cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Preferensi Konsumen terhadap Beras Merah sebagai Sumber Pangan Fungsional Siti Dewi Indrasari; Made Oka Adnyana
Iptek Tanaman Pangan Vol 2, No 2 (2007): September 2007
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melepas galur BP1924-1e-5-2 dengan nama varietas Aek Sibundong. Untuk mengevaluasi respon dan preferensi konsumen terhadap beras merah yang ditawarkan, dilakukan penelitian di tujuh provinsi yaitu Sumut, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Sulsel, dan NTB. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik kimiawi beras merah, karakteristik dan opini responden, persepsi dan respon terhadap produk beras merah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka menggunakan kuesioner sebagai pedoman. Jumlah responden yang berhasil diwawancarai sebanyak 700 orang yang terdiri dari petani produsen, pengusaha, dan konsumen. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa dari segi mutu gizi, Aek Sibundong mempunyai kandungan asam folat dua kali lipat dibanding Ciherang. Karena itu Aek Sibundong dapat menurunkan kadar homosistein penyebab kepikunan dan menyingkirkan sumbatan pembuluh darah pemicu serangan stroke dan jantung koroner. Secara statistik, responden di semua lokasi penelitian menyatakan rasa nasi beras merah lebih baik atau sama saja dibanding rasa nasi yang biasa dikonsumsi. Responden di desa umumnya lebih menyukai rasa nasi beras merah dibanding responden kota, kecuali responden di propinsi Jatim dan Bali. Tingkat pengetahuan responden di Sumut, Bali, dan NTB yang terbiasa mengonsumsi beras merah lebih baik dibanding propinsi lainnya. Responden di Jabar, Jateng, dan Sulsel baik di desa maupun di kota menyatakan warna beras merah lebih baik, lebih jelek atau sama saja dengan yang biasa terhadap dikonsumsi relatif sama. Secara statistik ukuran beras merah yang diperkenalkan tidak berbeda nyata dengan beras putih yang biasa dikonsumsi responden. Persepsi antara responden di desa dan di kota terhadap beras merah dalam hal gizi dibanding beras yang biasa dikonsumsi ternyata sama secara statistik, kecuali di propinsi Jateng dan Bali. Secara keseluruhan responden di desa dan di kota di propinsi Jateng, Jatim, Bali, dan NTB menyatakan beras merah yang diperkenalkan lebih baik dibanding beras yang biasa dikonsumsi kecuali di Jabar dan Sulsel.
Hama Penggerek Batang Padi dan Teknologi Pengendalian Baehaki S. E.
Iptek Tanaman Pangan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rice stem borer is an important pest on rice. Its occurrence and distribution needs to be monitored, for the purpose of its control measure. Recently a very high attack occurred on rice in the island of Java, especially in West Java and Central Java. The technological strategy for controlling borers is triangle action strategy, consisting the implementation of SOP borer control, building borer control unity in the community, and farming a strong national and local government commitment on borer control. The application of SOP for borer control, should base on the new economic threshold recently developed, namely based on pest monitoring using light traps, at 4 days after the first adult flight. Borer control should not based on the old economic threshold because by that time the damages had already occur, and sometimes the yield loss had been substantial.
Jagung sebagai Sumber Pangan Fungsional Suarni Suarni; Muh. Yasin
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga merupakan sumber protein yang penting dalam menu masyarakat di Indonesia. Jagung kaya akan komponen pangan fungsional, termasuk serat pangan yang dibutuhkan tubuh, asam lemak esensial, isoflavon, mineral (Ca, Mg, K, Na, P, Ca dan Fe), antosianin, betakaroten (provitamin A), komposisi asam amino esensial, dan lainnya. Pangan fungsional saat ini mulai berkembang, seiring dengan semakin tingginya permintaan akan pangan fungsional dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan, meningkatnya penderita penyakit degeneratif dan populasi lansia, pengembangan produk komersial, adanya bukti ilmiah atas manfaat komponen pangan fungsional, dan berkembangnya teknologi pangan. Jagung sebagai bahan pangan akan semakin diminati konsumen, terutama bagi yang mementingkan pangan sehat, dengan harga terjangkau bagi semua kalangan.Tanggapan masyarakat sudah mulai berubah terhadap jagung yang tidak lagi dianggap kurang bergengsi, karena ternyata memiliki gizi yang beragam dan tinggi. Sekarang telah terjadi pergeseran filosofi makan, seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Bahan dan produk pangan tidak lagi hanya dilihat dari aspek pemenuhan gizi dan sifat sensorinya. Bahkan sifat pangan fungsional spesifik yang berperan dalam kesehatan telah menjadi pertimbangan penting. Hal ini memberi kesempatan bagi pengolahan jagung untuk dipromosikan sebagai bahan pangan sehat masa depan.
Menyikapi Perkembangan Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan Achmad M. Fagi
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan bioteknologi pada bidang pertanian terbukti bermanfaat, tetapi masih mengundang isu kontroversial di Indonesia. Penelitian bioteknologi dengan teknik tinggi yang menghasilkan tanaman transgenik masih diperdebatkan, karena belum ada bukti tanaman transgenik menguntungkan atau merugikan. Beberapa negara di dunia menerapkan permissive policy, tetapi ada pula yang menganut precautionary policy berkenaan dengan pengembangan tanaman transgenik dan penggunaan produknya. Indonesia tergolong negara yang menerapkan precautionary policy, tetapi tetap melakukan penelitian tanaman transgenik. Lembaga-lembaga penelitian bioteknologi, termasuk Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) telah menghasilkan teknologi dari penelitian bioteknologi terapan. Melalui serangkaian kerja sama internasional, pelatihan, pengadaan peralatan dan penelitian, BB Biogen mampu melakukan penelitian bioteknologi pertanian dengan teknik tinggi. Kemampuan BB Biogen untuk membuat tanaman transgenik perlu diteruskan, karena kebergantungan untuk memperoleh gen-gen unggul dari lembaga penelitian bioteknologi internasional akan menjadi perangkap yang merugikan dalam jangka panjang. Tanaman padi perlu mendapat prioritas pertama, diikuti oleh jagung, khususnya dalam penelitian pemuliaan. Pada tanaman padi, bioteknologi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses pemuliaan. Balai penelitian komoditas sebagai pengguna hasil penelitian bioteknologi dalam pemuliaan tanaman, seharusnya dilibatkan dalam memformulasi prioritas penelitian bioteknologi.
Adopsi Varietas Unggul Kacang Hijau di Sentra Produksi Trustinah Trustinah; B. S. Radjit; N. Prasetiaswati; Didik Harnowo
Iptek Tanaman Pangan Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mungbean varieties possessing characteristics of early maturing (55-65 days), drought tolerance, and adaptive on less fertile soil, are considered as having good potential to be developed in the sub-optimal farm lands. The other advantage of growing mungbean, it is complementary with rice nutrition, by which rice protein is enriched by a rich mungbean lysine. At the farm level, mungbean can improve farmers’ nutritions and income. Mungbean crop in Indonesia covers 297,315 ha with the total production of 341,342 ton and the productivity of 1.15 t/ha. The mungbean production centers include Central Java, East Java, West Nusa Tenggara, South Sulawesi, West Java and East Nusa Tenggara, where they contribute around 91.7 percent to the national production. Variety is a component technology which is easily adopted and safe for the environment. Planting high yielding mungbean varieties had proven to increase the grain productivity in most areas. Types of varieties preferred by farmers varied among regions. The availability of many high yielding mungbean varieties, therefore, allow farmers to select the most suitable ones for their environment. However, not all released varieties had been planted by farmers. The choices of mungbean varieties among farmers generally consider the productivity, consumer preference, and the grain price. Some farmers prefer mungbean with dull seed color while other prefers glossy large or small seeds. The mungbean varieties with small seed, commonly is used for beansprouts. Several mungbean high yielding varieties had been adopted in the farming system of the production centers. Introduction of new varieties with seed characteristics preferred by farmers, followed by demostration plots, and the seed are to be produced by local seed producers are strategy for accelerating the adoption of new varieties.
Penentuan Takaran Pupuk Fosfat untuk Tanaman Padi Sawah Sarlan Abdulrachman; Hasil Sembiring
Iptek Tanaman Pangan Vol 1, No 1 (2006): Juli 2006
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan kandungan fosfat tanah secara optimal merupakan strategi terbaik untuk mempertahankan produktivitas lahan dan meningkatkan efisiensi pemupukan. Pada lahan irigasi, pemanfaatan fosfat tanah bahkan dapat mengurangi terjadinya timbunan pupuk P, dan menghindari kemungkinan kahat seng maupun nitrogen pada tanaman padi akibat terikat oleh fosfat. Agar tanah tetap produktif maka konsep pemupukan hendaknya mengikuti prinsip bahwa jumlah hara yang diberikan berupa pupuk cukup untuk menutupi defisit antara hara yang diperlukan tanaman dengan kemampuan tanah mensuplai hara. Penetapan jumlah pupuk perlu memperhatikan target hasil yang ingin diperoleh dan status hara dalam tanah agar pemupukan lebih efisien. Tiga metode yang disarankan untuk dijadikan pedoman dalam menetapkan dosis pupuk P pada tanaman padi sawah adalah: (1) berdasarkan hasil analisis tanah, (2) penggunaan perangkat uji tanah sawah (PUTS), (3) berdasarkan hasil uji pupuk melalui petak omisi. Ketiga metode ini saling komplementer, dapat digunakan salah satu atau lebih, karena hasilnya saling melengkapi.
Potensi Limbah Pertanian sebagai Pupuk Organik Lokal di Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Basah Nurhayati Nurhayati; Ali Jamil; Rizqi Sari Anggraini
Iptek Tanaman Pangan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Farm land in Indonesia, both dry land and wet land, generally have low soil organic content, of less than 2%. Therefore, adding organic matter to the soil in order to improve soil productivity is recommended. Crop residues and animal waste are potential as source for organic matter. Composted organic matter can be used as fertilizers containing macro and micro nutrients. The availability of organic fertilizer can be utilzed as a basis to promote sustainable agriculture development. In each district in Indonesia, such as one of Kampar District in Riau Province, the material for organic fertlizer is readily available. It was estimated the crop residues from food crops alone amounted to 40,930 ton per year, crop residues from estate crops amounted to 74,840 ton per year, and animal waste 17,612 ton per year. From those organic matter, when fermented into compost, can be used as fertlizer to cover farm land area of 56,455 ha annually, thus, can be expected to improve soil quality gradually.
Verifikasi Metode Penetapan Kebutuhan Pupuk pada Padi Sawah Irigasi Sarlan Abdulrachman; Nurwulan Agustian; Hasil Sembiring
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam 10 tahun terakhir Badan Litbang Pertanian telah mengeluarkan beberapa pedoman penetapan kebutuhan pupuk untuk padi sawah. Selain ditujukan agar pemakaian pupuk lebih efisien, pedoman pemupukan tersebut juga diharapkan dapat menggantikan rekomendasi pupuk yang masih bersifat umum. Beberapa pedoman pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL) yang diverifikasi antara lain: (1) PHSL-1, dosis pupuk ditetapkan berdasarkan alat bantu BWD dan PUTS, (2) PHSL-2, dosis pupuk N, P, dan K disesuaikan dengan target hasil yang dinginkan, (3) Permentan No. 40/OT.140/4/2007, dan (4) PP (Praktek Petani) sebagai pembanding. Pada petak PHSL-1 ditempatan enam sub petak (+Zn, +S, -N, -P, -K, dan +NPK) masing-masing berukuran 5 m x 5 m. Sub-sub petak tersebut dimaksudkan untuk menetapkan efisiensi pemupukan N dan memperoleh informasi tentang kemampuan suplai hara N, P, K, Zn, dan S bagi tanaman padi di masing-masing lokasi. Penelitian dilaksanakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nangro Aceh Darusalam, dan Sumatera Utara. Rancangan percobaan adalah acak kelompok dengan enam ulangan. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Respon tanaman padi terhadap cara penentuan kebutuhan pupuk bervariasi menurut lokasi. Produktivitas padi meningkat dari yang terendah 3,99 t/ha menjadi 5,90 t/ha dan yang tertinggi dari 6,12 t/hamenjadi 7,28 t/ha. Respon terbesar diperoleh dari pemberian N,menyusul P dan K; (2) PHSL-2 unggul di tujuh lokasi dari 12 lokasi yang dijadikan tempat verifikasi, PHSL-1 unggul di empat lokasi dan Permentan unggul di satu lokasi; (3) Efisiensi N meningkat dengan penggunaan BWD dan PUTS untuk P dan K; (4) Sampai saat ini, P dan K tidakmutlak dibutuhkan tanaman padi di lokasi penelitian, kecuali di Mojolaban yang sudah menunjukkan respon terhadap pemberian Zn dan di Rogojampi terhadap pemberian S; (5) Pada umumnya petani masih menggunakan pupuk N terlalu tinggi sehingga kurang efisien.
Peran Ganda Wanita Tani dalam Mencapai Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Pedesaan Roosganda Elizabeth
Iptek Tanaman Pangan Vol 3, No 1 (2008): April 2008
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor pertanian dan lapangan kerja formal tidak banyak dapat menyerap tenaga kerja wanita, padahal 50% dari total penduduk Indonesia adalah wanita. Lebih dari 70% wanita (sekitar 82,6 juta orang) berada di pedesaan dan 55% di antaranya hidup dari pertanian. Masuknya teknologi pertanian dan timbulnya berbagai pranata baru yang mengatur pola hubungan kerja antarpemilik lahan dan pekerja, diindikasikan dapat melemahkan posisi wanita tani. Padahal wanita tani dapat menghasilkan pendapatan untuk mengurangi keterbatasan ekonomi rumah tangga. Peningkatan produktivas lahan, usahatani, dan pendapatan rumah tangga dari usaha minapadi dan bebek cukup baik dan berpotensi mencapai ketahanan pangan menuju kesejahteraan rumah tangga petani di pedesaan. Wanita tani perlu dibina dan diberdayakan sebagai receiving system untuk mempercepat proses alih teknologi. Perlu kaji tindak dan revitalisasi mekanisme kerja penyuluhan untuk lebih melibatkan wanita tani dalam mempercepat adopsi teknologi. Diperlukan pula strategi perbaikan upah agar berimbang antarjender sebagai insentif dan keberpihakan terhadap wanita tani.
Perilaku Pembungaan Galur-galur Tetua Padi Hibrida Yuni Widyastuti; I. A. Rumanti; Satoto Satoto
Iptek Tanaman Pangan Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rice (Oryza sativa L) is naturally a selfpollinated crop, although outcrossing rate of 0.5 to 6.8% had been observed in some genotipes. In hybrid rice breeding, outcrossing ability of parental lines is expected to increase seed set. The successful of hybrid rice seed production is affected by floral characteristics, synchronous of parental line flowering, and other morphological characters which affect pollen transfer from male parent (B or R line) to female parent (A line). Some rice agronomic characters such as number of productive tillers per hill, number of spikelets per panicle, plant height, narrow and short of flag leaf, also panicle exertion, could affect outcrossing rate. The floral characteristics of A line such as: stigma and stylus size, stigma exertion, stigma receptivity period, angle of floret, period of the spikelet opening, and panicle exerted above flag leaf, are also affecting the outcrossing rate. However, the flowering characteristic of male parent (B or R line) such as: anther size, filament length, number of pollen per anther, percentage of exerted anther and duration of spikelet opening, are also contributing to the rate of outcrossing. Study of heritability and genetic variability analysis revealed that all characters supporting outcrossing could be improved by breeding. The environmental factors that affect outcrossing in rice are temperature, relative humidity, light intensity, and wind speed.

Page 10 of 19 | Total Record : 189