cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
EFEKTIVITAS BEBERAPA DEPOSIT FOSFAT ALAM INDONESIA SEBAGAI PUPUK SUMBER FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT PADA TANAH ULTISOLS A. KASNO; SUDIRMAN SUDIRMAN; M.T. SUTRIADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n4.2010.165-171

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh fosfat alam asalIndonesia terhadap kadar P dalam tanah dan pertumbuhan kelapa sawit.Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Balai Penelitian Tanah di Laladon,Bogor dari bulan Juni sampai Desember 2009, dengan menggunakanrancangan percobaan acak kelompok dengan 8 perlakuan dan diulang 5kali. Perlakuan yang dicoba adalah 5 P-alam asal Indonesia, ditambahSuperphos, P-alam Tunisia, dan kontrol. Tanah yang digunakan adalahTypic Kanhapludults dan Typic Plinthudults yang diambil dari Lampung,dengan tanaman indikator adalah kelapa sawit. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pemupukan P nyata meningkatkan diameter batang,tinggi tanaman, berat akar dan berat kering tanaman. Pemupukan P denganSuperphos memberikan peningkatan yang lebih tinggi daripada pemu-pukan dengan fosfat alam. Efektivitas pupuk P-alam pada TypicPlintudults lebih rendah dibandingkan pada Typic Kanhapludults. PupukP-alam dari Indonesia sama efektifnya dengan P-alam Tunisia untukpemupukan tanaman kelapa sawit. Pemupukan P dengan Superphos padatanaman kelapa sawit nyata meningkatkan kadar P tanah lebih tinggidaripada kadar P tanah yang dipupuk P-alam. Pemberian pupuk P belumberpengaruh terhadap kadar P dalam akar dan tanaman kelapa sawit dalampembibitan.Kata kunci: Elaeis guinensis, kelapa sawit, tanah masam, fosfat alamABSTRACTEffectiviness of several rock phosphate deposites fromIndonesia as P fertilizer sources on the growth of oilpalmseedling on ultisolsThe aim of this research was to study the effect of rock phosphatefrom Indonesia on P content on the soil and growth of oil palm. Thisresearch was conducted at the glass house of Indonesian Soil ResearchInstitute, Laladon Bogor from June to December 2009, using randomizedcomplete block design (RCBD) with 8 treatments and 5 replicates. Thetreatments were 5 types of Indonesia rock phosphate, Superphos, Tunisiarock phosphate, and control. The soils used were Typic Kanhapudults andTypic Plinthudults, and oil palm nursery as plant indicator. The resultshowed that P fertlizer was significant to increase trunk diameter, plantheight, root weight, and plant dry weight. Superphos fertilizer increasedtrunk diameter, plant height, root weight, and plant dry weigth better thanrock phosphate. Effectivity of rock phosphate at Typic Plinthudults waslower than at Typic Kanhapludults. Indonesian rock phosphate waseffective for fertilizing oil palm, as well as Tunisia rock phosphate. Pfertilization using Superphos significantly increased P soil content and wasbetter than rock phosphate. Application of rock phosphate did notinfluence P contents in root and plant of oil palm in nursery.Key words: Elaeis guinensis, oil palm, acid soils, rock phosphate
PENGARUH JARAK TANAM DAN DOSIS PUPUK NPK MAJEMUK TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI BUNGA, DAN ANALISIS USAHA TANI ROSELA MERAH BUDI SANTOSO; UNTUNG SETYO-BUDI; ELDA NURNASARI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n1.2012.17-23

Abstract

ABSTRAKPenelitian mengenai jarak tanam dan pemupukan untuk tanamanrosela merah (Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa) belum banyak dilakukan.Suatu penelitian, yang dilakukan di Desa Kanyoran, Kecamatan Semen,Kabupaten Kediri pada tahun 2010, bertujuan untuk mendapatkan jaraktanam dan dosis pupuk NPK majemuk yang tepat bagi pertumbuhan sertaproduksi kelopak bunga rosela merah dan analisis usaha tani. Perlakuandisusun dalam rancangan acak kelompok faktorial dengan 3 ulangan.Sebagai faktor pertama adalah 3 ukuran jarak tanam yang terdiri atas 1) 80x 50 cm; 2) 100 x 50 cm; dan 3) 120 x 50 cm; dan sebagai faktor keduaadalah 5 dosis pupuk NPK majemuk yang terdiri atas a) 30 kg NPK/ha; b)37,50 kg NPK/ha; c) 45 kg NPK/ha; d) 52,50 kg NPK/ha; dan e) 60 kgNPK/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara jaraktanam (100 x 50 cm) dengan dosis pupuk (45 kg NPK/ha) yangmemberikan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah cabang produktif,jumlah buah, bobot kelopak bunga berbiji, bobot biji, bobot basah kelopakbunga tanpa biji, dan bobot kelopak bunga kering maksimal, masing-masing sebesar 186,63 cm; 16,33 cabang; 117,00 buah; 41,33 kg/petak;16,17 kg/petak; 26,67 kg/petak; dan 2,35 kg/petak (652,75 kg/ha). Usahatani rosela merah memberikan keuntungan sebesar Rp 10.420.000/hadengan B/C = 1,49. Harga pokok kelopak bunga kering sebesarRp13.031/kg lebih kecil dibanding harga pasar (Rp 40.000/kg), dan dapatdijamin tidak akan terjadi kerugian bagi petaniKata kunci : Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa, jarak tanam, pupuk NPKmajemuk, pertumbuhan, produksiABSTRACTThere has been no research program on plant spacing and fertilization onred roselle plant (Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa) up to 2010. A studyconducted in Desa Kanyoran, Kecamatan Semen, Kediri in 2010, aimed atgetting appropriate plant spacing and NPK compound fertilizer dosage forgrowth and calyx production of red roselle, as well as its farm analysis.The experiment was arranged in a factorial randomized block design withthree replicates. As the first factor were 3 dimensions of plant spacingconsisting of 1) 80 x 50, 2) 100 x 50, and 3) 120 x 50 cm, and the secondfactor were 5 doses of NPK compound fertilizer consisting of a) 30, b)37.50, c) 45, d) 52.50, and e) 60 kg NPK/ha. The results showed that therewas an interaction between plant spacing (100 x 50 cm) with fertilizerdosage (45 kg NPK/ha), which resulted in plant height, number ofproductive branches, number of fruits, weight calyx with seed, seedweight, fresh weight of seedless calyx, and maximum dry weight of calyx,each amounting to 186.63 cm; 16.33 branches; 117.00 fruits; 41.33kg/plot; 16.17 kg/plot; 26.67 kg/plot; and 2.35 kg/plot (652.75 kg/ha),respectively. Red roselle farm provided a gain of Rp10,420,000/ha with aB/C of 1.49. Production cost of dried calyx was Rp13,031/kg, lower thanmarket price (Rp 40,000/kg), and was guaranteed to be no loss to farmers.Key words: Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa, plant spacing, NPKcompound fertilizer, growth, production
KARAKTERISTIK MORFOLOGI, POTENSI PRODUKSI DAN KOMPONEN UTAMA RIMPANG SEMBILAN NOMOR LEMPUYANG WANGI SRI WAHYUNI; NURLIANI BERMAWIE; NATALINI NOVA KRISTINA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n3.2013.99-107

Abstract

ABSTRAKLempuyang  merupakan family  Zingiberaceae,  dan  banyakdigunakan oleh masyarakat untuk obat/jamu sebagai peningkat stamina,antikanker dan obat antiinfeksi. Balittro memiliki koleksi plasma nutfahlempuyang yang dikumpulkan dari berbagai daerah. Potensi sifat tanamanperlu dievaluasi untuk mengetahui karakter potensial dan keunggulannya.Karakterisasi sembilan aksesi lempuyang wangi dilakukan di KP. Cicurug– Sukabumi Jawa Barat tahun 2009 hingga tahun 2010. Benih ditanamdengan jarak tanam 60 x 40 cm, jumlah tanaman per plot 20 tanaman dandiulang tiga kali. Pengamatan dilakukan pada sepuluh tanaman terhadapsifat morfologi tanaman, pertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang. Hasilpengamatan menunjukkan bahwa morfologi dan pertumbuhan tanamanlempuyang bervariasi. Pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah anakan,jumlah daun panjang dan lebar daun, serta diameter batang antar aksesibervariasi. Produksi rimpang lempuyang wangi umumnya lebih dari 15ton/ha, rimpang mempunyai banyak akar. Mutu simplisia rimpang adalahkisaran kadar minyak atsiri 1,34–4,61%, kadar sari larut dalam air 16,22–23,5%, kadar sari larut etanol 7,9–13,8%, kadar serat 5,47– 8,87% dankadar pati 40-50%. Hasil analisis ekstrak rimpang lempuyang dengan GC-MS menunjukkan bahwa sekitar 50 komponen terdeteksi. Zerumbonemerupakan komponen utama lempuyang dengan nilai sebesar 36–49%.Komponen utama zerumbone dan acetic acid terdapat di semua aksesi.Komponen utama lainnya di antaranya adalah alpha humulene, humuleneoxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo, caryophileneoxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, dan 3-octyne 5-methyl.Komposisi komponen utama antar aksesi berbeda senada dengan aromawangi yang ditimbulkan pada lempuyang. Sebanyak tujuh nomor aksesiyang mempunyai keunggulan produksi lebih dari 15 t/ha, mutu minyakatsiri lebih dari 1% dan zerumbone 40%.Kata kunci: Zingiber aromaticum, produksi, komponen utama rimpangABSTRACTWild ginger is one of Zingiberaceae family. Plant use as a medicinefor stamina improvement, anticancer and antiinfection. Balittro hadcollected wild ginger from several area and potential characters should beevaluated. Characterization was conducted at Cicurug experimental garden– West Java on 2009-2010. Seed rhizome of nine accession was plantedwith 60 x 40 cm space, twenty numbers of plant each plot and threereplication. Observation was carried out for morphological characters,growth, yield, and rhizome quality. Result showed that there werevariations in morphology and growth of wild ginger. Plant height, numbersof tillers, numbers of leaves, leaves length, leaves width, and stemdiameter among acessions were variate. Rhizome yield was generally morethan 15 ton/ha, rhizome having plenty of roots. Rhizome quality analysisshowed that among accessions have essential oil content range from 1.34-4.61%, extract soluble water 16.22 – 23.5%, extract soluble ethanol 7.9-13.88%, fiber content 5.47 – 8.87%, and carbohydrat content 40-50%.GS-MS of wild ginger rhizome extract revealed totally around 50constituent was detected. The highest constituent detected is zerumbone(36-49%). Moreover, acetic acid also detected in all accession with valuerange from 4.64 – 14.36%. Other major constituent are alpha humulene,humulene oxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo,caryophilene oxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, and 3-octyne 5-methyl. The composition of major constituent among collection numbers isdifferent and reflected the differences of the flavour of the flesh rhizome.Seven collection numbers are having yield potential more than 15 ton/ha,essential oil content more than 1% dan zerumbone content 40%.Key word: Zingiber aromaticum, rhizome yield, rhizome constituent
PENGGUNAAN FILTRAT Ralstonia solanacearum DALAM SELEKSI KALUS IN VITRO UNTUK KETAHANAN JAHE TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI MEYNARTI SARI DEWI IBRAHIM; OTIH ROSTIANA; NURUL KHUMAIDA; SUPRIADI SUPRIADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n2.2010.49-55

Abstract

ABSTRAKPenyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearummerupakan kendala utama budidaya jahe, yang menyebabkan kehilanganhasil lebih dari 90%. Upaya pengendalian yang dilakukan belum optimal,karena tidak tersedianya varietas jahe tahan patogen tersebut. Kendalautama untuk memperoleh varietas jahe yang tahan adalah terbatasnyasumber gen ketahanan dan adanya hambatan fisiologis pada prosespersilangan jahe karena sifat inkompatibilitas sendiri, serta rendahnyafertilitas polen menyebabkan persilangan jahe secara konvensional sulitdilakukan. Seleksi in vitro menggunakan medium selektif yangmengandung filtrat patogen merupakan salah satu metode inkonvensionaluntuk meningkatkan ketahanan tanaman. Penelitian ini dilakukan diLaboratorium Kultur Jaringan dan Laboratorium Penyakit Balai PenelitianTanaman Obat dan Aromatik (Balittro) dari bulan April 2008 sa,mpaiOktober 2008 dengan tujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jahepada stadia kalus terhadap filtrat R. solanacearum dan memperolehkonsentrasi filtrat yang tepat sehingga diperoleh varian kalus baru tahanterhadap filtrat patogen tersebut. Kalus embriogenik jahe putih besar asaleksplan meristem berumur 8 minggu, diseleksi selama 3 minggu di dalammedium proliferasi (MS + 3% manitol tanpa zat pengatur tumbuh),mengandung filtrat R. solanacearum. Seleksi bertingkat dilakukan denganmengaplikasikan filtrat R. solanacearum pada konsentrasi berbeda, yaitu:0; 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 1; 2; 3; 4; dan 5%, pada tahap pertama. Padaseleksi tahap kedua, kalus disubkultur ke dalam media yang sama dengankonsentrasi filtrat dinaikkan 10 kali dari konsentrasi awal. Penelitianmenggunakan rancangan acak lengkap, diulang 10 kali. Hasil penelitianmemperlihatkan penggunaan filtrat R. solanacearum di dalam mediumkultur in vitro jahe pada seleksi tahap pertama dan kedua menyebabkanterjadinya perubahan warna kalus dari putih kekuningan menjadi kuningkecoklatan dan coklat kehitaman. Berat dan diameter kalus, jumlahembrio globular serta embrio torpedo berkurang secara nyata setelahperlakuan filtrat, pada seleksi tahap pertama maupun kedua seiring denganbertambah  tingginya  konsentrasi  filtrat.  Konsentrasi  filtrat  R.solanacearum  yang  mampu  menginduksi  dan  menyeleksi  kalusembriogenik berkisar antara 0,3 - 2% dari volume medium seleksi kaluspada seleksi tahap 1 dan 3 - 20% pada seleksi tahap 2.Kata kunci : Zingiber officinale Rosc., kalus, seleksi in vitro,ketahanan, filtrat R. solanacearumABSTRACTThe use of R. solanacearum filtrate in callus selection ofin vitro for ginger resistance to bacterial wilt diseaseBacterial wilt disease caused by Ralstonia solanacearum is the mainconstraint in ginger cultivation. It often causes significant yield loss ofmore than 90%. Various controlling techniques are not able to overcomethe disease, due to unavailability of resistant ginger cultivar. Limitation inobtaining resistant ginger variety is caused by several factors includingthe lack of resistant gene, physiological barrier due to the selfincompatibility, and low pollen fertility, these cause difficulty inconventional cross breeding. Therefore, genetic variability enhancementhas to be carried out unconventionally, to obtain ginger variety resistant tothe disease. In vitro selection using a selective medium containing filtrateof the pathogen is one of the potential unconventional method to improveginger plant resistance. The study was conducted at Meristem Culture andPlant Disease Laboratories of IMACRI from April to October 2008 aimingat determining the level of resistant ginger on stage of calli to the filtrateof R. solanacearum and to obtain an appropriate concentration of thefiltrate which induced calli variants resistant to the filtrate. Large whiteginger embryogenic calli meristems of 8 weeks old were selected for 3weeks in proliferation medium (MS + 3% mannitol without growthregulators), containing filtrate of R. solanacearum. For that purpose, twostages of in vitro selection were performed by applying differentconcentrations of R. solanacearum filtrate e.g; 0; 0.1; 0.2; 0.3; 0.4; 0.5; 1;2; 3; 4; and 5% at the first stage selection. Those concentrations were thenmultiplied 10 times at the second stage selection. Experiments werearranged in completely randomized design with 10 replicates. Resultsshowed that the use of R. solanacearum filtrate as selection agent in gingerin vitro culture medium has caused changes in calli color from theyellowish white into the blackish brown. In addition, increase of R.solanacearum filtrate concentration at the 1 st and 2 nd selection stages wasin line with the decreased of the calli weight and diameter, as well asnumber of globular and torpedo embryo. The concentration of R.solanacearum filtrate applied at 0.3 to 2% in the 1 st selection followed by3 to 20% in the 2 nd  selection induced resistant embryogenic calli of ginger.Key words : Zingiber officinale Rosc., calli, in vitro selection,resistance, R. solanacearum filtrate
An Analysis of Superior Plantation Commodities and Referral Development in Bungo Regency, Jambi Province SURYANI, LILI; SITORUS, SANTUN R.P.; MINIBAH, KHURSATUL
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n4.2015.175-188

Abstract

ABSTRACTThe condition of Bungo Regency potential for development of agriculture sector in a broad sense. Agricultural sector contributed 33,08% to GDP Bungo Regency in 2012. Famoustation crops is rubber. Now a days, in addition to rubber, oil palm plantations is also highly desirable for crop development. The purpose of this research is (1) to analyze the main commodity of plantation, (2) to now potential land for development, and (3) to establish the referrals of plantation commodity development in the framework of regional development in Bungo Regency. The methode and techniques of analysis in this study is Shift Share (SS) methode, Location Quotient (LQ) methode, overlay and descritive analysis. Based on Location Quotient (LQ) and Shift Share (SS) analysis can be concluded that there are three types of superior commodity which is used as the main priorities to be developed in every district in Bungo Regency, there are rubber, oil palm and coconut. Potential land for development of rubber, oil palm, and coconut commodites are the largest area in the Pelepat sub-district for 37.234 ha (17,2%). The main development referal for superior commodity is rubber commodity, especially at Pelepat sub-district, palm oil is especially for Pelepat Ilir, in otherwise coconut commodity is only support commodity at Pasar Bungo sub-district. Engineering effort to minimize the negative effects of limiting factor of erosion, drainage, texture, and rainfall, which are: the addition of organic matter, plant cover crops, and manufacture of irrigation.Keywords: coconut, land suitability, palm oil, rubber, superior commodity ANALISIS KOMODITAS PERKEBUNAN UNGGULAN DAN ARAHAN PENGEMBANGANNYA DI KABUPATEN BUNGO, PROVINSI JAMBIABSTRAKKondisi Kabupaten Bungo sangat potensial untuk pengembangan sektor pertanian dalam arti luas. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bungo untuk tahun 2012 sebesar 33.08%. Tanaman perkebunan yang menjadi primadona adalah karet. Kini selain karet, tanaman kelapa sawit pun menjadi jenis yang diminati pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis komoditas perkebunan unggulan, (2) mengetahui lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas perkebunan unggulan, dan (3) menyusun arahan pengembangan komoditas perkebunan unggulan dalam rangka pengembangan wilayah di Kabupaten Bungo. Adapun metode dan teknik analisis data dalam penelitian ini adalah: Metode Shift Share (SS), metode Location Quotient (LQ), Overlay, dan analisis deskriptif. Berdasarkan hasil analisis Location Quotient (LQ) dan Shift Share (SS), secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga jenis komoditas perkebunan unggulan yang dijadikan prioritas utama untuk dikembangkan disetiap kecamatan yang ada di Kabupaten Bungo yaitu: karet, kelapa sawit dan kelapa dalam. Ketersediaan lahan untuk pengembangan komoditas karet, kelapa sawit, dan kelapa dalam luasan terluas berada di Kecamatan Pelepat sebesar 37.234 ha (17,2%). Arahan untuk pengembangan komoditas unggulan adalah komoditas karet, utamanya di Kecamatan Pelepat dan kelapa sawit utamanya di Kecamatan Pelepat Ilir, sedangkan komoditas kelapa dalam, merupakan komoditas penunjang di Kecamatan Pasar Bungo. Upaya teknik untuk meminimalisir dampak negatif faktor pembatas erosi, drainase, tekstur, dan curah hujan, yaitu: penambahan bahan organik, menanam tanaman penutup tanah, dan pembuatan jaringan irigasi.Kata kunci: kelapa, kesesuaian lahan, kelapa sawit, karet, komoditas unggulan
POTENSI BAKTERI ENDOFIT MENGINDUKSI KETAHANAN TANAMAN LADA TERHADAP INFEKSI Meloidogyne incognita RITA HARNI; MEYNARTI SARI DEWI IBRAHIM
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n3.2011.118-123

Abstract

ABSTRAKMeloidogyne incognita, merupakan salah satu organisme peng-ganggu (OPT) penyebab penyakit kuning pada tanaman lada dan dapatmengakibatkan penurunan hasil sampai 32%. Beberapa teknik untukmengendalikan patogen ini telah dilakukan tetapi belum memberikan hasilyang memuaskan. Pengendalian biologi dengan menggunakan bakteriendofit merupakan salah satu alternatif pengendalian yang cukup men-janjikan untuk dapat mengatasi permasalahan nematoda penyakit tanaman.Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Bakteriologi danNematologi Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, danRumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka TanamanIndustri Pakuwon Sukabumi dari bulan Mei sampai November 2009.Kegiatan yang dilakukan adalah: 1) Seleksi beberapa isolat bakteri endofituntuk mengendalikan nematoda M. incognita pada tanaman lada dan 2)Potensi induced systemic resistance (ISR) dan analisis asam salisilat sertaperoksidase. Isolat bakteri endofit yang digunakan adalah isolat bakteriendofit potensial yang diisolasi dari akar nilam. Akar tanaman ladadirendam dalam suspensi bakteri endofit, selanjutnya diinokulasi dengan500 ekor larva 2 M. incognita. Sebulan setelah inokulasi tanamandibongkar diamati populasi nematoda dan pertumbuhan tanaman. AnalisisISR dilakukan dengan metode split root system dilanjutkan dengananalisis kadar asam salisilat dan peroksidase. Penelitian mengunakanRancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteriendofit dapat menekan jumlah puru dan populasi nematoda di dalam akar.Penekanan tertinggi pada isolat MSK (97,93%) tidak berbeda nyatadengan isolat BAS, TT2, dan NJ46 yaitu 97,35; 95,22; dan 92,14%.Berdasarkan analisis split root system, ke 4 isolat tersebut dapat meng-induksi ketahanan tanaman lada secara sistemik dengan mekanismepeningkatan kandungan asam salisilat dan peroksidase di dalam akar.Kata kunci : Bakteri endofit, penyakit kuning, Piper nigrum L.,Meloidogyne incognita, induksi ketahananABSTRACTThe use of endophytic bacteria to induce plant resistanceagainst infection of root-knot nematode (Meloidogyneincognita) on black pepperRoot-knot nematode (Meloidogyne incognita) is one of important patho-gens causing yellow disease on black pepper. As a result of this pathogenattack can lower the results up to 32%. Several control methods have beendone successful to control pathogen. Biological control using endophyticbacteria is one of prospective alternative control methods to overcomenematode problem. The research had been conducted in the Laboratory ofBacteriology and Nematology Department of Plant Protection, BogorAgricultural University (IPB) and in greenhouse of Indonesian Spices andIndustrial Crops Research Institute (ISICRI) Sukabumi. The objectives ofthis study were : 1) Selection of endophytic bacteria to control M.incognita nematodes on black pepper and 2) Potential of induced systemicresistance (ISR) and analysis of salicylic acid and peroxidase. Endophyticbacterial isolates used were endophytic potential bacterial isolates isolatedfrom the roots of patchouli. Pepper plant roots were soaked in anendophytic bacterial suspension, then inoculated with 500 larvae of 2 M.incognita. A month after inoculation, the plants were dismantled andobserved population of nematodes and plant growth. ISR analysis wasperformed by the method of split root system followed by analysis ofsalicylic acid and peroxidase contents. The research was arranged usingCompletely Randomized Design. The results showed that endophyticbacteria were able to suppress the amount of gall and nematode populationin roots. The highest suppression was on MSK isolate (97.93%) which wasnot significantly different from BAS, TT2, and NJ46 isolates, namely97.35, 95.22, and 92.14%, respectively. The analysis of split root systemshowed that the 4 isolates were able to induce systemic resistance of blackpepper with a mechanism of increase in salicylic acid and peroxidasecontents in roots.Key words : Endophytic bacteria, yellow disease, Piper nigrum L.,Meloidogyne incognita, induce systemic resistance
PEMANFAATAN KOMPOS TANAMAN AIR SEBAGAI PEMBAWA INOKULAN MIKORIZA PADA BUDIDAYA LADA PERDU DI LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH YULIUS FERRY; JUNIATI TOWAHA; RR. K. D. SASMITA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n1.2013.15-22

Abstract

ABSTRAKLahan bekas tambang yang dapat dijadikan lahan alternatif untukpengembangan budidaya lada di Bangka cukup tersedia. Penggunaan lahanbekas tambang sebagai lahan budidaya memerlukan pembenahan misalnyapenambahan mikroorganisme seperti mikoriza. Selama ini bahan pembawapupuk hayati mikoriza menggunakan zeolit. Padahal tersedia bahan lainseperti bahan organik yang dapat dikembangkan sebagai alternatif bahanpembawa inokulan mikoriza. Penelitian yang bertujuan memperolehformula bahan organik sebagai bahan pembawa bahan mikoriza yangsesuai digunakan pada budidaya lada di lahan bekas tambang timah diBangka. Penelitian dilakukan pada tahun 2010-2011 (2 tahun) dilaboratorium dan rumah paranet di Balai Peneitian Tanaman Rempah danAneka Tanaman Industri serta lahan petani di Desa Kulur, KabupatenBangka Tengah. Untuk formulasi bahan pembawa mikoriza percobaanmenggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan formulasibahan pembawa yaitu, 100% zeolit, 60% kompos enceng gondok+40%zeolit; 80% kompos enceng gondok+20% zeolit; 100% kompos encenggondok;  60%  kompos  kiambang+40%  zeolit;  80%  komposkiambang+20% zeolit dan 100% kompos kiambang. Untuk pengujiandosis dan formula bahan pembawa mikoriza terhadap pertumbuhan ladaperdu di lahan bekas tambang, percobaan disusun sesuai denganrancangan Split Plot dalam Acak Kelompok dengan petak utama adalahjenis formula yaitu (1). kontrol 100% zeolit; (2). 60% kompos encenggondok + 40% zeolit; (3). 80% kompos enceng gondok + 20% zeolit; (4).100% kompos enceng gondok; (5). 60% kompos kiambang + 40% zeolit;(6). 80% kompos kiambang + 20% zeolit, dan (7). 100% komposkiambang. Sebagai anak petak adalah dosis pemberian yaitu; (1). 20g/tanaman; (2). 40 g/tanaman, dan (3). 60 g/tanaman. Hasil penelitian inimenujukkan bahwa formula dari bahan kompos enceng gondok ataukiambang 80% dengan zeolit dapat dijadikan bahan pembawa mikorizauntuk pupuk hayati lada perdu di lahan bekas tambang, dengan dosis 60g/tanaman.Kata Kunci : lada, tanaman air, mikoriza, lahan bekas tambangABSTRACTAvailable post-tin mining soil can be used as an alternative land forpepper cultivation in Bangka. The use of mined lands as the cultivation,requiring improvements, such as the addition of mycorrhizae. During thesemycorrhizal biofertilizer carriers using zeolite. Though available materialssuch as organic materials that can be developed as an alternative carriermycorrhizal inoculant. The research aims to obtain an alternative formulaof organic materials as a suitable carrier materials used in mycorrhizalpepper plants have been implemented. This study conducted in 2010-2011(2 years) in the laboratory and home paranet of Crops Research Institutefor Industrial Crops Spices and various land and farmers in the village ofKulur, Central Bangka regency. For carrier formulations mycorrhizal,experiments using a completely randomized design (CRD) with treatmentformulations carrier ie, 100% zeolite, 60% water hyacinth compost +40%zeolite, 80% water hyacinth compost +20% zeolite; 100% water hyacinthcompost, 60% salvinia + 40% zeolite, 80% salvinia compost +20% zeoliteand 100% salvinia compost. To test the dose and formulation of the carrieron the growth of mycorrhizal pepper shrubs on mined lands, prepared inSplit Plot design, as the main plot is a type of formula that is (1). controls100% zeolite, (2). 60% water hyacinth compost + 40% zeolite, (3). 80%water hyacinth compost + 20% zeolite, (4). 100% water hyacinth compost,(5). 60% + 40% compost kiambang zeolite, (6). 80% + 20% compostkiambang zeolite, and (7). 100% compost kiambang. As a subplot wasadministered dose that is: (1). 20 g / plant, (2). 40 g / plant, and (3). 60 g /plant.The results of this study showed that the formula of water hyacinthcompost or salvinia 80% of the zeolite can be used as a carrier material formycorrhiza biofertilizer bushy pepper on the post-tin mining soil, with adose of 60 g/plant.Keywords: plant water, mycorrhiza, post-tin mining soil
UJI ADAPTASI VARIETAS UNGGUL TEBU PADA KONDISI AGROEKOLOGI LAHAN KERING / Adaptation Test of Superior Varieties Sugarcane in Dryland Agroecological Conditions SANTOSO, BUDI; MASTUR, MASTUR; DJUMALI, DJUMALI; NUGRAHENI, SUMINAR DIYAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n3.2015.109-116

Abstract

ABSTRAKPemilihan  varietas unggul  baru  yang  beradaptasi  pada  kondisi agroekologi kering merupakan langkah yang bijak dalam mendukung program pengembangan tebu. Karena kebutuhan air tanaman tebu di lahan kering  hanya  dipenuhi  dari  hujan, diperlukan  strategi  untuk  tetap mengoptimalkan produksi dengan mengeliminasi cekaman kekeringan. Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari sampai dengan November 2012 untuk melakukan pengujian terhadap adaptasi enam varietas unggul tebu yang toleran terhadap lahan kering. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ngemplak, Pati. Penelitian disusun dalam rancangan petak terbagi yang diulang sebanyak lima kali. Juringan (sistem tanam tebu dalam baris) yang digunakan berukuran panjang 8 m dan lebar 10 m, serta jarak pusat ke pusat (pkp) 1 m. Parameter yang diamati meliputi persentase tumbuh,  tinggi  tanaman,  panjang  batang,  jumlah  dan  panjang  ruas, diameter batang, bobot batang per meter, persen brix nira, dan rendemen. Hasil   penelitian   menunjukkan  bahwa  varietas  Kentung   dan   BL menghasilkan bobot tebu (721,75 g/m dan 749,25 g/m) dengan rendemen masing-masing sebesar 8,54% dan 8,25%. Kedua varietas ini cocok untuk dikembangkan pada kondisi agroekologi lahan kering.Kata kunci: Saccharum officinarum, uji adaptasi, lahan kering, varietas unggul  ABSTRACTSelection of new superior varieties adapted to dry agroecology was a wise move to support the development of sugarcane. In general, the land thus fulfilled its water from the rain. Therefore we need a strategy for optimizing the production of sugarcane by eliminating barriers. In fiscal year 2012 research activities was  carried out to test six varieties of sugarcane for sugar cane clones tolerant of dry land. Research activities were located at Ngemplak, Pati. The design used is split plot design repeated 5 times. Plot size, are 8 m long, 10 m wide and center to center distance 1 m. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by LSD 5%. The parameters observed were growth percentage, plant height, stem lenght, number of segments, segment length, stem diameter, weight stem per meter, percent brix of sap, and yield of sugarcane per meter. The results are superior sugarcane varieties, BL and Kentung varieties produce cane weight 721.75 g / m and 749.25 g / m showed  that  respectively;  and  yield     8.54%  and 8.25% the highest respectively. Both varieties  are s uitable to be developed in dry land agroecological condition.Keywords:  Saccharum officinarum, adaptation test, dry land, superior varieties
KOMBINASI PUPUK NPK DAN PUPUK KANDANG DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI ASIATIKOSIDA TANAMAN PEGAGAN Dahono Dahono; M. GHULAMAHDI; S. A. Aziz; Adiwirman Adiwirman
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n2.2011.51-59

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pupukkandang dan NPK terhadap pertumbuhan dan produksi asiatikosida.Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Gunung Putri, Cipanas,Kabupaten Cianjur mulai dari bulan Mei 2009 sampai dengan Januari2010. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompokdengan dua faktor dan diulang 3 kali. Faktor A tanpa , 0,25, 0,50, 0,75 dan1,00 dosis rekomnedasi NPK (kg/ha). Faktor B tanpa, dan 30 t pupukkandang/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk NPK1,00 rekomendasi dan pupuk kandang sebanyak 30 t/ha meningkatkanpertumbuhan dan produksi asiotikosida secara signifikan (5,12 g/m 2 ).Produksi asiatikosida tersebut tidak berbeda nyata dengan 0,5 dan 0,75dosis rekomendasi NPK/ha tanpa menggunakan pupuk kandang dan 0,5dosis rekomendasi NPK/ha + pupuk kandang 30 t/ha dan memilikikandungan asiatikosida (standar >MMI =0,90). Pemupukan maksimum 0,5dosis rekomendasi NPK/ha atau pupuk kandang meningkatkan produksiasiatikosida, akan tetapi pemberian pupuk kandang saja tidak mempe-ngaruhi kandungan asiatikosida. Interaksi antara pupuk NPK dan pupukkandang secara umum meningkatkan pertumbuhan dan hasil asiatikosida.Keuntungan tertinggi 79,82 and 30,81% (B/C ratio 0,17 dan 0,14)didapatkan dari kombinasi 1,00 dan 0,75 dosis rekomendasi NPK/ha +pupuk kandang sebanyak 30 t/ha.Kata kunci : Asiatikosida, pegagan, pupuk NPK, pupuk kandang, datarantinggiABSTRACTCombination NPK Fertilizer and Manure Application toincrease growth and Asiaticoside Production of IndianPennyworthThe aim of the research was to identify the effect of combination ofcow manure and NPK fertilizer application on the growth and asiaticosideproduction of Indian Pennyworth (Centella asiatica L. Urban) of BoyolaliCASI 016 accession. The research was conducted from May 2009 untilJanuary 2010, at The Institute of Plant Medicine and Aromatic ResearchStation of Indonesian Medicinal and Aromatic Research Institute inGunung Putri, Cipanas, Cianjur Residence. The research used randomizedcomplete block design with two factors. The A factor were without NPK,0.25, 0.50, 0.75 and 1.00 NPK recommendation dosage/ha. The NPKrecommendation dosage is 135 kg N/ha, 60 kg P 2 O 5 /ha and 132 kgK 2 O/ha. The B factors were without cow manure and 30 t cow manure/ha,with 3 replicates. Research result showed that combination of 1.00 NPKrecommendation dosage/ha and 30 t/ha cow manure significantly increasedgrowth and asiaticoside production (5.12 g/m 2 ). This asiaticosideproduction was not different with 0.50 and 0.75 recommendation NPKdosage/ha without cow manure, and 0.50 NPK recommendation dosage/ha+ 30 t cow manure/ha, and have high asiaticoside content (>MMI standard= 0.90). NPK fertilizer (maximum at 0.50 recommen-dation NPKdosage/ha) or cow manure increased growth and asiaticoside production,but cow manure did not affect asiaticoside content. Interaction betweenNPK and cow manure generally increased growth and yield ofasiaticoside. High profit 79.82 and 30.81% (B/C ratio 0,17 and 0,14) wasfound at combinations 1.00 and 0.75 NPK recommendation dosage/ha +cow manure 30 t/ha.Key words : Asiaticoside, Indian Pennyworth, NPK fertilizer, cowmanure, and high altitude
PENGARUH KERAPATAN BULU DAUN DAN KELENJAR GOSIPOL TERHADAP INFESTASI HAMA PENGISAP DAUN Amrasca biguttula ISHIDA DAN PENGGEREK BUAH Helicoverpa armigera HUBNER PADA KAPAS IGAA. INDRAYANI; SIWI SUMARTINI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n3.2012.95-101

Abstract

ABSTRAKSebagai hama utama tanaman kapas (Gossypium hirsutum L.),pengisap daun Amrasca biguttula Ishida dan penggerek buah, Helicoverpaarmigera Hubner merupakan faktor pembatas produktivitas. Kedua hamaini dapat dikendalikan secara efektif dan efisien jika menggunakan varietastahan yang sumber ketahanannya berasal dari karakteristik morfologi(antixenosis), terutama kerapatan bulu daun, dan antibiosis (kelenjargosipol). Bulu daun berperan sebagai penghalang serangan hama pengisap,A. biguttula, sedangkan gosipol bersifat racun terhadap hama H. armigera.Penelitian ini dilakukan di  Kebun Percobaan  Asembagus danLaboratorium Patologi Serangga, Balai Penelitian Tanaman Pemanis danSerat, Malang mulai Maret sampai Juli 2011. Tujuan penelitian adalahuntuk mengetahui pengaruh kerapatan bulu daun dan kelenjar gosipol 15aksesi kapas terhadap infestasi hama A. biguttula dan H. armigera.Sebanyak 15 aksesi kapas, yaitu (1) HSCY 52, (2) DPL 55, (3) Deltapine(DP) 340, (4) PTY 800, (5) Chinese x 229, (6) GLK 320 x 359 x 339 x448/8, (7) GLK 135 x 182 x 351 x 268/9, (8) GLK 351 x 268/4, (9) GLK135 x 182/8, (10) GLK 135 x 182/10, (11) Kanesia 15, (12) CEA N 886(hirsute), (13) Stoneville 825 (blackseed), (14) DPL 55 B, dan (15) HSC 5digunakan sebagai perlakuan ditanam dalam petak berukuran 10 x 3 mdengan jarak tanam 100 x 25 cm dengan satu tanaman per lubang. Setiapperlakuan (aksesi) disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) denganempat kali ulangan. Parameter yang diamati adalah kerapatan bulu daundan populasi nimfa A. biguttula pada 3 daun tanaman sampel berbeda,kerapatan kelenjar gosipol diamati pada batang, daun dan buah kapas, danpopulasi larva H. armigera diamati dari 5 kanopi tanaman sampel dilapangan. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan sidik ragam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi kapas yang memilikikerapatan bulu daun tinggi (200-268 helai/cm 2 ) dengan populasi nimfa A.biguttula rendah (kurang dari 2 ekor/tanaman) adalah GLK 320 x 359 x339 x 448/8, GLK 135 x 182 x 351 x 268/9, GLK 351 x 268/4, GLK 135 x182/8, GLK 135 x 182/10, Kanesia 15, CEA N 886 (hirsute), dan DPL 55B. Korelasi negatif yang kuat antara kerapatan bulu daun dan populasinimfa A. biguttula (r = -0,711; y = -0,012x + 3,836) menyebabkanpenurunan jumlah nimfa/tanaman pada aksesi dengan kerapatan bulu daunyang tinggi. Keberadaan kelenjar gosipol, khususnya pada buah, efektifmengurangi infestasi larva H. armigera, karena berkorelasi negatif (r =-0,579; y = -3,796x + 51,886). Populasi larva H. armigera pada aksesiHSCY 52, DP 340, PTY 800, Kanesia 15, dan CEA N 886 lebih rendahdan kerapatan kelenjar gosipol pada buah rata-rata lebih tinggi (43-57kelenjar/cm 2 ) dibanding aksesi lainnya (34-44 kelenjar/cm 2 ). Terdapat duaaksesi kapas yang menunjukkan tahan terhadap A. biguttula maupun H.armigera, yaitu: Kanesia 15 dan CEA N 886 (hirsute) sehingga keduanyaberpotensi sebagai materi genetik pembawa sifat tahan terhadap A.biguttula dan H. armigera.Kata kunci: aksesi, Amrasca biguttula, kelenjar gosipol, Gossypiumhirsutum, Helicoverpa armigeraABSTRACTAs major insect pests, A. biguttula and H. armigera have beenlimiting factors of cotton productivity. These insect pests could beeffectively controlled by using resistant varieties based on plantmorphological characters (antixenosis), especially leaf hair density, andantibiosis resistance mechanism. Leaf hair density prevented the nymph ofA. biguttula to suck the leaf sap freely while gossypol gland toxics to H.armigera larvae. This study was conducted at Asembagus ExperimentalGarden and Insect Pathology Laboratory of Indonesian Sweeteners andFiber Crops Research Institute in Malang from March to July 2011. Theobjective of study was to find out the effect of leaf hairs and gossypolglands density of fifteen cotton accessions to infestation of sucking pest, A.biguttula and bollworm H. armigera. Fifteen cotton accessions: (1) HSCY52, (2) DPL 55, (3) Deltapine (DP) 340, (4) PTY 800, (5) Chinese x 229,(6) GLK 320 x 359 x 339 x 448/8, (7) GLK 135 x 182 x 351 x 268/9, (8)GLK 351 x 268/4, (9) GLK 135 x 182/8, (10) GLK 135 x 182/10, (11)Kanesia 15, (12) CEA N 886 (hirsute), (13) Stoneville 825 (blackseed),(14) DPL 55 B, and (15) HSC 5 were used as treatments and planted in 10x 3 m of plot size with 100 x 25 cm of row spacing with one plant perhole. Each treatment (accession) was arranged in Randomized CompleteDesign (RCD) with four replications. Parameter observed were leaf hairdensity and population of A. biguttula nymph on three sample leaves fromdifferent plant, gossypol gland density was observed on stem, leaves andboll of sample plant, and population of H. armigera larvae was recordedfrom plant canopy. Data observed were analized with analysis of variance.Results showed that cotton accessions with lower leaf hair density (200-268 pieces/cm 2 ) and less than 2 nymphs/plant were GLK 320 x 359 x 339x 448/8, GLK 135 x 182 x 351 x 268/9, GLK 351 x 268/4, GLK 135 x182/8, GLK 135 x 182/10, Kanesia 15 and CEA N 886 (hirsute) and DPL55 B. Negative correlation (r = -0,711 and y = -0.012x + 3.836) betweenleaf hair density and population of A. biguttula nymph reduced the nymphpopulation when leaf hair density increased. Gossypol gland density,mainly on bollwall, effectively reduced the larval population due tonegative correlation between the two parameters (r = -0.579 and y = -3.796x + 51.886). Lower population of H. armigera larvae was counted onHSCY 52, DP 340, PTY 800, Kanesia 15, and CEA N 886 (hirsute) due tohigher gossypol density (43-57 glands/cm 2 ) compared to other accessionswith lower gossypol density (34-44 glands/cm 2 ). Kanesia 15 and CEA N886 (hirsute) were seemed to be the potential genetic materials fordeveloping resistant varieties against A. biguttula and H. armigera.Key words: accession, Amrasca biguttula, gossypol gland, Gossypiumhirsutum, Helicoverpa armigera

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue