factorial randomized block design with three replications. The treatments comprised of three factors. The first factor was application of transparent plastic shelter with three levels, viz. (1) transparent  plastic shelter from the beginning of seeds sowing (direct seeded) up to harvest the shallots seed, (2) transparent plastic shelter from the beginning of direct seeded up to six weeks, and (3) without shelter (control). The second factor was the plant density comprised of three levels, viz : 4, 6, and 8 g/m2 of TSS. The third factor was the dosages of N fertilizer with two levels, viz : 45 and 90 kg N/ha. The results showed that the application of transparent plastic shelter and plant density significantly affected the plant growth and shallots seed yield. Application of N fertilizer of 45 to 90 kg N/ha did not significantly affect plant growth  and shallots seed yield eventually. The highest yield of shallots seed, viz. 2.54 kg/m2 was gained from the application of transparent plastic shelter from the beginning of sowing untill harvest with plant density of 8 g/m2 of TSS and 45 kg N/ha, with more than 70% bulb size for consumption (>5 g/bulb), and the rest  17 to 20% bulb size for seed (3 to 5 g/bulb). No mini bulb shallots seed (<2 g/bulb) was produced. This technique was quite promising and potential for increasing yield and bulb quality of shallots seed.
Isolasi dan Uji Kemampuan Rizobakteri Indigenous sebagai Agensia Pengendali Hayati Penyakit pada Tanaman Cabai K, Sutariati GA; Wahab, Abdul
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Sejumlah cendawan patogen merupakan penyebab berbagai penyakit pada tanaman cabai (Capsicum annuum L.). Oleh karena fungisida sintetik berpengaruh negatif terhadap lingkungan, akhir-akhir ini penggunaan mikroorganisme antagonis sebagai agensia alternatif pengendali berbagai jenis patogen tanaman semakin banyak diteliti dan dikembangkan. Jenis mikroorganisme tersebut ialah bakteri rizosfir nonpatogenik yang mengolonisasi perakaran tanaman, dikenal sebagai plant growth promoting rhizobacteria. Berbagai jenis rizobakteri telah banyak digunakan untuk mengendalikan penyakit, di samping untuk memacu pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian ialah mengisolasi rizobakteri indigenous Sulawesi Tenggara dari perakaran tanaman cabai yang dieksplorasi dari Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Kendari, Muna, dan Buton serta menguji kemampuan isolat tersebut untuk menghambat pertumbuhan koloni cendawan patogen (Colletotrichum capsici dan Fusarium oxysporum) di laboratorium. Dari hasil penelitian diperoleh 20 isolat rizobakteri indigenous potensial (masing-masing 14 isolat P. fluorescens, dua isolat Serratia spp., dan empat isolat Bacillus spp.). Ke-20 isolat tersebut memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan koloni patogen target (C. capsici dan F. oxysporum) dan berpotensi dikembangkan sebagai agensia hayati pada tanaman cabai. ABSTRACT. Sutariati, G.A.K and A. Wahab. 2010. Isolation and Efficacy Trial of Indigenous Rhizobacteria as Biocontrol Agents of Fungal Diseases of Hot Pepper. A number of fungal pathogens have caused various diseases in hot pepper (Capsicum annuum L.). Since the utilization of chemical fungicides has negative impact to the environment, application of naturally available antagonistic microorganisms has been developed to control fungal pathogens. Rhizobacteria have been used for disease control and plant growth enhancement. The objectives of this experiment were to isolate local rhizobacteria from surrounding hot pepper roots, explored from Southeast Sulawesi especially from Konawe, South Konawe, Kendari, Muna, and Buton Regencies, and to characterize the effectiveness of the isolates to inhibit colony growth of hot pepper fungal pathogens, namely Colletotrichum capsici and Fusarium oxysporum. In this experiment, 20 potential isolates of indigenous rhizobacteria were found, i.e 14 isolates of P. fluorescens, two isolates of  Serratia spp., and four isolates of Bacillus spp.. All of the 20 isolates were able to inhibit colony growth of fungal pathogens and potential to be used as biocontrol agents of fungal diseases of hot pepper.
Pengaruh Suplemen Nonsintetik terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Vanda Widiastoety, Diah; Nurmalinda, -
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Medium tumbuh merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas pertumbuhan planlet anggrek Vanda.  Pada medium tumbuh perlu ditambahkan suplemen nonsintetik yang berperan mempercepat pertumbuhan planlet anggrek Vanda.  Tujuan penelitian ialah mendapatkan suplemen nonsintetik yang tepat untuk mengganti komponen medium Vacin dan Went (VW).  Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Kebun Percobaan Tanaman Hias Pasarminggu, mulai bulan Juni sampai dengan Desember 2007.  Perlakuan yang diberikan ialah sebagai berikut. (1) medium VW  sebagai kontrol; (2) KNO3 1 g/l + kasein hidrolisat 100 mg/l + ragi 1,25 g/l + pisang 50 g/l; (3) KNO3 1 g/l + kasein hidrolisat 100 mg/l + ragi 1,25 g/l + ubikayu 50 g/l; (4) KNO3 1 g/l + kasein hidrolisat 100 mg/l + ragi 1,25 g/l + kentang 50 g/l; dan (5) KNO3 1 g/l + kasein hidrolisat 100 mg/l + ragi 1,25 g/l + taoge 50 g/l. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok dengan lima perlakuan dan empat ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa media (1) KNO3 1 g/l + kasein hidrolisat 100 mg/l + ragi 1,25 g/l + pisang 50 g/l; (2) KNO3 1 g/l + kasein hidrolisat 100 mg/l + ragi 1,25 g/l + ubikayu 50 g/l; (3)  KNO3 1 g/l + kasein hidrolisat 100 mg/l + ragi 1,25 g/l + kentang 50 g/l; dan (4) KNO3 1 g/l + kasein hidrolisat 100 mg/l + ragi 1,25 g/l + taoge 50 g/l  dapat digunakan sebagai media alternatif pengganti medium Vacin dan Went. Pemanfaatan suplemen nonsintetik dapat menekan biaya produksi planlet.ABSTRACT.  Widiastoety, D. and Nurmalinda. 2010. The Effect of Nonsynthetic Supplement on the Plantlet Growth of Vanda.  Medium is one of the important factors in determining the plantlet  growth of Vanda. Nonsynthetic supplement has to be added in to the medium to accelerate the growth of  Vanda plantlet.  The aim of this experiment was to obtain nonsynthetic supplement to substitute the component of Vacin and Went medium. The experiment was conducted at Tissue Culture Laboratory of Indonesia Ornamental Crops Experimental Garden, Pasarminggu Jakarta, from June through December 2007. The experiment was arranged in a randomized block design with five treatments and four replications. The treatments were : (1) medium VW without addition organic compound; (2) KNO3 1 g/l + casein hydrolysate 100 mg/l + yeast 1.25 g/l + banana 50 g/l; (3) KNO3 1 g/l + casein hydrolysate 100 mg/l + yeast 1.25 g/l + casava 50 g/l; (4) KNO3 1 g/l + casein hydrolysate 100 mg/l + yeast 1.25 g/l + potato 50 g/l; and (5) KNO3 1 g/l + casein hydrolysate100 mg/l + yeast 1.25 g/l + mungbean sprout 50 g/l.  The results showed that  (1) KNO3 1 g/l + casein hydrolysate 100 mg/l + yeast 1.25 g/l + banana 50 g/l; (2)  KNO3 1 g/l + casein hydrolysate 100 mg/l + yeast 1.25 g/l + cassava 50 g/l; (3)  KNO3 1 g/l + casein hydrolysate 100 mg/l + yeast 1,25 g/l + potato 50 g/l; and (4)  KNO3 1 g/l + casein hydrolysate 100 mg/l + yeast 1.25 g/l + mungbean sprout 50 g/l  could be used as an alternative media.  The use of nonsynthetic supplement could reduce production cost of plantlet.
Aplikasi 2,4-D dan TDZ dalam Pembentukan dan Regenerasi Kalus pada Kultur Anther Anthurium Winarto, Budi; Mattjik, N A; Purwito, A; Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Studi kombinasi konsentrasi 2,4-D dan TDZ dalam pembentukan kalus dan regenerasinya pada kultur anther Anthurium dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias sejak bulan November 2007 hingga Agustus 2008. Penelitian bertujuan  mengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi 2,4-D dan TDZ terhadap pembentukan dan regenerasi kalus. Spadik Anthurium andraeanum kultivar Tropical yang 50% stigmanya berada dalam kondisi reseptif optimal, kalus hasil regenerasi, dan medium MWR-3 yang mengandung BAP 0,75 mg/l, NAA 0,02 mg/l, sukrosa 30 g/l, dan gelrit 2,0 g/l digunakan dalam penelitian ini. Konsentrasi 2,4-D dan TDZ yang diuji ialah 0, 0,5, 1,0, dan 2,0 mg/l. Rancangan acak lengkap pola faktorial dengan empat ulangan digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi konsentrasi 2,4-D dan TDZ berpengaruh nyata terhadap pembentukan dan regenerasi kalus. Aplikasi 2,4-D 0,5 mg/l yang dikombinasikan dengan TDZ 2,0 mg/l merupakan kombinasi terbaik untuk pembentukan kalus dengan potensi tumbuh anther mencapai 58%, 38% anther beregenerasi dan rerata 2,3 anther membentuk kalus tiap perlakuan. Kombinasi 2,4-D 1,0 mg/l dengan TDZ 0,5 mg/l merupakan kombinasi terbaik untuk regenerasi kalus dengan 5,3 tunas per eksplan. ABSTRACT. Winarto, B., N.A. Mattjik, A. Purwito, and B. Marwoto. 2010. Application of 2.4-D and TDZ on Callus Formation and Its Regeneration of Anthurium Anther Culture. Study of 2.4-D and TDZ concentration combination in callus formation and its regeneration on anther culture of Anthurium was conducted at Tissue Culture Laboratory of Indonesian Ornamental Crops Research Institute from November 2007 to August 2008. This study was aimed to determine the effect of concentration combination of 2.4-D and TDZ on callus formation, growth, and its regeneration. Spadix of Anthurium andraeanum cv. Tropical which 50% of its stigma was in optimum receptive, MWR-3 medium containing BAP 0.75 mg/l, NAA 0.02 mg/l, sucrose 30 g/l, and gelrite 2.0 g/l and callus derived from the anthers were used in the experiments. Concentrations of 2.4-D and TDZ tested in the experiment for callus formation and its regeneration were 0, 0.5, 1.0, and 2.0 mg/l. Factorial experiment with four replications was arranged in a completely randomized design. The results of the study indicated that combination of 2.4-D and TDZ gave significant effect on callus induction and its regeneration. In callus formation, 2.4-D 0.5 mg/l combined with TDZ 2.0 mg/l was the most suitable treatment with potential anther growth up to 58%; and 38% of anther regenerated with average 2.3 of anthers produced callus per treatment. 2.4-D 1.0 mg/l combined with TDZ 0.5 mg/l was the most appropriate treatment for callus regeneration into shoots with 5.3 shoots/explant.
Model Statistik dalam Menentukan Status Hara Nitrogen sebagai Pedoman Rekomendasi Pupuk pada Tanaman Manggis Liferdi, Lukman; Susila, A D
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mendapatkan model regresi yang sesuai untuk menentukan status hara nitrogen pada tanaman manggis, sehingga status hara nitrogen dapat diinterpretasikan. Penelitian dilakukan di Kebun Manggis Kampung Cengal, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat mulai April 2005 sampai dengan April 2007. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dan lima ulangan. Perlakuan yang di uji ialah lima taraf dosis pupuk N yaitu 0, 300, 600, 900, dan 1.200 g/tanaman/tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model regresi yang terbaik antara konsentrasi N pada daun umur 5 bulan dan produksi ialah kuadratik. Berdasarkan model kuadratik tersebut diketahui bahwa konsentrasi N daun berstatus sangat rendah (<99%), rendah (0,99-<1,35%), sedang (1,35-<2,10%), dan tinggi (>2,10%). Untuk menaikkan konsentrasi N daun dari status sangat rendah menjadi sedang membutuhkan pupuk N sebesar 3.017-7.017 g/tanaman/tahun pada tahun pertama. Untuk tahun kedua, N yang diperlukan sekitar 2.032-4.698 g/tanaman/tahun. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan untuk tanaman manggis.The objectives of this study was to determine an ideal regression model for estimating nitrogen status on mangosteen plants, so that the nitogen status in mangosteen leaf tissue can be interpreted. The research was conducted at a mangosteen orchard at Cengal Kampong, Karacak Village, Leuwiliang Subdistrict, Bogor District, West Java in April 2005 till April 2007.  A completely randomized block design was used with five treatments levels of N fertilizer dosages and six replications. The dosages levels of N tested were 0, 300, 600, 900, and 1,200 g/plant/year. The results showed that the best regression model for describing the relation between concentration of N on mangosteen leaf of  5 months age and plant production was the quadratic model. According to this model, the nitrogen status in leaf tissues was very low (<0.99%), low (0.99 to <1.35%), medium (1.35 to <2.10%), and high (>2.10%). To increase the concentration of N on mangosteen leaf  from low status to medium ones, it  needed  N fertilizer approximately 3,017 to 7,017 g/plant/year in the first year. For the second year, it required about 2,032 to 4,698 g/plant/year. This results can be used as a guide to estimate fertilizer recommendations for mangosteen.
Potensi Kandungan Antosianin pada Daun Muda Tanaman Mangga sebagai Kriteria Seleksi Dini Zuriat Mangga Sukartini, Sukartini; Anwarudinsyah, Muhammad Jawal
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Antosianin pada buah, batang, dan daun tanaman mangga terekspresi sebagai karakter warna merah, ungu,dan biru. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui korelasi antara kandungan antosianin pada daun muda dengankandungan antosianin pada kulit buah mangga, serta potensi kandungan antosianin daun muda sebagai kriteria seleksidini terhadap warna merah kulit buah mangga. Penelitian dilakukan dari bulan Januari - Desember 2004 dan Januari- Desember 2006 di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Penelitian menggunakan 11varietas mangga berkulit buah merah (Delima, Irwin, Haden, Kartikia, Saigon, Gedong, Apel, Liar, Keitt, Beruk, Ayu)dan 1 varietas mangga berkulit hijau yaitu Arumanis 143. Metode Horwitz digunakan untuk mengetahui kandunganantosianin pada daun muda dan kulit buah mangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan antosianin padadaun muda berkorelasi positif secara linier dengan kandungan antosianin pada kulit buah mangga dengan persamaanregresi Y=60,14+3,02X (r=0,83**). Kandungan antosianin pada daun muda mangga dapat digunakan untuk kriteriaseleksi dini terhadap karakter warna merah kulit buah zuriat-zuriat mangga.ABSTRACT. Sukartini and M. Jawal Anwarudin Syah. 2009. Potency of Anthocyanin Compound in the YoungLeaves for Early Selection Criteria of Mango Zuriat. Anthocyanin in fruits, stems, and leaves are expressedas red, blue, and purple hues characteristic. The objective of the research was to find out the correlation betweenanthocyanin compound on mango young leaves and anthocyanin compound on fruit peel. The research was doneduring January- December 2004 and January-December 2006 in Indonesian Center for Agricultural PostharvestResearch and Development. Eleven red peel mango varieties (Delima, Irwin, Haden, Kartikia, Saigon, Gedong, Apel,Liar, Keitt, Beruk, Ayu) and 1 green peel mango variety (Arumanis 143) were used in the research. Horwitz methodswas used to determined anthocyanin compound in the young leaves and in the peel of mango. The results showedthat anthocyanin compound in the young leaves have linear correlation with anthocyanin compound in the peel atY=60.14+3.02X (r=0.83**) regression formula. Young leaves anthocyanin compound of mango was potentially usedas early selection criteria for red peel of mango zuriat.
Pengaruh Minyak Cengkeh terhadap Pertumbuhan Koloni dan Sifat Antagonis Cendawan Gliocladium sp. terhadap Fusarium oxysporum f. sp. cubense Emilda, Deni; Istianto, Mizu
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak cengkeh dan cendawan Gliocladium sp. diketahui memiliki potensi sebagai agens pengendali cendawan Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc), penyebab penyakit layu pada tanaman pisang. Pengujian kompatibilitas antara minyak cengkeh dengan cendawan Gliocladium sp. perlu dievaluasi dalam rangka menyusun paket pengendalian terpadu terhadap penyakit layu Fusarium. Tujuan penelitian ialah mengevaluasi pengaruh minyak cengkeh terhadap pertumbuhan koloni cendawan Gliocladium sp. dan daya hambatnya terhadap cendawan Foc ras 4. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Proteksi Tanaman Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika pada bulan Mei sampai Juli 2008. Perlakuan terdiri atas  minyak cengkeh volume 3, 9, dan 18 µl disusun dalam rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa miselium cendawan Gliocladium sp. yang mendapat perlakuan minyak cengkeh masih mampu tumbuh hingga memenuhi ruang cawan petri. Jumlah konidia cendawan Gliocladium sp. yang diperlakukan dengan minyak cengkeh terbukti lebih sedikit dibanding cendawan yang tidak diperlakukan dengan minyak cengkeh.  Cendawan Gliocladium sp. yang telah mendapat perlakuan minyak cengkeh masih memiliki sifat antagonistik yang efektif terhadap cendawan Foc. Efektivitas antagonisme cendawan tersebut tidak berbeda nyata dengan efektivitas antagonisme yang tidak diperlakukan dengan minyak cengkeh. Hasil ini memberikan harapan karena minyak cengkeh tidak memberikan efek negatif terhadap aktivitas Gliocladium sp., sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu komponen dalam program pengendalian secara terpadu penyakit layu Fusarium pada pisang. Namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh minyak cengkeh terhadap pertumbuhan tanaman.Clove essential oil and Gliocladium sp.   are known to have the potency for controlling Fusarium oxysporum f.sp cubense (Foc) the causal agent of  wilt banana disease. The compatibility of clove oil and Gliocladium sp. has to be evaluated to establish an integrated pest management against Fusarium disease. The objective of this experiment was to evaluate the effect of clove oil on the growth of Gliocladium sp. colony and the inhibition value of this fungus to Foc race 4. The experiment was conducted  in the Plant Protection Laboratory  of Indonesian Tropical Fruit Research Institute  from May to July 2008. The treatments were volumes of clove oil i.e. 3, 9, and 18 µl that were arranged in a completely randomized design with five replications. The results showed that Gliocladium sp. mycelia treated with clove oil could still grow throughout the available space within petridish. However, Gliocladium sp. treated with this oil had lower number of conidia than that it was untreated. Gliocladium sp. treated with clove oil had still effective antagonism trait to Foc. This effectiveness was not significantly different from  Gliocladium sp. that was untreated with clove oil. This result indicated  that clove oil  had good potency as a component in integrated control program against  wilt disease on banana, because it did not have negative effect to Gliocladium sp. However, further research is still needed to evaluate the effect of clove oil to plant growth.  
Pengaruh Pemotongan Akar dan Umur Bibit terhadap Pertumbuhan dan Jenis Seks Tanaman Pepaya Triatminingih, Rahayau
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Persilangan antartanaman menghasilkan populasi segregasi dengan proporsi seks yang berbeda-beda.Dalam persilangan tanaman, identitas varietas menjadi kunci utama. Di sisi lain teknik identifikasi seks sejak fase benihsangat dibutuhkan dalam upaya mempercepat siklus generasi dan efisiensi dalam uji persilangan. Tujuan penelitianadalah mengetahui tipe seks yang terjadi akibat pengaruh perlakuan pemotongan akar dan umur bibit pada pepaya.Penelitian dilaksanakan di Probolinggo, Jawa Timur, pada bulan April sampai dengan Desember 2001. Penelitianmenggunakan rancangan petak terpisah dengan 4 ulangan. Petak utama adalah varietas yang dikombinasikan denganumur bibit, dan anak petak adalah akar yang tidak dipotong dan dipotong. Hasil penelitian menunjukkan bahwaperlakuan pemotongan akar tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup dan persentase tanaman berbunga.Umur bibit tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup, tetapi berpengaruh nyata terhadap persentaseberbunga. Pemotongan akar mempengaruhi persentase tanaman sempurna dan persentase tanaman betina, tetapi tidakberpengaruh nyata terhadap persentase tanaman berbunga jantan. Untuk meningkatkan persentase tanaman sempurnapada varietas Dampit, bibit ditanam pada umur 3 minggu setelah di polibag. Pemotongan akar pada varietas Sarironaumur bibit 3 minggu dalam polibag menyebabkan penurunan persentase tanaman betina secara nyata. Persentasetanaman sempurna pada varietas Dampit berbeda nyata dengan varietas Sarirona.ABSTRACT. Triatminingsih. R. 2009. The Effects of Root Cutting and Seedling Age on the Growth and SexType of Papaya. Out crossing the plant produces population segregation with variation of sex types in differentproportion. In plant crossing, identity of variety is the main key. On the other hand, sex identification technique atearly seedling stage is needed in order to accelerate generation cycle and to increase efficiency on crossing assessment.The objective of this research was to determine the influence of root cutting and seedling age on the growth and sextype of papaya. The research was conducted in Probolinggo, East Java, from April to December 2001. The split plotdesign with 4 replications was used in this experiment, where combination of variety and seedling age as the mainplot, and root cutting as the subplot. The results of this experiment showed that root cutting did not significantly affectthe percentage of survival and the flowering plant. Seedling age significantly affected the percentage of floweringplant, but not on the percentage of survival. Root cutting at seedling stage could affect the percentage of femaleflower and hermaphrodite flower. Root cutting on papaya seedling Sarirona variety at 3 weeks after transplantingin the polybag could decrease the percentage of female flower. While Dampit variety transplanted after 3-week inthe polybag without root cutting gave higher percentage of hermaphrodite flower. The percentage of hermaphroditeflower on Dampit variety was significantly different from Sarirona variety.
Pengaruh Komposisi Media Dasar, Penambahan BAP, dan Pikloram terhadap Induksi Tunas Bawang Merah Karyadi, Asih Kartasih; Ahmad, Buchory
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran pada bulan Maret-Juni 2005, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan zat pengatur tumbuh BAP dan pikloram pada media dasar MS dan B5 terhadap pertumbuhan tunas bawang merah kultivar Sumenep. Bahan tanaman yang digunakan adalah jaringan meristematik sedangkan media tumbuh yang diuji adalah media dasar MS dan B5 dengan konsentrasi BAP (0, 1, dan 2 mg/l), pikloram (0, 0,1, dan 0,2 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pertumbuhan plantlet akibat penambahan zat pengatur tumbuh BAP dan pikloram. Persentase daun normal terbesar didapat dari perlakuan B5 tanpa pikloram dan BAP, media MS tanpa pikloram. Pertumbuhan akar plantlet lebih baik yang dikulturkan pada media MS tanpa hormon atau dengan penambahan hormon dengan konsentrasi terendah.ABSTRACT. Karjadi, A.K. and Buchory, A. 2008. The Effect of Additional BAP and Picloram to Basal Medium MS and B5 on Shoot Induction of Shallot. The`experiment was conducted in Tissue Culture Laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang on March-June 2005. Objective of the experiment was to find out the effect of additional BAP and picloram to basal medium MS and B5 on shoot induction of shallot cv. Sumenep. The treatments were culturing meristem tissue (shoot tip) on medium MS and B5 with concentration of BAP (0, 1, and 2 mg/l), and picloram (0, 0,1, and 0,2 mg/l). The results showed that there were differences on plantlet growth with addition of BAP and picloram. Meristematic tissue of shallot cv. Sumenep could be proliferated on medium MS or B5. The highest percentage of normal leaf growth was obtained by B5 medium without picloram or BAP, and MS medium without picloram. The best roots growth was found in culture of MS medium without or with low concentration of hormone.
Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Subang Gladiol dengan Pengasapan dan Biopestisida Nuryani, Wakiah; Yusuf, Silfia; Djatnika, Ika; Hanudin, -; Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gladiol (Gladiolus hybridus L.) merupakan komoditas tanaman hias yang mempunyai prospek pengembangan yang cukup cerah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Salah satu penyakit utama yang menyerang tanaman tersebut ialah layu yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. gladioli. Di Indonesia, kehilangan  hasil akibat serangan patogen tersebut hampir mencapai 100%. Tujuan penelitian ialah mengendalikan F. oxysporum f. sp. gladioli serta mendorong pertumbuhan tunas subang gladiol melalui  pengasapan dan aplikasi biopestisida. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung (1.100 m dpl.) dari bulan Januari sampai Desember 2009. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan  sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pengasapan dari hasil pembakaran tempurung kelapa yang ditambah dengan Prima BAPF dapat merangsang pertumbuhan tunas pada subang gladiol, tetapi tidak mampu menekan jumlah subang terinfeksi dan intensitas penyakit busuk Fusarium di gudang penyimpanan. Untuk percobaan yang dilakukan di lapangan, perlakuan gabungan antara pengasapan dari hasil pembakaran tempurung kelapa yang ditambah dengan belerang dan Prima BAPF merupakan perlakuan terbaik untuk mengendalikan penyakit layu Fusarium. Aplikasi perlakuan tersebut  menurunkan jumlah tanaman layu, menurunkan nilai AUDPC  perlakuan, dan dapat meningkatkan produksi  bunga gladiol. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diadopsi oleh petani guna mengendalikan F. oxysporum f. sp. gladioli secara luas.Gladiolus (Gladiolus hybridus L) is one of the most economically important cut flowers in Indonesia.  The crops is commonly cultivated in the highland. Cultivations of the crops in the production centers have faced various problems especially wilt disease caused by Fusarium oxysporum  f. sp. gladioli  as the most important one. Based on the field observations, it was known that the disease can reduce plant production and its yield quality up to 100%. The experiment was aimed to determine the effect of fumigation by using smoke produced by burned up coconut shell and biopesticide  on gladioulus bud growth and fusarial wilt  incidence. The expereiment was carried out at the Laboratory, Glasshouse and the field of Indonesian Ornamental Crops Research Institute (1,100 m asl.)  since January to December 2009.  A randomized block design with nine treatments and three replications was used.  The results  indicated that fumigation by using smoke of  burned up coconut shell combined with biopesticide Prima BAPF stimulated gladiolus bud growth, but did not suppress infection of the bulb and fusarial disease intensity at the storage.  Base on the field trial, fumigation by smoke of burned up coconut shell combined with sulphur and Prima BAPF was proven to be the best treatment. Application of the treatment significantly reduced disease intensity, AUDPC value, and increased flower production. This research result is expected to be adopted by farmers in order to widely control the F. oxysporum f. sp. gladioli.

Page 10 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue