cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PENGARUH DOSIS MIKORIZA DAN PEMUPUKAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KOPI ROBUSTA DI BAWAH TEGAKAN KELAPA PRODUKTIF YULIUS FERRY; RUSLI RUSLI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n1.2014.27-34

Abstract

AbstrakTanaman kopi robusta yang ditanam di bawah tegakan kelapa diperkirakan mengalami persaingan yang cukup ketat dalam memanfaatkan air dan hara. Mikoriza adalah salah satu mikroorganisme yang dapat meningkatkan kemampuan perakaran kopi robusta dalam persaingan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian mikoriza dan pupuk NPK untuk tanaman kopi robusta di bawah tegakan kelapa produktif. Penelitian ini dilakukan tahun 2012-2013 di Kebun Percobaan Pakuwon, Sukabumi di bawah tegakan kelapa umur 37 tahun jenis kelapa dalam. Penelitian disusun menurut rancangan petak terbagi. Sebagai petak utama adalah empat dosis mikoriza: (1) tanpa mikoriza, (2) 20 g/tanaman, (3) 40 g/tanaman, dan (4) 60 g/tanaman, sedangkan sebagai anak petak adalah dosis pupuk NPK: (1) tanpa pupuk, (2) 60% dari rekomendasi, (3) 80% dari rekomendasi, dan (4) 100% dari rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza 40 g/tanaman sudah menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang berbeda nyata dengan tanpa pemberian mikoriza dan tidak berbeda nyata dengan pemberian 60 g/tanaman. Jumlah ruas/cabang tertinggi diperoleh pada pemberian pupuk NPK 100% rekomendasi. Pemberian mikoriza 60 g/tanaman + pupuk NPK 40% nyata menghasilkan bonggol dan produksi yang tinggi. Bobot 100 biji basah dan kering tertinggi diperoleh pada pemberian kombinasi mikoriza 60 g/tanaman + pupuk NPK 40% rekomendasi. Pemberian mikoriza tidak hanya meningkatkan daya saing kopi di bawah tegakan kelapa produktif, tetapi juga dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK. Pemberian mikoriza 60 g/tanaman + pupuk NPK 40% dapat meningkatkan produksi dan kualitas biji kopi di bawah tegakan kelapa.Kata kunci: Coffea conephora, kelapa, NPK, mikoriza, pertumbuhan
KRITERIA PENANDA SELEKSI PRODUKTIVITAS TERNA DAN ASIATIKOSIDA PADA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) BUDI MARTONO; MUNIF GHULAMAHDI; LATIFAH K. DARUSMAN; SANDRA ARIFIN AZIZ; NURLIANI BERMAWIE
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n1.2010.12-19

Abstract

ABSTRAKKeberhasilan  seleksi  produktivitas  terna  dan  produktivitasasiatikosida yang tinggi ditentukan oleh kriteria seleksi yang sesuai. Adabeberapa metode yang dapat digunakan untuk mencari kriteria seleksi,salah satu diantaranya adalah dengan memanfaatkan analisis lintas (Pathanalysis). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola hubungan antarkomponen pertumbuhan dengan produksi terna dan produksi asiatikosidaberdasarkan nilai korelasi, pengaruh langsung dan tidak langsung, sertanilai heritabilitas pada 16 nomor koleksi plasma nutfah pegagan. Penelitiandilakukan di KP. Cimanggu, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik(BALITTRO) antara bulan Juli-November 2007, dengan menggunakanrancangan acak kelompok (RAK) yang diulang 2 kali. Intensitas cahayayang digunakan 75%. Komponen pertumbuhan yang diamati meliputijumlah, panjang, dan diameter tangkai daun; jumlah, panjang, lebar, luas,dan tebal daun; serta jumlah sulur. Hasil penelitian menunjukkan bahwapeubah panjang dan diameter tangkai daun; serta panjang, lebar, luas, dantebal daun berkorelasi positif sangat nyata terhadap produksi terna.Berdasarkan analisis lintas, panjang, dan diameter tangkai daun, panjang,lebar, luas, dan tebal daun berpengaruh tidak langsung terhadap produksiterna melalui peubah lainnya. Seleksi terhadap produksi terna secara tidaklangsung dapat dilakukan melalui seleksi panjang dan diameter tangkaidaun, dan panjang, lebar, luas, serta tebal daun. Seleksi genotipe pegagandengan produksi terna yang tinggi melalui panjang dan diameter tangkaidaun; dan panjang, lebar; serta luas daun lebih efektif dibandingkandengan melalui tebal daun karena kelima peubah tersebut mempunyai nilaiheritabilitas yang tinggi. Panjang tangkai daun, luas dan tebal daun, sertajumlah sulur mempunyai korelasi positif nyata dan sangat nyata denganproduksi asiatikosida. Luas daun dan jumlah sulur berpengaruh tidaklangsung terhadap produksi asiatikosida melalui peubah lainnya. Panjangtangkai daun dan tebal daun secara langsung berperan dalam menentukanproduksi asiatikosida. Seleksi produktivitas asiatikosida yang tinggimelalui peubah panjang tangkai daun akan memberikan respon yang lebihcepat karena memiliki nilai heritabilitas yang tinggi.Kata kunci: Centella asiatica (L.) Urban, terna, asiatikosida, analisislintas, heritabilitasABSTRACTCriterion of Marker Selection of Fresh Shoot andAsiaticoside Productivity of Asiatic Pennywort (Centellaasiatica (L.) Urban)Selection of asiatic pennywort for high fresh shoot and asiaticosideproduction is determined by using appropriate selection criterion. Thereare several methods that can be applied, one among those is using the pathanalysis. The research was aimed to study the correlation analysis betweengrowth and production variables, direct and indirect effects, and theheritability of sixteen accessions. The experiment was conducted atCimanggu Experimental Station of Indonesian Medicinal and AromaticCrops Research Institute (ISMECRI) Bogor, Indonesia from July untilNovember 2007. The research was arranged using randomized completeblock design (RCBD) with two replications. Sixteen accessions and 75%light intensity were used. The growth components observed were number,length, and diameter of leaf petiole; number, length, width, area, andthickness of leaf; and number of stolon. The results showed that leafpetiole length and diameter, leaf length, width, area, and thicknesspositively and significantly correlated with fresh shoot production. Theleaf petiole length and diameter, leaf length, width, area, and thicknessindirectly affected fresh shoot production through other variables. The leafpetiole length and diameter; leaf length, width, area, and thickness couldbe indirectly selected as fresh shoot production variables. Selection ofasiatic pennywort genotype with high fresh shoot production through leafpetiole length and diameter; leaf length, width, and area were moreeffective compared to through leaf thickness, because the five variableshave high heritability values. Correlations between leaf petiole length, leafarea and thickness, and number of stolon with asiaticoside production werepositive and significant. The leaf area and number of stolon indirectlyaffected asiaticoside production through other variables. The length andthe thickness of leaf directly influenced the asiaticoside production. Leafpetiole length, which has high heritability value, can be used as variable toselect high asiaticoside production of asiatic pennywort.Key words : Centella asiatica (L.) Urban, shoot production, asiaticoside,path analysis, heritability
POTENSI PRODUKSI DAN MUTU SERAT PADA GALUR-GALUR F1 HASIL PERSILANGAN INTERSPESIES KAPAS TETRAPLOID EMY SULISTYOWATI; SIWI SUMARTINI; ABDURRAKHMAN ABDURRAKHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n4.2010.150-158

Abstract

ABSTRAKPersilangan interspesies kapas tetraploid antara G. hirsutum danG. barbadense dilakukan untuk memperbaiki mutu serat G. hirsutum.Penelitian dilakukan dengan menguji 16 galur F1 hasil persilanganinterspesifik kapas tetraploid, 8 varietas tetua betina dari kelompokG. hirsutum (Kanesia 9, Kanesia 10, Kanesia 11, Kanesia 12, Kanesia 14,dan Kanesia 15), dan 2 varietas tetua jantan dari kelompok G. barbadense(Pima dan Giza 90). Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompokyang diulang dua kali, dengan luas plot 50 m 2 dan jarak tanam 100 x 25cm 2 . Percobaan dilaksanakan di Asembagus dari bulan Januari sampaidengan Desember 2009. Pengamatan dilakukan terhadap komponenproduksi, produksi, dan mutu serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwaproduktivitas galur-galur F1 hasil persilangan interspesies kapas tetraploidberkisar antara 1.495-2.602,50 kg kapas berbiji/ha dan kandungan seratantara 30,14 – 38,66%. Galur F1 yang tertinggi produktivitasnya adalah P08019 (Kanesia 10 x Pima), sedangkan galur yang tertinggi kandunganseratnya adalah P 08032 (Kanesia 13 x Pima). Heterosis produksi kapasberbiji atas rerata kedua tetua pada galur-galur F1 berserat panjang hasilpersilangan interspesies kapas tetraploid cukup luas kisarannya yaitu dari-20,60 sampai 35,47. Galur-galur F1 hasil persilangan interspesies kapastetraploid memiliki kehalusan, kekuatan dan panjang serat yang lebih baikdibandingkan tetua betinanya (G. hirsutum). Limabelas dari 16 galur F1memiliki kehalusan serat yang berada dalam kisaran 3,5 – 4,9 mic.Perbaikan genetik 15 galur F1 tersebut untuk kekuatan serat adalah 7,34 -72,88%, sedangkan untuk karakter panjang serat mencapai 8,94 – 34,58%.Terdapat korelasi negatif antara potensi produksi dan kekuatan serat, jugaantara kehalusan serat dengan kekuatan dan panjang serat.Kata kunci : G. hirsutum, produksi, mutu serat, persilangan interspesies,tetraploidABSTRACTYield and Fiber Properties of F1 Lines Resulted fromInterspecific Hybridisation of Tetraploid CottonInterspecific hybridisation of tetraploid cotton between G. hirsutumand G. barbadense aiming to improve fiber properties of G. hirsutum wascarried out in Asembagus from January through December 2009.Experiment was testing 16 F1 interspecific cotton lines, eight G. hirsutumvarieties of female parents (Kanesia 9, Kanesia 10, Kanesia 11, Kanesia12, Kanesia 14, dan Kanesia 15), and two G. barbadense varieties of maleparents (Pima dan Giza 90). The experiment was arranged in randomizedblock design with two replicates; plot size was 50 m 2 and planting spacewas 100 x 25 cm 2 . Parameters observed were yield components, yield, andfiber properties. Experiment result showed that yield of F1 lines resultedfrom interspecific hybridisation of tetraploid cotton ranged 1,495 –2,602.50 kg seed cotton/ha with gin turnout of 30.4 – 38.66%. Line P08019 (Kanesia 10 x Pima) was the best yielding line, whereas lineP 08032 performed the highest gin turn. Heterosis of yield overmid parentsof each line ranged from -20.60 to 35.47. F1 lines resulted frominterspecific hybridisation of tetraploid cotton have better fiber fineness,strength, and length as compared to their female parents. Fifteen out of 16F1 line have fiber finess of 3.5 - 4.9 mic. The F1 lines showed geneticimprovement of fiber strength by 7.34 - 72.88% and of fiber length by 8.94- 34.58%. A negative correlation was observed between yield and fiberstrength, as well as between fiber fineness and fiber strength and length.Key words : G.  hirsutum,  production,  fiber  value,  interspecifichibdridisation, tetraploid
PENGARUH MINYAK BUNGKIL BIJI JARAK PAGAR TERHADAP MORTALITAS DAN PENELURAN Helicoverpa armigera Hũbner S.W. TUKIMIN; ELNA KARMAWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.54-59

Abstract

ABSTRAKJarak pagar (Jatropha curcas L.) menghasilkan limbah dari bijipada saat pemrosesan biji menjadi minyak kasar (JCO). Limbah ini berupabungkil yang dapat dimanfaatkan baik untuk pupuk organik maupununtuk bahan pestisida nabati. Bahan kimia yang bersifat toksik terhadapserangga dalam biji jarak pagar adalah phorbol ester dan curcin.Keduanya terikat dalam minyak ketika pemrosesan dan efektif untukmengendalikan beberapa hama tanaman perkebunan setelah diformulasi.Ternyata di dalam bungkil sebagai limbahnya masih tersisa kedua bahanaktif tersebut, oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk melihatefektivitas formula ekstrak bungkil jarak pagar terhadap hama utama kapasyaitu Helicoverpa armigera Hũbner. Penelitian dilaksanakan diLaboratorium Entomologi, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat(Balittas Malang) pada bulan April sampai Desember 2010 menggunakanrancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan (4 perlakuan konsentrasidan 2 kontrol) dan 4 ulangan. Biji jarak pagar yang digunakan merupakanaksesi dari Sulawesi Selatan, Lampung, dan Jawa Timur. Bungkildimaserasi  menggunakan  pelarut  metanol,  kemudian  diformulasimenggunakan detergen dengan konsentrasi 5, 10, 20, dan 40 ml ditambahmasing-masing 1 g detergen dalam 1 liter larutan. Aplikasi dilakukan duamacam sebagai racun kontak dan racun pakan. Pengamatan dilakukanterhadap mortalitas, berat pupa, dan peneluran serangga pada 24, 48, 72,dan 120 jam setelah aplikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urutanefektivitas aksesi jarak pagar adalah Sulawesi Selatan, Lampung, dan JawaTimur yang ternyata berkorelasi positif dengan kandungan phorbol esteryaitu 9,39; 6,64; dan 4,39 µg/ml. Tidak satu butirpun telur yang diletakkanpada aplikasi 10 ml aksesi Sulsel + 1 g detergen/l larutan dan 20 ml aksesiJatim + 1 g detergen/l larutan.Kata kunci : Jatropha curcas L, curcin, phorbol ester, bungkil biji jarakpagar, Helicoverpa armigera Hũbner, mortalitas, peneluranABSTRACTEffect of Jatropha cake oil on mortality and fertility ofHelicoverpa armigera HũbnerPhysic nut (Jatropha curcas L.) produces waste from its seedsduring seed processing into JCO. This waste (cake) can be furtherprocessed into organic fertilizer and botanical pesticide. The toxicchemicals for insect inside the seeds are phorbol ester and curcin. Both areincluded in JCO during the process and those are effective to control estatecrops insect pests after being formulated. In fact same of those chemicalsstill remain in the seeds cake, therefore, the objective of the research is tofind out the effectiveness of its formulation on Helicoverpa armigeraHũbner, the main pest of cotton. The research was carried out at theIndonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute, Malang fromApril to December 2010, and the experiment was arranged usingRandomized Block Design with 6 treatments and 4 replicates. Thematerials used were three (3) accessions of jatropha from South Sulawesi,Lampung, and East Java origins. Methanol was used for extracting thechemicals, and then detergent was used for formulating 4 concentrationlevels of : 5, 10, 20, and 40 ml/l + 1 g detergent each. The methods usedwere contact and oral applications. The parameters observed weremortality, pupae weight and fertility. It was revealed that the effectivenesswas positively correlated with phorbol ester contents i.e. 9.39, 6.64, and4.39 µg/ml for South Sulawesi, Lampung, and East Java accessions,respectively. There was no egg laid by female of H. armigera fed withshoots and squares contaminated with bio-pesticides (10 and 20 ml/l ofSouth Sulawesi and East Java accessions).Key words : Jatropha curcas L, curcin, phorbol ester, Jatropha seed cakeoil, Helicoverpa armigera Hũbner, mortality, fertility
ANALISIS DIVERSITAS GENETIK AKSESI KELAPA SAWIT KAMERUN BERDASARKAN MARKA SSR I MADE TASMA; SEKAR ARUMSARI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n4.2013.194-202

Abstract

ABSTRAKDiversitas genetik aksesi kelapa sawit Indonesia saat ini sangatrendah. Dalam usaha meningkatkan keragaman genetik telah dilakukaneksplorasi plasma nutfah di pusat keragaman genetik kelapa sawit diKamerun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui diversitas genetikdan tingkat polimorfisme berdasarkan marka SSR aksesi-aksesi kelapasawit Kamerun. Bahan tanaman yang digunakan 49 aksesi kelapa sawitKamerun, Afrika yang ditanam di Kebun Sumber Daya Genetik (SDG)Sawit Sijunjung, Sumatera Barat. DNA genomik diisolasi dari tiapindividu aksesi menggunakan protokol isolasi DNA untuk tanamanbergetah. DNA dianalisis menggunakan 20 marka SSR. Dendrogramkekerabatan dikonstruksi menggunakan metode Unweighted Pair GroupMethod Arithmetic (UPGMA) melalui software NTSYS-pc (NumericalTaxonomy and Multivariate Analysis System) versi 2.1-pc. Hasil penelitianmenunjukkan nilai polimorfisme information content (PIC) marka SSRtinggi sebesar 0,80 (berkisar 0,63-0,91). Jumlah alel yang terdeteksi permarka SSR berkisar antara 4-15 alel per lokus SSR (rata-rata 8,75).Analisis filogenetik 49 aksesi menghasilkan diversitas genetik 12,5-54,72% (kemiripan genetik 55,28-87,50%). Pada diversitas genetik54,72%, aksesi Kamerun terbagi menjadi tujuh kelompok masing-masingterdiri dari 9, 28, 4, 2, 1, 2, dan 3 aksesi. Aksesi dengan diversitas genetiktinggi dan berada pada klaster berbeda, potensial digunakan sebagai calontetua dalam program pemuliaan kelapa sawit.Kata kunci: Elaeis guineensis Jacq., diversitas genetik, plasma nutfah,marka SSRABSTRACTGenetic diversity of the Indonesian oil palm collection is very low.To improve their genetic variability, exploration from the oil palm centerof origins has been done in Kamerun. The objectives of this study were todetermine genetic and polymorphism level of the SSR markers Cameroon-originated oil palm accessions. Genetic materials used were 49 Cameroon-originated oil palm accessions collected at Sijunjung Oil Palm GermplamCollection Station, West Sumatera. Genomic DNA was isolated using aprotocol for isolating DNA from leaves rich with latex. DNA was analyzedusing 20 SSR markers. A dendogram was constructed using theUnweighted Pair Group Method Arithmetic (UPGMA) method through theNumerical Taxonomy and Multivariate Analysis System software(NTSYS-pc) version 2.1-pc. Results showed that the polimorfismeinformation content (PIC) values of the SSR markers used was high, 0.80(range from 0.63-0.91). The average number of the SSR alleles detectedwas also high, 8.75 alleles (range from 4-15 alleles per SSR locus).Phylogenetic analysis of the 49 oil palm accessions resulted geneticdiversity of 12.5-54.72% (genetic similarity of 55.28-87.50%). At geneticdiversity 54.72%, the 49 accessions were divided into seven clusters, eachconsisted of 9, 28, 4, 2, 1, 2, and 3 accesions, respectively. Accessionswith high genetic diversity and located at different clusters may be usefulas parent candidates in the future oil palm breeding programs.Key words: Elaeis guineensis Jacq., genetic diversity, germplasm, SSRmarkers
KESESUAIAN TELUR KEPIK KEDELAI UNTUK PEMBIAKAN MASSAL Anastatus dasyni FERR. (HYMENOPTERA: EUPELMIDAE), PARASITOID TELUR KEPIK LADA IWA .M. TRISAWA; A. RAUF; U. KARTOSUWONDO; N. MARYANA; A. NURMANSYAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.119-125

Abstract

ABSTRAKAnastatus dasyni Ferr. adalah parasitoid telur kepik lada, Dasynuspiperis China. Penelitian bertujuan mengkaji kesesuaian telur kepikkedelai Riptortus linearis dan Nezara viridula sebagai inang untukpembiakan massal parasitoid A. dasyni. Imago parasitoid A. dasyni yangberasal dari lapangan dipelihara secara terpisah pada telur dari kedua jeniskepik kedelai. Pengamatan dilakukan terhadap biologi A. dasyni yangmeliputi masa perkembangan pradewasa dan berbagai parameter kehi-dupan imago betina. Selain itu, dilakukan analisis neraca hayati denganmenggabungkan data perkembangan dan sintasan pradewasa, masa hidupimago dan reproduksi, serta nisbah kelamin. Hasil penelitian menunjukkanbahwa masa perkembangan larva dan pupa A dasyni pada telur N. viridulalebih singkat serta laju peneluran lebih tinggi dibandingkan pada telur R.linearis. Imago betina A. dasyni yang keluar dari telur N. viridula hanya1,81%, sedangkan dari telur R. linearis sebanyak 70,20%. Oleh karena itu,parameter neraca hayati hanya dapat dihitung dari parasitoid yangdipelihara pada telur R. linearis. Laju pertambahan intrinsik parasitoidadalah (r) 0,1870, masa generasi (T) 27,51 hari, reproduksi bersih (Ro)84,29, laju pertambahan terbatas (λ) 1,21, dan nilai reproduksi (RVx)402,51. Proporsi persebaran usia stabil (px) adalah 17,06% telur, 50,41%larva, 26,53% pupa, dan 6,02% imago. Telur kepik kedelai R. linearisdapat digunakan untuk pembiakan massal A. dasyni.Kata kunci : Anastatus dasyni, Dasynus piperis, Riptortus linearis,Nezara viridula, parasitoid, pembiakan massalABSTRACTSuitability of soybean bug eggs for mass rearing ofAnastatus dasyni Ferr. (Hymenoptera: Eupelmidae), anegg parasitoid of pepper bugAnastatus dasyni Ferr. is an important egg parasitoid of pepper bug,Dasynus piperis China. Research was conducted with the objectives tostudy the suitability of eggs of soybean bugs Riptortus linearis and Nezaraviridula for mass rearing of A. dasyni. Adults of A. dasyni collected fromthe field were inoculated separately on eggs of two species of soybeanbugs. Biological parameters such as immature development and adultlongevity were observed daily. Lifetable parameters were calculated on thebasis of development and survival of immature, reproduction, and sexratio. Our studies revealed that parasitoid developing on Nezara viridulaeggs had shorter larval and pupal development and higher in ovipositionrate than those on Riptortus linearis eggs. However, parasitoids emergedfrom N. viridula eggs only 1.81% were females, while from R. lineariseggs were 70.20%. Therefore, lifetable parameters can only be generatedfrom parasitoid reared on R. linearis eggs. The intrinsic rate of increase (r)mean generation time (T) 0.1870, 27.51 days, 84.29, 1.21, and 402.51respectively net reproductive rate (Ro), finite rate of increase (λ), andreproductive value (RVx). The stable stage distribution (px) were 17,06%eggs, 50,41% larvae, 26,53% pupae, and 6,02% adults. Eggs of soybeanbug R. linearis can be used for mass rearing of parasitoid A. dasyni.Key words : Anastatus dasyni, Dasynus piperis, Riptortus linearis,Nezara viridula, parasitoid, mass rearing
PENGEMBANGAN MARKA SIMPLE SEQUENCE REPEAT UNTUK Jatropha spp. DARMAWAN SAPTADI; R.R. SRI HARTATI; ASEP SETIAWAN; BAMBANG HELIYANTO; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n4.2011.140-149

Abstract

ABSTRAKPemuliaan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) untukmenghasilkan varietas berdaya hasil dan berkadar minyak tinggi perludilakukan. Penggunaan marka molekuler dapat membantu mempercepattercapainya tujuan pemuliaan tanaman jarak pagar. Marka simple sequencerepeat (SSR) merupakan marka ko-dominan yang efektif untuk mendu-kung program pemuliaan tanaman, tetapi penerapannya pada jarak pagarmasih terbatas. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk : (i) merancangprimer spesifik SSR menggunakan aksesi DNA jarak pagar yang tersediadi GenBank DNA database dan (ii) mengevaluasi efektivitas pasanganprimer yang dirancang untuk menghasilkan marka SSR yang polimorfikuntuk jarak pagar dan J. multifida. Dua puluh delapan pasang primerspesifik SSR telah berhasil dirancang menggunakan aksesi DNA asal jarakpagar yang ada di GenBank DNA database. DNA genomik jarak pagar danJ. multifida yang diisolasi dapat digunakan sebagai templat untukamplifikasi PCR. Dari 28 pasang primer yang dikembangkan, semuanyamampu menghasilkan marka SSR dari genom jarak pagar dan hanya 19pasang primer yang menghasilkan marka SSR dari genom J. multifida.Dari 19 pasangan primer spesifik SSR yang dievaluasi mampu dihasilkan44 alel dengan ukuran produk amplifikasi berkisar antara 100-360 bp.Sebanyak 35 alel (79,5%) yang diamati merupakan alel yang polimorfik.Marka SSR yang didapatkan tidak polimorfik intra-aksesi jarak pagar atauintra-aksesi J. multifida tetapi polimorfik untuk inter-aksesi kedua spesies.Karena marka SSR yang dihasilkan bersifat polimorfik untuk aksesi jarakpagar dengan aksesi J. multifida maka dapat digunakan sebagai markauntuk mendeteksi hasil persilangan F 1 inter-spesies J. curcas x J. multifida.Kata kunci : Jatropha curcas L., jarak pagar, J. multifida, DNA berulang,rancangan primerABSTRACTDevelopment of Simple Sequence Repeat Markers forJatropha spp.Breeding of physic nut (Jatropha curcas L.) to obtain new varietiesthat are high in yield and oil content needs to be conducted. Molecularmarker could be used to assist breeding of physic nut (J. curcas). Simplesequence repeat (SSR) marker is a co-dominant marker and theoretically itcould be used to support physic nut breeding program. However, onlylimited information has been available regarding molecular analysis ofphysic nut. The objectives of this research were: (i) to design SSR specificprimer based on DNA sequences available in the GenBank DNA databaseand (ii) to evaluate effectiveness of the primer pairs to produce polymor-phic SSR markers for J. curcas and J. multifida. Twenty eight primer pairswere designed and developed using physic nut DNA available in theGenBank DNA database. Total genomic DNA isolated from J. curcas andJ. multifida could be used as DNA templates for PCR amplification. Of the28 primer pairs developed in this research yielded SSR marker using J.curcas genomic DNA, while only 19 out of 28 pairs yielded SSR markersusing J. multifida genomic DNA. As many as 44 alleles with the size ofamplified products ranged from 100-360 bp were identified. Thirty fivealleles (79.5%) out of 44 identified ones were polymorphic. Results ofanalysis indicated that identified SSR markers generated using thedesigned primers were not polymorphic intra accession of J. curcas norintra-accession of J. multifida either. However, the generated SSR markerswere polymorphic for inter-accession of the two Jatropha species. Sincethe generated markers were only polymorphic for J. curcas and J.multifida, they could be used as markers for identifying interspecific F 1hybrids derived from crossing between J. curcas and J. multifida.Key words: Jatropha curcas L., physic nut, J. multifida, DNA repeatsequence, primer design
PENINGKATAN KERAGAMAN GENETIK PURWOCENG MELALUI IRADIASI SINAR GAMMA DAN SELEKSI IN VITRO IKA ROOSTIKA; IRENG DARWATI; YUDIWANTI YUDIWANTI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n2.2013.88-98

Abstract

ABSTRAKPeningkatkan keragaman genetik purwoceng memerlukan aplikasiteknologi alternatif yang mampu membentuk keragaman baru. Tujuanpenelitian adalah untuk meningkatkan keragaman genetik dan toleransipurwoceng terhadap cekaman suhu tinggi melalui iradiasi dan seleksi invitro. Tahapan penelitian meliputi induksi mutasi kalus embriogenikdengan sinar gamma, seleksi in vitro dengan cekaman suhu tinggi, induksiperakaran  somaklon  putatif,  analisis  keragaman  genetik  secaraflowcytometry, dan aklimatisasi somaklon putatif. Iradiasi dilakukan padadosis 0, 1, 2, 3, 4, dan 5 Krad sedangkan seleksi in vitro dilakukan padatiga level suhu (20, 25, dan 30 0 C). Induksi perakaran dilakukan dalam duatahap, dengan menggunakan media DKW atau MS yang mengandungsukrosa 3-6% dengan penambahan IBA atau NAA taraf 0,5-1,5 ppm. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kalus purwoceng mampu bertahan hiduppada dosis iradiasi tertinggi (5 Krad). Meningkatnya dosis iradiasicenderung meningkatkan pendewasaan embrio somatik. Pada tahap seleksiin vitro, kalus purwoceng mampu tumbuh pada kondisi suhu tertinggi(30 0 C). Tingkat proliferasi kalus yang tinggi dan jumlah embrio somatikterbanyak diperoleh dari perlakuan suhu 25 0 C. Embrio somatik yangterbentuk dari perlakuan suhu tinggi tersebut merupakan kandidatsomaklon yang toleran suhu tinggi pada lingkungan dataran rendah.Diantara embrio somatik yang terbentuk, hanya embrio yang berasal dariperlakuan suhu 20 0 C saja yang berhasil membentuk planlet. Media yangterbaik untuk induksi perakaran adalah media MS yang mengandungsukrosa 4% dengan penambahan NAA 1,5 ppm. Analisis ploidi pada daunembrio somatik menunjukkan terbentuknya varian yang bersifat tetraploid(4x).Kata kunci: Pimpinella pruatjan, iradiasi sinar gamma, seleksi in vitro,keragaman genetik, suhu tinggiABSTRACTTo improve new pruatjan genetic variations, the alternativetechnology should be applied. The objective of the research was to increasepruatjan genetic variation and tolerance to the high temperature throughinduced mutation and in vitro selection. The steps of this study were inducedmutation of embryogenic callus by gamma irradiation, in vitro selection, rootinduction of putative somaclones, genetic variation analysis by flowcytometer,and putative somaclones acclimatization. The dosages of gamma irradiationwere 0, 1, 2, 3, 4, and 5 Krad. In vitro selection was conducted at threetemperatures (20, 25, and 30 0 C). The root induction was conducted in twosteps by using DKW or MS media containing of 3-6% sucrose withaddition of 0.5-1.5 ppm IBA or NAA. The result showed that embryogeniccalli could survive after treatment of the highest gamma irradiation dose. Ittends to increase the maturation of somatic embryos. During in vitroselection, embryogenic calli could grow at the highest temperature but thehighest callus proliferation and the number of somatic embryos wereobtained from 25 0 C. The somatic embryos survived and grew at the hightemperature are assumed as somaclones which considered as thecandidates of tolerant plants to high temperature that can be developed inthe of low altitude area. Among the regenerated somatic embryos, only the20 0 C-derived embryos were successfully form plantlets. The best mediumfor root induction was MS basal medium containing of 4% sucrosesupplemented with 1.5 ppm NAA. The ploidy analysis of somatic embryosleaf showed a tetraploid (4x) variant.Key words: Pimpinella pruatjan, gamma irradiation, in vitro selection,genetic variation, high temperature
TOLERANSI 60 AKSESI KAPAS TERHADAP CEKAMAN SALINITAS PADA FASE VEGETATIF EMY SULISTYOWATI; SIWI SUMARTINI; ABDURRAKHMAN ABDURRAKHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n1.2010.20-26

Abstract

ABSTRAKEkstensifikasi pengembangan kapas ke luar Jawa berpeluangmenghadapi masalah salinitas, dan untuk memulai program pemuliaanvarietas kapas tahan salinitas diperlukan informasi ketahanan terhadapsalinitas dari koleksi plasma nutfah kapas. Enam puluh aksesi kapas telahdiuji ketahanannya pada tingkat salinitas 10 g/l NaCl dalam rancanganacak lengkap yang diulang tiga kali. Penelitian dilaksanakan diLaboratorium Pemuliaan pada Balai Penelitian Tanaman Tembakau danSerat pada bulan Agustus – Oktober 2007. Pengamatan meliputi jumlah,panjang, dan berat akar, serta panjang dan berat tunas. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa parameter-parameter akar dan tunas yang diamatisampai dengan umur 28 HST belum konsisten untuk dijadikan dasar untukmelakukan skrining aksesi-aksesi untuk ketahanan terhadap cekamansalinitas. Terdapat tiga aksesi yang termasuk kategori peka terhadapsalinitas untuk semua parameter yang diamati, yaitu aksesi-aksesi NF-SC1, NF-SL 2, dan Tamcot SP-37. Selain itu juga terdapat 5 aksesi yangsecara stabil menunjukkan toleransi terhadap cekaman salinitas yaituaksesi-aksesi KPX 22, NH 38, Ngwe Chi 1, Dora 11, DP-NF-3, BRI 1,dan DPX 7062-5228.Kata kunci : Gossypium hirsutum, aksesi, toleransi, salinitas, vegetatifTolerance of 60 Cotton Accessions to Salinity Stress atVegetative StageABSTRACTExtension of cotton development program outside Java potentiallyfaces salinity problem, and therefore, in order to start the cotton breedingprogram for saline resistant varieties, it is required accurate information onresistance level of cotton accessions in the germplasm collection. Sixtycotton accessions have been tested for their tolerance in 10 g/l NaCl incomplete randomized design with three replications. The experiment washeld at the Breeding Laboratory of the Indonesian Tobacco and FiberCrops Research Institute from August to October 2007. Observations weremade on the number, length, and weight of root, as well as length andweight of shoot. Experimental result showed that root and shootparameters observed up to 28 DAP were not consistent for screeningcotton accession tolerant to salinity. There are three intolerant accessions,namely NF-SC 1, NF-SL 2, and Tamcot SP-37. In addition, there are fiveaccessions tolerant to salinity namely KPX 22, NH 38, Ngwe Chi 1, Dora11, DP-NF-3, BRI 1, and DPX 7062-5228.Key words: Gossypium hirsutum, accessions, tolerance, salinity, vegetative
KERAGAMAN KARAKTERISTIK MORFOLOGIS DAN A G RONOMISP LA SMA NUTFAH KLON HARAPAN KAKAO LOKAL SULAWESI SELATAN SAHARDI SAHARDI; FADJRY DJUFRY
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n3.2015.145-152

Abstract

ABSTRAKKakao (Theobroma cacao L.) merupakan komoditas perkebunan yang   memegang   peranan   penting   dalam   perekonomian   Indonesia. Sulawesi Selatan merupakan daerah sentra produksi kakao dan telah berkembang berbagai varian klon kakao lokal.  Sulawesi Selatan memiliki potensi menghasilkan klon-klon kakao unggul, yang berpotensi daya hasil tinggi, memiliki ketahanan/toleransi terhadap hama penggerek buah kakao, penyakit busuk buah dan vascular streak dieback. Klon kakao lokal yang telah dikembangkan oleh petani belum pernah dilakukan karakterisasi baik morfologi maupun genetik.  Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi karakter morfologi dan agronomi klon lokal harapan yang tersebar pada petani di Sulawesi Selatan. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Februari – Desember 2013 di Kabupaten Luwu dan Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Untuk mendapatkan klon-klon harapan kakao lokal, dilakukan observasi langsung   pada   sentra   produksi   kakao.   Sumber   informasi adalah Pemerintah daerah (dinas terkait), penyuluh pertanian, tokoh masyarakat dan petani.    Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi utama klon  harapan  kakao  lokal  yang  didapat  saat  pelaksanaan  observasi. Analisis kemiripan karakter morfologi antar klon dan pengelompokan serta dendogram dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 21.0. Hasil eksplorasi diperoleh sejumlah 30 klon harapan kakao lokal.  Hasil analisis karakter morfologi terhadap 30 aksesi klon unggul harapan kakao lokal di Sulawesi Selatan, menunjukkan keragaman yang sempit.  Hal ini mengisyaratkan bahwa perlu upaya lain untuk meningkatkan keragaman genetik.Kata kunci:  Theobroma  cacao  L.,  keragaman,  morfologi,  agronomi, plasma nutfah ABSTRACTMorphological and Agronomics Diversity of Cocoa Characteristics    Local Promising Clones Germplasm in South Sulawesi Cocoa (Theobroma cacao  L.) is one of  important estate crops commodities which plays a role on Indonesian economy. South Sulawesi has a potency to generate superior clones of cocoa. A number of local cocoa clones   from   South   Sulawesi   has   been   recommended   in rehabilitation and rejuvenation in  the implementation of cocoa “Gernas” (National Cocoa Planting Action). Sulawesi   Cocoa local clones have a potency of high yield, resistance to pest or main  diseases such as cocoa pod borer, black pod disease and vascular streak dieback which were still widespread among cocoa plantation. Although variation accured in cocoa local clones, but there had been no study on both  morphological and genetic. The objective of the research was to observe morphological  and agronomis characters of local cocoa  promising clones that has been planted by the farmers in South Sulawesi. This research  was conducted from  February - Desember 2013 in Luwu District and North Luwu, in South Sulawesi. To find local cacao clones  used direct observation in cocoa production centers. The information sources obtained from local government (relevant agencies). Agricultural extension, prominent societyleader and the farmers. The Observation was conducted on morphologicalcharacters,  and  the  results  were  analysed  on  characters  resemblancebetween clones. Statistic anlyses for the Grouping and dendogram wasgene rated  by SPSS vertion 21.0. In South Sulawesi. The result from theanalyses of morphological characters   indicated  low genetic variability in 30 accessions of local cocoa clones in South Sulawesi. To such  low ingenetic diversity, Indicated  the need of another effort to broadan  geneticvariabilityKeywords:   Theobroma   cacao  L.,   genetic   variability,   morphology, agronomy, germplasm

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue