cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PENGARUH PENGGUNAAN SUMBER PUPUK KALIUM TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU MINYAK TANAMAN NILAM M. SYAKIR; GUSMAINI GUSMAINI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.60-65

Abstract

ABSTRAKTanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) sudah lama dibudi-dayakan, namun produktivitas dan mutu minyak yang dihasilkan masihrendah. Rendahnya produktivitas dan mutu minyak tersebut antara laindisebabkan teknologi budidaya yang masih sederhana, dan berkembangnyapenyakit, seperti penyakit layu bakteri dan budog, serta hama yangdisebabkan oleh nematoda. Penelitian ini bertujuan untuk memperolehsumber dan dosis kalium yang tepat dalam meningkatkan pertumbuhandan produksi tanaman nilam. Kegiatan ini merupakan penelitian lapangyang dilakukan di Kuningan, Jawa Barat, dari bulan Januari sampaiDesember 2009. Percobaan disusun menggunakan rancangan acakkelompok lengkap, 9 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas1) kontrol, 2) dosis KCl 60 kg/ha, 3) dosis KCl 120 kg/ha, 4) dosis KCl180 kg/ha, 5) dosis KCl 240 kg/ha, 6) dosis K 2 SO 4 60 kg/ha, 7) dosisK 2 SO 4 120 kg/ha, 8) dosis K 2 SO 4 180 kg/ha, 9) dosis K 2 SO 4 240 kg/ha.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber dan dosis kalium secaranyata meningkatkan pertumbuhan dan produksi dibandingkan dengankontrol. Pertumbuhan tanaman, produksi terna kering, kadar dan produksiminyak nilam terbaik ditunjukkan oleh perlakuan KCl atau K 2 SO 4 dengandosis 60 kg/ha. Serapan hara N dan P yang tertinggi ditunjukkan olehperlakuan pemberian 60 kg K 2 SO 4 /ha dan serapan hara K tertinggi padaperlakuan 120 kg KCl/ha.Kata kunci : Pogostemon cablin Benth, kalium, sumber, dosis, produksi,patchouli alkoholABSTRACTEffect of potassium sources on application yield andquality of patchouliPatchouli (Pogostemon cablin Benth) is an aromatic plant that haslong been cultivated in Indonesia, however its productivity and quality arestill low due to simple cultivation technology, and the development ofdiseases, such as bacterial wilt disease, budog, and pests caused bynematodes. This study aimed at obtaining sources and dosage of potassiumfertilizers to increase plant growth and oil yield of patchouli. The researchwas conducted in Kuningan, West Java, from May to December 2009 andwas arranged using randomized block design, with 9 treatments and 3replicates. There were 9 treatments consisting of : 1) control, 2) 60 kgKCl/ha, 3) 120 kg KCl/ha, 4) 180 kg KCl/ha, 5) 240 kg KCl/ha, 6) 60 kgK 2 SO 4 /ha, 7) 120 kg K 2 SO 4 /ha, 8) 180 kg K 2 SO 4 /ha, and 9) 240 kgK 2 SO 4 /ha. The research results showed that the sources and dosage ofpotassium fertilizers significantly affected growth, fresh herbal yield andpatchouli oil. The best plant growth, dry herbage yield, content and yieldof patchouli oil were obtained from the treatment of 60 kg/ha of KCl orK 2 SO 4 . The highest N and P uptakes were shown by 60 kg K 2 SO 4 /hatreatment and the highest K nutrient uptake was shown by 120 kg KCl/ha.Key words : Pogostemon cablin Benth, potassium, source, dosage, yield,patchouli olcohol
DINAMIKA POPULASI KUTU TEMPURUNG (Coccus viridis) DAN KUTUDAUN (Aphis gossypii) PADA TIGA VARIETAS KOPI ARABIKA (Coffea Arabica) RISMAYANI RISMAYANI; RUBIYO RUBIYO; MEYNARTI SARI DEWI IBRAHIM
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n4.2013.159-166

Abstract

ABSTRAKSalah satu kendala dalam pembibitan kopi arabika di rumah kaca adalahadanya serangan hama kutu tempurung (Coccus viridis) dan kutudaun(Aphis gossypii) yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangantanaman. Persaingan dalam memanfaatkan unsur hara dan nutrisi yangberada pada jaringan tanaman kopi dapat menyebabkan tanaman yangterserang menjadi lebih parah bahkan tidak jarang menyebabkan kematiantanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika populasikutu tempurung dan kutudaun pada benih kopi arabika varietas SigararUtang, Kartika, dan S795. Penelitian dilakukan di rumah kaca PusatPenelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun), sejak bulanAgustus 2011 sampai Januari 2012. Jumlah benih kopi arabika yangdiamati sebanyak 200 benih yang terdiri dari varietas S795, Sigarar utang,dan Kartika. Pengamatan dilakukan setiap dua minggu sekali sebanyaksepuluh kali pengamatan dengan menghitung populasi serangan hama danmembandingkan frekuensi populasi (perkembangan) kutu tempurung (C.viridis) dan kutudaun (A. gossypii) dengan metode regresi dan uji t. Darihasil pengamatan, ditemukan 2 jenis populasi hama yaitu populasi kututempurung (C. viridis) dan kutudaun (A. gossypii) yang menyerang benihkopi arabika di pembibitan dengan tingkat populasi kutu tempurung (C.viridis) lebih banyak dijumpai dibandingkan dengan populasi kutudaun (A.gossypii) yaitu sebanyak 81,23%. Pada kopi arabika varietas Kartikapaling banyak ditemukan populasi kutu tempurung (C. viridis) dan kutudaun (A. gossypii) dibandingkan dengan varietas Sigarar Utang dan S795.Kopi arabika varietas Kartika memiliki percabangan yang agak lentur danmemiliki ruas yang pendek sehingga kutu tempurung (C.viridis) dankutudaun (A. gossypii) lebih senang berinang pada varietas Kartikadibandingkan varietas Sigarar Utang dan S795, karena lebih mudah untukmemperoleh makanannya dengan mengisap cairan yang ada padapercabangannya. Perkembangan populasi C. viridis membentuk garis lurusselama 5 bulan dengan nilai r masing-masing 0,98 pada varietas SigararUtang; 0,98 pada varietas Kartika; dan 0,99 pada varietas S795.Perkembangan populasi A. gossypii membentuk dua buah garis yangbertemu di satu titik dan sebuah garis lurus dengan nilai r masing-masing0,99 pada Sigarar Utang; 0,98 pada varietas Kartika; dan 0,99 padavarietas S795.Kata kunci: Kopi arabika, dinamika populasi, Aphis gossypii, CoccusviridisABSTRACTOne of the main constraints on the growth of coffee seedlings in thegreenhouse is pests lice green scales (Coccus viridis) and Aphids (Aphidsgossypii) that can inhibit the growth of plants. Competition in utilizingnutrients can cause the attacked plants to become more severe, even someplants to be dead. This study aims to determine the population dynamics ofC. viridis and A. gossypii on arabica coffee seedlings of Sigarar Utang,Kartika, and S795 varieties. The study was conducted in the greenhouse ofIndonesian Center For Estate Crops Research and Development, fromAugust 2011 to January 2012. 200 seedlings of arabica coffee consisting ofS795, Sigarar Utang, and Kartika varieties were planted in polythene bagsin the greenhouse. Observations were made every two weeks for ten timesthe observations by calculating the pest populations and comparepopulation growth of C. viridis and A. gossypii by regression method and ttest. It was found that mite green scale (C. viridis) population were moredominant than the aphids (A. gossypii) population, with a total populationof green scales (C. viridis) as much as 81.23%. Green scales (C. viridis)and aphids (A. gossypii) were found more abundant in the Kartikaseedlings compared to Sigarar Utang and S795 varieties. It is easier for thepests to obtain their food by sucking the liquid inside in the branches. Thegrowth population of C. viridis forming a straight line for 5 months with rvalues respectively, Sigarar Utang is 0,98; Kartika is 0,98; and S795 is0,97. Growth population of A. gossypii forming straight lines with thevalue of r : Sigarar Utang is 0,99; Kartika is 0,98; and S795 is 0,99.Key words: Coffea arabica, population dynamics, Aphis gossypii, Coccusviridis
KETAHANAN Pogostemon cablin DAN Pogostemon heyneanus TERHADAP Synchytrium pogostemonis DONO WAHYUNO; SUKAMTO SUKAMTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.91-97

Abstract

ABSTRAKSynchytrium pogostemonis merupakan jamur penyebab penyakitbudok pada tanaman nilam (Pogostemon cablin) di Indonesia. Synchytriummempunyai kekhususan inang yang tinggi, sehingga penggunaan varietasyang tahan merupakan komponen pengendalian yang efektif. Di Indonesiaterdapat nilam Aceh (Pogostemon cablin) dan nilam Jawa (Pogostemonheyneanus). Nilam Aceh relatif peka terhadap gangguan penyakit. NilamAceh telah dibudidayakan secara luas di Indonesia karena kandunganminyak nilamnya sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahuiketahanan nilam Aceh dan nilam Jawa terhadap serangan S. pogostemonis.Uji ketahanan dilakukan terhadap nilam Aceh terdiri dari tiga varietasLhokseumawe, Sidikalang dan Tapaktuan, sedangkan nilam Jawa hanyasatu varietas yaitu Girilaya. Inokulasi dilakukan dengan menggunakanpotongan bagian tanaman yang telah terinfeksi sebagai sumber inokulum,yang diletakkan di antara tanaman nilam yang diuji. Pengujian dilakukandi laboratorium dengan menggunakan media air, dan di rumah kacadengan menggunakan media tanah (tanah dan kompos perbandingan 1:1)yang telah disterilisasi. Nilam yang digunakan berupa setek pucuk 4 buku,yang ditanam dengan cara membenamkan buku ke-4 ke dalam media, danmeletakkan buku ke-3 di perbatasan antara media dengan udara, sedangbuku dua dan satu ada di permukaan media. Di laboratorium, untukmenahan agar setek tidak tenggelam ke dalam air, digunakan gabus yangtelah dilubangi sebagai penahan. Setek nilam dimasukkan ke dalam lubanggabus, yang selanjutnya diletakkan pada wadah plastik (berdiameter ± 7,5cm, ± 350 ml yang telah berisi air). Inokulum yang digunakan berupapotongan daun dan batang nilam yang terinfeksi S. pogostemonis seberat2 g per wadah yang diletakkan pada bagian tengah gabus di antara setekyang diuji. Satu wadah berisi tujuh setek dan diulang empat wadah untuksetiap varietas nilam yang diuji. Pada percobaan di rumah kaca, setekditanam dalam kotak (30 x 25 cm 2 ). Setek ditanam dalam baris denganjarak ± 5 antar baris dan ± 1 cm di dalam baris. Di dalam satu kotakterdapat 20 setek dan inokulum yang diaplikasikan sebanyak 40 g perkotak. Kotak yang telah berisi tanaman dan inokulum disungkup plastikselama satu bulan untuk menjaga kelembapannya, kemudian dipindahkanke polybag untuk diinkubasi dan diamati gejalanya. Pengamatan dilakukanpada minggu ke-6 setelah inokulasi untuk uji di laboratorium, dan 16minggu untuk uji di rumah kaca. Hasil pengujian menunjukkan, ketigavarietas nilam Aceh peka terhadap S. pogostemonis yang ditunjukkandengan adanya gejala kutil dengan spora berdinding tebal di dalamnyapada permukaan batang nilam Aceh baik pengujian di laboratoriummaupun rumah kaca. Pada nilam Jawa varietas Girilaya tidak ditemukankutil baik pada pengujian di laboratorium maupun di rumah kaca. Kutilberwarna jernih saat masih muda, berukuran kecil dan berubah berwarnagelap pada stadia lebih lanjut. Kutil banyak terlihat pada batang yangberbatasan dengan permukaan air dan tunas-tunas baru yang keluar daripermukaan tanah. Penelitian ini menunjukkan nilam Aceh peka terhadapS. pogostemonis, dan nilam Jawa tahan terhadap S. pogostemonis sehinggadapat digunakan sebagai sumber ketahanan.Kata kunci: Ketahanan, Pogostemon cablin, Pogostemon heyneanus,S. pogostemonisABSTRACTSynchytrium pogostemonis is an obligate soil borne plant pathogenicfungus and causes a disease named “budok” of patchouli in Indonesia.Synchytrium is well known as a genus of highly host specific plantpathogen, therefore developing a resistant variety is considered as aneffective control measure. In Indonesia, there are two types of patchouliplants, i.e. Pogostemon cablin locally known as Nilam Aceh andPogostemon heyneanus known as Nilam Java or wild Nilam. P. cablin iswidely cultivated because it contains highly patchouli alcohol. However, P.cablin is susceptible to the pathogen. The aim of the current research wasto evaluate the resistance of three released patchouli varieties of P. cablinand a wild species of P. heyneanus. The three patchouli varieties testedwere Lhokseumawe, Sidikalang, and Tapak Tuan of P. cablin; whereas thewild variety was Girilaya of P. heyneanus. The test was conducted inlaboratory and green house using infected stem and leaves of patchouli assource of inoculum. Four nodes healthy cuttings of patchouli plant weregrown in plastic pots and boxes containing water and sterilized soil asplanting media, respectively. In the laboratory experiment, the cuttingswere inserted into hollowed sponge then placed on the surface of water inpots (7.5 cm diameter, and ± 350 ml). The source of inoculum (2 g) wasplaced in center of the pots. In the green house experiment, the cuttingswere planted into sterilized soil (mix of soil and compost in 1:1 ratio) inboxes (30 x 25 cm 2 ). The space between two rows of cuttings was 5 cm,and 1 cm within the row. The source of inoculum was placed between tworows of tested cuttings. The tested plants were covered with plastic bag tomaintain its humidity for one month and then transferred into polybagscontaining sterilized soil. Disease symptom and microscopic examinationswere observed at 6 th and 16 th weeks after inoculation for the laboratory andgreen house experiments, respectively. Results indicated that wartscontaining resting spores of S. pogostemonis were found in all varieties ofinoculated P. cablin, but none in the Girilaya variety of P. heyneanus. Thewarts were minutes, hyaline at immature stage, and darker in advancestage developed on the infected plants surface. The warts were mostlyfound at the base stems close to the surface of media, and also on shootsthat emerge from bellow media surface, both at laboratory and green housetests for P. cablin. There were no warts young on young shoots of Girilayavariety of P. heyneanus. The study concluded that P. cablin is highlysusceptible, but P. heyneanus is resistant to the pathogen, therefore it canbe used as resistant gene source.Key words: Resistance, Pogostemon cablin, Pogostemon heyneanus, S.pogostemonis
POTENSI DUA ISOLAT LOKAL Pleurotus sp. SEBAGAI ANTAGONIS TERHADAP Ganoderma sp. ACHMAD ACHMAD; DEKA YULISMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n4.2011.174-178

Abstract

ABSTRAKPleurotus sp. merupakan salah satu jamur yang lebih dikenalsebagai jamur pangan. Selain sebagai jamur pangan, jamur tersebut jugadilaporkan memiliki kemampuan antimikrobial. Dalam penelitian inidipelajari potensi isolat lokal Pleurotus sp. sebagai antagonis terhadapfungi patogen Ganoderma sp. yang merupakan penyebab penyakit pentingpada tanaman perkebunan terutama kelapa sawit. Penelitian dilakukan diLaboratorium Penyakit Hutan Fakultas Kehutanan IPB dari bulan Julisampai dengan Oktober 2004. Penelitian menggunakan dua isolat lokalPleurotus sp.1 dan Pleurotus sp.4 yang merupakan koleksi LaboratoriumPenyakit Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Inokulum Ganoderma sp.diperoleh dengan mengisolasi langsung tubuh buah dari tegakan mahoniyang tumbuh di samping Laboratorium Penyakit Hutan. Uji antagonismein vitro dilakukan dengan metode oposisi langsung dalam cawan petriberdiameter 9 cm. Peubah yang diamati adalah jari-jari koloni patogenyang tumbuh ke arah antagonis dan terdapat atau tidaknya zonapenghambatan pada batas kedua koloni jamur. Analisis data dilakukandengan uji-t berpasangan untuk perlakuan yang relevan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa keberadaan kedua isolat antagonis mampu memper-lambat pertumbuhan menjari Ganoderma sp. Zona penghambatanterbentuk hanya pada antagonisme Ganoderma sp. dengan Pleurotus sp.4tetapi tidak pada antagonisme dengan Pleurotus sp.1. Hal tersebutmenunjukkan perbedaan mekanisme antagonisme pada kedua isolat.Kata kunci: Pleurotus ostreatus, Ganoderma sp., antagonisme, antibiosisABSTRACTThe Antagonistic Potentid of Two Local Isolates ofPleurotus sp. against Ganoderma sp.Pleurotus sp. is mushrooms which is more famous as a foodfungus. Aside from being a food, this fungus is also reported to haveantimicrobial capabilities. This research studied the potential of localisolates Pleurotus sp. as antagonists to pathogenic fungi Ganodermasp. Research conducted at the Laboratory of Forest Disease, Faculty ofForestry IPB, from July to October 2004. The study used two local isolatesPleurotus sp.1 and Pleurotus sp.4 which were collectioned from ForestDisease Laboratory of the Faculty of Forestry, IPB. Ganodermasp. inoculum was obtained directly by isolating the fruit body on themahogany stands growing beside the Forest Disease Laboratory.Antagonism in vitro test was conducted using direct opposition in the petridish, 9 cm in diameter. Variables measured were the radius of pathogencolonies which grew in the direction to antagonist colony, and the presenceor absence of inhibition zone at the border of both fungal colonies. Thedata were analyzed with paired t-test for the relevant treatment. The resultsshowed that the existence of two antagonistic isolates were able to inhibitthe growth of Ganoderma sp. Inhibition zone was formed only on theantagonism of Ganoderma sp. with Pleurotus sp.4 but not in antagonismwith Pleurotus sp.1. This shows the mechanism difference of antagonismon both isolates.Key words: Pleurotus ostreatus, Ganoderma sp., antagonism, antibiosis
RATIO OPTIMUM GALUR MANDUL JANTAN (A line) DAN GALUR PEMULIH KESUBURAN (R line) PADA PRODUKSI BENIH HIBRIDA KAPAS SIWI SUMARTINI; ABDURRAKHMAN ABDURRAKHMAN; M. MACHFUD; E. SULISTYOWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n2.2013.51-57

Abstract

ABSTRAKTeknologi kapas hibrida merupakan salah satu upaya untukmeningkatkan produksi kapas nasional. Sampai saat ini belum tersediavarietas kapas hibrida nasional untuk program pengembangan kapasnasional. Penelitian ini bertujuan mengetahui ratio galur (A line) manduljantan dan galur pemulih kesuburan (R line) yang optimum untukmenghasilkan benih hibrida kapas paling tinggi dengan cara persilanganalami. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pasirian-Lumajang,Jawa Timur mulai Januari sampai Desember 2011. Percobaan ini terdiridari satu pembanding T1 dengan penyerbukan manual dan 5 perbandinganratio (A line : R line) yang berbeda, yaitu T2 (3:2), T3 (4:2), T4 (5:2), T5(6:2), dan T6 (7:2) dengan penyerbukan alami. Perlakuan disusun dalamRancangan Acak Kelompok (RAK) diulang 3 kali dengan luas petakmasing-masing perlakuan 25 m x 5 m. Benih kapas ditanam dengan jarak125 cm x 25 cm. Pupuk yang diberikan sebanyak 300 kg pupuk majemuk(15 N:15 P 2 O 5 :15 K 2 O) dan 100 kg pupuk Urea/ha. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa perlakuan penyerbukan manual (T1) menghasilkankapas berbiji sebanyak 1023 kg/ha, nyata paling tinggi dibandingkanperlakuan dengan penyerbukan alami. Terdapat korelasi positif yangsangat nyata antara hasil kapas berbiji dengan jumlah populasi (r =0.75967). Hasil kapas berbiji tidak berbeda pada perlakuan T2 sampai T6yang bervariasi antara 377- 452 kg kapas berbiji/ha, dengan efisiensipenyerbukan alami sebesar 37–45%. Untuk produksi benih hibrida denganpersilangan alami dapat digunakan ratio 7 baris tetua betina dan 2 baristetua jantan (perlakuan T6). Harga benih hibrida kapas yang dihasilkandengan cara penyerbukan alami sebesar Rp. 98.571,-/kg sedangkan dengancara penyerbukan manual sebesar Rp. 101.826,-/kg.Kata kunci: Gossypium hirsutum, mandul jantan, pemulih kesuburan,penyerbukan manual, penyerbukan alamiABSTRACTHybrid cotton technology is an attempt to increase the nationalcotton production. Hybrid cotton varieties is not yet available for thenational cotton development program. This study was aimed atdetermining optimum ratio of male sterile lines (A line) and restorers (Rline) lines for producing high hybrid cotton seed yield. The experimentwas conducted in the Experimental Garden Pasirian-Lumajang, East Javafrom January to December 2011. This experiment consisted of T1 withmanual pollination (control), and 5 different ratios (A line : R line) withnatural pollination namely T2 (3:2), T3 (4:2), T4 (5:2 ), T5 (6:2) and T6(7:2). Treatments were arranged in a randomized block design (RBD) with3 replications, plot size was 25 m x 5 m of each. Seeds were sown witha distance of 125 cm x 25 cm. Fertilizers given were 300 kg of compoundfertilizer (15 N: 15 P 2 O 5 : 15 K 2 O) and 100 kg Urea /ha. From this researchit was found out that the T1 treatment by manual pollination produced asmuch 1023 kg seed cotton yield / ha, was the highest compared to naturalpollination treatments. There was high correlation between seed cottonyield and plant population (r = 0.75967). Seed cotton yield of T2 to T6treatments was not significantly different, which varies between 377-452kg/ha, with natural pollination efficiency of 37-45%. Therefore, for cottonhybrid seed production based male sterility by natural crossing, 7 rows offemale lines and 2 rows of male lines ratio (treatment T6) can be used.Price of cotton hybrid seed by natural pollination as much as Rp. 98,571, -/kg while by manual pollination as much as Rp. 101, 826, - /kg.Key words: Gossypium hirsutum, male sterile, restorer, manual pollination,natural pollination
KERAGAMAN GENETIK KELAPA DALAM BALI (DBI) DAN DALAM SAWARNA (DSA) BERDASARKAN PENANDA RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHIC DNA (RAPD) S. PANDIN, DONATA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n2.2010.83-89

Abstract

ABSTRACTKeragaman genetik dan hubungan kekerabatan dalam populasikelapa Dalam Bali (DBI) dan Dalam Sawarna (DSA) dianalisismenggunakan penanda RAPD. Penelitian dilaksanakan di LaboratoriumBiologi Tumbuhan, Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati danBioteknologi, Institut Pertanian Bogor pada Februari-Mei 2007. Bahanyang digunakan dalam penelitian sebanyak 10 individu dari masing-masing populasi. Primer acak digunakan dalam analisis terdiri atas 10primer -10 mer yaitu OPA-02, OPA-08, OPA-10, OPA-13, OPA-20,OPB-08, OPB-11, OPB-12, OPB-15, OPB-20. DNA diekstraksimenggunakan metode Rohde yang telah dimodifikasi, konsentrasiditetapkan menggunakan metode Sambrook. Untuk melihat tingkatkekerabatan antar individu berdasarkan pola pita RAPD dari setiap primerdigunakan program NTsys ver. 2,0 (Program Numerical Taxonomy andMultivariate Analysis), sedangkan untuk analisis gerombol digunakanmetode UPGMA untuk membuat dendogram. Koefisien keragaman antarindividu dalam populasi kelapa DBI berkisar antara 2,4% – 30,7% denganrata-rata 21,7%, dan untuk populasi kelapa DSA antara 1,5% – 22,4%dengan rata-rata 12,7%. Jarak genetik individu-individu dalam populasikelapa Dalam Bali (DBI) cukup jauh menunjukkan bahwa keragamangenetik dalam populasi Dalam Bali masih tinggi, sehingga seleksi untukmaksud perbaikan sifat masih sangat memungkinkan. Pada populasikelapa Dalam Sawarna (DSA) jarak genetik individu-individu dalam sudahsemakin sempit, artinya keanekaragaman genetik antar individu di dalampopulasi DSA sudah sangat rendah oleh karena itu seleksi untuk maksudperbaikan sifat harus dilakukan dengan selektif. Hubungan kekerabatanantar populasi kelapa Dalam Bali dan Dalam Sawarna sebesar 44% artinyajarak genetik kedua populasi ini cukup jauh yaitu 56%. Sehingga jikaindividu-individu terseleksi dari kedua populasi tersebut disilangkan, akandiperoleh keturunan yang memilikinilai heterosis tinggi.Kata kunci: Kelapa Dalam Bali, kelapa Dalam Sawarna, keragamangenetik, hubungan kekerabatan, RAPDABSTRACTGenetic Diversity of Bali Tall (DBI) and Sawarna Tall(DSA) Coconuts Based  on  Random  AmplifiedPolymorphic DNA (RAPD)Genetic Diversity of Bali Tall (DBI) and Sawarna Tall (DSA)coconuts based on Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) wasobserved. Ten plants were used in each population. The objectives of thisresearch were to determine genetic diversity within-and inter-population ofBali Tall (DBI) and Sawarna Tall (DSA) coconuts, and geneticrelationship of those population based on RAPD (Random AmplifiedPolymorphic DNA). Research was done in Plant Biology Laboratory ofCenter Research of Genetic Resources and Biotechnology, InstitutPertanian Bogor, February – May 2007. DNA extraction was done bymodified Rohde method and to determine the concentration and quality ofDNA by Sambrook method. Ten RAPD 10-mer were used namely OPA-02, OPA-08, OPA-10, OPA-13, OPA-20, OPB-08, OPB-11, OPB-12,OPB-15, OPB-20. To find out the level of genetic relationship betweenindividuals based on RAPD banding pattern of each primer, we usedNTsys program ver. 2.0 (program Numerical Taxonomy and MultivariateAnalysis System), whereas for the analysis of clustering UPGMA methodis used to create a dendogram. These ten RAPD primers could separateDBI and DSA in each group. Genetic diversity within-population of BaliTall coconut population varied from 2.4 to 30.7% with average of 21.7%.So that, opportunity to improve characters in DBI coconut populationcould be done by selection. Genetic diversity within-population ofSawarna Tall coconut population progressively was narrow, ranging from1.5 to 12.4% with average 12.7%, so the selection in order to do characterimprovement in this population could be done selectively. Geneticrelationship between DBI dan DSA populations was far enough (54%), sothe crossing between those population will be good for charactersimprovment.Key words : Bali Tall coconut, Sawarna Tall coconut, genetic diversity,genetic relationship, RAPD
Correlation Between Phonska Fertilizer on Rice Field and Cl Content of Tobacco in Jombang, East Java MOCHAMMAD SHOLEH; DJAJADI DJAJADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n4.2015.153-160

Abstract

ABSTRACTHigh Cl content of tobacco might have negative effect on quality. The study tried to find out correlation between added Phonska fertilizer to rice planted before tobacco on tobacco Cl content. The objective was to determine the effect of added Phonska (10.8% Cl) to rice planted before tobacco on tobacco Cl content and quality. The study was carried out in the area of tobacco in five districts of Jombang, East Java Province from May to November 2012. Collecting data was done using survey method to the tobacco farmers and soil and tobacco samples were collecting from 100 points which were distributed in five districts based on land use map. The results showed that the most tobacco farmers (67%) added Phonska to the rice planted before tobacco. Addition of Phonska each year had caused accumulation of Cl in soil with high level >2% (90%). Based on analysis of variance it was known that tobacco Cl content was strongly influenced by Phonska addition to rice planted before tobacco plants (PPP) and soil Cl content, but not influenced by Phonska as starter to tobacco plants (PPT). The corelation was expressed by equation: leaf Cl = 0.4266 x exponential ((0.367 PPP*) - (0.314 PPT) + (0.388 soil Cl*))*.Keywords: Nicotiana tabacum L., quality, Phonska fertilizers, Cl HUBUNGAN ANTARA PUPUK PHONSKA PADA PADI DAN KADAR Cl TEMBAKAU DI JOMBANG, JAWA TIMURABSTRAKTingginya kadar Cl dalam daun tembakau adalah salah satu penyebab rendahnya mutu tembakau. Cl tembakau bisa berasal dari pemupukan seperti Phonska (10,8% Cl) atau dari tanah. Penelitian observasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk Phonska (10,8% Cl) pada padi terhadap mutu dan kadar Cl tembakau yang ditanam setelah padi. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada areal penghasil tembakau di lima kecamatan Kabupaten Jombang mulai bulan Mei sampai Nopember 2012. Survei pendahuluan untuk penentuan 100 satuan titik lokasi dilakukan secara proporsional yaitu berdasarkan prosentase terhadap luas areal tanaman tembakau dan mewakili bekas lahan padi yang tidak dipupuk dan yang dipupuk Phonska dari lima kecamatan berdasarkan peta penggunaan lahan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei, yaitu wawancara petani tembakau tentang penggunaan pupuk phonska pada padi dan tembakau, pengambilan sampel tanah dan daun tembakau. Penilaian mutu/harga tembakau oleh grader pabrik rokok. Sampel tanah dan daun tembakau dianalisis kadar Cl di Laboratorium Mutu Hasil Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat. Data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif yaitu klasifikasi berdasarkan persentase kejadian. Untuk  mengetahui hubungan atau pengaruh antar variabel dilakukan analisis regresi menggunakan program SPSS. Dari hasil survei diketahui bahwasebagian besar petani (67%) menggunakan pupuk Phonska untuk tanaman padi sebelum tembakau dan akumulasi Cl tanah tergolong tinggi >2% (90%). Dari hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa kadar Cl daun tembakau sangat dipengaruhi oleh pemupukan Phonska pada padi sebelum tanaman tembakau (PPP) dan kadar Cl tanah, tetapi tidak dipengaruhi oleh pemupukan Phonska pada Tembakau (PPT) sebagai starter. Hubungan pemupukan Phonska,  Cl tanah, dan Cl daun tembakau tersebut diekspresikan dengan model persamaan : Cl daun = 0,4266 x exponensial ((0,367 PPP*) – (0,314 PPT) + (0,388 Cl tanah*))*.Kata kunci : Nicotiana tabacum L., mutu, pupuk Phonska, Cl
PENDUGAAN DAYA GABUNG DAN HETEROSIS KETAHANAN TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) RUBIYO RUBIYO; TRIKOESOEMANINGTYAS TRIKOESOEMANINGTYAS; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n3.2011.124-131

Abstract

ABSTRAKKlon kakao unggul berdaya hasil dan bermutu hasil tinggi sertaresisten terhadap penyakit utama perlu dikembangkan melalui pemuliaantanaman dan tersedianya informasi tentang parameter genetik diharapkandapat membantu memecahkan masalah tersebut. Pendugaan parametergenetik dapat dilakukan dengan analisis persilang dialel. Penelitianbertujuan untuk menduga parameter genetik ketahanan tanaman kakaoterhadap infeksi P. palmivora, menggunakan analisis persilangan setengahdialel. Bahan tanaman terdiri atas lima klon kakao (ICCRI 3, TSH 858,DR 1, ICS 13 dan Sca 6) yang tergolong rentan hingga tahan terhadapinfeksi P. palmivora yang digunakan sebagai tetua dan 10 galur hibrida F1hasil persilangan antar lima klon. Penelitian dilaksanakan di KebunPercobaan Kaliwining Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia,Jember, Jawa Timur dari tahun 2008 hingga 2009. Untuk setiap kombinasipersilangan dievaluasi 20 bibit dan diulang tiga kali. Untuk mengetahuirespon bibit hibrida F1 terhadap infeksi P. palmivora, daunnya diinokulasidengan inokulum zoospora dan disungkup dengan plastik untuk menjagakelembapannya (>90%). Pengamatan luas bercak akibat infeksi P.palmivora dilakukan enam hari setelah inokulasi dan digunakan untukmenghitung intensitas penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwakakao klon DR 1, ICS 13, dan ICCRI 3 mempunyai DGU yang palingtinggi dibandingkan dengan tetua lainnya. Selanjutnya, persilangan antarklon kakao DR 1 x ICS 13, dan TSH 858 x Sca 6 mempunyai DGKtertinggi sehingga kombinasi persilangan ini berpeluang untuk menjadipenghasil hibrida baru yang resisten terhadap P. palmivora. Kombinasipersilangan yang menunjukkan nilai heterosis tertinggi adalah DR1 x ICS13, DR1 x Sca 6, dan ICS 13 x Sca 6.Kata kunci: Heterosis, hibrida F1, DGU, DGK, intensitas penyakitABSTRACTEstimation of Heterosis and Combining Ability forResistance Against Black Pod Disease (Phytophthorapalmivora) in Cacao (Theobroma cacao L.)High yielding and disease resistance of cacao clone needs to bedeveloped through breeding program. Availability of genetic parametersfor various agronomic importance characters in cacao would be veryuseful and beneficial for cacao breeding activities. Estimation of variousgenetic parameters could be done by analyzing F1 arrays generated fromsemi-diallele crosses among a number of parents. The objectives of thisresearch were to estimate genetic parameters for resistance against P.palmivora infection in cacao using F1 arrays generated from semi-diallelecrosses among five cacao clones. Five cacao clones (DR 1, TSH 858, ICS13, ICCRI 3, and Sca 6), representing an arrays of clones with increasedresistance against P. palmivora infection, were used as parents to generate10 F1 hybrid arrays. This research was conducted at KaliwiningExperimental Station, Indonesian Coffee and Cacao Research Institute,Jember, Indonesia, during the period of 2008 to 2009. At most 20seedlings were evaluated for each F1 hybrid and the evaluation wasreplicated three times. To evaluate the response of the seedlings against P.palmivora infection, their leaves were inoculated with zoospore of P.palmivora. Relative humidity around inoculated leaves was maintained at>90% by wrapping them with plastic bag. The sizes of leaf necroseresponse due to P. palmivora infection were observed during six days afterinoculation and the disease intensity was calculated based on this recordedsymptoms. Results of the experiments indicated that cacao clones (DR 1,ICS 13, and ICCRI 3) were the highest in general combining ability(GCA) for resistance character than the other two clones. Moreover, F1hybrid originated from crosses between DR 1 x ICS 13, and TSH 858 xSca 6 were the highest in specific combining ability (SCA) for resistancecharacter. Therefore, this combination crosses might be used to developenew hybrid combinations resistance against P. palmivora infection.Combination crosses showing highest heterotic value for resistance againstP. palmivora infection were DR 1 x ICS 13, DR1 x Sca 6, and ICS 13 xSca 6.Key words : Heterotic effects, F1 hybrid array, GCA, SCA, diseaseintensity
SAFETY AND EFFICIENCY OF XYLEM WATER TRANSPORT IN TWO CASHEW (Anacardium occidentale L.) STRAINS AT THE SEEDLING STAGE PITONO, JOKO; MAKOTO, TSUDA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n4.2012.156-161

Abstract

ABSTRACTAs cashew trees are grown by transplanting seedlings, the seedlingoften suffers from drought damaged due to prolonged dry season. Previousstudy found that the ability to maintain water transport in xylem related todrought resistant character. To determine whether there was trade-offbetween the ability to maintain water transport in xylem and an efficiencyof water transport, differences in xylem vulnerability to dysfunction,hydraulic conductance, and the relationship to xylem vessel diameter wereexamined in two cashew strains. The xylem vulnerability to dysfunctionwas evaluated by the applied pressure which induced 50% loss of stemhydraulic conductivity (P 50 ). The hydraulic conductance on root, stem, andleaf were determined with High Pressure Flow Meter (HPFM). Variationsin the P 50 values were found between A3-1 and Pangkep, whereas thevalues were 1.75 and 0.50 MPa, respectively. However, since there was nodifference in the hydraulic conductance and the vessel diameter, the trade-off between the ability to maintain water transport in xylem and anefficiency of water transport did not occur in cashew. It was suggested thatgood combination of efficiency and safety of water transport enables A3-1to strongly uptake soil water either in dry or wet season resulting in goodadaptation to drought prone environment, and the P 50 value would besuitable parameter for evaluating drought tolerance of cashew at theseedling stage.Key words: cashew strain, vessel, xylem dysfunction, hydraulicconductance, droughtABSTRAKPengembangan jambu mete secara transplanting sering diikuticekaman kekeringan pada bibit akibat musim kering yang berkepanjangan.Studi awal memperlihatkan bahwa kemampuan xylem mempertahankanfungsi transportasi air merupakan karakter pertahanan penting terhadapcekaman kekeringan. Untuk mengetahui apakah terjadi kompensasi antarakemampuan pertahanan fungsi xylem dan tingkat efisiensi transportasiairnya dilakukan pengujian pada aspek kepekaan fungsi xylem, hantaranhidraulik, dan ukuran vesselnya. Kepekaan fungsi xylem ditentukan darinilai tekanan udara yang menyebabkan kehilangan 50% hydraulicconductance (P 50 ). Nilai hydraulic conductance pada akar, batang, dandaun ditentukan dengan menggunakan metode High Pressure Flow Meter(HPFM). Hasil pengujian menunjukkan terdapat perbedaan nilai P 50diantara dua strain jambu mete yang diuji, yakni secara berturut-turut 1,75dan 0,50 MPa pada strain A3-1 dan Pangkep. Karena tidak disertaiperbedaan pada hydraulic conductance dan ukuran vesselnya, makadisimpulkan tidak ditemukan nilai adanya mekanisme kompensasi antarakemampuan pertahanan fungsi xylem dan tingkat efisiensi pengangkutanair. Hal ini memungkinkan A3-1 tetap dapat menyerap air tanah secaracukup, baik pada musim kering maupun musim basah, dan mampuberadaptasi dengan baik di daerah rawan kekeringan. Dan nilai P 50 dapatdijadikan sebagai parameter representatif untuk evaluasi toleransi bibitjambu mete terhadap cekaman kekeringan.Kata kunci:  strain jambu mete, vessel, fungsi xylem, hydraulicconductance, cekaman kekeringan
PENGARUH PERENDAMAN TERHADAP VIABILITAS BENIH TEMBAKAU (Nicotiana tabacum L.) SUMARTINI, SIWI; MULYANI, SRI; ROCHMAN, FATHKUR
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n2.2014.87-92

Abstract

ABSTRAKPermasalahan dalam pengembangan tembakau rakyat adalah dayaberkecambah benih yang rendah. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh perendaman benih terhadap daya berkecambahbenih tembakau (Nicotiana tabacum L.). Penelitian dilaksanakan dilaboratorium Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada bulan Meisampai dengan Juli 2013. Perlakuan disusun dalam rancangan petakterbagi dan diulang empat kali. Sebagai petak utama adalah tujuh varietastembakau lokal, yaitu V1 = Kemloko1; V2 = Kemloko2; V3 = Kemloko3;V4 = Kasturi1; V5 = Kasturi2; V6 = Grompol Jatim1; dan V7 =Bojonegoro1. Sebagai anak petak adalah: R1 = Tanpa perendaman(kontrol); R2 = perendaman selama satu jam dalam air; R3 = perendamanselama satu jam dalam larutan KNO 3  (0,1%), dan R4 = perendamanselama satu jam dalam larutan KNO 3 (0,2%). Setelah perlakuanperendaman, benih tembakau dikecambahkan menggunakan metode Uji diAtas Kertas. Pada setiap ulangan, sebanyak 100 benih tembakaudikecambahkan pada media kertas merang yang diletakkan di dalampetridish berdiameter 9 cm. Perkecambahan dilakukan di dalamgerminator tipe IPB dengan suhu 23 o C dan kelembaban nisbi 87-93%.Parameter yang diamati adalah daya berkecambah, panjang kecambah,panjang akar kecambah, dan indeks vigor kecambah. Perendaman benihtembakau menggunakan air, larutan KNO 3 0,1% dan larutan KNO 3 0,2%selama satu jam sebelum benih disemaikan, dapat meningkatkan dayaberkecambah dan panjang kecambah varietas Kemloko1 dan GrompolJatim1. Perlakuan perendaman benih dengan air berpengaruh positif padavarietas Kemloko1 yang ditunjukkan dengan daya berkecambah tertinggi,sedangkan perendaman dengan larutan KNO 3 0,2% berpengaruh negatifpada varietas Bojonegoro1 yang ditunjukkan dengan daya berkecambahpaling rendah. Perlakuan perendaman dengan air maupun larutan KNO 3(0,1% dan 0,2%) menunjukkan pengaruh yang berbeda-beda terhadapparameter daya berkecambah, panjang kecambah, panjang akar kecambah,dan indeks vigor kecambah pada semua varietas tembakau yang diuji.Kata kunci: Nicotiana tabacum L., perendaman, KNO 3 , viabilitas benihABSTRACTLow germinability of seeds is one of major problems in tobaccodevelopment. The aim of this study was to determine the effect of primingon tobacco (Nicotiana tabacum L.) seed viability. The research wasconducted in the laboratory of the Indonesian Sweeteners and Fiber CropsResearch Institute during May to July 2013. The treatments were arrangedin a split plot design with four times of replication. The main plots wereseven tobacco varieties namely V1 = Kemloko1; V2 = Kemloko2; V3 =Kemloko3; V4 = Kasturi1; V5 = Kasturi2; V6 = Grompol Jatim1; and V7= Bojonegoro1. The subplots were priming seeds for one hour namely R1= without priming (control); R2 = priming for one hour on water; R3 =priming for one hour on KNO 3  (0,1%) solution, and R4 = priming for onehour on KNO 3 (0,2%) solution. After priming, seeds were germinated usingthe Upper Paper Test method. A hundred of seeds were sown on strawpaper media in a petridish diameter 9 cm of each replication. Parametersmeasured were germination percentage, shoot and root length, andseedling vigor index. Priming tobacco seed with water or KNO 3  (0.1 and0.2%) solution for one hour before seeds were germinated significantlyimproved germination percentage and shoot length of Kemloko1 andGrompol Jatim1 varieties. Priming tobacco seed with water had positiveeffect on Kemloko1 variety which resulted the highest germinationpercentage but had adversely effect on Bojonegoro1 variety which resultedthe lowest germination percentage. Priming tobacco seeds with water orKNO 3 (0.1 and 0.2%) solution resulted different effect on germinationpercentage, shoot and root length, and seedling vigor index parameters forall tobacco varieties were observed.Key words: Nicotiana tabacum L., priming, KNO 3 , seed viability

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue