cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Korelasi Konsentrasi Hara Nitrogen Daun dengan Sifat Kimia Tanah dan Produksi Manggis Liferdi, Lukman; Poerwanto, Roedhy
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis daun dapat digunakan sebagai pedoman dalam mendiagnosis status hara  dan rekomendasi pupuk pada tanaman manggis. Namun demikian, standar teknik pengambilan contoh daun harus ditentukan secara akurat. Umur daun merupakan faktor utama dalam menentukan status hara tanaman buah. Daun yang tepat dijadikan contoh yaitu pada saat konsentrasi hara mempunyai korelasi terbaik dengan pertumbuhan dan hasil. Daun yang mempunyai korelasi terbaik tersebut digunakan dalam uji kalibrasi. Konsentrasi hara mineral pada daun diamati pada tiga sentra perkebunan manggis, yaitu Kabupaten Bogor, Tasikmalaya, dan Purwakarta. Dua puluh pohon manggis dewasa yang relatif seragam dari masing-masing kebun diambil daunnya setiap bulan dan dianalisis untuk mengetahui konsentrasi hara N-nya. Contoh daun diambil mulai daun berumur 2 bulan setelah trubus dan seterusnya secara periodik hingga umur 10 bulan. Pengamatan produksi meliputi jumlah bunga yang mekar, jumlah bunga yang rontok, serta jumlah dan bobot  buah per pohon. Kualitas buah dilihat dari konsentrasi N, P, dan K dari masing-masing bagian buah dan padatan terlarut total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hara nitrogen pada daun berkurang dengan bertambahnya umur. Konsentrasi N daun manggis asal Purwakarta lebih tinggi daripada Tasikmalaya dan Bogor serta berkorelasi positif dengan hara N tanah dan hasil. Korelasi konsentrasi N dari beberapa umur daun dengan hasil yang paling baik yaitu daun umur 5 bulan dengan koefisien korelasi di atas 0,7. Oleh karena itu, umur daun yang tepat sebagai alat diagnosis hara N untuk tanaman manggis yaitu 5 bulan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan untuk tanaman manggis.Leaf analysis can be used as a guide to diagnose nutritional status and as a fertilizer recommendation tool for mangosteen tree. Therefore, the sampling technique of standard leaf has to be established. Leave age was the main important factor to estimate fruits plant nutrient status. The best leaf sampling was the one which has the best correlation between leaf nutrients concentration with growth and yield as well. This leaf will be used in the calibration test. Leaf nutrient concentration was investigated in three mangosteen production areas i.e. Bogor, Tasikmalaya, and Purwakarta. To analyze N concentration of  twenty uniform and representative mangosteen trees, leaves were taken monthly. The results showed that concentration of N on the leaves decreased  following the increase of leaf age. Mangosteen leaves from Purwakarta contained more N than those from Tasikmalaya and Bogor. Fifth months leaf age was the best one to be used as a leaf sample to diagnose N nutritional status which coefficient correlation more than 0.7, because it had the best correlation among concentration of N in leaf with soil nitrogen nutrient and production.  This research results were used as a guide to estimate fertilizer recommendations for mangosteen.
Pengaruh Pemberian Air dan Pemupukan terhadap Getah Kuning pada Buah Manggis Anwarudin syah, Muhammad Jawal; Mansyah, E; Martias, -; Purnama, T; Fatria, D; Usman, F
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Getah kuning merupakan penyebab utama rendahnya kualitas buah manggis, sehingga tidak layak ekspor. Getah kuning yang masuk ke dalam daging buah menyebabkan rasa tidak enak dan tidak layak konsumsi. Untuk itu masalah getah kuning perlu segera diatasi. Penelitian dilakukan di sentra produksi manggis di  Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dari bulan Januari sampai Desember 2004. Penelitian bersifat super imposed trial, tetapi data diolah berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama ialah pemberian air (tanpa diairi dan diairi), sedangkan faktor kedua ialah pemupukan (tanpa pupuk, NPK, NPKCa, dan NPKCaMg).  Pemberian air dilakukan secara tetes terus menerus pada saat tanaman sudah memasuki fase berbuah. Tujuan penelitian untuk mendapatkan teknik pengendalian getah kuning pada buah manggis. Parameter yang diamati meliputi persentase getah kuning pada kulit  bagian luar dan bagian dalam buah manggis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air secara tetes terus menerus pada tanaman manggis yang sedang berbuah dapat mengurangi  persentase getah kuning sampai 36%  pada  kulit bagian dalam buah manggis.  Getah kuning pada kulit bagian luar juga menurun tetapi tidak konsisten. Pemupukan belum mampu menurunkan persentase getah kuning pada buah manggis. ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah, E. Mansyah, Martias, T. Purnama, D. Fatria, and F. Usman. 2010. The Effect of Drip Irrigation and Fertilization to Control the Yellow Latex Incidence on Mangosteen Fruit. The yellow latex is a major problem on mangosteen fruit quality, especially for export. The yellow latex occured in the fruit flesh caused improper taste. The experiment was conducted in the mangosteen production center, Pesisir Selatan, West Sumatera. The experiment was designed as  super imposed trial. The data was analized using factorial randomized block design with two factors and three replications. The first factor was irrigation (no irrigation and with irrigation) and the second factor was fertilizer (no fertilizer, NPK, NPKCa, and NPKCaMg). Drip irrigation was applied continously on the generative phase. The objective of this experiment was to find out the control technique of the yellow latex on mangosteen fruit. The parameter observed were the percentage of yellow latex on outer and inner skin fruit of mangosteen. The results of the experiments indicated that drip irrigation during the generative phase was able to decrease the yellow latex incidence  on the inner fruit skin of mangosteen up to 36%, but the decreased of yellow latex incidence on the outer fruit skin of mangosteen was not consistent. Fertilization did not significantly reduce  yellow latex incidence on  mangosteen fruit.
Regenerasi Kultur Lengkeng Dataran Rendah cv. Diamond River melalui Embriogenesis Somatik Roostika, Ika; Arief, V N; Sunarlim, N
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Beberapa kultivar lengkeng toleran dataran rendah telah diintroduksi ke Indonesia termasuk lengkengcv. Diamond River. Kultivar tersebut telah dibudidayakan secara komersial di daerah Kalimantan Barat. Namun,pengembangannya menghadapi kendala dalam hal penyediaan bibit. Dalam rangka memperoleh bibit lengkengdalam jumlah yang berlimpah, perlu penerapan teknik kultur in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk menginduksidan meregenerasikan kalus embriogenik lengkeng cv. Diamond River. Induksi kalus dilakukan menggunakan daunmuda sebagai eksplan. Regenerasi kalus embriogenik dilakukan dalam 4 tahap. Pada tahap pertama digunakan airkelapa pada konsentrasi 5 dan 10%. Pada tahap kedua, diuji pengaruh auksin (IBA dan NAA) serta sitokinin (BAdan kinetin) masing-masing pada taraf 0,5 ppm. Pada tahap ketiga, diuji pengaruh auksin IBA dan NAA pada taraf0,1; 0,5; dan 1 ppm. Pada tahap keempat diuji perlakuan sukrosa pada taraf 2 dan 3% dengan atau tanpa auksin(IBA dan NAA) masing-masing pada taraf 0,5 dan 1 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regenerasi melaluiembriogenesis somatik berpeluang diterapkan pada tanaman lengkeng cv. Diamond River. Respons kalus embriogeniklebih dominan ke arah pembentukan akar daripada tunas. Penggunaan media yang mengandung NAA 1 ppm mampumeningkatkan pembentukan tunas hingga mencapai lebih dari 30%, sedangkan penggunaan sukrosa 3% tanpa auksinmampu meningkatkan pembentukan planlet hingga mencapai 12%. Persentase keberhasilan aklimatisasi adalahsebesar 14%.ABSTRACT. Roostika, I., V.N. Arief, and N. Sunarlim. 2009. Regeneration of Lowland Longan cv. DiamondRiver through Somatic Embryogenesis. Several low-land longan cultivars have been introduced to Indonesia,including cultivar of Diamond River. This cultivar has been planted commercially and produced well in WestKalimantan. Unfortunately, the development of this cultivar was facing a problem on the availability of plantingmaterials. In order to provide large number of Diamond River seedlings, tissue culture technique was used. Theaim of the study was to induce and regenerate embryogenic calli of longan cv. Diamond River. A research on callusinduction was conducted using young leaves as explants source. Regeneration of embryogenic calli was conductedin 4 steps. The first, coconut water at the rate of 5 and 10% were used. The second, the auxin (IBA and NAA) andcytokinin (BA and kinetin) at the level of 0.5 ppm, respectively were tested. The third, the IBA and NAA at thelevel of 0.1, 0.5, and 1 ppm were used. The fourth, the sucrose at the level of 2 and 3% with or without addition ofIBA and NAA at the level of 0.5 and 1 ppm were used respectively. The results showed that somatic embryogenesisregeneration was potentially applied to longan cv. Diamond River. The root formation was more dominant than theshoot formation. The use of 1 ppm NAA could increase the shoot formation up to more than 30% whereas the useof 3% sucrose without auxin could increase the plantlet formation up to 12%. The 14% of plantlet produced by thistechnique grew well during acclimatization period.
Efek Pemberian Fosfor terhadap Pertumbuhan dan Status Hara pada Bibit Manggis Lukman, Liferdy
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Fosfor (P) dikatakan sebagai salah satu kunci kehidupan, karena fungsinya yang sangat sentral dalam proses kehidupan. Fungsi utama P dalam tanaman adalah menyimpan dan mentransfer energi dalam bentuk  ADP dan ATP. Energi diperoleh dari fotosintesis dan metabolisme karbohidrat yang disimpan dalam campuran fosfat untuk digunakan dalam proses-proses pertumbuhan dan produksi. Tanpa P, proses-proses tersebut tidak dapat berlangsung. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2004 sampai Mei 2006 di Kebun Pembibitan Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor, Tajur, Bogor pada ketinggian 200 m dpl.. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan pengaruh P terhadap pertumbuhan dan status hara P pada bibit manggis. Tanaman manggis umur 17 bulan digunakan dalam penelitian ini. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok, dengan enam perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan terdiri atas enam tingkat dosis pupuk P, yaitu 0, 25, 50, 100, 200, dan  400 ppm/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit manggis, terutama untuk peubah tinggi tanaman, panjang cabang, jumlah cabang, dan jumlah daun. Konsentrasi P daun berdasarkan hasil analisis, statusnya dikelompokkan sebagai berikut: <0,05% = sangat rendah, 0,05-<0,10% = rendah, 0,10-<0,19 = sedang, dan >0,19% = sangat tinggi. Untuk mendapatkan pertumbuhan maksimum dibutuhkan dosis pupuk P optimum sebanyak 130 ppm P/tanaman bibit. Bila mempergunakan model linear plateau maka dosis yang direkomendasikan adalah 84 ppm P/tanaman bibit. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan P untuk bibit manggis.ABSTRACT. Liferdi, L. 2010. The Effect of Phosphor Application on the Growth and Nutrient Status of Mangosteen Seedling. Phosphor (P) is often called as a key in life because of it’s central function in the living process.  The most essential function of P in plant is energy storage and transfer within adenosine di and tri phosphates (ADP and ATP) forms. Energy obtained from photosynthesis and metabolism of carbohydrate is stored in phosphate compounds for subsequent use in growth and reproduction processes. Without P, those processes can not occur. The experiment was conducted on June 2004 until May 2006 at the nursery of Center for Tropical Fruits Study, Bogor Agricultural University (elevation 200 m asl.). The objective of this experiment was to examine the effect of P on the growth and nutrient status of mangosteen seedling. The experiment was arranged in a randomized complete block design, consisting of  six treatments with six replications. The treatments were six levels of P dosage: 0, 25, 50, 100, 200, and 400 ppm/plant. All treatments were applied on 17-months mangosteen seedlings. The results showed that P significantly affected plant height, branch length, branch number, and leaf number of mangosteen seedlings. Based on leaf tissue analysis, the leaf with concentration of P less than 0.05% was classified as very low, 0.05 to <0.10% was low, 0.10 to <0.19% was medium, and >0.19% was very high. To obtain the maximum growth of mangosteen seedling the optimum dosage of P of 130 ppm P/plant was needed. By using a linear plateau model, the recommended dosage was 84 ppm P/plant. The results  of this research can be used as a guide to estimate  P fertilization, especially  for mangosteen seedling.
Pengaruh Campuran Insektisida terhadap Ulat Bawang Spodoptera exigua Hubn. Moekasan, Tonny Koetani; Murtiningsih, Rini
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efikasi campuran empat insektisida yaitu spinosad (Tracer), metomil (Metindo), tiodikarb (Larvin), dan klorpirifos (Dursban) terhadap larva Spodoptera exigua pada tanaman bawang merah di lapangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai September 2007 di Desa Kendawa, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten DT II Brebes, Jawa Tengah (± 2 m dpl.). Delapan perlakuan termasuk kontrol dan pembanding diuji menggunakan rancangan acak kelompok dan masing-masing perlakuan diulang empat kali. Perlakuan yang diuji adalah (a) spinosad + metomil, (b) spinosad  + tiodikarb, (c) klorpirifos  + metomil, (d) spinosad, (e) tiodikarb, (f) klorpirifos, (g) metomil, dan (h) kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga macam campuran yang diuji, campuran spinosad + metomil paling efektif menekan S. exigua dan dapat mempertahankan hasil panen bawang merah. Selain itu berdasarkan harga resmi pestisida pada tahun 2007, harga  campuran insektisida spinosad + metomil  lebih murah jika dibandingkan dengan harga spinosad tunggal. Selisih pendapatan dalam perlakuan campuran spinosad + metomil lebih tinggi dengan selisih pendapatan perlakuan spinosad tunggal. ABSTRACT. Moekasan, T.K. and R. Murtiningsih. 2010. The Effect of Insecticides Combination Against Beat Armyworm Spodoptera exigua Hubn. The purpose of the study was to determine the efficacy of combination of four insecticides, i.e. spinosad (Tracer), methomyl (Metindo), thiodicarb (Larvin), and chlorpyrifos (Dursban) against beat armyworm, S. exigua on shallots. The experiment was conducted from April until September 2007 at Kendawa Village, Jatibarang Subdistrict, Brebes District, Central Java (± 2 m asl). The treatments were (a) spinosad + methomyl, (b) spinosad + thiodicarb, (c) chlorpyrifos + methomyl, (d) spinosad, (e) thiodicarb, (f) chlorpyrifos, (g) methomyl, and (h) check. The treatments were arranged in a randomized block design with four replications. The results showed that spinosad + methomyl was the most effective insecticide combination to suppress S. exigua. This combination could sustain the high yield and the price of spinosad + methomyl combination was cheaper than the spinosad price singly. Therefore, the application of spinosad + methomyl was more profitable compare to spinosad singly.
Pengaruh Pemberian Pupuk N dan K terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah Napitupulu, Delima; Winarto, Loso
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bawang merah merupakan salah satu sayuran yang beradaptasi luas. Salah satu jenis bawang merah yang banyak dikembangkan di dataran rendah adalah varietas Kuning. Produksi bawang merah di Sumatera Utara cukup rendah dan belum mampu untuk memenuhi kebutuhan lokal. Rendahnya produktivitas bawang merah di Sumatera Utara di antaranya disebabkan karena penerapan teknologi pemupukan yang tidak tepat dan tidak tersedianya paket pemupukan spesifik lokasi. Pupuk yang digunakan sesuai anjuran diharapkan memberi hasil yang secara ekonomis menguntungkan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk N dan K terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara, Medan pada ketinggian 30 m dpl. dari bulan April sampai Juni 2008. Faktor perlakuan adalah dosis pupuk N (0, 150, 200, 250) kg/ha dan K (0, 75, 100, 125) kg/ha, diatur dalam sebuah rancangan acak kelompok faktorial dengan empat ulangan. Bawang merah yang digunakan adalah varietas Kuning. Pupuk dasar meliputi pupuk kandang dengan dosis 15 t/ha dan SP-36 sebanyak 300 kg/ha, diberikan satu minggu sebelum tanam dengan cara dicampurkan ke dalam tanah. Pupuk N dan K diberikan pada umur 3, 21, dan 35 HST masing-masing ⅓ dosis. Penanaman dilakukan dengan membuat plot-plot pertanaman berukuran 1,5 x 1,5 m. Jarak antarpetak 0,3 m dan jarak antarblok 0,4 m. Jarak tanam bawang 25 x 25 cm.  Penanaman dilakukan dengan cara tugal pada kedalaman 5 cm. Pengamatan hama dan penyakit dilakukan dengan metode PHT-SDT. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek interaksi antara takaran pupuk N dengan K terhadap bobot umbi basah dan kering. Penerapan teknologi pemupukan dapat meningkatkan produksi  bawang merah sebesar 64,69 g/rumpun diperoleh pada pemberian pupuk N 250 kg/ha dan K 100 kg/ha. Pemberian pupuk N dosis 250 kg/ha dan K  dengan dosis 100 kg/ha memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan produksi bawang merah. Hasil produksi tersebut sejalan dengan parameter tumbuh seperti jumlah anakan per tanaman, jumlah umbi, bobot umbi basah, dan memberikan produksi yang tinggi pada bawang merah. Pemberian pupuk N dosis 250 kg/ha dan K dosis 100 kg/ha pada tanaman bawang merah memenuhi syarat sebagai dosis pupuk bagi tanaman bawang merah dalam meningkatkan hasil, sehingga layak untuk direkomendasikan.ABSTRACT. Napitupulu, D. and L. Winarto. 2010. The Effect of N and K Fertilizer on Growth and Yield of Shallots. Shallots is one of the vegetables that has wide adaptation. One variety of shallots that well adapted in the lowland is Kuning. Total shallots production in North Sumatera was still quite low and has not yet been able to meet the local needs. The low productivity of shallots in North Sumatera meanwhile, was due to inappropriate fertilizers application and no suitable recommendation of fertilization package technology for spesific location. Good recommendation of fertilization application was expected to increase productivity which economically profitable. The objective of this study was to find out the effect of N and K fertilizers on the growth and yield of shallots. The study was conducted in the Experiments Garden, Assessment Institute of Agriculture Technology Medan, North Sumatera, at 30 m asl, from April to June 2008.  Shallots variety used was Kuning. The treatments were four levels of N (0, 150, 200, 250 kg/ha) and four levels of K (0, 75, 100, 125 kg/ha). The experiment was arranged in a factorial randomized block design with four replications. Basic fertilizers used were manure (15 t/ha) and SP-36 (300 kg/ha), applied at one week before planting. N and K were given at the age of 3, 21, and 35 days after planting respectively with the dose of ⅓. The plot size was 1.5 x 1.5 m, and 0.3 m row spacing and distance beetween block 0.4 m, and 0.3 m respectively. Planting distance was 25 x 25 cm. Pest and disease observation were done using integrated pest control methods. The research results indicated that there was interaction between nitrogen and potassium fertilizers  application to the fresh weight and dry bulb per plant. Application of fertilizer could increase shallots dry bulb yield up to 64.69 g/plant that was obtained by the application of 250 kg/ha N and 100 kg/ha K. The fertilizer application of N (250 kg/ha) and K (100 kg/ha) was recommended to increase the productivity of shallots in the area.
Adopsi Inovasi Teknologi Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur Ridwan, Hilmi Kahmir; Sabari, -; Basuki, Rofik Sinung; Sutarya, Rahmat; Ruswandi, Agus
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Produktivitas dan mutu buah jeruk di Indonesia saat ini masih rendah dan perlu ditingkatkan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura telah melaksanakan program penelitian dan pengkajian penerapan pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat (PTKJS) di beberapa provinsi sentra produksi jeruk. Pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat meliputi (a) penggunaan bibit berlabel bebas penyakit, (b) pengendalian OPT terutama vektor penyakit CVPD, (c) sanitasi kebun yang baik, (d) pemeliharaan tanaman secara optimal, dan (e) konsolidasi pengelolaan kebun. Tujuan penelitian adalah untuk  mengetahui adopsi inovasi teknologi PTKJS oleh petani. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dari bulan April sampai dengan Desember 2006,  menggunakan metode survai. Hasil penelitian menunjukan bahwa inovasi teknologi PTKJS dari komponen teknologi, seperti penggunaan bibit unggul berlabel bebas penyakit, konsolidasi pengelolaan kebun, dan subkomponen teknologi, seperti penggunaan perangkap kuning, penyiraman tanah dengan insektisida, penggunaan sex feromon, pemberongsongan, penyulaman dengan bibit berlabel, pemangkasan, penyiraman tanaman, dan pemanenan secara benar, tidak diadopsi oleh sebagian besar petani jeruk di Kabupaten Ponorogo.   ABSTRACT. Ridwan, H.K, Sabari, Rofik, S.B., Rahman, S., and Agus, R. 2010. Adoption of Integrated Crop Management for Healthy Citrus Orchard in Ponorogo, East Java. Productivity and quality of citrus fruit in Indonesia were still low and need to be increased. The Indonesian Center for Horticulture Research and Development had conducted research and assessment program of Integrated  Crop Management for Healthy Citrus Orchad (ICMHCO) in several provinces. The technology package of ICMHCO consisted of (a) the used of labeled and free deseases planting materials, (b) pest and deseases control especially for the CVPD vector, (c) good field sanitation, (d) optimum cultural practices, and (e) field management consolidation. The objective of this research was to access the adoption of technology package of ICMHCO by the farmers. The research was conducted at Ponorogo District, East Java, from April to Desember 2006, using survey method. The results showed that only a part of technology package of ICMHCO had been adopted by the citrus farmers in Ponorogo District. There were some technological components that had not been adopted yet by farmers, such as labeled free deseases planting materials, consolidation of orchard management, yellow trap application, drenching of insecticide solution, sex pheromone application, fruit wrapping, replanting with labelled seeds, pruning, irrigation, and good harvesting practices.
Pengaruh Cara Pengolahan Tanah dan Tanaman Kacang-kacangan sebagai Tanaman Penutup Tanah terhadap Kesuburan Tanah dan Hasil Kubis di Dataran Tinggi Rosliani, Rini; Sumarni, Nani; Sulastrini, Ineu
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK.  Kubis umumnya dibudidayakan secara intensif di dataran tinggi.  Penanaman kubis secara terus menerus menyebabkan terjadinya penurunan produktivitas lahan dan tanaman.  Untuk mempertahankan keberlanjutan produksi, maka budidaya sayuran harus dilakukan dengan cara yang dapat mengurangi terjadinya penurunan produktivitas lahan.  Percobaan dilaksanakan di dataran tinggi Pangalengan, mulai bulan Agustus sampai Desember 2005.  Tujuan percobaan adalah untuk mengetahui pengaruh cara pengolahan tanah dan penggunaan tanaman kacang-kacangan sebagai tanaman penutup tanah terhadap kesuburan tanah serta hasil tanaman kubis di dataran tinggi.  Percobaan dilakukan menggunakan rancangan petak terpisah dengan empat ulangan. Perlakuan meliputi cara pengolahan tanah (minimum/barisan dan konvensional) sebagai petak utama dan penanaman kubis dengan tanaman kacang-kacangan (kacang buncis tegak, kacang merah, dan kacang tanah) sebagai penutup tanah dan mulsa plastik hitam (kontrol) sebagai anak petak. Hasil percobaan menunjukkan pengolahan tanah minimum/barisan mempunyai sifat kimia dan fisik  tanah cenderung tidak berbeda nyata dengan pengolahan tanah konvensional. Tanaman penutup tanah dari jenis tanaman kacang-kacangan mempunyai residu hara (C organik dan P total tanah) dan populasi mikroba tanah serta pertumbuhan dan hasil kubis yang lebih baik daripada penggunaan mulsa plastik, meskipun untuk fisik tanah tidak ada perbedaan.  Jadi, tanaman kacang-kacangan sebagai tanaman penutup tanah yang ditumpangsarikan dengan tanaman kubis dapat digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah dan hasil tanaman kubis.  Pengolahan tanah minimum dan penggunaan tanaman kacang-kacangan yang ditumpangsarikan pada tanaman kubis merupakan cara pengelolaan lahan dan tanaman yang efisien untuk mempertahankan produktivitas lahan dan tanaman kubis.ABSTRACT.  Rosliani, R., N. Sumarni, and I. Sulastrini. 2010. The Effect of Tillage Methods and Legumes as  Cover Crops on Soil Fertility and Yield of Cabbage on Highland. Generally vegetable crops such as cabbage is cultivated intensively on the highland area.  Cultivating vegetable crops continuously all year round can cause decreasing crop and soil productivity. To maintain sustainable production, therefore, vegetable cultivation practices should be done in a way that reduce land degradation. The experiment was conducted at farmer‘s field, Pangalengan from August to December 2005. The objective of the experiment was to find out the effect of tillage method and legumes cover crop to improve soil fertility and yield of cabbage on highland. A split plot design with four replicates was used.  The main plot was tillage method, i.e. minimum (strip) tillage and conventional tillage.  While the subplot was legumes cover crops, i.e stringbean, redbean, and plastic mulch as control. The results showed that minimum tillage did not significantly different to conventional tillage on soil chemical and physical properties, growth, and yield of cabbage.  The cover crops of  leguminose had better nutrient residual (C organic and P soil), population of soil microbial, growth, and yield of cabbage than application of plastic mulch, but did not significantly different on soil physics. Therefore, legumes cover crops could be used for improving soil fertility and yield of cabbage. Minimum tillage and application of  leguminose multiplecrop on cabbage was the efficient methods of crop and soil management  for maintaining crop and land productivity of cabbage in the highland.
Peran Pupuk Limbah Cair Peternakan Sapi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sawi, Selada, dan Kangkung Y, Sastro; Lestari, L P; Suwandi, -
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Tingginya harga pupuk kimia menyebabkan pengembangan pupuk alternatif sangat mendesak untuk dilakukan. Salah satu sumber pupuk alternatif yang potensial untuk dikembangkan adalah limbah cair peternakan sapi. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh pupuk limbah cair peternakan sapi terhadap pertumbuhan dan hasil sawi, selada, dan kangkung.  Pengujian skala pot dengan menggunakan Ultisols sebagai media  dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Pengkajian Teknologi Pertanian DKI Jakarta mulai bulan Maret hingga Oktober 2007.  Perlakuan meliputi pemupukan menggunakan limbah cair peternakan sapi (tanpa dan diencerkan dengan air 1:1 dan 1:2), campuran Urea, TSP, dan KCl (NPK), dan tanpa pemupukan sebagai kontrol.  Perlakuan diatur menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Pertumbuhan dan hasil tanaman yang didasarkan pada tinggi tanaman, jumlah daun, dan berat biomasa dijadikan sebagai variabel pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk limbah cair peternakan sapi nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil sawi, selada, dan kangkung. Apabila dibandingkan dengan perlakuan NPK, hasil sawi, selada, dan kangkung berturut-turut mencapai 95, 87, dan 61%.  Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pupuk limbah cair peternakan sapi dapat menggantikan pupuk kimia dalam budidaya sayuran, khususnya sawi dan selada.ABSTRACT.  Sastro, Y., I.P. Lestari, and Suwandi. 2010. The Effect of  Liquid Cattle Manure on the Growth and Yield of Chinese Cabbage, Lettuce, and Kangkong. Alternative fertilizer is very important to be developed because the high price of chemical fertilizers. One of the potential fertilizer to be developed is liquid cattle manure. This research was aimed to study the effect of liquid cattle manure on the growth and yield of chinese cabbage, lettuce, and kangkong.  The pot scale study used Ultisols as media was conducted in Glasshouse of the Assessment Institute of Agriculture Technology, Jakarta from March until October 2007.  The treatments were diluted cattle manure (1:1, 1:2, no cattle manure); combination of Urea, TSP, and KCl (NPK), and no fertilizer as control. The experiment was arranged in a complete randomized design with five replications. The parameters observed were plant high, leaf number, and biomass weight. The results showed that liquid cattle manure was significantly increase the growth and yield of chinese cabbage, lettuce, and kangkong. The application of liquid cattle manure on chinese cabbage, lettuce, and kangkong could produce 95, 87, and 61% compare with NPK fertilizer, respectively. The results indicated that liquid cattle manure could replace chemical fertilizers in the vegetable production, especially in chinese cabbage and lettuce.
Pengaruh Bahan Pembawa terhadap Efektivitas Beauveria bassiana dalam Mengendalikan Thrips parvispinus Karny pada Tanaman Krisan di Rumah Plastik Yusuf, Silvia; Nuryani, E W; Djatnika, I
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Beauveria bassiana merupakan salah satu cendawan entomopatogen yang efektif untuk mengendalikan hama tanaman. Namun dalam pemanfaatannya sering kali ditemukan kendala, antara lain menurunnya viabilitas dan keefektifan cendawan setelah diaplikasikan di lapangan. Percobaan bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan B. bassiana dengan beberapa pembawa yang berbeda terhadap populasi trips dan kerusakan pada bunga krisan. Percobaan dilaksanakan  di Rumah Plastik Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan April hingga Agustus 2008. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan lima ulangan. Perlakuannya adalah B. bassiana dengan pembawa tepung tongkol jagung, talk, abu sekam, B. bassiana 109 konidia/ml, Beauveria N (kontrol positif), dan air (kontrol negatif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. bassiana dengan pembawa talk merupakan perlakuan yang paling efektif, dapat  menekan populasi trips dan kerusakan bunga lebih rendah dibandingkan dengan kontrol positif Beauvaria N yang komersil. Kemampuan B. bassiana dengan pembawa tepung tongkol jagung dan abu sekam dalam menekan populasi trips pada tanaman krisan di rumah kaca tidak sebaik dengan pembawa talk. Seluruh perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase kerusakan dan ketahanan segar, namun ada perbedaan pada jumlah populasi trips.ABSTRACT. Silvia Yusuf, E., W. Nuryani, and I Djatnika. 2010. The Effect of Several Carriers on Beauveria bassiana to Control Thrips parvispinus Karny on Chrysanthemum under  Plastichouse. Beauveria bassiana is one of effective entomopathogenic fungi in controling important pests on chrysanthemum production. Several constraints on its application in the field yet still become problems, including the decrease of viability and effectiveness of the fungi.  The aim of this study was to determine the effect of several carriers on the application of B. bassiana to control  thrips on chrysanthemum. The experiment was carried out in the plastichouse of Indonesian Ornamental Crop Research Institute at Segunung from  April to  August 2008. The experiment was arranged in a randomized block design with six treatments and five replications. The treatments was B. bassiana with carriers of corn cob powder,  talc, husk ash, B. bassiana 109 conidia/ml, Beauveria N (positive control), and water (negative control). The results showed that talc carrier was more effective in suppresing thrips  population on chrysanthemum in the plastichouse than positive control. This results were not shown by carriers of corn cob powder and husk ash. All of the treatments did not show any significant effect on the damage percentage and vaselife of flower, but there was a significant difference on the number of  thrips population.

Page 9 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue