cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
POPULASI DAN INTENSITAS SERANGAN HAMA Attacus atlas (Lepidoptera: Saturniidae) DAN Aspidomorpha miliaris (Coleoptera: Chrysomelidae) PADA TANAMAN YLANG-YLANG ADRIA ADRIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n2.2010.77-82

Abstract

ABSTRAKYlang-ylang (Canangium odoratum forma guneina) adalah salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang tidak luput dari seranganserangga hama diantaranya Attacus atlas (Lepidoptera: Saturniidae) danAspidomorpha miliaris (Coleoptera: Chrysomelidae). Sehubungan denganitu telah dilakukan penelitian tentang populasi dan intensitas serangankedua hama tersebut di Kebun Percobaan Balittro Laing Solok mulai bulanJanuari sampai Desember 2008. Dipergunakan 30 tanaman ylang-ylangumur 4 tahun sebagai contoh. Pengamatan dilakukan tiap bulan denganparameter padat populasi (telur, larva, pupa dan imago) dan intensitasserangan. Selain itu juga dilakukan pengamatan skala rumah kaca untukmengetahui siklus hidup dan kebutuhan makan. Dari hasil penelitiandiketahui padat populasi A. miliaris dan A. atlas pada tanaman Ylang-ylang mencapai 40,94 dan 30,86 ekor/tan, terdiri dari populasi larva, pupa,dan imago masing-masing sebesar 26,70; 8,02; dan 6,22 ekor/tan pada A.miliaris dan 21,97; 5,21; dan 3,68 ekor/tan pada A. atlas, serta populasitelur 11,24 ootheca/tan pada jenis A. miliaris dan 15,54 butir/tan pada A.atlas. Distribusi telur, larva dan imago paling banyak terdapat pada sektortengah tajuk tanaman, sedangkan pupa paling banyak terdapat pada sektorbawah. Intensitas serangan kedua jenis serangga mencapai 48,76% dengankontribusi serangan larva 100% (24,12%/tan) pada A. atlas dan 78,73%(19,40%/tan) pada jenis A. miliaris.Kata Kunci : Attacus atlas, Aspidomorpha miliaris, populasi, intensitasserangan, ylang-ylang, Canangium odoratum forma guneinaABSTRACTPopulation and pest attack intensity of Attacus atlas(Lepidoptera : Saturniidae) and Aspidomorpha miliaris(Coleoptera : Chrysomelidae) in Ylang-ylang plantYlang-ylang plant (Canangium odoratum forma guneina) thatproduces essential oil doesn’t escape from the pest attack, for exampleAttacus atlas (Lepidoptera : Saturniidae) and Aspidomorpha miliaris(Coleoptera : Chrysomelidae). In relation with the event, the researchconcerns the population and the attack intensity of the pest in KP BalittroLaing Solok had been carried out from January until December 2008,using 30 Ylang-ylang plants of 4 years age as samples. The observationwas done every month with population density parameter (egg, larvae,pupae and imago) and attack intensity. Besides that, a greenhouseobservation was also conducted to know the length of lifecycle and foodconsumption. From the research, it was found that the population of A.atlas and A. miliaris in the Ylang-ylang plant reached 40.94 and 30.86 perplant, consisting of 26.70 larvae, 8.02 pupae, and 6.22 imago populationsof A. atlas, and 21.97 larvae, 5.21 pupae, and 3.68 imago populations of A.miliaris per plant. There were also found egg populations of 11.24ootheca/plant of A. miliaris and 15.54 grain/plant of A. atlas. Thedistribution of egg, larvae, and imago were mostly found in middle sectorof plant. Meanwhile, the pupae were found mostly in bottom sector. Theattack intensity of the plants reached 48.76% with larvae attackcontribution of 100% (24.12%/plant) on A. atlas and 78.73%(19.40%/plant) on A. miliaris.Key words: Attacus atlas, Aspidomorpha miliaris, population, attackintensity, ylang-ylang, Canangium odoratum forma guneina
Evaluation of Productivity, Fiber Fineness, and Tolerance to Insect Pests of F7 Cotton Lines with Brown Fiber EMY SULISTYOWATI; SIWI SUMARTINI; SUJAK SUJAK; M. MACHFUD; SUHADI SUHADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n4.2015.189-198

Abstract

ABSTRACTColoured cotton has been used since 3400-2300 BC. Historically, it has been used prior to allotetraploid cotton which are now planted (G. hirsutum dan G. barbadense) of which some have brown and green fiber. The use of coloured cotton is environmentally friendly, and the demand for it will be increasing in relation with the increased demand of organic cotton. The research was aiming to evaluate of Productivity, Fiber Fineness, and Tolerance to Insect Pests ofF7 promising cotton lineswith brown fiber for the development of national cotton new varieties with brown fiber. The experiment was carried out at Pasirian Experimental Station at Lumajang on Januari-December 2013. 14 F7 lines resulted from 2006 crosses and two control varieties were tested in Randomised Blocked Design. There were two unit tests, the spray and unspray test, each was replicated three times. Plot size was 3 x 10m2 with plant spacing was made of 100 x 25 cm in which one single plant per hole was maintained. observation was done on growth and generative components, seed cotton yield, and field tolerance component. Experimental result showed that line 06063/5 was consistently shown high seed cotton yield under spray (2348,3 kg/ha) and unspray conditions (2372,8 kg/ha). Under unspray condition, there were four promising lines which were yielded higher that the best control varieties (Kanesia 10, 2197,2 kg/ha), i.e. 06063/5 (2372,80 kg/ha), 06067/3 (2235,0 kg/ha), 06062/3 (2255,60 kg/ha), and 06066/2 (2383,90 kg/ha). In addition, the best line showingthe highest field tolerance index was 06066/2 (110,5%). There were only two lines which had fiber length of ≥ 1 inch (25,4 mm), i.e. 06067/4 and 06062/1. It terms of fiber strength, genetic improvement achieved was ranging from 0,81 to 11,54% better than Kanesia 10, but 8,11 – 17,64% worse than Kanesia 8. Nine lines which had their fiber fineness 3,0 – 3,8 mic which are met the industry’s demand.Keywords: Gossypium hirsutum L., coloured cotton, productivity, field tolerance index EVALUASI PRODUKTIVITAS, MUTU SERAT, DAN KETAHANAN TERHADAP HAMA GALUR-GALUR F7 KAPAS BE RSERAT COKLATABSTRAKKapas dengan serat berwarna non-putih telah digunakan sejak tahun3400-2300 sebelum Masehi. Sejarah perkembangannya diperkirakan lebihawal dibandingkan kapas allotetraploid yang banyak dikembangkan saatini (G. hirsutum dan G. barbadense) yang beberapa memiliki warna serat coklat dan hijau. Penggunaan serat kapas berwarna sangat ramah lingkungan dan pemanfaatannya akan meningkat sejalan dengan meningkatnya permintaan kapas organik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi produktivitas, mutu serat dan ketahanan terhadap hama galur-galur harapan F7 kapas dengan serat berwarna coklat dalam rangka mengembangkan varietas kapas nasional berserat coklat.Penelitian menguji 14 galur F7 hasil persilangan tahun 2006 dan dua varietas pembanding dilaksanakan di KP Pasirian, Lumajang pada bulan Januari- Desember 2013; disusun dalam Rancangan Acak Kelompok. Terdapat dua unit pengujian yaitu pengujian dengan pengendalian hama optimal (SPRAY atau S) dan pengujian tanpa pengendalian hama (TANPA SPRAY atau TS) masing-masing diulang tiga kali. Ukuran plot adalah 3 x 10m2; jarak tanam adalah 100 x 25 cm dan pada masing-masing lubang tanam dipelihara satu tanaman. Pengamatan komponen pertumbuhan dan hasil, hasil kapas berbiji, dan komponen ketahanan dilakukan untuk menilai penampilan galur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur 06063/5 secara konsisten menunjukkan produksi kapas berbiji yang cukup tinggi baik dalam kondisi dengan pengendalian hama (2 348,3 kg/ha) maupun tanpa pengendalian hama (2372,8 kg/ha). Pada kondisi tanpa pengendalian hama, terdapat empat galur yang lebih unggul dibandingkan varietas pembanding terbaik (Kanesia 10, 2197,2 kg/ha) yaitu 06063/5 (2 372,80 kg/ha), 06067/3 (2 235,0 kg/ha), 06062/3 (2255,60 kg/ha), dan 06066/2 (2383,90 kg/ha). Selain itu, galur yang menunjukkan indeks ketahanan lapang terbaik adalah 06066/2 (110,5%). Hanya terdapat dua galur yang panjang seratnya ≥ 1 inchi (25,4 mm), yaitu 06067/4 dan 06062/1. Apabila dibandingkan Kanesia 10, diperoleh kemajuan dalam hal kekuatan serat sebesar 0,81-11,54%. Tetapi apabila dibandingkan dengan Kanesia 8, maka kekuatan serat dari galur-galur yang diuji lebih rendah 8,11 – 17,64%. Terdapat sembilan galur yang kehalusan seratnya dikelompokkan pada kategori diterima oleh industri (3,0 – 3,8 mic).Kata kunci: Gossypium hirsutum L., kapas dengan serat berwarna, produktivitas, indeks ketahanan lapang.
EFFECT OF ARBUSCULAR MYCORRHIZAL FUNGI BIOFERTILIZER ON THE GROWTH OF CASHEW SEEDLING O. TRISILAWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n4.2011.150-155

Abstract

ABSTRACTThe effects of several arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) on thegrowth, nutrient uptake (nitrogen, phosphorus, and potassium), and acidphosphate activity of two promising numbers of Anacardium occidentaleseedling were evaluated. The experiment was conducted in the greenhouse of Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute(BALITTRO) in 2002 for six months on a randomized design with twofactors and four replicates. First factor was isolate (six isolates of AMFand one control) consisting of : 1) control; 2) Glomus aggregatum; 3)Glomus etunicatum; 4) Mycofer; 5) Glomus sp.; 6) a mixture of Glomussp1, Glomus sp2, Glomus sp3, Glomus sp4, Glomus etunicatum,Gigaspora margarita, Gigaspora sp., and Enthropospora sp., and 7)Gigaspora sp. The second factor was two cashew promising numbers :Asembagus and Wonogiri. The results showed that AMF inoculationsignificantly affected the growth of cashew. Mycofer and mixed AMFwere more effective to Wonogiri promising number, while for Asembaguspromising number inoculation of mycofer was more effective. Inoculationwith mycofer to Asembagus promising number increased the uptake of Pand K nutrients by 65 and 53% while inoculation with mycofer and mixedAMF to Wonogiri promising number increased the uptake of N, P and Knutrients by 55, 38, and 17%, and by 18, 31, and 17%. Moreover, theAMF inoculation resulted in higher phosphatase activity. In mycorrhizalAsembagus promising number infected by mixed AMF, the increment ofphosphatase activity was 136.5%, whether in Wonogiri promising numberinfected by mycofer, the increment of phosphatase activity was 80% thancontrol.Key words: Anacardium occidentale, promising number, growth,phosphatase activityABSTRAKPengaruh Pupuk Hayati Fungi Mikoriza Arbuskula(FMA) terhadap Pertumbuhan Benih Jambu MetePenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa jenisfungi mikoriza arbuskula (FMA) terhadap pertumbuhan, serapan hara danaktivitas enzim fosfatase dari dua nomor harapan benih jambu mete(Anacardium occidentale). Penelitian dilakukan di rumah kaca Balittropada tahun 2002 selama 6 bulan, menggunakan rancangan acak yangterdiri dari dua faktor dan diulang empat kali. Faktor pertama adalahisolate (6 jenis isolat FMA dan satu kontrol) yaitu: 1). kontrol; 2). Glomusaggregatum; 3) Glomus etunicatum; 4). Mycofer; 5). Glomus sp.; 6).campuran dari Glomus sp1, Glomus sp2, Glomus sp3, Glomus sp4, Glomusetunicatum, Gigaspora margarita, Gigaspora sp., Enthropospora sp., dan7). Gigaspora sp. Faktor kedua adalah nomor harapan jambu mete, yaituAsembagus dan Wonogiri. Hasil penelitian mendapatkan bahwa inokulasiFMA berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan jambu mete. Mycofer dancampuran FMA lebih efektif berpengaruh terhadap nomor harapanWonogiri, sedangkan mycofer lebih efektif berpengaruh terhadap nomorharapan Asembagus. Serapan hara P dan K pada nomor harapanAsembagus yang diinokulasi mycofer meningkat sebesar 65 dan 53%,sedangkan nomor harapan Wonogiri yang diinokulasi mycofer dancampuran FMA, serapan hara N, P, dan K meningkat masing-masingsebesar 55; 38; dan 17%, dan 18; 31; dan 17%. Selain itu, inokulasi FMAdapat meningkatkan aktivitas fosfatase akar jambu mete. Peningkatanaktivitas fosfatase akar jambu mete nomor harapan Asembagus yangterinfeksi oleh campuran FMA sebesar 136,5%, sedangkan pada nomorharapan Wonogiri yang terinfeksi mycofer, peningkatnnya sebesar 80%dibandingkan kontrol.Kata kunci: Anacardium occidentale, nomor harapan, pertumbuhan,aktivitas fosfatase
PEMUPUKAN NITROGEN, FOSFOR, DAN KALIUM PADA TANAMAN AKAR WANGI ROSIHAN ROSMAN; OCTIVIA TRISILAWATI; SETIAWAN SETIAWAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n1.2013.33-40

Abstract

ABSTRAKDosis pupuk N, P, dan K optimal untuk akar wangi belum diketahuidan penggunaannya  masih beragam. Penelitian bertujuan untukmendapatkan komposisi dosis pupuk N, P, dan K optimal yang dapatmeningkatkan produktivitas akar wangi. Penelitian dilakukan di DesaSukakarya, Garut dari bulan Januari 2009 sampai dengan Desember 2010menggunakan rancangan Acak Kelompok, dengan 3 ulangan. Perlakuanmeliputi 9 kombinasi pupuk N, P, dan K: (1). Kontrol; (2) 100 kg SP-36 +75 kg KCl; (3) 100 kg ZA + 75 kg KCl; (4) 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75kg KCl; (5) 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl; (6) 100 kg ZA + 100kg SP-36 + 150 kg KCl; (7) 100 kg ZA + 100 kg SP-36; (8) 200 kg ZA +100 kg SP-36 + 75 kg KCl; (9) 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl.Panen dilakukan pada 12, 14, dan 16 bulan setelah tanam (BST). Hasilmenunjukkan bahwa pemupukan dosis 100 kg ZA + 75 kg KClmenghasilkan minyak 52,59 dan 67,78 kg/ha (12 dan 14 BST) dan 200 kgZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl menghasilkan 67,76 kg /ha (16 BST),dengan kadar vetiverol lebih dari 50%.Kata kunci: Vetiveria zizanioides, pemupukan, vetiverol, produksi, mutuminyakABSTRACTThe optimum dosage of N, P, and K fertilizer has not been knownyet and it usage was still varied. The research aim is to obtain an optimalcomposition of N, P, and K fertilizer that could increase productivity ofvetiver crop. The researsch has been conducted in Sukakarya Village,Garut, from January 2009 to December 2010. The research was arrangedin randomized block design, with 3 replications and N, P, and K fertilizercombination treatments i.e.: (1) Control; (2) 100 kg SP-36 + 75 kg KCl;(3) 100 kg ZA + 75 kg KCl; (4) 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75 kg KCl;(5) 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl; (6) 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl; (7) 100 kg ZA + 100 kg SP-36; (8) 200 kg ZA + 100 kgSP-36 + 75 kg KCl; (9) 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl.Harvesting was done at 12, 14 and 16 months after planting (MAP). Theresult showed that the dose of 100 kg ZA + 75 kg KCl produced vetiver oil52,59 and 67,78 kg/ha (12 and 14 MAP). Meanwhile the dose of 200 kgZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl produced 67,76 kg/ha (16 MAP),respectively. vetiverol content were more than 50%.Key words: Vetiveria zizanioides, fertilizing, vetiverol, production, oilquality
WATER TRANSPORT AND GROWTH OF CASHEW (Anacardium occidentale L.) UNDER SOIL MECHANICAL IMPEDANCE JOKO PITONO; TSUDA MAKOTO; YOSHIHIKO HIRAI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n3.2015.117-124

Abstract

ABSTRACTThe ability to adapt to soil mechanical impedance was considered to support cashew growing in drought prone areas, since those areas are sometimes aggravated by problem on soil mechanical impedance. The response of water transport and growth under soil mechanical impedance was  evaluated  at  two  productive  cashew  accessions.  Two  cashew accessions, A3-1, that adapt well to drought stress, and a local accession Pangkep, and four levels of soil bulk densities of 0.75 g cm-3, 0.90 g cm-3, 1.00 g cm-3 and 1.24 g cm-3 under sufficient soil moisture conditions, were arranged   in   factorially completely   randomized   design   with   five replications. The response of shoot and root growth, transpiration and hydraulic  conductance  were  evaluated.  The  results  showed  that  the accession of A3-1 indicated a better to maintain root growth under soil mechanical impedance that produced thick root/total root length ratio and xylem area/transvesal root area ratio more than Pangkep. On the other hand, A3-1 was faster in reducing leaf area than Pangkep when subjected to increased level of soil bulk density treatments. Although the hydraulic conductance was not varied among the cashew accessions and had not a specific response trend to soil bulk density treatments, however, the increase of diurnal transpiration induced by increased level of soil bulk density treatment in A3-1 was higher than it in Pangkep. It is suggested that the ability to regulate the root and shoot growth and water transport under soil mechanical impedance condition was better in A3-1 than in Pangkep. Moreover, it might be a part attribute of drought tolerance on A3-1 accession.Keywords: cashew, soil mechanical impedance, growth, water transport ABSTRAKTransportasi Air dan Pertumbuhan Jambu Mente (Anacardium occidentale L.) pada Berbagai Hambatan Mekanik TanahKemampuan  adaptasi  terhadap  hambatan  mekanik  tanah  diper- kirakan  membantu  pengembangan  jambu  mente  di  wilayah  berlahan kering, mengingat kondisi wilayah tersebut sering diperparah oleh masalah hambatan mekanik tanah. Respon transportasi air tanaman dan pertum- buhan terhadap hambatan mekanik tanah dievaluasi pada dua aksesi jambu mente.  Dua  aksesi  jambu  mete,  A3-1  yang  adaptif  terhadap  stres kekeringan dan aksesi lokal, Pangkep, serta 4 level padatan tanah 0.75 g.cm-3, 0.90 g.cm-3, 1.00 g.cm-3, dan 1.24 g.cm-3  dengan kondisi lengas tanah dijaga selalu cukup, disusun dalam rancangan faktorial acak lengkap dengan lima ulangan. Respon pertumbuhan akar dan tajuk, transpirasi, dan daya hantar air tanaman dievaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A3-1 lebih mampu menjaga pertumbuhan akar pada kondisi hambatan mekanik tanah dengan nilai rasio panjang akar tebal/panjang total akar dan rasio luas xylem/luas melintang akar lebih lebih besar daripada Pangkep. Pada sisi lain, A3-1 mengurangi luas daun lebih cepat dibanding Pangkep saat diberikan kenaikan perlakuan berat isi tanah. Meskipun tidak ada perbedaan daya hantar air tanaman di antara kedua aksesi dan tidak adanya pola respon spesifik terhadap perlakuan  padatan tanah, namun terjadi kenaikan transpirasi harian lebih besar pada A3-1 daripada Pangkep. Hasil ini mengindikasikan bahwa kemampuan A3-1 mengatur pertumbuhan dan transportasi  air  saat  mengalami  hambatan  mekanik  tanah  lebih  baik daripada Pangkep. Hal ini mungkin merupakan bagian dari sifat toleransi terhadap kekeringan pada aksesi A3-1.Kata kunci:  jambu mente, hambatan mekanik tanah, pertumbuhan, transportasi air
PENGARUH BIOREGULATOR SERTA PUPUK N TERHADAP KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAUN DAN INFESTASI Amrasca biguttula (ISHIDA) PADA KAPAS IGAA. INDRAYANI; FITRININGDYAH T.K.; M. SOHRI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n2.2011.60-66

Abstract

ABSTRAKTeknik pengendalian Amrasca biguttula yang paling efektif belumtersedia hingga saat ini. Penggunaan varietaspun belum ada yang benar-benar tahan terhadap hama ini karena keterbatasan aksesi kapas yangmembawa gen ketahanan. Sementara itu penggunaan pupuk N danbioregulator sering diaplikasikan untuk pertumbuhan, sedangkan peng-gunaan keduanya erat hubungannya dengan serangan serangga hama.Penelitian pengaruh bioregulator mepiquat khlorida dan paclobutrazolserta pupuk N terhadap karakteristik morfologi daun dan infestasi Amrascabiguttula dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanTembakau dan Serat di Karangploso, Malang, mulai April - September2010. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh mepiquatkhlorida dan paclobutrazol serta pupuk N terhadap karakteristik morfologidaun dan infestasi A. biguttula pada tiga galur/varietas kapas. Perlakuanterdiri atas bioregulator sebagai petak utama, yaitu: (1) mepiquat khlorida,(2) paclobutrazol, dan (3) tanpa bioregulator (kontrol). Sebagai anak petakdigunakan dua dosis pupuk N, yaitu: (1) 90 kg N/ha dan (2) 120 kg N/ha.Sedangkan anak-anak petaknya adalah dua galur baru kapas, yaitu: (1)99022/1 dan (2) 99023/5, dan (3) Kanesia 8. Penelitian menggunakanrancangan petak terbagi dua kali (split-split plot) dengan tiga kali ulangan.Parameter yang diamati untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadapkarakteristik morfologi daun adalah: panjang tulang daun, kerapatan danpanjang bulu pada tulang daun dan lamina daun, sedangkan terhadapinfestasi A. biguttula dilakukan pengamatan jumlah nimfa pada tanaman dilapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan interaksiantar perlakuan yang diaplikasikan, pengaruh bioregulator dan pupuk Npada tanaman kapas menyebabkan perubahan karakteristik morfologi daun.Mepiquat khlorida dan paclobutrazol dapat memperpendek tulang daunsekitar 4,0-6,6% dan meningkatkan kerapatan bulu pada tulang daun danlamina daun masing-masing sebesar 10-11% dan 4,0-8,7% dibandingdengan kontrol. Pemberian pupuk N dengan dosis 120 kg N/hamengurangi kerapatan bulu pada tulang daun dan lamina masing-masingsebesar 8,9% dan 9,7%. Penggunaan mepiquat khlorida dan paclobutrazolmenurunkan jumlah nimfa A. biguttula instar kecil (4,9%) maupun instarbesar (0,31%) dibandingkan dengan kontrol. Pemberian pupuk N padadosis 120 kg N/ha meningkatkan jumlah nimfa A. biguttula instar kecilmaupun besar masing-masing sebesar 4,5% dan 21,3% dari jumlah nimfapada perlakuan dosis 90 kg N/ha. Galur 99022/1 dan 99023/5 mempunyaikerapatan bulu pada lamina daun lebih tinggi (288,06 dan 253,50helai/cm 2 ) dibanding pada Kanesia 8 (248,28 helai/cm 2 ). Jumlah nimfa A.biguttula instar kecil pada kedua galur (99022/1 dan 99023/5) rata-ratalebih rendah (6,37 dan 6,63 ekor/5 tanaman) dibanding pada Kanesia 8(6,87 ekor/5 tanaman). Implikasi dari penelitian ini adalah (a) pemilihangalur harapan atau varietas kapas dapat didasarkan pada morfologi daun(kerapatan bulu pada lamina daun), (b) kombinasi antar penggunaan pupukN sesuai rekomendasi dan bioregulator dapat pula menurunkan serangan A.biguttula.Kata kunci: Gossypium hirsutum, bioregulator, mepiquat khlorida,paclobutrazol, Amrasca biguttula, instar, nimfa, galur,varietas, lamina daunABSTRACTEffects of bioregulator and nitrogen fertilizer onmorphological characters of cotton leaf and Amrascabiguttula infestationUp to now effective method for controlling cotton jassid (A.biguttula) has not been available yet. Resistant varieties so far can be usedto reduce the cotton jassid infestation. Cotton plant usually needs nitrogenfertilizer for optimal growth but sometimes the dosage used is higher thanrecommendation. In certain case bioregulator was applied to limit thevegetative growth. As known nitrogen fertilizer and bioregulatorassociated with insect pest infestation. Study on effects of bioregulator(mepiquat chloride and pachlobutrazole) and nitrogen fertilizer onmorphological characters of cotton leaf and A. biguttula infestation wasconducted at Experimental Station of Indonesian Tobacco and Fiber CropsResearch Institute (IToFCRI) at Karangploso from April to October 2010.The objective of the study was to find out the effects of mepiquat chloride,pachlobutrazole, and nitrogen fertilizer on morphological characters ofcotton leaf and A. biguttula infestation. Treatments consisted of threefactors. Factor A : bioregulator (mepiquat chloride, paclobutrazole, andcontrol), factor B : dosage of nitrogen (N) fertilizer (90 and 120 kg/ha),and factor C : cotton cultivar/variety (99022/1; 99023/5; and Kanesia 8).The experiment was arranged using split-split plot with three replicates.Data recorded were mid vein length, hair density on mid vein and lamina,hair length on lamina, and number of A. biguttula nymph. Results showedthat application of bioregulator and N fertilizer altered some morpho-logical characters of cotton leaf. Mepiquat chloride and paclobutrazoleshortened mid vein length by 4.0-6.6%, increased hair density of both midvein and leaf lamina by 10-11% and 4.0-8.7%, respectively, whencompared to control. When applied 120 kg/ha, N fertilizer decreased hairdensity on mid vein by 8.9% and leaf lamina by 9.7% compared to lowerdosage (90 kg N/ha). When compared to control, application of mepiquatchloride dan paclobutrazole reduced number of both small instar (4.9%)and big instar (0.31%) of A. biguttula nymph. Higher dosage (120 kg/ha)of N fertilizer increased population of small and big nymphs of A.biguttula by 4.5 and 21.3%, respectively, compared to lower one (90kg/ha). Leaf hair density was higher on cultivar 99022/1 (288.06hairs/cm 2 ) and 99023/5 (253.50 hairs/cm 2 )than that of Kanesia 8 (248.28hairs/cm 2 ). Nymph population of small instar was lower on 99022/1 and99023/5 (6.37 and 6.63 nymphs) compared to Kanesia 8 (6.87 nymphs).The implication of the reseach is the selection of cotton accession is basedon the morphology of cotton leaf, combined with the use of recommendedN fertilizer and paclobutrazole.Key words: Gossypium hirsutum, bioregulator, mepiquat chloride,paclobutrazole, Amrasca biguttula, variety, cultivar, nymph,instar, lamina
PERUBAHAN MUTU LADA HIJAU KERING SELAMA PENYIMPANAN PADA TIGA MACAM KEMASAN DAN TINGKATAN SUHU BAGEM SOFIANNA SEMBIRING; TATANG HIDAYAT
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n3.2012.115-124

Abstract

ABSTRAKLada hijau kering adalah salah satu bentuk diversifikasi produklada. Mutu produk dipengaruhi oleh kualitas bahan baku dan prosespengolahannya. Salah satu kriteria mutu lada hijau kering yang baik adalahwarna hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan mutulada hijau kering selama penyimpanan pada berbagai suhu dalam tiga jeniskemasan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Balai Besar Litbang Pascapanen pada tahun 2009. Bahan baku adalah lada hijau kering hasil olahankelompok tani di Desa Sukadana Baru, Lampung Timur. Lada hijau keringdisortir dan ditimbang kemudian dikemas dalam tiga jenis kemasan yaitupolietilen (LDPE), polipropilen (PP), dan aluminium foil. Selanjutnya ladadisimpan pada tiga tingkatan suhu yaitu suhu 20°C dan 30ºC (suhuruangan), dan 40ºC (inkubator). Penyimpanan dilakukan selama 4 bulandan pengamatan dilakukan tiap 2 minggu. Parameter yang diamati yaitukarakteristik bahan dan kemasan, warna (nilai a*), kadar air, kadar minyakatsiri, pH, dan uji organoleptik yang meliputi warna, rasa, aroma, danpenerimaan umum dengan metode skoring. Analisis dilakukan sebanyak 3kali. Pengolahan data nilai organoleptik melalui modus dan median sertaanalisis statistik nonparametrik dari skor yang diberikan oleh panelis. Hasilpenelitian menunjukkan jenis kemasan, suhu ruang, dan lamapenyimpanan berpengaruh terhadap mutu lada hijau kering. Karakteristiklada hijau kering sebelum disimpan adalah berwarna hijau dengan nilaia*-1,203, kadar air 7,5%, kadar minyak 3,29%, dan nilai pH 4,7.Perubahan karakteristik lada pada ketiga jenis kemasan terjadi setelahpenyimpanan pada hari ke-84. Jenis kemasan aluminium foil pada ruanganbersuhu 20 0 C dapat mempertahankan warna hijau hingga hari ke-112dengan nilai a*-1,191, kadar air 8,5%, kadar minyak 3%, dan pH 5,7,sedangkan jenis kemasan lainnya hanya dapat mempertahankan mutu ladasampai hari ke-77. Suhu ruang penyimpanan lada hijau kering yang baik20ºC. Jenis kemasan, suhu ruang serta lama penyimpanan lada hijau keringtidak berpengaruh nyata terhadap penerimaan panelis, kecuali yangdikemas dengan LDPE 40ºC hanya pada hari ke-84 penyimpanan ladahijau kering sudah tidak disukai oleh panelis karena aromanya sudahberbau apek.Kata kunci : lada hijau kering, mutu, penyimpanan, suhu, jenis kemasanABSTRACTDehydrated green pepper is one type of pepper productdiversification. Product quality is influenced by the quality of rawmaterials and processing. One of quality criteria is color, where good colorof dried pepper is green. This study aimed at determining changes in thequality of dehydrated green pepper during storage at various temperaturelevels and packaging materials. The study was conducted at the Laboratoryof Center for Agricultural Postharvest Research and Development in 2009.The raw material was dehydrated pepper produced by farmers’ group atSukadana Baru Village, East Lampung. Dehydrated green pepper wassorted and weighed and then packed in three types of packaging material:polyethylene (LDPE), polypropylene (PP), and aluminum foil.Subsequently they  were  stored  in three types  of roomcondition/temperature: air-conditioned room (temperature 20°C), roomtemperature (30°C), and incubator (40°C). They were stored for 4 monthswith observation interval of 2 weeks. Observational parameters were thecharacteristics of raw and packaging materials color (a* value), moisturecontent, volatile oil content, pH, and organoleptic tests which includedcolor, flavour, aroma, and 3 general acceptances by scoring methodanalyses. Organoleptic values were processed through modus and medianand non parametric statistical analysis of scores given by panelists. Resultsshowed that the type of packaging material, temperature levels, andstorage duration affected the quality of dehydrated green pepper.Characteristics of dehydrated green pepper before storage were greencolor with a* value -1203, 7.5% water content, 3.29% volatile oil contentand 4.7 pH value. Pepper characteristic changes occured in all threepackaging types after 84 days. Aluminium foil retained the green color upto 112 days of storage at room temperature of 20ºC with a* value -1.191,8.5% water content, 3% oil content, and 5.7 pH value, whereas otherpackaging types were and able to retain pepper quality until the 77 th day.Type of packaging and room temperature storage period of dehydratedgreen pepper did not significantly affect panelists reception, except thosepackaged with LDPE 40ºC after 84 days storage of dehydrated greenpepper is not liked by the panelists because of its musty aroma.Key words : dehydrated green pepper, storage, temperature, packagingtypes, quality
PENGARUH JAMU HERBAL SEBAGAI ANTIKOKSIDIA PADA AYAM PEDAGING YANG DIINFEKSI Eimeria tenella ENING WIEDOSARI; SHINTA SUHIRMAN; BAGEM BR SEMBIRING
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n1.2014.9-16

Abstract

ABSTRAK
PENGARUH FILTRAT BAKTERI ENDOFIT TERHADAP MORTALITAS, PENETASAN TELUR DAN POPULASI NEMATODA PELUKA AKAR Pratylenchus brachyurus PADA NILAM RITA HARNI; SUPRAMANA SUPRAMANA; MEITY S. SINAGA; GIYANTO GIYANTO; SUPRIADI SUPRIADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n1.2010.43-47

Abstract

ABSTRAKPratylenchus brachyurus merupakan salah satu patogen utama padatanaman nilam di Indonesia. Pengendalian yang banyak dilakukan petanisaat ini adalah menggunakan pestisida sintetik. Penggunaan pestisidasintetik yang terus menerus merupakan ancaman terhadap lingkungan, dankesehatan manusia. Bakteri endofit mungkin dapat dimanfaatkan sebagaisalah satu teknik pengendalian nematoda yang ramah lingkungan karenabakteri endofit dapat menghasilkan racun yang toksik terhadap nematoda.Tujuan penelitian adalah melihat pengaruh kultur filtrat bakteri endofitterhadap mortalitas nematoda, penetasan telur dan perkembangannematoda di dalam akar nilam. Penelitian dilakukan di Laboratorium danRumah kaca Hama dan Penyakit Balai Penelitian Tanaman Obat danAromatik Bogor, dari bulan Januari sampai April 2008 menggunakanrancangan acak lengkap (RAL). Filtrat bakteri dibuat dengan caramenumbuhkan bakteri endofit pada media TSB selama 48 jam, kemudiandisentrifugasi dengan kecepatan 7.000 rpm selama 15 menit. Filtratdisaring dengan milipore berdiameter 0,22 µm, selanjutnya filtrat diujipada nematoda in vitro dan rumah kaca. Hasil penelitian menunjukkanbahwa filtrat dapat membunuh nematoda dalam waktu 24 jam dengannilai LC 50 sebesar 7,709%. Bakteri endofit isolat TT2 dan EH11memperlihatkan daya bunuh paling tinggi yaitu 91-100%. Di samping itufiltrat bakteri endofit juga dapat menekan penetasan telur nematoda 48,5-74,6% dibanding dengan kontrol. Namun hanya filtrat bakteri endofitisolat EH11 yang nyata dapat menekan populasi nematoda di dalam akarnilam dengan tingkat penekanan sebesar 81,3%.Kata kunci : Pratylenchus brachyurus, bakteri endofit, kultur filtrat,Pogostemon cablinABSTRACTEffect of culture filtrates endophytic bacteria on themortality, hatching eggs and population of root lesionnematodes Pratylenchus brachyurus on patchouliRoot lesion nematode (Pratylenchus brachyurus) is an importantpathogen of patchouli in Indonesia and causes significant losses. Controlsystem that are done today is using synthetic pesticides. The use ofsynthetic pesticides is a continuing threat to the environment and humanhealth. However, endophytic bacterial culture filtrates may be used as oneof the nematode control that is environmentally friendly. Effect of culturefiltrates endophytic bacteria on the mortality, hatching eggs and populationroot lesion nematodes Pratylenchus brachyurus on patchouli has beendone in vitro and greenhouse. The results showed that the culture filtrate ofendophytic bacteria produced metabolite toxic to nematodes and wereable to kill P. brachyurus 100% within 24 hours with LC 50 7.709%. TT2and EH11 isolates showed high killing power of 91-100%. The culturefiltrates also inhibited hatching of P. brachyurus eggs compared withcontrols. Not all culture filtrates can suppress the nematode population inthe roots of patchouli. EH11 isolates filtrate really pressing nematodepopulations compared to other isolates.Key words: Pratylenchus brachyurus, culture filtrate, endophyticbacteria, Pogostemon cablin
KEANEKARAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) PADA RIZOSFER TANAMAN PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) BUDI HARTOYO; M. GHULAMAHDI; L.K. DARUSMAN; S.A. AZIZ; I. MANSUR
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n1.2011.32-40

Abstract

ABSTRAKDefisiensi hara fosfor (P) menjadi salah satu faktor pembatas dalamsistem produksi pertanian di Indonesia yang umumnya diusahakan padatanah-tanah masam. Pemanfaatan fungi mikoriza arbuskula (FMA)merupakan salah satu alternatif dalam menanggulangi permasalahan padatanah masam, karena FMA dapat membantu tanaman menyerap unsur Pdan unsur hara lainnya dari dalam tanah. Untuk mempelajari potensi FMA,hal pertama yang harus diketahui adalah keanekaragaman dari organismetersebut. Dengan adanya data tentang keanekaragaman FMA, maka dapatdilakukan seleksi guna mendapatkan isolat FMA yang potensial danefektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanamanpegagan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasijenis-jenis FMA pada rizosfer tanaman pegagan. Penelitian dilaksanakanbulan Januari sampai Agustus 2008. Pengambilan contoh tanah dilakukanpada tiga lokasi pertanaman pegagan di Kebun Percobaan Gunung Putri,Sukamulya, dan Cicurug, sedangkan isolasi, identifikasi, dan pemerang-kapan spora dilakukan di Laboratorium Ekofisiologi dan rumah kaca BalaiPenelitian Tanaman Obat dan Aromatik Bogor. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa sebelum pemerangkapan diperoleh 2 genus (Glomusdan Acaulospora) pada contoh tanah di KP Gunung Putri, 3 genus(Glomus, Acaulospora dan Scutellospora) di KP Sukamulya, dan 2 genus(Glomus dan Acaulospora) di KP Cicurug. Setelah dilakukan trappingjenis FMA, di KP Gunung Putri didapatkan 5 jenis FMA (4 tipe Glomusdan 1 tipe Acaulospora), di KP Sukamulya terdapat 5 jenis FMA (3 tipeGlomus, 1 tipe Acaulospora, dan 1 tipe Scutellospora), dan di KP Cicurugterdapat 4 jenis FMA (3 tipe Glomus dan 1 tipe Acaulospora).Keanekaragaman FMA pada rizosfer pertanaman pegagan cukup beragamdan berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan,khususnya ketersediaan dan serapan hara P.Kata kunci : Centella asiatica (L.) Urban, keanekaragaman, fungimikoriza arbuskula (FMA), pegaganABSTRACTArbuscular Mycorrhizae Fungi (AMF) diversity on asiaticpennywort Centella asiatica (L.) Urban) rhizosphereDeficiency of phosphorus (P) is one of the limiting factors ofagricultural production system in Indonesia which is generally managed onacid soils. Utilizing arbuscular mycorrhizae fungi (AMF) is one of thealternative solutions on acid soils problem, because of its ability to take upP and other nutrients from soils. The first concern which must be studied isdiversity of the organism. Data on AMF diversity obtained is useful toselect potential and effective AMF by increasing plant growth andproduction of asiatic pennywort. The aim of this research was to isolateand identify types of AMF in asiatic pennywort rhizosphere. The experi-ment was conducted from January until August 2008. Soil samples weretaken from three locations of asiatic pennywort plantations i.e. GunungPutri, Sukamulya, and Cicurug experimental stations. Isolation, identifi-cation, and trapping of spore were conducted at the Eco-physiology labo-ratory and glasshouse of Indonesian Medicinal and Aromatic CropsResearch Institute (IMACRI), Bogor. The laboratory results of soil sam-ples before trapping showed that there were two genus of AMF spores(Glomus and Acaulospora) in the samples from Gunung Putri, three genus(Glomus, Acaulospora, and Scutellospora) from Sukamulya, and twogenus (Glomus and Acaulospora) from Cicurug. After trapping, it wasidentified that the soil samples from Gunung Putri, Sukamulya, andCicurug contained five AMF species (four types of Glomus and one typeof Acaulospora), five AMF species (three types of Glomus, one type ofAcaulospora and Scutellospora), and four AMF species (three types ofGlomus and one type of Acaulospora) from Cicurug. Diversity of AMFvariety can be utilized to get potential to increase the efficiency offertilizer, specifically availability and uptake of nutrient P.Key words : Centella  asiatica  (L.)  Urban,  diversity,  ArbuscularMycorrhizae Fungi (AMF), asiatic pennywort

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue