cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
KESESUAIAN BEBERAPA GALUR KAPAS BERDAUN OKRA PADA SISTEM TANAM RAPAT PRIMA DIARINI RIAJAYA; FITRININGDYAH TRI KADARWATI; EMY SULISTYOWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 3 (2009): September 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n3.2009.124-130

Abstract

ABSTRAKTanaman kapas dengan bentuk daun yang menjari (okra) diharapkanbisa dikembangkan dengan sistem tanam rapat untuk meningkatkan hasilkapas berbiji. Penelitian lapang dilakukan di Kebun Percobaan Asem-bagus, Situbondo, Jawa Timur mulai Februari-Juli 2007 dan bertujuanuntuk mengetahui kesesuaian galur kapas berdaun okra pada sistem tanamrapat. Sistem tanam rapat yang dimaksud adalah sistem tanam monokulturdengan jarak tanam dalam barisan dirapatkan yaitu dengan jarak tanam100 cm x 10 cm (100.000 tan/ha). Percobaan disusun dalam rancanganacak kelompok dengan 3 ulangan dan 1 ulangan monokultur dengan sistemtanam normal (100 cm x 25 cm; 40.000 tan/ha). Perlakuan terdiri dari 14galur/varietas kapas yang terdiri atas 12 galur berdaun okra dan 2 varietasberdaun normal (Kanesia 8 dan Kanesia 13) sebagai pembanding.Paramater yang diamati adalah tinggi tanaman, lebar kanopi, jumlahcabang generatif, jumlah buah/tanaman setiap bulan mulai 60-120 HST.Bobot buah, jumlah buah terpanen dan hasil kapas berbiji diamati saatpanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan populasi tanam-an menurunkan jumlah cabang generatif, jumlah buah dan bobot buah pertanaman. Semua galur okra yang dicoba pada sistem tanam rapat rata-ratahanya meningkatkan hasil kapas berbiji 2,12% dibanding pada populasinormal. Rata-rata hasil kapas berbiji galur okra pada populasi rapat adalah2.315,8 kg/ha dan pada populasi normal 2.293,2 kg/ha. Selanjutnya hasilkapas berbiji berdaun normal Kanesia 8 dan Kanesia 13 pada populasirapat masing-masing 2.159 dan 2.179 kg/ha dan pada populasi normal1.983 kg/ha dan 2.525 kg/ha. Galur okra 98040/3 dan 98048/2 menghasil-kan produksi tertinggi pada populasi rapat (masing-masing 2.640 kg/hadan 2.627 kg/ha) dan pada populasi normal (2.688 kg/ha dan 2.807 kg/ha).Kedua galur okra tersebut mempunyai potensi hasil yang lebih tinggidibanding kapas berdaun normal (Kanesia 8 dan Kanesia 13) baik padapopulasi rapat maupun populasi normal.Kata kunci: Gossypium hirsutum L., tanam rapat, daun okraABSTRACTSuitability of Cotton Lines with Okra Leaves UnderNarrow Interrow SpacingOkra leaf cotton crop may have a potential increase in the seedcotton yield under narrow inter row spacing. Okra leaf cotton lines weretested in relative performance under high interrow spacing. The field trialwas conducted at the Asembagus Experimental Station, Situbondo, EastJava from February to July 2007. Okra leaf cotton lines were planted asmonocrop with plant spacing of 100 cm between rows and 10 cm withinrows (100,000 plants/ha). Experiment was arranged in a randomized blockdesign with three replicates. In addition, one plot was allocated formonocrop with normal inter row spacing (100 cm between rows and 25 cmwithin rows; 40,000 plants/ha). Fourteen selected cotton lines consistingof 12 lines with okra leaf and 2 varieties (Kanesia 8 and Kanesia 13) withnormal leaf as check varieties were tested. Cotton plant height, canopywidth, number of fruiting branches, and boll/plant were measured monthlyfrom 60-120 dap. Boll weight, number of harvested bolls, and seed cottonyield were counted at harvesting. Results showed that increased plantdensity resulted in reduced fruiting branches, boll count, and boll weight.The okra leaf cotton under high crop density system showed a yieldincrease by 2.12% compared to normal spacing. Average seed cotton yieldunder narrow interrow spacing was 2,315.8 kg/ha and the average yieldunder normal interrow spacing was 2,293.2 kg/ha. Okra lines cotton98040/3 and 98048/2 showed the highest yield under narrow interrowspacing (2,640 and 2,627 kg/ha) and under normal interrow spacing (2,688kg/ha dan 2,807 kg/ha). Both lines offered higher yield than those withnormal leaf under high interrow spacing and normal population.Key words: Gossypium hirsutum L., high interrow spacing, okra leaf
PEMILIHAN BATANG BAWAH JARAK PAGAR (Jatropha curcas Linn.) TOLERAN TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN MOHAMMAD CHOLID; HARIYADI HARIYADI; SLAMET SUSANTO; DJUMALI DJUMALI; BAMBANG SAPTA PURWOKO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n1.2014.45-56

Abstract

ABSTRAK
INOVASI TEKNOLOGI DAN INOVASI KELEMBAGAAN MENDUKUNG KEBERLANJUTAN USAHATANI LADA DI KALIMANTAN TIMUR / Technology and Institution Innovation Supporting the Sustainability of Pepper Farming System in East Kalimantan Agus Wahyudi; Suci Wulandari
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v25n2.2019.108-124

Abstract

Pepper farming in East Kalimantan has faced many obstacles. It is shown by the decline in pepper production in the last five years and the pepper conversion. This condition will affect the sustainability of pepper farming in East Kalimantan, as one of the national white pepper centers. Consequently, it is important to analyze and to establish a technology and institutional innovations. The study aimed to: (1) measure and analyze the sustainability of pepper farming, (2) identify technology innovation, (3) map the opportunities for adoption, and (4) develop institutional innovation and support system. The sustainability analysis of farming was done using weighting and rating methods. Data were collected in Kutai Kertanegara Regency, East Kalimantan in 2016. Results showed that the sustainability level of pepper farming is 3.0062, in the good category, but with a very low value. The environmental aspects provided the greatest value of the contribution to sustainability, followed by economic aspects and social aspects. Technology innovation was needed to overcome the problems. Nevertheless, technology adoption was relatively low. This was influenced by several factors, such as economic factors namely costs and income, social factors namely institutions and facilities support, and technological factors namely suitability and ease of implementation. Therefore, technology innovation needs to be supported by institutional innovation. The types of institutional innovations consist of: (1) establishment of working groups, (2) development of Seed Self-Reliance Region, (3) regulations related to quality standards and monitoring mechanisms, and (4) joint sales, as well as supporting facility to accelerate innovation adoption.Keyword: sustainability index, technology adoption, economic, support facilities. AbstrakUsahatani lada di Kalimantan Timur masih dihadapkan pada berbagai permasalahan, yang ditunjukkan oleh penurunan kemampuan produksi setelah lima tahun dan adanya konversi usahatani dari lada menjadi komoditas lain. Hal ini akan mempengaruhi keberlanjutan usahatani lada di Kalimantan Timur sebagai salah satu sentra lada putih nasional. Oleh karena itu penting untuk dianalisis dan disusun inovasi teknologi dan kelembagaan untuk mengatasinya. Kajian bertujuan untuk (1) mengukur dan menganalisis keberlanjutan usahatani lada, (2) identifikasi inovasi teknologi, (3) pemetaan peluang adopsi, serta (4) menyusun inovasi kelembagaan dan dukungan bagi peningkatan adopsi inovasi. Analisis keberlanjutan usahatani dilakukan dengan menggunakan metode weighting dan rating. Pengambilan data dilakukan di Kabupaten Kutai Kertanegara Kalimantan Timur pada tahun 2016. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa tingkat keberlanjutan usahatani lada memiliki nilai 3,0062 masuk kategori baik, namun dengan nilai sangat rendah pada kelas tersebut. Aspek lingkungan memberikan nilai kontribusi terbesar terhadap keberlanjutan, diikuti dengan aspek ekonomi dan aspek sosial. Inovasi teknologi diperlukan untuk mengatasi permasalahan sehingga terbangun keberlanjutan usahatani lada. Secara umum, peluang adopsi teknologi masih relatif rendah.  Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor ekonomi yaitu dari sisi biaya dan pendapatan, faktor sosial yaitu kelembagaan dan dukungan fasilitas, serta faktor teknologi yaitu kesesuaian dan kemudahan dalam menerapkan teknologi. Oleh karena itu inovasi teknologi perlu didukung dengan inovasi kelembagaan. Jenis inovasi kelembagaan bagi peningkatan keberlanjutan usahatani lada yaitu: (1) pembentukan kelompok kerja, (2) pengembangan desa mandiri benih, (3) regulasi terkait standar mutu dan mekanisme pengawasan, serta (4) penjualan bersama, Selain itu juga perlu dukungan fasilitas untuk mempercepat adopsi inovasi.Kata kunci: indeks keberlanjutan, adopsi teknologi, ekonomi, fasilitas pendukung.
PENGARUH JENIS PUPUK DASAR DAN SUSULAN TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU TEMBAKAU CERUTU BESUKI RACHMAN, ABDUL; SHOLEH, M.; PURLANI, EDI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n1.2004.34-40

Abstract

Penelitian pemupukan tembakau cerutu besuki telah dilakukan di Desa Mangaran, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember (30 m dpi) untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk dasar dan pupuk susulan terhadap produksi dan mutu. Tembakau ditanam pada awal musim kemarau (disebut besnota), yaitu minggu ke 1 bulan Juli 2000. Lahan percobaan berjcnis tanah Aluvial dengan tekstur liat berkadar 44% liat, 20% debu, dan 46% pasir, 0.67% C-organik, 0.14% N total, 10.64 cmol/kg P tersedia, 0.45 cmol/kg K, 7.30 cmol/kg Ca, dan pH 6.62. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok faktorial, dengan 3 ulangan Faktor petama adalah perlakuan pupuk dasar (jenis pupuk NPK dan SP36 + urea), sedangkan faktor kedua adalah perlakuan jenis pupuk susulan (urea, CN, CN+CPN, CN+PN, dan CSN). Ukuran petak percobaan 10 m x 7 m , jarak tanam (110 cm i 90 cm) x 35 cm, dengan populasi 200 tanaman per petak dan varietas 11382 Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk dasar NPK tidak berbeda pengaruhnya dibanding dengan pupuk SP36+ urea terhadap hasil, ukuran, ketcbalan daun posisi KAK dan TNG, persentase daun pembalut-pembungkus dan kadar unsur hara daun. Namun perlakuan pupuk NPK menghasilkan daun KOS 3 lebih tipis, daya bakar daun KOS 1 dan KAK 3 yang lebih lama, nisbah K20/CaO yang lebih tinggi. Pupuk susulan CN i CPN dan CN + PN memberikan hasil dan kadar N daun yang lebih tinggi daripada perlakuan yang lain. Pupuk susulan tidak berpengaruh terhadap ukuran daun, ketebalan daun, daya bakar, persentase daun pembalul-pembungkus, kadar P2Oj. K20, dan CaO daun. Berdasarkan analisis kualitas semua pupuk altematif yang dicoba- kan, baik sebagai pupuk dasar maupun pupuk susulan, pupuk-pupuk tersebut dapat digunakan pada tembakau cerutu besuki. Selanjutnya, perlu dilakukan sosialisasi penggunaan pupuk altematif tersebut kepada petani.Kata kunci: pupuk, produksi, mutu, Nicotiana tabacum, tembakau cerutuABSTRACTEffect ofbasalfetilizers and side dressingfetilizer on the production and quality of besuki cigar tobaccoThe expeiment was conducted in Mangaran, Jenggawah Distict, Jember (at the altitude of 30 m). The objective was to study the effect of basal fetilizers and side dressing fetilizer on the production and quality of besuki cigar tobacco. Tobacco was planted in early dry season, in irst week of July 2000 (named as besnota tobacco). The soil was alluvial with clay texture (44% clay, 20% silt, and 46% sand). Other characteristics of the soil was 0.67% C-organic, 0.14% total-N, 10.64 cmol/kg available P, 0.45 cmol/kg available K, 7.30 cmol/kg Ca, and pH 6.62. The treatment consisted of two factors, i.e. basal dressing (NPK compound fetilizer and SP36 + urea) and side dressing (urea, CN, CN + CPN, CN + PN, and CSN). The treatments were arranged in a factoially randomized block design with 3 replications. Planting space was double row (110 cm + 90cm) x 35 cm, 200 plants per plot. Tobacco vaiety was H382. The results of the experiment showed that the effect of NPK fetilizer was not significantly different from SP36 + urea, on the yield, leaf size, thickness of KAK and TNG leaf positions, wrapper + binder precentagc and chemical content of the leaves. However, the tobacco crop received NPK fetilizer had positive characteistics, i.e. thinner leaves (KOS 3), longer buning duration (KOS 1 and KAK 3), higher K20/CaO ratio than SP36 + urea (reatment. CN + CPN and CN + PN as side dressing treatments gave yield and N content higher than other treatments. Side dressing treatments did not affect the leaf size, thickness, buning duration, wrappcr+binder percentage. P2Oj. KjO, and CaO, content of the leaves. However, based on the quality analysis the fertilizers tested either as basal dressing or as side dressing can be used as an altenative for besuki cigar tobacco fetilization. Futhermore, the use of these altenative fetilizers need to be socialized to the tobacco farmers.Keywords: Cigar tobacco, fetilizer, production, quality, Nicotiana tabacum
PERKIRAAN PELUANG HUJAN UNTUK MENENTUKAN WAKTU TANAM KAPAS DI NUSA TENGGARA BARAT RIAJAYA, PRIMA D.; KADARWATI, F. T.; MACHFUD, MOCH.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v9n2.2003.39-47

Abstract

Curah hujan merupakan salah salu unsur iklim yang sangal berpengaruh terhadap produksi kapas Variasi hujan di lahan tadah hujan sangat linggi. Waklu tanam yang telah dilentukan sebelumnya hanya berdasarkan data curah hujan selama 1 0 Uihun Untuk mcmpcrbaiki waktu tanam tersebut, perlu dilakukan analisis hujan berdasarkan data curah hujan selama lebih dari 20 tahun untuk mendapatkan angka peluang yang lebih stabil. Analisis dilakukan berdasarkan data curah hujan lebih dari 20 tahun yang lerkumpul dari 16 slasiun hujan yang tersebar di Kabupaten Lombok Timur. lombok Tengah. Lombok Barat, Sumbawa, Bima, dan Dompu. Data dianalisis menggunakan metode peluang Markov Ordc Pertama dan perhilungan peluang sclang kering beturut-turut Waktu tanam kapas di sebagian besar I-ombok dan Sumbawa berkisar minggu pertama sampai minggu kedua Desember, minggu ketiga sampai keempal Desember di Kawo, Lombok Tengah dan Rasanae, Bima, dan minggu pertama Januari di Moyohilir, Sumbawa dan Bayan, Lombok Barat. Daerah yang beresiko linggi untuk pengembangan kapas adalah di wilayah sekilar Pringgabaya (Lombok Timur), Ulhan (Sumbawa), Donggo dan Wawo di Bima Daerah lainnya dengan kandungan air tersedia yang rendah dengan kandungan pasir lebih dari 50% seperti di 1-ape (Sumbawa) penanaman kapas hendaknya dilakukan lebih awal. Tipe iklim didominasi iklim kering dengan musim hujan yang sangat pendek sehingga tidak memungkinkan adanya pergiliran tanaman palawija-kapas Kapas hendaknya ditanam bersamaan dengan palawija mcngingal pendeknya periode hujan.Kata kunci : Gossypium hirsutum, waktu tanam. periode kering, masa tanam ABSTRACT Prediction of rainfall probability for determination of cotton sowing times in West Nusa TenggaraClimatic elements paticularly rainfall strongly influences successful prediction of rainfed cotton yield. Rainfall vaiability varies amongst Ihe season The previous planting times were determined based on 10 years daily rainfall data. I-ongterm rainfall data arc required for rainfall analysis to get reliable probabilities. The rainfall analysis was done using Markov Chain First Order Probability and dryspell probability methods Ihe rainfall data were collected from 16 rainfall stations in West Nusa Tcnggara (Eas( Lombok, Central I-ombok, West Lombok, Sumbawa, Bima, and Dompu). Ihe planting times varied from the irst week to the second week of December for most areas of I-ombok and Sumbawa The planting limes in Kawo, Central Lombok and Rasanae, Bima were mid December: and early January in Moyohilir, Sumbawa and Bayan, West l.ombok The areas which high risk to drought are around Pringgabaya (Hast lombok), Uthan (Sumbawa), Donggo and Wawo (Bima). On sandy- areas such as I-ape (Sumbawa) cotton should be planted earlier Type of climate in most areas is dry with limited rainy season, thai relay-planting of these areas is not practiced.Key words: Gossypium hirsutum, planting time, dryspcll, seasonal patern
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN USAHATANI JAMBU METE DI SULAWESI TENGGARA INDRAWANTO, CHANDRA; WULANDARI, SUCI; WAHYUDI, AGUS
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v9n4.2003.141-147

Abstract

Metode AHP (analytical hierarchy process) digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani jambu mete. Data dikumpulkan melalui wawancara secara mendalam dengan para ahli mete dan melalui wawancara terstruktur dengan petani jambu mete di empat desa dalam dua kecamatan di Kabupaten Kendari dan di empat desa dalam dua kecamatan di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara yang dilaksanakan pada bulan Mei 2002. Hasil analisis menunjukkan ada 12 faktor penentu yaitu modal, tenaga kerja, sarana produksi, lahan, teknologi, managerial, lembaga pemasaran, transportasi, informasi pemasaran, kelompok tani, penyuluh dan lembaga keuangan. Empat faktor, yaitu tenaga kerja, sarana produksi, lembaga pemasaran dan transportasi bcrada dalam kondisi dapat diterima. Tiga faktor yaitu modal, lahan dan kelompok tani bcrada dalam kondisi sangat buruk, sedangkan lima faktor lainnya berada dalam kondisi buruk. Dilihat dari nilai kcpentingannya, tiga faktor yaitu modal yang kondisinya sangat buruk, teknologi dan informasi pemasaran yang kondisinya buruk, memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Ha] ini menunjukkan pioritas pembenahan usahatani jambu mete harus diarahkan pada ketiga faktor tersebut.Kata kunci: Anacardium occidentale L, usahatani, faktor penentu ABSTRACT Analysis of determinant factors in cashew farming performance in Southeast SulawesiAnalytical hierarchy process (AHP) method was applied to analyze determinant factors in cashew farming performance. Data were collected through indepth interview with cashew experts and through structured interview with cashew farmers in four villages in two districts in Kendari Regency and in four villages in two districts in Buton Regency, Southeast Sulawesi in May 2002. The results showed that there were 12 determinant factors, i.e. the availability of capital, labour, input production, land condition, technology, managerial, market institution, transportation, market information, farmers institution, farming instructor, and financial institution. Four factors, labour, input production, transportation and market institution are in fair condition. Three factors, capital, land and fanners institution were in very poor condition. And the rest ive factors were in poor condition. The effort to increase the cashew farming performance has to be focused on capital, technology and market information factors which are in poor or very poor conditions and are crucial determinants.Key words: Anacardium occidentale L, farming, determinant factors
PENGARUH SELANG PANEN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI NILAM HOBIR, .
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 8, No 3 (2002): September, 2002
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v8n3.2002.103-107

Abstract

Pengaruh sclang panen terhadap pertumbuhan dan produksi nilam dipelajari di KP Manoko (Lembang ) dari tahun 1992 sampai 1994 Percobaan dirancang secara acak kelompok dengan 9 ulangan Luas pelak 5m x 4.5m, jarak tanam 90 cm x 30 cm. Perlakuan Hang panen diatur sebagai berikut. Unluk menycragamkan pertanaman, pada umur 6 bulan seluruh pertanaman dipangkas setinggi 30 cm dai permukaan tanah. Setelah itu tanaman dipanen masing masing dengan selang 2, 4, atau 6 bulan. Parameter yang digunakan untuk mcnilai penganih perlakuan adalah komponen pertumbuhan, yang meliputi tinggi tanaman dan jumlah cabang (primer dan sckundcr), serta komponen produksi, yang meliputi produksi tcma (segar dan keing), produksi dan kadar minyak.. Untuk parameter tinggi tanaman. jumlah cabang, dan kadar minyak, data yang diolah adalah rata-rata pengamatan tahun pertama dan kedua. (masing- masing 1 tahun pengamatan), sedangkan unluk pcroduksi tcrna dan minyak data yang diolah adalah hasil panen kumulalif, masing masing selama tahun pertama dan kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman makin tinggi dengan makin lamanya sclang panen Tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan selang panen 6 bulan. Terhadap jumlah cabang primer, selang panen tidak berpengaruh nyata, sedang terhadap jumlah cabang sckundcr perlakuan tersebut berpengaruh nyata, dimana selang panen 2 bulan menghasilkan cabang sekunder terbanyak. Produksi tcma (segar atau kenng) pada tahun pertama tidak berbeda antar perlakuan, produksi tcma segar mencapai 61.3 68.68 kg/plot (+ 27 30 ton/ha) dan tema keing 17.15 17.87 kg/plot (+ 7.6 - 7.9 ton/ha). Pada tahun kedua, sclang panen berpengaruh nyata terhadap produksi tema, selang panen 2 bulan menghasilkan tcma tertinggi yaitu 12.02 kgplot tcma segar (+ 5.3 ton/ha) dan 5.72 kg'plot tema kering (+ 2.5 ton/ha). Terhadap produksi minyak, selang panen berpengaruh nyata, baik pada tahun pertama, maupun tahun kedua. Produksi tertinggi diperoleh dari selang panen 2 bulan, yaitu 449 ml/plot (197 |/ha) pada tahun pertama dan 142 ml plot (63 l/ha) pada tahun kedua. Terhadap kadar minyak, pada tahun pertama selang panen berpengaruh nyata, dimana kadar minyak tetinggi (2.59%) diperoleh dai pelakuan sclang panen 2 bulan. Pada tahun kedua selang panen tidak berpengaruh terhadap kadar minyak, yang bervariasi antara 2.25 - 2.97%.Kata kunci: Pogostemon cablin, sclang panen, pertumbuhan produksi ABSTRACT Effect of harvest intervals on the growth and yield of patchouliEfect of harvest intervals on the growth and yield of patchouli was studied at the Manoko Expeimental Garden from 1992 to 1994. The expeiment was designed as a randomized block in 9 replicates, and the treatments were arranged as follows. A clone of patchouli (Aceh Merah) was planted in a 5m x 4.5m plots with a plant spacing of 100cm x 30cm. Six months ater planting the plants on all plots were pruned 30 cm above the ground to make them uniform. The plants of each plot were then harvested every 2, 4, or 6 months. Ihe parameters used for evaluating the efect of treatments were the growth components, including plant height, number of branches (primary and secondary branches), and yield components, including the yield of herbs (resh and dry herbs), and oil yield and content. The processed data for plant height, number of branches and oil content were respectively the average data of one- year observation in the first and the second year, while those for yield of herbs and oil. the processed data were the accumulated data from die harvest in the first and the second year respectively Results of Ihe study are summaized as follows 'lant height was afected by harvest intervals, longer harvest interva, produced higher plant. In the irst year, no significant difference in herb yield (fresh or dry herbs) among treatments. The yield of herbs varied from 61.3 to 68.68 kg'plot (+ 27 - 30 tons/ha/year) and dry herbs from 17 1? lo 17 8 kg'plot (+ 7.6 -7.9 tons/ha). In the second year, harvest interval signiicantly afected herb yield, where the highest yield was produced by 2-month harvest interval. Oil yield was significantly afected by harvest interval, cither in the irst or in the second year. The highest yield was produced from 2-month harvest interval, i.e. 449 ml/plot (197 lha) in the irst, and 142 ml (63 l/ha) in ile second year. In he first year, oil content was afected by harvest interval, where me herbs harvested every 2 months produced the highest oil content (2.59%). In the second year, harvest interval did not affected oil content, which varied from 2.25 - 2.97%.Key words: Pogostemon cablin, harvest interval, plant growth, yield
EFEKTIVITAS TEKNIK KONSERVASI LAHAN DALAM MENEKAN EROSI DAN PENYAKIT LINCAT DJAJADI, .; MASTUR, .; DALMADIYO, GEMBONG; MURDIYATI, A. S.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n4.2004.135-141

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung pada bulan Maret sampai Desember tahun 2001 untuk mcngcvaluasi pengaruh penerapan teknik konservasi lahan dalam pengendalian erosi dan penyakit lincat terhadap erosi, sifat fisik tanah, populasi patogen, kematian tanaman, serta hasil tembakau. Perlakuan yang diuji adalah teknik pengendalian erosi yang meliputi penanaman rumput Setaria pada bibir teras dan tanaman Elemingia congesta pada bidang tampingan, seta pembuatan rorak di dasar saluran teras dan pengolahan tanah minimum. Perlakuan tersebut dikombinasikan dengan teknologi pengendalian penyakit lincat, yaitu penanaman galur tembakau tahan (BC3-C51) dan pembcian/penyemprotan mikrobia antagonis Aspergillus fumigatus dan Bacillus cereus. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan dua perlakuan (konservasi dan kontrol) dan enam ulangan. Setiap satuan percobaan tersusun atas petak berukuran 22 m x 4 m dan masing-masing dipasang satu unit bak penampung erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik konservasi dapat menekan besanya erosi dari 30.2 ton/ha menjadi 16.7 ton/ha atau turun 44.8 %. Kombinasi teknik pengendalian penyakit lincat dapat menekan perkembangan patogen lincat dan mengurangi kematian tanaman tembakau sebesar 53.6%. Hasil daun tembakau basah dan rajangan kering pada perlakuan konservasi masing-masing 41.7% dan 42.1% dibanding kontrol.Kata kunci: Tembakau, Nicotiana tabacum, tembakau temanggung. konservasi tanah, erosi, patogen tanah ABSTRACTEffectiveness of land conservation technique in reducing soil erosion and lincat plant diseasesField trial was conducted in Glapansari Village, Parakan, Temang¬ gung District from March to December 2001 to evaluate the effect of land conservation by controlling soil erosion and plant disease on soil erosion, soil physical characteristics, soil pathogens population, dead tobacco plant, and tobacco yield. The treatments were soil conservation technique by planting of Setaria grass on Ihe terrace edge and planting Elemingia congesta on the riser, and digging of sediment trap on the base of terrace ditch. The treatments were planting tobacco line (BC3-C51) tolerant to lincat disease combined with the application of antagonistic microbes (Aspergillus fumigatus and Bacillus cereus). The research used complete randomized block design with two treatments and six replications. Each expeimental units composed of plot sized 22 m x 4 m and soil erosion collector. Results showed that the land conservation technique reduced soil erosion rom 30.2 to 16.7 tones/ha or 44.8%. This technique reduced soil pathogen population and dead tobacco plant 53.6%. The land conservation technique increased signiicantly tobacco fresh leaves yield 41.7% and dried sliced tobacco yield 42.1 % compared to that of control.Key words: Tobacco, Nicotiana tabacum, temanggung tobacco, soil conservation, erosion, soil pathogen
PENGARUH PUPUK TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN MENTE BELUM MENGHASILKAN (TBM) DI BAYAN LOMBOK DARAS, USMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v8n4.2002.121-125

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dosis dan komposisi pupuk NPK terhadap petumbuhan tanaman jambu mente muda (TBM) yang ditanam pada tanah regosol coklal keabu-abuan di Desa Anyar - Bayan (Lombok Barat) dari tahun 1997 sampai 2000. Perlakuan pupuk yang diuji adalah: (1) Taraf pemberian pupuk: 0, 150, 300, 450, 600 dan 750 g NPK/pohon/tahun; dan (2) Komposisi pupuk NPK (2:1:1, 1:1:1, dan 1:1:2). Perlakuan pupuk disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 2 ulangan dan ukuran petak 4 pohon. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh intcraksi nyata antara perlakuan dosis dan komposisi pupuk NPK terhadap petumbuhan tanaman jambu mente muda. Sedangkan faktor tunggalnya, dosis maupun komposisi pupuk, berpengaruh nyata terhadap petumbuhan tanaman. Dosis pupuk yang memadai untuk mendukung petumbuhan tanaman secara normal menurut stadia (umur) adalah 100, 200, 400 dan 600 g NPK (dalam N, P20, dan KjO) per pohon per tahun, masing-masing unluk 1, 2, 3 dan 4 tahun. Sedangkan komposisi pupuk NPK yang dianjurkan adalah NPK 1:1:2 untuk tanaman umur 1 -2 tahun, dan NPK 2:1:1 tanaman umur 3 - 4 tahun.Kata kunci: Anacardium occidentale, jambu mente, pupuk ABSTRACT Effect of fertilizer application on the growth of young cashew plants in Bayan, LombokThis study was conducted on young cashew trees grown in grayish- brown regosol soil located in Anyar Bayan (West Lombok) rom 1997 to 2000. The objective of this study was to find out the effect of NPK fertilizer and its composition on Uie growlh of me crops. The treatments were: (1) fetilizer rates (0, 150, 300, 450, 600 and 750 g NPK /tree/year); and (2) composition of NPK (2:1:1, 1:1:1 and 1:1:2). The treatments were arranged in randomized block design with 2 replicates, 4 plants per plot. Results showed that there was no significant interaction between fertilizer rate and its composition on the growth of the plants. Individually, however, both fertilizer rate and NPK composition significantly affected growlh of young cashew trees. Adequate rates of fertilizer application were 100, 200, 400 and 600 g NPK (in N, P2Oj dan KjO) per tree per year for 1, 2, 3 and 4 years old, respectively. Whereas, fetilizer compositions of NPK 1:1:2 and NPK 2:1:1 were suitable for young trees of 1-2 and 3-4 years old, respectively.Keywords: Anacardium occidentale. cashew, fertilizer, application, plant growth, Lombok
UJI MULTILOKASI GALUR HARAPAN TEMBAKAU MADURA . SUWARSO; A. S. MURDIYATI; ANIK HERWATI; GEMBONG DALMADIYO; JOKO HARTONO; . SLAMET; K. ACHMAD FARID
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n2.2004.74-82

Abstract

Produksi rokok di Indonesia mcngarah ke rokok ringan sehingga kebutuhan tembakau bermutu baik dan ingan meningkat. Bahan baku utama yang semakin banyak dibutuhkan adalah tembakau madura. Untuk memperbaiki mutu dan mengurangi kadar nikotinnya, tembakau madura disilangkan dengan tembakau oriental. Sebanyak 9 galur harapan telah diperoleh dan diuji multilokasi bcrsama Prancak-95 sebagai pembanding. Pada tahun 2002 pengujian dilaksanakan di (1) Palalang 1 dan (2) Bajang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan seta (3) Guluk-guluk, Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep. Pada tahun 2003 pengujian dilanjutkan di (1) Palalang 2, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan seta (2) Bakeong dan (3) Por-dapor, Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep. Pengujian di setiap lokasi menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Data dari semua percobaan dianalisis menggunakan program MSTAT. Anova menggunakan model 2 tahun, setiap tahun lokasi bcrubah. Analisis stabilitas'menggunakan mctode F.bcrhat dan Russell (1966). Tidak ada interaksi antara genotipe dengan lahun atau lokasi. Galur yang mempunyai nikotin lebih rendah dari Prancak-95 adalah 90/1 (2%) dan 93/2 (1.76%), masing-masing berkurang 13 dan 24% dai Prancak-95. Kedua galur tersebut stabil dan beradaptasi luas, galur 93/2 potensi hasilnya 0.892 ton/ha atau meningkat 11% dari Prancak-95, sedangkan 90/1 potensinya 0.798 ton/ha.Kata kunci: Tembakau, tembakau madura, uji multilokasi, nikotin rendah, Madura ABSTRACT Multilocation test ofpromising madura tobacco linesThe production of Indonesian cigaretes tends to the production of mild cigarete, so that the demand for higher quality and lighter tobacco increases. The demand for madura tobacco as the main raw mateial also increases. To improve its quality and to reduce its nicotine content, madura tobacco was crossed to oriental tobacco. Nine promising lines were produced and tested at multilocation together with Prancak-95 as a control. The multilocation tests were conducted in 2002 in (1) Palalang 1 and (2) Bajang, Pakong Distict, Pamekasan Regency, and in (3) Guluk-guluk, Guluk-guluk Distict, Sumenep Regency. In 2003 the tests were continued in (1) Palalang 2, Pakong District, Pamekasan Regency ; (2) Bakeong and (3) Por-dapor, Guluk-guluk District, Sumenep Regency. The tests in each location used a randomized block design with three replications. Data collected from all tests were analyzed using MSTAT Program. Anova was itted to model for 2 year tests, each year the location was changed. F.bcrhart and Russell method (1966) was used for stability analysis. There was no interaction between genotype and the year as well as the location. The tobacco lines that had lower nicotine content than Prancak-95 were 90/1 (2%) and 93/2 (1.76%). Their nicotine contents were lower than that of Prancak 95 by 13% and 24% respectively. The two lines were stable and broad adapted. Line 93/2 had yield potency 0.892 ton/ha higher by 1 1% than that of Pancak-95, while the yield potency of line 90/1 was 0.798 ton/ha.Key words: Tobacco, madura tobacco, multilocation test, low nicotine, Madur

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue