cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI CENDAWAN TERBAWA BENIH KAKAO HIBRIDA BAHARUDIN BAHARUDIN; AGUS PURWANTARA; SATRIYAS ILYAS; MOHAMAD RAHMAD SUHARTANTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n1.2012.40-46

Abstract

ABSTRAKBenih merupakan komponen dasar dalam menentukan produktivitastanaman kakao. Benih yang sehat dapat merupakan faktor penting dalammenentukan keberhasilan produktivitas kakao. Benih kakao mempunyaikadar air cukup tinggi sehingga berpotensi terinfeksi cendawan, yangdapat menurunkan mutu benih dan produksi kakao. Penelitian bertujuanuntuk mengisolasi dan mengidentifikasi beberapa cendawan terbawa benihpada kakao hibrida. Penelitian dilakukan di Kebun Induk Benih PusatPenelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jember, Laboratorium Mikro-biologi, Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, danLaboratorium Pengendalian Hayati IPB Bogor pada bulan Juni sampaiOktober 2008. Penelitian menggunakan benih kakao hibrida dari hasilpersilangan buatan antar TSH 858 dengan Sca 6, dan percobaan disusundengan rancangan acak lengkap dengan 3 ulangan. Benih ditumbuhkanpada 3 media, yaitu water agar (WA), potato dextrose agar (PDA), dankertas saring (KS). Tingkat infeksi pada benih diamati setiap hari dandianalisis dengan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji selangberganda Duncan. Cendawan diisolasi, dibiakkan, dimurnikan, dandiidentifikasi dengan menggunakan buku kunci identifikasi. Tingkatinfeksi cendawan terbawa benih kakao hibrida tertinggi terdapat pada harikeempat (35,00%) dan kelima (51,67%) pada media PDA. Sebanyak 13spesies cendawan terbawa benih kakao hibrida berhasil diidentifikasidengan menggunakan media WA dan PDA, serta 8 spesies cendawandengan media KS. Ke-13 cendawan terbawa benih yang ditemukan sangatberpotensi menurunkan mutu fisiologis benih dan produktivitas kakao.Cendawan tersebut perlu diuji lebih lanjut karena masing-masing memilikisifat-sifat patogenik, saprofitik, atau antagonistis terhadap cendawan lainpada benih kakao. Cendawan terbawa benih kakao hibrida paling dominanadalah Aspergillus spp., Penicillium chrysogenium, Coletotrichumacutatum, Curvularia geniculata, dan Fusarium spp. Cendawan-cendawanyang diduga berbahaya adalah Aspergillus spp., Coletotrichum acutatum,Curvularia  geniculata,  Fusarium  spp.,  Phoma  glomerata,  danMacrophoma sp., dan yang diduga bersifat patogenik adalah Aspergillusflavus, Aspergillus ochraceus, Cladosporium herbanum, Curvulariageniculata, Fusarium oxysporum, Phoma glomerata, dan Macrophoma sp.Kata kunci : Theobroma cacao, benih hibrida, infeksi cendawan, mediatanamIsolation and Identification of Fungi on Hybrid Cacao SeedsABSTRACTSeed is the basic component influencing the productivity of cacaoplantation. Healthy seed is the most important factor in determining thesuccess of cacao productivity. Moisture content of cacao seeds is quitehigh potentially to cause fungi infection, which can further reduce seedquality and cacao production. The research aimed at isolating andidentifying several seedborne fungi on hybrid cacao. The study wasconducted at main nursery of Indonesian Coffee and Cocoa ResearchInstitute Jember, Laboratory of Microbiology, Indonesian BiotechnologyResearch Institute for Estate Crops, and the Laboratory for BiologicalControl of IPB Bogor from June to October 2008. Research used hybridcacao seeds derived from crossing between TSH 858 x SCA 6, and theexperiment was arranged using completely randomized design with threereplicates. Cacao seeds were grown on three media, i.e. water agar (WA),potato dextrose agar (PDA), and filter paper (KS). Infection rates on theseedlings were observed every day and analyzed using ANOVA followedby Duncan's multiple regression test (DMRT). Fungi were isolated,cultured, purified, and identified using the identification keys. The highestrate of seedborn fungal infection occured on fourth (35.00%) and fifth(51.67%) days on PDA media. A total of 13 species of seedborn fungi onhybrid cocoa were identified by using WA and PDA media, as well as 8other species by using KS. The 13 seedborne fungi potentially reduce seedphysiological quality and cacao productivity. These fungi need to befurther tested because each has its own pathogenic, saprophytic, orantagonistic properties towards other fungi on cacao seeds. Predominantseedborn fungi on hybrid cacao were Aspergillus spp., Penicilliumchrysogenium, Coletotrichum acutatum, Curvularia geniculata, andFusarium spp. The fungi suspected harmful were Aspergillus spp.,Coletotrichum acutatum, Curvularia geniculata, Fusarium spp., Phomaglomerata, and Macrophoma sp., and those suspected pathogenic wereAspergillus flavus, Aspergillus ochraceus, Cladosporium herbanum,Curvularia geniculata, Fusarium oxysporum, Phoma glomerata, andMacrophoma sp.Key words : Theobroma cacao, fungi infection, hybrid seed, growingmedia
STABILITAS HASIL DAN MUTU ENAM GENOTIPE HARAPAN JAHE PUTIH KECIL (Zingiber officinale Rosc. var amarum) PADA BEBERAPA AGROEKOLOGI NURLIANI BERMAWIE; SITTI FATIMAH SYAHID; NUR AJIJAH; SUSI PURWIYANTI; BUDI MARTONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n2.2013.58-65

Abstract

ABSTRAKPeningkatan produktivitas dan mutu jahe putih kecil memerlukanbahan tanaman unggul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuistabilitas hasil dan mutu enam genotipe jahe putih kecil pada berbagaikondisi agroekologi. Enam genotipe harapan jahe putih kecil dan duagenotipe lokal sebagai pembanding diuji selama dua musim tanam diempat lokasi (Sukabumi, Sumedang, Majalengka, dan Garut) pada tahun2004 sampai 2006. Rancangan percobaan dilakukan mengikuti rancanganacak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Jarak tanam 60 x 40 cmdengan populasi per plot sebanyak 100 tanaman. Parameter yang diamatiadalah hasil (bobot rimpang per rumpun) dan mutu (kadar minyak atsiri,fenol total, sari larut air, dan sari larut alkohol). Analisis stabilitas hasilmenggunakan metoda Yau dan Hamblin. Hasil pengujian menunjukkangenotipe ZIOF-0049 dan ZIOF-0050 menghasilkan rimpang dengan rataanbobot aktual cukup tinggi serta stabil pada berbagai kondisi agroeokologi.Kadar minyak atsiri genotipe ZIOF-0049 sedang (2,92%), sedangkanZIOF-0050 tinggi (3,28%). Genotipe ZIOF-0046 memiliki kadar minyakatsiri cukup tinggi (3,91%), dan stabil di seluruh unit pengujian. Selainkadar minyak atsiri genotipe ZIOF-0046 juga memiliki kadar fenol(3,04%) dan kadar sari larut air (24,40%) yang cukup tinggi. GenotipeZIOF-0008 memiliki kadar minyak atsiri yang tinggi (3,64%) dan stabilpada berbagai unit pengujian. Empat genotipe ZIOF-0049, ZIOF-0050,ZIOF-0046, dan ZIOF-0008 menunjukkan karakter stabil pada sifat hasildan mutu rimpang sehingga layak untuk direkomendasikan sebagaigenotipe unggul dan beradaptasi luas.Kata kunci: Zingiber officinale var. amarum, jahe putih kecil, interaksigenetik dan lingkungan, hasil, mutuABSTRACTThe provision of superior genotype having stable yield andquality is a prerequisite for the productivity and quality improvement ofsmall white ginger. Research to study stability of yield and quality wasundertaken on six promising genotypes with two control variety by multienvironmental tests in four locations (Sukabumi, Sumedang, Majalengka,and Garut) for two growing seasons from 2004-2006. The experimentused a randomized block design with three replicates, 60 cm x 40 cm plantspacing, 100 plants per plot. Parameters observed were fresh rhizomeyield and quality (essential oil content, total phenolic content, watersoluble extract, and alcohol soluble extract). Stability analysis wasundertaken based on Yau and Hamblin method. Genotype ZIOF-0049 andZIOF-0050 produced the high rhizome weight and considered to berelatively stable at four locations. Essential oils content of ZIOF-0049were medium (2,92%) and ZIOF-0050 were high (3,28%). Genotypes thathave high content of essential oil (3,91%) and stable in various testing unitwas ZIOF-0046. In addition to the essential oil content, genotypes ZIOF-0046 also had phenol (3,04%) and water-soluble extract (24,40%) contentwere high. Genotype ZIOF-0008 has a high volatile oil content (3,64%)and stable in various testing unit. Four genotypes ZIOF-0049, ZIOF-0050,ZIOF-0046 and ZIOF-0008 showed stable in rhizome yield and qualitycharacters. That were deserves to be recommended as superior genotypesand wide adaptation.Key words: Zingiber officinale var. amarum, small white ginger, geneticand environment interaction, yield, quality
PENGARUH MEDIA TANAM DAN FREKUENSI PEMBERIAN AIR TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA DAN BIOLOGI TANAH SERTA PERTUMBUHAN JARAK PAGAR DJAJADI DJAJADI; BAMBANG HELIYANTO; NURUL HIDAYAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n2.2010.64-69

Abstract

ABSTRAKLahan pertanian yang didominasi oleh partikel pasir di daerah lahankering iklim kering mempunyai kapasitas yang rendah dalam menyimpanair dan unsur hara, serta rentan terhadap erosi. Penambahan tanah liat,zeolit, dan bahan organik diharapkan dapat meningkatkan kadar unsur haratanah, kadar air tanah, dan pertumbuhan tanaman. Penelitian yangdilakukan dari bulan Mei sampai Desember 2008 ini bertujuan untukmengetahui pengaruh penambahan tanah liat, zeolit dan interaksinyadengan bahan organik terhadap stabilitas makroagregat, kadar unsur haraC, N, P, dan K, daya pegang air tanah berpasir, populasi mikroorganismetanah serta pertumbuhan jarak pagar. Media tanam yang diuji sebanyak 5jenis, yaitu (1) 100% tanah pasir, (2) 95% tanah pasir + 5% tanah liat, (3)95% tanah pasir + 5% zeolit, (4) 94,2% tanah pasir + 5% tanah liat + 0,8%bahan organik, dan (5) 94,2% tanah pasir + 5% zeolit + 0,8% bahanorganik. Untuk mengetahui kemampuan daya pegang air tanah, makaperlakuan jenis media tersebut dikombinasikan dengan perlakuanfrekuensi pemberian air, yaitu dengan interval 7 dan 21 hari sekali.Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok faktorial denganempat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 5%tanah liat + 0,8% bahan organik pada tanah berpasir dapat meningkatkanproporsi makroagregat, kadar unsur hara C, N, P, dan K, serta kapasitasdaya pegang air tanah. Penambahan sebanyak 5% zeolit pada tanah pasirmeningkatkan populasi bakteri. Peningkatan populasi jamur lebih dipacudengan frekuensi pemberian air 7 hari sekali. Pertumbuhan tinggi tanamanjarak pagar juga lebih dipercepat oleh pemberian air dengan frekuensi 7hari sekali.Kata kunci: Jatropha curcas, pasir, liat, zeolit, bahan organik, kesuburantanah, pengairanABSTRACTThe role of clay, zeolit, and organic matter in increasingsoil fertility of sandy soil as growth media for JatrophacurcasAgricultural sandy soils have low capability to retain water andnutrients. Addition of clay, zeolit and organic matter to these soils wasexpected to increase macro-aggregate stability, soil nutrients and waterholding capacity. The research had been conducted from May up toDecember 2008 to find out the effect of addition of clay, zeolit, and theirinteractions with organic matter in increasing sandy soil fertility as growthmedia for Jatropha curcas. The study had an objective to quantify theeffect of plant media and frequency of watering on soil macro-aggregatestability, soil nutrients, water holding capacity, soil microorganismspopulation, and growth of J. curcas. Plant growth media tested in thisstudy consisted of 5 types, i.e. (1) 100% sand soil, (2) 95% sand soil + 5%clay soil, (3) 95% sand soil + 5% zeolit, (4) 94.2% sand soil + 5% clay +0.8% organic matter, and (5) 94.2% sand soil + 5% zeolit + 0.8% organicmatter. Watering of plant was divided into two time intervals, i.e. each of 7days and each of 21 days. Results showed that plant media which was amixture of 94.2% sand soil + 5% clay + 0.8% organic matter increasedproportion of maco-aggregate, plant nutrients (C, N, P, K) and soil waterholding capacity. Plant media consisted of mixture of 95% sand soil + 5%zeolit was suitable for development of bacteria population. Acceleratingof growth of J curcas was induced by watering with interval of 7 days.Key words: Jatropha curcas, sand, clay, zeolit, organic matter, watering,soil fertility
Shoot Borers Scirpophaga excerptalis Walker Attack on Sugarcane at Three Planting Systems ANDI MUHAMMAD AMIR; ELNA KARMAWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v21n4.2015.161-166

Abstract

ABSTRACTScirpophaga excerptalis W alker shoot borers is one of the major pests of sugarcane. The p lants at tacked by this pests wil l dec rease in yield, productivity, and sugar c rystal. The experiment was conducted at the experimental station, in Muktiharjo, Pati fr om January to May 201 3. The aims of the experiment was to determine the coverity of S. excerptalis s hoot borers a ttack on three su garcane cropping systems of (S. officinarum L.). The treatment co nsisted of thr ee cro pping systems: 1) single row, 2) wide double row, and 3) narrow double row. Treatments arranged in a randomized complate block design (RCBD) with three replications. The results showed that the use of wide double row cropping systems can increase shoot borers attack S. excerptalis, higher than the other cropping systems. Based on this research result, it is recommended to select planting system that can increase plant population but not to decrease intensity of light. From this, wide double row is selected.Keyword: Top borers, Scirpophaga excerptalis Walke, Saccharum officinarum L., planting system. SERANGAN PENGGEREK PUCUK Scirpophaga excerptalis WALKER (LEPIDOPTERA; PYRALIDAE) PADA TIGA SISTEM TANAM TEBU (Saccharum officinarum L.)ABSTRAKSalah satu jenis hama utama tanaman tebu adalah penggerek pucuk Scirpophaga excerptalis Walker. Serangan hama tersebut pada pertanaman tebu dapat menurunkan produktivitas, rendemen dan hasil hablurnya. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Muktiharjo, Pati mulai bulan Januari sampai dengan Mei 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat serangan penggerek pucuk S. excerptalis pada tiga sistem tanam tebu (S. officinarum). Perlakuan terdiri atas 3 sistem tanam, yaitu 1) juring tunggal, 2) juring ganda rapat, dan 3) juring ganda lebar, disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan juring ganda rapat pada sistem tanam tebu dapat meningkatkan serangan penggerek pucuk S. excerptalis lebih tinggi dibandingkan dengan juring ganda lebar dan juring tunggal. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan untuk memilih sistem tanam yang dapat meningkatkan populasi tanaman tetapi tidak menurunkan intensitas cahaya yang masuk. Pada hasil penelitian ini, sistem tanam yang dipilih adalah juring ganda lebar.Kata kunci: Penggerek pucuk, Scirpophaga excerptalis Walker, Saccharum officinarum L., sistem tanam
PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR Nomuraea rileyi (FARLOW) SAMSON DAN PATOGENISITASNYA PADA Helicoverpa armigera HUBNER DAN Spodoptera litura F. NURUL HIDAYAH; I.G.A.A. INDRAYANI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n3.2011.102-108

Abstract

ABSTRAKNomuraea rileyi adalah salah satu jamur entomopatogen yangpotensial mengendalikan hama Helicoverpa armigera dan Spodopteralitura pada tanaman kapas, tembakau, dan jarak kepyar. Di lapanganpernah ditemukan larva hama H. armigera dan S. litura yang terinfeksisecara alami oleh N. rileyi yang mengindikasikan bahwa N. rileyiberpotensi sebagai agens hayati. Sebelum N. rileyi dikembangkan sebagaiagens hayati, maka perlu diketahui metode perbanyakannya pada mediabuatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui komposisi media tumbuhyang sesuai untuk perbanyakan N. rileyi dan pengujian patogenisitasnyaterhadap H. armigera dan S. litura. Penelitian dilakukan di LaboratoriumFitopatologi dan Laboratorium Patogen Serangga Balai PenelitianTanaman Tembakau dan Serat Malang mulai bulan Mei sampai denganNovember 2009. Penelitian ini terdiri atas 2 pengujian, yaitu pengujiankarakter biologi N. rileyi dan patogenisitas pada ulat H. armigera dan S.litura. Dalam pengujian karakter biologi jamur diuji 4 macam mediaperbanyakan, yaitu: (1) Sabouraud maltose agar + ekstrak yeast (SMAY),(2) Sabouraud maltose agar + ekstrak yeast + ekstrak beras (SMAYB), (3)Sabouraud maltose agar + ekstrak yeast + ekstrak kentang (SMAYK), dan(4) Media lengkap untuk N. rileyi (MLNr), serta 2 tingkat suhu inkubasi,yaitu 23±1 dan 27±1ºC. Perlakuan disusun dalam rancangan acak lengkap(RAL) dengan lima kali ulangan. Setiap media disiapkan di dalam 10cawan petri per perlakuan dan masing-masing diinokulasi dengan 10 5konidia/ml. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan jamur danproduksi konidia. Sedangkan dalam pengujian patogenisitas konidia N.rileyi terhadap larva H. armigera dan S. litura dilakukan dengan metodepelumuran (painting), yaitu ulat diletakkan di atas konidia di dalam cawanpetri selama ± 10 detik kemudian dipindahkan ke vial-vial plastikberdiameter 2,5 cm berisi pakan daun kapas muda (± 1 cm 2 ) untuk H.armigera dan daun jarak kepyar untuk S. litura. Apabila pakan daun telahhabis, serangga diberi pakan buatan berbahan dasar tepung kedelai. Pakanbuatan diganti setiap 2 hari sampai ulat menjadi pupa. Selanjutnya ulatyang telah diperlakukan dengan jamur diinkubasi-kan pada suhu ruang(27°-29°C) selama ± 14 hari dan diamati perkembangan ulat maupunjamurnya setiap hari. Parameter yang diamati adalah mortalitas ulat H.armigera dan S. litura serta gejala mikosis pada ulat terinfeksi. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa suhu inkubasi berpengaruh terhadap lajupertumbuhan N. rileyi. Pada suhu 23±1ºC N. rileyi tumbuh lebih cepat(7,42-8,23 mm/hari) pada semua komposisi media yang diuji (SMAY,SMAYK, SMAYB, dan MLNr) dibanding pada suhu 27±1ºC (0,99-1,26mm/hari). Produksi konidia N. rileyi lebih banyak pada suhu 27±1ºCdibanding pada 23 ± 1ºC, yaitu berturut-turut 24,7 x 10 8 konidia/ml dan17,9 x 10 8 konidia/ml masing-masing pada media SMAYK dan MLNr.Perbedaan komposisi media tumbuh tidak menyebabkan penurunanpatogenisitas pada konidia N. rileyi sebab mortalitas ulat H. armigeramaupun S. litura masing-masing mencapai 100%. Hasil penelitianmengindikasikan bahwa N. rileyi mudah diperbanyak secara massal padamedium agar dan virulensinya baik pada H. armigera dan S. litura.Kata kunci : Nomuraea rileyi, epizootik, Helicoverpa armigera,Spodoptera litura, konidia, patogenisitas, mortalitasABSTRACTEffect of medium composition on growth of entomo-pathogenic fungi Nomuraea rileyi (Farlow) Samson andits pathogenicity against Helicoverpa armigera andSpodoptera lituraN. rileyi is one of potential entomopathogenic fungi to controlcotton bollworm, Helicoverpa armigera, tobacco and Rhicinus caterpilar,Spodoptera litura. These fungi naturally infect those insect pests indicatingtheir potential to be used as natural control agent. Techniques of in vitroproduction of these fungi need to be developed to find out their potentialagainst the insect target. Study on effect of medium composition ongrowth of entomopathogenic fungi N. rileyi and its pathogenicity againstH. armigera and S. litura was carried out at Phytopathology and InsectPathology Laboratories of Indonesian Tobacco and Fiber Crops ResearchInstitute (IToFCRI) from May to November 2009. The objective of thestudy was to find out the suitable composition of medium for N. rileyi andits pathogenicity against H. armigera and S. litura. The study consisted oftwo tests. The first test was testing for biological characters, namely invitro growth rate and conidia production of N. rileyi on four differentcompositions of medium as followed: (1) Sabouraud maltose agar + yeastextract (SMAY), (2) Sabouraud maltose agar + yeast extract + rice extract(SMAYR), (3) Sabouraud maltose agar + yeast extract + potato extract(SMAYP), and (4) Completed medium for N. rileyi (MLNr). Alltreatments were designed in randomized complete design (RCD) with fivereplicates. Parameters observed were the growth rate of N. rileyi andconidia production. The second was testing on pathogenicity of N. rileyiproduced from all medium tested against H. armigera and S. litura larvae.Result showed that incubation temperature influenced the growth rate offungi. N. rileyi grew faster at 23±1ºC (7.42-8.23 mm/day) than that at27±1ºC (0.99-1.26 mm/day) on all media tested. Conidia production washigher at 27±1ºC than at 23±1ºC. Both SMAYP and MLNr were the bestmedia for producing N. rileyi conidia, which were 24.7 and 17.9 x 10 8conidia/ml, respectively. Pathogenicity of N. rileyi against H. armigeraand S. litura was not affected by composition of medium tested becausethe larval mortality of both insect pests was 100%. This study indicatedthat N. rileyi can be easily produced massively on agar media and it isvirulent against H. armigera and S. litura.Key words : Nomuraea rileyi, Helicoverpa armigera, Spodoptera litura,conidia, in vitro, pathogenicity, mortality, epizootic
VIABILITAS DAN EFEKTIVITAS FORMULA NEMATODA Steinernema sp. TERHADAP HAMA PENGGEREK BUAH KAPAS Helicoverpa armigera HUBNER HERI PRABOWO; IGAA INDRAYANI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n4.2012.151-155

Abstract

ABSTRAKEntomopatogen dari genus Steinernema berpotensi digunakansebagai pengendali berbagai serangga hama, terutama ordo Lepidoptera,seperti  Helicoverpa  armigera.  Penggunaan  Steinernema  untukpengendalian H. armigera akan menguntungkan karena aman terhadaplingkungan, mudah diproduksi massal, toleran terhadap berbagai macampestisida, dapat aktif mencari serangga sasaran, tidak menyebabkanresisten dan resurjensi, serta dapat diaplikasikan dengan alat semprotstandar. Namun, formula pestisida hayati mengandung Steinernema masihsangat terbatas. Tujuan penelitian adalah membuat formula Steinernemasp. yang efektif terhadap hama penggerek buah kapas (H. armigera).Penelitian dilaksanakan di laboratorium Patologi Serangga, BalaiPenelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Malang mulai bulan Mei-Juli2010. Larva instar III Steinernema sp. dibuat dalam 6 macam formulaperlakuan dengan bahan pembawa (carrier) berbeda-beda, yaitu (1)suspensi (akuades + sukrosa), (2) pellet-2 (sekam padi), (3) pellet-1(tanah liat + arang), (4) agar + spon, (5) kapsul (Ca-alginat), dan (6)kontrol (akuades). Setiap formula diinokulasikan 10 6 juvenil infektif (JI).Masing-masing perlakuan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL)dengan tiga kali ulangan. Penurunan jumlah juvenil infektif (JI) padasetiap formula yang diamati per minggu selama ± 4 minggu. Isolat yangdigunakan untuk penelitian ini berasal dari Asembagus. Untukmengevaluasi efektivitas formula, larva H. armigera diperlakukan denganJI yang berasal dari masing-masing formula setiap minggu selama empatminggu. Perlakuan ini menggunakan rancangan acak lengkap denganempat ulangan. Jumlah penurunan JI setiap minggu selama empat minggusetelah perlakuan. Persentase JI yang hidup pada pellet-1, suspensi, pellet-2, agar + spon, kapsul, dan kontrol berturut-turut sebesar 53; 12,4; 44;63,8; 17,6; dan 5%. Pada minggu pertama sampai minggu keempat setelahperlakuan terlihat bahwa formula yang paling baik mempertahankan JIadalah agar + spon dan kemudian berturut-turut diikuti oleh pellet-1,pellet-2, kapsul, suspensi. Steinernema sp. yang disimpan selama empatminggu dalam berbagai bentuk formula terhadap H. armigera berkisarantara 80-99%. Formula agar dan spon paling baik untuk menyimpanSteinernema sp. selama empat minggu, karena formula ini memberikantingkat viabilitas dan efektivitas Steinernema sp. paling tinggi.Kata kunci : efektivitas, formula, Helicoverpa armigera, Steinernema sp.,viabilitasABSTRACTEntomopathogenic nematodes genus Steinernema for are potentialto be used as a control for various insect pests, especially ordoLepidoptera, such as Helicoverpa armigera. The use of Steinernema tocontrol H. armigera is beneficial because it is environmentally friendly,easy to produce, tolerant to several pesticides, actively search the targetinsect, does not cause resistance and resurgence, and can be applied byusing standard sprayer. Unfortunately, biological pesticide containingSteinernema is still limited. The study was aimed at formulating abiological agen containing Steinernema sp. to control the cotton bollwormweevil (H. armigera). The experiment was conducted at insect pathologylaboratory, Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute,Malang from May to July 2010. Steinernema sp. instar III larvae wasformulated in six different forms such as Pellet-1 (clay+carbon),suspension (distilled water+sucrose), Pellet-2 (rice husk), agar+sponge,capsule (Ca-alginate), and control (distilled water). Each formulation wasinoculated with 10 6 Infective Juvenile (IJ). Each treatment was arranged incompletely randomized design (CRD) with three replicates. Eachformulation observed showed decrease in IJ number every week for + 4weeks. Isolates used for this research were originated from Asembagusexperimental station. For evaluation of the formulation effectiveness, H.armigera larvae was treated using IJ from the formula weekly for fourweeks. On the first week after treatment, the percentages of living IJ inPellet-1, suspension, Pellet-2, agar+sponge, capsule, and control were 53;12.4; 44; 63.8; 17.6; and 5%, respectively. Effectiveness of Steinernemasp. stored for four weeks in various formulations against H. armigeraranged from 80-99%. The best formula of Steinernema sp for storage wasagar+sponge because of its ability to viability and effectiveness ofSteinernema sp.Key words: effectiveness, formulation, Helicoverpa armigera, viability,Steinernema sp.,
PELUANG PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KELAPA SAWIT RAKYAT DI PROVINSI LAMPUNG BARIOT HAFIF; Rr. ERNAWATI; YULIA PUJIARTI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n2.2014.101-109

Abstract

ABSTRAKProduktivitas kelapa sawit rakyat di Provinsi Lampung masih relatifrendah dibanding potensi produktivitas optimal. Berkenaan dengan hal itu,dari bulan Februari sampai dengan September 2012 dilakukan kajiandengan tujuan mengidentifikasi karakteristik agroekologi dan teknispengelolaan kebun kelapa sawit rakyat yang berpeluang diperbaiki agarproduktivitas kebun kelapa sawit rakyat meningkat. Kebun kelapa sawitrakyat yang diidentifikasi dipilih secara acak di tujuh kabupaten diProvinsi Lampung. Pengumpulan data dilakukan melalui survei danwawancara petani. Rata-rata produksi tandan buah segar (TBS) kebunkelapa sawit rakyat di Lampung masih rendah (15 ton/hektar/tahun).Produksi ini berpeluang ditingkatkan melalui penerapan teknologi yangdapat mengatasi sifat-sifat agroekologi sebagai faktor pembataspertumbuhan dan produksi kelapa sawit, seperti ketersediaan air, retensihara, dan bahaya erosi. Teknologi yang dibutuhkan untuk mengatasikendala tersebut antara lain membangun irigasi suplemen, meningkatkankemampuan tanah dalam menyimpan air, memperbanyak penggunaanbahan organik dan kapur, serta mengaplikasikan teknologi konservasitanah dan air. Produktivitas kebun kelapa sawit rakyat akan berpeluangmeningkat  seiring  dengan  bertambahnya  umur  tanaman,  sertameningkatnya penggunaan pupuk organik untuk tanaman yang telahmenghasilkan (TM) dan pupuk NPK untuk tanaman belum menghasilkan(TBM). Pembinaan petani perlu diintensifkan untuk meningkatkankesadaran petani akan pentingnya memupuk TBM. Hasil analisismengindikasikan bahwa pemupukan NPK untuk TBM berkorelasi positifdengan produktivitas kelapa sawit.Kata kunci: Elaeis guineensis Jacq., agroekologi, pengelolaan kebunkelapa sawit rakyat, produktivitasABSTRACTProductivity of smallholder oil palm in Lampung province is stillrelatively low compared to the potential for optimal productivity. A studywas conducted with regard to that, from February to September 2012 toidentify the agroecological characteristics and technical management ofsmallholder oil palm plantations that likely to be improved in order toincrease the productivity of oil palm of smallholder. Smallholderplantations studied were randomly selected, each 1 sites in seven districtsin Lampung Province and data collection was conducted through surveysand interviews of farmers. Average production of fresh fruit bunches(FFB) of smallholder oil palm plantations in Lampung are still low (15tons/hectare/year). The production is likely to be enhanced through theapplication of technology that is able to cope with the nature ofagroecology as the constraints of growth and production of oil palm,namely the availability of water, nutrient retention, and erosion hazard.The technology needed to overcome the obstacles include supplementingirrigation, increasing the soil's ability to store water, multiplying the useof organic materials and lime, and applying soil and water conservationtechnologies. Besides that, oil palm productivity of smallholder likelyincrease, along with the increasing age of the plant, the growing use oforganic fertilizer for plants that have produced (TM) and NPK fertilizerfor immature plants (TBM). Development of farmers needs to beintensified to increase farmers' awareness of the importance of fertilizingthe TBM. The results of the analysis indicated that NPK fertilization forTBM positively correlated with the productivity of oil palm.Keywords: Elaeis guineens
DINAMIKA POPULASI Rhizoctonia solani PADA LAHAN PERTANAMAN TUMPANGSARI KAPAS-KACANG HIJAU DENGAN Crotalaria sp. TITIEK YULIANTI; NURUL HIDAYAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n2.2011.77-82

Abstract

ABSTRAKLahan kapas di Indonesia umumnya tegalan tadah hujan yangkesuburannya rendah-sedang. Penambahan pupuk hijau sebagai cara untukmeningkatkan kesuburan tanah sekaligus menahan air perlu memper-timbangkan kondisi biologis tanah, terutama patogen tanah sepertiRhizoctonia solani yang akan terpacu pertumbuhannya. Jamur ini sulitdikendalikan karena mampu bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupukhijau (Crotalaria sp.) ke dalam tanah terhadap populasi mikroorganismedan R. solani pada pertanaman tumpangsari kapas-kacang hijau. Penelitiandilakukan di dua tipe tanah, yaitu tanah lempung berpasir di Pasirian,Lumajang dan tanah liat di Sumberrejo, Bojonegoro (Jawa Timur).Kacang hijau varietas Perkutut ditanam di antara barisan kapas Kanesia 8.Perlakuan yang diuji adalah dua cara pemberian Crotalaria segar (dicacah10-15 cm), yaitu dibenamkan ke dalam tanah (seminggu sebelum tanambenih kapas) dan disebarkan (dimulsakan) di atas tanah bersamaan denganwaktu tanam kapas dan kacang hijau. Cacahan Crotalaria (20 ton/ha atau216 kg/petak berukuran 12 m x 9 m) diaplikasikan pada lajur di sekitartanaman kapas. Perlakuan disusun secara kelompok dan diulang tiga kali.Sampel tanah diambil pada saat tanaman kapas berumur 30, 60, dan 90hari setelah tanam (hst) untuk dihitung populasi mikroba non patogen,yaitu aktinomisetes, bakteri, dan jamur menggunakan media selektif,sedangkan R. solani dihitung dengan metode bioasay menggunakan tusukgigi steril. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa populasi mikroorga-nisme di dalam tanah meningkat secara nyata setelah diberi Crotalaria,baik dengan cara dimulsakan maupun dibenamkan, sementara populasimikroorganisme di dalam tanah yang tidak diberi mulsa relatif stabil.Secara umum terjadi peningkatan populasi mikroorganisme tanah(aktinomisetes, bakteri, dan jamur) pada tanah yang diberi Crotalariadengan cara dibenamkan dibandingkan yang dimulsakan, 30 hst. Pada 90hst populasi mikroba menurun, namun total populasi mikroorganismedalam tanah yang diberi Crotalaria masih lebih tinggi daripada tanah yangtidak diberi Crotalaria. Populasi R. solani pada tanah lempung berpasiratau tanah liat yang diberi perlakuan Crotalaria, baik yang dimulsakanmaupun dibenamkan, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.Pada pengamatan 30 hst, populasi R. solani dalam tanah berpasir naik 82-140% dari kontrol, sedangkan di dalam tanah liat naik 47-58%. Sejalandengan proses dekomposisi Crotalaria, persediaan bahan organik yangbelum terdekomposisi menipis ditambah dengan meningkatnya populasimikrorganisme saprofitik lain di dalam tanah, maka pada 90 hst populasiR. solani menurun dan tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kontrol.Dengan demikian, penambahan pupuk hijau Crotalaria segar pada lahanyang sudah tercemar jamur R. solani berrisiko meningkatkan kematiantanaman kapas sehingga pupuk hijau harus didekomposisikan terlebihdahulu sebelum diaplikasikan.Kata kunci : Gossypium hirsutum, Vigna sinensis, dinamika populasi,mikroba tanah, Rhizoctonia solani, mulsa CrotalariaABSTRACTPopulation Dynamic of Rhizoctonia solani on Cotton-Mungbean Cropping System Enriched with CrotalariaCotton in Indonesia is usually cultivated on rain fed areas with low-medium soil fertility. Amendment of green manure to improve soilproperties should consider soil biological conditions, particularly soilbornepathogens, such as Rhizoctonia solani which could be stimulated. Thisinvestigation aimed to determine the effect of amendment of Crotalariasp. on population of R. solani and non pathogenic soil microorganisms inthe soil cultivated with cotton intercropped with mungbean plants. Theinvestigation was conducted in two soil types i.e. sandy loam in Pasirian,Lumajang and clay soil in Sumberrejo, Bojonegoro (East Java). Mungbean(var. Perkutut) was planted within the cotton row (var. Kanesia 8). FreshCrotalaria plants were cut into 10-15 cm long. The treatments wereincorporation of Crotalaria into the soil a week before planting andmulching the Crotalaria on the soil surface. Crotalaria was applied at arate of 20 t/ha or 216 kg/plot (12 m x 9m). Control treatment was plotwithout Crotalaria amendment. The experiment was arranged using arandomized block design with three replicates. The soil was sampled whenthe cotton plants were 30, 60, and 90 days after sowing (das) to estimatethe population of non pathogenic soil microbes (actinomycetes, bacteria,and fungi) using selective media. It was also to estimate population of R.solani using sterile toothpick bait bioassay. The study showed that popu-lation of soil microbes significantly increased following amendment ofCrotalaria at 30 das, both in the incorporated and mulched treatments.Generally, the population was higher in the incorporated treatment than inthe mulched one. At 90 das the microbial population decreased, however,those in the crotalaria amendments were still higher compared to thecontrol. Population of R. solani increased significantly both in the sandyloam and clay soils amended with Crotalaria. Population of R. solaniincreased 82-140% in the sandy loam soil on 30 das, whilst in the clay soilit increased 47-58%. As the decomposition of Crotalaria occurred, theavailable organic matter diminished as the result the population of R.solani declined. For example, at 90 das the number of R. solani was notsignificantly different compared with the control. This study concludedthat addition of fresh green manure (Crotalaria) soon prior to planting ofcotton in the soil infested with R. solani is highly risk to damping offdisease incidence. Therefore, green manure plant should be decomposedbefore application.Key words : Gossypium hirsutum, Vigna sinensis, population dynamic,soil microbes, Rhizoctonia solani, plant residues
KETAHANAN DELAPAN KULTIVAR TEMBAKAU LOKAL BONDOWOSO TERHADAP TIGA PATOGEN PENTING (Ralstonia solanacearum, Pectobacterium carotovorum, DAN Phytophthora nicotianae) TITIEK YULIANTI; NURUL HIDAYAH; SRI YULAIKAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 3 (2012): September 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n3.2012.89-94

Abstract

ABSTRAKTembakau bondowoso merupakan tembakau lokal rajangan yangberkembang di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Saat ini ada delapankultivar dengan karakter produksi, mutu, dan ketahanannya terhadappenyakit yang berbeda. Layu bakteri (Ralstonia solanacearum), busukbatang berlubang (Pectobacterium carotovorum), dan lanas (Phytophthoranicotianae) merupakan penyakit yang sering menyebabkan turunnyaproduksi tembakau bondowoso. Evaluasi ketahanan delapan kultivartembakau bondowoso (Samporis, Serumpung, Marakot, Samporis Lokal,Samporis AH, Samporis CH, Samporis B. Disbun, dan Deli) terhadapketiga patogen tersebut dilaksanakan di laboratorium dan rumah kasa BalaiPenelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) mulai bulan April sampaidengan Oktober 2011. Penelitian terhadap ketiga patogen tersebutdilakukan secara terpisah. Masing-masing kultivar ditanam sebanyak 10tanaman, 1 tanaman/polibag. Setiap perlakuan (kultivar) diulang 3 kali dandisusun dalam rancangan acak kelompok (RAK). Inokulasi R.solanacearum dan P. carotovorum dilakukan secara terpisah 24 jamsebelum transplanting. Inokulasi P. nicotianae dilakukan dengan dua cara,yaitu melalui akar dan pangkal batang. Inokulasi akar sama dengan carainokulasi bakteri. Inokulasi pangkal batang dilakukan pada tanamanberumur 2 minggu setelah transplanting. Pengamatan intensitas penyakitdilakukan setiap minggu selama 11 minggu. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kultivar Samporis CH, Samporis, dan Deli tahan terhadap P.carotovorum, R. solanacearum, dan P. nicotianae. Kultivar Samporis CH.,Samporis, dan Deli ketahanannya lebih tinggi terhadap ketiga patogen,dengan intensitas penyakit berkisar antara 3,3%-6,7%. Kultivar Marakotsangat rentan terhadap ketiga patogen tersebut dengan tingkat keparahan ≥50%. Demikian pula kultivar Samporis AH yang rentan terhadap R.solanacearum, P. nicotianae dan P. carotovorum dengan intensitaspenyakit 23,3-53,3%. Oleh karena itu, kultivar Samporis CH, Samporis,dan Deli cocok dikembangkan pada lahan endemik penyakit tular tanah diKabupaten Bondowoso.Kata kunci: tembakau  bondowoso, Pectobacterium  carotovorumPhytophthora  nicotianae, Ralstonia  solanacearum,ketahananABSTRACTBondowoso tobacco is a local type of sliced tobacco which isrestrictedly cultivated in Bondowoso Regency, East Java. There are eightcultivars known, ie. Samporis, Serumpung, Marakot, Samporis Lokal,Samporis AH, Samporis CH, Samporis B. Disbun, and Deli with their owndistinctive characters on their production, quality, and resistance todiseases. Bacterial wilt (Ralstonia solanacearum), hollow stalk rot(Pectobacterium carotovorum), and blackshank (Phytophthora nicotianaeare the main cause of bondowoso tobacco production loss. Evaluation onthe resistance level of the cultivars to the three pathogens above has beenconducted at a laboratory and screen house scale in Indonesian Sweetenerand Fibre Crops Research Institute from April to October 2011. Theevaluation of each pathogen was conducted separately. Each evaluation ofthe pathogen per cultivar used 10 plants planted individually in a polybag.The experiment was arranged in a randomized block design with 3replicates. R. solanacearum and P. carotovorum were separatelyinoculated on the test plants 24 h before transplanting. The inoculation ofP. nicotianae was done twice via the root and stem. Disease intensity wasobserved weekly for 11 weeks. The results showed that Samporis CH,Samporis, and Deli cultivars were resistant to P. carotovorum, R.solanacearum and P. nicotianae, whereas Samporis and Deli cultivarswere more resistant to the pathogens (disease intensity ranged 3.3-6.7%).Marakot cultivar was very susceptible to all of the three pathogens (diseaseintensity ≥ 50%). Similarly, Samporis AH cultivar was also susceptible tothe pathogens with disease intensity ranged 23.3-53.3%. The studyindicated that Samporis CH, Samporis, and Deli cultivars are suitable to becultivated in the endemic soil born pathogen areas of BondowosoRegency.Key words: bondowoso  tobacco, Pectobacterium  carotovorum,Phytophthora  nicotianae, Ralstonia  solanacearum,resistance
KAJIAN KESUBURAN TANAH PERKEBUNAN KARET RAKYAT DI PROVINSI BENGKULU NURMEGAWATI NURMEGAWATI; AFRIZON AFRIZON; DEDI SUGANDI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n1.2014.17-26

Abstract

AbstrakKaret merupakan salah satu komoditas perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja maupun devisa negara. Kesuburan tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman karet. Oleh sebab itu, penilaian kesuburannya mutlak diperlukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat kesuburan tanah pada perkebunan karet rakyat di Provinsi Bengkulu. Penelitian ini dilaksanakan di sentra perkebunan karet rakyat Provinsi Bengkulu yang meliputi Kabupaten Bengkulu Tengah, Seluma, Bengkulu Utara, Bengkulu Selatan dan Kaur. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode purposive random sampling pada lahan seluas 5 ha pada kedalaman tanah 0-20 cm da 20-40 cm. Analisis tanah yang dilakukan meliputi penetapan pH tanah (dengan metode pHmetri), C-Organik (spektrofotometri), N (Kjeldhal), P (spektrofotometri), kation K (flamephotometer), kation Mg (titrasi) dan KTK (destilasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pH tanah berkisar 4,35-5,20 sesuai untuk tanaman karet. Kandungan bahan organik termasuk rendah sehingga perlu penambahan bahan organik, dalam hal ini dilakukan penanaman tanaman penutup tanah. Kandungan unsur hara N dan P termasuk sangat rendah sampai rendah sehingga mutlak diperlukan pupuk yang mengandung N dan P. Kandungan K-dd yang tersedia termasuk sangat rendah sehingga perlu pemupukan yang mengandung K2O. Kandungan Mg-dd termasuk sedang sampai sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tidak menunjukkan gejala diperlukannya pemupukan Mg. Kandungan KTK termasuk sangat rendah sampai rendah, artinya pemupukan kation tertentu tidak boleh banyak karena mudah tercuci bila diberikan dalam jumlah berlebihan.Kata Kunci: Hevea brasiliensis , analisis tanah, kesuburan, produktivitas, Bengkulu

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue