cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Peningkatan Pertumbuhan dan Regenerasi Eksplan Hasil Kultur Anther Anthurium Melalui Perbaikan Media Kultur Winarto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Regenerasi kalus merupakan bagian yang paling sulit dalam kultur anther anthurium (Anthuriumandraeanum), karena respons pembentukan tunas yang lambat. Studi pertumbuhan dan regenerasi eksplan hasil kulturanther anthurium pada media regenerasi yang berbeda dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai PenelitianTanaman Hias dari bulan Januari sampai Desember 2008. Penelitian bertujuan mengetahui respons pertumbuhandan regenerasi variasi eksplan hasil kultur anther anthurium pada media regenerasi yang berbeda. Penelitian inimenggunakan kalus tumbuh lambat, kalus haploid, daun, dan petiol muda tanaman haploid sebagai eksplan. MediumWinarto (MW) dan Winarto-Rachmawati (MWR) merupakan media dasar yang digunakan dalam penelitian ini.Penelitian terdiri atas tiga percobaan untuk mempelajari pertumbuhan dan regenerasi, yaitu (1) kalus tumbuh lambat,(2) kalus haploid pada media regenerasi yang berbeda (MR-1 s/d MR-6), dan (3) daun dan petiol muda dari tanamanhaploid menggunakan medium regenerasi terseleksi. Percobaan pertama dan kedua disusun menggunakan rancanganacak lengkap (RAL), sementara percobaan ketiga disusun menggunakan RAL pola faktorial masing-masing denganempat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kemampuan regenerasi eksplan hasil kulturanther anthurium berhasil ditingkatkan melalui perbaikan media kultur. Pertumbuhan kalus terbaik dari eksplan kalustumbuh lambat ditemukan pada MR-4, sedang kalus haploid pada MR-1. Jumlah bakal tunas per eksplan mencapaisekitar 20 bakal tunas, tetapi pembentukan tunas tertinggi yaitu 4,8 tunas per eksplan ditemukan pada MR-6. Daunmuda tanaman haploid no. 400 merupakan jenis eksplan dan tanaman haploid dengan respons pembentukan tunastertinggi yang mencapai 6,0 tunas per eksplan dibandingkan eksplan dan tanaman haploid yang lain. Media terseleksihasil penelitian dapat diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah regenerasi eksplan pada kultur in vitro anthuriumyang lain.ABSTRACT. Winarto, B. 2010. Increase of Growth and Explants Regeneration Derived from Anther Cultureof Anthurium via the Improvement of Culture Medium. Callus regeneration was an important problem in antherculture of anthurium due to slow response in shoot regeneration. A study of growth and regeneration of explantsderived from anther culture of anthurium in different regeneration media were conducted at Tissue Culture Laboratoryof Indonesian Ornamental Crops Research Institute from January to December 2008. The objective of the researchwas to determine the growth and regeneration of explants on different regeneration media. Slow growth, haploidcallus, young leaf, and petiole of different haploid plants were used in the study, while media of MW and MWRwere two basic media applied in the experiment. There were three experiments in the research i.e. to study thegrowth and regeneration of (1) slow growth, (2) haploid callus on different regeneration media, and (3) young leafand petiole of different haploid plants on selected regeneration medium. The experiment I and II were arranged witha completely randomized design (CRD) and the experiment III used factorial CRD with four replications. Resultsof the studies indicated that growth and regeneration capacity of explants derived from anther culture of anthuriumwere successfully increased via culture medium improvement. The best growth response of slow growth callus wasdetermined on MR-4, while haploid callus was on MR-1. Initial shoots produced per explant were up to ± 20 initialshoots, but the highest shoot number up to 4.8 shoots produced per explant was established on MR-6. Young leavesof haploid plant no. 400 were the appropriate explant and the donor plant in obtaining the highest callus formation,growth and regeneration with 6.0 shoots per explant. The selected media established in the study can be applied toovercome explant regeneration problems in in vitro culture of other anthuriums.
Kemangkusan Amblyseius swirskii dan Orius laevigatus dalam Mengendalikan Hama Thrips parvispinus pada Paprika Prabaningrum, Laksmini; Moekasan, Tony Kustoni
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian yang bertujuan mengetahui kemurnian predator introduksi, keamanan jaring kasa Agronet(568 lubang/cm²), serta kemangkusan predator introduksi Amblyseius swirskii dan Orius laevigatus, dilaksanakansejak bulan Oktober 2007 sampai dengan April 2008 di Laboratorium Entomologi dan Fitopatologi Balai PenelitianTanaman Sayuran Lembang (±1.250 m dpl.) dan di Rumah Kasa CV ASB Farm di Desa Cigugurgirang, KecamatanParongpong, Kabupaten Bandung Barat (±1.100 m dpl.). Uji kemurnian dan keamanan dilakukan di laboratorium,sedang uji kemangkusan predator dilaksanakan di rumah kasa dalam mengendalikan hama T. parvispinus padatanaman paprika. Penelitian di rumah kasa menguji empat macam perlakuan pengendalian, yaitu dengan: (A) 75ekor A.swirskii/m2, (B) O.laevigatus 5 ekor/m2, (C) kombinasi 40 ekor A.swirskii + 3 ekor O.laevigatus/m2, dan (D)kontrol (tanpa predator). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kemasan predator introduksi A.swirskii danO.laevigatus hanya dijumpai kedua jenis predator tersebut dan tungau tepung sebagai makanan A.swirskii. Organismehama dan penyakit tidak ditemukan dalam kemasan, sehingga kedua predator tersebut layak diintroduksi ke Indonesia.Jaring kasa Agronet yang digunakan memiliki anyaman yang cukup rapat, sehingga tidak memungkinkan predatorpredatortersebut melaluinya. Dengan demikian, jaring tersebut aman digunakan sebagai dinding rumah kasa. Daripercobaan di rumah kasa diketahui bahwa A.swirskii efektif mengendalikan trips, sehingga hasil panen paprika dapatdipertahankan.ABSTRACT. Prabaningrum, L. and T.K. Moekasan. 2010. Effectiveness of Amblyseius swirskii and Oriuslaevigatus Against Thrips parvispinus on Sweet Pepper. The experiment was aimed to determine the purity ofintroductory predators, safety of the Agronet screen (568 holes/cm²), and effectiveness of introductory predatorsA. swirskii and O.laevigatus. The research was conducted from October 2007 until April 2008 in the Laboratory ofEntomology and Phytopathology Division of Indonesian Vegetables Research Institute (IVEGRI) (1,250 m asl.) andin the Greenhouse of CV ASB Farm in Cigugurgirang Village, Parongpong Subdistrict, West Bandung District (1,100m asl.), West Java. Purity and safety tests were conducted in the laboratory and the effectiveness test was conductedin the greenhouse. Four treatments were tested in the greenhouse i.e. the application of (A) A.swirskii (75/m2), (B)O.laevigatus (5/m2), (C) A.swirskii (40/m2) + O.laevigatus (3/m2), and (D) check (without predators). The resultsshowed that there were only A.swirskii, O.laevigatus, and powder mites as food in the containers of the introductorypredators. There were no pests and diseases in the container, so that the predators can be introduced. The net of thescreen was plaited closely, so that A.swirskii and O.laevigatus did not able to pass through. It was indicated that thescreen was safe to be used as the wall of screenhouse. The experiment in the screenhouse indicated that A.swirskiisuppressed thrips population effectively, so that the sweet pepper yield would be sustained.
Preferensi Konsumen terhadap Atribut Kualitas Empat Jenis Sayuran Minor Soetiarso, Thomas Agus
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Keberadaan kelompok sayuran minor (under-utilized/indigenous) mulai terancam kepunahan karenadigantikan oleh beberapa spesies kultivasi. Kurang berkembangnya kelompok sayuran minor diindikasikan oleh atributkualitas yang dimiliki oleh komoditas tersebut yang relatif belum sebanding dengan kelompok sayuran prioritas, sepertikentang, kubis, dan tomat. Penelitian bertujuan mengidentifikasi preferensi konsumen terhadap atribut kualitas sayuranminor. Penelitian dilaksanakan melalui survai konsumen di Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi, KotamadyaBandung, Jawa Barat sejak bulan April sampai dengan Juni 2007. Pemilihan lokasi kotamadya dilakukan secara sengaja,sedangkan pemilihan kecamatan, kelurahan, dan responden ibu rumah tangga sebanyak 50 orang dilakukan secaraacak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Pada penelitianini komoditas sayuran minor yang diteliti adalah koro, katuk, labu siam, dan kecipir. Preferensi konsumen terhadapatribut kualitas sayuran minor dianalisis dengan teknik peringkat (ranking) dan diuji dengan uji Chi-square. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa, preferensi konsumen terhadap atribut kualitas ialah: (1) koro: ukuran polong besar(panjang 3 cm, dan lebar 2 cm), warna kulit ungu tua, kekerasan polong renyah, warna daging putih, dan rasanyagurih, (2) katuk: warna daun hijau muda, ukuran daun sedang (panjang 4 cm dan lebar 2 cm), jumlah daun/tangkaibanyak, dan rasanya agak manis, (3) labu siam: ukuran buah sedang (panjang 12 cm dan lebar 8 cm), warna kulithijau muda, kulit tanpa duri, kekerasan kulit sedang, kandungan getah sedikit, dan rasa agak manis, (4) kecipir: warnakulit hijau muda, panjang sedang (18 cm), permukaan kulit halus, bentuk buah lurus, kekerasan buah renyah, danrasanya agak manis. Sayuran minor (koro, katuk, labu siam, dan kecipir) merepresentasikan sayuran murah tetapitermasuk sumber nutrisi berkualitas tinggi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk memperbaikiatribut sayuran minor sesuai dengan preferensi konsumen serta upaya untuk meningkatkan potensi ekonomis danpengembangan komoditas tersebut.ABSTRACT. Soetiarso, T. A. 2010. Consumer’s Preference on Quality Attributes of Four Minor Vegetables. Theexistence of minor (under-utilized/indigenous) vegetables is beginning to extinct because they are replaced by somecultivated species. Slow development of minor vegetables is also caused by the product quality attributes of thosevegetables that have not been recognized compared to the priority vegetables, such as potato, cabbage, and tomato.The study was aimed to identify consumer preference on quality attributes of four minor vegetables. A consumersurvey was carried out in Sukabungah Village, Sukajadi Sub-district, Bandung, West Java from April to June 2007.Location of survey was purposively selected, while 50 household mothers were randomly chosen. Data were collectedthrough interviews by using a structured questionnaire. Minor vegetables included in this study were lima bean,star gooseberry, chayote, and winged bean. Consumer preference on product attributes of minor vegetables wereanalyzed by using the ranking technique and tested with Chi-square. Results indicated that consumer preferences onquality attributes for minor vegetable were as follows: (1) lima bean: large pod size (20 cm length and 2 cm width),dark purple skin color, crisp pod hardness, white flesh color, and delicious taste, (2) star gooseberry: light green leafcolor, medium leaf size (4 cm length and 2 cm width), much number of leaves/branches, and slightly sweet taste,(3) chayote: medium fruit size (12 cm length and 8 cm width), light green skin color, thornless skin, medium skinhardness, little sap content, and slightly sweet taste, (4) winged bean: light green skin color, medium length about18 cm, smooth skin surface, straight fruit shape, crisp fruit hardnes, and slightly sweet taste. Minor vegetables (limabean, star gooseberry, chayote, winged bean) represent inexpensive but high quality nutritional contents. The resultsof this consumer survey may be used as a preference-based feedback for improving the product attibutes of minorvegetables to increase their economic potentials.
Persilangan dan Seleksi untuk Mendapatkan Varietas Unggul Baru Mawar Potong Berwarna Merah Darliah, Darliah; Kuriasih, D; Handayati, W
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Persilangan mawar dan selekasi tanaman F1 dilaksanakan di KP Cipanas, Balai Penelitian TanamanHias, dengan ketinggian tempat 1.100 m dpl. pada tahun 2000. Selanjutnya klon-klon terpilih diuji melalui penelitianpemuliaan partisipatif di Kebun PT Inggu Laut (Malang, Jawa Timur) dan Kebun PT Sekar Asri (Lembang, JawaBarat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon No. 41 (C.00.421-01) mempunyai keunikan dalam warna bunga,yaitu merah cerah (red purple group 57A). Selain itu, klon No. 41 memiliki tangkai yang panjang yang termasukkelas super, batang atau tangkai yang tegak dengan diameter kuncup dan diameter bunga mekar besar, serta jumlahpetal yang lebih banyak dibandingkan dengan varietas Putri sebagai varietas pembanding.ABSTRACT. Darliah, D. Kurniasih, and W. Handayati. 2010. Crossing and Selection Obtain A SuperiorVarieties of Red Cut Rose. Crossing of rose and F1 plants selection were carried out at Cipanas Research Station,Indonesian Ornamental Crops Research Institute, at 1,100 m asl. on year 2000. Clones selected was observed throughparticipatory breeding with PT Inggu Laut (Batu, East Java) and PT Sekar Asri (Lembang, West Java). The resultsshowed that clone No. 41 has unique bright red color (red purple group 57 A),with long and straight stem (fulfilledthe requirement for premium class), big flower bud and flower diameter, with petal number more than Putri as thecontrol variety.
Pengaruh Jenis Media Kultur In Vitro dan Jenis Eksplan terhadap Morfogenesis Lili Oriental Pramanik, D; Rachmawati, F
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Perbanyakan secara in vitro merupakan teknik yang sangat menjanjikan untuk perbanyakan tanaman.Dengan teknik ini dapat diperoleh bibit tanaman yang banyak dalam waktu singkat. Tujuan penelitian ialahmemperoleh informasi mengenai pengaruh jenis media dan jenis eksplan tehadap morfogenesis lili secara in vitro.Varietas yang digunakan ialah lili oriental cv. Donau. Penelitiaan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan BalaiPenelitian Tanaman Hias, Segunung, Cianjur, Jawa Barat, dari bulan Januari-Desember 2007. Percobaan menggunakanrancangan acak lengkap pola faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama ialah empat jenis media, yaituA = Murashige dan Skoog (MS)+BAP 1 ppm+2,4-D 1 ppm, B = MS+NAA 0,5 ppm+TDZ 0,08 ppm, C=MS+NAA1 ppm+TDZ 2 ppm, dan D = MS+2,4-D 1,5 ppm+Kinetin 1 ppm+TDZ 1 ppm dan faktor kedua adalah empat jeniseksplan (petal, petiol, ovul, dan sisik umbi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata padainteraksi antara faktor pertama dan faktor kedua pada semua parameter yang diamati. Media B yang dikombinasikandengan eksplan ovul memberikan hasil tertinggi untuk inisiasi pembengkakan eksplan, sedangkan media B denganeksplan petal, serta media D dengan eksplan petal dan sisik umbi memberikan hasil terbaik untuk induksi kalus. MediaA dan sisik umbi merupakan kondisi terbaik untuk pembentukan tunas dan akar. Media A dengan eksplan sisik umbidan media C dengan eksplan tangkai bunga menunjukkan hasil perlakuan terbaik dalam menginduksi umbi mikro.Pembentukan kalus embriogenik tertinggi terjadi pada media D dengan eksplan petal.ABSTRACT. Pramanik, D. and F. Rachmawati. 2010. The Effect of In Vitro Culture Media and Explants onMorphogenesis of Oriental Lily. Tissue culture technique is the promising method for plant multiplication. Theaim of this study was to evaluate the effect of in vitro media and explants on the morphogenesis of oriental lily cv.Donau. The research was conducted by using randomized complete design with two factors and three replications.The first factor was media, that were A = Murashige and Skoog (MS)+BAP 1 ppm+2.4-D 1 ppm, B = MS+NAA0.5 ppm+TDZ 0.08 ppm, C = MS+NAA 1 ppm+TDZ 2 ppm, and D = MS+2.4-D 1.5 ppm+Kinetin 1 ppm+TDZ 1ppm. While second factors was explants, i.e. petal, peduncle, ovule, and bulb-scale. The results of the study showedthat there was a very significant difference of interaction between first factor and second factor to all parametersobserved. B medium combined with ovule explants gave the best treatment for explants-swollen induction. MeanwhileB medium with petal explants and D medium with petal and bulb-scale explants were the best treatment for callusinduction. A medium with bulb-scale explants provided the best condition for shoot and root formation. A mediumwith bulb-scale explants and C medium with peduncle explants showed the best treatment in micro-bulb induction.The best result on embryogenic callus induction was D medium combined with petal explants.
Penentuan Indeks Kebutuhan Hara Makro pada Tanaman Mangga dengan Metode Diagnosis and Recommendation Integrated System Juliati, S
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Mangga merupakan komoditas buah yang memiliki nilai strategis untuk peningkatan ekspor danpengembangan agroindustri buah-buahan di Indonesia. Pemupukan pada tanaman mangga selama ini didasarkanpada pengalaman dan kebiasaan petani, belum mengacu pada kebutuhan tanaman. Diagnosis and RecommendationIntegrated System (DRIS) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mendiagnosis kebutuhan hara tanamandengan memperhitungkan perbandingan sepasang hara yang terkandung dalam jaringan tanaman. Untuk efisiensipemupukan, metode ini dinilai lebih baik dibanding beberapa metode lainnya. Tujuan penelitian ialah mendapatkanindeks hara dan nilai keseimbangan hara makro (N, P, K, Ca, dan Mg) pada tanaman mangga. Penelitian dilaksanakandi perkebunan mangga Arumanis umur 10 tahun milik PT Trigatra Rajasa, Situbondo, Jawa Timur mulai Januari2004 hingga Desember 2005. Pemilihan lokasi sampel didasarkan atas perbedaan kedalaman solum, yakni solumdangkal (<75 cm), solum sedang (75-150 cm), dan solum dalam (>150 cm). Penetapan sampel dilakukan secarapurposive random sampling sebanyak 12 tanaman untuk masing-masing kriteria kedalaman solum. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa hara P merupakan hara dominan yang dibutuhkan tanaman, diikuti oleh hara Mg dan N untuksolum sedang dan dalam, sedangkan untuk solum dangkal diperlukan hara P diikuti hara N. Sementara hara K danCa terdapat dalam jumlah yang cukup untuk semua lokasi. Rasio N/P untuk solum dalam (6,85) dan solum sedang(6,90) berada pada kisaran seimbang/normal (nilai N/P seimbang: 6,29-6,92), sementara untuk solum dangkal (6,07)berada pada kisaran kekahatan ringan (nilai N/P : 5,99–6,29). Rasio nilai N/K (solum dalam = 3,23, solum sedang= 3,38, dan solum dangkal = 3,02), berada pada kisaran normal/cukup (nilai N/K seimbang: 3,09-3,33). Demikianjuga rasio K/P (solum dalam = 2,15, solum sedang = 2,06, dan solum dangkal = 2,03), berada pada kisaran normal/cukup (kisaran K/P seimbang: 2,04-2,12). Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa unsur P merupakan unsurpaling dominan yang dibutuhkan tanaman mangga di lokasi tersebut, menyusul unsur N dan K. Terdapat hubunganantara nisbah hara N/P, N/K, dan K/P terhadap pertumbuhan, produksi, dan produktivitas tanaman, di mana bilamasing-masing nisbah hara tersebut berada dalam kisaran seimbang, maka pertumbuhan dan produksi tanamanjuga menjadi lebih baik. Model DRIS dapat direkomendasikan untuk membantu pengelolaan pemberian hara yangefisien sesuai kebutuhan tanaman.ABSTRACT. Juliati, S. 2010. Determination Macro Nutrient Index on Mango by DRIS Method. Mango ispriority commodity to increase export and as fruit agroindustry in Indonesia. Up till now fertilization on mango hasbeen done based on farmer’s pratices. Diagnosis and Recommendation Integrated System (DRIS) is a method todetermine nutrient requirement by analyzing nutrient ratio in pairs whitin plant tissue. To obtain the efficiency infertilization this method was better than other method. The experiment was carried out in 10 years age of mangoorchard of cv. Arumanis at PT Trigatra Rajasa Situbondo, East Java, from January 2004 until December 2005. Selectionof sample location was based on soil solum depth that were shallow solum (<75 cm), intermediate solum (75-150cm), and deep solum (>150 cm). Twelve trees at each soil solum depth were chosen as sample units determinedby purposive random sampling. The results showed that P was the most dominant nutrient element required by theplant in all location, followed by Mg and N for intermediate and deep solum, while for shallow solum the dominantnutrient was P followed by N. Kalium and Ca nutrient in were efficient all location. N/P nutrient balanced ratio fordeep solum was 6.85, 6.90 for intermediate solum and the normal range was N/P value : 6.29-6.92. For shallowsolum the N/P nutrient balanced ratio was 6.07 at low deficiency range (N/P value: 5.99–6.29). For N/K ratio value(deep solum = 3.23, intermediate solum = 3.38, and shallow solum = 3.02), all solums had balance range (N/Kbalanced value : 3.09-3.33). Similarly for K/P ratio (deep solum = 2.15, intermediate solum = 2.06 and shallowsolum = 2.03), all solums had balanced range (K/P balanced ratio : 2.04-2.12). Results of this study described that Pwas the most dominant nutrient required by the plant in the location. There was relationship between N/P, N/K, andK/P ratio on growth, production, and productivity. If each nutrient ratio was at balance condition it would be obtainedthe optimum growth and production of the plant. Diagnosis and Recommendation Integrated System model could beused to issue recommendation of efficient soil fertilization as it is matched with plant requirement.
Pengelolaan Fisik, Kimia, dan Biologi Tanah untuk Meningkatkan Kesuburan Lahan dan Hasil Cabai Merah Sumarni, Nani; Rosliani, Rini; Duriat, Ati Srie
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 mdpl.) dengan jenis tanah Andisol, dari bulan Juni 2004-Januari 2005. Tujuan percobaan adalah mengetahui pengaruhpemberian zeolit, jenis pupuk kandang, dan dosis NPK terhadap kesuburan tanah dan hasil cabai merah varietas Tanjung1. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri ataspemberian zeolit (0 dan 500 kg/ha), jenis pupuk kandang (kuda, sapi, dan ayam) masing-masing 20 t/ha, dan dosis NPK15-15-15 (250, 500, 750, dan 1.000 kg/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara perlakuanzeolit, jenis pupuk kandang, dan dosis NPK 15-15-15 terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah. Pemberian zeolit500 kg/ha tidak berpengaruh terhadap sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, begitu pula terhadap pertumbuhan danhasil cabai. Jenis pupuk kandang yang berbeda pada tingkat dosis yang sama (20 t/ha) tidak berpengaruh terhadappertumbuhan dan hasil cabai. Jenis pupuk kandang yang paling baik untuk pertumbuhan dan hasil cabai merah adalahpupuk kandang ayam. Pengurangan dosis pupuk NPK 15-15-15 dari 1.000 kg/ha menjadi 250 kg/ha tidak menurunkanhasil cabai merah secara nyata. Pemberian pupuk kandang perlu diberikan setiap kali bertanam, tetapi pupuk NPKtidak perlu diberikan secara berlebihan, agar produktivitas lahan dapat dipertahankan.ABSTRACT. Sumarni, N., R. Rosliani, and A.S. Duriat. 2010. Physical, Chemical, and Biological SoilManagement to Increase Soil Fertility and Hot Pepper Yield. The experiment was conducted at the ExperimentalGarden of Indonesian Vegetable Research Institute-Lembang (1,250 m asl.) on Andisol soil type from June 2004 upto January 2005. The aim of the experiment was to determine the effect of zeolite, stable manure, and NPK fertilizerapplications on soil fertility and hot pepper cv. Tanjung 1 yield. The treatments were set up in a factorial randomizedblock design with three replications. The treatments consisted of three factors, viz. (1) zeolite (0 and 500 kg/ha), (2)kinds of stable manure (horse, cow, and chicken manures) 20 t/ha respectively, and (3) NPK 15-15-15 (250, 500,750, and 1,000 kg/ha). The results indicated that there were no interaction effects between zeolite, stable manure, andNPK 15-15-15 on the growth and yield of hot pepper. Application of zeolite 500 kg/ha did not significantly affect thephysical, chemical, and biological characteristics of soil. It also did not affect on the growth and yield of hot pepper.The physical, chemical, and biological conditions of soil were not affected by the kinds of stable manure. But chickenmanure application gave the highest yield of hot pepper. Decreasing of NPK 15-15-15 dosages from 1,000 to 250 kg/ha did not significantly affect on the yield of hot pepper. Applying of stable manure (organic fertilizer) and adequatedosage of NPK fertilizer was necessary for each planting season to maintain the soil productivity
Design Pengembangan Hortikultura Tahunan Berkelanjutan Di DAS Ciliwung Hulu Wibawa, W D; Hardjomidjojo, H; Irianto, Guntur; Pramudya, B
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kondisi hidrologis DAS Ciliwung Hulu saat ini dalam keadaan kritis akibat dari penurunan areal vegetasi,khususnya tanaman tahunan yang mempunyai fungsi utama menahan, menangkap, menguapkan, dan mengalirkanair hujan ke dalam tanah maupun di atas permukaan tanah, sebagai bagian penting dari siklus hidrologi. Untukmemperbaiki kondisi hidrologis DAS bagian hulu sebagai wilayah tangkapan air, maka diperlukan peningkatan arealtutupan lahan dengan tanaman tahunan yang sekaligus mampu memenuhi kriteria secara ekonomis menguntungkan,ramah lingkungan, dan dapat diterima oleh masyarakat. Tujuan penelitian ialah menentukan jenis tanaman hortikulturatahunan yang memenuhi kriteria yang diharapkan dan sesuai dengan wilayah pengembangan di DAS CiliwungHulu. Untuk itu diidentifikasi lahan yang terdiri atas 30 unit lahan >700 m dpl. dan 21 unit lahan <700 m dpl..Penelitian berhasil mengidentifikasi penyebaran 24 jenis tanaman hortikultura tahunan di masing-masing unit lahan.Berdasarkan kombinasi antara jumlah dan sebaran tanaman, ditentukan 10 jenis tanaman hortikultura tahunan potensialmenggunakan metode perbandingan indeks kinerja. Kesepuluh jenis tanaman tersebut berturut-turut ialah nangka,lengkeng, durian, melinjo, mangga, alpokat, rambutan, limus, petai, dan jengkol. Dengan menggunakan kombinasianalisis kesesuaian lahan, jumlah, dan sebaran tanaman, ditetapkan arahan rekomendasi pengembangan tanamanhortikultura tahunan, yang merupakan tanaman dominan untuk dikembangkan di DAS Ciliwung Hulu. Hasil analisisfinansial menunjukkan bahwa tanaman lengkeng mempunyai nilai NPV tertinggi sebesar Rp42.278.400,00, sedangkantanaman mangga dengan nilai NPV terendah, yaitu Rp13.205.675,00. Kombinasi pola tanam alpokat-nangka-lengkengmenunjukkan nilai NPV tertinggi, yaitu sebesar Rp38.779.187,00.ABSTRACT. Wibawa, W.D., H. Hardjomidjojo, G. Irianto, and B. Pramudya. 2010. The Development Designof Sustainable Perennial Horticulture in Upper Ciliwung Watershed. Hydrological condition of Upper CiliwungWatershed is critical due to rapid decrease of the perennial vegetation area which has a main function to catch anddeliver rainfalls into the soil as part a hydrological cycle. To improve hydrological condition of upper watershed asa catchment area it is necessary to develop perennial vegetation which are economically beneficial, environmentallyfriendly, as well as socially accepted by the community. Therefore, the objective of this research was to determineperennial horticultural commodities and areas in the Upper Ciliwung Watershed. Land units have been identified anddelineated, 30 land units above 700 m asl. and 21 land units below 700 m asl.. Existing 24 perennial horticultures andtheir distribution have been identified and predicted. Combination of plant distribution and quantity was used as abase to select top 10 priority perennial horticultural plants by using comparative performance index (CPI) method.Ten commodities were identified such as jack fruit, longan, durian, Gnetum gnemon, mango, avocado, rambutan,Mangifera odorata, Parkia sp., and Pithecellobium. Combination of land suitability, number, and distribution ofselected perennial horticulture commodities in every land units as well as limitation of maximum three commoditiesto develop for each land unit has been used to recommend the development of perennial horticulture in every land unit.Jack fruit, avocado, durian, longan, and G. gnemon were the dominant recommended commodities to develop. Longanindicates the highest NPV (Rp42,278,400.00), meanwhile mango was the lowest (Rp13,205,675.00). Combinationof avocado-jack fruit-longan indicates the highest NPV (Rp38,779,187.00).
Respons Beberapa Varietas Nasional Gladiol terhadap Pemupukan N dan K Soedarjo, Muchdar; Wuryaningsih, Sri
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Nitrogen merupakan salah satu hara makro pembatas pertumbuhan vegetatif dan generatif tanamangladiol, sedangkan kalium sebagai katalisator pada proses metabolisme. Percobaan lapangan untuk mengevaluasipengaruh pupuk N dan K pada pertumbuhan, kualitas bunga, dan subang beberapa varietas gladiol dilakukan diKebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Juni sampai Desember 2009. Rancangan percobaan yangdigunakan ialah petak terpisah dengan dua ulangan. Petak utama adalah tiga varietas gladiol yaitu (1) Nabila, (2)Clara, dan (3) Kaifa. Anak petak adalah kombinasi pemupukan N dan K yaitu (1) N10K10, (2) N10K20, (3) N10K30, (4)N20K10, (5) N20K20, (6) N20K30, (7) N30K10, (8) N30K20, dan (9) N30K30. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapatinteraksi nyata antara varietas dan pemupukan terhadap panjang tangkai bunga dan jumlah kuntum bunga/tangkai.Nitrogen (N) dan kalium (K) merupakan hara makro yang membatasi pertumbuhan tanaman yang berperan besarpada kualitas bunga dan subang gladiol, dengan respons berbeda bagi setiap varietas. Varietas Clara paling responsifterhadap pemupukan nitrogen, dengan pemupukan N30K10 menghasilkan tangkai bunga terpanjang (73,16 cm), danjumlah subang kelas A terbanyak (9,83 subang). Pemberian pupuk N20K10 pada varietas Kaifa dapat menghasilkantangkai bunga terpanjang dan jumlah kuntum bunga terbanyak. Pemupukan N dan K dapat diimplementasikan denganmempertimbangkan varietas gladiol yang ditanam.ABSTRACT. Soedarjo, M. and S. Wuryaningsih. 2010. Response of Several Gladiolus Varieties on N andK Fertilizer Application. Nitrogen is one of the nutrients limiting the growth either vegetative or generative ofgladiolus, while potassium as a catalyst in the process of metabolism.A field experiment to evaluate the effect of Nand K fertilizers on the growth and development of three varieties of gladiolus was conducted at the experimentalgarden of The Indonesian Ornamental Crop Research Institute from June to December 2009. A split plot design withtwo replications was used. The main plot was three gladiolus varieties consisted of (1) Nabila, (2) Clara, and (3)Kaifa. The subplot was combinations of N and K fertilizers, namely (1) N10K10, (2) N10K20, (3) N10K30, (4) N20K10,(5) N20K20, (6) N20K30, (7) N30K10, (8) N30K20, and (9) N30K30. The Research results showed that there were interactionsbetween varieties and N K fertilizers on flower spike length and number of floret/spike. Nitrogen (N) and potassium(K), the macro nutrient that limits plant growth, and played a significant role in the quality of flowers and corms ofgladiolus, responses for each variety. Clara varieties was the most responsive to nitrogen fertilization, with fertilizerapplication of N30K10 produce longest flower stalks (73.16 cm), and highest number of class A corm (9.83). Fertilizerapplication N20K10 on Kaifa varieties produce the longest flower stalk and the largest flower number/spike. Nitrogenand Kalium fertilization could be implemented by considering the varity of gladiolus.
Potensi Beberapa Varietas Jagung untuk Dikembangkan sebagai Varietas Jagung Semi Yudiwanti, Yudiwanti; Sepriliyana, W R; Budiarti, S G
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Jagung semi merupakan salah satu komoditas sayuran yang semakin digemari, akan tetapi produksinyadi Indonesia menghadapi kendala antara lain belum tersedianya varietas jagung yang khusus untuk diproduksi sebagaijagung semi. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi potensi dari beberapa varietas jagung untukdikembangkan sebagai varietas jagung semi. Penelitian lapangan dilaksanakan di KP IPB Leuwikopo, Dramaga,Bogor dari bulan Mei sampai Juli 2009. Bahan genetik yang digunakan terdiri dari 17 varietas koleksi BB Biogen,yaitu lima varietas lokal (Campaloga, Genjah Kodok, Ketip Kuning, Lokal Oesae, dan Lokal Srimanganti), tujuhvarietas hasil pemuliaan (Antasena, Arjuna P18, Bayu, BC 10 MS 15 , Nakula, Sadewa, dan Wisanggeni), lima varietasintroduksi (EW DMR Pool C6S2, EY Pool C4S2, Kiran, Phil DMR Comp 2, dan Phil DMR 6), dan satu varietaskontrol, Bisi-2. Penelitian disusun dalam rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Peubah yangdiamati adalah tinggi tanaman, jumlah buku, diameter batang, umur berbunga, umur panen pertama, jumlah tongkolper tanaman, bobot tongkol bersih per tanaman, ukuran tongkol (diameter dan panjang tongkol), jumlah tongkollayak pasar, dan jumlah tongkol afkir per tanaman. Data dari peubah yang diamati dianalisis dengan ANOVA diikutidengan uji t-Dunnett. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar varietas yang dievaluasi lebih pendekdan berbunga lebih cepat serta dipanen lebih awal, dibanding kontrol. Varietas-varietas Ketip Kuning, Antasena,BC 10 MS 15, dan EW DMR Pool C6S2 menghasilkan jumlah tongkol per tanaman dan bobot tongkol bersih tidakberbeda dari Bisi-2 sebagai kontrol. Varietas-varietas tersebut dapat dikembangkan sebagai varietas jagung semi.Hasil penelitian ini menguatkan diperlukannya perakitan varietas jagung khusus untuk produksi jagung semi yangbertongkol banyak dan layak pasar.ABSTRACT. Yudiwanti, W.R. Sepriliyana, and S.G. Budiarti. 2010. The Potential of Some Maize Varietiesto be Developed as Baby Corn Varieties. Baby corn is one of vegetables which was increasingly popular, but itsproduction in Indonesia was facing constraints such as unavailability of special variety to produce baby corn. Theresearch objective was to obtain information on the potential of several varieties of corn to be developed as baby cornvariety. The experiment conducted at Leuwikopo-IPB experimental field at Dramaga, Bogor from May until July 2009.The genetic material was consisted of 17 collection varieties of Indonesian Center for Agricultural Biotechnologyand Genetic Resources Research and Development, they were: five local varieties (Campaloga, Genjah Kodok, KetipKuning, Local Oesae, and Local Srimanganti), seven breeding varieties (Antasena, Arjuna P18, Bayu, BC 10 MS 15,Nakula, Sadewa, and Wisanggeni), five introduced varieties (EW DMR Pool C6S2, EY Pool C4S2, Kiran, Phil DMRComp 2, and Phil DMR 6), and one control variety, Bisi-2. The experiment was arranged in a randomized completelyblock design with three replications. Variables measured were plant height, number of nodes, stem diameter, dateof flowering, date of first harvesting, number of ears per plant, gross weight of ears per plant, net weight of ears perplant, ear size (diameter and length of ears), number of marketable, and nonmarketable baby corn ears. Data measuredwere analyzed with ANOVA followed by t-Dunnett test. The results showed that most of the varieties evaluated wereshorter and flowering faster and also harvested earlier than Bisi-2 as control. Ketip Kuning, Antasena, BC 10 MS 15,and EW DMR Pool C6S2 varieties did not showed any significant different in the number of ear per plant and earnet weight per plant compare with Bisi-2 as control. It showed that those varieties could be developed as baby cornvariety. The results of this study reinforce the need for creating special corn varieties for baby corn production

Page 6 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue