cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Peranan Teknologi Inseminasi Buatan (IB) pada Produksi Sapi Potong di Indonesia nFN Kusriatmi; Rina Oktaviani; Yusman Syaukat; Ali Said
Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v32n1.2014.57-74

Abstract

EnglishAs a source of animal protein, beef has a strategic value in the Indonesian economy.  National beef production growth is slower than that of consumption. It leads to an increased import. Lower growth of national beef production is due to low productivity of beef cattle. One of steps to achieving beef self-sufficiency policy is beef cattle productivity improvement through optimizing artificial insemination (AI). This study aims to analyze the impact of technology improvements through increased application of AI dosage on the performance of beef cattle industry, the livestock subsector, and forecasting beef self-sufficiency achievement in Indonesia. This study utilized annual time series data from 1990 to 2011. The data were analysed using an econometric model with simultaneous equations. Parameters were estimated using a Two-Stage Least Squares (2SLS) method. Forecasting domestic beef production and demand uses the econometric models. Results of the study reveal that (a) increasing dosages of AI applications will increase domestic cattle population and beef production, lower domestic beef prices, increase national beef demand, as well as improve GDP and employment of livestock subsector, (b) technological improvements by increasing dosages of AI application will accelerate achievement of beef self-sufficiency in Indonesia.IndonesianSebagai salah satu sumber protein hewani, daging sapi mempunyai nilai strategis dalam perekonomian Indonesia. Pertumbuhan produksi daging sapi nasional relatif lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi sehingga impor daging sapi cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Rendahnya pertumbuhan produksi daging sapi nasional sebagai akibat dari rendahnya tingkat produktivitas ternak sapi potong. Salah satu langkah dalam kebijakan swasembada daging sapi adalah peningkatan produktivitas ternak sapi potong melalui optimalisasi Inseminasi Buatan (IB) untuk mendorong pertumbuhan produksi daging sapi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perbaikan teknologi melalui peningkatan aplikasi dosis IB terhadap kinerja industri sapi potong, subsektor peternakan, serta proyeksi pencapaian swasembada daging sapi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data time series tahunan selama periode 1990-2011. Analisis data menggunakan model ekonometrik dengan sistem persamaan simultan. Estimasi parameter menggunakan metode Two Stage Least Squares (2SLS). Proyeksi produksi dan permintaan daging sapi domestik menggunakan model ekonometrik. Hasil analisis adalah sebagai berikut: 1) peningkatan aplikasi dosis IB akan meningkatkan produksi ternak sapi dan produksi daging sapi domestik, menurunkan harga daging sapi domestik, meningkatkan permintaan daging sapi nasional, serta meningkatkan PDB dan kesempatan kerja subsektor peternakan; dan 2) perbaikan teknologi melalui peningkatan aplikasi dosis IB akan mempercepat pencapaian swasembada daging sapi di Indonesia.
Analisis Diversifikasi Konsumsi Energi Menurut Pola Pangan Harapan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Mewa Ariani; Handewi P. Saliem
Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v18n2.1999.50-67

Abstract

EnglishThis paper aims at to analyse diversification pattern of energi consumption and its influences. Data National Socio-economic Survey (SUSENAS) 1993 an 1996 collected by Central Beaure of Statistics (BPS) is used in this study. The results of this study were (1) level of energy consumption tend to decrease between 1993-1996 and still under consumption of requirement energy (2.150 calory/cap/day); (2) Compared in "desirable dietary pattern" (PPH), the level of "hewani food" (pangan hewani) consumption was still low relatively. For low income groups, this consumption was only 10-34 compared with the suggested level, meanwhile for high income groups it was around 25-89 percent. To achieve the consumption pattern appropriate to PPH, the programs of ''hewani" food provision and increase of society's income, should be prioritised. Supply of hewani food is done by pushing domestic production and searching competitive import market; (3) Because income is the significant factor influencing energy consumption diversification at the household level, improving household income through generating employment is the policy to push diversification of energy consumption. This policy should be prioritised to rural and poor household because their average consumption level was lower than in urban areas.IndonesianMakalah ini bertujuan untuk menganalisis diversifikasi konsumsi energi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data yang digunakan adalah data Survai Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 1993 dan 1996, bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) Rata-rata tingkat konsumsi energi mengalami penurunan yaitu dari 2.018 kalori tahun 1993 menjadi 1984 tahun 1996 untuk di kota, sedangkan di desa untuk tahun yang sama dari 2.074 menjadi 2.040 kalori; (2) Dibandingkan dengan anjuran konsumsi pangan dalam PPH, pencapaian konsumsi pangan hewani sangat rendah dibandingkan kelompok pangan lainnya. Sebagai gambaran pada kelompok pendapatan rendah hanya 10-34 persen dari anjuran, sedangkan pada kelompok pendapatan tinggi sekitar 25-89 persen. Dalam rangka menuju pencapaian anjuran konsumsi pangan hewani menurut PPH maka upaya untuk memacu penyediaan pangan sumber protein hewani dan peningkatan pendapatan masyarakat perlu mendapat prioritas. Penyediaan pangan sumber protein hewani dilakukan dengan pemacuan produksi dalam negeri dan mencari pasar impor yang lebih kompetitif; (3) Mengingat tingkat pendapatan merupakan faktor yang nyata mempengaruhi tingkat diversiftkasi konsumsi pangan rumah tangga, maka upaya peningkatan pendapatan rumah tangga melalui perluasan kesempatan kerja merupakan kebijakan yang dapat memacu diversifikasi konsumsi pangan. Prioritas kebijakan disarankan lebih diutamakan di daerah pedesaan (dan masyarakat miskin) mengingat secara agregat tingkat konsumsi pangan mereka lebih rendah daripada di perkotaan.
Optimalisasi Integrasi Tanaman Pangan dan Ternak Sapi pada Berbagai Topografi Lahan di Bali: Suatu Studi Kasus di Kabupaten Badung I Wayan Rusastra
Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v4n1.1985.40-65

Abstract

IndonesianOptimalisasi integrasi ternak dan tanaman pangan dengan perancangan linier diharapkan dapat memberi altematif upaya peningkatan pendapatan dalam usahatani. Disamping itu diharapkan pula mampu menunjukkan arah pengembangan temak sapi dalam suatu daerah dengan kondisi agroekologi tertentu. Realokasi sumberdaya dalam solusi optimal menunjukkan adanya peningkatan pendapatan yang cukup memadai, kecuali untuk petani berlahan sedang dan luas didataran rendah. Bagi kedua golongan petani yang disebutkan terakhir ini, komoditi rekomendasi perlu digarap dalam penelitian lanjutan, atau perlu diciptakan teknologi budidaya tanaman sehingga pendapatan yang semakin layak dapat diciptakan. Dengan meningkatnya luas garapan, temak sapi temyata bersifat kompetitif dengan tanaman pangan untuk daerah dataran rendah dan berbukit. Implikasinya adalah untuk mempertahankan kehadiran usaha ternak sapi perlu diciptakan suatu teknologi pengusahaan ternak yang mampu memanfaatkan tenaga kerja dan modal secara lebih efisien. Didapatkan pula bahwa peningkatan pendapatan dalam salusi optimal temyata diikuti oleh penurunan memanfaatkan tenaga kerja dalam keluarga sehingga produktivitas per tenaga kerja meningkat. Implikasi lintas sektoral yang dapat dikemukakan adalah perlu diciptakan kesempatan kerja diluar sektor pertanian, terutama pada saat pemanfaatan tenaga kerja keluarga secara tidak penuh.
Studi Komparasi Kinerja Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan Syariah dan Konvensional di Jawa Tengah Dedi Junaedi; Nurul Huda; Ranti Wiliasih; S. Gatot Irianto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v30n2.2012.183-199

Abstract

EnglishObjectives of this research are exploring the motives in selecting financial scheme for rural agribusiness development (PUAP), identifying factors affecting PUAP performance, assessing performance differences between conventional PUAP and sharia PUAP in Central Java during the period of 2008-2011. The study was conducted in Banjarnegara, Banyumas, Jepara, Kendal and Purbalingga Regencies during the period from July to December 2012 applying both qualitative and quantitative methods with a dummy-variable multiple regression. A number of 185 LKMA PUAP managers were interviewed with a purposive sampling method. The result shows that PUAP Sharia was chosen for a religious consideration (40.6%), while conventional PUAP LKMA was based on practical (35.3%) and economic reasons (30.2%). Free financing schemes (sharia) variable, LKMA age, number of members, manager’s age and education level, capital, cost of credit, debt, and region were simultaneously and significantly affected the LKMA performance. Partially, effects of each independent variable on the performance are various. Based on liquidity (Quick Ratio) and profitability (Net Profit Margin) aspects, the sharia PUAP shows better performance than the conventional PUAP. The Sharia scheme only shows a negative correlation with the performance of the activity (Asset Turn Over). Solvabilities (Debt Equity Ratios) of both sharia and the conventional show no real effect.IndonesianRiset ini bertujuan untuk mengeksplorasi motif pemilihan skema pembiayaan Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), mengetahui faktor apa saja yang memengaruhi  kinerja PUAP, serta menguji apakah kinerja PUAP syariah  berbeda dengan PUAP konvensional di Jawa Tengah tahun 2008-2011. Penelitian dilakukan di Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Jepara, Kendal, dan Purbalingga selama periode Juli-Desember 2012, menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan multiple regression dummy variable. Sebanyak 185 manajer LKMA PUAP menjadi responden penelitian ini dengan pendekatan  purposive sampling. Hasil riset menunjukkan PUAP syariah dipilih karena motif pertimbangan agama (40,6%), sementara LKMA PUAP konvensional dipilih alasan praktis (35,3%) dan ekonomi (30,2%). Variabel bebas skema pembiayaan (Sharia), usia LKMA, jumlah anggota, usia dan pendidikan manajer, modal, biaya, kredit, utang, dan kawasan secara simultan berpengaruh nyata terhadap kinerja LKMA. Secara parsial, pengaruh setiap variabel bebas terhadap kinerja bervariasi. Dari sisi likuiditas (Quick Ratio) dan profitabilitas (Net Profit Margin), kinerja PUAP syariah relatif lebih baik dari yang konvensional. Skema  syariah hanya berkorelasi negatif dengan kinerja aktivitas (Asset Turn Over). Dan, terhadap kinerja solvabilitas (Debt Equity Ratio), syariah dan konvensional tidak berbeda nyata.
Ragam Sumber Pendapatan Petani Padi Sawah di Kalimantan Tengah: Studi Kasus di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kapuas Bambang Sayaka; Budiman Hutabarat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v15n1.1996.41-47

Abstract

Rice farmers in districts of Kotawaringin Timur and Kapuas (Central Kalimantan Province) earn their main income from agricultural sector, each of 87 percent and 70 percent, respectively. Income distribution of farmers in both districts is well circulated relatively. Income proportions achieved by 40 percent of lowest income group in the districts of Kotawaringin Timur and Kapuas are 14 percent and 17 percent, and their Gini coefficients are 0.4144 and 0.4052, respectively. Unbalanced income distribution in Kotawaringin is affected more by agricultural earnings than that of non agricultural sector. Reducing the unbalanced distribution of farmers income is possible done by increasing income sources generated from upland farming and non agricultural sectors.
Uncertainties in Global Warming Temperature-Trend and Their Impacts on Agricultural Production: an Econometric Evaluation Mohammad A. Ashraf
Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v26n2.2008.123-143

Abstract

IndonesianMakalah ini membahas kecenderungan dampak pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini. Estimasi dilakukan dengan parameter fraksional dari catatan relatif panjang menggunakan tehnik outlier aditif sebagai pengamatan bebas yang dihasilkan di atmosfer karena pemanasan global. Selanjutnya penelitian ini mengamati secara empiris dampak pemanasan global terhadap aspek tertentu produksi pertanian global. Berdasarkan simulasi Monte Carlo, proses menghasilkan data diterapkan dimana outlier aditif dihasilkan melalui cara discrete atau tidak kontinyu. Hasil observasi menunjukkan bahwa outlier aditif mempengaruhi bias dan MSE parameter fraksional estimasi. Ukuran outlier aditif dalam proses menghasilkan data juga memiliki pengaruh penting terhadap parameter farksional estimasi yang tergantung pada nilai parameter fraksional yang sebenarnya. Hasilnya menunjukkan variabilitas non tren atau siklus alami yang dipengaruhi oleh proses stokastik dalam hal sifat perubahan iklim dengan observasi bebas (outlier) yang menghasilkan outcome berlawanan dari ketidakpastian yang intensif terhadap tren data temperatur dunia pada kondisi riil. Hasil pengamatan empiris menyimpulkan bahwa pada akhir abad 21 secara meyakinkan pemanasan global akan mempunyai dampak negatif terhadap agregat produksi pertanian global dan dampaknya bisa sangat parah jika manfaat fertilizasi karbon (peningkatan hasil dalam lingkungan yang kaya karbon) tidak tampak, terutama jika kelangkaan air membatasi irigasi. Lagi pula, jika pemasan global tidak berhenti pada tahun 2080, tetapi temperatur global terus meningkat pada abad 22, kegagalan produksi pertanian bisa semakin parah. Studi ini juga menunjukkan bahwa akumulasi pengaruh produksi pertanian kemungkinan lebih serius bagi negara berkembang dengan kerugian terbesar di Afrika, Amerika Latin, dan India. EnglishThis paper primarily attempts to detect the trend in the present upshots of global warming temperature data. It has been done through the estimation of the long memory fractional parameter using a simulation technique in the presence of additive outliers which stands as wild observations generated in the atmosphere due to global warming. Then, the study investigates empirically the impact of global warming on the particular aspect of global agricultural production. Based on Monte Carlo simulations, a data generating process is applied where additive outliers are generated in a discrete way. Observed facts reveal that additive outliers affect the bias and the MSE of the estimated fractional parameter. The size of the additive outliers in data generating process has also important effects on the estimated fractional parameter depending on the value of true fractional parameter. The result exhibits a non-trend or a natural cyclical variability influenced by a stochastic process in the case of climate change behavior with wild observations (outliers) that produce a contradictory outcome of profound uncertainties against the case of true world temperature data trend. The results of empirical investigations assert that in the late 21st century unabated global warming would have a negative impact on global agricultural production in the aggregate and the impact could be severe if carbon fertilization benefits (enhancements of yields in a carbon-rich environment) do not materialize, especially if water scarcity limits irrigation. In addition, if warming would not halt in the 2080s, but would continue on a path toward still higher global temperatures in the 22nd century, agricultural damage could be more severe. The study also shows that the composition of agricultural effects is likely to be seriously unfavorable to developing countries with the most severe losses in Africa, Latin America and India.
Stochastic Production Frontier and Panel Data: Measuring Production Efficiency of Wetland Rice Farms in West Java nFN Erwidodo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v11n1.1992.19-36

Abstract

IndonesianParameter fungsi produksi yang diestimasi secara statistik, yang umumnya dilakukan dengan metoda estimasi Least Square (LS), merupakan parameter dari fungsi produksi rataan (average). Dengan cara ini, tingkat (in) efisiensi teknis,  sebagaimana disebutkan dalam teori ekonomi produksi, sulit untuk dihitung. Konsep estimasi fungsi produksi frontier, yang belakangan ini mulai populer, memungkinkan kita untuk mengestimasi tingkat inefisiensi produksi secara lebih tepat dan konsisten dengan teori ekonomi produksi. Fungsi produksi frontier ini dapat diduga dengan menggunakan data cross-section maupun dengan data panel. Ketersediaan data panel memungkinkan pendugaan tingkat inefisiensi produksi secara lebih konsisten dengan cukup menggunakan metoda modifikasi dari LS. Dalam tulisan ini dikemukakan konsep dan penerapan fungsi produksi frontier dengan menggunakan data panel dari usahatani padi sawah dibeberapa daerah produsen padi sawah dikawasan DAS Cimanuk, Jawa Barat. Hasil analisa memperlihatkan bahwa tingkat inefisiensi teknis dalam produksi padi sawah berkisar antara 3,4 - 12 persen, atau rata-rata 6.5 persen. Dengan menggunakan asumsi tertentu, secara kasar dapat diduga jumlah kehilangan hasil produksi padi di Jawa Barat sebesar 0.45 juta ton per tahun.
Analisa Keseimbangan Sistem Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia Sri Nuryanti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v23n1.2005.71-81

Abstract

EnglishThis study aims to analyze the stability of Indonesian rice supply and demand equilibrium system and to evaluate short-run and long-run impacts of price policy using Cobweb equilibrium model. The results show that in the short-run equilibrium of rice supply and demand deviates; however, in the long-run it is stable. These imply that price policy on agricultural inputs and output does not disturb Indonesian rice market. Therefore, the policy is still reasonable to implement.IndonesianTulisan ini bertujuan untuk menganalisa stabilitas sistem keseimbangan penawaran dan permintaan beras di Indonesia serta dampak kebijakan harga dalam jangka pendek dan jangka panjang. Analisa data menggunakan model keseimbangan Cobweb. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam jangka pendek keseimbangan penawaran dan permintaan beras menjauhi keseimbangan, namun dalam jangka panjang kembali menuju keseimbangan. Implikasinya adalah bahwa kebijakan harga pada input dan output pertanian tidak mengganggu keseimbangan pasar beras Indonesia. Oleh karena itu kebijakan tersebut aman untuk diterapkan.
Analisis Kelayakan Finansial Penggunaan Bibit Bersertifikat Kelapa Sawit di Provinsi Kalimantan Barat I. Ketut Kariyasa
Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v33n2.2015.141-159

Abstract

EnglishOil palm is one of Indonesia’s non-oil and gas main export commodities. However, the productivity of oil palm, especially on smallholder oil palm plantation, is relatively low due to most farmers adopt noncertified seed. This study aims at assessing the impacts of oil palm certified seed and noncertified seed on production and farmers' income increase in West Kalimantan, as well as payback period of investment costs. A set of tools analysis were employed in this study, namely NPV, IRR, payback period, and ROI. The research results showed that the oil palm small holders adopting certified seed earned higher yield of 66.34% than those adopted noncertified seed. The first group also obtained higher NPV, IRR, and ROI of 79.45%, 31.84%, and 55.19%, respectively, than the latter. The farmers adopting certified seed were also able to return all investment more quickly. In the future, attempts to increase oil palm production should be prioritized through certified seed adoption and the planted area expansion. Enhancing certified seed production is necessary through oil palm experimental station capacity improvement in producing seed. The government should also encourage oil palm seed local producer along with strict supervision and guidance.IndonesianSawit merupakan salah satu komoditas ekspor utama nonmigas Indonesia. Namun, produktivitas sawit khususnya pada perkebunan sawit rakyat masih rendah akibat banyak petani yang menggunakan bibit tidak bersertifikat/palsu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penggunaan bibit bersertifikat relatif terhadap bibit tidak bersertifikat di Kalimantan Barat terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani, serta waktu kembali biaya investasi. Seperangkat analisis diterapkan untuk menjawab tujuan dari penelitian ini, seperti NPV, IRR, payback period, dan ROI. Hasil analisis menunjukkan bahwa perkebunan sawit rakyat yang menggunakan bibit bersertifikat mampu berproduksi 66,34% lebih tinggi dari bibit tidak bersertifikat, serta memberikan NPV, IRR, dan ROI lebih tinggi masing-masing 79,45%; 31,84%; dan 55,19%. Petani yang menggunakan bibit bersertifikat juga mampu mengembalikan modal yang diinvestasikan lebih cepat dibanding petani yang menggunakan bibit tidak bersertifikat. Peningkatkan produksi sawit ke depan sebaiknya diprioritaskan dengan mendorong lebih banyak lagi petani yang menggunakan bibit bersertifikat terutama untuk menggantikan tanaman sawitnya yang sudah berumur tua, dan prioritas berikutnya baru perluasan areal sawit. Oleh karena itu, perlu upaya penyediaan bibit bersertifikat secara memadai melalui peningkatan kapasitas kebun percobaan sawit dalam memproduksi bibit, serta mendorong munculnya produsen bibit lokal melalui pengawasan dan pendampingan secara ketat.
An Analysis Of Factors Determining Competitiveness: The Case Of The Indonesian Palm Oil Industry Mohamad F. Hasan; Michael R. Reed
Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v19n1.2001.1-17

Abstract

IndonesianKajian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing industri kelapa sawit Indonesia di pasar internasional. Kerangka kajian ini menggabungkan pendekatan teori perdagangan neo-klasik dan manajemen strategis dalam menganalisis daya saing internasional pada tingkat industri. Penelitian ini menunjukan bahwa daya saing global industri kelapa sawit di Indonesia dapat dijelaskan oleh produktifitas tenaga kerja, nilai tukar rupiah, dan rasio konsentrasi empat perusahaan. Campur tangan pemerintah dalam bentuk penentuan harga alokasi dalam negeri juga merupakan faktor yang sangat penting dan berpengaruh negatif pada daya saing global industri kelapa sawit di Indonesia.EnglishThis paper analyses factors that determine the competitiveness of the Indonesian palm oil industry including the effect of government interventions. The conceptual framework used in this study combines neo-classical trade and strategic management approaches for analyzing competitiveness at the industry level. This study shows that the competitiveness of the Indonesian palm oil industry can be explained by its labor productivity, the real exchange rates, and the four-firm concentration ratio. It is shown that government interventions--in the form of domestic allocation prices--have significant and negative effects on the competitiveness of the palm oil industry.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue