cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Produk Pertanian dan Produk Industri Pertanian Indonesia : Pendekatan Macroeconometric Models dengan Path Analysis A. Husni Malian
Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v21n2.2003.97-121

Abstract

EnglishIn the period of 1983-2002, exports of agricultural products and agro-industrial products increased, respectively, from Rp. 2.7 billion to Rp. 5.0 billion and from Rp. 3.6 billion to Rp. 17.9 billion. The increases were smaller than that of manufacturing products that increased from Rp. 2.3 billion to Rp. 57.5 billion in the same period. The objective of this paper is to identify factors encouraging Indonesia’s exports of agricultural products and agro-industrial products by using macro-econometric model analysis. The results indicate that policy variables dominantly affecting Indonesia’s export of agricultural products are the real exchange rate and government investment in the sector, whereas factors affecting Indonesia’s export of agro-industrial products is the real exchange rate. To increase Indonesia’s exports of agricultural products and agro-industrial products, therefore, the government needs to maintain the real exchange rate at the level that supporting exports. In addition, the government also needs to raise investment in Agricultural Sector, particularly for commodities having orientation and potential for exports.IndonesianEkspor produk pertanian dan produk industri pertanian selama 1983-2002 meningkat dari Rp. 2,7 trilyun menjadi Rp. 5,0 trilyun dan dari Rp. 3,6 trilyun menjadi Rp. 17,9 trilyun. Kenaikan nilai ekspor ini lebih kecil dibandingkan dengan produk industri manufaktur yang meningkat dari Rp. 2,3 trilyun menjadi Rp. 57,5 trilyun. Untuk mengetahui faktor-faktor pendorong ekspor produk pertanian dan produk industri pertanian Indonesia, telah dilakukan analisis dengan menggunakan model ekonometrika makro. Hasil analisis menunjukkan bahwa peubah kebijakan yang mempengaruhi secara dominan ekspor produk pertanian adalah nilai tukar riil dan investasi pemerintah di sektor pertanian, sementara yang mempengaruhi ekspor produk industri pertanian adalah nilai tukar riil. Untuk meningkatkan nilai ekspor produk pertanian dan produk industri pertanian, maka pemerintah perlu mempertahankan nilai tukar riil pada suatu tingkat yang dapat mendorong ekspor. Disamping itu, pemerintah juga perlu meningkatkan investasi pemerintah di sektor pertanian, khususnya terhadap berbagai komoditas yang memiliki orientasi dan potensi ekspor.
Dampak Dana Dekonsentrasi Kementerian Pertanian dan Pengeluaran Daerah pada Sektor Pertanian Terhadap Kinerja Pertanian Daerah nFN Sumedi; Pantjar Simatupang; Bonar M. Sinaga; Muhammad Firdaus
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n2.2013.97-113

Abstract

EnglishEffectiveness of agricultural development program is interesting along with its unfinished program targets, such as food security, strategic commodities self-sufficiency, regional autonomy. This study aims to analyze impacts of deconcentration fund, assistance task, and local government budget for agricultural sector on Regional Gross Domestic Product (RGDP) enhancement and labor absorption. This study uses panel data at provincial from 2005 to 2010. Analysis method employed in this study was a 2-SLS approach. The results reveal that government budget allocation is not effective in creating added value for agricultural sector. Based on its elasticity and multiplier value, deconcentration fund is more effective than those of local government bugdet for agricultural sector.  Positive relationship between RGDP and employment enables autogrowth in agricultural sector.  Improving budget effectiveness is the key to agricultural development success. Related with autonomy and strategic role of agricultural sector, it is necessary to reexamine the decentralization of this sector especially food security, diversification, and strategic food distribution. Budget effectiveness enhancement could be implemented through a synergy from program planning to its implementation and/or clear separation of tasks and responsibility. A good master plan and a good blueprint are prerequisites for integrated development program between the central and local governments.IndonesianIsu tentang efektivitas program pembangunan pertanian makin penting untuk dibahas, dalam situasi banyaknya target program pembangunan pertanian yang belum tercapai, seperti ketahanan pangan, swasembada pada komoditas strategis, dan otonomi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak alokasi anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan  serta APBD sektor pertanian dalam meningkatkan PDRB dan penyerapan tenaga kerja. Data yang digunakan adalah data  panel tingkat  provinsi, tahun 2005-2010. Analisis menggunakan metode estimasi panel data instrumental variable 2sls. Hasil analisis menunjukkan bahwa alokasi anggaran pemerintah memiliki efektivitas yang rendah dalam penciptaan nilai tambah sektor pertanian. Secara relatif, dari nilai elastisitas maupun nilai multiplier pengeluaran pemerintah, efektivitas dana dekonsentrasi lebih besar dibandingkan dengan APBD sektor pertanian. Hubungan positif antara PDRB dan penyerapan tenaga kerja memungkinkan terjadinya autogrowth pada sektor pertanian. Peningkatan efektivitas anggaran merupakan kunci dari keberhasilan pembangunan pertanian. Terkait dengan otonomi dan peran strategis sektor pertanian, perlu ditelaah kembali posisi sektor pertanian sebagai urusan yang diserahkan kepada daerah, terutama yang menyangkut aspek ketahanan pangan, diversifikasi, dan distribusi pada komoditas strategis. Upaya meningkatkan efektivitas anggaran dapat dilakukan dengan sinergi mulai dari perencanaan sampai implementasi program dan/atau pemilahan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Keberadaan masterplan dan blueprint yang baik dapat membantu terwujudnya program pembangunan yang padu antara pusat dan daerah.
Perencanaan Sistem Usaha Tani Terpadu dalam Menunjang Pembangunan Pertanian yang Berkelanjutan: Kasus Kabupaten Magetan, Jawa Timur Nyak llham; Saktyanu Kristyantoadi Dermorejo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v17n1.1998.33-50

Abstract

EnglishThis paper analyzes planning process of integrated farming system in case of Magetan (East Java) that has land resource, labor and capital related to its biophysic condition to create sustainable farming system. The integrated farming system has synergic effect among food crop and horticulture farmings with beef cattle farming. The advantage of optimal cropping patterns has given more 10 million rupiah to the farmer and still has enough labor skill and capital to be used for beef cattle farming. With assumption that the farmer has potential working day, so that the advantage of farming will increase for 13,80 percent of optimal condition and farming scale of beef cattle can be increased from 4 animal per family to 6-8 animal per family.IndonesianTulisan ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan usaha tani terpadu di Kabupaten Magetan Jawa Timur yang berkaitan dengan ketersediaan sumber daya alam, tenaga kerja dalam modal sesuai dengan kondisi biofisik dalam upaya melaksanakan usaha tani yang berkelanjutan. Dengan pendekatan sistem usaha tani terpadu antara usaha tani tanaman pangan dan hortikultura dengan usaha penggemukan sapi potong menghasilkan efek sinergitas. Hasil analisis menunjukan dengan pola tanaman diperoleh keuntungan Rp 10 juta lebih, namun masih ada tersisa sumber daya tenaga kerja dan modal. Kelebihan modal tersebut dapat digunakan untuk pengadaan sapi bakalan. Sementara dengan asumsi kelebihan tenaga kerja dapat dijual maka keuntungan petani dapat ditingkatkan sebesar 13,80 persen dari kondisi optimal dan penambahan skala usaha penggemukan sapi potong dari rataan pemilikan 4 ekor menjadi 6-8 ekor per kepala keluarga.
Penerimaan Bagian Pendapatan dari Usahatani Padi di Daerah Irigasi Rentang Indramayu Husni Thamrin Kalo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v3n1.1983.73-82

Abstract

IndonesianStudi mengenai pembagian pendapatan penting dalam perumusan kebijaksanaan yang berorientasi pada azas pemerataan. Tujuan studi ini ingin mengetahui penerimaan bagian pendapatan di antara faktor produksi usahatani padi didua petak tersier yang berbeda kondisi irigasinya, di daerah irigasi Rentang kabupaten Indramayu propinsi Jawa Barat. Analisa dilakukan dengan pendekatan accounting dan pendekatan fungsi produksi. Hasil analisa menunjukkan bahwa faktor produksi tanah dan manajemen (operator's residual) memperoleh pendapatan absolut (absolute share) dan pendapatan relatif (relative share) yang lebih besar pada petak tersier yang terjamin irigasinya. Walaupun faktor produksi tenaga kerja menerima pendapatan absolut yang lebih besar dengan semakin baiknya irigasi, namun memperoleh pendapatan relatif yang lebih kecil. Besarnya pendapatan relatif yang diterima oleh setiap faktor produksi ternyata tidak sesuai dengan konstribusinya, yang ditunjukkan oleh elastisitas produksi masing-masing faktor tersebut. Sebagian besar angkatan kerja di sektor pertanian bekerja di sub sektor tanaman pangan terutama pada usaha pertanian padi sawah. Suatu gejala yang kurang menggembirakan pada beberapa tahun terakhir ini terlihat pada sub sektor tanaman pangan yang tidak dapat menyerap pertambahan angkatan kerja secara nyata. Bahkan dengan adanya perbaikan kondisi lahan usahatani sawah di Jawa dan perkembangan teknologi yang hemat tenaga dikhawatirkan akan terjadi penurunan penggunaan tenaga kerja manusia. Hal ini akan berpengaruh terhadap penerimaan bagian pendapatan di antara semua kelompok penerima pendapatan yang terlibat dalam proses produksi. Studi ini akan mencoba melihat secara mikro bagaimana perbedaan struktur penerimaan bagian pendapatan yang bersumber dari usahatani sawah, yang dipengaruhi oleh perbedaan kondisi tersedianya air irigasi.
Kelembagaan Pemasaran Kakao Biji di Tingkat Petani Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah nFN Sisfahyuni; M. S. Saleh; M. R. Yantu
Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v29n2.2011.191-216

Abstract

EnglishObjectives of this study are: (i) ) to identify and to analyze characteristics of farmers and their cocoa farms; (ii) to identify and to analyze market structure and conduct of cocoa beans at farm level; and (iii) to analyze the factors affecting farmers in selecting the principal–agent institution. This study uses a descriptive analysis and a logit model using primary data.  The average trained farmers’ age is older than those untrained.  Involvement of trained farmers in the principal-agent institution is less than the untrained farmers.  Farmers’ characteristics are the important factor in determining their opportunity in selecting principal-agent institution. Cocoa yields are relatively low and tend to be constant. Relatively low cocoa yields make the farmers’ income low and they have to select a principal-agent institution requiring a high-cost contract. Farm size is elastic and has a negative sign indicating an increase in farm area will reduce an opportunity in selecting a principal-agent institution. Many farmers as cocoa bean producers are risk avert and the cocoa traders are double-rent seekers and, thus, the market structure is oligopsony. The factors significantly affecting farmers in selecting a principal-agent institution are farmers’ land area size, credit value from the bank, farmers’ experiences,  total of farmers’ households members, farmers perception on price information and cocoa beans quality, banks’ credit procedures, land tax, production factors’ values (except urea value), cocoa farm-business income, and  other farm incomes. Some programs to revitalize cocoa beans marketing at farm level are: farmers’ land legalization; farmers’ cooperation improvement within groups and federations; motivating cocoa farmers to develop other farm business, banks’ credit procedure socialization, and improving farmers’ access to market information.IndonesianTujuan penelitian ini ialah (i) mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik petani dan  usahatani kakao; (ii) mengidentifikasi dan menganalisis struktur dan perilaku pasar kakao biji di tingkat petani; dan (iii) mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam memilih kelembagaan prinsipal–agen. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan model logit. Data yang digunakan adalah data primer yang diambil dengan teknik purposive dan un-proportional stratified random sampling.  Ada sebanyak 120 petani kakao dan 24 pedagang di berbagai tingkatan telah diwawancarai. Rata-rata petani kakao responden memiliki umur produktif di mana rata-rata petani PSL lebih tua daripada rata-rata petani PBSL, namun keterlibatan kelompok petani PSL dalam kelembagaan prinsipal–agen  kurang dibandingkan dengan kelompok petani PBSL. Karakteristik petani merupakan faktor penting yang menentukan peluang petani dalam memilih kelembagaan prinsipal–agen. Produktivitas usahatani kakao tergolong rendah dan cenderung konstan. Rendahnya produktivitas usahatani kakao berdampak pada rendahnya pendapatan usahatani, sehingga dalam rangka mendapatkan dana untuk usahatani, petani terlibat dalam kelembagaan prinsipal–agen yang memiliki biaya kontrak yang tinggi.  Luas lahan UTK adalah elastis dan bertanda negatif, sehingga penambahan luas areal tanam mengurangi peluang petani dalam memilih kelembagaan prinsipal–agen. Petani dengan perilaku aji mumpung (pasrah dan menghindari risiko) sebagai pemasok kakao biji tergolong banyak, sementara pedagang pengumpul dengan perilaku double-rent seeking sebagai pembeli kakao biji tergolong sedikit dan bermitra dengan pedagang di atasnya secara vertikal, sehingga struktur pasar kakao biji di tingkat petani adalah oligopsoni.  Faktor-faktor yang berpengaruh nyata dalam pilihan petani terhadap kelembagaan prinsipal–agen adalah luas lahan usahatani, jumlah kredit bank, lama pengalaman petani dalam berusahatani, jumlah anggota keluarga petani, persepsi petani tentang informasi harga dan kualitas kakao biji yang dikehendaki pasar dunia; persepsi petani tentang prosedur peminjaman kredit bank, nilah pajak lahan usahatani, nilai-nilai faktor produksi (kecuali nilai pupuk urea), pendapatan usahatani kakao, dan pendapatan usahatani lainnya. Beberapa program yang perlu dilakukan dalam revitalisasi kelembagaan pemasaran kakao biji di tingkat petani, yaitu legalisasi aset lahan, peningkatan kerja sama petani dalam kelompok tani dan gapoktan, motivasi petani dalam mengembangkan cabang usahatani lain, sosialisasi prosedur peminjaman kredit bank, dan pemberdayaan petani dalam aspek informasi pasar.
The Total Factor Productivity Measurement of Corn in Java, 1972-1992 Bambang Sayaka
Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v14n1.1995.39-49

Abstract

IndonesianTotal Factor Productivity (TFP) jagung di Jawa selama periode 1972-1992 selalu positif, berkisar dari 1.8826 sampai 2.3681. Selama periode tersebut TFP banyak meningkat 0.02 persen per tahun. Untuk sub-periode 1972-1977 dan 1977-1982 pertumbuhan TFP negatif dan menjadi positif pada dua sub-periode berikutnya, 1982-1987 dan 1987-1992. Disamping gangguan alam dan hambatan teknis, rendahnya pertumbuhan TFP tersebut menunjukkan hampir tidak adanya perubahan teknologi dalam produksi jagung. Kemajuan teknologi produksi perlu ditingkatkan bukan hanya melalui banyaknya input yang dipergunakan, tetapi juga jenisnya serta efisiensi pemanfaatannya. Kemudahan memperoleh kredit usaha tani (KUT) untuk jagung adalah sangat perlu karena salah satu hambatan utama yang dihadapi petani adalah terbatasnya modal, misalnya untuk membeli benih varietas unggul.
Dampak Penurunan Bantuan Domestik terhadap Kinerja Ekonomi Komoditas Pertanian Indonesia : Analisis Simulasi Kebijakan Helena J. Purba; Budiman Hutabarat; Sri Nuryanti
Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v25n1.2007.84-102

Abstract

EnglishAgricultural negotiations in the World Trade Organization forum have been in deadlock until the recent Doha Round. Developing countries, represented by among others Indonesia and G-33, have persistently insisted that developed countries should also cut their tariffs and phase out their domestic support and export subsidies, but developed countries have not responded accordingly. This paper is an attempt to investigate several scenarios regarding tariff cut, domestic support and export subsidy reduction in developed and developing countries in order to predict its impacts on producer’s and consumer's welfare and trade performance in both countries' groups. The analysis is done using the Agricultural Trade Policy Simulation Model (ATPSM). The study indicates that, if developed countries only reduce their tariff and domestic support without any reduction in export subsidy, the agriculture production and consumer surplus in developing countries would fall. Import and producer surplus in developing countries would increase. A fairer and healthier international trade liberalization would materialize if developed countries cut their tariffs and reduce their domestic support and export subsidies altogether. This has been proposed by G 20.IndonesianNegosiasi pertanian dalam forum Organisasi Perdagangan Dunia sebelumnya dan sampai memasuki Putaran Doha saat ini masih mengalami kebuntuan. Negara berkembang yang antara lain diwakili Indonesia dan G 33 mendesak agar negara maju juga melakukan pemotongan tarif dan menurunkan bantuan domestik dan subsidi ekspor bagi produk pertanian mereka. Namun, sampai kini negara maju belum ingin memenuhinya. Tulisan ini merupakan kajian terhadap beberapa skenario penurunan tarif, bantuan domestik, dan subsidi ekpor di negara maju maupun berkembang dan menduga dampaknya terhadap kesejahteraan produsen, konsumen, dan kinerja perdagangan pertanian di negara maju maupun berkembang, termasuk Indonesia. Kajian ini menggunakan Model Simulasi Kebijakan Perdagangan Pertanian untuk menguji skenario kebijakan yang diusulkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa, apabila pemotongan tarif negara maju hanya disertai dengan penurunan bantuan domestik saja akan berdampak pada penurunan produksi dan ekspor pertanian, peningkatan impor, dan merugikan konsumen di negara berkembang. Liberalisasi perdagangan dunia yang adil dan sehat hanya akan tercapai apabila negara maju melakukan pemotongan tarif disertai dengan penurunan bantuan domestik dan subsidi ekspor sekaligus sesuai dengan proposal usulan G 20.
Total Elasticity of Demand For Indonesian Natural Rubber: The use of Extended Armington Model Bambang Dradjat TS; Delima A. Darmawan
Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v10n1-2.1991.31-47

Abstract

IndonesianPengetahuan tentang total elastisitas pemintaan karet alam Indonesia sangat penting untuk menilai kebijaksanaan pemerintah Indonesia di sektor karet. Penelitian ini menggunakan model Armington yang telah dikembangkan oleh Duffy et al. (1990). Prosedur pendugaan yang digunakan adalah model penyesuaian parsial dalam bentuk fungsi logaritma dan diduga dengan "Ordinary Least Square". Data yang digunakan mulai tahun 1968 sampai tahun 1989 dan dikelompokkan kedalam negara pengimpor dan pengekspor. Dalam jangka pendek maupun jangka panjang, total elastisitas permintaan karet alam Indonesia tidak elastis. Hal ini berarti kebijaksanaan pemerintah yang ada sekarang tidak akan menghasilkan kenaikan penerimaan ekspor, kecuali dibarengi oleh usaha-usaha untuk meningkatkan daya saing dan pangsa pasar. Usaha-usaha ini dapat berupa peningkatan mutu dan efisiensi produksi karet alam yang diekspor.
Analisis Komparasi Daya Saing Produk Ekspor Pertanian Antar Negara Asean dalam Era Perdagangan Bebas AFTA Prajogo Utomo Hadi; Sudi Mardianto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v22n1.2004.46-73

Abstract

EnglishThe trade liberalisation under AFTA schemes commencing since 1 January 2003 would result in the more opened market in the ASEAN region and increased competition among countries in the region. The present paper aims to conduct an inter ASEAN  comparative analysis on the export growth of agricultural products as well as effect of  product composition, market distribution and competitiveness on export of agricultural products to the ASEAN region, using time-series data and Constant Market Share approach. The main findings of the analysis are as follows : (1) The Indonesia’s export growth to the ASEAN region in the 1997-1999 period was the highest one among the ASEAN countries, even higher than the world export to the same region, while in the  1999-2001 period it decreased and became slower compared than Thailand, Filipina and world; (2) Composition of the Indonesia’s export product was the best one among the ASEAN country, even though it weakened in the 1999-2001 from the previous period; (3) Market distribution of the Indonesia’s export in the 1997-1999 period was worse than Singapore’s only, but in the following period it weakened and became worse compared to Singapore and Vietnam; and (4) Competitiveness of the Indonesia’s export in the 1997-1999 period was the best one among the ASEAN countries, but weakened in the subsequent period and became worse compared to the Philippines and Thailand. It is suggested that in the future, Indonesia needs to pay more attentions on the selection of correct product composition and country destination so as to win in the increasing competition with other ASEAN countries and even non ASEAN countries.  IndonesianLiberalisasi perdagangan AFTA yang berlaku sejak 1 Januari 2003 akan menyebabkan makin terbukanya pasar di kawasan ASEAN dan makin tajamnya persaingan antar negara di kawasan ini. Tulisan ini bertujuan untuk melakukan analisis komparasi antar negara ASEAN yang menyangkut pertumbuhan ekspor produk pertanian serta efek komposisi produk, distribusi pasar dan daya saing terhadap ekspor produk pertanian ke kawasan ASEAN dengan menggunakan data sekunder deret waktu dan metode analisis Constant Market Share. Kesimpulan utama hasil analisis ini adalah sebagai berikut : (1) Pertumbuhan ekspor Indonesia ke kawasan ASEAN selama periode 1997-1999 adalah yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN, bahkan lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspor dunia ke kawasan yang sama, sedangkan pada periode 1999-2001 menurun dan lebih rendah dibanding Thailand, Filipina dan dunia; (2) Komposisi produk ekspor Indonesia adalah yang terbaik di antara negara-negara ASEAN, walaupun melemah pada periode 1999-2001 dibanding 1997-1999; (3) Distribusi pasar ekspor Indonesia pada periode 1997-1999 hanya kalah dari Singapura, tetapi pada periode 1999-2001 melemah dan kalah dari Singapura dan Vietnam; dan (4) Daya saing ekspor Indonesia pada periode 1997-1999 paling kuat di antara negara-negara ASEAN, tetapi pada periode 1999-2001 melemah dan kalah dari Filipina dan Thailand. Disarankan agar di masa datang, Indonesia lebih memperhatikan lagi pemilihan yang lebih tepat mengenai komposisi produk dan negara tujuan ekspornya agar dapat lebih memenangkan persaingan dengan sesama negara ASEAN lainnya dan bahkan negara-negara non ASEAN.
Determinants of Household off-farm Labor Activity: The Case of Six Villages in Cimanuk River Basin, West Java, Indonesia Andin H. Taryoto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v8n2.1989.1-22

Abstract

IndonesianDidalam pemikiran penganut teori modernisasi, negara-negara berkembang yang sedang dalam proses "memodernisasikan" diri, akan ditandai oleh pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian, baik dari segi penyerapan tenaga kerja maupun dari segi sumber pendapatan. Studi ini berhubungan dengan pernyataan tersebut diatas; tekanan perhatian ditujukan pada upaya mengidentifikasi apakah perubahan itu nyata terjadi di tingkat desa. Intensitas Kegiatan Kerja Luar Usahatani (Household off-farm labor Intensity-HOFFLI) digunakan sebagai indikator transisi kegiatan pertanian menuju kegiatan non-pertanian. Hasil studi menunjukkan bahwa di tingkat desa, HOFFLI masih didominasi oleh kegiatan-kegiatan di sektor pertanian, sementara pekerjaan utama keluarga masih juga di bidang pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi HOFFLI secara nyata adalah umur Kepala Keluarga, jumlah anggota rumah tangga, rasio ketergantungan luas penguasaan lahan, penelitian asset produktif, pengeluaran untuk makanan, serta variabel-variabel boneka desa, jenis kelamin kepala keluarga, dan varietas padi yang ditanam. Lepas daripada sektor apa kegiatan luar usahatani dilakukan, ditemukan bahwa kegiatan itu sangat diperlukan adanya. Kegiatan dapat dilakukan didalam desa sendiri, maupun di luar desa dimana petani berada.EnglishAccording to modernization theorists, modernizing countries are characterized by the movement from agriculture to non-agricultural sectors, either in terms of labor absorbtion or income generation. This study deals with that issue, especially to show whether the movement is also found in village level. Household off-farm labor intensity (HOFFLI) is used as indicator of the transition from agriculture to non-agricultural sectors. The findings show that HOFFLI was still dominated by off-farm labor activities in agriculture, while household's main occupation was also still dominated by agricultural. Factors that significantly influence HOFFLI were household head's age, family size, dependency ratio, landholding, productive assets, expenditure for food and dummy variables of village, household head's gender, and variety of rice grown. Regardless of the source of activities, the findings indicate that off-farm labor activities are really needed, either those in the villages themselves, or in the nearby town such as the capital of the sub-district where the villages are located.

Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue