cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
KARAKTERISTIK MINYAK DAN ISOLASI TRIMIRISTIN BIJI PALA PAPUA (Myristica argentea) M A’MUN, M A’MUN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n2.2013.72-77

Abstract

ABSTRAKMinyak pala yang dihasilkan dari penyulingan biji palamerupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Di Kabupaten FakfakPapua, komoditas pala dikembangkan dari jenis Myristica argentea. Jenispala ini dapat menghasilkan minyak, namun karakteristik minyaknyabelum banyak diketahui. Biji pala (terutama biji yang tua) jugamengandung lemak yang memiliki komponen utama trigliserida-trimiristin yang banyak digunakan dalam industri kosmetik dan industrioleo chemical sebagai substitusi lemak pangan, maupun dalam industripelumas. Kandungan trimiristin dalam lemak pala jauh lebih tinggidibandingkan dengan minyak kelapa, minyak inti sawit, dan minyakbabassu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik minyak palaPapua dan mengetahui rendemen lemak trimiristin dari bijinya. Penelitiandilakukan pada bulan Januari - Mei 2010 di Laboratorium Pengujian BalaiPenelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Biji pala yang digunakansebagai bahan penelitian ini diambil langsung dari tujuh pohon yangterdapat di kebun wilayah Air Besar, Kabupaten Fakfak, Papua. Minyakdisuling dengan cara destilasi uap. Minyak yang dihasilkan dianalisissesuai dengan Standar Internasional (ISO, 2002), yang meliputi sifat fisikakimia (berat jenis, indeks bias, putaran optik, kelarutan dalam etanol, sisapenguapan, dan komposisi komponen kimia). Identifikasi komponen-komponen kimia utama dalam minyak pala dianalisis menggunakanmetode kromatografi gas. Lemak trimiristin diisolasi dari biji (metodeekstraksi dengan pelarut organik) dan analisis kandungan trimiristin(metode kromatografi gas). Hasil penelitian menunjukkan bahwarendemen minyak pala Papua sangat rendah yaitu 3,11%. Karakteristikfisika kimia minyak tidak sesuai dengan Standar Internasional. Biji palaPapua mengandung trimiristin, dengan rendemen rata-rata 79,50% (daritotal lemak pala) dan tingkat kemurnian rata-rata 99,20%. Dengandemikian, biji pala Papua dapat berperan sebagai sumber trimiristin yangmempunyai nilai ekonomi tinggi.Kata kunci : pala Papua, Myristica argentea, minyak pala, lemak pala,trimiristinABSTRACTNutmeg oils produced by the distillation of nutmeg seed is oneof Indonesia's export commodities. In Fakfak Regency of Papua, nutmegMyristica argentea type is well developed. The type of nutmeg is good oilproducer, however its characteristics has not been known. Nutmeg seed(especially the mature one) also contain fats with triglyceride-trimyristinas main components, which is widely used in the cosmetics industry andoleo-chemical industry as a substitute of fatty food, as well as in industriallubricants. The trimyristin content of nutmeg fat is much higher than thatof coconut oil, palm kernel oil and babassu oil. This study aimed atexamining the oil characteristics and trimyristin content of Papua nutmegseed. The experiment was conducted from January to May 2010 in theTesting Laboratory of the Research Institute for Spices and MedicinalPlants in Bogor. Nutmeg seed which was used as research material, wastaken directly from the 7 trees located in a certain nutmeg garden, at thearea of the Air Besar District, Fakfak, Papua. Oil was distilled by steamdistillation. The oil was then analyzed its physico-chemical characteristics(specific gravity, refractive index, optical rotation, solubility in ethanol,residue evaporation and chemical components). The main chemicalcomponents of nutmeg oil were analyzed using the gas chromatographymethod. Fat trimyristin isolated from the seeds (through organic solventsextraction) and the content was analyzed (gas chromatography method).The results showed that the yield of Papua nutmeg oil is very low (3.11%).Its physico-chemical characteristics of the oil did not match theInternational Standards. It is also observed that Papua nutmeg containstrimyristin, with the average yield of 79.50%, and average purity level of99.20%. Papua nutmeg, therefore, is a potential source of trimyristin, aproduct with high economic value.Key words: Papua nutmeg, Myristica argentea, oil, fat, trimyristin
PENGARUH KOLKHISIN TERHADAP PENAMPILAN LADA P p er nigrum L.) MUTAN DAN ANALISIS PLOIDI NATALINI NOVA KRISTINA; SITTI FATIMAH SYAHID
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n3.2015.125-130

Abstract

ABSTRAKKeragaman genetik plasma nutfah lada (Piper nigrum) di Indonesia rendah  sehingga  perlu  dilakukan  peningkatan  keragaman.  Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Balittro Bogor mulai Januari 2012 sampai Juni 2013. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan keragaman genetik lada varietas Petaling 1 menggunakan mutagen kimia kolkhisin. Biji lada direndam dalam larutan kolkhisin konsentrasi 0; 0,01; 0,03; dan 0,05% selama 4 jam dan disemai pada bak pasir. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali  dan  setiap ulangan  terdiri atas 300 biji.  Pengamatan dilakukan  terhadap  persentase  perkecambahan  dan  fenotipe  tanaman, persentase tumbuh, tinggi tanaman, serta jumlah ruas dan daun pada umur dua bulan. Selanjutnya, sebanyak 20 individu dari total benih yang tumbuh dipilih berdasarkan rata rata penggabungan dari tanaman terpendek dan tertinggi. Individu terpilih diamati tinggi tanaman serta jumlah ruas dan daun pada umur empat bulan. Untuk melihat ragam genetik dilakukan analisis kandungan DNA dengan flowcytometry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kolkhisin 0,01 dan 0,05% menghasilkan persentase perkecambahan benih di persemaian lebih tinggi. Pada lada mutan  vegetatif generasi  ke-0,  perubahan  morfologi  terindikasi  pada konsentrasi 0,03%.  Pada  generasi  mutan hasil  perbanyakan/turunan vegetatif pertama  perubahan  morfologi  pada  tanaman terjadi  pada perlakuan 0,05%. Namun, tidak ada perbedaan yang nyata pada tingkat ploidi lada pada semua perlakuan termasuk kontrol.Kata kunci:  Piper nigrum L., ragam genetik, mutan, kolkhisin, fenotip ABSTRACTEffect of Colchicine on the Phenothypic Performance of Pepper (Piper nigrum L.) Mutant and Ploidy analysisGenetic variability of pepper (Piper nigrum) in Indonesia was low, so it was needed to increase its variability. Research was conducted at the green house of Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute, Bogor from January 2012 to June 2013. The aim of the research was to increase the genetic variability of pepper (Petaling 1) using chemical mutagen colchicine. Seeds of pepper were soaked in colchicine solution with several concentration (0; 0,01; 0,03; and 0,05%) for four hours, and then germinated on sand media. Every treatment consisted of 300 seeds and replicated three times. The parameter observed were germination percentage, plant phenotype, growth percentage, plant hight, number of node and leaves two months after planting. Further, from total seedling growth, 20 individual were selected based on average combined from highest and shortest plant. The selected individual observed their plant height, number of node and leaves on four months. Flowcytometri analysis from  the  selected  seedling  was  conducted to  find  interplant  genetic variabilities. The result showed that application of colchicin 0,01 and 0,05% performed the fast germination on the nursery compared with control, but no significant differencet on the growth parameters. In the mutant generation 0, the changes on morphology showed on 0,03% and at the first vegetative generation, the changes were indicated in plants from  0,05%  of  colchicine  treatment.  Flowcytometri  analysis  showed  no  significant differences on ploidi level of all treatments including control.Keywords:   Piper   nigrum,   genetic   variability,   mutant,  cholchicin, phenotype
PENGARUH PENGAIRAN TERHADAP PRODUKSI DAN KANDUNGAN MINYAK BIJI TIGA PROVENAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) PRIMA DIARINI RIAJAYA; BUDI HARIYONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n2.2011.67-76

Abstract

ABSTRAKPenelitian lapang dilakukan di Kebun Percobaan Balai PenelitianTanaman Tembakau dan Serat di Muktiharjo, Pati dengan tekstur tanah liatberdebu mulai tahun 2007 sampai 2009. Penelitian bertujuan untukmengetahui respon pengairan terhadap produksi dan kadar minyak bijijarak pagar. Jarak pagar ditanam pada bulan Februari 2007. Percobaanmenggunakan rancangan petak berjalur dengan tiga ulangan yang terdiridari dua faktor, yaitu faktor pertama : provenan IP-1A, IP-1M, dan IP-1P,dan faktor kedua yaitu kriteria pengairan : kontrol (tanpa pengairan),pengairan saat kandungan air tanah mencapai 35, 50, dan 65%. Pengairandiberikan selama musim kemarau. Pemangkasan pertama dilakukan padatahun II yaitu awal musim hujan (September 2008). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tambahan pengairan hanya diperlukan pada tahunpertama. Produksi biji jarak pagar tidak dipengaruhi oleh irigasi mulaitahun II sehingga tanaman jarak pagar tidak memerlukan tambahanpengairan selama musim kemarau dan dapat beradaptasi pada berbagaiketersediaan air tanah terutama pada daerah dengan curah hujan tahunan1.200-1.500 mm. Produksi biji IP-1P pada tahun I mencapai 258,7 kg/halebih tinggi dibanding IP-1A yaitu 148,11 kg/ha bila diairi saat kandunganair tanah 65%. Bila tidak diairi atau pengairan terbatas, produksi biji IP-1Adan IP-1P akan menurun masing-masing 37-59 dan 17-31%. Pada berbagaiperlakuan pengairan pada tahun II dan III, kisaran produksi biji 842-975dan 818-966 kg/ha. Pada tahun II, tanaman IP-1P menghasilkan produksibiji tertinggi (1.369 kg/ha) dibanding IP-1A (737 kg/ha) dan IP-1M (631kg/ha). Selanjutnya pada tahun III, produksi biji IP-1P (1.268 kg/ha) tetaplebih unggul dibanding IP-1A (902 kg/ha) dan IP-1M (416 kg/ha).Keunggulan IP-1P dibanding provenan lainnya adalah kemampuannyayang lebih tinggi dalam membentuk cabang produktif dan buah. Tambahanpengairan selama musim kemarau pada tahun I selain untuk meningkatkanproduksi biji juga meningkatkan kandungan minyak biji IP-1A dari 27,26menjadi 29,89% dan IP-1P dari 26,54 menjadi 30,05%. Selanjutnya padatahun II, tambahan pengairan sampai kandungan air tanah 50% tidakmempengaruhi kandungan minyak biji IP-1A, IP-1M, dan IP-1P.Kata kunci: Jarak pagar, ketersediaan air tanah, pengairan, produksi biji,kandungan minyak bijiABSTRACTEffects of irrigation on seed production and oil content ofthree provenances of physic nut (Jatropha curcas L.)A field experiment was conducted at the experiment station ofIndonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute in Muktiharjo, Pation a soil texture of silty clay for three years from 2007 to 2009. Theexperiment aimed to investigate the response of irrigation on productionand oil content of jatropha seed. Jatropha was planted in February 2007.The experiment used a striped plot design with three replicates. Itconsisted of two factors, firstly three provenances : IP-1A, IP-1M, and IP-1P, and secondly four irrigation levels : control (no irrigation), irrigationwhen available soil water content reached 35, 50, and 65%. Irrigation wasapplied during the dry season. The first pruning was done in the secondyear during rainy season (September 2008). The results showed thatsupplementary irrigation was needed only in the first year. The productionof jatropha seeds was not affected by irrigation from the second year on.The plants did not require additional irrigation during the dry season andthey well adapted to different soil available water, especially in areas withannual rainfall of 1,200-1,500 mm. When no irrigation supply or underinsufficient moisture content, the seed yield of IP-1A and IP-1P decreasedby 37-59 and 17-31%. In the second and third years, seed production of allirrigation treatments ranged from 842-975 and about 818-966 kg/ha. IP-1Pproduced the highest seed yield (1,369 kg/ha) compared to IP-1A (737kg/ha) and IP-1M (631 kg/ha) second year. In the third year, seedproduction of IP-1P was 1,268 kg/ha which was still more superior thanIP-1A (902 kg/ha) and IP-1M (416 kg/ha). Compared to the other twoprovenances, IP-1P was higher ability in producing productive branchesand fruits. In addition to increase in seed production, supplementaryirrigation during the dry season in the first year also increased seed oilcontent from 27.26 to 29.89% for IP-1A and from 26.54 to 30.05% for IP-1P. Furthermore, in the second year an additional irrigation to soilavailable water of 50% did not affect the seed oil content of allprovenances.Key words: Jatropha curcas L., soil available water, irrigation, seedyield, seed oil content
ANALISIS EFISIENSI USAHA TANI TEBU DI JAWA TIMUR SRI HERY SUSILOWATI; NETTI TINAPRILLA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n4.2012.162-172

Abstract

ABSTRAKUpaya pengembangan usaha tani tebu masih terkendala bukanhanya oleh ketersediaan lahan namun juga oleh aspek teknis budidayausaha tani (penggunaan bibit unggul, pemupukan, aspek kelembagaan,dan sebagainya). Selain melalui fasilitasi perluasan lahan, strategipengembangan  tebu  harus  disertai  dengan  upaya  peningkatanproduktivitas, yaitu melalui peningkatan efisiensi usaha tani tebu, ataudengan kata lain bagaimana meningkatkan output maksimum melaluipengelolaan sumberdaya serta teknologi yang ada. Tujuan penelitianadalah untuk menganalisis efisiensi usaha tani tebu dan menentukanfaktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi usaha tani tebu. Data yangdigunakan adalah data survei PATANAS (Panel Petani Nasional) olehPusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian di Kabupaten Malangdan Lumajang, Jawa Timur tahun 2009. Jumlah contoh sebanyak 132rumah tangga yang dipilih secara acak. Analisis menggunakan stochasticfrontier production function approach dengan fungsi produksi StochasticFrontier Cobb Douglas yang diolah menggunakan program Frontier 4.1.Hasil penelitian menunjukkan nilai indeks efisiensi teknis dikategorikanbelum efisien dengan rata-rata efisiensi sebesar 0,672. Variabel akseslahan oleh petani merupakan faktor yang paling penting dan responsifdalam mempengaruhi produksi tebu. Kebijakan pengembangan usahatani tebu untuk meningkatkan efisiensi usaha tani adalah melaluipeningkatan akses lahan, kualitas bibit yang dipakai, dan ketersediaansarana produksi.Kata kunci : efisiensi teknis, usaha tani tebu, stochastic frontierproduction functionABSTRACTImproving sugar cane farming is still constrained by not only landavailability but also technical aspects such as quality of seed, fertilization,institution, etc., so that development strategy to improve sugar canefarming should be conducted by facilitating extensification andincreasing productivity and technical efficiency, or in other wordincreasing maximum output through resource management andtechnology. The aim of this study was to analyze technical efficieny ofsugar cane farming and to identify determinant factors influencing theefficieny of sugar cane farming. This study used PATANAS data surveywhich was conducted by Indonesian Center for Agriculture SocioEconomic and Policy Study (ICASEPS) in Malang and LumajangRegency, East Java Province in the years of 2009. The 132 samplies ofsugarcane household were chosen randomly in the year 2009. Data wereanalysed using stochastic frontier production function approach withStochastic Frontier Cobb Douglas using frontier 4.1. programme. Theresult of this study showed that sugar cane farming in East Java wastechnically not efficient with the index value of 0.672. Among variablesthat significantly influenced sugarcane production, land access byfarmers was an essential factor to improve production. Policy implicationfor developing sugar cane farming to improve technical efficiency is byincreasing land access, quality of seed, and production factor availability.Key words : technical efficiency, sugarcane farming, stochasticfrontier production function
PENGARUH PENAMBAHAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DAN MINYAK KEDELAI TERHADAP MUTU DAN NILAI GIZI BISKUIT BAYI RINDENGAN BARLINA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n1.2014.35-44

Abstract

AbstrakMinyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO), yang komponen utamanya adalah asam lemak rantai medium (ALRM) bermanfaat untuk bayi, sehingga perlu dimanfaatkan pada pengolahan biskuit dengan penambahan minyak kedelai (MKD) sebagai sumber asam lemak esensial. Penelitian dilaksanakan di Balit Palma dan Laboratorium Teknologi Hasil UGM-Yogyakarta pada tahun 2010. Tujuan penelitian mempelajari karakteristik biskuit yang disubstitusi VCO dan MKD serta mengetahui mutu secara in vivo menggunakan tikus sebagai hewan uji. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 7 perlakuan perbandingan VCO dan MKD, yaitu (1) Formula A=VCO : MKD = 12 : 5 ; (2) B=VCO : MKD = 13 : 4 ; (3) C=VCO : MKD = 14 : 3 ; (4) D=VCO : MKD = 15 : 2 ; (5) E=VCO : MKD = 16 : 1 ; (6) F=VCO : MKD = 17 : 0 ; (7) G=kontrol. Hasil analisis enam formula biskuit yang ditambah VCO, kadar air 4,16-4,76%, lemak 25,12-28,54%, protein 12,92-14,53%, abu 0,69-0,82%, karbohidrat 51,55-56,66%, dan kalori 467-520 kkal. Jumlah ALRM Formula A, B, C, D, E, dan F berturut-turut 10,19; 9,42; 11,51; 11,29; 14,58; dan 16,83%. Komposisi asam lemak linoleat berturut-turut 1,71; 1,76; 1,73; 1,75; 1,28; dan 0,01%. Kenaikan berat badan tikus tertinggi yang mengonsumsi formula dengan penambahan VCO adalah Formula A (6,33%) dan terendah Formula F (2,54%). Demikian juga Protein Efisiensi Ratio (PER) tertinggi Formula A (4,39) dan terendah Formula F (2,06). Berdasarkan jumlah ALRM dikaitkan dengan asam lemak esensial linoleat dan PER, formula terbaik berturut-turut adalah A, B, C dan D.Kata kunci: VCO, formula biskuit, asam lemak
PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN KALUS DAN KADAR TANNIN DARI DAUN JATI BELANDA (Guazuma ulmifolia Lamk) SECARA IN VITRO SITTI FATIMAH SYAHID; NATALINI NOVA KRISTINA; DELIAH SESWITA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n1.2010.1-5

Abstract

ABSTRAKJati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) merupakan salah satu jenistanaman penghasil senyawa tannin yang berkhasiat sebagai obat untukobesitas. Tannin dapat diproduksi secara in vitro dan kadarnya dapatditingkatkan melalui kultur kalus. Komposisi media yang tepat sangatdiperlukan agar dihasilkan kalus dengan pertumbuhan cepat dan optimal.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh komposisi media terhadappertumbuhan kalus dan kadar tannin secara in vitro. Bahan tanaman yangdigunakan adalah daun muda yang berasal dari tanaman di rumah kaca danberumur dua tahun. Media dasar yang digunakan adalah Murashige danSkoog (MS) yang diperkaya dengan vitamin dari group B. Perlakuan yangdiuji adalah media dasar MS + 2,4-D (0,1; 0,3; 0,5 mg/l) secara tunggaldan kombinasinya dengan Benzyl Adenin/BA ( 0,1 dan 0,3 mg/l).Parameter yang diamati adalah pertumbuhan kalus yang meliputi diameter,struktur, warna kalus, bobot basah kalus, serta visual kalus selamapengkulturan. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap polafaktorial dengan sepuluh ulangan. Analisis kandungan tannin dilakukandengan mengeringkan kalus in vitro dan sampel daun dari lapang danselanjutnya diekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapatinteraksi antara perlakuan 2,4-D 0,3 mg/l yang dikombinasikan denganBenzyl Adenin 0,1 mg/l terhadap ukuran diameter kalus terbesar yaitu28,7 mm, diameter kalus terbesar setelah sub kultur yaitu 31,9 mm, danberat basah kalus yaitu 5,02 g. Kandungan tannin pada semua perlakuankalus in vitro (3,72 – 4,27%) lebih tinggi dari pada tannin yang terdapatpada daun (2,24%).Kata kunci : Guazuma ulmifolia Lamk, jati belanda, induksi kalus,kandungan tannin, in vitroEffect of Medium Composition on Calli Growth andTannin Content from Leaves of West Indian Elm(Guazuma ulmifolia Lamk.) through in vitro CultureABSTRACTWest Indian Elm ( Guazuma ulmifolia Lamk.) is one of potentialplant producing tannin which is useful for controlling obesity. Tannin canbe produced through in vitro and this compound could be increased bycalli culture. The medium composition for calli induction was necessary toproduce the optimal calli. The aim of this research was to obtain themedium composition for calli induction through in vitro. Young leaves ofWest Indian Elm from glass house were used as explants. Murashige andSkoog (MS) medium enriched with B vitamin group was used as basicmedium. The experiments were arranged in completely randomized designin factorial pattern with ten replications. For calli induction, variousconcentration of 2,4-D (0.1; 0.3; and 0.5 mg/l) and its combination withBenzyl Adenin of 0.1 and 0.3 mg/l were used as treatments. Parametersobserved were calli diameter, structure, colour, fresh weight andperformance during culture. Analysis of tannin was conducted by usingdried samples both (in vitro and leaves from glass house) and thenextracted. The result showed that there was interaction between 2,4-D 0.3mg/l and Benzyl Adenin 0.1 mg/l on calli diameter (28.7 mm), the biggestcalli diameter after sub culture (31.9 mm), and fresh calli weight (5.02 g)eight weeks after treatments. Tannin content obtained from all of the invitro treatments (3.72 – 4.27%) was higher than tannin from leaves(2.24%).Key words : Guazuma ulmifolia Lamk., West Indian Elm, calli induction,in vitro, tannin content
KEEFEKTIFAN BAKTERI ENDOFIT UNTUK MENGENDALIKAN NEMATODA Pratylenchus brachyurus PADA TANAMAN NILAM RITA HARNI; SUPRAMANA SUPRAMANA; MEITY S. SINAGA; GIYANTO GIYANTO; SUPRIADI SUPRIADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n1.2011.6-10

Abstract

ABSTRAKPenggunaan bakteri endofit sebagai agen pengendalian nematodaparasit seperti Meloidogyne incognita pada kapas dan tomat, Globoderasp. pada kentang dan Radopholus similis pada pisang telah banyak ditelitipada beberapa jenis tanaman. Penelitian bertujuan untuk menganalisiskeefektifan  beberapa  bakteri  endofit terhadap  perkembangan  P.brachyurus, penetrasi, reproduksi, dan kerusakan yang diakibatkannyapada tanaman nilam. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumahkaca Hama dan Penyakit Balai Penelitian Tanaman Obat dan AromatikBogor, dari bulan Maret sampai Agustus 2008. Penelitian menggunakanrancangan acak lengkap (RAL) 6 perlakuan dengan 7 ulangan. Lima isolatbakteri endofit, yaitu Achromobacter xylosoxidans TT2, Alcaligenesfaecalis NJ16, Pseudomonas putida EH11, Bacillus cereus MSK, danBacillus subtilis NJ57, diaplikasikan pada setek tanaman nilam denganmetode perendaman akar. Seminggu setelah tanam, nilam diinokulasidengan 500 ekor P. brachyurus. Pengamatan dilakukan terhadap penetrasi,reproduksi, populasi nematoda, dan pertumbuhan nilam. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa bakteri endofit A. xylosoxidans TT2, A. faecalisNJ16, P. putida EH11, B. cereus MSK, dan B. subtilis NJ57 dapatmenekan penetrasi dan populasi P. brachyurus ke dalam akar sebesar54,8-70,6% dengan faktor reproduksi (pf/pi) 0,61-0,94 dan meningkatkanpertumbuhan tanaman nilam sebesar 37,86-84,71%.Kata kunci: Pogostemon cablin, bakteri endofit, keefektifan, nematoda,Pratylenchus brachyurus, pengendalian biologiABSTRACTEffectiveness  of  endophytic  bacteria  to  controlPratylenchus brachyurus nematode on patchouliThe use of endophytic bacteria as biocontrol agents for nematodes,such as Meloidogyne incognita on cotton and tomatoes, Globodera sp. onpotatoes and Radopholus similis on bananas has been widely studied inseveral crops. The aim of the study was to investigate the effectiveness ofsome endophytic bacteria to control P. brachyurus, penetration,reproduction, and plant fresh weight production. Five isolates, namely A.xylosoxidans TT2, A. faecalis NJ16, P. putida EH11, B. cereus MSK, andB. subtilis NJ57 were applied to the patchouli cutting roots by soakingmethod before planting. A week after planting, the plants were inoculatedwith 500 juveniles and adults of P. brachyurus. Observations were doneon penetration and reproduction rates of the nematode, and growth ofpatchouli plant. Under greenhouse condition, A. xylosoxidans TT2, A.faecalis NJ16, P. putida EH11, B. cereus MSK, and B. subtilis NJ57reduced penetration rate of P. brachyurus into the patchouli roots by 54.8to 70.6% and suppressed nematode population with pf/pi value 0.61 to0.94. Growth of inoculated plants increased by 37.86 to 84.71% comparedwith uninoculated (control) ones.Key words: Pogostemon cablin, endophytic bacteria, effectivenessnematode, Pratylenchus brachyurus, biological control
RESPON LIMA AKSESI JAHE PUTIH KECIL (Zingiber officinale var. Amarum) TERHADAP PEMUPUKAN MUCHAMAD YUSRON; CHEPPY SYUKUR; OCTIVIA TRISILAWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.66-73

Abstract

ABSTRAKPenggunaan varietas jahe yang responsif terhadap pemupukan dosisrendah, diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pemupukan danmenekan pencemaran lingkungan. Penelitian dengan tujuan untukmengetahui respon lima aksesi jahe putih kecil terhadap pemupukan dosisrendah telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Cimanggu pada bulanAgustus 2009 sampai Mei 2010. Lima aksesi jahe putih kecil dari daerahmarginal ditanam dalam polibag dan disusun menggunakan rancanganacak kelompok yang diulang 3 kali. Setiap perlakuan terdiri atas 20tanaman. Dua perlakuan yang diuji secara faktorial adalah, faktor I adalah5 aksesi jahe putih kecil, yaitu (1) Ziof 0004, (2) Ziof 0007, (3) Ziof 0008,(4) Ziof 0013, dan (5) Ziof 0014, dan faktor II adalah dosis pupuk, yaitu(a) 50% dosis anjuran (200 kg/ha urea + 150 kg/ha SP-36 + 150 kg/haKCl), (b) 75% dosis anjuran (300 kg/ha urea + 225 kg/ha SP-36 + 225kg/ha KCl), dan (c) dosis anjuran (400 kg/ha urea + 300 kg/ha SP-36 +300 kg/ha KCl). Masing-masing perlakuan diberi pupuk kandang sebagaipupuk dasar dengan dosis 20 t/ha. Pengamatan dilakukan terhadapparameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah anakan, diameter batang,dan jumlah daun), hasil dan serapan unsur hara N, P, dan K pada umur 4BST dan 9 BST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masingaksesi memberikan respon yang berbeda terhadap penurunan dosis pupuk,baik pada fase pertumbuhan maupun produksi tanaman jahe. Pengurangandosis pupuk sampai 25% tidak mengurangi produksi jahe, tetapi penurunandosis pupuk sampai 50% dari dosis rekomendasi menyebabkan penurunanproduksi jahe secara nyata. Komposisi unsur hara N, P, dan K yangdiserap berbeda pada setiap fase pertumbuhan tanaman.Kata kunci : Aksesi, Zingiber officinale, pemupukan, pertumbuhan,produksiABSTRACTResponse of five accessions of small white ginger tofertilizersThe use of ginger varieties responsive to low fertilization dosages,is expected to increase fertilizer use efficiency and reduce environmentalpollution. Research aimed at observing response of five small white gingeraccessions of low-dosage fertilization has been conducted in the CimangguExperimental Station in from August 2009 through May 2010. Five smallwhite ginger accessions from marginal areas were planted in polybags.The experiment was and arranged using a randomized block design wasrepeated with 3 times replications. Each treatment consisted of 20 plants.Two treatments were tested factorially, where factor I : 5 small whiteginger accessions, namely (1) Ziof 0004, (2) Ziof 0007, (3) Ziof 0008, (4)Ziof 0013, and (5) Ziof 0014, and factor II : 3 fertilization dosages isdosage of fertilizer, namely (a) 50% recommendation dosage (200 kg urea+ 150 kg SP-36 + 150 kg KCl per hectare), (b) 75% recommendationdosage (300 kg urea + 225 kg SP-36 + 225 kg KCl per hectare), and (c)recommendation dosage (400 kg Urea + 300 kg SP-36 + 300 kg KCl perhectare). Each treatment was given 20 t/ha of manure as basal fertilizer.The parameters observed were growth parameters (plant height, number oftillers, stem diameter, and number of leaves), yield and nutrient uptake ofN, P, and K at 4 and 9 months after planting (MAP). The results showedthat each of the accessions responded differently to the reduction offertilizer dosages, either in vegetative or generative growth phase of gingerplants. Reduction of fertilizer dosages to 25% did not significantly reducethe yield of ginger, however, fertilizer dosages reduction up to 50% of therecommended dosages led to significant decrease of ginger yield.Compositions of N, P, and K nutrients absorbed by plants were different inevery phase of plant growth.Keywords : Accessions, Zingiber officinale, fertilizer, growth, yield
EFEKTIVITAS FORMULA JAMUR Beauveria bassiana DALAM PENGENDALIAN PENGGEREK BUAH KAPAS (Helicoverpa armigera) IGAA. INDRAYANI; DECIYANTO SOETOPO; JOKO HARTONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n4.2013.178-185

Abstract

ABSTRAKJamur entomopatogen Beauveria bassiana sangat potensialmengendalikan berbagai serangga hama, namun potensinya terhadappenggerek buah kapas (Helicoverpa armigera) belum banyak diteliti.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas B. bassianaterhadap H. armigera. Penelitian dilakukan di Laboratorium PatologiSerangga dan Kebun Percobaan Karangploso, Balai Penelitian TanamanPemanis dan Serat mulai Januari hingga Desember 2012. Penelitian terdiriatas dua kegiatan di lapangan, yaitu (1) uji efektivitas B. bassiana terhadapH. armigera di pot, dan (2) uji efektivitas B. bassiana terhadap H.armigera di lapangan. Kegiatan pertama terdiri dari delapan perlakuankonsentrasi B. bassiana, yaitu: (1) 3,7 x 10 4 ; (2) 7,7 x 10 4 ; (3) 1,2 x 10 5 ;(4) 1,5 x 10 5 ; (5) 1,9 x 10 5;  (6) 2,3 x 10 5;  (7) 2,5 x 10 5 ; (8) 3,0 x 10 5konidia/ml; dan (9) kontrol. Perlakuan disusun dalam Rancangan AcakKelompok dengan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati adalahmortalitas dan bobot larva hidup. Kegiatan kedua terdiri dari empatperlakuan konsentrasi B. bassiana, yaitu: (1) 3,1 x 10 11 ; (2) 6,2 x 10 11 ; (3)9,3 x 10 11 ; dan (4) 1,2 x 10 12 konidia/ha dengan dua pembanding(azadirachtin dan betasiflutrin), serta kontrol. Perlakuan disusun dalamRancangan Acak Kelompok dengan tiga kali ulangan. Parameter yangdiamati adalah populasi larva H. armigera dan laba-laba, kerusakan buahkapas, dan hasil kapas berbiji. Hasil uji efektivitas di pot menunjukkanhingga hari ke-7 setelah perlakuan B. bassiana masih efektif menyebabkanmortalitas larva H. armigera sebesar 46,7% dan meningkatkan kehilanganbobot larva hidup hingga 59,3%, terutama pada konsentrasi 2,3 x 10 5konidia/ml. Di lapangan, perlakuan jamur B. bassiana efektif menurunkanpopulasi larva H. armigera sekitar 36-48%, tetapi menurunkan populasilaba-laba hingga 48,4%, sehingga kurang aman bagi musuh alami tersebut.Perlakuan B. bassiana dapat menurunkan kerusakan buah kapas 10,1-10,3% dengan meningkatkan hasil kapas berbiji sekitar 12,1-29,7%.Kata kunci: Beauveria bassiana, Helicoverpa armigera, konidia, larva,mortalitasABSTRACTBeauveria bassiana is the most common fungal entomopathogenagainst several of insect pests. Its potency, however, has not been tested oncotton bollworm, H. armigera. The objective of study was to know theeffectivity of B. bassiana against H. armigera. This study had beenconducted at Pathology Laboratory and Experimental Station ofIndonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute (ISFCRI) fromJanuary to December 2012. The study consists of two field tests, e.g. teston B. bassiana effectivity against H. armigera (polybag testing) dan teston B. bassiana effectivity a against H. armigera (field testing). In polybagtesting, eight concentrations of B. bassiana and one control were used astreatment, e.g. (1) 3.7 x 10 4 ; (2) 7.7 x 10 4 ; (3) 1.2 x 10 5 ; (4) 1.5 x 10 5 ; (5)1.9 x 10 5;  (6) 2.3 x 10 5;  (7) 2.5 x 10 5 ; (8) 3.0 x 10 5  conidia/ml; and (9)control. Each treatment was arranged in Randomized Block Design withthree replications. Parameters recorded were mortality and weight ofsurvival larvae. The field testing consists of four concentrations of B.bassiana viz. 3.1 x 10 11 ; 6.2 x 10 11 ; 9.3 x 10 11 ; and (4) 1.2 x 10 12 conidia/hawhich compared to azadirachtin and betacyfluthrin. Each treatment wasarranged in Randomized Block Design with three replications. Parameterobserved were population of H. armigera larvae and its natural enemy(spiders), boll damage, and seed cotton yield. Result showed that until theday seventh the mortality of H. armigera larvae reached 46.7% due to B.bassiana and loss 59.3% of larval weight at 2,3 x 10 5 conidia/ml inpolybag testing. In field testing, B. bassiana proved to be relativelyharmful to spiders because it reduced the their population as 48.4%.However, the B. bassiana reduced of 36-48% the population of H.armigera larvae as well as the cotton boll damage of 10.1-10.3% andincreased the seed cotton yield ranged 12.1-29.7%.Key words: Beauveria bassiana, Helicoverpa armigera, conidia, larvae,mortality
PENGARUH PUPUK UREA, SP36, DAN KCl TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TEMULAWAK (Curcuma xanthorhiza Roxb) MONO RAHARDJO; EKWASITA RINI PRIBADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.98-105

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sukamulya sejakSeptember 2006 sampai Desember 2007. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui pengaruh pemberian pupuk urea, SP36, dan KCl terhadappertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang temulawak. Perlakuan disusundalam faktorial 3 x 3 yang dilaksanakan dalam rancangan acak kelompokdan diulang 3 kali. Ketiga faktor yang dicoba terdiri atas 3 jenis pupukurea, SP36, dan KCl dengan takaran masing-masing 100, 200, dan 300kg/ha. Jarak tanam yang digunakan adalah 75 cm x 50 cm, denganpopulasi 40 tanaman/plot. Peubah yang diamati adalah, komponenpertumbuhan meliputi akumulasi biomas, produksi rimpang, mutusimplisia (minyak atsiri, bahan aktif kurkuminoid dan xanthorhizol), dankadar hara N, P dan K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukanurea sebanyak 300 kg/ha pada tanah dengan status hara N rendahberpengaruh nyata terhadap peningkatan komponen pertumbuhan tanamantemulawak, biomas, hasil rimpang segar, dan simplisia kering pertanaman.Namun perlakuan interaksi dari tiga faktor pupuk urea, SP36, dan KCldengan masing-masing dosis 100, 200, dan 300 kg/ha tidak berpengaruhnyata terhadap produksi rimpang segar. Mutu simplisia yang dihasilkansudah memenuhi standar MMI  ( DEPKES, RI, 1995. Produksi rimpangsegar berkisar antara 20,23 - 25,46 t/ha. Produksi rimpang segar 20,23 t/hadicapai perlakuan pemupukan urea, SP36, dan KCl masing-masing 100kg/ha, yang menyerap 37,41 kg/ha hara N, 15,30 kg/ha hara P, dan146,11 kg/ha hara K. Produksi rimpang segar 25,46 t/ha dicapai perlakuan300 kg/ha urea, 200 kg/ha SP36 dan 200 kg/ha KCl, yang menyerap193,44 kg/ha hara N, 21,05 kg/ha hara P, dan 221,34 kg/ha hara K.Kata kunci : Curcuma xanthorhiza Roxb, produksi, mutu, dan serapanharaABSTRACTEffect of urea, SP36, and KCl fertilizers on plant growthand production of java turmeric (Curcuma xanthorrhizaRoxb)The experiment was conducted in Sukamulya Experimental Stationfrom September 2006 until December 2007. The objective of the researchwas nitrogen, phosphate, potassium uptake to increase plant growth,production and to find out quality of java turmeric. The experiment wasarranged in factorial randomized block design with three replicates, andurea, SP36, and KCl fertilizer dosages were 100, 200, 300 kg/ha. The plantspacing was 75 cm x 50 cm, population was 40 plant/plot, and plot sizewas 3.75 m x 4 m. The first research was done in 2006 to obtain plantgrowth data and the second one was conducted in 2007 aiming to obtaindata on productivity and quality of rhizomes. Parameters observed wereaccumulation of biomass, rhizomes productivity and quality, absorption ofplant nutrition (N, P and K), active compounds (curcuminoid andxanthorhizol). The result showed that fertilizer application of 300 kg/haurea on the soil low in N content was able to increase growth componentof java turmeric, fresh rhizomes, and dry matter of rhizomes per/plant.Combination of the three application factors of urea, SP36, and KCl withdosages of 100, 200, and 300 kg/ha, respectively, did not affect onrhizomes productivity. The quality of rhizomes have fulfilled MMIstandard. The productivity of rhizome varied from 20.23 – 25.46 t/ha.Application of urea, SP36, and KCl with each dosage of 100 kg/haproduced 20.23 t/ha rhizome, which absorbed as much as 137.41 kg N,15.30 kg P, and 146.11 kg K per ha. Application of urea, SP36, and KCl of300, 200, and 200 kg/ha, respectively, produced 25.46 t/ha rhizome, whichabsorbed as much as 193.44 kg/ha N, 21.05 kg/ha P, and 221.34 kg/ha K.Key words : Curcuma xanthorrrhiza Roxb, productivity, quality andnutrien uptake

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue