cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Elastisitas Permintaan Masukan dan Penawaran Hasil Tanaman Padi di Jawa (Perbandingan Pemakaian Fungsi Keuntungan Translog dan Cobb Douglas) Muchjidin Rachmat
Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v5n1.1986.10-17

Abstract

IndonesianTulisan ini mencoba membandingkan Pemakaian Fungsi Keuntungan Translog dan Fungsi Keuntungan Cobb Douglas dalam menduga elastisitas permintaan masukan dan penawaran padi pada tanaman padi. Kedua fungsi tersebut memberikan hasil yang sama, walaupun demikian terdapat beberapa kelebihan penggunaan fungsi keuntungan dalam bentuk translog dibanding Cobb Douglas. Kesimpulan dan Implikasi yang dapat ditarik dari hasil analisa ini adalah disamping perluasan luas garapan kebijaksanaan harga padi lebih efektif diterapkan dalam merangsang penawaran produksi padi dan permintaan masukan. Dalam rangka mengurangi beban subsidi masukan, kenaikan harga masukan dapat dilakukan asal diikuti oleh kenaikan harga padi.
The Impacts of Agricultural Development Project on Women: a Case Study of the Eastern Islands Smallholder Farming Systems and Livestock Development Project (EISFSLDP) Fawzia Sulaiman
Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v17n2.1998.59-79

Abstract

EnglishThe Eastern Islands Smallholder Farming Systems and Livestock Development Project (EISFSLDP) is a poverty alleviation project targeted for increasing income of a selected number of relatively poor rural households. The EISFSLDP project is carried out through an agribusiness approach to farming system development in three provinces in eastern part of Indonesia (South Sulawesi, North Sulawesi, and Maluku Provinces). Even though the problem of mainstreaming women in a development project has been anticipated in the project design and the project management has conducted some efforts to increase the involvement and participation of women in the project, but the problem still persists. The cultural values and norms of project staff and communities in the project areas have resulted a perception that the project beneficiaries are heads of households who are usually males.Although there was a significant difference of time allocation in carrying out reproductive activities between women from project participant households and women from non project participant households, which was due to the time allocated to look for forage (among women from project participant households), but they perceived that there was no negative impact of the project on their time allocation in carrying out reproductive and productive activities, attending community activities, and on their leisure time. Due to the very limited opportunity for income generating activities, and their relatively adequate leisure time (ranging from 9.4 hours-11 hours per day), they perceived that their involvement in managing project packets was beneficial in using their time for productive activities.Even though the majority of women from project participant households were involved actively in managing project packets (ranging from 62 to 95%) and they contributed significantly in farming activities, but they were. not invited to attend farmer training and farmer group meeting. Despite the disadvantageous socio-cultural values in the project locations, the initial efforts of the project management to mainstream women into all aspects of project implementation should be consistently integrated into the project policy, project planning and program development, project technical guidelines, project administration such as in gender segregated reporting system, and project monitoring and evaluation. In this respect, gender analysis should be conducted in all project sites as a tool for an accurate basis for decision makings in the effort to increase the involvement and contribution of all members of project participant households, including women.IndonesianProyek Pengembangan Usaha Tani dan Ternak di Kawasan Timur Indonesia (the Eastern Islands Smallholder Farming Systems and Livestock Development Project) adalah suatu proyek penanggulangan kemiskinan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani yang relatif miskin, melalui pendekatan agribisnis dengan pengembangan sistem usaha tani, di tiga propinsi Kawasan Timur Indonesia (Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Maluku). Walaupun masalah penyertaan wanita telah diantisipasi di dalam desain proyek, dan manajemen proyek telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan partisipasi dan penyertaan wanita dalam proyek, tetapi ternyata pengintegrasian penyertaan wanita kedalam implementasi proyek masih mengalami kendala. Norma dan nilai budaya dari staf proyek dan masyarakat di lokasi proyek merupakan salah satu penyebab dari anggapan bahwa peserta proyek adalah kepala keluarga yang biasanya laki-laki.Walaupun alokasi waktu untuk melakukan kegiatan reproduksi pada wanita dari keluarga peserta proyek berbeda nyata dengan wanita dari nonpeserta proyek yang terutama karena diperlukannya alokasi waktu untuk melakukan kegiatan pencarian pakan hijauan ternak (pada wanita dari keluarga peserta proyek), tetapi mereka beranggapan bahwa tidak ada dampak negatif dari keterlibatannya dalam pengelolaan paket proyek terhadap alokasi waktu untuk kegiatan produksi dan produksi, hadir dalam pertemuan kemasyarakatan, dan terhadap waktu luang dan beristirahat. Sangat terbatasnya kesempatan untuk kegiatan yang menghasilkan pendapatan di desa, dan adanya waktu luang dan istirahat yang relatif cukup (berkisar antara 9,4 -11 jam per hari), justru menyebabkan keterlibatan wanita dalam pengelolaan proyek dianggap sebagai bermanfaat dalam penggunaan waktu untuk kegiatan yang produktif.Walaupun sebagian besar wanita dari rumah tangga peserta proyek terlibat dalam pengelolaan paket proyek (berkisar antara 62- 95%), dan kontribusinya cukup besar dalam kegiatan usaha tani, tetapi mereka tidak dilibatkan dalam pertemuan kelompok tani proyek dan dalam kursus tani. Oleh karena itu, upaya-upaya awal yang telah dilakukan manajemen proyek dalam meningkatkan partisipsi dan keterlibatan wanita dalam semua aspek pengimplementasian proyek perlu secara konsisten diintegrasikan ke dalam kebijaksanaan proyek, penyusunan program dan perencanaan proyek, petunjuk teknis kegiatan, administrasi proyek seperti sistem pelaporan dengan segregasi jender, serta monitoring dan evaluasi. Dalam hal ini, perlu dilakukan analisis jender di semua lokasi proyek sebagai dasar pengambilan keputusan yang akurat dalam upaya meningkatkan penyertaan dan keterlibatan semua anggota keluarga dalam pengelolaan paket proyek, termasuk anggota keluarga wanita.
Status Keberlanjutan Wilayah Berbasis Peternakan di Kabupaten Situbondo untuk Pengembangan Kawasan Agropolitan Suyitman Suyitman; Surjono Hadi Sutjahjo; Catur Herison; nFN Muladno
Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v27n2.2009.165-191

Abstract

EnglishThe government of Situbondo Regency has not decided the location of  the agropolitan development. In this regard, a study on livestock-based regional sustainability development is necessary before the implementation of the agropolitan program  This study aims to analyze the sustainability index and the status of Situbondo area through five dimensions of sustainability. The study used a Multidimensional Scaling analysis (MDS) method called Rap-BANGKAPET and the results are shown in the form of sustainability index and status. The Leverage and Monte Carlo analyses were used to determine the attributes that sensitively affect the index and the status of sustainability and its impact. Sustainability analysis indicate that the ecological dimension is less sustainable (46.50%), economic dimention is sufficiently sustainable (69.53%), social and cultural dimensions is also sufficiently sustainable (55.14%), infrastructure and technology dimensions are at low level of sustainability (45.48%), and similarly at low level of sustainability for legal and institutional dimensions (47.46%). Of the 73 attributes, 24 of these attributes require direct treatment immediately because of its sensitive effect on sustainability index and status (significant at 95% of confidence level). The study suggests a progressive-optimistic scenario to improve the sustainability of the future status (long term) with overall improvement of sensitive attributes. IndonesianPemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Situbondo sampai saat ini masih belum menetapkan wilayahnya untuk pengembangan kawasan agropolitan. Untuk itu sebelum program agropolitan dilaksanakan perlu dikaji terlebih dahulu tingkat keberlanjutan wilayah berbasis peternakan di Kabupaten Situbondo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indeks dan status keberlanjutan wilayah berbasis peternakan di Kabupaten Situbondo ditinjau dari lima dimensi keberlanjutan, yaitu: dimensi ekonomi, sosial budaya, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan. Penelitian meggunakan metode analisis Multidimensional Scaling (MDS) yang disebut RAP-BANGKAPET dan hasilnya dinyatakan dalam bentuk indeks dan status keberlanjutan. Untuk mengetahui atribut yang sensitif berpengaruh terhadap indeks dan status keberlanjutan dan pengaruh galat dilakukan analisis Leverage dan Monte Carlo.   Hasil analisis keberlanjutan menunjukkan bahwa dimensi ekologi berada pada status kurang berkelanjutan (46,50%), dimensi ekonomi cukup berkelanjutan (69,53%), dimensi sosial budaya cukup berkelanjutan (55,14%), dimensi infrastruktur dan teknologi kurang berkelanjutan (45,48%), serta dimensi hukum dan kelembagaan kurang berkelanjutan (47,46%). Dari 73 atribut yang dianalisis, 24 atribut yang perlu segera ditangani karena sensitif berpengaruh terhadap peningkatan indeks dan status keberlanjutan dengan tingkat galat (error) yang sangat kecil pada taraf kepercayaan 95 persen. Dalam rangka meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka panjang), skenario yang perlu dilakukan adalah skenario progresif-optimistik dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut yang sensitif dalam peningkatan status kawasan.
Kajian Sistem Permintaan Pangan Di Indonesia Handewi P.S. Rachman; nFN Erwidodo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v13n2.1994.72-89

Abstract

This paper is aimed at analyzing food demand system in Indonesia using the 1990's National Socio-Economic Survey (SUSENAS) data. Using an Almost Ideal Demand System (AIDS), the food demand parameters and elasticities were estimated both in aggregated and disaggregated levels, that is an urban-rural and household's income disaggregation, respectively. The results show that during 1987-1990 period, the share of food expenditure in general has been declining relative to non-food, indicating an increasing welfare of the society. Nevertheless, the increase in welfare appears to be enjoyed by urban citizen than those living in the rural areas. This conclusion is also supported by the fact that the expenditure shares on protein-food (fish, meat, eggs, milk, and legumes) in urban area are higher than those in the rural area. The analysis found that: (1) the price demand elasticity for a number of food groups, including cereals and tuber, tend to decline as income increasing, (2) the income elasticity of demand for cereals is lower as income levels get higher, and the opposite is true for the protein-sources of food. The results of this analysis is therefore confirm that increasing income of the society will go along with the promotion of food diversification in consumption.
Imbalan Jasa Lingkungan untuk Pengentasan Kemiskinan S. Suyanto; Noviana Khususiyah
Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v24n1.2006.95-113

Abstract

EnglishThis study indicates that land right delivered to poor farmers as one type of reward for environmental services is not only important as income sources but also necessary to improve equity in income and land holding size. This study supports policy to hand over land right to poor farmers who provide environmental services and considers such initiative in favor of poor people under the state land management. Land right award for upland poor farmer is a win-win solution in respect to the interest of forest conservation and poverty alleviation. Reward mechanism for environmental services is not widely applied in Indonesia, although similar initiatives have been carried out at lower levels.IndonesianPenelitian ini menunjukan bahwa pemberian imbalan jasa lingkungan berupa hak kelola atas lahan (land right) kepada para petani miskin tidak hanya akan mengurangi kemiskinan tetapi juga akan meningkatkan pemerataan pendapatan dan penguasaan lahan. Hasil penelitian ini mendukung kebijakan pemberian imbalan jasa lingkungan bagi petani miskin sebagai kebijakan yang berpihak pada masyarakat miskin. Selain itu pemberian imbalan jasa lingkungan kepada petani miskin juga merupakan win-win solution antara kepentingan konservasi hutan dan peningkatan kesejahteraan petani miskin di sekitar hutan. Walapun di Indonesia mekanisme pembayaran jasa lingkungan belum berkembang dengan baik, namun telah banyak dilakukan inisiatif-inisiatif dalam skala kecil.
Peranan Luas Lahan, Intensitas Pertanaman dan Produktivitas sebagai Sumber Pertumbuhan Padi Sawah di Indonesia 1980–2001 Mohamad Maulana
Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v22n1.2004.74-95

Abstract

EnglishStatistical data show that wetland rice production increases over time but its growth rate tends to decline. Decreased growth rate of wetland rice production is due to decreases in harvested area and productivity. This paper aims at describing growth rates of harvested area, productivity and production of wetland rice in Indonesia and their sources of growth during the period of 1980-2001. Analysis method of this study is Total Factor Productivity using Tornqvist-Theil index. The results show that cropping intensity as the national source of growth plays important role with its growth rate increased from 0.05 percent for the period of 1990-1994 to 3.17 percent for the period of 1995-1998. On the other hand, harvested area and productivity had negative growth rates and mainly for the period of 1995-2001 their growth rates were negative. TFP index shows that fluctuating total factor production has no significant effect on growth rate of production. The TFP index shows productivity leveling-off. It is necessary to enhance rice production through agricultural technology research and development, controlled agricultural land conversion, and infrastructure development.IndonesianStatistik menunjukkan bahwa produksi padi sawah meningkat setiap tahunnya, namun laju pertumbuhan produksinya cenderung menurun. Penurunan laju pertumbuhan produksi padi sawah ini disebabkan oleh penurunan laju pertumbuhan luas panen dan produktivitas. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menyajikan gambaran pertumbuhan luas panen, produktivitas dan produksi padi sawah di Indonesia dan sumber pertumbuhannya selama periode 1980-2001. Metode analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah  Produktivitas Total Faktor Produksi dengan indekss Tornqvist-Theil. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagai sumber pertumbuhan pada tingkat nasional, intensitas pertanaman memiliki peranan penting dengan peningkatan laju pertumbuhan dari 0,05 persen per tahun selama 1990-1994 menjadi 3,17 persen selama 1995-1998. Sementara itu luas lahan dan produktivitas mengalami laju pertumbuhan yang cenderung menurun, bahkan pada periode 1995-2001 telah mengalami pertumbuhan negatif. Indeks TFP menunjukkan bahwa fluktuasi penggunaan total faktor produksi tidak berpengaruh signifikan terhadap laju pertumbuhan produksi. Hal ini mengindikasikan terjadinya levelling off produktivitas. Oleh karena itu diperlukan strategi kebijakan peningkatan produksi melalui pengembangan riset teknologi pertanian, pengendalian konversi lahan ke nonpertanian dan pengembangan infrastruktur.
Skala Usaha Koperasi Susu dan Implikasinya Bagi Pengembangan Usaha Sapi Rakyat Yusmichad Yusdja; Rosmijati Sayuti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v20n1.2002.48-63

Abstract

EnglishProduction of fresh milk in Indonesia has not increased markedly over the past ten years and the current level of production is insufficient to satisfy the fast growing demand for this commodity. Around 90 percent of Indonesian fresh milk production comes from dairy co-operatives so understanding the dairy industry economic of scale is important in determining the efficient of fresh milk production. This paper is an attempt to investigate the economic scale of dairy co-operative in Indonesia. The study was conducted in East Java and West Java which are Indonesia's largest milk producing areas. The Cobb Douglas Profit Function was used in this analysis. The finding shows that the economic cooperative scale was not eficientIndonesianProduksi susu segar di Indonesia dalam 10 tahun terakhir tidak memperlihatkan peningkatan yang nyata sementara tingkat produksi susu yang ada sekarang masih jauh dibawah tingkat kebutuhan. Sekitar 90 persen dari produksi segar dihasilkan oleh koperasi susu di Indonesia, karena itu adalah sangat penting mendalami ekonomi skala koperasi susu ini. Makalah ini bertujuan menyampaikan hasil penelitian tentang ekonomi skala usaha koperasi susu di Indonesia. Studi dilakukan di Jawa Timur dan Jawa Barat yang merupakan dua propinsi penghasil susu segar di Indonesia. Analisis ekonomi skala usaha menggunakan model statistik Fungsi Keuntungan Cobb Douglas. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perusahaan koperasi tidak efisien.
Hipotesis Ekspektasi Rasional dan Implikasinya Terhadap Analisis Kebijaksanaan Chairil A. Rasahan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v6n1-2.1987.1-18

Abstract

EnglishThe paper is concerned with the problem of conceptualizing the agent's behavior from the observed time series data, and use these observations to derive how would this behavior have been different had the agent's economic environments changed in some systematic way. As it turned out, the dynamic linear rational expectation model derived from some well posed optimization problem is clearly very sensitive to the changes of economic environment facing by the decision maker. This has been the foundation of criticism made by the scholars of rational expectation hypothesis towards the use of conventional structural equation of the econometric model. Furthermore, the decision rule being obtained, emphasized the results that the action dictated by the rule is correlated with the future variables that is relevant to them but yet cannot be controlled by the economic agent. A simple illustration of its implication to the policy analysis was exercised in the food agricultural production sector using hypothetical data. As the results suggested, failures to accomodate how the economic agent perceived their economic environments have resulted in a rather substantial bias to the economic indicator required for agricultural planning.IndonesianPokok pembahasan tulisan ini adalah masalah konsepsualisasi perilaku seseorang berdasarkan atas data deret-waktu, dan menggunakan hasil pengamatan tersebut untuk mengetahui apakah perilaku tersebut akan berubah bila keadaan ekonomi yang dihadapinya berubah secara sistematis. Hasil yang didapatkan memberi petunjuk bahwa model dinamik ekspektasi rasional linier yang diturunkan berdasarkan suatu masalah optimisasi ternyata sangat sensitif terhadap keadaan ekonomi yang dihadapi oleh seorang pembuat keputusan. Hasil ini merupakan dasar kritik yang dilontarkan oleh penganut faham hipotesis ekspektasi rasional terhadap model ekonometrik persamaan struktural konvensional. Hasil yang diperoleh menggaris bawahi bahwa aturan fungsi tersebut berkorelasi dengan besaran nilai peubah-peubah yang relevan dimasa yang akan datang meskipun peubah tersebut tidak bisa dikuasai oleh pelaku ekonomi. Ilustrasi sederhana dan implikasinya terhadap analisis kebijaksanaan telah diterapkan pertanian dengan menggunakan data hipotetis. Hasilnya menunjukkan bahwa kesalahan dalam mengakomodasikan respon pelaku ekonomi terhadap perubahan keadaan ekonomi yang terjadi bisa menyebabkan bias yang cukup besar terhadap estimasi struktur parameter. Bias ini dapat menyesatkan apabila dijadikan indikator-ekonomi dalam suatu perencanaan pembangunan pertanian.
Peran Penyuluh dalam Peningkatan Diversifikasi Pangan Rumah Tangga Rafnel Azhari; Pudji Muljono; Prabowo Tjitropranoto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n2.2013.181-198

Abstract

EnglishThe Government of Indonesia launches an Accelerated Food Consumption Diversification (P2KP) Program. This program aims to encourage people to enhance more nutritious, balanced, safe food consumption patterns. Objectives of the research are: (1) to identify community’s perception toward food diversification; (2) to analyze effects of individual characteristics on community’s perception toward food diversification and the level of household food diversification level; (3) to analyze the extension role on community’s perception toward food diversification and household food diversification level. This research uses a census method. Data collection was carried out from February to June 2013. The results showed that: (1) perceptions of participating and non-participating communities toward P2KP are relatively high; (2) the individual respondent’s characteristics affecting perception on food diversification are age, formal education, and TV and newspaper exposures, while the individual community’s characteristics affecting are age, formal education, and income; (3) roles of extension workers affecting the community’s perception of food diversification are the role as a communicator and a motivator, and there is no role of extension worker variables.IndonesianPemerintah dalam rangka meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap diversifikasi pangan masyarakat meluncurkan program P2KP (Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan). Program ini juga bertujuan untuk  mendorong peningkatan pola konsumsi pangan yang semakin beragam, bergizi, berimbang, serta aman. Kabupaten Bogor adalah salah satu kabupaten pelaksana program P2KP. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap diversifikasi pangan; (2) menganalisis pengaruh karakteristik individu masyarakat terhadap  persepsinya  dalam hal diversifikasi pangan dan tingkat diversifikasi pangan rumah tangga; (3) menganalisis pengaruh peranan penyuluh terhadap  persepsi masyarakat mengenai diversifikasi pangan dan tingkat diversifikasi pangan rumah tangga. Penelitian menggunakan metode sensus. Pengumpulan data dilakukan mulai bulan Februari 2013 sampai Juni 2013. Hasil penelitian menunjukkan: (1) persepsi masyarakat peserta dan bukan peserta program P2KP berada dalam kategori tinggi; (2) karakteristik individu responden yang berpengaruh nyata terhadap persepsinya dalam hal diversifikasi pangan adalah : umur, pendidikan formal dan keterdedahan terhadap media TV dan surat kabar; sedangkan karakteristik individu masyarakat yang berpengaruh nyata terhadap tingkat diversifikasi pangan rumah tangga adalah umur, pendidikan formal dan pendapatan; (3) peran penyuluh yang berpengaruh nyata terhadap persepsi masyarakat tentang diversifikasi pangan adalah peran sebagai komunikator dan  peran sebagai motivator sedangkan  peubah peran  penyuluh  tidak  berpengaruh terhadap tingkat diversifikasi pangan rumah tangga.
Dampak Pengembangan Perkebunan Kelapa Rakyat Terhadap Kemiskinan dan Perekonomian Kabupaten Indragiri Hilir Ahmad Aris; Bambang Juanda; Akhmad Fauzi; Dedi Budiman Hakim
Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v28n1.2010.69-94

Abstract

EnglishIndragiri Hilir Regency is one of the coconut production centers in Indonesia and is considered as the main source of income for most of the farmers. However, this Regency has a high percentage of poverty during the past few years in Riau Province. This research aims to analyze the impact of coconut sector development on regional economy, identify the potential of regional losses, and formulate policy options to improve of regional income and to decrease poverty level. Primary and secondary data were analyzed using Social Accounting Matrix, Foster-Greer Thorbecke Poverty Index and descriptive analysis. The result indicates that coconut and its processing activities have high impact on structure of output, gross added value, and employment opportunity. Coconut sector has indicated regional losses, especially at the large-scale processing activity caused by the flow of both employment and capital incomes to other regions. Investment policies amounted to Rp. 50 billion each in coconut sector (Simulation 1), large-scale coconut industry sector (Simulation 2), and household scale industry sector (Simulation 3) could only reduce poverty level at 2.78 percent (for farm household landholding size ranges from 0.00 to1.00 ha), and 5.67 percent (for landholding size more than 1.00 ha). Other household groups have no change in poverty level. Simulation 1 provides higher contribution in improving incomes of production factors and household, respectively at 2.07 and 2.08 percent compared with Simulation 2 and 3. Meanwhile, Simulation 3 contributes the highest impact in increasing income of production sector (about 2.79 percent). IndonesianKabupaten Indragiri Hilir merupakan salah satu sentra produksi kelapa di Indonesia dan sebagian besar peduduknya berusaha di sektor kelapa sebagai mata pencaharian utamanya. Disisi lain, kabupaten ini memiliki persentase penduduk miskin yang tertinggi diantara kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau pada beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pengembangan sektor kelapa terhadap perekonomian wilayah, menganalisis indikasi dan potensi kebocoran wilayah sektor kelapa serta dampaknya terhadap perekonomian wilayah, dan menganalisis opsi kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan dan menurunkan kemiskinan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder yang dianalisis dengan menggunakan Sistem Neraca Sosial Ekonomi, Indeks kemiskinan Foster-Greer-Thorbecke, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor kelapa dan sektor industri pengolahan kelapa memiliki dampak yang besar terhadap pembentukan output, nilai tambah bruto, dan penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Indragiri Hilir. Sektor kelapa mengalami kebocoran wilayah, terutama pada sektor industri pengolahan kelapa skala besar yang disebabkan oleh adanya aliran pendapatan modal dan tenaga kerja yang keluar wilayah. Kebijakan investasi pada sektor kelapa (simulasi 1), sektor industri kelapa skala besar (simulasi 2), dan sektor industri kelapa skala rumah tangga (simulasi 3) masing-masing 50 milyar rupiah hanya mampu menurunkan kemiskinan sebesar 2,8 persen untuk rumah tangga petani yang memiliki lahan 0,00-1,00 ha, dan 5,67 persen untuk rumah tangga petani yang memiliki lahan > 100 ha. Disisi lain, pada kelompok rumah tangga lainnya tidak mengalami penurunan kemiskinan. Simulasi 1 memberikan kontribusi yang lebih besar dalam peningkatkan pendapatan faktor produksi dan pendapatan rumah tangga, yaitu 2,07 persen dan 2,08 persen dibandingkan simulai 2 dan 3. Sedangkan simulasi 3 memiliki dampak yang tertingi dalam meningkatkan pendapatan pada sektor produksi yaitu sebesar 2,79 persen.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue